Rabu, 19 Januari 2011

Sepercik Cerita tentang Medis


Ehm, sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tentang beberapa pikiranku terhadap dunia kesehatan. Namun sayangnya niat itu selalu timbul tenggelam. Hingga akhirnya pengalaman beberapa waktu yang lalu yang membuatku banyak berurusan dengan rumah sakit dan hal-hal metafisika mendorong semangatku untuk menulis sesuatu.

Berikut adalah beberapa pikiran yang terlintas tentang dunia medis di kepalaku. Bukan untuk memberi tahu, tetapi justru mempertanyakan dan ingin mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lingkaran Dokter
Entah kenapa dunia kesehatan sangat erat dikaitkan dengan uang. Saya bingung harus menyebutnya sebagai berkah atau musibah. Tetapi memang kenyataan mengatakan sehat itu mahal harganya, jadi mau apa lagi.

Karena saya seorang mahasiswa, maka saya akan mulai dari pertanyaan simpel yang pernah terlintas di pikiran saya. Adakah dokter miskin? Saya tidak bermaksud menghakimi atau apa, namun pertanyaan itu juga pernah saya baca dari sebuah notes anak kedokteran.

Bukan masalah kesenjangan ekonomi atau apa, tetapi untuk menjadi dokter memang dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka wajar jika kedokteran di kampus saya termasuk salah satu prodi elit dan memang kenyataan berkata demikian.

Bukan tentang kesetaraan hak atau apa, tetapi mau bagaimana lagi. Meskipun mungkin ada beasiswa kuliah gratis atau semacamnya, toh tetap dihadapkan pada buku-buku yang mahal, peralatan yang mahal, biaya praktek yang mahal, dan sebagainya. Bukan salah pemerintah atau apa, tetapi memang kenyataan memaksa hal seperti ini terjadi. Hanya orang-orang yang memiliki rezeki yang cukup berlebih yang dapat mengaksesnya, sisanya tulang pun tidak habis dibanting untuk menjalaninya.

Stigma seperti ini juga yang menciptakan benteng psikologis kepada teman-teman yang kurang beruntung. Jangankan menjadi dokter, bermimpi pun mereka sudah bergidik membayangkan bagaimana setiap harinya keluarga mereka hanya makan dengan nasi dan garam.

Keadaan seperti ini terkadang membuat orang berpikiran tentang adanya lingkaran dokter. Anak dokter akan menjadi dokter, begitu pula anaknya, cucunya, dst. Bukan karena apa, tetapi ya memang hanya orang-orang tertentu yang memiliki peluang menjadi dokter dengan segala komponen biayanya.

Dokter tidak diperlukan? Masalah tempat dan waktu
Seorang rekan saya yang juga calon dokter (saat itu, entah sekarang apakah sudah beralih ke dunia politik) mengatakan bahwa dokter saat ini pun juga susah mencari pekerjaan. Suatu realita yang cukup aneh menurutku dimana banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau kesehatan.

Setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata bukan sulit mencari pekerjaan. Tetapi yang ada adalah pekerjaan itu banyak, namun yang dibayar dan enak itu yang susah. Hal itu karena banyak lulusan terpusat mencari pekerjaan di kota-kota besar (hal ini juga sebenarnya terjadi pada jurusan ilmu-ilmu lain). Sehingga di daerah lain mungkin kekurangan, di daerah lainnya justru kelebihan.

Bagi kita yang mungkin terbiasa hidup enak ini mungkin kata-kata seperti pengabdian dan cita-cita hanya ada dalam novel-novel menyentuh hati penuh dengan bumbu romantisme. Bukan karena tidak ingin, tetapi mungkin kita memang tidak mampu.

Seekor Harimau yang biasa makan daging pun pasti tidak akan semudah itu berganti menjadi pemmakan rumput. Begitu juga kita yang hidup di kota dengan segala fasilitasnya ini tentu perlu perjuangan yang ekstra untuk beradaptasi ke daerah lain yang lebih kekurangan dokter. Celakanya kenapa kebanyakan calon dokter adalah orang-orang kota.

Namun cerita tentang pengabdian itu bukan hanya cerita roman fiksi. Saya yakin banyak orang yang mampu melewati perjuangan itu ditengah cibiran orang-orang yang iri.

Perguruan Tinggi dan Benalu
Pasien itu terbaring lemas di tempat tidurnya. Dokter mengatakan kepada keluarganya bahwa pasien tersebut harus dipindahkan segera ke rumah sakit lain yang lebih besar. Keluarga pasien pun sibuk berdiskusi mengenai keadaan tersebut.
"Di bawa ke Sardjito saja, disana kan rumah sakit besar dan sarananya lengkap"
"Tetapi di Sardjito banyak ko-ass (maaf kalo salah nulis). Kalau pasien macam kita yang kelas tiga cuma ditangai mereka."
"Yaudah kalo gitu di Panti Rapih atau Bethesda"
Bagaimanapun juga, ko-ass adalah seorang calon dokter. Dokter-dokter hebat saat ini tentunya juga melalui tahapan ini dulunya. Hanya masalah waktu bagaimana dari calon berubah menjadi seorang dokter yang sangat ahli.

Tetapi entah kenapa masyarakat kurang begitu percaya terhadap mereka. Karena jika berkaitan dengan nyawa adalah sesuatu yang tidak main-main. Sesuatu yang harus ditangani oleh ahlinya dengan segera. Dan masyarakat memiliki anggapan ko-ass bukanlah dokter.

Dan sialnya, kenapa banyak ko-ass justru ditempatkan di kelas III. Dimana penghuni kelas III kebanyakan adalah masyarakat yang kurang beruntung. Tidak pahamkah bahwa isu sosial berkaitan dengan tingkat ekonomi merupakan masalah yang sensitif di negeri ini?

Mengapa harus pasien kelas III dan bukan semua kelas? Ini seperti menciptakan suatu stereotype bahwa mereka yang bayarnya kurang, tidak perlulah diurus oleh dokter sungguhan. Cukuplah menjadi bahan percobaan calon dokter. Kalau nanti dokter tersebut sudah ahli, mereka bisa merawat pasien yang bayarnya lebih banyak.

Disadari atau tidak rumor-rumo semacam ini memang beredar di masyarakat. Banyak RS yang bagus secara kualitas di Yogya ini dihindari karena keberadaan ko-ass. Padahal tanpa adanya ko-ass tentu tidak akan ada dokter-dokter. Jangan heran jika Panti Rapih dan Bethesda menjadi RS yang diakui oleh masyarakat (meski kurang memperhatikan kearifan lokal, lebih llanjut dibahas di bagian berikutnya).

Bukan masalah keberadaan ko-ass itu sendiri, namun bagaimana perguruan tinggi dan rumah sakit bisa mengatur dan memanajemen keberadaannya sehingga tidak menimbulkan kesan negatif. Saya ingat ketika adik saya harus menjalani sebuah operasi kecil di Sardjito. Bagaimana seorang anak kecil dioperasi sambil dikerubuti oleh sepuluh orang yang menganggapnya sebagai tontonan.

Di zaman ketika dokter pun bisa tertawa menonton film Patch Adam, saya heran fenomena seperti ini masih saja ada. Okelah saya pahami itu sebagai sebuah praktek pengalaman langsung yang terlalu berharga untuk dilewatkan, tetapi tentu tetap harus memahami perasaan seorang pasien. Pasien adalah seseorang yang ingin dihargai dan bukan justru dijadikan tontonan. Mengapa tidak "diakali" misalnya dengan adanya ruangan pengamatan yang menggunakan kaca satu arah di ruang operasi? Tentu itu akan lebih membuat pasien merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi tontonan menarik.

Juga tentang penjagaan image, bagaimana mungkin seorang pasien yang sedang kebingungan akan penyakitnya juga dihadapkan kepada dokter yang juga kebingungan? Yang terjadi justru kepercayaan pasien kepada dokter atau calon dokter tersebut akan jatuh. Bagaimana agar kebingungan-kebingungan tersebut dapat ditutup dengan topeng-topeng profesionalisme.

Sangat tidak mungkin menghilangkan ko-ass dari rumah sakit. Karena mereka adalah calon-calon dokter yang tanpa mereka juga akan berarti tidak akan ada dokter. Namun yang terpenting disini adalah bagaimana melakukan manajemen agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Istirahat atau Tertawa
Meski dari pelayanan cukup profesional dibanding rumah sakit lainnya, namun saya paling benci terhadap Panti Rapih dan Bethesda. Sebenarnya hanya karena satu hal yang mungkin sepele: jam besuk.

Entah kenapa satu hal yang menurut saya sangat berharga bagi orang yang sakit adalah dibesuk. Dikunjungi orang-orangbyang peduli dengan kita untuk sekedar bertemu atau berjumpa barang sejenak, namun itu memberikan sebuah semangat dan pengharapan yang besar.

Tentu bagi mahasiswa Psikologi tidak perlu dijelaskan bagaimana besarnya pengaruh social support, semangat, efek Placebo, dsb terhadap kesehatan. Dan menurut saya itu sangat penting. Terlebih di dalam masarakat kolektiv seperti kita ini, kebutuhan akan dibesuk tentu sangat besar.

Dan penerapan jam besuk menurut hemat saya kurang tepat dan justru menghalangi konstruk budaya yang ada. Mungkin seharusnya, jam besuk di rumah sakit Indonesia lebih fleksibel dan tidak terlalu ketat. Namun pengalaman saya beberapa waktu lalu, Panti Rapih pun kini perlahan mulai menyadarinya. Peraturan tentang jam besuk sudah tidak seketat dahulu lagi dan kini relatif lebih longgar.

Minggu, 16 Januari 2011

antara pendidikan dan biaya: komersialisasi


Entah kenapa akhir-akhir ini kata komersialisasi sedang marak di dunia pendidikan, terlebih di kampus Gajah dimana saya kuliah. Sumber utama perhatian saaat ini tentu berkaitan dengan kebijakan kampus dalam beberapa hal misalnya pembangunan unit-unit yang menjadi semacam perusahaan di bawah kampus dan tentu saja parkir berbayar.

Namun apa sebenarnya komersialisasi. Tulisan berikut mencoba mendefinisikan komersialisasi, tentu saja menurut saya sendiri.


Ketika Komersialisasi menjadi masalah
Saya teringat sebuah kejadian di siang hari setelah kuliah. Beberapa teman saya memfotokopi materi kuliah secara kolektif. Kemudian salah satu teman saya diminta uang biaya fotokopi oleh teman saya yang lain lalu menolak karena menurutnya itu bentuk komersialisasi.

Kejadian unik tersebut membuat saya berpikir, apa sebenarnya komersiaslisasi itu sendiri. Komersialisai merupakan proses menjadikan sesuatu sebagai komoditas perdagangan. Komersiaslisasi sendiri merupakan suatu hal yang wajar dalam situasi tertentu, misalnya kita memproduksi suatu barang untuk dikomersilkan dan hasilnya kita gunakan untuk menghidupi kita.

Tetapi dalam beberapa hal komersialisasi juga menjadi suatu hal yang tabu. Misalnya dalam bidang pendidikan. Dimana anggapan masyarakat hingga saat ini pendidikan masih dalam konteks pengabdian sehingga tidak untuk dikomersilkan.

Pendidikan sebagai sesuatu yang mulia harusnya didasarkan pada semangat mengabdi, yaitu memberi dengan tulus ikhlas tanpa berharap imbalan. Namun sayangnya dunia tidak seindah kata-kata dalam novel picisan.


Komersialisasi dan biaya
Tetapi pendidikan juga dihadapkan pada dilematis bahwa dalam menjalankan proses pendidikan juga memerlukan biaya. Sebuah sinidiran seorang Guruku yang mengatakan, "Siapa bilang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa? Gaji itu merupakan bentuk nyata dari tanda jasa".

Saat ini berapa banyak sih orang yang mau mengajar tanpa meminta bayaran? Berapa banyak dosen yang rela mengajar tanpa dibayar sepeserpun? Berapa banyak dosen dan mahasiswa yang mau melakukan penelitian jika tidak diberi insentif? Biaya pengajar itu hanya satu dari sekian biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan pendidikan. Belum lagi biaya peralatan yang tidak murah tentunya demi mengejar kualitas dan biaya-biaya lain misalnya kegiatan kemahasiswaan dan semacamnya.

Masyarakat kemudian menuntut pemerintah sebagai penyedia biaya tersebut. Namun pada prakteknya uang negara pun terbatas, terlebih ketika berhadapan dengan masyarakat yang koruptif dan enggan membayar pajak maupun retribusi objek wisata. Sehingga meskipun anggaran pendidikan sudah mencapai 20% dari APBN yang tentu saja jumlahnya juga terbatas, pendidikan masih dihadapkan dengan kurangnya dana yang tersedia untuk menyelenggarakannya.

Kita sebagai sebagian masyarakat yang dianggap pintar seharusnya menyadari hal ini. Jika kita memang paham akan hal ini tentunya kita harus bertindak cerdas, bukan hanya menuntut tetapi juga memberikan solusi dan bertindak nyata.

Redefinisi Komersialisasi
Beranjak dari kenyataan bahwa sumber daya yang ada itu terbatas dan memerlukan biaya dalam pemanfaatannya, maka saya mencoba meredefinsi komersialisasi itu sendiri. Komersialisasi saya definisikan sebagai penarikan biaya yang jumlahnya lebih dari biaya produksi dan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Jadi selama biaya yang ditarik masih sama dengan biaya produksinya atau kurang dan tidak bersifat mencari keuntungan maka saya anggap itu bukan komersialisasi.

Maka kini kita harus lebih bisa melihat dengan gambaran utuh bahwa biaya itu memang ada dan tidak dinafikkan. Persoalan utamanya adalah bagaimana biaya tersebut tidak terlalu dibebankan pada masyarakat tempat pengabdian tersebut.

Pemerintah telah melakukan beberapa upaya misalnya subsidi terhadap mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dari biaya yang ditarik dari mahasiswa. Jadi dalam konteks ini bisa dikatakan bahwa sebenarnya biaya perkuliahan bukan merupakan bentuk komersialisasi karena biaya yang ditarik jauh lebih sedikit dari yang dikeluarkan.

Namun sekali lagi demi mengejar kualitas maka biaya itu besar adanya. Saya teringat ketika seorang satpam disekolah saya berkata, "Sebenarnya pendidikan itu bisa gratis, jika kegiatannya cuma mengajar di kelas". Maksudnya adalah biaya yang diberikan oleh pemerintah sebenarnya cukup untuk menyelenggarakan pendidikan yang pas-pasan.

Tetapi masyarakat tidak cukup puas dengan pendidikan yang pas-pasan. Mereka berharap pendidikan gratis dari pemerintah yang memiliki kualitas baik. Sebuah cita-cita luhur yang bahkan di negara maju pun hal itu sulit terwujud hingga saat ini (kalau anda cermati perguruan tinggi dan sekolah yang unggul kualitasnya di negara maju seperti AS dan Eropa pun kebanyakan merupakan instansi swasta). Namun semoga cita-cita itu bisa terwujud.

Memberantas Komersialisasi Pendidikan
Kembali kepada komersialisasi pendidikan dan cita-cita luhur, bahwa sesungguhnya pendidikan merupakan bentuk pengabdian dan tidak seharusnya menjadi sarana komersialisasi. Saya tidak akan membahas berbagai kebijakan dalam tataran universitas tetapi dalam tataran mahasiswa itu sendiri. Karena tidak disadari seringkali kita sendirilah pelaku dan oknum yang memaksa penyelenggara pendidikan menarik dana yang berlebih sehingga dianggap sebagai bentuk komersialisasi.

Misalnya dengan melakukan pemborosan dana-dana yang tidak perlu. Sadarilah bahwa setiap dana yang kita hamburkan sama halnya menghambur-hamburkan uang rakyat, suatu tindakan anggota DPR yang kita cemooh namun seringkali kita lakukan.

Mulai dari dana PKM, dana kegiatan kemahasiswaan, dan dana-dana lainnya. Mari kita jaga dan kita sadari. Jangan mencemooh anggota DPR yang studi banding ke luar negeri ketika kita menggunakan dana pendidikan untuk kegiatan yang sama (kecuali dari kantong sendiri silahkan saja). Jangan mencemooh oknum birokrat yang bertindak koruptif ketika kita masih saja menciptakan kuitansi-kuitansi fiktif. Jangan menghina pejabat yang memanfaatkan fasilitas untuk kepentingan pribadi ketika kita menghambur-hamburkan dana PKM hanya untuk konsumsi pelaksana.

Atau dengan berusaha menghemat subsidi pemerintah dengan tidak secara sengaja berlama-lama menempuh masa studi. Karena di kampus saya saja misalanya, dana subsidi per mahasiswa per semesternya bisa mencapai 3-4juta rupiah. Sebuah angka funtastis. Bayangkan berapa banyak kerupuk yang anda mampu beli dengan semua uang tersebut. Ingatlah bahwa dana yang ada tersebut juga merupakan uang rakyat yang selama ini kita bela hingga berteriak-teriak di jalanan dan membuat macet.

Kita juga harus selalu ingat tujuan utama organisasi tempat kita bernaung. Jangan sampai kita sendirilah pelaku komersialisasi tersebut. Misalnya ketika membuat seminar atau menciptakan buku maka pertanyaan pertama yang harus dipahami adalah apa tujuannya. Jika memang tujuannya adalah untuk pengabdian maka tidak perlulah menarik biaya yang tidak perlu atas alasan apapun dalam bentuk apapun misalnya tiket masuk. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan lainnya seharusnya sesedikit mungkin menarik biaya dan memaksimalkan biaya yang ada.

Toh katanya organisasi mahasiswa adalah organisasi nirlaba. Sama halnya dengan perguruan tinggi, maka komersialisasi dalam bentuk apapun tentu tidak sepantasnya terjadi. Salam Kesejahteraan Indonesia!

Kamis, 13 Januari 2011

omong kosong dunia

Piring-piring di meja oval itu tinggal berisi tulang-tulang sisa makanan. Rokok terselip di antara jari-jari. Asap abu-abu mengepul tertiup keluar dengan dorongan laju kipas angin. Badan bersandar dengan perut membesar penuh dengan makanan.

Tawa keras terdengar sembari jari menunjuk orang yang menjadi korban lelucon. Obrolan ngawur penuh dengan makna mewarnai malam itu. Sejak sinetron-sinetron mulai bermunculan di layar kaca hingga film-film lama pengisi waktu siar suara itu tetap terdengar.

Segala pahit manis kehidupan tidak luput. Mulai dari cerita sedih tentang kematian seseorang yang hidupnya penuh perjuangan dan misteri hingga hal-hal metafisika dan filosofis kehidupan. Ah entahlah, mungkin dunia ini begitu berwarna dengan segala haru birunya. Drama picisan yang biasa kita lihat di layar kaca mungkin tidak lebih miris dari kenyataan yang ada.

Segala teori, konspirasi, sudut pandang, fakta, opini, dan omong kosong semacam itu memang telah banyak memberi corak pada dunia ini. Tapi omong kosong tetaplah omong kosong. Buat apa memikirkan sesuatu yang tidak perlu kita pikirkan secara berlebihan? Dunia ini memang hanya pantas untuk ditertawakan. Dan segala drama epik picisan itu akan tenggelam dalam tawa malam itu.