Minggu, 28 Juli 2013

Lompat

Tebing itu cukup dalam, orang yang jatuh besar kemungkinan tidak akan selamat. Syukur-syukur jika hanya terluka. Tetapi tetap saja luka itu akan dia bawa sampai akhir hidupnya, meski hanya sekedar ingatan tetapi itu cukup menyakitkan.

Pun jarak antara kedua tebing tersebut cukup jauh. Tidak bisa sembarang orang melompatinya dan bisa meraihnya. Perlu tenaga ekstra dalam lompatan seseorang untuk dapat mencapai ke seberang sana. Tidak sembarang orang mampu melompatinya, sebagian yang pernah mencobanya harus berakhir dengan rasa sakit ataupun kematian akibat kegagalan tersebut.

Lalu untuk apa melompat ke seberang sana? Di daerah ini segala sesuatunya telah tersedia. Kampung indah nan asri penuh dengan orang-orang yang baik. Hewan ternak tumbuh dengan riang gembira dan melimpah disini, tidak perlu takut akan datangnya kelaparan. Begitu pula biji sayur yang jatuh ke tanah pun bisa langsung tumbuh dengan suburnya.

Sebuah masyarakat kecil yang hidup penuh kemakmuran. Seolah terasing dari hiruk pikuk kehidupan di luar sana. Kedamaian yang tercipta akibat ketidaktahuan, tapi untuk apa perlu mengetahui permasalahan jika kita bisa menghindarinya? Hidup di bagian ini sudah sangat baik.

Sedangkan diseberang sana kita tidak tahu ada apa. Informasi tidak pernah sampai dengan utuh. Sebagian orang berkata di seberang sana adalah tempat yang lebih indah dibandingkan di sisi ini. Sedangkan sebagian lainnya bercerita tentang tempat yang lebih tandus serta kehidupan yang lebih keras untuk dijalani.

Apa yang tampak pun cukup menguatkan anggapan kedua. Di seberang sana hanya tampak bebatuan keras dan gunung yang tandus. Namun apa yang ada di balik gunung tersebut tidak tampak oleh kita. Bagamanapun juga hanya sedikit orang yang mau untuk kembali dari balk gunung tersebut. Sebuah misteri yang tidak pernah kita ketahui jawabannya jika kita tidak mencarinya sendiri.

Lalu dimana lelaki itu? Dia berjalan di pinggir, memandangi kedalamannya dan apa yang tampak oleh mata di seberang sana. Tapaknya dia berpikir untuk melompatinya.

Namun akhirnya dia berbalik arah berjalan kembali ke kampungnya. Bagiku tampaknya dia hendak mengurungkan niatnya. Mengukur kemampuannya bahwa dia tidak mampu, aau mungkin apa yang di seberang sana tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Mengubur mimpi dan rasa keingintahuannya ke dalam kedamaian yang dia miliki. Namun aku salah.

Dia berhenti setelah 50 meter dari tebing. Kembali menghadap ke jurang, mengambil posisi berlari. Tampaknya dia tidak putus asa. Dia hanya mengambil persiapan untuk melompat. Dan dia mulai berlari.

30 meter ...

Sebenarnya ada apa di seberang sana? Apa yang nampak hanyalah sebuah kegersangan dan ketandusan. Pun jika sampai di seberang bukanlah kehidupan nyaman yang akan kita jalani. Namun perjuangan bertahan hidup yang lebih keras. Tapi apa hanya untuk bertahan hiduplah kita hidup? Disana ada jawaban atas semua pertanyaan dan keingintahuan tersebut.

"Curiosity killed the cat" (anonim)

10 meter ...

Di belakang sana, kehidupan nyaman menanti.  Masyarakat yang tenang, keluarga yang selalu menyambut dengan tangan terbuka. Status sosial yang membuat dirinya cukup terpandang dan disegani. Bahkantidak mungkin dia akan menjadi pemimpin kami. Orang paling penting dalam masyarakat ini. Kekayaan pun tidak ia bawa kecuali sebuah tas ransel yang ada di punggungnya. Sebuah bekal yang tidak tahu mampu menopang hidupnya sampai kapan di seberang sana. Dia menafikkan kondisi menyenangkan saat ini dan masa depan yang cemerlang. Menukarnya dengan ketidakpastian. Namun aku yakin dia melihat impian di seberang sana.

" Good is the enemy of great" (Jim Collins)

5 meter ...

Entahlah, apakah momentum dan kekuatan yang dia coba bangun cukup untuk melompati celah tersebut?Sudah banyak orang yang gagal melompatinya dan berakhir dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Apakah dia akan berhasil? Ataukah dia akan jatuh terperosok ke dalam jurang kegagalan? Apakah pilihannya sudah tepat ataukah dia harus mengurungkan niatnya kembali? Masih ada waktu untuk berubah pikiran dan menyelamatkan diri.

Namun bukan untuk itulah hidup, adalah tentang mencari makna, menentukan impian, dan meraihnya. Masalah dan kegagalan selalu ada, tetapi bukan berarti kita harus selalu ketakutan dan bersembunyi dari masalah.

"Trouble is a friend" (Lenka)

1 meter ...

Sudah tidak mungkin lagi untuk berhenti. Jurang tampak sudah terlihat di depan mata. Sangat dalam, entah apa yang akan terjadi padanya beberapa detik kemudian. Tebing di seberang pun tanpa begitu jauh, entah apakah dia mampu meraihnya atau tidak. Perasaan ragu itu masih menghinggapi dirinya bahkan sampai detik terakhir.

Namun ini adalah tentang pilihan. Kita berhak menentukan pilihan sesuka hati kita, namun pada akhirnya kita harus menjalani setiap konsekuensi dari pilihan kita tersebut. Dan konsekuensi terindah adalah konsekuensi dari pilihan yang telah kita buat sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan atas diri kita.

"Hidup adalah tentang pilihan, dan menjalani pilihan tersebut" (seorang teman)

Dan dia melompat ...

Choices and consequences ... (ash-3xpired.deviantart.com)

Sejak saat itu aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Aku tidak tahu apakah dia berhasil sampai ke seberang sana atau terjatuh ke dalamnya. Aku pun tidak tertarik untuk mengetahuinya. Yang aku ketahui adalah wajahnya yang tersenyum ketika dia melompat dari tebing dimana kakiku berpijak saat ini. Sebuah eksresi kegembiraan dan kepuasan yang rasanya jauh lebih berharga dari kehidupan itu sendiri.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tai Asu

Kata orang, jika tidak ingin kecewa maka jangan berharap. Rasa tidak suka muncul akibat adanya jarak antara harapan dengan kenyataan. Dulu saya percaya itu. Maka agar terus bahagia, hapuskanlah harapan dalam hidupmu.

Tapi apa artinya kehidupan tanpa harapan? Kehidupan yang mengalir apa adanya. Kehidupan yang pasif, menunggu dunia membawa kita entah kemana. Dan kita hanya duduk terdiam melihat segala sesuatu di sekitar kita silih berganti. Tanpa usaha, tanpa perasaan apapun, dan tanpa tujuan.

Dunia hanya sekedar makan untuk mempertahankan hidup dan menjalani hidup untuk mencari makan. Sebuah fase yang terus menerus bergulir tanpa akhir, dan tanpa hasil apapun. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk mempertahankan kehidupan?

Maka sejatinya manusia dilahirkan dengan impian, sesuatu yang menjadikan manusia cukup berarti di dalam hidup ini. Sesuatu yang menjadikan hidup bermakna, bukan sekedar mengikuti dunia entah kemana tanpa tujuan. Kita-lah yang menciptakan tujuan itu, kitalah yang berusaha meraihnya.

Tapi tentu saja, hidup tidaklah semanis pemanis buatan. Tidak semua impian dapat tercapai, dan kegagalan adalah sesuatu yang menyakitkan. Sungguh.

Hopeless (graphic-resistance.deviantart.com)

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not. (2:216)
Maka bangunlah, jangan berpikir sebuah impian akan mudah didapat. Sakit, tapi itu menunjukkan bahwa dirimu hidup. Karena hanya orang yang hidup yang dapat merasakan sakit. Mereka yang tidak pernah berharap tidak pernah merasa sakit, tidak pula mereka hidup sesungguhnya.

Maka janganlah berputus asa, terus kejar impian kita. Karena untuk itulah kita hidup, bukan sekedar hidup untuk mempertahankan hidup. Hidup untuk berjuang. Jatuh dan bangkit lagi.


"Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi!" (Soekarno)