<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298</id><updated>2012-01-29T20:04:31.592+07:00</updated><category term='politik'/><category term='nyampah'/><category term='pemikiran'/><category term='paradoks'/><category term='pendidikan'/><category term='mata bicara'/><category term='negara'/><category term='renungan'/><category term='balada'/><category term='informasi'/><category term='ilmiah'/><category term='buku bagus'/><category term='media massa'/><category term='sosial'/><title type='text'>RasaLogika</title><subtitle type='html'>rasakan, pikirkan, tuliskan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>208</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5673140610609443288</id><published>2012-01-29T20:04:00.002+07:00</published><updated>2012-01-29T20:04:31.711+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Muslim dan Anjing</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa waktu yang lalu saya mendengar (atau lebih tepatnya membaca) tentang adanya pembantaian anjing di suatu daerah di Yogyakarta. Sebenarnya hal tersebut merupakan suatu yang jamak terjadi. Sudah menjadi rahasia umum dimana sering terjadi pembunuhan atau pembantaian terhadap anjing-anjing yang biasanya tidak sengaja lewat di suatu perkampungan muslim.&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc09.deviantart.net/fs70/i/2011/097/9/e/manusia_lawan_anjing_by_bountylist-d3dfmy7.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://fc09.deviantart.net/fs70/i/2011/097/9/e/manusia_lawan_anjing_by_bountylist-d3dfmy7.jpg" width="282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;manusia lawan anjing (bountylist.deviantart.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya hal tersebut menjadi suatu bentuk sentimen anti-muslim dimana seolah-olah orang Islam sangat sadis terhadap anjing. Padahal fenomena ini terjadi bukan sebagai bagian budaya Islam. Lalu bagaimana sebenarnya Islam sendiri memandang anjing dan bagaimana kita sebagai muslim harus menyikapinya?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Anjing dalam Islam&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang selalu diasosiasikan terhadap anjing dalam agama Islam adalah sifatnya yang haram. Anjing seringkali disejajarkan dengan babi dimana disebutkan bahwa &lt;b&gt;anjing haram untuk dimakan&lt;/b&gt;. Meski demikian anjing sendiri tidak seperti babi yang disebutkan secara gamblang dalam al qur'an tetapi hanya dimaktub dalam hadis. Hadis itu sendiri pun tidak menyebutkan anjing secara langsung melainkan disebutkan secara implisit sebagai bagian dari hewan yang bertaring.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR. Muslim no. 1934)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi perlu diingat secara jelas bahwa sifat haram dari anjing hanya muncul dalam kasus untuk dimakan. Bukan berarti keberadaan anjing sendiri menjadi sesuatu yang haram. Jika tidak untuk dimakan, maka anjing sama seperti hewan lainnya yang tidak memiliki sifat apapun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal lain yang selalu diasosiasikan terhadap anjing adalah najis. Anjing memang memiliki &lt;b&gt;najis&lt;/b&gt;, namun itu hanya &lt;b&gt;sebatas air liurnya&lt;/b&gt; saja dan bukan seluruh bagian dari tubuhnya. Najis sendiri adalah suatu kotoran yang harus dibersihkan jika ingin bersembahyang dalam ajaran Islam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sama seperti keharamannya, perihal tentang kenajisan air liur anjing tidak disebutkan langsung dalam al quran tetapi melalui sebuah hadis. Hadis tersebut menceritakan bagaimana sebuah bejana berisi air yang jika telah terkena air liur anjing harus dibersihkan terlebih dahulu. Dari hadis tersebut maka disimpulkan bahwa air liur anjing sifatnya najis.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski demikian hendaklah tidak perlu berlebihan dalam menyikapi kenajisan tersebut. najis memang sesuatu yang kotor namun hal tersebut dapat disucikan. Sama halnya dengan tinja misalnya yang bersifat najis. Meskipun tinja najis, bukan berarti kita lantas menahan buang air seumur hidup untuk menghindari najis. Begitu pula dengan air liur anjing yang bersifat najis, yang perlu kita lakukan hanyalah membersihkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Muslim memelihara Anjing&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak orang beranggapan bahwa seorang muslim tidak sepantasnya memelihara anjing. Hal ini disebabkan adanya hadis yang menyebutkan bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Keberadaan malaikat sendiri bukan sesuatu hal yang mutlak (malaikat harus ada), namun dipercaya bahwa keberadaan mereka dapat membantu mendoakan kita kepada Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah]&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sebenarnya bukan berarti seorang muslim tidak boleh memelihara anjing. Memelihara anjing untuk berburu dan menjaga rumah misalnya adalah sesuatu yang jamak dilakukan di semua negara termasuk di jazirah arab dengan mayoritas muslim di dalamnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasulullah sendiri sebenarnya memperbolehkan sahabat untuk memelihara anjing untuk keperluan-keperluan tertentu semisal menjaga ladang dan berburu. Namun ada konsekuensi tertentu ketika kita memelihara anjing untuk keperluan diluar yang telah disebutkan yaitu berkurangnya pahala.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;“Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana dengan keberadaan anjing untuk menjaga rumah? Sebagian ulama berpendapat hal tersebut dibolehkan sedangkan sebagian lain berpendapat tidak boleh. Namun demikian keberadaan anjing di rumah sudah barang pasti menjauhkan keberadaan malaikat dan bahaya akan najisnya yang berkeliaran menjadi tanggung jawab tersendiri yang barang pasti bukan suatu hal yang mudah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu berarti dalam Islam memelihara anjing untuk menjaga ladang dan berburu diperbolehkan selama anjing tersebut tidak berada di dalam rumah. Oleh karena itu sebaiknya jika ingin memelihara anjing untuk keperluan tersebut maka perlu dibuatkan tempat tersendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Membunuh Anjing&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu bagaimana dengan hukum membunuh anjing seperti yang jamak terjadi di beberapa kampung muslim? Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa anjing sendiri sama seperti hewan-hewan lainnya kecuali dagingnya yang haram, air liurnya yang najis, dan keberadaannya di rumah yang mengganggu malaikat. Meski demikian pembunuhan terhadap anjing tidak dibenarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anjing memang salah satu hewan yang boleh dibunuh bahkan di tanah suci sekalipun namun sebatas &lt;b&gt;jika anjing tersebut mengganggu dan membahayakan manusia&lt;/b&gt;. Jika bukan dari kedua hal tersebut maka tentunya &lt;b&gt;haram membunuh makhluk Allah SWT dengan sia-sia&lt;/b&gt;.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt; "Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tanah biasa, yaitu : ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali" (H.R. Abu Daud)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sekali lagi pembunuhan terhadap anjing bukanlah sesuatu hal yang dibenarkan kecuali ada alasan tertentu semisal membahayakan manusia. Perlu diingat juga tentang sebuah riwayat yang menceritakan bagaimana seorang wanita masuk neraka hanya karena membunuh kucing. Maka sudah tentu membunuh makhluk Allah SWT merupakan suatu dosa besar termasuk di dalamnya adalah membunuh anjing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Ketakutan Berlebihan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai seorang muslim yang tumbuh besar di lingkungan muslim juga, saya menyadari betapa seringnya anjing dibicarakan dalam Islam bahkan dalam taraf tertentu saya menilainya sebagai sesuatu yang berlebihan. Anjing seringkali disamakan dengan babi, muslim-muslim ditanamkan tentang pentingnya isu anjing secara berlebihan sehingga dalam alam bawah sadar tertanamkan akan bahayanya anjing sebagai penyebab terhalangnya barokah dari Allah SWT.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penanaman yang berlebihan hingga merasuk alam bawah sadar ini pada akhirnya menimbulkan suatu ketakutan atau kebencian terhadap anjing itu sendiri. Dalam istilah psikologis hal ini mungkin bisa disebut sebagai phobia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagi sebagian orang mungkin akan menyangkal hal tersebut, namun gejala nyatanya tampak dalam perilaku sehari-hari muslim ketika berhadapan dengan anjing. Bahkan phobia ini seringkali dimanfaatkan oleh tentara-tentara AS dalam melakukan teror psikologis terhadap tahanan muslim, caranya dengan menghadirkan anjing di dekat mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keberadaan anjing sendiri pada akhirnya menimbulkan keresahan dan ketakutan yang berlebihan bahkan jika anjing tersebut tidak melakukan sesuatu apapun. Ketakutan ini sering diasosiasikan dengan ketakutan karena terkena najis dari air liurnya dan juga karena kebuasan anjing tersebut. Padahal tidak semua anjing buas dan membahayakan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketakutan inilah yang menurut pendapat saya mengarahkan berbagai pembantaian dan pembunuhan anjing atas nama agama. Pembunuhan dibenarkan atas dasar membahayakan manusia padahal belum tentu demikian yang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: large;"&gt;Introspeksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka perlu menjadi introspeksi diri kita sendiri dalam menghadapi anjing. Anjing tidak berbeda dengan makhluk Allah SWT lainnya. Kita boleh saja membelai atau memeluk hewan tersebut. Anjing tidak akan menjadi haram selama kita tidak memakannya dan jika pun karena suatu hal kita terkena liurnya maka tinggal dibersihkan saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ingatlah cerita tentang bagaimana seorang pelacur dengan dosanya yang menumpuk bisa masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Ingat juga bagaimana seorang wanita masuk neraka karena membunuh seekor kucing. Pada akhirnya itu semua menunjukkan bahwa bukan makhluk itu, tetapi perbuatan kita terhadap makhluk tersebut yang mengantarkan kita kepada surga atau neraka.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i style="background-color: white; font-family: Calibri; font-size: 15px; line-height: 21px; text-align: -webkit-auto;"&gt;Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (99:7-8)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5673140610609443288?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5673140610609443288/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5673140610609443288&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5673140610609443288'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5673140610609443288'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/muslim-dan-anjing.html' title='Muslim dan Anjing'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1453479255351496782</id><published>2012-01-27T20:29:00.003+07:00</published><updated>2012-01-27T20:29:49.707+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kebebasan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;Saya percaya bahwa setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Bahwa setiap orang berhak melangkah atau tidak melangkah sesuai kehendak hatinya. Bahwa ini adalah hidupnya, bukan hidupku, hidupmu, atau hidup mereka. Semua berhak memilih, bahkan jika itu berarti memilih hidup dalam kehinaan dan kesengsaraan.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Tidak ada paksaan dalam beragama (2:256)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;Saya percaya bahwa tidak ada orang yang dapat memaksa orang lain untuk berbuat sesuatu yang tidak mereka kehendaki&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Bahwa manusia memiliki kehendak atas dirinya sendiri. Bahwa pemaksaan, apapun bentuknya, tidak akan pernah memberikan kebaikan untuk selamanya. Bahwa manusia memiliki kekuatan dan keinginan untuk memberontak atas pemaksaan yang terjadi. Apa yang dapat silakukan oleh orang lain untuk kita hanyalah sekedar memberi informasi dan menasehati, selebihnya merupakan pilihan kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu&lt;a href="http://www.dudung.net/quran-online/indonesia/7"&gt;580&lt;/a&gt;, dan supaya mereka bertakwa. (7:164)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;Tetapi saya juga percaya bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas perbuatannya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;. Bahwa segalanya selalu seimbang, ada kebebasan ada pula tanggung jawab. Bahwa kita tidak sendiri di dunia ini. Bahwa kita harus mempertanggungjawabkan pilihan kita. Dan bahwa Tuhan maha Adil.&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (99:7-8)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: -webkit-auto;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1453479255351496782?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1453479255351496782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1453479255351496782&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1453479255351496782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1453479255351496782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/kebebasan.html' title='Kebebasan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5656603532125605228</id><published>2012-01-26T18:47:00.000+07:00</published><updated>2012-01-26T18:47:12.871+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Sama Saja</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;Sebenarnya, kita sama buruknya dengan orang lain di luar sana. Kecuali kita mau melakukan sesuatu yang berbeda.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc00.deviantart.net/fs70/i/2011/278/8/6/we__re_all_the_same_by_magicviper-d4bt6ic.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://fc00.deviantart.net/fs70/i/2011/278/8/6/we__re_all_the_same_by_magicviper-d4bt6ic.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;we're all the same (magicviper.deviantart.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5656603532125605228?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5656603532125605228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5656603532125605228&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5656603532125605228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5656603532125605228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/sama-saja.html' title='Sama Saja'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3301469002578755283</id><published>2012-01-21T11:37:00.001+07:00</published><updated>2012-01-21T11:37:10.637+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Semua Orang Boleh Hidup, tetapi Tidak Semua Bisa Diterima</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kemarin ada berita cukup fenomenal yaitu seorang waria yang mendaftarkan dirinya sebagai anggota Komnas HAM. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperjuangkan nasib kaumnya agar diterima oleh masyarakat. Bagaimanapun juga perjuangan waria, gay, lesbi, dan semacamnya dewasa ini cukup gencar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya pribadi bukanlah orang yang setuju terhadap hal tersebut. Namun bukan berati saya tidak menghormati mereka. Terlepas dari apapun tindakan mereka bagaimanapun juga kita tetap tidak boleh menghakimi, menyakiti, ataupun merusak apa yang menjadi milik mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namuns ekali lagi saya tegaskan bukan berarti saya setuju. Karena bagi saya setuju itu adalah dimana kita mendapatkan bahwa saudara/ orang tua/ anak atau orang terdekat kita berbuat demikian dan kita justru senang atas tindakannya itu. Dan bagaimanapun juga saya tidak pernah setuju terhadap perbuatan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teman saya pernah berkata mereka hanyalah orang yang berbeda dan kita harus menanggapinya dengan wajar. Ibarat kata ada orang yang suka apel, ada orang yang suka jeruk, dan sebagainya. Namun bagaimanapun juga mereka adalah orang yang suka buah Khuldi, buah yang dilarang oleh Tuhan dan jelas itu bukan tindakan yang dibenarkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian berkilah bahwa mereka memang diciptakan dengan masalah tersebut. lalu kembali kepada keimanan kita apakah kita akan percaya begitu saja bahwa Tuhan kita yang Maha Adil menciptakan suatu makhluk yang pasti akan dimasukkan ke dalam neraka tanpa adanya daya dan kuasa untuk menolak? Tentu tidak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu apakah salah jika masyarakat menolak kehadiran mereka? Tentu tidak. Kembali kepada analogi buah-buahan seandainya kita ke supermarket apakah kita harus membeli semua buah-buahan yang ada disana atau kita boleh memilih sebatas apa yang kita inginkan? Begitu juga suatu masyarakat pada akhirnya memiliki hak untuk memilih anggotanya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk hidup setiap manusia memiliki haknya. Akan tetapi untuk diterima pada suatu kelompok atau masyarakat, maka ada kewajiban terlebih dahulu yang harus dijunjung dan dipenuhi sebelum memperoleh haknya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://th00.deviantart.net/fs71/PRE/i/2011/067/b/b/meteor_fpi_menghantam_waria_by_cotzart-d3b6p5u.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://th00.deviantart.net/fs71/PRE/i/2011/067/b/b/meteor_fpi_menghantam_waria_by_cotzart-d3b6p5u.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Meteor FPI Menghantam Waria (cotzart.deviantart.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3301469002578755283?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3301469002578755283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3301469002578755283&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3301469002578755283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3301469002578755283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/semua-orang-boleh-hidup-tetapi-tidak.html' title='Semua Orang Boleh Hidup, tetapi Tidak Semua Bisa Diterima'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5048841464940298224</id><published>2012-01-19T21:46:00.002+07:00</published><updated>2012-01-19T21:46:44.858+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Negeri Anak Manja</title><content type='html'>&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;"Fasilitas..fasilitas..fasilitas..", pintaku&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Negeri ini terlalu kaya dan makmur, bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Hidup dalam lautan kolam susu. Maka tidak aneh jika di dalamnya dipenuhi oleh anak-anak manja, bukan karena ingin tetapi karena terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka fasilitas menjadi segala-galanya. Mulai dari wakil hingga rakyat itu sendiri beramai-ramai menuntut fasilitas. Seolah dengan adanya fasilitas maka terjaminlah kinerja dan moralitas. Seolah dengan fasilitas manusia paling busuk sekalipun bisa menjadi Nabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jikalau karpet merah terhampar di trotoar kita dan bus pun dilengkapi dengan tempat tidur, akankah kita meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua hanya omong kosong tanpa adanya tekad keras untuk berubah . . . dan berkorban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc06.deviantart.net/fs14/f/2007/065/8/0/Dan_Ia_Masih_Tetap_Semangat_by_LMPx3478.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://fc06.deviantart.net/fs14/f/2007/065/8/0/Dan_Ia_Masih_Tetap_Semangat_by_LMPx3478.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Dan Ia Masih Tetap Semangat (lmpx3478.deviantart.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5048841464940298224?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5048841464940298224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5048841464940298224&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5048841464940298224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5048841464940298224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/negeri-anak-manja.html' title='Negeri Anak Manja'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2456750362740238890</id><published>2012-01-18T11:16:00.000+07:00</published><updated>2012-01-18T11:16:18.434+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Saya Tidak Pernah Benar-Benar memahami para Revolusioner</title><content type='html'>Konon revolusi adalah suatu harga mati atas perubahan. Pemberontakan, gerakan radikal semua seolah menjadi syarat mutlak akan adanya perubahan. Saya bukan orang yang anti perubahan. Hanya saja bagaimana perubahan itu terjadi menjadi catatan tersendiri yang harus diperhatikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Revolusioner, seolah selalu dan harus ditandai dengan adanya gerakan radikal yang sifatnya merusak. Seolah sebuah pembangunan harus dimulai dengan perusakan. Tidak dapatkah kita berubah tanpa merugikan orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu biasanya disebut sebagai pengorbanan, harga yang harus dibayar untuk perubahan. Lucunya kenapa harus orang lain yang berkorban? Jika ledakan bisa mengubah segalanya kenapa tidak ledakkan rumah kita sendiri? Jika kematian bisa mengubah segalanya kenapa tidak kita bunuh saja saudara-saudara kita, teman-teman kita, atau bahkan diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa harus selalu orang lain. Jika pun ada bagian dari diri kita yang mati, apakah memang dari awal kita menghendakinya atau keterpaksaan? Jika kita yang harus berkorban, bisakah kita bersikap biasa sebagaimana kita bersikap terhadap orang lain menjadi korban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat berbagai macam revolusi, dan kebanyakan yang menjadi topik adalah revolusi dengan kekerasa. Meski mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya itu semua hanya menjadi omong kosong pertarungan antara elit. Usaha untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa dengan rezim lainnya, dan bagaimanapun juga rakyat hanya menjadi alat. Padahal rakyatlah yang selalu harus berkorban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sejauh mana revolusi membuat perubahan? Sejauh mana pula korban harus jatuh dalam revolusi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc05.deviantart.net/fs23/f/2008/015/e/4/Pray_for_revolution_by_denull.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://fc05.deviantart.net/fs23/f/2008/015/e/4/Pray_for_revolution_by_denull.jpg" width="266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Pray for Revolution (denull.deviantart.com)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2456750362740238890?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2456750362740238890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2456750362740238890&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2456750362740238890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2456750362740238890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/saya-tidak-pernah-benar-benar-memahami.html' title='Saya Tidak Pernah Benar-Benar memahami para Revolusioner'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1165817147178858396</id><published>2012-01-13T09:33:00.002+07:00</published><updated>2012-01-13T09:33:36.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Naik Sedikit</title><content type='html'>&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Orang busuk dimana pun selalu ada tidak terbatas pada komunitas-komunitas tertentu, begitu pula orang baik.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Waktu SMA teman-teman mengajarkan bahwa anggaran proposal harus sedikit dinaikkan. Hal itu dikarenakan &amp;nbsp;sekolah biasaya tidak akan memberikan dana tersebut secara penuh. Sehingga anggaran dalam proposal dinaikkan sedikit tetapi anggaran nyata memang kurang dari itu. Kalau pun ada kelebihan, tinggal tingkatkan sedikit kualitasnya dari perencanaan semula.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain lagi ketika kuliah, beramai-ramai membuat proposal pada pos-pos anggaran yang dimungkinkan bisa menghasilkan. Berusaha menyerap dana sebesar mungkin untuk program-program organisasi, sedangkan program yang menjadi sumber dana dikerjakan sekenanya saja dan sehemat mungkin. Agar nanti sisanya dapat digunakan untuk program lain yang sulit mendapatkan dana.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini ketika sudah menjadi pejabat, anggaran naik dikit karena sudah kebiasaan. Kalopun ada sisa anggap saja sebagai bonus, toh negara tidak memiliki pos pengembalian anggaran. Sama saja bukan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc08.deviantart.net/fs13/i/2007/046/9/3/KPK___Founding_Father_by_adjie76.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://fc08.deviantart.net/fs13/i/2007/046/9/3/KPK___Founding_Father_by_adjie76.jpg" width="229" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar: adjie76.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1165817147178858396?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1165817147178858396/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1165817147178858396&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1165817147178858396'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1165817147178858396'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2012/01/naik-sedikit.html' title='Naik Sedikit'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8670372516806177733</id><published>2011-12-26T09:04:00.004+07:00</published><updated>2011-12-26T09:07:59.834+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>monopoli</title><content type='html'>&lt;i&gt;Kedua kubus berbintik tersebut terombang-ambing. Berputar kesana kemari dalam ember kecil penuh harapan akan keberuntungan. Dan akhirnya bintik-bintik tersebut muncul dengan kombinasi membentuk sebuah makna. Langkah mantap membawa kepada pengundian nasib melalui kartu-kartu berwarna hijau dan merah muda. Monopoli, sebuah permainan kecil tentang bisnis dan keberuntungan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lalu apa yang terpenting dalam permainan ini? Apakah itu uang? Sesuatu yang membuat kita berjalan kesana kemari dengan tenang tanpa perlu takut akan biaya kehidupan yang mahal ataupun denda dari pelanggaran hukum. Dengan uang kita menjadi berkuasa, bertindak sesuka hati dalam lapangan persegi tersebut.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mungkin bagi mereka yang lebih berpikiran ke depan lebih menyukai tanah dan bangunannya. Investasi masa depan dan bukan keinginan sesaat. Bahkan mungkin kita harus berdarah-darah dalam berusaha, ini semua demi masa depan yang cerah, masa depan yang terjamin.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Ataukah ini semua tentang keberuntungan? Keberuntungan yang membawa kita kepada angka-angka ajaib. Tentang langkah-langkah tepat yang dituntun oleh kubus berbintik. Tentang bagaimana keberuntungan mengatur kehidupan kita.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Namun bagaimanapun juga monopoli adalah sebuah permainan. Yang terpenting adalah dengan siapa kita bermain. Teman untuk berbagi suka duka, teman untuk memotivasi kita, teman untuk berdampingan dalam permainan kehidupan. Teman kitalah yang membuat semua ini menjadi menarik, karena pada hakikatnya kita tidak dapat bermain sendirian.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Lalu bagaimana dengan monopoli kehidupan kita, eh?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc00.deviantart.net/fs71/i/2009/345/d/d/Monopoli_by_emmerrekappa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://fc00.deviantart.net/fs71/i/2009/345/d/d/Monopoli_by_emmerrekappa.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar: emmerrekappa.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8670372516806177733?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8670372516806177733/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8670372516806177733&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8670372516806177733'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8670372516806177733'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/monopoli.html' title='monopoli'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7019874925300129334</id><published>2011-12-20T20:41:00.000+07:00</published><updated>2011-12-20T20:41:02.854+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Orang Buta Berjalan Lurus</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali kita beranggapan bahwa ketidakadilan yang sering terjadi di sekitar kita adalah karena lemahnya aparat penegak hukum. Pendapat itu mungkin benar, namun kita juga tidak bisa menutup mata begitu saja akan adanya hal-hal lain yang turut berpengaruh dalam keadaan tersebut. Aparat penegak mungkin hanya satu faktor, tapi masih ada faktor lainnya yang juga turut berpengaruh.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah dialog budaya di Taman Siswa beberapa waktu yang lalu menyadarkan saya akan hal ini. Pembicara saat itu (diantaranya Cak Nun dan Busyro Muqoddas) menjelaskan mengenai hakikat hukum itu sendiri. Hukum hanyalah garis pembatas diantara satu orang dengan orang lainnya. Dikatakan garis karena pada hakikatnya manusia tetap bisa melanggar atau melewati garis tersebut dengan kehendakanya. Namun moral berperan membimbing manusia untuk tetap berada di tempatnya dan melewati garis tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sesempurna apapun hukum pasti ada celah yang bisa dilanggar. Meski demikian perlu dipahami juga bahwa hukum bersifat kaku. Hukum tidak mengenal toleransi-toleransi dan pengecualian-pengecualian. Hukum juga tidak memiliki kebijaksanaan karena hukum hanyalah alat. Bagian yang terpenting dari hukum itu adalah siapa penggunanya bukan hukum itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibarat kata secanggih apapun APILL di perempatan jalan tetap saja pada akhirnya kita sendiri yang akan memutuskan apakah kita akan berhenti atau menerobos. Moral sebagai pengendali diri kita lah yang pada akhirnya menentukan apa yang akan kita lakukan. Secanggih apapun hukum manusia tetap memiliki kehendak untuk menjalankannya atau melanggarnya, itu semua tergantung moral dari manusia itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesadaran dan kepatuhan hukum menjadi suatu hal yang sangat langka di negeri ini. Kita bisa menyalahkan bobroknya aparat penegak hukum dan kualitas hukum itu sendiri, tetapi pada akhornya kita juga akan tetap menatap diri kita di dalam cermin. Sejauh mana moralitas kita mengarahkan kepada kebajikan tanpa adanya hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc03.deviantart.net/fs23/i/2011/222/9/1/blind_by_echo2me-d180wfa.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://fc03.deviantart.net/fs23/i/2011/222/9/1/blind_by_echo2me-d180wfa.jpg" width="214" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar: echo2me.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seharusnya kita pahami bahwa kebajikan yang dilakukan karena sebuah sistem adalah kebajikan yang terendah. Kebajikan seharusnya digerakkan oleh hati, bukan karena aturan atau sanksi dan hadiah. Hal ini yang seringkali kita lupakan karena kita lebih suka menyalahkan sistem dan hukum daripada diri kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukum seharusnya dilahirkan bersamaan dengan dibangunnya kesadaran akan pentingnya hukum itu sendiri. Tanpa adanya pemahaman yang benar, hukum hanya akan dianggap sebagai pembenaran atas kepentingan penguasa, bukan kepetingan bersama. Hukum cenderung akan disepelekan meskipun itu menyangkut kepentingan kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka dari itu, jika ingin keadilan ditegakkan maka mulailah berkaca dari diri sendiri. Bagaimana bisa kita berharap orang lain melakukan sesuatu yang kita langgar? Maka sesungguhnya tanggung jawab terbesar kita ada pada apa yang kita lakukan, bukan terhadap apa yang dilakukan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan. (61:2-3)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7019874925300129334?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7019874925300129334/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7019874925300129334&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7019874925300129334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7019874925300129334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/orang-buta-berjalan-lurus.html' title='Orang Buta Berjalan Lurus'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3671492380610372690</id><published>2011-12-15T23:23:00.002+07:00</published><updated>2011-12-15T23:34:54.361+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Dang, Si Anak Laki-Laki</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;S&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;osok itu terdiam, membeku dan kaku. Terpendam dalam tanah beberapa meter di bawah. Jasadnya, entah berbentuk apa sekarang. Bahkan sebelum dimakamkan pun luka bakar telah menghiasi kulitnya. Ya, luka yang membawanya kepada kematian.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;O&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;rang itu hanya diam tanpa kata. Tetapi orang-orang disini terlalu ribut dengan berbagai spekulasi dan teori konspirasi. Menerjemahkan perilakunya ke dalam ego dan imajinasi masing-masing, menjadi pembenaran akan kepentingan dan idealisme yang diusungnya. Jika dia yang disana masih bisa berkata, tentulah kita akan bertanya apa maksudnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;amun bagaimanapun juga Tuhan tidak pernah menyukai hambaNya yang menyia-nyiakan hidupnya. Dan janjiNya telah pasti. Akan tetapi di zaman modern saat ini Tuhan dianggap sudah ketinggalan zaman. Sehingga apalah pentingnya membicarakan Tuhan dibandingkan dengan reformasi, revolusi, dan politik?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;an disinilah dia berada. Mati dengan janji akan kemurkaan, namun kita menyebutnya patriot. Entahlah tampaknya orang yang hanya duduk di kejauhan sana bisa dikatakan sebagai pembunuh orang yang menyiramkan bensin ke tubuhnya sendiri. Saat ini aku tidak tahu lagi berapa banyak orang yang masih terlalu bodoh untuk percaya Tuhan.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;pakah tidak cukup dengan murka itu sehingga kita menambahkannya? Dia yang telah mati justru menjadi pembenaran untuk berbagai tindakan amoral, perusakan fasilitas umum, dan semacamnya. Entahlah disini tampaknya membakar diri sendiri jauh dapat menyelesaikan suatu masalah daripada menghentikan orang untuk berbuat kerusakan itu sendiri.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;N&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;asib memang tidak pernah dapat ditebak, begitu pula manusia. Makhluk berakal yang terlalu pintar sehingga sulit untuk dipahami. Mungkin Tuhan pun berdecak heran melihat tingkah polah kita yang semakin tidak karuan saja. Peradaban hanyalah bangunan batu, bukan pondasi moral dan tingkah laku.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #660000;"&gt;G&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;ila!!! Itulah kita saat ini. Apakah kita telah membunuh Tuhan dalam diri kita sendiri dan menukarnya dengan politik? Atau mungkin kita yang terlalu egois, mengambil keuntungan dari kematian seseorang demi kepentingan tertentu? Ataukah saya yang terlalu gila sehingga tidak dapat memahami kebenaran? Entahlah. Andai kita bisa bertanya pada anak muda itu. Dan bagiku, Tuhan tidak dapat diperdebatkan dan diajak berdebat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc01.deviantart.net/fs71/f/2011/147/0/c/burning_flame_by_mattthesamurai-d3hc6m5.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="362" src="http://fc01.deviantart.net/fs71/f/2011/147/0/c/burning_flame_by_mattthesamurai-d3hc6m5.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar: mattthesamurai.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3671492380610372690?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3671492380610372690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3671492380610372690&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3671492380610372690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3671492380610372690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/dang-si-anak-laki-laki.html' title='Dang, Si Anak Laki-Laki'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-4087548598050456734</id><published>2011-12-10T09:24:00.001+07:00</published><updated>2011-12-15T23:41:35.833+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Hidup dalam Bayangan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://th00.deviantart.net/fs70/PRE/i/2010/305/a/d/reflection_by_vadonny88-d31zw7e.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://th00.deviantart.net/fs70/PRE/i/2010/305/a/d/reflection_by_vadonny88-d31zw7e.jpg" width="295" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;i&gt;gambar: vadonny88.deviantart.com&lt;/i&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak, meneruskan pandangannya kepada segerombol mahasiswa yang berdiri di depan sana. Kepayahan menahan terik panas yang membuat orang tidak betah berada di luar ruangan &amp;nbsp;mereka tetap berdiri dengan penuh semangat dan teriakan. Tapi untuk apa?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Penindasan dan ketidakadilan serta kekurangan memang untuk dikritisi agar dapat berusaha menjadi lebih baik lagi. Namun seharusnya kebaikan juga berhak mendapatkan apresiasi sebagaimana kesalahan mendapatkan kritik. Bukan justru kebaikan pun dikritik secara membabi buta ibarat orang yang belum akhil baligh tidak bisa membedakan kebaikan dan keburukan.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kini sudah bukan lagi zaman orde baru dimana demonstrasi adalah suatu tontonan yang langka. Kini orang justru telah muak dengan berbagai demonstrasi di jalanan. Beberapa dari mereka yang lebih kreatif melakukan demonstrasi melalui seni, musik, wayang, lukisan, dan berbagai macam media elektronik yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Bentuk-bentuk yang seringkali justru diapresiasi sebagai sebuah bentuk kritikan cerdas.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Lalu untuk apa mereka disana? Memperjuangkan gagasan yang bisa mereka wujudkan dengan tangan mereka sendiri tetapi lebih tertarik untuk berteriak di jalanan dan sekali lagi menjadi simbol dari perlawanan terhadap penindasan. Mengapa berpuas diri menjadi simbol jika kita bisa berusaha sendiri? Apakah kita terlalu malas bertindak dan berharap sebuah simbol dapat menyelesaikan permasalahan yang ada?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Orang akan menempuh berbagai cara untuk meraih cita-cita dan tentunya akan mencoba jalan paling efektif untuk meraihnya. Namun apa yang laki-laki itu lihat disana bukanlah demikian. Maka muncul gagasan apakah mungkin bahwa terwujudnya cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang mereka inginkan?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Lalu disana dia melihat bayangan yang menaungi mereka. Bayangan prestasi dan keberhasilan mahasiswa untuk bersatu padu membuat perubahan besar melalui demonstrasi pada zamannya. Apakah itu arti dari ini semua? Sebuah bentuk perwujudan untuk menunjukkan eksistensi suatu generasi pada generasi lainya? Apakah ini semua hanya untuk itu, eksistensi? Maka kasihanilah mereka yang hidup dalam bayang-bayang orang lain.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-4087548598050456734?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/4087548598050456734/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=4087548598050456734&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/4087548598050456734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/4087548598050456734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/hidup-dalam-bayangan.html' title='Hidup dalam Bayangan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8615445346581690383</id><published>2011-12-08T23:01:00.001+07:00</published><updated>2011-12-08T23:21:02.504+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Dibenci oleh yang Dipuja</title><content type='html'>&lt;i&gt;Siapa tidak kenal Soe Hok Gie? Nama yang sangat populer di kalangan mahasiswa, aktivis, idealis, atau apapun lah itu namanya. Saya pribadi tidak begitu mengnalnya karena mungkin saya bukan seorang idealis, aktivis, atau apapunlah itu. Kalaupun ada orang yang menyebut saya demikian, saya pribadi tidak begitu suka dengan sebutan itu.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. (Soe Hok Gie)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Satu hal yang menarik adalah bagaimana para aktivis idealis tersebut begitu memuja-mujanya, mendengaungkan kata-katanya ke seantero negeri demi menyampaikan pesan tersebut. Seolah mereka hendak menjadi Gie berikutya. Dengan idealisme menantang semuanya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. (Soe Hok Gie)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Namun beberapa kata-kata Gie menyadarkan saya. Apa yang saya lihat saat ini, justru sebagian dari mereka yang menganggap Gie sebagai pahlawan adalah mereka yang dibenci oleh Gie sendiri. Benarkah?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc00.deviantart.net/fs70/i/2011/135/0/0/soe_hok_gie_by_muhammadharir-d3gdilr.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="303" src="http://fc00.deviantart.net/fs70/i/2011/135/0/0/soe_hok_gie_by_muhammadharir-d3gdilr.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar: muhammadharir.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;NB: Omong-omong maaf jika akhir-akhir ini saya jadi terlalu sering manulis. terlalu banyak omong kosong idealisme yang tidak sesuai dengan perilaku yang terjadi di kampus saya. Maaf juga jika kali ini saya menggunakan kata "mereka" dan bukan "kita" meski saya mungkin bagian dari "mereka"&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8615445346581690383?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8615445346581690383/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8615445346581690383&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8615445346581690383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8615445346581690383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/dibenci-oleh-yang-dipuja.html' title='Dibenci oleh yang Dipuja'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6868055845641583995</id><published>2011-12-08T08:45:00.001+07:00</published><updated>2011-12-08T09:19:56.298+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Aku Selalu Paling Benar</title><content type='html'>&lt;i&gt;Apa itu kebenaran? Sebuah pertanyaan klasik dengan beribu jawaban. Mulai dari idealis sampai pada pragmatis. Menempatkan sebuah tujuan sebagai simbol suci untuk dijunjung tinggi dan pada akhirnya memaksa orang lain untuk mensucikannya juga. Mereka yang menolaknya, katakan saja mereka tidak bermoral, egois, dan berbagai macam makian yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut-mulut orang yang suci tersebut. Suci karena mereka bersama kebenaran.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;adakah musuh kita selalu salah dan kita selalu benar?&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;Aku telah bertemu dengan berbagai orang dan tiap orang tersebut mendefiniskan sendiri kebenaran mereka. Kebenaran yang berbeda itu bagi tiap orang menjadi Tuhan mereka, mereka marah ketika orang tidak setuju dan menganggap orang tersebut kafir dari kebenaran mereka. Tidak sadarkah bahawa kita sendiri pun belum sepakat dengan kebenaran kita?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;adakah kita akan menyebut sesuatu yang merugikan diri kita sebagai kebenaran?&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;Lalu pada akhirnya sampailah saya pada penghujung simpulan. Mulut boleh berkata karena lidah tak bertulang, tetapi tindakan membuktikan apa yang sebenarnya berada dalam pikiran. Kebenaran adalah sebuah bentuk kepenntingan yang disucikan. Itulah sebabnya kebenaran selalu berubah.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;pada akhirnya kita belum bisa menjunjung tinggi kebenaran, apa yang kita junjung selama ini adalah kepentingan&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;Pada akhirnya kita harus bercermin pada tindakan kita. Apakah memang seperti itukah kebenaran? Sebuah kepentingan pribadi yang disucikan. Membuat diri sendiri menjadi sangat bermoral karena menjunjungnya dan merendahkan moral orang lain karena berbeda. Pada akhirnya semua orang merasa paling benar sendiri dan tak ada orang yang paling salah. Selama kepentingan diperjuangkan, maka saat itulah kebenaran ditegakkan. Eh?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://do-while.com/img/misc/selfish-pigs/selfish-pigs06.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="257" src="http://do-while.com/img/misc/selfish-pigs/selfish-pigs06.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;gambar: do-while.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6868055845641583995?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6868055845641583995/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6868055845641583995&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6868055845641583995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6868055845641583995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/aku-selalu-paling-benar.html' title='Aku Selalu Paling Benar'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2065365223472220300</id><published>2011-12-07T18:36:00.001+07:00</published><updated>2011-12-07T18:39:06.320+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Goblok</title><content type='html'>&lt;i&gt;Kita ini Goblok! Sibuk memperbaharui undang-undang, menyusun berbagai macam aturan, memasang alat presensi sidik jari, menaikkan remunerasi, mennerbitkan berbagai macam tes dan ijazah. Padahal ini semua adalah&lt;b&gt; masalah moral&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://elgibrany.blogsome.com/wp-admin/images/goblok.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="272" src="http://elgibrany.blogsome.com/wp-admin/images/goblok.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;saveyoutube.blogspot.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2065365223472220300?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2065365223472220300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2065365223472220300&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2065365223472220300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2065365223472220300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/goblok.html' title='Goblok'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5852313938051983533</id><published>2011-12-06T16:21:00.001+07:00</published><updated>2011-12-06T16:36:23.759+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Belajar Dahlan</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia yang selalu percaya&lt;/b&gt;. Ketika orang lain merasa dirinya sendiri yang terbaik dan superior, dia percaya bahwa setiap orang memiliki keahliannya masing-masing. Meyingkirkan ego untuk menjadi dominan dan memberi kepercayaa orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia yang selalu menghargai&lt;/b&gt;. Ketika orang lain lebih suka mengeluh dan mengkritik, dia percaya bahwa setiap orang telah melakukan usahanya semaksimal mungkin untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Maka yang diperlukan adalah apresiasi untuk terus berprestasi dan bantuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia yang apa adanya&lt;/b&gt;. Ketika orang lain mendambakan kenyamanan dan kemewahan sebagai bagian dari pekerjaannya, dia lebih suka turun langsung ke lapangan. Apa adanya melihat kenyataan dengan mata baginya tampak lebih meyakinkan daripada deskripsi-deskripsi dalam lembaran kertas. Dia yang tidak segan untuk repot karena itu memang tugasnya. Menyingkirkan jas, sepatu kulit, dan segala bentuk formalitas yang mengganggu pekerjaannya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Dia Dahlan Iskan&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://dahlaniskan.files.wordpress.com/2010/10/dahlan-iskan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://dahlaniskan.files.wordpress.com/2010/10/dahlan-iskan.jpg" width="271" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: dahlaniskan.wordpress.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5852313938051983533?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5852313938051983533/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5852313938051983533&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5852313938051983533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5852313938051983533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/belajar-dahlan.html' title='Belajar Dahlan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8870688537180820932</id><published>2011-12-02T18:30:00.001+07:00</published><updated>2011-12-03T08:40:46.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Mengintip Pasar Tradisional</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc05.deviantart.net/fs32/i/2008/227/9/3/Pasar_Kota_Gede_by_9hand.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://fc05.deviantart.net/fs32/i/2008/227/9/3/Pasar_Kota_Gede_by_9hand.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: 9hand.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar Tradisional seringkali digunakan untuk menggambarkan kegagalan sistem tradisional melawan modernisasi. Di sisi lain keberadaannya juga sering digunakan sebagai simbol perlawanan rakyat miskin terhadap industri kapitalis dewasa ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak pihak telah berusaha untuk &lt;i&gt;membangun&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kembali Pasar Tradisional agar bisa bersaing dengan pasar modern. Pembangunan secara fisik maupun pemberdayaan masyarakat terus dikuatkan agar Pasar Tradisional bisa tetap bertahan dalam menghadapiu modernisasi. Akan tetapi seringkali kebijakan modernisasi yang diambil justru menghancurkan Pasar Tradisional itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Pasar untuk Apa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Lha orientasine bisnis kok, yo makane bubrah&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata tersebut meluncur dalam obrolan santai di sebuah bengkel bersama seorang kakek tua. Pada saat itu, diskusi mengalir kepada keberadaan sebuah pasar tradisional di sekitaran Kraton Yogyakarta yang baru-baru ini mengalami sedikit perombakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau kita cermati sebenarnya kata-kata tersebut cukup aneh. Selama ini pasar sebagai pusat perdagangan selalu kita asosiasikan dengan kegiatan ekonomi untuk mencari keuntungan. Maka seharusnya sangatlah wajar jika pengembangan pasar berorientasi pada bisnis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya mencoba mencermati kehidupan pasar tradisional. Disana saya menemukan sebuah fenomena yang cukup mengejutkan. Pasar sejatinya bukan hanya sebagai tempat kegiatan ekonomi. Namun di sisi lain pasar tradisional juga memiliki nilai sosial dan historis yang cukup tinggi.&amp;nbsp;Seseorang pergi ke pasar tidak hanya untuk membeli sesuatu, ada hal lain yang dicari oleh orang-orang tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertimbangan seseorang untuk pergi ke pasar tradisional tidak hanya dari sisi ekonomi saja. Ada faktor-faktor lain yang sama pentingnya. Namun sayangnya pengembangan pasar tradisional dewasa ini gagal untuk menangkap faktor-faktor tersebut sehingga pembangunan justru menghancurkan pasar itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Pasar untuk Siapa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Tuna sathak bathi sanak&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita tentu tidak akan sukses menjual kondom kepada anak SD, begitu juga kita akan mengalami kesulitan menjual permen kepada para lansia. Intinya bahwa setiap produk memiliki pangsa pasar masing-masing. Lalu bagaimana dengan pangsa pasar tradisional?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita tengok di lapangan, maka dapat dikatakan bahwa mayoritas pengunjung pasar tradisional berasal dari golongan menengah ke atas dari segi usia. Jika kita tilik dari segi budaya, itu artinya para pengunjung pasar tradisional sebenarnya juga merupakan orang-orang degan nilai budaya yang masih tradisional pula.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat tradisional ini memiliki keunikan terendiri. Salah satunya adalah adanya kebutuhan yang besar akan hubungan sosial. Kebutuhan inilah yang salah satunya dapat mereka penuhi dan memang mereka cari di pasar tradisional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan pasar modern (supermarket) yang cenderung menawarkan kebebasan dan privasi dalam berbelanja, pasar tradisional justru menawarkan kehangatan dan perhatian kepada para pembelinya. Jika kita cermati dari obrolan yang terjadi tidak hanya sebatas tema ekonomi, tetapi juga menyangkut keluarga, politik dan tema sosial lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan hal yang aneh jika para penjual mengenali (tidak hanya sebatas nama) para pembelinya. Begitu juga para pembeli biasanya memiliki langganan sebagai rujukan mereka dalam membeli. Langganan ini tercipta tidak hanya dengan satu dua kali interaksi saja namun terbentuk secara lama dan berkelanjutan sehingga mengakar kuat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah sebabnya seringkali kita jumpai beberapa pelanggan yang rela menempuh jarak yang cukup jauh untuk membeli barang tertentu yang sebenarnya dapat juga mereka dapatkan di pasar tradisional lain di dekat rumah mereka. Kepercayaan, kehangatan, dan hubungan sosial menjadi kunci terpenting dalam interaksi ekonomi yang terjadi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kumuh, Kotor, dan Sesak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika mendengar kata pasar tradisional, seringkali yang terlintas dalam pikiran kita adalah keadaan fisiknya yang kumuh, kotor, becek dan penuh sesak. Hal-hal ini seringkali ditengarai menjadi faktor yang menyebabkan pasar tradisional perlahan ditinggalkan oleh masyarakat. Hal ini sagat wajar mengingat perkembangan penyakit dewasa ini yang semakin mengerikan membuat tuntutan akan kebersihan menjadi sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berangkat dari hal tersebut, pengembangan pasar tradisional mencoba untuk menghilangkan hal-hal tersebut. Pasar dibangun dengan cukup terbuka dan jalanan dibikin cukup lebar. Bahkan dalam kasus di Kabupaten Bantul pasca gempa pasar tradisional dibangun lebih besar dengan tujuan agar pedagang tidak berdesak-desakan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun langkah tersebut justru menjadi buah simalakama. Keadaan pasar tradisional yang rapi dan lenggang justru mengesankan bahwa pasar tersebut semakin sepi. Hal ini tentunya sangat mengecewakan para pelanggan pasar tradisional karena pada dasarnya mereka menginginkan keramaian.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keramaian yang seringkali dianggap sebagai faktor negatif, di satu sisi juga menjadi faktor positif ketahanan pasar tradisional. Hal ini dikarenakan bahwa pelanggan pasar tradisional yang berasal dari masyarakat tradisional tersebut mengharapkan pemenuhan kebutuhan sosial mereka di pasar. Kondisi pasar yang terkjesan sepi memunculkan anggapan bahwa pasar tradisional tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan sosial mereka. Pada akhirnya mereka menjadi semakin enggan berkunjung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Melawan Modernisasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan zaman dewasa ini mengarahkan pada spesialisasi manusia. Orang diarahkan untuk memiliki kemampuan khusus dibandingkan kemampuan umum. Hal ini juga merambah dalam dunia rumah tangga.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rumah makan misalnya, kini kian menawarkan beragam produk masakan dan makanan yang sebelumnya harus dimasak sendiri di rumah. Pada akhirnya hal ini menawarkan kepraktisan, orang tidak lagi harus membuat sendiri makanan yang mereka inginkan. Cukup membeli saja praktis tersedia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dampaknya pengunjung pasar tradisional kian berkurang. Di sisi lain rumah makan dan restoran semacam ini biasanya telah memiliki distributor tersendiri. Distributor ini seringkali (dalam skala besar) membeli langsung dari petani tanpa melalui pasar tradisional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tantangan lain yang dihadapi pasar tradisional adalah adanya pasar swalayan. Pasar swalayan atau supermarket ini menawarkan produk yang lebih bersih dan higienis. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi masyarakat modern yang sangat mementingkan faktor kebersihan. Ditambah lagi seringnya tayangan dan adanya oknum pedagang nakal yang seringkali merusak reputasi pasar tradisional sehingga mengarahkan masyarakat untuk beralih ke pasar modern.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain pedagang keliling semakin banyak. Dalam dunia yang serba sibuk waktu menjadi sangat penting sehingga pedagang keliling menjadi alternatif yang praktis dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga. Meski demikian seringkali produk yang mereka tawarkan tidak begitu lengkap sehingga masyarakat tetap harus pergi ke pasar untuk membeli produk-produk tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Mari ke Pasar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu pemandangan dimana anak-anak ikut bersama orang tua mereka untuk pergi ke pasar merupakan pemandangan yang wajar. Namun kini dunia menjadi semakin sibuk bahkan untuk anak-anak. Mereka terlalu disibukkan dengan televisi dan pendidikan usia "terlalu dini" yang marak di kota-kota besar. Terlebih seringkali pembantu mereka lah yang ke pasar dan bukan orang tua mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga wajar jika generasi mendatang nantinya tidak lagi berkunjung ke pasar. Pasar tradisional sebagai sebuah struktur sosial seharusnya memiliki sistem regenerasi yang baik agar bisa tetap bertahan. Regenerasi ini meliputi pedagang maupun konsumen itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu perlulah mengajak generasi muda untuk berkunjung kembali ke pasar tradisional. Kunjungan ini bisa diprakarsai dari diri sendiri maupun dari institusi pendidikan mulai dari yang terkecil hingga yang tertinggi. Terlebih jika dalam kunjungan ini dapat terjalin interaksi sosial dan tidak hanya sekedar melihat-lihat layaknya berkunjung ke kebun binatang. Akan tetapi kunjungan kecil saja dapat membuah perubahan besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasar sebagai pusat interaksi sosial hendaknya juga turut dikembangkan menjadi sebuah keunggulan tersendiri bagi pasar tradisional dibandingkan pesaingnya yaitu pasar modern. Keunggulan ini menjadi kunci pengembangan pasar ke depan dalam menghadapi modernisasi sehingga tercipta sebuah akulturasi yang memantapkan kedudukan pasar tradisional dalam kehidupan modern.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;=======================================================&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tertarik untuk mengembangkan pasar tradisional? Gabung saja dengan &lt;i&gt;&lt;a href="http://sekolahpasar.com/"&gt;Relawan Sekolah Pasar&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (klik)&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sekolahpasar.com/" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://4.bp.blogspot.com/-eKsC9GDwlJY/TtjM9LZuokI/AAAAAAAAAS0/MHM3CTTmIOo/s400/Untitled.png" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sekolahpasar.com/"&gt;http://sekolahpasar.com/&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8870688537180820932?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8870688537180820932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8870688537180820932&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8870688537180820932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8870688537180820932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/mengintip-pasar-tradisional.html' title='Mengintip Pasar Tradisional'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-eKsC9GDwlJY/TtjM9LZuokI/AAAAAAAAAS0/MHM3CTTmIOo/s72-c/Untitled.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8544126943038710130</id><published>2011-12-01T20:51:00.001+07:00</published><updated>2011-12-03T21:33:13.134+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Negeri Sarkastik</title><content type='html'>&lt;i&gt;Sungguh Elok Nian Negeri ini. Rakyatnya kaya raya, bahkan tanah subur pun mereka tolak. Mereka tidak membutuhkannya. Lantas mereka tutupi saja tanah tersebut dengan bebatuan keras dan keangkuhan. Memendam sejarah dan warisan nenek moyang dengan modernisasi.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc00.deviantart.net/fs31/i/2008/202/7/1/Lazy_by_Just_Di.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://fc00.deviantart.net/fs31/i/2008/202/7/1/Lazy_by_Just_Di.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: just-di.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Disini, orang tidak perlu bekerja keras. Dengan demonstrasi permasalahan dapat terselesaikan. Dengan Undang-Undang masyarakat menjadi bermoral. Dan dengan Uang, ya Uang, tidak ada satupun permasalahan yang tidak dapat diselesaikan. Bukankah semua masalah di dunia ini hanyalah tentang kemiskinan? Moralitas dan akhlak hanyalah kata-kata penghibur yang membuat rakyat miskin tetap tenang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Laku tidaklah penting, yang penting adalah simbol. Semua tentang simbol, ketika simbol dipertarungkan dan menang, maka keadaan akan berubah. Seolah simbol adalah dunia itu sendiri. Tindakan tidaklah penting, karena semua itu tidak ada artinya dibandingkan simbol.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Mendadak manusia hanya menjadi objek. Benda yang hanya dapat terpengaruh tanpa memberi pengaruh. Cukuplah dengan aturan, demonstrasi, dan simbol-simbol ini dunia bisa menjadi tempat yang labih baik dengan masyarakat mendadak menjadi bermoral.&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8544126943038710130?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8544126943038710130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8544126943038710130&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8544126943038710130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8544126943038710130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/12/negeri-sarkastik.html' title='Negeri Sarkastik'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6034723210245608756</id><published>2011-11-30T22:03:00.001+07:00</published><updated>2011-12-03T21:36:55.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Kenapa saya dituduh sebagai koruptor?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Saya orang baik-baik, warga negara Indonesia asli. Terlebih lagi saya adalah orang yang suka memberi manfaat kepada sesama. Orang tua saya selalu mengajarkan kepada saya untuk selalu menolong orang lain. Biasanya petuah tersebut disampaikan bersama nukilan ayat suci, ungkapan Jawa, dan cerita Wayang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Pada dasarnya kita adalah orang-orang baik. Terlalu baik malah, bahkan terhadap koruptor sekalipun.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sebagai warga negara yang baik, saya memperpanjang KTP tepat waktu. Dimulai dengan meminta surat izin dari RT sembari melampirkan sedikit recehan. Kasihan, Ketua RT selalu bekerja tanpa diberi imbalan apapun. Padahal dia manusia juga, dia juga butuh makan. Begitu juga Ketua RW.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-QdRTwsalzVA/Terrb6RQ3HI/AAAAAAAAACM/O1b4SxzBptM/s1600/MENYUAP.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/-QdRTwsalzVA/Terrb6RQ3HI/AAAAAAAAACM/O1b4SxzBptM/s1600/MENYUAP.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;paramarimas.blogspot.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Saya tahu bahwa membuat KTP itu gratis, tetapi saya juga tahu bahwa gaji PNS itu kecil. Oleh karena itu ketika saya harus "membeli" formulir yang bisa saya kopi sendiri dengan harga 50x lipat saya diam saja dan menyelipkan beberapa lembar yang dia inginkan. Itu semua demi membantu kesejahteraan mereka.&amp;nbsp;Bantuan yang sama yang saya berikan juga kepada Polisi ketika membuat surat kehilangan yang biasa juga disebut "bantuan administrasi".&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Bantuan yang secara "sukarela" diberikan untuk "membantu" mereka yang "membutuhkan". Karena sejatinya kita adalah masyarakat baik, masyarakat yang suka menolong satu sama lain. Kini ketika kebaikan dituduh sebagai korupsi, akankah kita kehilangan nurani dan rasa persaudaraan kita ditelan kemajuan zaman?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote class="tr_bq"&gt;&lt;i&gt;Di akhir bait, teriring doa semoga KPK segera dapat membubarkan diri.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6034723210245608756?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6034723210245608756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6034723210245608756&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6034723210245608756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6034723210245608756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/11/kenapa-saya-dituduh-sebagai-koruptor.html' title='Kenapa saya dituduh sebagai koruptor?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QdRTwsalzVA/Terrb6RQ3HI/AAAAAAAAACM/O1b4SxzBptM/s72-c/MENYUAP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-9152444564994627953</id><published>2011-11-25T22:16:00.001+07:00</published><updated>2011-11-28T14:25:00.280+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='informasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Mengenal Pendidikan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berawal dari berita beberapa waktu yang lalu dan &lt;a href="http://tengakarta.wordpress.com/2011/11/25/siapa-bilang-diploma-itu-bida/"&gt;tulisan&lt;/a&gt; seorang teman mengenai perbedaan dan perbedaan jalur sarjana dan diploma maka saya menjadi tergerak untuk menuliskan gagasan yang telah lama tertanam dalam benak saya. Gagasan ini sebenarnya telah saya singgung sedikit dalam tulisan saya &lt;a href="http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/pragmatisme-pendidikan.html"&gt;sebelumnya&lt;/a&gt; namun saya ingin mengungkapkan gagasan tersebut dalam bentuk lain yang lebih terfokus (karena tulisan sebelumnya saya tulis untuk mengkritisi sebuah kebijakan waktu itu).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat awam banyak yang kurang memahami tentang alur pendidikan kita. Semua pendidikan dianggap berjenjang dalam satu alur yag tidak bercabang. Mulai dari &lt;i&gt;playgroup&lt;/i&gt; yang paling rendah hingga Doktor. Padahal dalam prakteknya terdapat percabangan pada tingkatan-tingkatan tertentu yang mengarah pada spesialisasi dan spesifikasi keahlian tertentu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketidaktahuan ini berdampak pada kesalahpahaman terhadap tujuan pendidikan yang kita alami selama ini. Sehingga mucul anggapan bahwa pendidikan seringkali tidak sesuai dengan dunia kerja (meskipun perbedaan itu ada, namun tidak sebesar anggapan masyarakat yang salah kaprah). Selain itu muncul penyalahan terhadap sistem padahal kita sendiri yang salah masuk sistem. Ibarat kata kita menyalahkan supir bis karena tidak mengantar kita ke tempat yang kita inginkan, padahal kita sendiri yang salah naik jalur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam tulisan ini saya akan membahas berbagai bentuk pendidikan formal beserta tujuannya sehingga dapat memberikan gambaran kepada kita akan arah pendidikan kita nantinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-icwnFz9lZPI/Ts-7p-j9qrI/AAAAAAAAASs/F2NWKEk8Rtc/s1600/pendidikan+kerja.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="352" src="http://1.bp.blogspot.com/-icwnFz9lZPI/Ts-7p-j9qrI/AAAAAAAAASs/F2NWKEk8Rtc/s400/pendidikan+kerja.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;bagan pendidikan&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Taman Kanak-Kanak&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya tingkatan pendidikan formal dimulai dari tingkat &lt;i&gt;sekolah dasar&lt;/i&gt;. Akan tetapi dewasa ini di lingkungan perkotaan TK sendiri seolah menjadi bagian pokok dari pendidikan anak-anak. Bahkan tidak jarang TK dan &lt;i&gt;playgroup&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dewasa ini memasukkan unsur-unsur akademis dengan sangat kental. Mulai dari bahasa Inggris, menulis, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal TK sendiri merupakan jenjang peralihan dari kehidupan anak di rumah menuju kehidupan sosial sekolah. TK mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan orang lain. Jika sebelumnya sosialisasi anak hanya kepada keluarga dan kerabat di rumah, di TK anak diajarkan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan orang asing. Itulah tujuan utama dari TK.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan pendidikan mengenai baca tulis dan sebagainya sebenarnya hanya merupakan &lt;i&gt;ekstra&lt;/i&gt;&amp;nbsp;atau tambahan saja. Sayangnya kemajuan anak dewasa ini memaksa anak-anak balita untuk melakukan lebih dari itu. Orang tua seringkali memasukkan anaknya ke dalam TK tertentu agar pandai berbahasa Inggris, baca tulis dan sebagainya. Dalam taraf tertentu hal ini justru menjadi beban bagi anak tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sekolah Dasar &amp;amp; Madrasah Ibtidaiyah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sinilah seharusnya anak mulai belajar nilai-nilai akademis. Di SD anak diajarkan baca tulis dan dikenalkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya umum. Pengetahuan ini masih sangat mendasar dan hanya bersifat mengenalkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun akibat akselerasi zaman dewasa ini terjadi salah kaprah bahwa anak belajar baca tulis dari TK. Bahkan kemampuan baaca tulis menjadi syarat masuk sekolah dasar. Kemampuan yang seharusnya baru diajarkan pada tingkatan ini. Efek lainnya pengetahuan yang diajarkan di SD tidak lagi sebatas memperkenalkan tetapi lebih dari itu. Ini tentaunya menjadi beban bagi anak tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain SD dikenal juga Madrasah Ibtidaiyah pada tingkatan yang sama. MI sendiri merupakan jenjang yang sama dengan SD, hanya saja memiliki penekanan pada agama lebih dominan. Tujuannya tentu menciptakan ahli-ahli agama, ustad dan ulama. Mi sendiri berada di bawah Departemen Agama berbeda dengan SD yang berada di bawah Departemen Pendidikan. Hal yang sama juga dikenal pada tingkatan selanjutnya yang dikenal dengan MTS dan MAN.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski demikian pada prakteknya penekanan ini seringkali kurang tampak. Beberapa MI tetap lebih mengutamakan ilmu-ilmu umum daripada ilmu agama itu sendiri. Sehingga yang nampak bukan sekolah agama tetapi lebih kepada sekolah umum bernuansa agama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sekolah Menengah Pertama &amp;amp; MTS&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tingkatan ini pengetahuan diajarkan secara utuh. Berbagai cabang ilmu utama diajarkan kepada para siswa. Tujuannya adalah mengantarkan siswa pada jenjang pendidikan berikutnya. Semua cabang utama diajarkan dan dikenalkan namun tidak secara mendalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disinilah para siswa seharusnya mulai menentukan masa depannya. Pekerjaan apa yang dia inginkan, ilmu apa yang ingin dia pelajari, dan sebagainya sebaiknya sudah dipikirkan. Hal ini mengingat pada jenjang berikutnya telah terjadi percabangan dan spesifikasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sekolah Menengah Kejuruan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada jenjang ini pendidikan formal mulai mengalami percabangan. Pada model SMK siswa diarahkan pada pendidikan mengenai keterampilan-keterampilan praktis dalam bekerja. Keterampilan ini pun terspesifikasi dengan sangat jelas terbentuk dalam jurusan-jurusan. Tiap-tiap jurusan mewakili keahlian-keahlian tertentu yang terspesifikasi.&amp;nbsp;Lulusannya merupakan tenaga kerja terampil yang siap bekerja. Mereka memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai dalam bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya saja seringkali melekat stigma negatif pada jenjang pendidikan ini. SMK seringkali dicap sebagai &lt;i&gt;sekolah untuk masyarakat menengah ke bawah&lt;/i&gt;. Penjelasan mengenai stigma ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sekolah Menengah Atas &amp;amp; MAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;SMA &amp;amp; Man memiliki tingkatan yang sama dengan SMK. Hanya saja instanti-instansi ini memiliki tujuan yang berbeda. Jika SMK mendidik siswa sebagai tenaga kerja terampil, SMA dan MAN sendiri hanya memperdalam ilmu yang diajarkan di SMP &amp;amp; MTS. Tujuannya hanya sebatas menyiapkan siswa untuk menuju jenjang pendidikan berikutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah yang sering tidak dipahami oleh masyarakat umum bahwa SMA memang tidak mendidik siswanya menjadi tenaga kerja. Jadi suatu hal yang sangat wajar jika lulusan SMA seringkali kurang siap menghadapi dunia kerja karena memang jenjang ini tidak mengarahkan siswanya menjadi tenaga kerja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Diploma&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Program pendidikan ini juga seringkali dianggap sama dengan prodi Sarjana dan hanya dibedakan oleh lamanya masa studi (bahkan dalam program D4 masa studinya sama). Padahal keduanya memiliki tujuan yang sangat berbeda. Diploma sendiri sedikit banyak mirip dengan jenjang pendidikan SMK. Dimana pada program pendidikan ini mengarahkan siswanya menjadi tenaga-tenaga kerja ahli terutama berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya teknis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lulusan dari jenjang pendidikan ini memiliki kemampuan dan keterampilan kerja yang sangat memadai dalam bidang teknis. Keahlian yang diajarkan lebih bersifat praktis dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan nyata. Dalam perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi besar lulusan diploma dipercayakan untuk menangani hal-hal yang bersifat praktis atau langsung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Sarjana&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain halnya dengan Diploma, tujuan utama dari program pendidikan ini adalah menyiapkan siswa-siswanya menuju jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu Master (S2). Selain itu dalam beberapa ilmu tertentu lulusan jenjang ini dapat mengambil program profesi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika dalam program Diploma ilmu-ilmu yang diajarkan bersifat praktis dan langsung dapat diterapkan, maka program Sarjana justru mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat teoritis. Hal ini dikarenakan program ini mengajarkan siswanya untuk mendalami suatu ilmu tertentu dan diharapkan untuk dapat mengembangkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski demikian program ini mendidik siswanya untuk dapat melakukan analisa-analisa terhadap suatu permasalahan yang ada. Keahlian inilah yang seringkali dibutuhkan oleh instansi-instansi dan perusahaan untuk mengatasi masalah mereka. Oleh karena itu lulusan Sarjana biasanya ditempatkan sebagai analis dan tugasnya kurang begitu praktis dibanding program Diploma.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Persepsi yang Salah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kesalahan persepsi juga terjadi dalam dunia kerja. Seringkali muncul anggapan bahwa pekerjaan terbaik adalah pekerjaan di balik meja dan bukan pekerjaan yang menggunakan keterampilan kasar. Anggapan ini memunculkan adanya satu pekerjaan terbaik di dunia ini dan di sisi lain ada satu pekerjaan terburuk. Semakin banyak keterampilan kasar yang digunakan maka semakin buruk pekerjaan tersebut, begitu pula sebaliknya. Pada akhirnya semua orang bercita-cita untuk mendapatkan pekerjaan di balik meja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala ini sangat tampak terutama pada petani. Para petani ramai-ramai menyekolahkan anaknya agar bisa mendapatkan pekerjaan yang "lebih baik" dan menjadi orang orang kantoran. Sebaliknya sangat jarang kita jumpai petani yang menyekolahkan anaknya agar dapat membantu meningkatkan hasil panen ayahnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal&lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;tidak ada pekerjaan yang paling baik di dunia ini&lt;/i&gt;. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing memiliki kecocokan pada pekerjaan tertentu. Pada akhirnya pertanyannya bukanlah&lt;i&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;apa pekerjaan kita&lt;/i&gt; melainkan &lt;i&gt;seberapa baik kita bekerja.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jangan berpikir bahwa pekerjaan di balik meja selalu mendapatkan hasil berupa uang yang lebih besar. Tentu kita bisa saksikan berapa banyak pelukis, seniman, mekanik, pembuat kerajinan, ahli dekorasi, yang hampir semuanya lebih banyak menggunakan keterampilan kasar mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak terhadap mereka yang duduk di belakang meja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka yang harus kita lakukan adalah pahami sistem yang ada kemudian pilihklah jalan yang kita inginkan. Dan ingatlah bahwa yang terbaik adalah berada di tempat kita sendiri dan menjadi diri kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-9152444564994627953?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/9152444564994627953/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=9152444564994627953&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/9152444564994627953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/9152444564994627953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/11/mengenal-pendidikan.html' title='Mengenal Pendidikan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-icwnFz9lZPI/Ts-7p-j9qrI/AAAAAAAAASs/F2NWKEk8Rtc/s72-c/pendidikan+kerja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-4101459646827303499</id><published>2011-11-05T12:25:00.000+07:00</published><updated>2011-11-06T23:04:37.462+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Sekilas mengenai Grounded Research</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Grounded Research&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Grounded Theory&lt;/i&gt; merupakan sebuah metode yang tergolong baru dalam ilmu sosial. Metode ini pertama kali dikenalkan pada cabang ilmu sosiologi oleh Glasser dan Strauss dalam bukunya berjudul  &lt;i&gt;The Discovery of Grounded Theory &lt;/i&gt;pada tahun 1967. Metode ini kemudian lebih lanjut dikembangkan oleh Schlegel.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://qualmethods.wikispaces.com/file/view/Strauss.jpg/30269932/Strauss.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" src="http://qualmethods.wikispaces.com/file/view/Strauss.jpg/30269932/Strauss.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: qualmethods.wikispace.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;i&gt;Grounded Theory &lt;/i&gt;berangkat dari keprihatinan akan terbatasnya metode penelitian untuk meneliti objek-objek kajian yang belum begitu banyak diteliti sehingga belum banyak teori yang dimiliki. Terlebih dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang didominasi paham positivism dan metode kuantitatif. Oleh karena itu Strauss &amp;amp; Glasser menciptakan metode ini untuk menjawab tantangan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Glasser dan Strauss (1967) mendefinisikan &lt;i&gt;grounded theory&lt;/i&gt; sebagai sebuah metode penelitian induktif terhadap wilayah yang belum begitu diketahui. Penelitian ini mencoba membangun sebuah pengetahuan dari awal yang berbasis pada data di lapangan. Dalam prakteknya metode ini tidak hanya digunakan untuk meneliti wilayah-wilayah yang belum begitu diketahui tetapi juga seringkali digunakan untuk mengkritisi atau melawan teori-teori yang telah ada sebelumnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara umum menurut Payne (2007) &lt;i&gt;grounded theory&lt;/i&gt; dapat digunakan untuk situasi sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Wilayah penelitian yang belum banyak diketahui&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Belum ada teori yang menjelaskan keadaaan yang terjadi&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peneliti ingin membandingkan/menantang teori yang sudah ada&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peneliti ingin mencari tahu pemahaman, persepsi, dan pengalaman partisipan&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Peneilitian ini bertjuan membagun suatu teori yang baru&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keunggulan metode ini ada pada kemampuannya untuk meneliti wilayah-wilayah yang belum memiliki banyak penjelasan atau teori. Selain itu metodenya yang berbasis data bisa dikatakan lebih sesuai dan mengakomodasi perbedaan yang ada sesuai dengan kenyataan di lapangan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbeda dengan metode penelitian lainnya, &lt;i&gt;Grounded Research &lt;/i&gt;mengharuskan peneliti untuk tidak berhipotesis. Hal ini dilakukan agar kemampuan pemahaman peneliti tidak dibatasi pada teori-teori atau anggapan-anggapan tertentu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski demikian bukan berarti peneliti tidak tahu apa-apa sama sekali mengenai tujuan dan tema penelitian. Peneliti tetap harus memiliki tujuan dan pengetahuan terhadap hal itu sebelumnya, namun semua dugaan-dugaan tersebut hendaknya dihindari agar tidak terjadi bias dalam mengintepretasikan data yang ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian orang berpendapat bahwa&lt;i&gt; Grounded Research &lt;/i&gt;lebih ke arah suatu pendekatan daripada metode itu sendiri. Hal ini dikarenakan dalam pelaksanaannya metode ini tidak jauh berbeda dibandingkan dengan etnografi misalnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam metode ini peneliti harus berpartisipasi aktif. Dalam tema-tema tertentu yang menyangkut etnis tertentu misalnya peneliti bahkan harus terju langsung dan tinggal dalam masyarakat tersebut. Tujuannya adalah agar peneliti tidak lagi dianggap&lt;i&gt; outgroup&lt;/i&gt; tetapi menjadi&lt;i&gt; ingroup&lt;/i&gt; dari subjek penelitiannya tersebut. Kedekatan peneliti dengan subjek sangat penting agar dapat memiliki data secara mendalam dan tidak mengalami bias dalam memahaminya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam hal analisis pun tidak jauh berbeda dengan metode kualitatif lainnya yang meliputi &lt;i&gt;open coding&lt;/i&gt;, a&lt;i&gt;xial coding &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;selective coding&lt;/i&gt;. Namun secara lebih detail Payne (2007) menjelaskan metode analisis tersebut sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Pengumpulan data&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Pengumpulan data dapat dilakukan melalui metode observasi mauun wawancara&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Transkrip data&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Data yang dimiliki kemudian dijadikan transkrip secara tertulis untuk memudahkan analisis&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Develop Initial&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;Open Coding &lt;/i&gt;dan kategorisasi dilakukan terhadap data yag telah dimiliki. &lt;i&gt;Open Coding &lt;/i&gt;merupakan identifikasi dan pemberian label terhadap unit-unit yang bermakna. Unit ini bisa berupa kata, kalimat, ataupun paragraf.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Saturate Categories&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Unit-unit yang memiliki kemiripan disatukan untuk membentuk suatu kategori-kategori tertentu.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Defining Categories&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Ketika kategori telah terbentuk, langkah berikutnya adalah mendefinisikan masing-masing kategori tersebut.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Theoritical Sampling&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Dari kategori yang ada digunakan untuk membentuk kategori-kategori selanjutnya da melakukan pengujian terhadap kategori yag telah dibentuk.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Axial Coding&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Hubungan-hubungan antara jaetgori satu dengan lainnya diperhatikan dan diujikan kembali ke data yang ada.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Theoritical Interation&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Kategori inti ditemukan dan dihubungkan dengan berbagai sub kategori yang ada.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Grounding The Theory&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Dari kategori-kategori tersebut ditarik sebuah simpulan-simpulan megenai topik penelitian tersebut.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Filling in Gaps&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;Bagian yang kurang disempurnakan dengan data-data tambahan.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan yang mencolok dan menjadi ciri khas &lt;i&gt;grounded research&lt;/i&gt; dibanding metode lainnya ada pada hasilnya. &lt;i&gt;Grounded Theory &lt;/i&gt;selalu menghasilkan sebuah teori baru yang berangkat dari data-data yang dimiliki dan diolah dari penelitian tersebut. Sedangkan dalam metode-metode lain hasilnya tidak harus berupa teori baru, melainkan dapat juga berupa deskripsi atau penguatan terhadpa teori yang sudah ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori ini kemudian bisa menjadi pelopor atau teori yang pertama dalam suatu tema tertentu. Selain itu teori ini juga bisa menjadi alternatif dari teori-teori yang sudah ada dalam suatu tema tertentu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Metode ini menuntut totalitas dan komitmen dari peneliti itu sendiri karenametode ini bukan metode praktis yang dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Perlu pertisipasi aktif selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun untuk mendapatkan data yang berkualitas. Telebih dalam kondisi-kondisi tertentu dimana tema penelitian bukan merupakan hal yang gampang dicerna dalam permukaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kekurangan peneliti dalam keterlibatannya pada subjek penelitian berpengaruh pada hasil penelitiannya itu sendiri. Terlebih dalam grounded research hasil penelitian berupa sebuah teori baru. Kualitas teori itu nantinya ditentukan oleh seberapa jauh peneliti dapat terjun dalam lapangan dan mendapatkan data-data yang ada. Data-data yang terlalu dangkal dan kurang mendalam tentunya tidak dapat dijadikan landasan dari sebuah teori yang kuat. Selain itu tanpa adanya pemahaman yang mendalam mengenai subjek penelitian maka kemungkinan bias yang dapat terjadi akan semakin besar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Contoh Kasus &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seorang peneliti tertarik pada suatu masyarakat tradisional di Kalimantan. Peneliti tersebut ingin meneliti tentang makna hidup masyarakat tersebut. Maka sebelum penelitian peneliti tersebut menentukan langkah-langkah dan menggali berbagai informasi dan kajian terhadap tema penelitiannya tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Meski telah memiliki beberapa informasi dan kajian sebelumnya, namun peneliti tersebut harus menyingkirkan semua praduga-praduga yang ada sebelum terjun ke lapangan. Seolah peneliti tersebut tidak tahu apapun tentang tema penelitiannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peneliti tersebut kemudian tinggal bersama masyarakat tersebut selama beberapa waktu sembari melakukan observasi dan wawancara terhadap masyarakat tersebut. Selain itu dengan tinggal bersama masyarakat tersebut diharapkan dapat lebih memahami masyarakat tersebut. Dari observasi dan wawancara itulah data-data penelitian diperoleh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah data yang dimiliki dirasa cukup, peneliti kemudian melakukan analisis terhadap data-data tersebut sehingga terbentuk sebuah asumsi atau teori baru berdasarkan data yang dimiliki. Peneliti kemudian mengembalikan data dan teori tersebut ke lapangan untuk diuji kebenarannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengambilan data, analisis, dan pengembalian data ke lapangan dilakukan secara terus menerus hingga membentuk suatu teori yang mantap. Hal ini membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk mengambil ulang, konfirmasi, pengolahan, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Daftar Pustaka&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Glaser, Barney G. &amp;amp; Strauss, Anselm L. (1967). The Discovery of Grounded Theory: Strategies for Qualitative Research. Chicago: Aldine Publishing Company.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Payne, Sheila. (2007). Grounded Theory (Lyons &amp;amp; Coyle. Analysing Qualitative Data in Psychology). London: SAGE Publications.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-4101459646827303499?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/4101459646827303499/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=4101459646827303499&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/4101459646827303499'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/4101459646827303499'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/11/sekilas-mengenai-grounded-research.html' title='Sekilas mengenai Grounded Research'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5542619450214786268</id><published>2011-11-01T18:50:00.001+07:00</published><updated>2011-11-01T22:13:25.456+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Suwung Awang Uwung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disana aku bertemu kembali dengannya. Kala hujan badai menerjang perpustakaan tua, disudut lorong berisi buku-buku kumal yang seakan tidak menarik dibanding buku lain yang berjajar di rak dengan bahasa asing. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Nothing is absolute, there are always twilights between night and day, grades between good and evil, shades between black and white, subtleties between love and hate, degrees between happiness and grief, as well asa nuances between male and female.&lt;/i&gt;&amp;nbsp;&lt;i&gt;(Boediarjo, 1978)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Entahlah mungkin Tuhan sengaja menciptakan badai ini agar aku terjebak di ruangan itu untuk bertemu lagi dengannya. Bukan lelaki bukan perempuan, dia tidak berbentuk. Bulat karena pantat dan payudaranya. Namun auranya cukup untuk membuat orang terdiam. Raut mukanya menggambarkan kesedihan dan kesenangan secara bersamaan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sosok itu tertawa, atau mungkin menangis. Dalam dirinya semua itu sulit dibedakan. Kata-kata bijaksana yang meluncur dari mulut tersenyumnya, tatapan mata sendu seolah menyimpan kesedihan yang mendalam. Semua hal melebur menjadi satu. Tidak ada lagi pertentangan maupun hubungan. Tidak ada lagi derajat maupun tingkatan. Seolah memang seperti itulah seharusnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sabar, Saleh, Sareh. Sugih tanpa bandha, perang tanpa bala maju, menang tanpa ngasorake, weweh tanpa kelangan.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini aku tidak lagi yakin akan bertemu dengan sosoknya di dunia ini. Jauh, jauh sekali jarak antara kita dan dirinya. Keberadaannya tidak lebih dari sebuah mitos yang tergusur oleh perkembangan zaman. Adakah aku akan jumpa lagi dengannya dalam orang-orang yang aku temui?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dia yang berbicara dengan dewa dalam bahasa kasar, namun berbicara halus terhadap yang lebih rendah. Bahkan dia lebih merendah lagi, menjadi babu bagi majikan yang bukan siapa-siapa dibanding dirinya. Dirinya adalah tinggi yang rendah. Dewa yang jelata.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote class="tr_bq" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Aku adalah puing-puing masa lalu. Terkubur, bangkit untuk mepertahankan. Mengingatkan padamu tentang dirimu, dirinya. Bahwa semua satu, tak ada satu tanpa satu lainnya. Bahwa semua sama. Ingatlah Manunggaling Kawulo Gusti.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan siapa-siapa tapi semua orang. Mengingatkan yang agung akan kelemahan, membisikkan keagungan bagi yang lemah. Tak akan menjadi siapa tanpa orang-orang. Bahwa sejatinya siapa ditentukan oleh orang di sekitar kita, bukan semata diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu dirinya muncul untuk mepertahankan kita, sebagai sebuah identitas. Melawan mereka yang menerjang, merasuk semua sendi, memukul tulang-tulang. Menang. Kini perang belum usai. Hantaman datang bertubi-tubi, tetapi kita terlalu lengah. Tak sadar akan hantaman yang ada. Akankah dirinya muncul dalam diri kita?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.tembi.org/wayang/semar.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="270" src="http://www.tembi.org/wayang/semar.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: tembi.org&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5542619450214786268?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5542619450214786268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5542619450214786268&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5542619450214786268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5542619450214786268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/11/suwung-awang-uwung.html' title='Suwung Awang Uwung'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2927834271607845612</id><published>2011-10-31T22:59:00.000+07:00</published><updated>2011-10-31T22:59:06.488+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Dalam Kegelapan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://fc01.deviantart.net/fs35/i/2008/291/3/3/Petang_yang_gelap__by_naddie_catastrophe.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="224" src="http://fc01.deviantart.net/fs35/i/2008/291/3/3/Petang_yang_gelap__by_naddie_catastrophe.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: naddie-catastrophe.deviantart.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Waktu kecil, saya suka ketika listrik padam di malam hari. Menjauhkanku dari hingar bingar dunia fana, mendekatkanku pada alam yang sesungguhnya. Dalam kegelapan aku merenungi keindahan malam yang selama ini tertutup oleh terangnya peradaban. Dalam kegelapan membuat aku, bapak, ibu, saudara, teman-teman, dan tetanggaku meninggalkan penjara rumah mereka dan keluar bersatu pada dalam gelapnya malam. Meski hanya lilin kecil yang menyala dalam kegelapan, namun hati kami terang. Kami melupakan bahwa peradaban telah membangun tembok imajiner yang telah memisahkan kita selama ini.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2927834271607845612?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2927834271607845612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2927834271607845612&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2927834271607845612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2927834271607845612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/dalam-kegelapan.html' title='Dalam Kegelapan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2864792479522573461</id><published>2011-10-30T20:47:00.000+07:00</published><updated>2011-10-30T21:06:32.632+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Mati Suri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/247451_1888580587110_1619337140_1852193_7895317_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/247451_1888580587110_1619337140_1852193_7895317_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Aku ingin kembali hidup, menjadi manusia, di dalam dunia. Melihat dan mendengar apa yang dapat menggerakkan hati dan pikiran. Menyentuh sesuatu yang dapat memberikan rasa. Bertindak yang dapat membuahkan perubahan. Bukan sekedar ribuan kalkulasi dan opini mengenai dunia dan manusia.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2864792479522573461?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2864792479522573461/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2864792479522573461&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2864792479522573461'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2864792479522573461'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/mati-suri.html' title='Mati Suri'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6052566011977774519</id><published>2011-10-28T22:19:00.001+07:00</published><updated>2011-10-28T22:19:33.907+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Ajining Diri Gumantung ing Lathi</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Apa arti sumpah untuk bertumpah darah yang satu? Jika kita masih membela kepentingan masing-masing.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Apa arti sumpah untuk berbangsa yang satu? Jika kita masih saling curiga dan berprasangka.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Apa arti sumpah untuk berbahasa yang satu? Jika kita masih malu berhasa Indonesia dan bangga berbahasa asing.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6052566011977774519?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6052566011977774519/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6052566011977774519&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6052566011977774519'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6052566011977774519'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/ajining-diri-gumantung-ing-lathi.html' title='Ajining Diri Gumantung ing Lathi'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6626503366404793791</id><published>2011-10-28T21:00:00.001+07:00</published><updated>2011-10-28T21:00:51.720+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Memandang Polisi</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/04/09/2254572620X310.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="206" src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/04/09/2254572620X310.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: nasional.kompas.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang pertama kali terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata POLISI? Atau mungkin bayangkan anda sedang berkendara di siang hari dengan udara panas terik yang menyengat, tiba-tiba ada seorang polisi di sebelah anda yang menyapa anda. Apa yang anda rasakan waktu itu? Atau ketika anda pulang dari kerja menemukan sebuah mobil polisi dengan sirine menyala berhenti di depan rumah anda?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali polisi diasosiasikan dengan hal-hal yang bersifat negatif baik dari segi pikiran atau perasaan. Terlepas dari perilaku polisi itu sendiri, itu sebenarnya memang resiko dari menjadi polisi. Dalam tulisan kali ini kita akan membahas mengenai fenomena-fenomena tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Pembenaran&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang dipikiran ketika seorang polisi menilang kita akibat menerobos lampu merah? Seringkali kita lupa bahwa kita sendiri lah yang bersalah. Ketika kita melakukan suatu perbuatan yang salah, maka diri kita akan mengalami &lt;i&gt;dissonance&lt;/i&gt;&amp;nbsp;secara kognitif. Permasalahan ini harus segera dibereskan karena sistem kognitif kita tidak dapat membiarkan &lt;i&gt;dissonance&lt;/i&gt;&amp;nbsp;terus terjadi dalam diri kita.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengatasi &lt;i&gt;dissonance &lt;/i&gt;tersebut, ada dua cara yang dapat ditempuh oleh diri kita. Pertama mengubah keadaan itu sendiri. Misalnya saja kita merasa bersalah karena merokok. Dalam mengatasi rasa bersalah (&lt;i&gt;dissonance&lt;/i&gt;) tersebut kita bisa menghentikan perilaku rokok itu sendiri. Selain itu ada cara lain untuk mengatasi &lt;i&gt;dissonance&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang kita alami yaitu dengan mengubah cara berpikir atau sistem nilai dalam diri kita. Pada kasus ini kita akan mencari pembenaran atas perilaku merokok tersebut misalnya dengan menganggap bahwa perilaku merokok merupakan perilaku yang dilakukan banyak orang sehingga "boleh" dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kembali pada kasus polisi, apa yang terjadi pada diri kita seringkali mencari pembenaran atas kesalahan yang kita lakukan. Misalnya alih-alih menyadari perilaku kita yang salah akibat menerobos lampu merah, kita justru menyalahkan anggota polisi yang korup dan memang berniat "mencari mangsa" serta ini semua hanya "akal-akalan untuk mencari uang". Sehingga kita merasa benar atas perilaku kita dan menyalahkan polisi. Ini semua terjadi secara automatis sebagai bentuk pertahanan diri dari &lt;i&gt;dissonance&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Conditional Response&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kapan kita bertemu polisi? Seringkali polisi selalu hadir hanya dalam saat-saat buruk. Misalnya kemalingan, perampokan, dan berbagai bentuk kejahatan serta pelanggaran hukum lainnya. maka wajar jika karena kejadian ini lama-lama kita akan melakukan asosiasi membentuk semacam &lt;i&gt;shorcut&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan mengasosiasikan polisi dengan hal-hal buruk.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.northern.ac.uk/learning/NCMaterial/Psychology/lifespan%20folder/PAVLOV.gif" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://www.northern.ac.uk/learning/NCMaterial/Psychology/lifespan%20folder/PAVLOV.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber:&amp;nbsp;&lt;a href="http://www.northern.ac.uk/"&gt;http://www.northern.ac.uk&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa ini dapat kita jelaskan dengan teori &lt;i&gt;Classical Conditioning &lt;/i&gt;dari Ivan Pavlov. Ilmuwan tersebut melakukan sebuah eksperimen kepada anjingnya. Awalnya secara automatis anjing tersebut akan selalu mengeluarkan air liur (&lt;i&gt;Unconditioned Respon - UCR&lt;/i&gt;) ketika dihadapkan pada makanan (&lt;i&gt;Unconditioned Stimulus - UCS&lt;/i&gt;). Kemudian Pavlov membiasakan membunyikan bel (&lt;i&gt;Conditioned &amp;nbsp;Stimulus - CS&lt;/i&gt;) bersamaan dengan hadirnya makanan (UCS) yang akan menimbulkan respon berupa keluarnya air liur (UCR). Setelah hal ini dilakukan berulang kali, ternyata hanya dengan suara bel (CS) &amp;nbsp;tanpa harus dihadirkan makanan (UCS) anjing tersebut tetap akan mengeluarkan air liur (&lt;i&gt;Conditioned Respon - CR&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pola yang sama juga terjadi dalam keseharian polisi. Pada mulanya ketika terjadi suatu hal buruk (UCS) secara automatis diri kita akan melakukan respon berupa perasaan dan emosi negatif (UCR). Itu adalah sesuatu hal yang wajar.&amp;nbsp;Kemudian seringkali polisi (CS) hadir dalam hal buruk (UCS) tersebut. Dalam artian CS dan UCS hadir secara bersamaan secara berulang kali. Setelah kejadian tersebut terjadi secara berulang-ulang maka akan terbentuk sebuah pola baru, dimana kehadiran polisi (CS) tanpa perlu disertai suatu hal buruk (UCS) tetap akan menimbulkan respon emosi negatif (&lt;i&gt;Conditioned Respon - CR&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu sebabnya polisi seringkali diasosiasikan dengan kejadian-kejadian buruk. Sehingga hanya dengan melihat atau mendengar hal-hal berbau polisi, diri kita akan merespon dengan emosi-emosi dan pikiran-pikiran negatif terhadap polisi itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Tanggung Jawab Besar&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimanapun juga polisi merupakan salah satu aparat yang memiliki kekuasaan yang besar. Dengan jabatannya polisi berhak dan berkewajiban untuk menindak orang-orang yang melakukan kesalahan. Hak dan kewajiban ini melekat bersama dengan profesi itu sendiri dan tidak dapat dipisahkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi ada hal lain yang juga melekat atas Hak dan Kewajiban tersebut yaitu tanggung jawab. Polisi diberikan kekuasaan oleh masyarakat, namun di sisi lain masyarakat juga menuntut pertanggungjawaban polisi itu sendiri atas kekuasaan yang mereka berikan. Efeknya segala tindak tanduk polisi akan menjadi perhatian khusus. Polisi sebagai penegak hukum dituntut untuk secara sempurna tidak boleh melanggar hukum itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Adanya pelanggaran hukum sedikit saja, akan menimbulkan "protes" dari masyarakat. Maka seharusnya tiap pelanggaran yang dilakukan polisi mendapatkan hukuman yang lebih berat. Hal ini dilakukan untuk menjaga kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat. Kepercayaan ini merupakan modal utama dari polisi untuk menggunakan "kekuasaan" yang telah diberikan. Semakin sedikit rasa percaya yang ada, maka semakin kecil pula "kekuasaan" yang dimiliki.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hanya saja akhir-akhir ini banyak kita jumpai berbagai kasus dimana aparat penegak hukum justru menjadi pelanggar hukum itu sendiri. Celakanya juga terjadi penyalahgunaan kekuasaan hingga yang terjadi dimana oknum-oknum pelanggar hukum tersebut tidak ditindak karena mereka memiliki "kekuasaan".&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini menyebabkan ketidakpercayaan terhadap aparat penegak hukum. Akibatnya kepatuhan akan "kekuasaan" dari para penegak hukum pun berkurang drastis. Perilaku brutal dan pelanggaran hukum terjadi dimana-mana karena hilangnya kepatuhan. Kepatuhan yang juga tidak dimiliki oleh oknum aparat penegak hukum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Perubahan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berbagai permasalahan tersebut menuntut untuk diselesaikan. Jika tidak permasalahan hukum di Indonesia justru akan menjadi tambah kusut. Tanpa adanya penegak hukum yang dipercaya dan dihormati, kecil kemungkinan ketertiban dan keamanan akan bisa dicapai.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu penulis mengusulkan beberapa langkah yang sebaiknya ditempuh oleh polisi untuk menghapus stigma negatif dan mengembalikan kepercayaan masyarakat:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Memperbanyak operasi simpatik, dimana polisi tidak memberikan "hukuman" yang berarti kepada masyarakat dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya saja tidak semua pelanggaran harus ditilang, sebagian lainnya mungkin cukup dengan diingatkan atau dinasehati. Hal ini sedikit banyak akan menghapus stigma bahwa "tilang hanya sekedar akal-akalan petugas"&lt;/li&gt;&lt;li&gt;memperbanyak kunjungan polisi ke sekolah-sekolah atau instansi lain sebagai langkah preventif juga pengenalan terhadap polisi itu sendiri. Bisa juga dengan mengadakan kegiatan-kegiatan lain yang sifatnya sosial. Fungsinya untuk menghapus asosiasi antara polisi terhadap segala macam hal yang bersifat negatis.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya penegakan hukum yang tegas dan keras terhadap oknum aparat yang melanggar hukum. Penindakan tersebut diusahakan setransparan mungkin dan diberitahukan kepada publik agar menghindari kecurigaan serta rumor yang dapat timbul.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Itu semua hanya bebeapa saran dari sekian banyak reformasi yang harus dilakukan di dalam tubuh aparat penegak hukum itu sendiri. Hal ini perlu dilakukan untuk menciptakan keamanan dan ketertiban dalam masyarakat. Ketika para pemilik kuasa sudah tidak dapat dipercaya, lalu kepada siapa kita harus percaya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6626503366404793791?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6626503366404793791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6626503366404793791&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6626503366404793791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6626503366404793791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/memandang-polisi.html' title='Memandang Polisi'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2455212314369784029</id><published>2011-10-27T21:16:00.000+07:00</published><updated>2011-10-28T22:24:43.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Serakah #4</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #999999;"&gt;Konon katanya permasalahan utama ekonomi adalah kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan sumber daya yang terbatas. Lalu kita saling berebut meraih kapital sebanyak mungkin yang mampu kita raup. Semua demi diri kita sendiri. Serakah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #999999;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #999999;"&gt;Bagaimana jika itu salah? Bahwa kebutuhan itu berbatas. Syukuri apa yang kita miliki. Dan ekonomi tidak ada. Toh bagaimanapun juga sumber daya akan tetap terbatas, lalu kita batasi saja kebutuhan kita. Eh?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2455212314369784029?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2455212314369784029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2455212314369784029&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2455212314369784029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2455212314369784029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/serakah-4.html' title='Serakah #4'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7656499447805639776</id><published>2011-10-20T19:25:00.002+07:00</published><updated>2011-10-23T10:10:37.818+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Menengok Keranjang Sampah</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Siapa tidak tahu China? Negeri tirai bambu ini secara mengejutkan mengalami pembangunan yang pesat dalam beberapa tahun belakangan. Angka pertumbuhan ekonomi mencapai 9% per tahun bahkan dimasa krisis dunia dimana pada tahun 2008 yang lalu hanya tiga negara yang masih mengalami pertumbuhan perkonomian secara positif (termasuk di dalamnya China dan Indonesia).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Raksasa ekonomi ini secara perlahan mulai menggeser perekonomian dunia yang semula berpusat pada poros Eropa-AS. Bahkan berita terbaru menyebutkan China telah menjadi mitra terbesar negara-negara Eropa mengungguli AS. Perkembangan ekonomi yang begitu pesat ini menjadikan China sebagai pusat perhatian dunia. Banyak negara mencoba belajar dari China dan mengaguminya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akan tetapi sebaiknya kita tidak hanya menilai seseorang dari ruang tamunya, tetapi tengoklah keranjang sampahnya. Perkembangan ekonomi yang begitu pesat ini membawa dampak yang begitu besar dalam bidang sosial-budaya yang sayangnya jarang diperhatikan oleh sebagian orang. China maju dengan bersimbah darah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kasus yang menarik perhatian adalah peristiwa tabrak lari yang dialami seorang bocah. Parahnya dari sekian banyak orang yang melihat keadaan tersebut, hanya satu orang yang pada akhirnya menolong meski sudah terlambat. Kejadian ini mengingatkan pada peristiwa Kitty Genovese &amp;nbsp;tahun 1964.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://3.gvt0.com/vi/dwhVUL-H46M/0.jpg" height="266" width="320"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/dwhVUL-H46M&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/dwhVUL-H46M&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Bystander Effect&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada bulan Maret tahun 1964, seorang wanita berumur 28 tahun ditikam dan diperkosa pada pukul tiga pagi hari. Kejadian ini berlangsung selama sekitar tiga puluh menit dan penuh dengan teriakan minta tolong. Tiga puluh delapan tetangganya yang mendengar peristiwa tersebut tidak satupun yang menelpon polisi atau membantunya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa ini mengejutkan kalangan ilmuwan sosial pada saat itu. Bagaimana mungkin seseorang bisa begitu "tidak manusiawi" dengan membiarkan begitu saja peristiwa tersebut. Peristiwa yang bisa dikatakan mirip dengan kejadian di China baru-baru ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ilmuwan psikologi mencoba menjelaskan peristiwa ini sebagai &lt;i&gt;bystander effect&lt;/i&gt;. Para ilmuwan mencoba melakukan eksperimen dalam laboratorium untuk mengetahui gejala tersebut.Hasilnya menunjukkan ada kecenderungan yang menarik dimana semakin banyak orang asing berada dalam suatu keadaan maka akan menimbulkan kebingungan rasa pertanggungjawaban.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga apa yang terjadi pada Genovese merupakan gejala tersebut. Orang-orang merasa apa yang terjadi tersebut merupakan tanggung jawab orang lain. Orang-orang tersebut meyakini bahwa seseorang di suatu tempat atau salah satu dari mereka akan menolong orang tersebut. Celakanya ketika semua orang berpikir demikian maka pada akhirnya tidak ada satu pun orang yang akan menolong.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kita yang Kehilangan Rasa&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak ilmuwan sosial mencoba memahami perilaku prososial dan altruism, ada berbagai teori yang dikemukakan untuk menjelaskannya misalnya saja adanya anggapan bahwa perilaku prososial muncul atas dasar harapan perilaku yang serupa juga akan dialami dirinya di saat membutuhkan nanti (&lt;i&gt;social exchange theory&lt;/i&gt;).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bagaimannapun juga saya akan lebih mengetuk pada rasa. Terlepas dari segala macam logika dan teori yang ada, apa yang kita rasakan ketika melihat kejadian tersebut? Sudah tidak adakah lagi rasa kasihan, iba, dan keinginan untuk membantu? Apakah tolong menolong tanpa pamrih hanya tinggal dongeng dari cerita masa lalu?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terjadi di China menurut saya lebih mengerikan daripada kasus Kitty Genovese setidaknya dalam beberapa hal. Pertama, dalam kasus Genovese para &lt;i&gt;bystander&lt;/i&gt;&amp;nbsp;hanya sebatas mendengar suara sedangkan dalam kasus di China mereka melihat keadaan tersebut secara langsung. Kedua jarak antara &lt;i&gt;bystander&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan kobran itu sendiri yang bahkan tidak sampai satu meter, berbeda dengan kasus Genovese dimana para &lt;i&gt;bystander&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kebanyakan berada dalam apartemen mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;China yang konon katanya berasal dari kebudayaan kolektif ternyata bisa menunjukkan sebuah peristiwa yang sangat mengejutkan. Fenomena ini merupakan cerminan dari kerapuhan sosial yang terjadi bersebrangan dengan kemajuan ekonomi yang dialami. Ternyata perkembangan yang terjadi di China tidak seindah apa yang ada dalam bayangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlebih berbagai spekulasi yang ada mengarah kepada ketakutan untuk menolong. Seringkali para korban justru menunutu atau menipu para penolong yang dalam istilah Jawa kita sebut sebagai &lt;i&gt;Tulung Mentung&lt;/i&gt;. Perilaku semacam ini yang diduga kuat sebagai penyebab ketakutan untuk menolong orang asing.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika rasa sudah tidak lagi menjadi bagian dari budaya, hilanglah rasa kemanusiaan. Jika kemanusiaan merupakan sesuatu yang harus dikorbankan demi kemajuan, maka saya akan memilih untuk tetap tertinggal. Lebih baik mati sebagai manusia daripada hidup sebagai mayat.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7656499447805639776?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7656499447805639776/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7656499447805639776&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7656499447805639776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7656499447805639776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/menengok-keranjang-sampah.html' title='Menengok Keranjang Sampah'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6074723681135673215</id><published>2011-10-20T18:16:00.000+07:00</published><updated>2011-10-20T18:16:10.709+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Sumbang</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Siapa yang memberi makan pada dunia? Petani yang dengan diam-diam mengerjakan sawahnya. Siapa yang memayu ayuning bawana? Hanya mereka yang bekerja keras, mengeluarkan keringat dengan perbuatan yang nyata.&lt;/i&gt; (C.S. Adama van Scheltema)&lt;/blockquote&gt;Dalam orkestra semua alat berbunyi. Tiap-tiap mengeluarkan suaranya masing-masing, meski berbeda namun berpadu menjadi sebuah harmoni yang indah. Demi kesatuan dan kepaduan dalam mencapai harmonis, semua tau siapa yang harus berbunyi keras, siapa yang harus pelan. Masing-masing tahu tempat dan waktunya untuk diam dan bersuara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam kehidupan, beragam suara muncul. Hanya saja semua menolak bungkam, semua berteriak keras meminta untuk didengarkan. Lupa akan posisi diri dalam kelompok dan tugas masing-masing. Hingga suara sumbang yang terus bermunculan. Bagaimanapun juga benda berongga (kosong) selalu berbunyi paling keras.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6074723681135673215?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6074723681135673215/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6074723681135673215&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6074723681135673215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6074723681135673215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/sumbang.html' title='Sumbang'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1168182439099354132</id><published>2011-10-19T20:04:00.003+07:00</published><updated>2011-11-02T17:04:18.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='politik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Kraton dan Harga Diri</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.tumblr.com/photo/1280/11689219514/1/tumblr_ltczry7bl81r4zf51" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="168" src="http://www.tumblr.com/photo/1280/11689219514/1/tumblr_ltczry7bl81r4zf51" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sumber: kratonwedding.tumblr.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah hajatan besar di Kraton Ngayogyakarta. Mungkin hajatan ini lebih pantas disebut sebagai pesta rakyat. Bagaimana tidak dalam hajatan tersebut bukan hanya tuan rumah yang punya hajat, tetapi juga mayoritas warga Ngayogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seumur hidup saya baru dua kali saya melihat begitu banyak masyarakat berkumpul menjadi satu seperti itu. Pertama pada saat dukungan Keistimewaan DIY dan yang kedua pada saat Pawiwahan Agung kemarin, dimana malioboro dipenuhi oleh lautan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat sebanyak itu bisa berkumpul menjadi satu merupakan sebuah kesitimewaan tersendiri. Bandingkan dengan berbagai kegiatan pengumpulan massa selama ini baik berbentuk pengajian, konser, demonstrasi, dan sebagainya belum ada yang sefantastis itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlebih lagi masyarakat hadir tidak hanya sebagai penonton ataupun tamu, tetapi juga ikut menyemarakkan hajat yang sedang dilaksanakan. Mulai dari menyumbang makanan di angkringan, janur, atau bahkan pertunjukkan kesenian. Semua tumpah ruah menjadi satu seolah tidak hanya Sultan yang memiliki hajat melainkan seluruh masyarakat Jogjakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini merupakan sebuah fenomena yang menarik. Di tengah maraknya sentimen anti kekuasaan dan rasa ketidakpercayaan terhadap penguasa, Sultan sebagai sosok penguasa dengan sentimen monarki di dalamnya justru mendapatkan dukungan tersendiri bagi rakyat Yogyakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam era modern dimana demokrasi dan kebebasan dituhankan dan semua orang ditekan untuk menjadi setara, sebuah fenomena unik ini muncul ke permukaan. Pada akhirnya pemimpin tidak hanya sebatas pada kekuasaan semata tetapi juga bagaimana seorang pemimpin memberikan dan mendapatkan pengaruh dari masyarakat. Dalam tulisan ini saya akan membahas beberapa sudut pandang untuk memahami fenomena ini secara lebih dalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kerinduan Budaya&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam zaman globalisasi saat ini informasi mengalir begitu derasnya. Jarak tidak lagi menjadi penghalang. Akibatnya budaya satu dan lainnya berdatangan mempengaruhi satu sama lain. Nilai, ide, gagasan, dan idealisme bercampur aduk menjadi satu. Seseorang tidak lagi bisa diketahui etnisnya hanya dari lokasi tempat tinggal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Celakanya budaya modern Eropa-AS memiliki kekuatan media. Entah itu kapitalis, sekuler, sosialis, komunis, liberal dan sebagainya masuk ke setiap sendi kehiudpan tanpa kita sadari. Nilai-nilai pun bergeser. Masyarakat modern memiliki tuntutan tersendiri terhadap dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam dunia yang dikuasai nilai-nilai Eropa-AS muncul segelintir masyarakat yang justru merindukan budaya asli Indonesia. Masyarakat ini didominasi dua macam: (1) generasi tua yang memang sejak dahulu dibesarkan dengan nilai-nilai tradisional dan menjadi pelaku budaya itu sendiri serta (2) generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap budaya asli, mereka bukan pelaku dari budaya tersebut akan tetapi memiliki ketertarikan dan dukungan terhadap budaya tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gejala ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena yang muncul akhir-akhir ini. Mulai dari penggunaan simbol-simbol etnis semisal batik, surjan, dan simbol-simbol etnik lainnya. Begitu pula dengan dengan fenomena yang kita bahas saat ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyaknya dukungan masyarakat yang muncul dalam Gerakan Pro-Penetapan dan Pawiwahan Agung kemarin merupakan bentuk dari kerinduan masyarakat akan budaya asli tradisional. Sultan dan Kraton sebagai simbol yang mereka junjung untuk mengungkapkan gagasan akan pentingnya &lt;i&gt;local wisdom&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dari kebudayaan yang selama ini justru mulai ditinggalkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gagasan tradisional ini diwujudkan dalam dukungan dan penghormatan terhadap Sultan dan Kraton secara keseluruhan. Gagasan untuk kembali kepada kebudayaan awal, kebudayaan yang telah dibangun ratusan tahun oleh para pendahulu kita. Kebudayaan rasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kraton sebagai Identitas&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap kelompok memiliki ciri khas tersendiri, ciri tersebut yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain serta menyatukan anggota kelompok tersebut. Dalam kasus ini, Kraton dan Sultan sendiri merupakan ciri khusus yang menjadi simbol dari masyarakat Jogjakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Itu sebabnya isu Pro-Penetapan muncul dengan gaung yang keras ketika Kraton dan Sultan diusik. Penyerangan terhadap simbol-simbol dan identitas kelompok sama halnya dengan menyerang anggota kelompok itu sendiri. Dalam kasus ini "penyerangan" terhadap eksistensi Kraton dan Sultan itu sendiri merupakan bentuk penyerangan terhadap masyarakat Jogjakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu muncul reaksi keras untuk "mempertahankan" identitas dari kelompok tersebut. Bentuk pertahanan ini muncul dalam bentuk fenomena Gerakan Pro-Penetapan. Mulai dari bendera-bendera, gerakan massa, hingga dukungan terhadap eksistensi Kraton dan Sultan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini semua dapat dilihat sebagai upaya sekelompok masyarakat untuk mempertahankan identitas mereka. Tanpa adanya identitas dan ciri khas dari suatu kelompok, maka eksistensi kelompok itu sendiri akan turut menghilang. Maka disinilah diuji, apakah kelompok itu akan tetap berdiri dengan simbol-simbolnya atau tertelan oleh kejamnya zaman.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Lakum Dinukum Waliyadin&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perkembangan zaman telah menggeser nilai-nilai dalam suatu budaya. Pengaruh datang silih berganti dan saling mempengaruhi. Begitu pula dengan struktur masyarakat yang merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu, individu dianggap sebagai bagian dari kelompok, suati fenomena yang lumrah dalam masyarakat kolektif. Dimana individu yang satu dan lain memiliki keterikatan degan kelompok. Individu diharuskan menjunjung tinggi norma kelompok meski itu berarti mengorbankan individu itu sendiri. Orang bisa menuntut orang lain untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai kelompok.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saat ini dimana individualisme telah ikut berpengaruh, maka individu mulai berdiri sendiri dan melepaskan diri dari kelompok. Orang tidak bisa lagi memaksa individu untuk bertingkah laku tertentu. Tas nama kebebasan dan Hak Asasi Manusia seolah semua hal boleh dilakukan. Demokrasi menjadi tameng orang untuk berbicara sesuka hati meski itu menyakiti orang lain. Atas nama demokrasi, kebebasan, dan kebenaran.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka disini saya hanya bermaksud menyampaikan. Orang boleh bertindak sesuai kemauannya sendiri atas nama HAM, tetapi orang juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya tersebut. Terlebih terhadap tindakan-tindakan yang bersinggungan dengan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sultan sebagai seorang manusia tentu tidak sempurna, saya yakin dalam diri pribadi Sultan banyak kekhilafan dan kesalahan. Namun Sultan sebagai sebuah simbol perrlu dipertahankan dan dijaga sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Sultan sebagai pemimpin memiliki hak untuk dijunjung tinggi, begitu pula sebagai yang dipimpin pun kita memiliki nilai-nilai dan norma yang harus dijunjung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun dalam dunia penuh dengan logika saat ini, rasa dianggap subjektif. Perlahan ditinggalkan dan diabaikan. Padahal sejatinya manusia sejati hidup dengan rasa. Hormatilah orang lain, maka dengan demikian orang lain akan menghormati anda.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1168182439099354132?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1168182439099354132/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1168182439099354132&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1168182439099354132'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1168182439099354132'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/penghormatan-sultan.html' title='Kraton dan Harga Diri'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7967933660894725257</id><published>2011-10-15T22:54:00.002+07:00</published><updated>2011-10-15T22:54:45.466+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kamu Tanggung, Aku Jawab</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Kita yang tak bertanggung jawab, bahkan pada diri kita sendiri. Melemparkan semua masalah atas nama kesalahan sistem dan orang yang lebih berkuasa. Seolah diri tak ubahnya sebuah anjing yang diperintah oleh majikannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Bahkan anjing pun memiliki kemauan.&amp;nbsp;Sama halnya ketika kita mau untuk menerobos lampu merah, mau untuk mencontek, mau untuk merusak sistem. Maka siapakah yang lebih tidak berharga, manusia atau sistem?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ketika kita menyalahkan sistem atas kesalahan yang terjadi, maka kita telah merendahkan diri sendiri. bagaimanapun juga sistem hanyalah alat dan kitalah penggunanya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7967933660894725257?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7967933660894725257/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7967933660894725257&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7967933660894725257'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7967933660894725257'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/kamu-tanggung-aku-jawab.html' title='Kamu Tanggung, Aku Jawab'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8894848798434563168</id><published>2011-10-15T22:45:00.000+07:00</published><updated>2011-10-15T22:45:21.677+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>pemahaman</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ilmu dicari atas dasar rasa ingin tahu agar kita bisa memahami, bukan mencari kebenaran. Karena kebenaran yang hakiki terletak pada hati.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8894848798434563168?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8894848798434563168/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8894848798434563168&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8894848798434563168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8894848798434563168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/10/pemahaman.html' title='pemahaman'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3372679095301460185</id><published>2011-09-30T22:17:00.000+07:00</published><updated>2011-09-30T22:17:42.749+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Sekat</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ketika rasa ingin tahu tidak lagi menjadi dasar suatu ilmu. Dimana sekat-sekat semu dibangun atas nama ego dan bidang keahlian serta dibumbui sedikit kesombongan. Maka ilmu hanya menjadi teori non-praktis ditulis untuk mempertebal buku dan dompet penerima royalti. Dan tidak ada satu pun masalah terselesaikan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3372679095301460185?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3372679095301460185/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3372679095301460185&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3372679095301460185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3372679095301460185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/09/sekat.html' title='Sekat'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3486105233793567118</id><published>2011-09-25T10:39:00.002+07:00</published><updated>2011-09-25T10:40:07.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Nilai Majemuk: Mengapa Seseorang berlaku yang Tidak Seharusnya</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir-akhir ini Indonesia kembali digemparkan oleh para pelajar. Kali ini perilaku tawuran yang bahkan berbuntut dengan perkelahian dengan wartawan menjadi luka yang kembali terkuak di antara luka-luka lain yang ada dalam dunia pendidikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa ini membuat masyarakat kembali menyoroti dunia pendidikan kita. Tentu kita sebagai insan (ataupun mantan) pendidikan sudah tahu berbagai sisi hitam putih dari dunia tersebut. Mulai dari perilaku mencontek, tawuran, minuman keras, narkoba, perilaku seks di luar nikah, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ahli pun mulai bertanya-tanya mengapa manusia dapat melakukan sesuatu yang dianggap salah. Apa yang terjadi dalam benak manusia dan mengapa kita bisa bertindak demikian? Tulisan ini akan mencoba membahas permasalahan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Pendekatan Perilaku&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://rummuser.com/wp-content/uploads/stimulus.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="192" src="http://rummuser.com/wp-content/uploads/stimulus.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada awalnya, para ilmuwan sosial khususnya dari bidang psikologi mencoba menjelaskan fenomena ini secara sederhana. Menggunakan pendekatan perilaku para &lt;i&gt;behavioris&lt;/i&gt;&amp;nbsp;percaya bahwa pada dasarnya manusia bertindak melalui hukum-hukum yang sederhana (&lt;a href="http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/behavioris-bf-skinner-memandang.html"&gt;baca lebih lengkap&lt;/a&gt;). Mereka mencoba meneilit satu per satu faktor yang ada dengen memilah-milah dan menyederhanakan variabel yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga pada awal kelahirannya para &lt;i&gt;behavioris&lt;/i&gt;&amp;nbsp;menemukan satu hukum paling sederhana terhadap perilaku manusia yaitu S-R. S merupakan singakatan dari stimulus dan R dari Respon. Dalam artian bahwa setiap kali manusia mendapatkan stimulus tertentu maka manusia akan melakukan respon sebagai tindakan dari stimulus yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaannya adalah respon seperti apakah yang muncul? Misalnya saja seseorang yang disodori rokok (stimulus) akan mengambilnya kemudian meghisapnya, di satu sisi bisa jadi orang lain tidak akan mau merokok mesti dijejalkan ke dalam mulut orang tersebut. Para ilmuwan menyadari betapa kompleks dan beragamnya respon yang terjadi atas stimulus yang sama maka para ilmuwan kemudian memunculkan konsep baru yang mereka beri nama &lt;i&gt;black box&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.commongroundgroup.net/wp-content/uploads/2011/03/Operant-Learning-for-Human-.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.commongroundgroup.net/wp-content/uploads/2011/03/Operant-Learning-for-Human-.gif" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Black Box &lt;/i&gt;ini sendiri berada di antara stimulus dan respon sehingga diagramnya menjadi S-BB-R. Pemberian nama &lt;i&gt;black box&lt;/i&gt;&amp;nbsp;sendiri untuk menggambarkan suatu area (&lt;i&gt;box&lt;/i&gt;) yang masih menjadi misteri dan belum diketahui (&lt;i&gt;black&lt;/i&gt;) oleh para ilmuwan. Namun yang pasti para ilmuwan meyakini bahwa dalam melakukan tindakannya manusia memiliki sesuatu hal yang lebih kompleks yang perlu dipahami.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa puluh tahun kemudian Fishbein dan Adzen mencoba menjelaskan fenomena ini dengan lebih detail. Melalui Teori &lt;i&gt;Reasoned Action&lt;/i&gt;&amp;nbsp;mereka menjelaskan bahwa niat atau keinginan dari suatu perilaku yang disengaja&amp;nbsp;bergantung pada dua hal yaitu &lt;i&gt;attitude&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan &lt;i&gt;subjective norm&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Attitude&lt;/i&gt;&amp;nbsp;merupakan kumpulan dari anggapan-anggapan individu terhadap perilaku tersebut. Sedangkan &lt;i&gt;subjective norm&lt;/i&gt;&amp;nbsp;merupakan &amp;nbsp;kumpulan &amp;nbsp;anggapan orang lain terhadap tindakan tersebut. Sehingga disimpulkan bahwa dalam berniat melakukan suatu tindakan manusia dipengaruhi oleh &lt;i&gt;belief&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dari diri sendiri dan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Teori ini kemudian disempurnakan lagi oleh Ajzen menjadi teori &lt;i&gt;Planned Behavior&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dengan mendetailkan tiap-tiap bagian, mengganti beberapa istilah, dan menambahkan satu faktor lagi yaitu &lt;i&gt;Perceive Behavioral Control&lt;/i&gt;. Faktor tambahan ini merupakan persepsi individu itu sendiri apakah individu tersebut mampu melakukan tindakan tersebut atau tidak.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.utwente.nl/cw/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Health%20Communication/theory_planned_behavior.doc/theory_planned_behavior-1.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="156" src="http://www.utwente.nl/cw/theorieenoverzicht/Theory%20clusters/Health%20Communication/theory_planned_behavior.doc/theory_planned_behavior-1.gif" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga misalnya seorang pelajar akan melakukan tawuran akan ada setidaknya tiga pertimbangan. Pertama mengenai persepsi apakah tawuran itu sendiri merupakan suatu tindakan yang pantas dilakukan menurut dirinya. Pertimbangan kedua adalah apakah orang-orang di sekitarnya menghendaki tawuran itu sendiri dan yang ketiga adalah pertimbangan apakah dirinya mampu untuk turut serta dalam tawuran itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Nilai Majemuk&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tetapi siapa sih yang setuju dengan tawuran? Jika orang ditanya pasti akan menjawab bahwa tawuran, mencontek, minum-minuman keras, dan sebagainya merupakan tindakan tidak terpuji baik menurut diri sendiri (&lt;i&gt;attitude&lt;/i&gt;) maupun orang lain (&lt;i&gt;subjective norm&lt;/i&gt;). Namun mengapa tetap saja perilaku semacam itu terus muncul di tengah-tengah masyarakat kita?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata kunci berikutnya adalah nilai. Dalam Kamus Psikologi APA dijelaskan bahwa nilai adalah prinsip moral, sosial, atau estetika yang diterima oleh suatu masyarakat tertentu yang menjadi panduan tentang hal-hal baik, penting, dan diinginkan. Suatu tindakan dikatakan bermoral atau tidak tergantung dari nilai yang dipegang dalam masyarakat itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalnya saja di Indonesia pada umumnya jika kita tinggal dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan (&lt;i&gt;kumpul kebo&lt;/i&gt;) tentu akan dianggap tidak bermoral. Lain halnya dengan di AS misalnya dimana hal semacam itu dianggap biasa saja. Perbedaan ini terjadi dikarenakan adanya perbedaan nilai yang dipegang antar satu masyarakat dengan yang lain. Sehingga seringkali perbuatan yang oleh kita nampak tidak bermoral bisa jadi menurut orang lain sah-sah saja karena perbedaan nilai yang dianutnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan semisal apakah mencontek itu salah, apakah tawuran itu tidak baik, apakah minum minuman keras itu dosa merupakan pertanyaan dengan &lt;i&gt;social desirability bias&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang tinggi. Artinya orang akan menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan nilai dan norma sosial masyarakat yang ada bukan berdasarkan nilai dari dalam dirinya sendiri. Terlebih dalam masyarakat yang cenderung kolektif gejala semacam ini semakin kuat (meskipun dalam masyarakat yang cenderung individualis pun gejala semacam ini tetap ada).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali kita lupa bahwa sebagai individu kita memiliki berbagai peran dalam masyarakat. Kita seringkali melihat nilai sebagai sesuatu yang berdiri tunggal dalam satu kontium. Misalnya saja orang yang sudah berangkat haji berarti berada dalam tingkat moral tinggi dan telah melewati fase memakai jilbab, bertingkah laku baik, dan sebagainya. Padahal itu semua dapat berdidir sendiri. Seseorang dapat pergi haji tanpa harus berkelakukan baik, yang penting dia memiliki biaya untuk melaksanakannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya kita harus melihat individu dengan lebih bijaksana. Seseorang bisa jadi memiliki berbagi peran dalam waktu yang sama. Misalnya saja ketua RT juga menjalani peran sebagai seorang karyawan swasta, seorang ayah, dan seorang suami. Tiap-tiap peran tersebut memiliki nilai masing-masing yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga dalam diri individu sebenarnya terdapat banyak nilai sebagai bahan pertimbangan. Saya menyebutnya sebagai nilai majemuk yaitu asumsi bahwa dalam diri individu terdapat berbagai macam nilai yang muncul dari berbagai perannya dalam kehidupan. Nilai-nilai ini bisa jadi saling bertentangan satu sama lain. Dari pertentangan itulah nantinya kita akan bisa melihat mana nilai yang dominan dalam individu tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai gambaran kasus kita akan mencoba menganalisa kasus mabuk-mabukan di kalangan pelajar. Sebagai insan beragama dan makhluk ciptaan Tuhan, individu yakin bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan tercela yang berakibat pada dosa. Dari peran sebagai anggota masyarakat yang baik tindakan tersebut digolongkan menjadi penyakit masyarakat yang harus diberantas. Namun sebagai anggota suatu kelompok atau geng, perilaku menolak ajakan untuk melakukan tindakan tersebut merupakan bentuk tidak adanya solidaritas dan dapat berujung pada dikeluarkannya dari kelompok.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disini kemudian nilai dominan dalam individu tersebut akan diuji. Jika dia tidak meminum lantaran takut dosa, maka berarti nilai keagamaan individu tersebutlah yang paling dominan. Sedangkan jika dia meminum karena takut dikeluarkan dari kelompoknya berarti nilai kelompok lah yang paling dominan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Orientasi Manusia&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Nilai-nilai dalam kehidupan ini sangat beragam. Bahkan dalam satu kebudayaan pun seringkali muncul berbagai macam nilai yang saling bertolak belakang. Namun dengan mencermati berbagai gejala yang ada maka kita dapat mengetahui nilai mana yang paling dominan dalam suatu individu ataupun dalam suatu budaya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada akhirnya saya mencoba mengelompokkan nilai-nilai tersebut menjadi tiga: (1) orientasi materi, (2) orientasi manusia, dan (3) orientasi ketuhanan. Orientasi yang pertama yaitu orientasi materi berfokus pada benda-benda objektif. Orientasi semacam ini seringkali kita jumpai pada dunia keilmuan dewasa ini dan beberapa organisasi. Misalnya saja beberapa perusahaan menekankan upah sesuai dengan banyaknya produk yang kita hasilkan. Sisitem semacam ini merupakan contoh orientasi materi. Materi disini sendiri tidak harus diterjemahkan dengan benda padat namun bisa juga berupa benda abstrak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-z3ANf0DN2sQ/Tn6iMd5noCI/AAAAAAAAASY/SAGGPZem4II/s1600/orientasi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="284" src="http://4.bp.blogspot.com/-z3ANf0DN2sQ/Tn6iMd5noCI/AAAAAAAAASY/SAGGPZem4II/s320/orientasi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orientasi yang kedua yaitu orientasi manusia, saya prediksikan merupakan orientasi dominan dari budaya masyarakat Jawa. Dimana manusia menjadi faktor paling penting dalam nilai-nilai yang ada. Sehingga muncul nilai kekerabatan yang erat (saudara mendapat kemudahan), solidaritas, kerja sama, jangan menyakiti orang lain, kemajuan bersama, dan sebagainya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketuhanan sendiri jangan diartikan sebagai Tuhan itu sendiri. Orientasi Ketuhanan merupakan bentuk nilai-nilai yang berdasarkan pada suatu &lt;i&gt;hal&lt;/i&gt; yang berada di luar alam kebendaan maupun kemanusiaan itu sendiri termasuk di dalamnya adalah Tuhan. Bagi saya pribadi, orientasi ketuhanan merupakan yang paling konsisten, berbeda dengan orientasi yang manusia yang pelaksanaannya bergantung pada keberadaan manusia itu sendiri dan orientasi kebendaan yang seringkali menjadikan seseorang bertindak mengahalalkan segala cara.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seseorang yang memiliki nilai-nilai dominan yang berorientasi ketuhanan akan merasa perlu melakukan suatu tindakan setiap saat. Misalnya saja ketika seseorang mengahdapi lampu merah di perempatan yang sepi. Seseorang yang berorientasi materi akan menerobos lampu tersebut selama tindakannya tersebut tidak mengakibatkan tilang, begitu juga dengan orang yang berorientasi pada manusia akan menentukan tindakannya berdasarkan pada keberadaan orang lain pada waktu tersebut. Sedangkan orang yang berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan akan memegang teguh nilainya tidak bergantung pada materi maupun keberadaan manusia lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penjelasan di atas kiranya mampu menjelaskan mengapa seseorang terkadang bisa bertindak yang tidak seharusnya. Kita seharusnya melihat secara lebih dalam nilai-nilai yang terkandung dalam suatu perilaku. Nilai bersifat abstrak, tidak dapat dilihat maupun diraba. Namun nilai memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku atau tindakan manusia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3486105233793567118?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3486105233793567118/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3486105233793567118&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3486105233793567118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3486105233793567118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/09/nilai-majemuk-mengapa-seseorang-berlaku.html' title='Nilai Majemuk: Mengapa Seseorang berlaku yang Tidak Seharusnya'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-z3ANf0DN2sQ/Tn6iMd5noCI/AAAAAAAAASY/SAGGPZem4II/s72-c/orientasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2402244940163294313</id><published>2011-09-16T05:35:00.002+07:00</published><updated>2011-09-16T05:35:52.630+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Pahit</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-MX_Yns_WYDw/TnJ7mNAfzqI/AAAAAAAAASU/8K0Fbhptm-Y/s1600/serius.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://1.bp.blogspot.com/-MX_Yns_WYDw/TnJ7mNAfzqI/AAAAAAAAASU/8K0Fbhptm-Y/s400/serius.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kawan, tahukah kau bahwa hidup lebih rumit dari yang kita bayangkan. Dunia ini bukan hanya tentang bagaimana kita menghindarkan berbagai macam emosi negatif dari kehidupan kita. Ada tujuan, cita-cita, kehidupan sosial, dan segala kerumitan yang campur aduk menjadi satu dalam balada kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Eropa mengatakan kita memiliki &lt;i&gt;destiny&lt;/i&gt;. Kiita sering menerjemahkannya sebagai takdir, namun sebenarnya lebih dari itu. Bukan sekedar takdir, tetapi tujuan dari kita diciptakan dan hidup di dunia ini. Ada sesuatu yang harus kita raih, dan itu tidak mudah. Banyak yang harus dipertaruhkan dan dikorbankan untuk itu semua. Komitmen, totalitas, kesungguhan, dan pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu juga tidak ingin satu pun emosi negatif hinggap dalam kehidupan kita: marah, sedih, benci, kecewa, dsb. Namun tahukah kita bahwa kita tidak sendirian berada di dunia ini. Jutaan manusia lain berseliweran dalam kehidupan kita, semua menginginkan hal yang serupa yaitu kebahagiaan. Hanya saja tidak cukup banyak kebahagiaan di dunia ini untuk semua orang setiap saat. Lalu apakah kita akan terus memenuhi kebahagiaan kita sendiri dan itu berarti merebutnya dari orang lain, ataukah kita mau saling berbagi satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tahun lebih kita disini, orang menyebutnya dewasa. Otak kita telah cukup berkembang untuk dapat menerima berbagai bentuk kerumitan ini, meski terkadang tidak demikian halnya. Pahit memang, tetapi beginilah adanya. Apakah kita akan terus memakai kacamata kuda, ataukah kita mau menerima kenyataan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2402244940163294313?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2402244940163294313/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2402244940163294313&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2402244940163294313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2402244940163294313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/09/pahit.html' title='Pahit'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-MX_Yns_WYDw/TnJ7mNAfzqI/AAAAAAAAASU/8K0Fbhptm-Y/s72-c/serius.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5210225824644087730</id><published>2011-09-02T19:00:00.000+07:00</published><updated>2011-09-03T05:52:24.980+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Kita Manusia</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Kita sering bermimpi bisa terbang dan kita berusaha untuknya dengan menciptakann sayap-sayap besi. Namun sejauh apapun mimpi dan usaha adakalanya kita harus menyadari bahwa kita bukanlah malaikat yang memiliki sayap kita sendiri, kita harus bersama untuk dapat terbang.&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ragaku remuk, pikirku pening, hatiku hancur. Dunia ini mengajarkan kita untuk yakin dan percaya bahkan pada hal-hal yang tampak mustahil sekalipun. Dan pada kenyataannya melalui kepercayaan semacam itulah yang telah mengantarkan kita pada zaman dimana tabung-tabung bersayap memenuhi langit, manusia meginjakkan kakinya di bulan, kotak ajaib penuh dengan warna warni dunia, dan juga benda pipih yang membuat manusia berbicara sendiri. Disini kita menyebutnya sebagai mimpi yang dibalut dengan tekad, dihiasi oleh harapan, serta diwujudkan oleh usaha.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun pada akhirnya kita harus sadar bahwa tangan dan jemari kita tidak diciptakan untuk terbang. Seberapa seringpun kita mengepakkannya tidak akan membuat kita melambung ke angkasa bak malaikat dengan sayapnya. Sejauh apapun kita meneteskan peluh pada akhirnya kita akan menyadari batasan diri kita. Ada kalanya kita akan terjatuh dan kembali ke permukaan tanah seberapapun cepatnya kita mengepakkannya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di waktu itu, ketika raga telah remuk mencapai batas maksimalnya, pikiran telah pening dengan segala isi dunia di kepala seukuran buah semangka dan hati telah hancur oleh kenyataan yang terlalu pahit untuk dicerna. Maka kematian seolah menawarkan kedamaian yang kita dambakan. Tenang, sunyi, dan damai. Namun haruskah kita meraih kematian ataukah kita akan hidup dengan sisa-sisa organ yang masih berbentuk? Biarlah kematian sendiri yang akan menjemput ketika raga kita telah hancur karena usahanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5210225824644087730?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5210225824644087730/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5210225824644087730&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5210225824644087730'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5210225824644087730'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/09/kita-manusia.html' title='Kita Manusia'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total><georss:featurename>Jalan Pramuka, Yogyakarta, Indonesia</georss:featurename><georss:point>-7.822270846231295 110.38987398147583</georss:point><georss:box>-7.824237346231295 110.38740648147584 -7.820304346231295 110.39234148147582</georss:box></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-182671052349413169</id><published>2011-06-24T22:09:00.000+07:00</published><updated>2011-06-24T22:10:38.232+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Terdidik</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#666666;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Di Indonesia kita belajar suatu ilmu layaknya beriman kepada suatu agama. Kita dihadapkan pada sebuah kitab dan diharapkan untuk mempercayai isinya (meski tidak pernah kita lihat dan kita lakukan dalam kehidupan). Kita tidak perlu bertindak, hanya berpikir. Atau bahkan mungkin berpikir pun dilarang, kita hanya perlu menggunakan pikiran orang lain karena pikiran kita sifatnya subjektif, tidak ilmiah, dan tidak bermutu.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-182671052349413169?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/182671052349413169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=182671052349413169&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/182671052349413169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/182671052349413169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/terdidik.html' title='Terdidik'/><author><name>khusni mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654046252098796573</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8151037197290577591</id><published>2011-06-19T23:19:00.000+07:00</published><updated>2011-06-19T23:19:06.997+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Frustasi akan Kehilangan: Kasus Keluarga Dickson</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=HhjB5bCUplk&amp;amp;feature=related" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://i.ytimg.com/vi/guzKoB0Jn_8/0.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;klik pada gambar untuk melihat video&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehilangan merupakan salah satu penyebab terbesar dari munculnya kesedihan. Terlebih jika yang hilang itu adalah seseorang yang sangat kita sayangi. Kematian significant person bagi suatu individu akan berarti banyak dalam kehidupannya. Efeknya sangat besar, mulai dari frustasi, depresi, bahkan dapat pula berujuang pada bunuh diri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kirsten Dickson baru saja kehilangan suaminya, Clay Dickson, satu tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil. Kini dirinya harus menjadi janda dan mengurusi dua orang anak atas perkawinan mereka yaitu Jacqueline Dickson yang berumur delapan tahun dan Colin Dickson yang berumur tujuh tahun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu ketika Clay masih hidup keluarga ini menjadi salah satu keluarga normal yang bahagia. Namun setelah kepergian Clay semua itu berubah. Jacqueline dan Colin menjadi anak nakal yang susah diatur. Mereka suka sekali berkelahi dan saling menyakiti secara fisik. Bahkan sikap tersebut juga berlaku pada ibu mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kirsten sendiri tipe orang yang lembut dan tidak bisa tegas kepada anak-anaknya. Terlebih dirinya tahu bahwa anak-anak tersebut sangat kehilangan ayah mereka sehingga tidak ingin menyakitinya. Yang terjadi adalah seberapapun anak-anak tersebut mencoba menyakiti ibunya dia tetap berusaha terus bersabar. Namun dia tahu hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena bisa jadi anak-anaknya nanti akan tumbuh dengan kondisi psikis yang tidak sehat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apa yang terjadi pada kedua anak tersebut bisa jadi merupakan bentuk frustasi kemarahan akibat ditinggal pergi sosok ayahnya. Orang tua sebagai significant person tentu memiliki pengaruh yang sangat besar bagi anak. Terlebih lagi Clay merupakan figur ayah yang sangat dekat dengan anak-anaknya dan menjadi teman terbaik mereka. Kepergiannya membuat pukulan telak bagi kondisi psikis Jacqueline dan Colin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya figur ayah ini tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh Kirsten. Sehingga yang terjadi anak-anak tersebut menjadi frustasi dan marah. Hal ini paling tampak pada Jacqueline, mungkin yang terjadi pada Colin hanya sebatas imitasi dan reaksi atas perilaku kakaknya. Namun yang terjadi pada Jacquelin bisa jadi adalah rasa frustasi dan kemarahan yang sesungguhnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jacqueline tampak masih belum bisa menerima kenyataan akan kematian ayahnya. Kehilangan tersebut menimbulkan rasa sedih yang kemudian beralih menjadi frustasi dan kemarahan. Frustasi ini kemudian diproyeksikan kepada ibunya dengan menganggap bahwa ibunya yang paling bertanggung jawab. Selain itu dirinya merasa seorang diri menghadapi masalah tersebut sehingga segala usaha ibunya untuk mendekati tidak dihiraukan. Ibunya dianggap tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rasa frustasi tersebut beralih juga pada bentuk kekerasan fisik kepada adiknya. Colin seringkali dijadikan pelampiasan atas kemarahan yang dia alami. Merasa disakiti maka adiknya membela diri dengan melakukan hal yang sama pada kakaknya sehingga kedua kaka beradik ini saling bertengkar dan menyakiti satu sama lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam mengatasi masalah ini hal yang pertama harus diatasi adalah rasa frustasi dan kemarahan yang dialami oleh Jacqueline. Terapi yang paling cocok mungkin adalah &lt;i&gt;Psychoanalysis Family Therapy&lt;/i&gt;. Harapannya semua perasaan yang ditekan oleh Jacqueline bisa dikeluarkan supaya tidak menjadi perilaku yang salah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jacqueline harus diajari untuk mengatasi perasaannya sendiri. Perasaan marah dan frustasi tersebut harus diselesaikan. Selain itu dirinya juga harus bisa menerima kenyataan bahwa semuanya telah berubah, ayahnya telah meninggal dan tidak mungkin kembali. Keluarganya kini adalah sebuah keluarga &lt;i&gt;single parent&lt;/i&gt; dengan dua orang anak. Sebagai anak tertua dirinya harus bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain Kirsten juga mencoba untuk menjadi sosok pengganti dari Clay bagi anak-anaknya. Beban berat yang menjadi tugas Kirsten harus menjadi seorang ibu dan ayah pada saat bersamaan. Dirinya harus bisa mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan oleh suaminya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kehilangan memang bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi yakinlah bahwa tidak hanya diri kita seorang lah yang mengalaminya. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, tugas kita adalah saling membantu untuk meringankan beban orang-orang yang telah ditinggalkan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugasUAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8151037197290577591?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8151037197290577591/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8151037197290577591&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8151037197290577591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8151037197290577591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/frustasi-akan-kehilangan-kasus-keluarga.html' title='Frustasi akan Kehilangan: Kasus Keluarga Dickson'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1658726757857658816</id><published>2011-06-19T22:23:00.002+07:00</published><updated>2011-06-19T22:26:06.926+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Banyak Anak Banyak Masalah: Kasus Keluarga Finck</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=oaqFHT8oOBo" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://i.ytimg.com/vi/2IzmAcSQ1TQ/0.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;klik gambar untuk melihat video&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kata orang, banyak anak artinya banyak rezeki. Jika hal itu memang benar adanya, maka Paul dan Deborah Finck merupakan salah satu keluarga yang memiliki banyak rezeki. Mereka berdua memiliki enam orang anak. Hanya saja anak-anak mereka semuanya masih kecil dan kembar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kedua putri kembar tertua bernama Amanda Finck dan Alex Finck merupakan anak adopsi yang berumur sembilan tahun. Sedangkan kembar kedua merupakan anak kandung dimana yang laki-laki bernama Stephen Finck dan yang perempuan bernama Katarina Finck. Mereka berdua berumur empat tahun. Sedangkan kembar yang terakhir bernama David Finck dan Daniel Finck yang berumur tiga tahun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keenam anak ini tinggal dalam satu rumah dimana (celakanya) semuanya tergolong susah diatur. Mereka suka berteriak, memukul, dan menangis. Meski ayah bekerja di rumah, tetapi ketika waktu bekerja selalu mengurung diri di ruang kerjanya dan tidak mau peduli dengan apa yang terjadi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu ini semua menjadi tanggung jawab ibu. Tentu saja mengatur enam orang anak sekaligus bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak yang harus dilakukan dan dikerjakan mulai dari menyiapkan makanan, menjaga anak-anak agar tetap bermain dengan aman, mebersihkan rumah, mebereskan segala hal yang berantakan, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Deborah sendiri seringkali merasa kualahan menghadapi ini semua. Seringkali dia habis kesabarannya untuk menghadapi anak-anak tersebut. Jika itu terjadi, Deborah akan lepas kendali dan marah-marah luar biasa. Dia akn membentak-bentak bahkan dengan kata-akata yang cukup tajam untuk anak-anak usia tersebut. Mungkin ini juga yang membuat anak melakukan hal yang sama.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak biasanya melakukan modeling atas perilaku orang tua mereka. Bisa jadi kebiasaan anak-anak berteriak merupakan tiruan dari perilaku ibu mereka ketika sudah habis kesabarannya. Selain itu Paul juga seringkali berteriak-teriak meminta istrinya menjaga ketenangan rumah ketika sedang bekerja. Mungkin kedua perilaku inilah yang ditiru anak-anak mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Merawat seorang anak bukanlah sesuatu hal yang mudah, terlebih jika anak tersebut kembar dan berjumlah enam orang. Perlu kerjasama yang baik antara kedua pasangan untuk saling membantu dan melengkapi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam keluarga pada umumnya terjadi pembagian tugas antara ayah dan ibu. Biasanya aya akan bertanggung jawab dalam mencari nafkah untuk keluarga sedangkan ibu mengurusi urusan rumah tangga. Namun ini semua jangan dianggap sebagai sesuatu hal yang sifatnya mutlak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada dasarnya tidak ada aturan yang baku dalam pembagian tugas dalam keluarga. Masing-masing keluarga boleh menciptakan aturan-aturan mereka sendiri. Yang terbaik adalah aturan tersebut merupakan aturan yang disepakati oleh semua pihak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kasus ini mungkin Paul beranggapan bahwa tanggungjawabnya adalah untuk mencari nafkah sedangkan Deborah bertanggungjawab dalam urusan rumah tangga. Namun untuk mengurusi enam orang anak sekaligus terlebih mereka semuanya masih kecil bukanlah hal yang mudah. Tidak bisa semuanya dilimpahkan kepada Deborah begitu saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebaiknya Paul ikut membantu Deborah dalam mengurusi anak-anak mereka. Terlebih lagi Paul bekerja di dalam rumah itu artinya dia bisa melakukan pekerjaannya sekaligus membantu Deborah pada saat yang bersamaan bukannya justru bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu terapi yang disarankan untuk Deborah dan Paul adalah &lt;i&gt;Structural Family Therapy&lt;/i&gt;. Harapannya setelah mereka menjalani terapi tersebut akan terjadi pembagian tugas yang lebih seimbang. Pasti nantinya beban Paul akan bertambah berat, akan tetapi karena memang demikian keadaannya sikap tidak peduli dan tidak mau tahu tidak akan menyelesaikan apapun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga anak kembar (enam orang) bukanlah permasalahan yang sederhana. Tentunya untuk menghadapinya perlu kerja yang lebih keras dibanding keluarga pada umumnya. Namun itu sudah menjadi konsekuensi sebagai orang tua.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu adanya sinergitas antara kedua orang tua dalam mendidik anak-anak tersebut. Selain itu mereka perlu contoh perilaku yang baik dari kedua orang tua mereka dan perlu tahu juga aturan-aturan yang berlaku dalam keluarga. Mendidik enam orang anak sekaligus memang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras namun bukan berarti hal tersebut mustahil dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1658726757857658816?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1658726757857658816/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1658726757857658816&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1658726757857658816'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1658726757857658816'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/banyak-anak-banyak-masalah-kasus.html' title='Banyak Anak Banyak Masalah: Kasus Keluarga Finck'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2421415177327794924</id><published>2011-06-19T21:26:00.000+07:00</published><updated>2011-06-19T21:26:38.294+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Perbedaan Budaya dalam Keluarga: Kasus Keluarga George</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://1.gvt0.com/vi/FTq15NkFA_U/0.jpg"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/FTq15NkFA_U&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266"  src="http://www.youtube.com/v/FTq15NkFA_U&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jeffrey (26 tahun) dan Theresa George (35 tahun) merupakan pasangan suami istri yang telah dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil. Anak perempuan yang paling besar bernama Imari George berumur empat tahun. Sedangkan kedua adiknya laki-laki kembar bernama Kobi George dan Kadin George berumur dua tahun.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Secara kultural Jeffrey dan Theresa dibesarkan dalam budaya yang sangat jauh berbeda. Jeffrey seorang negro kulit hitam yang dibesarkan pada keluarga yang disiplin ketat dan penuh aturan. Sedangkan Theresa yang berkulit putih dibesarkan dalam keluarga yang cenderung bebas dan tidak terlalu ketat. Ini jugalah yang menyebabkan perbedaan pandangan mereka berdua dalam mendidik anak dan juga pembagian tugas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pembagian tugas di rumah tangga, Jeffrey mendapatkan porsi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Theresa. Sebagai seorang ayah selain mencari nafkah Jeffrey juga harus melakukan berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, merawat anak, dan sebagainya. Sebagai kepala rumah tangga Jeffrey yang paling dominan dalam keluarga tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sedangkan Theresa hanya mendapatkan tugas-tugas rumah tangga yang lebih sederhana. Dia juga cenderung menyerahkan berbagai tugas kepada suaminya. Sikapnya ini mungkin muncul akibat perbedaan pandangan yang terlalu mencolok antara pasangan tersebut tentang kehidupan ideal sebuah keluarga. Sehingga Theresa cenderung pasif dan menurut untuk menghindari konflik dengan suaminya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam pola pengasuhan pun mereka memiliki pandangan yang berbeda. Jeffrey yang dibesarkan dalam keluarga disiplin menginginkan anak-anaknya menjadi penurut. Berbeda dengan Theresa yang cenderung memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Berbeda dengan Jeffrey yang cenderung memberikan instruksi langsung kepada anak-anaknya, Theresa biasanya memberikan perintah dengan cara meminta dan bukan menyuruh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan ini membuat anak-anak menjadi kebingungan dalam memahami aturan keluarga. Mereka mengalami kebingungan tentang mana yang diperbolehkan, mana yang harus dilakukan, dan mana yang tidak boleh dilakukan akibat perbedaan pendapat di antara kedua orang tua mereka. Seringkali ketika ayahnya mengatakan iya untuk suatu hal namun ibu mengatakan tidak, begitu pula sebaliknya. Akibatnya anak-anak cenderung tidak terkendali dan berbuat semaunya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk mengatasi hal ini hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyamakan konsep antara pasangan suami istri tersebut. Salah satunya dapat menggunakan &lt;i&gt;multigenerational family therapy&lt;/i&gt; untuk lebih mengetahui bagaimana budaya dari masing-masing keluarga asal pasangan tersebut. Dengan terapi ini diharapkan dapat ditemukan masalah-masalah yang mungkin bersifat multigenerasi dari masing-masing pihak dan mencari jalan tengah dari perbedaan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan tersebut perlu diselesaikan secepatnya kemudian perlu disepakati norma-norma dan nilai-nilai bersama dalam keluarga. Pasangan tersebut harus menyamakan gambaran ideal mereka tentang sebuah keluarga yang baik bagi mereka berdua. Hal ini tidaklah mudah mengingat mereka berdua dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup berbeda bahkan mungkin berlawanan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah itu perlu juga dilakukan &lt;i&gt;Structural Family Therapy&lt;/i&gt;. Pasangan tersebut harus menciptakan struktur keluarga mereka yang baru dimana tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sturuktur yang baru ini diharapkan menjadi penyelesaian atas kebingungan struktur yang terjadi selama ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengingat anak-anak yang masih kecil dimana sistem kognisi mereka belum berkembang secara sempurna, pelibatan mereka dalam terapi-terapi tersebut kurang begitu diperlukan. Anak-anak cukup menerima secara langsung kesepakatan yang dihasilkan orang tua mereka. Setelah orang tua menyepakati apa yang harus dilakukan, intervensi kepada anak-anak cukup menggunakan model pendekatan behavioris karena umur mereka yang masih kecil sehingga model pendekatan tersebut lah yang dirasa paling efektif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2421415177327794924?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2421415177327794924/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2421415177327794924&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2421415177327794924'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2421415177327794924'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/perbedaan-budaya-dalam-keluarga-kasus.html' title='Perbedaan Budaya dalam Keluarga: Kasus Keluarga George'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-556587424339827423</id><published>2011-06-18T10:47:00.002+07:00</published><updated>2011-06-18T10:51:01.438+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Menatap Masa Depan: Analisis Solution Focused Therapy</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/253626_1926307250253_1619337140_1903142_4836694_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/253626_1926307250253_1619337140_1903142_4836694_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Masalah menjadi bagian dari kehidupan. Bahkan konon katanya hidup tanpa masalah berarti tidak mengalami kehidupan sepenuhnya. Begitu juga dalam kehidupan rumah tangga. Rumah tangga dibangun oleh dua orang yang saling mencintai, tetapi bukian berarti mereka tidak memiliki perbedaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan adalah suatu hal yang mutlak pasti ada meski kita telah berusaha untuk mengidentifikasikan diri kita pada pasangan kita atau sebaliknya. Selalu saja ada hal-hal yang bertentangan dan berpotensi menibulkan konflik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di saat terjadinya konflik tersebut, banyak pasangan atau keluarga yang pada akhirnya tidak dapat menyelesaikan sendiri masalah tersebut sehingga membutuhkan bantuan orag lain. Di sinilah ilmu Psikologi berperan. Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru menawarkan pemahaman tentang manusia secara personal. Pemahaman ini nantinya dapat dikembangkan sebagai sebuah alat untuk membantu mengatasi permasalahan manusia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Untuk masalah keluarga telah banyak terapi yang dikembangkan. Mulai dari terapi naratif, terapi struktur keluarga, dan sebagainya. Salah satu terapi yang cukup popular dikenal adalah Solution Focus Therapy atau Terapi Berfokus pada Solusi. Terapi ini termasuk dalam Brief Therapy atau terapi singkat yang dapat dilakukan dalam waktu yang relatif sedikit (dibandingkan bentuk terapi lain) untuk mengatasi masalah yang ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keunikan terapi ini ada pada bagaimana memandang suatu permasalahan yang ada. Pada umumnya ketika kita menghadapai permasalahan yang ada, kita mencoba menggali lebih dalam mengenai permasalahan tersebut. Mulai dari apa penyebabnya, siapa saja yang terlibat, mengapa itu menjadi suatu masalah tersendiri, dan sebagainya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun terapi ini cukup berbeda. Seolah melewati begitu saja fase pemahaman akan suatu masalah, terpai ini justru langsung merujuk pada solusi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Terapi ini berfokus pada saat ini dan sekarang. Masalah dipandang sebagai sesuatu yang terjadi pada masa lampau dan tidak dapat diubah kembali. Terlalu lama berlarut dalam masalah yang terjadi pada masa lalu tidak akan menghasilkan kemajuan apapun, sehingga cara terbaik yang dapat dilakukan adalah berfokus pada saat ini dan menatap masa depan dengan memikirkan tindakan yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam terapi ini, psikolog atau konselor akan bertindak secara aktif terhadap klien dengan menggunakan miracle questions. Konselor atau psikolog akan bertanya banyak hal kepada klien namun pertanyaan inilah yang akan menuntun klien untuk mencari solusi. Berbeda dengan kebanyakan pendekatan dimana pertanyaan diajukan untuk menimbulkan pemahaman klien akan masalah tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaan-pertanyaan ini menggunakan bahasa yang psoitif dan berfokus pada hasil. Pertanyaan ini juga sebisa mungkin menghindari untuk mengarahkan klien pada masa lalu. Klien diarahkan untuk mencari tahu sendiri apa yang bisa dirinya lakukan saat ini untuk mengatasi masalahnya daripada harus tenggelam dalam masalah tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun bentuk terapi ini tidak semudah yang tampak. Orang pada umumnya akan mencoba menggali terlebih dahulu masalah yang mereka hadapi secara lebih mendalam. Terlebih adanya anggapan dengan mengetahui dan mendalami permasalahan yang ada kita akan menjadi mampu untuk menyelesaikannya. Hal ini dianggap akan membuang-buang waktu yang ada. Mengarahkan klien untuk tetap berfokus pada masa depan dan solusi dengan mengkerdilkan gagasan untuk mendalami masalah tersebut bukanlah sesuatu yang mudah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain itu kritik terbesar dari bentuk terapi ini adalah terapi ini hanya menghasilkan solusi yang sifatnya instan dan tidak permanen. Penghindaran terhadap sumber dan esensi dari masalah yang dihadapi diperkirakan akan meningkatkan kemungkinan seseorang mengulangi kesalahan yang sama hingga menimbulkan masalah tersebut kembali terulang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari sekian kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, pada akhirnya terapi ini cukup efektif dalam mengatasi masalah-masalah yang ada dalam waktu singkat. Terlebih jika masalah-masalah yang dihadapi bukan masalah yang berat dan mendalam.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-556587424339827423?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/556587424339827423/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=556587424339827423&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/556587424339827423'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/556587424339827423'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/menatap-masa-depan-analisis-solution.html' title='Menatap Masa Depan: Analisis Solution Focused Therapy'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5112507698206758570</id><published>2011-06-17T23:10:00.001+07:00</published><updated>2011-06-18T10:49:31.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>"Dosa" Warisan: Analisis Multigenerational Family Therapy</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/208530_1812648968867_1619337140_1748639_3275498_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://a8.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/208530_1812648968867_1619337140_1748639_3275498_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini menggambarkan bahwa sikap seorang anak pada akhirnya tidak berbeda jauh dengan orang tua mereka. Banyak teori Psikologi yang membenarkan anggapan ini. Orang tua sebagai figur yang paling lekat pada anak (dalam kondisi pada umumnya dan kecuali pada kasus-kasus tertentu) merupakan contoh ideal bagi anak dalam berperilaku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konsep &lt;i&gt;Modelling&lt;/i&gt; dari Bandura misalnya, dengan orang tua sebagai seorang figur lekat dan paling sering berinteraksi dengan anak maka wajar jika anak seringkali juga meniru perilaku orang tuanya. Perilaku ini tanpa disadari terus dilakukan dan diulangi hingga pada akhirnya menjadi karakter anak tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam sudut pandang yang lebih besar pada akhirnya antara anak dan orang tua nantinya akan muncul kemiripan sifat-sifat tertentu. Sehingga bisa dikatakan akan muncul semacam sifat-sifat yang tampak seolah diwariskan dari orang tua ke anaknya. Warisan ini terus menerus berlangsung hingga beberapa generasi secara turun menurun. Hanya saja ternyata tidak hanya sifat yang diwariskan secara turun menurun tetapi juga seringkali simtom-simtom atau penyakit psikologis menjadi bagian dari warisan tersebut sehingga menjadi sebuah masalah yang berulang dari generasi satu ke generasi yang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Murray Bowen adalah seorang dokter bedah hingga ketika dia sedang bertugas dalam medan perang mendapatkan suatu ketertarikan tertentu. Dengan mengamati berbagai macam masalah psikis yang terjadi pada tentara dia menjadi tertarik dalam ilmu kejiwaan yang pada akhirnya menuntun dirinya beralih ke psikiatri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bowen menciptakan sebuah terapi keluarga yang didasarkan pada teori-teori yang dia susun terhadap permasalahan keluarga yang sering terjadi dan ditelitinya. Terapi tersebut disebut &lt;i&gt;Multigenerational Family Therapy&lt;/i&gt; atau Terapi Keluarga Multigenerasi. Terapi ini didasarkan pada delapan konsep utama dalam teorinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu konsep tersebut adalah apa yang disebut sebagai &lt;i&gt;Family Projection Process&lt;/i&gt; yang dapat menjelaskan mengapa suatu masalah psikologis keluarga dapat terus menerus terulang dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Misalnya saja dalam suatu keluarga dimana sang ibu memiliki kekhawatiran berlebih pada anak-anaknya. Maka ada kemungkinan anak-anaknya nanti ketika menjadi orang tua juga akan memiliki sikap yang sama dan akan terus diwariskan hingga cucu, buyut, dan seterusnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam bahasa sederhana, proses pewarisan penyakit atau simtom psikologis ini mirip dengan konsep &lt;i&gt;self-fullfiling prophecy&lt;/i&gt; yang disusun oleh Robert K. Merton. Orangtua memproyeksikan ketakutan atau simtom psikologis pada anak mereka hingga tanpa disadari mempengaruhi perilaku mereka yang memposisikan sang anak untuk beringkah laku seperti yang diproyeksikan orang tua mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Proses proyeksi tersebut terdiri dari tiga langkah sebagai berikut:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Orangtua menganggap bahwa ada sesuatu yang salah pada anak tersebut dan fokus terhadapnya&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orangtua melakukan interpretasi perilaku anak sesuai dugaan yang dimilikinya sehingga justru memperkuat dugaan tersebut (tidak secara objektif)&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Orang tua memperlakukan anak seolah-olah memang ada sesuatu yang salah pada anak tersebut&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalnya ada seorang ibu yang selalu khawatir anaknya tidak mampu bersikap mandiri. Padahal yang terjadi sebenarnya anak tersebut biasa saja dan itu merupakan proyeksi dari ibu tersebut. Ibu lalu menjadi fokus terhadap perilaku anaknya dan kesalahan kecil saja ditafsirkan oleh ibu tersebut sebagai suatu pembenaran bahwa anaknya tidak dapat mandiri. Ketakutan ini kemudian berakibat pada sikap perilaku ibu tersebut, anak kemudian selalu dilayani karena ibu beranggapan bahwa anak tidak dapat melakukan segala sesuatunya sendiri sehingga selalu memerlukan bantuan orangtuanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sikap ini menyebabkan anak selalu dilayani dan dipenuhi kebutuhannya. Akbitanya anak tidak pernah bisa belajar mandiri karena terbiasa dilayani. Perilaku ini terus dibawa hingga si anak tersebut menjadi orang tua. Karena ketakutan yang sama bahwa anaknya nanti juga tidak dapat menjadi mandiri, maka pola ini terus diulang dan diulang hingga beberapa generasi yang berakibat pada munculnya masalah psikologis yang sama dalam berbagai generasi keluarga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu menurut Bowen salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan suatu masalah keluarga adalah apakah ada faktor warisan dalam permasalahan tersebut. Bisa jadi masalah yang terjadi merupakan masalah yang terus berulang selama beberapa generasi dan merupakan bentuk warisan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini bisa digali melalui genogram maupun pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai hubungan dalam keluarga besar dan pengalaman masa kecil orang tua. Jika memang itu penyebabnya, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikutnya untuk mengatasi masalah tersebut hingga pada akhirnya keluarga tersebut menemukan pemecahan dari masalah mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5112507698206758570?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5112507698206758570/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5112507698206758570&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5112507698206758570'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5112507698206758570'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/dosa-warisan.html' title='&quot;Dosa&quot; Warisan: Analisis Multigenerational Family Therapy'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1034714292897697458</id><published>2011-06-17T16:52:00.000+07:00</published><updated>2011-06-17T16:52:44.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kita Mahasiswa #3</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kutipkan untuk teman-teman yang akan berjuang membangun masyarakat dari buku yang sama dengan sebelumnya (Di Jawa-Mulder). Semoga Indonesia makin maju dan kehidupan semakin baik serta kita semakin sadar diri.&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Mereka menyebut diri relawan dan agak sombong tentang sebutan itu. Yang menarik perhatianku adalah formalitasnya. Karena tidak banyak pekerjaan di kantor, mereka berempat memperbaiki cara penugasan dan membagi-bagi tugas menulis surat. Bersama-sama, mereka bisa mengisi sehari penuh dengan pekerjaan yang sebetulnya bisa diselesaikan oleh satu orang dalam waktu tiga jam. Tidaklah heran mereka tampak bersungguh-sungguh dan bersemangat menjelaskan bahwa sasaran mereka adalah membantu &amp;nbsp;penduduk desa untuk memperbaiki tingkat kehidupan mereka. -"Kami akan mengarahkan mereka, tapi sebelum bisa melakukannya, kami akan mensurvey dulu dua desa yang telah kami pilih. Kami harus tau apa yang mereka butuhkan." -"Mengapa tidak ditanyakan saja pada mereka?" -"Tuan, kami ini mahasiswa; kami melakukannya secara ilmiah."&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ilmiah adalah kata yang sering disalahartikan di negara ini. Ketika kutayakan bagaimana mereka akan melaksanakan segala sesuatunya dan apakah mereka memiliki pengalaman tentang kehidupan desa dan di bidang pertanian, mereka memandangku dengan pilu. -"Kami akan melakukan survei dulu, barulah kami tahu apa yang mereka butuhkan. Lalu, kami menunjuk seorang &lt;i&gt;key person&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang bertugas meyakinkan mereka bahwa itulah yang mereka butuhkan. Kami menyediakan keahlian, penduduk desa menyediakan tenaga kerja." Aku ingin tahu apakah mereka memikirkan proyek percontohan, rencana peragaan, seperti yang dilakukan oleh relawan &lt;i&gt;Peace Corps&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang sering menjelaskan tekniknya dengan cara benar-benar melakukannya. Lagi-lagi, mereka menatapku seakan aku ini orang planet lain, "Kami ini mahasiswa. Yang kami tawarkan adalah pengetahuan."&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Mereka mengingatkanku pada foto favorit Klaas. Dalam foto itu dia tampak bersama sekelompok mahasiswa &amp;nbsp;pertanian dan beberapa petugas di tepi sawah. Semuanya berpakaian rapi dan meskipun foto itu diambil di akhir hari pemeriksaan dan hari survei, hanya Klaas yang sepatu larsnya berlumpur. -"Orang-orang ini sangat tidak praktis dan menjengkelkan penduduk desa. Mereka datang membawa berbagai macam saran yang muluk-muluk dan agak kaku, dan tidak menyadari bahwa penduduk desa diam-diam menertawakan mereka."&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1034714292897697458?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1034714292897697458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1034714292897697458&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1034714292897697458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1034714292897697458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/kita-mahasiswa-3.html' title='Kita Mahasiswa #3'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1832660425119168220</id><published>2011-06-16T22:24:00.001+07:00</published><updated>2011-06-16T22:27:30.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kita Mahasiswa #2</title><content type='html'>&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Mahasiswa bergantung pada dosennya. Mereka menerima ajaran dosen, padahal isinya hanya ulangan dari pengetahuan yang itu-itu juga. Mereka tidak dilatih untuk berpikir, hanya menghapal. Kadang mereka menggunakan buku ajar terbitan Amerika -yang tidak mereka pahami- yang diterima sebagai kebenaran mutlak, seperti kebenaran Alquran, yang semua contohnya benar-benar mencengangkan. Tapi, tidak mengapa. Sejumlah orang bahkan berpendapat bahwa buku-buku semacam itu berisi rumus untuk bisa maju. Amerika identik dengan kemajuan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Jelas cara ini tidak menuntun orang untuk berpikir kritis, untuk bernalar dan menggali pikiran sendiri. Jika semua melakukan itu, berpikir kritis dan sebagainya itu, mahasiswa akan tampak mencolok seperti jempol yang luka. Melakukan semua itu akan menunjukkan sikap tidak sependapat dengan dosen, bahkan mungkin membuatnya tampak bego. Tetapi hal seperti itu tidak terjadi, ajaran dosenlah yang benar dan seminar hanyalah basa-basi belaka. Orang tertua atau yang paling terpandang di antara hadirinlah yang akan menjadi orang pertama yang memberikan komentar., baik komentarnya itu relevan atau benar-benar melenceng. Lalu, secara hierarkis, pemberi komentar berangsur-angsur menurun sampai ke mahasiswa yang, karena kendala waktu, boleh dikatakan tidak akan pernah dipedulikan.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya kutip dari buku &lt;b&gt;&lt;i&gt;Di Jawa&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karangan &lt;i&gt;Niels Mulder&lt;/i&gt;, tampaknya cukup penting.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1832660425119168220?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1832660425119168220/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1832660425119168220&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1832660425119168220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1832660425119168220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/kita-mahasiswa-2.html' title='Kita Mahasiswa #2'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1132048663160341639</id><published>2011-06-14T22:23:00.002+07:00</published><updated>2011-06-16T22:28:01.533+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kita Mahasiswa #1</title><content type='html'>&lt;blockquote style="border-left-color: rgb(204, 204, 204); border-left-style: solid; border-left-width: 2px; color: grey; font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 10px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 10px; padding-bottom: 0px; padding-left: 10px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #999999;"&gt;Dari segi budaya, banyak yang akan menghambat kemajuan yang cepat. Para mahasiswa berpikir seperti birokrat dan banyak bercita-cita menjadi pegawai negeri. Bagi mereka, menjadi pegawai negeri adalah suatu kebanggan. Mereka memburu ijazah, kualifikasi formal, yang sama sekali tidak mencerminkan kompetensi atau kemampuan yang hakiki. Selain kecilnya peluang kerja, orang juga tidak terbiasa bekerja keras. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan salah satu posisi, mematuhi atasan, dengan cara yang sama dengan mengisi tempatnya sendiri dan memenuhi kewajiban dalam kelompok kerabatnya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #999999;"&gt; (Mulder, 2007)&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;Sebuah paragraf yang menggambarkan keadaan mahasiswa yogyakarta pada tahun 1970an. Masihkah demikian?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="font-family: 'lucida grande', tahoma, verdana, arial, sans-serif; font-size: 11px; line-height: 16px; margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; padding-bottom: 0px; padding-left: 0px; padding-right: 0px; padding-top: 0px;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1132048663160341639?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1132048663160341639/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1132048663160341639&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1132048663160341639'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1132048663160341639'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/kita-mahasiswa.html' title='Kita Mahasiswa #1'/><author><name>khusni mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654046252098796573</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8574007003409882262</id><published>2011-06-10T13:04:00.000+07:00</published><updated>2011-06-10T13:04:13.638+07:00</updated><title type='text'>imajinAKTIF</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/249531_1925879799567_1619337140_1902701_6725012_n.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/249531_1925879799567_1619337140_1902701_6725012_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Imajinasi Aktif&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8574007003409882262?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8574007003409882262/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8574007003409882262&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8574007003409882262'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8574007003409882262'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/imajinaktif_10.html' title='imajinAKTIF'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8007979414817275111</id><published>2011-06-07T23:14:00.000+07:00</published><updated>2011-06-07T23:14:10.919+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Apa itu Bahagia?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/249923_1899658304046_1619337140_1865938_5550591_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://a5.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash4/249923_1899658304046_1619337140_1865938_5550591_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Konon, kebahagiaan adalah tujuan utama dari kehidupan. Manusia senantiasa berusaha dan bekerja untuk meraihnya. Kebahagiaan ibarat keadaan hidup yang paling ideal dan menyenangkan. Namun apa sebenarnya kebahagiaan itu?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bahagia sebagai &lt;i&gt;keadaan senang dan tentram (bebas dari sesuatu yang menyusahkan)&lt;/i&gt;. Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa bahagia adalah suatu keadaan dan bukan benda. Sedangkan kebahagiaan berarti kesenangan atau ketentraman itu sendiri. Jadi secara harafiah bahagia atau kebahagiaan merupakan suatu keadaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sayangnya tidak semua orang bisa merasakan keadaan tersebut. Maka kemudian para ilmuwan mencoba mencari-cari apa sebenarnya yang membuat manusia mengalami kebahagiaan. Salah satu pendekatan yang mempelajarinya adalah &lt;i&gt;Indigenous Psychology&lt;/i&gt; yang sedang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dengan metode &lt;i&gt;open questionnaire&lt;/i&gt; mencoba menggali hal-hal yang membuat orang berbahagia. Dari pertanyaan tentang peristiwa yang paling membuat seseorang bahagia, maka ditariklah poin-poin untuk mencari tahu apa sebenarnya faktor-faktor penyebab kebahagiaan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian menunjukkan bahwa untuk masyarakat Indonesia situasi-situasi yang paling membuat bahagia adalah yang erat kaitannya dengan hubungan sosial. Hal ini cukup masuk akal mengingat Hoffstede mengkategorikan Indonesia sebagai negara yang cenderung kolektif dan memiliki ikatan atau hubungan sosial yang kuat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti telah didefinisikan secara harafiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa bahagia juga berarti bebas dari suatu keadaan yang menyusahkan. Maka penelitian tersebut juga memfokuskan untuk mencari tahu peristiwa-peristiwa yang membuat orang merasa sedih dan marah. Hasilnya pun tidak jauh berbeda dimana peristiwa yang berkaitan dengan faktor hubungan sosial menjadi yang paling banyak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pertanyaannya apakah apabila kita memiliki hubungan sosial yang baik maka kita akan merasa bahagia? Dalam pendekatan &lt;i&gt;Indigenous Psychology&lt;/i&gt; dikenal istilah &lt;i&gt;understanding people in their context&lt;/i&gt;. Artinya bahwa tiap-tiap manusia harus dipahami sesuai keadaannya atau konteksnya masing-masing salah satunya adalah masalah kultural. Meski penelitian di Indonesia menunjukkan situasi yang berkaitan dengan hubungan sosial seringkali berhubungan erat dengan kebahagiaan tetapi bukan berarti itu dapat digeneralisasikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam budaya yang berbeda bisa jadi orang bahagia atas situasi yang jauh berbeda. Masyarakat Indonesia mungkin bisa saja merasa bahagia ketika dalam situasi-situasi yang berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi bagi masyarakat lain di Eropa misalnya dimana hubungan sosial dianggap sebagai suatu hal yang sifatnya privasi dibanding urusan pekerjaan mungkin kebahagiaan mereka sedikit banyak lebih terpengaruh pada hal-hal yang sifatnya prestasi misalnya atau capaian.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks yang sama pun masih diperdebatkan apakah temuan ini bisa digunakan secara terbalik. Misalnya saja dari data diketahui bahwa pada masyarakat Indonesia seringkali situasi yang sangat membahagiakan adalah situasi-situasi yang berhubungan dengan hubungan sosial dan prestasi. Maka apakah masyarakat Indonesia yang memiliki prestasi dan hubungan sosial yang bagus berarti dirinya bahagia? Apakah jika tidak memiliki hal-hal tersebut berarti kita tidak bahagia?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam paradigma ini kebahagiaan dipandang sebagai sesuatu yang bersyarat. Individu akan merasa bahagia dalam situasi-situasi tertentu dan jika tidak mengalami situasi tersebut maka individu menjadi tidak bahagia. Kebahagiaan dianggap sebagai sebuah benda abstrak yang harus dicari dan didapatkan padahal pada definisi awal dijelaskan bahwa bahagia merupakan suatu keadaan, bukan benda. Jikalau memang kebahagiaan dibatasi oleh waktu-waktu atau keadaan-keadaan tertentu, maka kebahagiaan tersebut hanya dipandang sebagai emosi atau suasana hati (mood).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut pendapat saya, kebahagiaan adalah sesuatu yang sifatnya personal dan berasal dari dalam diri. Sehingga meskipun kita berusaha menghadirkan faktor-faktor atau situasi-situasi yang seringkali membuat orang sangat bahagia pada suatu individu tertentu maka bukan berarti individu tersebut akan merasakan bahagia atas semua itu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak buku-buku dan pakar yang mencoba mengajarkan manusia agar hidup bahagia. Kebanyakan dari mereka menjelaskan tentang konsep kebahagiaan yang tidak bersyarat. Kebahagiaan diperoleh tidak dengan mendapatkan suatu keadaan atau situasi tertentu tetapi dengan mengubah cara pandang kita terhadap keadaan kita saat ini. Dalam konsep kebahagiaan tak bersyarat ini kebahagiaan dipandang sebagai suatu keadaan yang konstan dan tidak hanya muncul pada situasi-situasi tertentu saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah falsafah Jawa yang disebut &lt;i&gt;Ngelmu Begja&lt;/i&gt; yang disusun oleh Ki Ageng Suryomentaram juga menjelaskan tentang dinamika rasa senang dan susah. Rasa senang dan susah diperoleh dari selisih antara kenyataan dan harapan. Jika kenyataan lebih besar daripada harapan maka akan timbul rasa senang dan sebaliknya. Intinya untuk dapat selalu merasakan kebahagiaan kita harus menekan harapan serendah mungkin sehingga apapun kenyataan yang kita dapatkan akan membuat kita merasa senang. Konsep ini dalam falsafah Jawa hampir mirip dengan konsep &lt;i&gt;&lt;a href="http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/nrimo-ing-pandum-makaryo-ing-nyoto.html"&gt;Nrimo ing Pandum&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; atau dalam ajaran agama kita sering mengenalnya sebagai syukur.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hingga saat ini para ilmuwan pun masih memperdebatkan tentang kebahagiaan itu sendiri. Ada berbagai teori yang mencoba menjelaskan tentang kebahagiaan mulai dari Rogers yang melihatnya hanya sebagai efek samping hingga ilmuwan-ilmuwan yang menganggap itu merupakan tujuan dari kehidupan. Penelitian-penelitian pun terus berkembang mencoba mendefiniskan kebahagiaan agar nantinya dengan temuan tersebut semua orang bisa merasakannya. &lt;i&gt;To Have Happy or to be happy?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas mata kuliah Isu-isu Kontemporer Psikologi Sosial&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8007979414817275111?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8007979414817275111/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8007979414817275111&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8007979414817275111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8007979414817275111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/apa-itu-bahagia.html' title='Apa itu Bahagia?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2798029275498519142</id><published>2011-06-04T21:30:00.004+07:00</published><updated>2011-06-04T21:32:15.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Bebas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="color:#666666;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-family:arial;"&gt;Demokrasi bukanlah tentang kebasan menyatakan suatu pendapat, tetapi tentang menghargai pendapat orang lain terlebih jika itu berbeda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2798029275498519142?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2798029275498519142/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2798029275498519142&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2798029275498519142'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2798029275498519142'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/demokrasi-bukanlah-tentang-kebasan.html' title='Bebas'/><author><name>khusni mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654046252098796573</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2969924561565436506</id><published>2011-06-04T20:53:00.001+07:00</published><updated>2011-06-10T18:34:56.896+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Macet</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4D3cvrG62hU/TfIBSXJh2MI/AAAAAAAAASA/KwZfOekgzOQ/s1600/macet.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-4D3cvrG62hU/TfIBSXJh2MI/AAAAAAAAASA/KwZfOekgzOQ/s320/macet.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Salah satu isu yang selalu populer di ibukota kita adalah kemacetan lalu lintas yang semakin parah. Gawatnya, isu itu kini mulai mengancam Yogyakarta. Jalanan Yogyakarta secara perlahan tapi pasti mulai mengalami kepadatan yang menjadi-jadi. Terlebih pada pagi hari dan sore hari di jalan-jalan utama menuju pusat kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulai dari mobil roda empat, truk, bis, becak, sepeda motor, sepeda, andong, dan sebagainya memadati jalanan kota Yogyakarta setiap harinya. Berbondong-bondong menuju segala arah dari berbagai penjuru kota dan luar kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu penyebab kemacetan ini adalah semakin banyaknya jumlah kepemilikan kendaraan pribadi yang tidak diimbangi oleh pembangunan infrastruktur jalan. Mengenai hal ini ada dua sisi yang harus kita perhatikan. Dari sisi positif kita harus bersyukur karena kemacetan yang terjadi merupakan pertanda banyaknya orang kaya (atau setidaknya anak orang kaya) di Indonesia.&amp;nbsp;Bisa juga merupakan pertanda bahwa teknologi kini semakin terjangkau oleh masyarakat. Dalam batas ini maka kemacetan yang terjadi hendaklah membuat diri kita semakin bersyukur.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada sisi lain ini merupakan suatu ancaman yang serius. Transportasi merupakan salah satu komponen penting &amp;nbsp;terlebih dalam masyarakat yang semakin dinamis seperti saat ini. Kemacetan akan menimbulkan berbagai dampak negatif yang merugikan dan ini harus segera diatasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Selamatkan Yogyakarta&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permasalahan kemacetan ini harus ditanggulangi secara komprehensif dan mustahil dapat diatasi hanya dengan satu atau dua langkah kebijakan saja. Harus ada berbagai kebijakan dari pemerintah dan masyarakat yang saling mendukung satu sama lain. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para calon walikota Yogyakarta yang baru (semoga mereka menyadari masalah ini).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa langkah yang bisa diambil misalnya dengan menggalakkan penggunaan sepeda. Beberapa program telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah kota maupun Provinsi mulai dari &lt;i&gt;Sego Segawe&lt;/i&gt; hingga &lt;i&gt;Segoro Amarta&lt;/i&gt; untuk mendorong penggunaan sepeda. Jalur khusus, tempat pemberhentian di persimpangan, dan tempat parkir khusus sepeda juga telah disediakan. Beberapa kantor dan kampus (misalnya UGM) juga melakukan kampanye penggunaan sepeda. Program ini sendiri juga mendapat dorongan terlebih ketika saat ini sedang menjamur demam sepeda&lt;i&gt; fixie&lt;/i&gt;. Secara perlahan pengguna sepeda di Yogyakarta menjadi semakin meningkat. Namun masalah kemacetan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kebijakan ini saja.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu jawaban yang sering dilontarkan untuk menghadapi masalah ini adalah dengan kendaraan umum. Jalur kereta api misalnya, dengan adanya jalur kereta &lt;i&gt;Pramex&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yang mulai digalakkan kembali oleh pemerintah memberikan alternatif kendaraan cepat antar kota. Sehingga kemacetan jalanan sebagian dapat dialihkan pada jalur kereta api. Hanya saja jalur kereta ini hingga saat ini baru menghubungkan wilayah Timur-Barat, padahal tidak dapat dipungkiri banyak masyarakat yang tinggal di Bantul dan Sleman yang mencari nafkah di Yogyakarta. Sehingga mungkin perlulah kiranya dipikirkan tentang pembangunan jalur kereta Utara-Selatan mengingat banyaknya para &lt;i&gt;penglaju&lt;/i&gt; dari kedua daerah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain kereta api model transportasi massal lainnya yang sering diperbincangkan adalah bus. Meski begitu keluhan utama dari model transportasi ini adalah kenyamanan. Pemerintah telah mencoba secara terbatas membuat proyek &lt;i&gt;TransJogja &lt;/i&gt;yang berusaha menyediakan transportasi bus yang nyaman. Namun seringkali proyek ini &lt;i&gt;diplesetkan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;hanya sebatas &lt;i&gt;transportasi wisata&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dan bukan &lt;i&gt;transportasi umum&lt;/i&gt;. Terlebih biayanya yang relatif lebih mahal dan lebih repot dibandingkan bus lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal lain yang turut berpengaruh pada kemacetan adalah adanya budaya parkir. Di Yogyakarta kita bisa dimana saja memarkirkan kendaraan kita di bahu jalan. Parahnya seringkali toko tidak menyediakan lahan parkir yang memadai. Terlebih pada pedagang kaki lima (jualan aja di trotoar apalagi parkir). Meski telah muncul peraturan yang melarang penggunaan jalan nasional sebagai lahan parkir namun pada prakteknya hal tersebut tidak bisa serta merta diterapkan. Perlu ada langkah pasti selain melakukan pelarangan yaitu menyediakan kantong-kantong parkir khusus. Perlu ditanamkan juga pada para pebisnis untuk merambah usaha parkir (karena tidak semua kantong parkir dapat disediakan oleh pemerintah). Lebih bagus lagi jika pemerintah memfasilitasi warga sekitar untuk membuka koperasi usaha kantoing parkir di wilayah-wilayah tertentu menggunakan tanah masyarakat. Baru setelah kantong parkir tersedia pelarangan dapat secara efektif dilakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Berubah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pemecahan masalah kemacetan di Yogyakarta tidak bisa diselesaikan begitu saja dengan satu atau dua kebijakan. Yang utama adalah adanya sinergi antara masyarakat dan pemerintah untuk secara bersama-sama mengatasi masalah tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penyediaan sarana prasana yang memadai dan nyaman semisal kereta komuter, bus nyaman, dsb tidak serta merta akan mengatasi masalah. Ada sebuah konstruk budaya yang perlu dibangun juga selain sarana fisik. Sebuah pengorbanan untuk kepentingan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kendaraan umum dan fasilitas umum tentunya tidak akan senyaman kendaraan dan fasilitas pribadi. Contohnya saja mengapa kita harus naik bus dimana kita perlu berjalan dan tidak fleksibel sementara kita memiliki mobil pribadi yang nyaman. Mengapa kita perlu parkir di lokasi kantong-kantong parkir tertentu jika kita bisa parkir di jalanan depan toko.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Disini harus ada kesadaran akan adanya kepentingan bersama. Transportasi yang nyaman dan lancar tentu menjadi idaman semua orang, namun ketika semua orang merasa paling berhak dan tidak ada yang mau mengalah tentu itu semua hanya akan menjadi &lt;i&gt;utopia&lt;/i&gt;. Perlu pengorbanan demi kepentingan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulailah dari yang sederhana. Misalnya menggunakan sepeda motor untuk perjalanan dengan jumlah orang sedikit tentu akan mengurangi kemacetan meski itu tidak lebih nyaman daripada menggunakan mobil. Atau lebih bagus lagi jika memang jaraknya tidak terlalu jauh boleh lah kita berjalan kaki atau bersepeda. Menggunakan transportasi umum juga bisa menjadi salah satu solusi sederhana yang dapat kita lakukan. Sediakan juga fasilitas parkir untuk pelanggan kita dan kendaraan kita. Jangan sampai mengganggu kenyamanan pengguna kendaraan lain. Patuhilah tata tertib lalu lintas.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari hal kecil seperti kepakan sayap kupu-kupu di China bisa saja itu menjadi sebuah badai Tornado di Amerika. &lt;i&gt;Butterfly Effect&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2969924561565436506?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2969924561565436506/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2969924561565436506&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2969924561565436506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2969924561565436506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/06/macet.html' title='Macet'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4D3cvrG62hU/TfIBSXJh2MI/AAAAAAAAASA/KwZfOekgzOQ/s72-c/macet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8709254804595181528</id><published>2011-05-26T10:49:00.004+07:00</published><updated>2011-05-26T20:37:41.966+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mata bicara'/><title type='text'>Pe-ubah-an</title><content type='html'>&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Mungkin kita hanya membutuhkan sekejap saja ketika memutuskan untuk berubah, tetapi butuh waktu yang lama untuk melakukannya.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="font-family: Georgia, serif; font-size: 16px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: right; margin-left: 1em; text-align: right;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/231099_1892504845214_1619337140_1857805_1405874_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: black;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="http://a7.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/231099_1892504845214_1619337140_1857805_1405874_n.jpg" width="200" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;dalam kenangan&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu tahun lalu, tanah subur ini masih elok dipandang mata. Hijau memenuhi pandangan di segala sisi dengan cahaya menyupu di antara dedaunan. Dingin udara menambah khidmat suasana. Oksigen berkeliaran dengan bebas tanpa disesaki oleh asap kehitaman dari kota.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan sekejap malam itu semua sirna. Abu dan abu abu, itu lah yang tampak sejauh mata mampu menjangkau. Malam yang mencekam itu mengubah segalanya. Berubah yang sering digadang-gadang oleh mereka pengejar mimpi sebagai suatu harapan dan kepastian pada nyatanya tidak seindah itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-n3qju_POnQM/Td5XeFX1B0I/AAAAAAAAAR4/nHFv_toauxA/s1600/telah+berubah.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="138" src="http://3.bp.blogspot.com/-n3qju_POnQM/Td5XeFX1B0I/AAAAAAAAAR4/nHFv_toauxA/s200/telah+berubah.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;berubah&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;Kita seringkali lupa, berubah terkadang juga berarti meninggalkan apa yang telah ada. Berubah bukan sekedar menambah tetapi juga menghapus yang lalu. Tiap perubahan itu memerlukan pengorbanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Berubah juga bukan hanya tentang keputusan. Berubah adalah tentang apa yang kita lakukan setelahnya. Biarlah yang lalu terhapus dan gantikan dengan yang baru. Percayalah dan berusahalah agar yang esok lebih baik dari yang lalu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8709254804595181528?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8709254804595181528/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8709254804595181528&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8709254804595181528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8709254804595181528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/peubahan.html' title='Pe-ubah-an'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-n3qju_POnQM/Td5XeFX1B0I/AAAAAAAAAR4/nHFv_toauxA/s72-c/telah+berubah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5559061494915563403</id><published>2011-05-24T20:02:00.003+07:00</published><updated>2011-05-24T20:11:39.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Salah Siapa?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Salah Siapa?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Pertanyaan retorika yang biasa bersarang di ujung sebuah narasi panjang tentang permasalahan. Mengajak pembaca untuk berpikir lebih dalam mengenai masalah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Salah Siapa?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Frase yang terdiri dari dua kata menunjuk pihak, inidividu, atau kelompok atas suatu permasalahan. Sebuah bentuk pelemparan tanggung jawab dari permasalahan. Menimbulkan rasa permusuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Salah Siapa?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Kata-kata egois yang menunjukkan bahwa diri sendiri tanpa cacat dan kesalahan sejatinya hanya milik orang lain. Bukan manusia setengah dewa seperi dirinya. Arogansi memandang diri tercampur narsistik. Karena pada akhirnya ujung jari kita lebih condong terarah kepada orang lain daripada diri sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Salah Siapa?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; Membuat para pembaca terbenam dalam ke dalam permasalahan. Terkurung dalam masa lalu permasalahan bukan menatap solusi masa depan. Keadaan stagnan, bahkan mungkin ke belakang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tidaklah penting siapa bersalah atas apa, tapi apa yang mampu kita lakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan tidak lagi mengulanginya.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5559061494915563403?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5559061494915563403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5559061494915563403&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5559061494915563403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5559061494915563403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/salah-siapa.html' title='Salah Siapa?'/><author><name>khusni mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15654046252098796573</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7117477074821093339</id><published>2011-05-21T08:36:00.001+07:00</published><updated>2011-05-21T18:31:10.551+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Tantangan Reformasi</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.asiantribune.com/files/images/Suharto.img_assist_custom.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="135" src="http://www.asiantribune.com/files/images/Suharto.img_assist_custom.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #228822; font-family: arial; line-height: 15px;"&gt;asiantribune.com&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Beberapa hari yang lalu sebuah lembaga survey Indonesia mempublikasikan sebuah hasil yang mengejutkan. Orde Baru yang selama ini seringkali dihina-hina pasca reformasi ternyata menurut hasil survey justru lebih disukai masyarakat. Hasil ini menjadi tamparan keras bagi bagi masyarakat anti orde baru dan para aktivis reformasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reformasi yang pada menjanjikan perubahan yang lebih baik pada prakteknya berbeda dengan pendapat masyarakat. Orde Baru justru dianggap memberikan keadaan yang lebih baik disbanding reformasi yang digadang-gadangkan selama ini. Apa penyebabnya?&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;BANDUL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika kita mau menengok kembali sejarah kita, sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang baru dan luar biasa. Sejarah mencatat bagaimana masyarakat begitu membenci Presiden Soekarno ketika beliau lengser. Soekarno yang pada kala itu dianggap gagal membangun Indonesia lebih dari sekedar monument-monumen begitu dibenci masyarakat hingga menimbulkan beberapa aksi demonstrasi. Namun beberapa tahun setelah itu, Presiden Soekarno kembali dipuja-puja dan dianggap sebagai pahlawan di mata masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Peristiwa semacam ini juga terjadi pada masa Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Maka bukan tidak mungkin hal ini juga terjadi pada Presiden Soeharto. Ibarat Bandul yang mengayun dari suatu keadaan akan beralih ke keadaan lain yang sebaliknya. Namun pada akhirnya bandul tersebut akan kembali di tengah setelah sekian lama berayun.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga dengan Presiden Soeharto yang pada masa orde baru begitu dipuja-puja. Lalu pada masa reformasi bandul tersebut beralih ke keadaan sebaliknya dimana beliau diinjak-injak. Berikutnya seperti apa yang terjadi pada bandul keadaan ini akan terus berubah hingga pada akhirnya nanti berada di tengah atau pada posisi netral.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;KETEGASAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu kekurangan terbesar dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang paling mencolok adalah kurangnya ketegasan. Celakanya Presiden Soeharto justru terkenal karena ketegasannya. Bisa jadi inilah yang menyebabkan masyarakat justru menilai orde baru jauh lebih baik daripada masa reformasi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hasil survey ini bisa jadi adalah bentuk protes masyarakat untuk menuntut ketegasan dari pemimpin mereka. Masyarakat menginginkan seorang pemimpin yang tegas dalam memimpin mereka. Keinginan ini memenuhi pikiran masyarakat hingga muncul anggapan bahwa ketegasan adalah segala-galanya. Ketidaktegasan menjadi indikator utama penilaian dan mempengaruhi keseluruhan anggapan masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;KENYATAAN ATAU KEBAHAGIAAN&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masa Orde Baru seringkali dianggap juga adalah resim penuh kepalsuan. Dimana semua informasi yang ada diatur dan sebagian dimanipulasi supaya tampak menjadi lebih baik. Ini juga yang mendasari munculnya reformasi. Masyarakat menginginkan sebuah kenyataan bukan lagi tipuan-tipuan penguasa. Namun seringkali kita lupa bahwa kita justru berbahagia dibalik tipuan-tipuan tersebut dan menderita di dalam kenyataan. Lalu manakah yang lebih penting antara kebahagiaan dan kenyataan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebuah penelitian menarik dilakukan oleh Raj Raghunathan, Ph.D. menunjukkan bahwa ternyata manusia lebih memilih kebahagiaan daripada kebenaran. Ini bukanlah suatu hal yang mengejutkan karena memang bagi sebagian ilmuwan psikologi menganggap tujuan utama dari perilaku manusia adalah untuk mencari kebahagiaan. Penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa manusia akan lebih memilih kenyataan daripada kebahagiaan setelah kebahagian tersebut tercukupi. Maka anggaplah bahwa pada masa orde baru kita memperoleh sebuah keadaan yang membahagiakan kita. Lalu orientasi kita berubah pada kebenaran. Celakanya setelah kita menemukan kebenaran yang tidak membahagiakan tersebut orientasi kita kembali beralih pada kebahagiaan itu sendiri dengan menganggap Orde Baru lebih baik.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;BONGKAR&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Keontjaraningrat (1974) pernah menjelaskan keadaan sosial yang terjadi pada masa revolusi. Dalam proses tersebut terjadi penjebolan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dari suatu rezim untuk kemudian digantikan dengan nilai-nilai yang baru. Namun seringkali penjebolan nilai-nilai tersebut menjadi yang utama dan pembangunan nilai-nilai baru justru terabaikan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Reformasi sebagai revolusi ketiga dalam sejarah Indonesia juga mengalami hal demikian. Kita terlalu asik menjebol rezim orde baru sehingga lupa bahwa tujuan kita adalah membangun sebuah tatanan masyarakat baru. Reformasi tidak terjadi pada tahun 1998 tetapi jauh lebih dari itu reformasi adalah saat ini. Reformasi adalah ketika kita membangun suatu tatanan masyarakat yang baru bukan saat kita menghancurkan tatanan yang lama. Karena reformasi bukanlah apa yang kita hancurkan tetapi apa yang akan kita bangun.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7117477074821093339?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7117477074821093339/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7117477074821093339&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7117477074821093339'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7117477074821093339'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/tantangan-reformasi.html' title='Tantangan Reformasi'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2381021415276644456</id><published>2011-05-20T20:21:00.001+07:00</published><updated>2011-05-20T20:22:10.897+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nyampah'/><title type='text'>Menuntut</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;i&gt;menuntut tuntut menu nuntut buntut menun nuntu untut untu kentut!&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2381021415276644456?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2381021415276644456/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2381021415276644456&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2381021415276644456'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2381021415276644456'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/menuntut.html' title='Menuntut'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3630983810969738928</id><published>2011-05-20T10:44:00.002+07:00</published><updated>2011-05-20T19:34:23.362+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Ketimpangan Sosial dan Pancasila</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://blog.man5marabahan.co.cc/wp-content/uploads/2010/08/makna.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="180" src="http://blog.man5marabahan.co.cc/wp-content/uploads/2010/08/makna.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #228822; font-family: arial; line-height: 15px;"&gt;blog.man5marabahan.co.cc&lt;/span&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketimpangan yang terjadi akibat tidak meratanya pembangunan telah menimbulkan berbagai bentuk protes dalam masyarakat. Mulai protes berupa pernyataan tertulis atau pernyataan terbuka seperti yang sedang marak akhir-akhir ini dalam bentuk sorotan tajam terhadap pemborosan anggaran yang dilakukan oleh lembaga legislatif, hingga aksi-aksi destruktif misalnya pencurian, perampokan, dan sebagainya. Tidak jarang pula kita jumpai kasus-kasus semisal anak SD yang gantung diri karena tidak memiliki seragam baru atau siswi SMP yang menjual dirinya demi mengikuti gaya hidup teman-temannya yang hedonis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal Pancasila sebagai sebuah cita-cita mendambakan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sesuai dengan yang tercantum pada sila kelima. Maka kini kita bertanya-tanya, apakah gerangan yang terjadi pada Pancasila? Pancasila sering diagung-agungkan sebagai sebuah sistem nilai ideal bagi masyarakat Indonesia. Namun kenyataannya hingga saat ini dimanakah letak keadilan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Keadilan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu cerita klasik tentang keadilan adalah &lt;i&gt;Robin Hood&lt;/i&gt;. Kisah ini menceritakan tentang seorang bangsawan yang pada akhirnya mendedikasikan dirinya menjadi seorang yang mencuri dari mereka yang kaya dan dibagikan kepada mereka yang miskin. Adilkah?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Deddy Mizwar dalam sinetronnya &lt;i&gt;Para Pencari Tuhan&lt;/i&gt; membuat sebuah anekdot lain dari kisah ini. Diceritakan seorang yang berusaha menjadi &lt;i&gt;Robin Hood&lt;/i&gt; dengan mencuri dari orang yang kaya dan dibagikan kepada mereka yang miskin. Namun ternyata mereka yang dirampok kaya adalah karena hasil jerih payah usaha mereka sendiri. Di satu sisi mereka yang dibagikan hasil rampokan tersebut miskin karena tidak mau berusaha. Lalu dimana letak keadilan dari &lt;i&gt;Robin Hood&lt;/i&gt; ini?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada berbagai macam bentuk keadilan. Keadilan Substantif misalnya yang mendefinisikan keadilan sebagai suatu keadaan sama rasa sama rata. Jika ini yang dijadikan acuan, maka &lt;i&gt;Robin Hood&lt;/i&gt; merupakan seorang pahlawan. Keadilan semacam ini biasanya dianut oleh negara-negara komunis sosialis dimana pemerintah mencoba untuk melakukan pembatasan kepada masyarakatnya untuk kaya dengan memeratakan pendapatan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain halnya dengan Keadilan Prosedural, keadilan ini mendefinisikan keadilan sebagai keadaan yang memberikan kesempatan yang sama pada tiap individu. Sehingga keadilan tidak harus dicapai dalam kondisi dimana semua orang menjadi kaya atau miskin. Tetapi hak dari tiap-tiap individu untuk menjadi kaya atau miskin tergantung dari usaha mereka sendiri. Keadilan semacam ini biasanya dianut oleh negara-negara kapitalis liberalis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada masa orde baru, pemerintah berusaha mengejawantahkan Pancasila sebagai tatanan nilai ke dalam butir-butir perilaku yang kemudian biasa dikenal sebagai &lt;i&gt;Butir-Butir Pancasila&lt;/i&gt; atau &lt;i&gt;Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila&lt;/i&gt;. Meski prakteknya ini menjadi sebuah bentuk indoktrinasi tanpa kompromi bagi penguasa saat itu, tetapi jika kita mau jujur apa yang tercantum dalam butir-butir tersebut bukanlah suatu hal yang salah. Butir-butir tersebut lahir dari pemikiran para cendekiawan-cendekiawan masa itu. Hanya saja cara penyampaiannya yang tidak tepat dan adanya pemanfaatan yang tidak sesuai pada tempatnya membuatnya menjadi melenceng dari maksud yang sebebarnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam butir-butir sila kelima disebutkan beberapa poin antara lain adalah &lt;i&gt;Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah&lt;/i&gt;. Poin ini menjelaskan sebuah bentuk keadilan yang berbeda dengan konsep keadilan substantif maupun porsedural. Individu boleh saja kaya tetapi di atas haknya untuk menjadi kaya tersebut ada sebuah kewajiban lain yaitu untuk menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar. Kekayaan tidak berarti kita boleh melakukan segala sesuatunya karena itu hak, tetapi kita harus juga menjaga perasaan agar tidak terjadi kesenjangan sosial seperti yang terjadi saat ini. Dalam perilaku nyata yaitu kita tidak boleh menggunakan kekayaan kita untuk hal-hal yang bersifat pemborosan terlebih di saat masyarakat di sekitar kita masih banyak yang miskin.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lebih dari itu kita juga dituntut untuk dapat melakukan pemberdayaan terhadap orang lain agar mereka dapat merasakan kekayaan atas hasil usaha mereka seperti yang tercantum dalam butir &lt;i&gt;Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri&lt;/i&gt;. Kita tidak hanya sebatas memberi ikan kepada mereka yang kurang beruntung tetapi juga mengajari bagaimana mereka memancing agar dapat merasakan hidup makmur.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ini benar-benar diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat mulai dari pejabat hingga rakyat biasa saya yakin ketimpangan sosial yang terjadi tidak akan separah ini. Ini hanyalah sebuah contoh bagaimana Pancasila sebagai suatu sistem nilai menjawab tantangan-tantangan masa kini. Masih banyak hal yang dapat kita gali dari Pancasila.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasca Reformasi muncul sikap anti Pancasila karena pada masa orde baru seringkali Pancasila dijadikan alat melanggenggkan kekuasaan. Namun yang justru terjadi kekacauan semakin merajalela pada semua tingkatan masyarakat. Maka sudah saatnya kita kembali pada Pancasila, produk asli Indonesia daripada sibuk berdebat mana yang lebih baik antara liberalis kapitalis maupun sosialis komunis. Pancasila sebagai nilai yang kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari demi mencapai terwujudnya Pancasila sebagai gambaran ideal masyarakat Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3630983810969738928?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3630983810969738928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3630983810969738928&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3630983810969738928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3630983810969738928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/ketimpanganh-sosial-dan-pancasila.html' title='Ketimpangan Sosial dan Pancasila'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-9054943950214908632</id><published>2011-05-11T23:12:00.000+07:00</published><updated>2011-05-14T03:44:02.244+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Petunjuk</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Hikmah itu datangnya dari berbagai jalan, bahkan dari yang buntu sekalipun. Alhamdulillah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-9054943950214908632?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/9054943950214908632/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=9054943950214908632&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/9054943950214908632'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/9054943950214908632'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/petunjuk.html' title='Petunjuk'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6718362112912486491</id><published>2011-05-05T23:03:00.000+07:00</published><updated>2011-05-05T23:03:20.148+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Pedang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i style="color: #666666;"&gt;&lt;b&gt;Jikalau kita diberikan sebuah pedang yang paling tajam di dunia akankah kita rela untuk hanya menyimpannya atau kita lebih memilih untuk menggunakannya meski itu hanya akan menyakiti?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6718362112912486491?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6718362112912486491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6718362112912486491&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6718362112912486491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6718362112912486491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/05/pedang.html' title='Pedang'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5080028615409716633</id><published>2011-04-27T21:34:00.001+07:00</published><updated>2011-04-27T21:36:37.208+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kartini</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Dua puluh satu April, dan seketika wanita-wanita perkasa bermunculan di tiap jengkal tanah nusantara. Menjadi simbol perjuangan dan kepahlawanan, wanita-wanita yang melakukan apa yang biasa dilakukan oleh para lelaki. Berperang seolah bermusuhan dengan lawan jenisnya dan dipuja-puja.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Padahal, Kartini hanya ingin sekolah.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5080028615409716633?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5080028615409716633/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5080028615409716633&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5080028615409716633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5080028615409716633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/kartini.html' title='Kartini'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8099033217504021269</id><published>2011-04-23T10:03:00.000+07:00</published><updated>2011-04-23T10:03:35.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Senjata</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ilmu adalah sebuah senjata. Tanpa keyakinan, hanya akan menjadi penjual senjata. Menjual ke berbagai pihak yang menguntungkan, menciptakan perang yang lebih dahsyat. Dan akhirnya semakin banyak korban yang timbul.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8099033217504021269?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8099033217504021269/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8099033217504021269&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8099033217504021269'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8099033217504021269'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/senjata.html' title='Senjata'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7017803956996073110</id><published>2011-04-22T09:50:00.002+07:00</published><updated>2011-04-22T09:50:39.827+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Apa yang Salah?</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Psikologi adalah mitos dan psikolog adalah "penipu". Terkadang kita memang harus dibohongi terlebih dahulu agar bisa menjadi lebih baik.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7017803956996073110?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7017803956996073110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7017803956996073110&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7017803956996073110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7017803956996073110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/apa-yang-salah.html' title='Apa yang Salah?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-9110364940537510668</id><published>2011-04-20T20:56:00.000+07:00</published><updated>2011-04-20T20:56:07.064+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Yang Terlupakan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/207404_1798217888099_1619337140_1729415_7406591_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://a6.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/207404_1798217888099_1619337140_1729415_7406591_n.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setelah usai dengan ujian Tengah Semester di kampus, kini Indonesia sedang dihadapkan dalam rangkaian Ujian Nasional (UAN). Selama beberapa minggu ini dunia pendidikan akan disibukkan dengan menjaga naskah soal, mendistribusikan, menghitamkan LJK, pengiriman hasil, dsb. Kesibukkan yang menguras waktu dan tenaga.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ujian sendiri telah menjadi momok bagi dunia pendidikan selama beberapa waktu. Mulai dari Ujian Nasional dengan segala pro-kontra dan perbaikan sistem hingga ujian-ujian harian dalam kelas-kelas pendidikan. Celakanya, seringkali kesibukan dan ketakutan kita akan ujian mengkerdilkan makna pendidikan yang sebenarnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat menjadi semakin pragmatis melihat pendidikan formal. Kalimat semisal “&lt;i&gt;Ujian Nasional tidak adil karena jerih payah tiga tahun bergantung pada tiga hari&lt;/i&gt;” merupakan bentuk nyata adanya gejala tersebut. Ilmu dilihat sebatas soal-soal dalam ujian yang kemudian diwujudkan dalam angka-angka dan huruf-huruf tertentu. Huruf tersebut ditulis dalam selembar kertas sakti bernama ijazah, yang merupakan kunci memasuki jenjang pendidikan berikutnya atau pekerjaan. Jadi anak SD belajar agar dapat menghadapi ujian sehingga mendapat nilai baik yang nantinya dipakai untuk mendaftar SMP, anak SMP belajar untuk mendaftar SMA, SMA mendaftar kuliah, dan seterusnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mendadak ilmu menjadi sangat dangkal. Digunakan hanya sebagai formalitas hidup yang harus ditempuh dalam tahap perkembangan. Pendidikan dihargai sebatas sebuah kewajiban. Akibatnya ilmu menjadi sebatas formalitas yang hinggap sementara waktu dalam masing-masing tahapan kemudian hilang tanpa bekas.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika memang begitu adanya, maka kita sebagai hamba pendidikan seharusnya malu. Kita yang telah lupa akan keingintahuan dan pencarian akan kebenaran. Kita lupa akan fungsi utama dari ilmu. Ilmu hanya dihapalkan karena harus dan dikembangkan karena memiliki harga, bukan dicari karena keingintahuan akan kebenaran yang hakiki. Padahal Tuhan telah memberikan akal kepada manusia untuk membedakan mana yang baik dan buruk.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sudah seharusnya kita kembali pada hakikat hamba ilmu yang sesungguhnya. Kita yang mencintai ilmu, bukan sebagai kewajiban ataupun sebatas penghargaan dalam bentuk lembaran uang. Tetapi kita mencintai ilmu karena itu memberikan kita pengetahuan. Ilmu yang menunjukkan kita pada kebenaran yang hakiki.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendidikan formal tidak dihargai sebatas angka-angka dalam lembar akhir tetapi ilmu yang telah kita miliki. Sebatas mana ilmu tersebut telah berguna bagi kehidupan kita. Sehingga nantinya tidak ada lagi klaim ketidakgunaan pendidikan. Bukan ujiannya yang utama, tetapi bagaimana proses pendidikan yang kita jalani sebelumnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga tidak masalah ujian macam apapun yang akan menghadang. Sejatinya, ilmu kita tidak akan berkurang sedikitpun karena lembar-lembar soal. Tapi kita yang menghargai ilmu sebatas lembar soal, maka ilmu tersebut akan menghilang bersama lembaran jawaban yang ditelan oleh waktu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu mengapa kita penjarakan ilmu ke dalam kelas-kelas dan hanya diwujudkan dalam angka-angka? Bebaskan lah ilmu dari penjara yang telah kita ciptakan tersebut. Sehingga kita bisa mencintainya dan keindahannya akan mewarnai kehidupan kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-9110364940537510668?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/9110364940537510668/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=9110364940537510668&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/9110364940537510668'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/9110364940537510668'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/yang-terlupakan.html' title='Yang Terlupakan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6927088340171412521</id><published>2011-04-16T21:05:00.002+07:00</published><updated>2011-04-18T20:12:09.369+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Selalu Terdepan</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Karena mereka berpikir, sedangkan kita hanya mengutip pemikiran mereka.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6927088340171412521?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6927088340171412521/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6927088340171412521&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6927088340171412521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6927088340171412521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/selalu-terdepan.html' title='Selalu Terdepan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5695776902184719133</id><published>2011-04-16T18:43:00.000+07:00</published><updated>2011-04-16T18:43:06.410+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Hakim?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Mengapa kita lebih suka menghakimi atas apa yang tidak dilakukan orang lain daripada mengapresiasi apa yang telah mereka lakukan? Entahlah.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri &amp;nbsp;dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (49:11)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5695776902184719133?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5695776902184719133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5695776902184719133&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5695776902184719133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5695776902184719133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/hakim.html' title='Hakim?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-347150770197913706</id><published>2011-04-15T07:29:00.003+07:00</published><updated>2011-04-15T07:30:25.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mata bicara'/><title type='text'>Berikan Waktu untuk Menjelaskan Sebelum Menghakimi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/208530_1812648928866_1619337140_1748638_2721697_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://a2.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/208530_1812648928866_1619337140_1748638_2721697_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-347150770197913706?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/347150770197913706/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=347150770197913706&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/347150770197913706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/347150770197913706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/berikan-waktu-untuk-menjelaskan-sebelum.html' title='Berikan Waktu untuk Menjelaskan Sebelum Menghakimi'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8081995862356000786</id><published>2011-04-14T11:06:00.001+07:00</published><updated>2011-04-14T11:15:32.705+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media massa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Kepada Yth. Mereka yang Berada di Layar Kaca</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://keanggian.files.wordpress.com/2009/11/cermin.jpg%3fw=350" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="228" src="http://keanggian.files.wordpress.com/2009/11/cermin.jpg%3fw=350" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;adverta.rs&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalian adalah orang-orang yang spesial. Ketampanan dan kecantikan telah kondang bahkan sebelum dilahirkan. Begitu juga dengan pesona yang mampu menyihir semua orang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlebih dalam dunia yang hampir di seluruh rumah terdapat kaca yang bersinar, wajah kalian telah memasuki rumah-rumah kami. Dan kehidupan kami. Meski kita tidak saling kenal, kalian banyak berpengaruh pada kehidupan. Pesona, kecantikan, dan ketampanan telah merasuk ke setiap neuron-neuron dalam otak hingga sumsum tulang belakang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sadar atau tidak, kalian mengajarkan kepada kami ilmu kehidupan. Baik buruk, pantas tidak pantas, cantik, tampan, gaya hidup, sopan santun, dan sebagainya. Para psikolog menyebutnya &lt;i&gt;unconscious. &lt;/i&gt;Mereka juga menciptakan berbagai istilah untuk menyebutnya, em apa itu, &lt;i&gt;modelling&lt;/i&gt;? Atau mungkin sugesti?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Apapun itu telah membuat kami membeli pelitur yang menyembunyikan warna kecoklatan kita yang alami, vitamin yang dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, pengharum yang menusuk hidung orang lain, dan sebagainya. Bahkan kami menjadi tahu bagaimana seharusnya kita berpakaian, berperilaku, dan mengumpat orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dahulu, kami berpikir bahwa itu semua hanyalah ilusi dramatis dari kehidupan. Kami tidak sungguh-sungguh percaya pada apa yang kami lihat. Namun ketidakpercayaan tersebut terkikis secara perlahan tanpa disadari, dan menanamkannya menjadi sebuah realita standar kehidupan. Dari situlah kami mendefinisikan apa itu baik, keren, gaul, modis, dsb. Kami dipertontonkan tentang kehamilan di luar nikah agar merasa iba, kesedihan yang dieksploitasi menjadi hiburan, perseteruan dan perkelahian menjadi berita biasa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ternyata kehidupan kalian pun tidak jauh dari tontonan, begitu pula kehidupan kami. Seiring kemajuan zaman, kehamilan pun bisa mengalami akselerasi bak sekolah-sekolah. Kehidupan menjadi kelas Internasional dimana semuanya berbahasa Inggris. Isa-isa lain lahir dari rahim-rahim ibu tak bersuami. Bintang porno pun tak masalah selama sudah insyaf.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Awalnya kami mencibir, mencemooh, dan sebagainya. Lama kelamaan kami lelah seiring bertambah banyaknya yang harus dijauhi, jadi kami diam. Lantas semua menjadi sesuatu yang biasa saja. Wajar, sebuah kata yang membenarkan setiap tindakan salah yang kita lakukan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalian bisa mengelak bahwa itu kehidupan pribadi kalian dan bersembunyi di balik &lt;i&gt;&lt;a href="http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/02/masyarakat-daging-babi.html"&gt;daging babi&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;. Begitu pula kami akan berusaha menjauhi kalian. Tetapi hubungan kita jauh lebih dalam daripada apa yang dibayangkan. Dan kita tidak bisa begitu saja berpisah.&amp;nbsp;Kalian memang orang-orang dengan anugerah yang luar biasa. Hubungan kita begitu dalam bahkan kepada anak-anak kita yang masih di dalam kandungan. Mungkin ini memang takdir Tuhan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karenanya saya memohon untuk tidak lagi mempertontonkan apa yang tidak disampaikan orang tua kita kepada anak-anaknya. Lakukanlah demi siapa pun yang kita cintai. Ajarkan kepada kami mana yang baik dan buruk, sesuai dengan yang telah orang tua kita ajarkan bukan apa yang kita lakukan. Biarkan saja jika ternyata itu munafik, tetapi kepalsuan yang indah kelamaan akan menjadi kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Great Power, Great Responsibility&lt;/i&gt;. Bahkan jika memang itu hak kalian, maka tolong relakanlah hak tersebut demi orang lain. Sebuah pengorbanan. Muhammad tidak pernah memaksa orang untuk masuk Islam, maka saya pun sama tidak berhaknya untuk memaksa anda. Saya hanya memohon, meminta. Kewajiban saya hanyalah menyampaikan, selebihnya itu urusan anda dengan Tuhan. Tuhan yang ada dalam kehidupan publik maupun kehidupan pribadi kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8081995862356000786?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8081995862356000786/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8081995862356000786&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8081995862356000786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8081995862356000786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/kepada-yth-mereka-yang-berada-di-layar.html' title='Kepada Yth. Mereka yang Berada di Layar Kaca'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1150597682786439548</id><published>2011-04-12T21:59:00.001+07:00</published><updated>2011-04-12T22:01:19.825+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media massa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Layar Moral</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika retsleting celana dibuka, keluarlah nafsu dari sangkarnya. Ibarat orang kelaparan yang kemudian memakan seluruh isi dunia. Kita mungkin jarang merasakan kebebasan, bukan berarti lantas kita menuhankan kebebasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masih ada dalam ingatan ketika negeri ini dipimpin oleh Jendral yang selalu tersenyum di hadapan layar kaca. Itu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ketika apa yang kita lihat penuh dengan kepalsuan. Kepalsuan yang indah.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata orang, sepahit apapun kenyataan lebih baik daripada kebohongan. Entahlah, kupikir mereka yang berkata demikian belum pernah merasakan kenyataan yang benar-benar pahit dalam hidupnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mengapa kita tidak hidup saja dalam kepalsuan? Toh setelah kita lama tinggal disana kita akan menganggapnya kenyataan. Jika kita bisa bahagia dengan kepalsuan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Atau kita lebih suka dengan kenyataan, justifikasi atas tindakan tidak bermoral kita yang masih saja ditampakkan dalam layar dunia. Hak Asasi Manusia yang membolehkan kita berbuat tidak bermoral atas nama pribadi, melarang orang lain mengajarkan kebajikan pada orang lain dengan dalih pemaksaan dan kebebasan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika moral adalah sebuah kepalsuan dan mitos masa lalu, maka lebih baik tinggal dalam mimpi daripada kenyataan.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1150597682786439548?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1150597682786439548/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1150597682786439548&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1150597682786439548'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1150597682786439548'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/layar-moral.html' title='Layar Moral'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-4026294111517188577</id><published>2011-04-12T19:44:00.002+07:00</published><updated>2011-04-12T19:44:29.078+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>?</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;i&gt;Semua bisa bertanya, tetapi siapa yang bisa menjawab?&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-4026294111517188577?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/4026294111517188577/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=4026294111517188577&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/4026294111517188577'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/4026294111517188577'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/blog-post.html' title='?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1946199219951318437</id><published>2011-04-11T09:22:00.001+07:00</published><updated>2011-04-12T22:04:08.578+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Menjaga Otak</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Munkar dan Nakir bertanya: "Kami telah memberimu sebuah otak, apa yang telah kamu lakukan terhadapnya?"&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Hamba: "Oh itu, tenang saja. Otakku telah kujaga dengan baik dan masih sama seperti ketika Kalian memberikannya padaku. Aku bahkan tidak menggunakannya sama sekali seumur hidupku."&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1946199219951318437?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1946199219951318437/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1946199219951318437&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1946199219951318437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1946199219951318437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/menjaga-otak.html' title='Menjaga Otak'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3290711612431758930</id><published>2011-04-10T10:02:00.001+07:00</published><updated>2011-04-10T22:12:14.330+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Serakah #3: Kontradiksi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kontradiksi. Perlawanan antara dua hal yang berbeda, mungkin ada dalam masing-masing benak. Karena mata hati dan logika seringkali bertabrakan. Atau dalam bahasa ilmiah kita sebut saja &lt;i&gt;cognitive dissonance&lt;/i&gt;. Sialnya kita sering tidak tahu apa yang harus kita lakukan, bahkan mungkin kita tidak tahu kontradiksi itu sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kita yang Cukup&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita yang dihidupi oleh alam yang begitu melimpah. Kita ambil saja secukupnya. Karena kita tahu bahwa alam yang menghidupi kita sejatinya akan hancur oleh tangan kita sendiri. Tangan kita tidak lebih luas dari sebuah bola sepak, namun dapat menghancurkan alam seluas bola dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kemudian kita diajarkan untuk mengambil secukupnya. Hidup sederhana. Ambil yang perlu bukan yang ingin karena sejatinya keinginan tiada berbatas. Dan sisakan juga untuk masa depan karena bukan satu atau dua bulan kita hidup di alam fana lagi. Terlebih karena kita mencintai anak-anak kita, maka kita sisihkan juga untuk mereka.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak-anak kita pun mencintai anak-anaknya, begitu seterusnya. Lantas kita diajarkan untuk menghormati alam. Mengambil secukupnya, dan biarkan sisanya menjadi hak dari dunia. Hidup bukan tentang memanfaatkan alam, tetapi lebih dari itu ada suatu esensi kehidupan dari tiap insan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seiring waktu berjalan kita terlupakan oleh semua itu, namun nilai-nilai tidak secepat itu musnah. Kita terbiasa hidup dalam kecukupan tanpa berusaha lebih. Kita ditakut-takuti dengan keserakahan yang akan meghancurkan dunia, namun kita lupa makna sejatinya. Jadi kita hidup dalam kecukupan bukan karena ingin, tapi karena tidak biasa berusaha. Kita tidak ingin bergerak, bukan menahan diri untuk bergerak. Kontradiksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kita yang Berusaha&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alam tidak sesederhana yang kita pikirkan dan kita tidak pernah tahu masa depan. Kita hidup di alam yang keras, bung! Jangankan untuk masa depan, syukur sekali kita bisa meraih sesuatu dari alam saat ini. Tidak pernah terlintas dalam pikiran kita akan merusak alam, karena kita hidup di alam yang sudah rusak.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka yang harus kita lakukan adalah membangun alam, minimal untuk kepentingan kita sendiri. Meski tanah ini gersang, kita berusaha untuk menanaminya. Minimal menanam yang kita makan untuk bertahan hidup. Dan ketika alam memberi sesuatu kepada kita, maka sudah semestinya kita manfaatkan sebaik mungkin selagi masih ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seperti waktu yang dapat menghapus luka, dia juga melakukan hal yang sama terhadap tujuan. Perlahan kita tidak lagi melakukannya untuk hidup, tetapi karena kita suka melakukannya. Kita terjebak dalam permainan angan-angan kita sendiri. Lalu kita gembira ketika meraihnya. Kita ciptakan lagi, raih lagi, ciptakan lagi, raih lagi, ciptakan lagi. Sebuah proses tiada berujung.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini tidak lagi tentang kehidupan, ini tentang kegembiraan. Sialnya juga, kita yang hidup di alam keras ini tidak pernah menyadari bahwa tangan kita yang kecil mampu menghancurkan dunia yang besar ini. Kontradiksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kontradiksi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Jamane jaman edan, ra edan ra keduman&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perubahan itu pasti. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Bahkan jika kita diam sekalipun pasti orang lain akan membuat perubahan, dan kita juga yang akan kena dampaknya. Karena kita hidup dalam dunia yang saling mempengaruhi.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dan ini, tidak akan ada habisnya. Kita bisa saja menjadi mencapai Zen dan keluar dari gejolak tanpa akhir ini atau kita bisa ikut bermain dalam dunia yang semakin gila. Atau dalam yang lebih mulia, kita berenang untuk mengajak orang lain keluar dari kolam kehidupan yang semakin bergelombang.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka disinilah pilihan. Kita yang merasa kaya, atau kita yang merasa miskin. Tidak ada yang sempurna, tetapi mana yang lebih kita sukai.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3290711612431758930?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3290711612431758930/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3290711612431758930&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3290711612431758930'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3290711612431758930'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/serakah-3-kontradiksi.html' title='Serakah #3: Kontradiksi'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8446069068456958366</id><published>2011-04-09T16:28:00.002+07:00</published><updated>2011-04-09T16:37:20.188+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Serakah #2</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Apakah karena kita hidup dalam hutan yang akan rusak oleh tangan manusia sehingga kita diajarkan untuk mengambil secukupnya. Lantas mereka hidup dalam dunia yang keras sehingga harus mengambil sebanyak mungkin selagi masih ada. Serakah, eh?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;se·ra·kah &lt;/b&gt;a selalu hendak memiliki lebih dr yg dimiliki; loba; tamak; rakus: meskipun sudah kaya, ia masih -- juga hendak mengangkangi harta saudaranya;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8446069068456958366?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8446069068456958366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8446069068456958366&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8446069068456958366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8446069068456958366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/serakah-2.html' title='Serakah #2'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1715021900104103389</id><published>2011-04-07T19:54:00.002+07:00</published><updated>2011-04-09T16:26:53.971+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Serakah #1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&amp;nbsp;How much is "enough"?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1715021900104103389?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1715021900104103389/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1715021900104103389&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1715021900104103389'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1715021900104103389'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/serakah.html' title='Serakah #1'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5737219530609237866</id><published>2011-04-07T19:54:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T19:54:14.445+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mata bicara'/><title type='text'>Apakah Kita Benar-Benar Telah Memperhatikan Sekitar?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/207983_1798202847723_1619337140_1729410_3126729_n.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc6/207983_1798202847723_1619337140_1729410_3126729_n.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5737219530609237866?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5737219530609237866/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5737219530609237866&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5737219530609237866'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5737219530609237866'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/apakah-kita-benar-benar-telah.html' title='Apakah Kita Benar-Benar Telah Memperhatikan Sekitar?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-438199070973131818</id><published>2011-04-07T08:37:00.000+07:00</published><updated>2011-04-07T08:37:31.839+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='media massa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Great Power, Great Responsibility</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Mereka yang memiliki kekuasaan yang besar memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar pula. Bagaimana dengan media massa saat ini?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-438199070973131818?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/438199070973131818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=438199070973131818&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/438199070973131818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/438199070973131818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/great-power-great-responsibility.html' title='Great Power, Great Responsibility'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3942229393640821952</id><published>2011-04-06T22:38:00.002+07:00</published><updated>2011-04-09T18:15:50.490+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>"Membunuh" Tuhan dengan Rasionalitas</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tunggu saja saatnya. Katholik dan kristen kian mati karena pengikutnya mulai rasional. Begitu pula dengan agama lain termasuk Islam. Ada kalanya nanti Islam pun mulai kehilangan pengikutnya karena masyarakat mulai rasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu lah kira-kira yang hendak disampaikan salah seorang dosen saya ketika menjalani perkuliahan. Terlepas dari setuju atau tidaknya, dan terlepas dari ketidaktahuan dosen tersebut akan fakta-fakta terkini yang menunjukkan hal sebaliknya (misalnya mengapa orang-orang eropa yang konon katanya rasional justru makin banyak yang masuk Islam dan bahkan, populasi muslim telah berhasil melampaui populasi Katholik di dunia), namun apa yang beliau katakan ada benarnya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak akan membahas tentang agama dalam hal ini, namun benar kiranya rasionalitas membunuh hal-hal lain termasuk diantaranya agama, nasionalisme, harga diri, dsb.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya teringat ketika agresi Israel ke Palestina, hampir setiap aksi massa saya ikuti, entah oraganisasi apa itu. Namun saya sempat heran ketika orang-orang mencemooh apa yang kami lakukan. Setelah saya pikir, emang tidak rasional apa yang kami lakukan. Bahkan kalaupun kami setiap hari turun ke jalan, agresi Israel tetap akan terjadi. Jadi secara rasional apa yang kami lakukan sia-sia? Uang yang kami kumpulkan juga tidak seberapa.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika Masyarakat sibuk meneriakkan ganyang Malaysia beberapa waktu ini, seorang dosen saya chat dengan saya dan mengatakan keheranannya. Mengapa orang-orang Indonesia sibuk berteriak-teriak marah kepada Malaysia? Padahal di Malaysia malah justru adem ayem. Kenapa orang-orang Indonesia sangat reaktif? Reaksi masyarakat Indonesia yang berlebihan itu dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia pemikirannya kurang Rasional.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu saya membayangkan sebuah tatanan masyarakat rasional. Masyarakat yang ketika Israel melakukann agrresi maka mereka diam saja dan membiarkan saja hal tersebut dan menyerahkan semuanya pada diplomasi. Masyarakat yang ketika pemerintah melakukan privatisasi terhadap sektor-sektor penting negara demi dua kata, yaitu: efektif dan efisien, mereka akan diam saja dan hanya sekedar perang opini di internet. Masyarakat yang ketika harga dirinya dilecehkan tetap tenang dan mencoba untuk berdiplomasi. Seperti itukah yang diharapkan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya lebih melihat masyarakat semacam itu sebagai masyarakat apatis daripada masyarakat rasional. Pemikiran manusia yang rasional, terkadang justru menjadikan kita manusia apatis. Kita meliihat segala feniomena sebagai suatu hal yang biasa saja dan memakluminya.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebenarnya hal ini juga saya alami di tempat kuliah saya dimana ajaran yang diajarkan mengubah kami menjadi orng semacam itu. Sebagian dari kami menyebutnya nihilisme sedangkan sebagian dari kami melihatnya sebagai positif thinking.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya menyadari ada sesuatu yang lebih daripada sekedar rasional. Ada kalanya kita harus berbuat tidak rasional, mengapa? Karena itulah yang akan mewarnai hidup. Ada kalanya kita melakukan sesuatu yang tidak rasional dan tidak masuk akal, namun kita yakin itu benar. Terkadang kita harusmemiliki rasa percaya yang tidak rasional semacam itu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sekali-kali cobalah ikut turun ke jalan melakukan hal-hal yang tidak rasional. Sekali-kali mengototlah membela pendapatmu meski itu tidak rasional. Maka kamu akan menemukan bahwa hidup kita tidak hanya tentang rasional, akal, dan berpikir.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika nasionalisme disamakan dengan chauvinisme dan fanatik sempit, ketika penegakkan akidah dianggap sebagai pelanggaran atas kebebasan beragama, ketika pencegahan kepada yang mungkar dianggap sebagai ikut campur atas kehidupan pribadi, saat itukah rasionalitas berada di setiap kepala manusia?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis pada Oktober 2009 di sebuah &lt;/i&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=164226602012"&gt;&lt;i&gt;situs jejaring sosial&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3942229393640821952?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3942229393640821952/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3942229393640821952&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3942229393640821952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3942229393640821952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/membunuh-tuhan-dengan-rasionalitas.html' title='&quot;Membunuh&quot; Tuhan dengan Rasionalitas'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3072430937720320399</id><published>2011-04-06T18:19:00.001+07:00</published><updated>2011-04-06T18:19:37.417+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Mitos?</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;b&gt;Apakah "hukuman sosial" dan moral hanyalah mitos peninggalan nenek moyang kita?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3072430937720320399?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3072430937720320399/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3072430937720320399&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3072430937720320399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3072430937720320399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/mitos.html' title='Mitos?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5618171093944191033</id><published>2011-04-06T11:48:00.000+07:00</published><updated>2011-04-06T11:48:13.838+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mata bicara'/><title type='text'>Becak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-41kLqNjyNz0/TZvwctijAHI/AAAAAAAAAQI/h2B7f1NbsY0/s1600/mangkal.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://4.bp.blogspot.com/-41kLqNjyNz0/TZvwctijAHI/AAAAAAAAAQI/h2B7f1NbsY0/s400/mangkal.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5618171093944191033?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5618171093944191033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5618171093944191033&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5618171093944191033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5618171093944191033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/becak.html' title='Becak'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-41kLqNjyNz0/TZvwctijAHI/AAAAAAAAAQI/h2B7f1NbsY0/s72-c/mangkal.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-698346443040674151</id><published>2011-04-06T11:40:00.000+07:00</published><updated>2011-04-06T11:40:37.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mata bicara'/><title type='text'>Bukankah Perbedaan Membuat Dunia Menjadi Indah?</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3dcpaMIb-iA/TZvup_3b6zI/AAAAAAAAAP4/o09SjyswxXk/s1600/warna-warni+dunia.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://3.bp.blogspot.com/-3dcpaMIb-iA/TZvup_3b6zI/AAAAAAAAAP4/o09SjyswxXk/s400/warna-warni+dunia.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-698346443040674151?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/698346443040674151/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=698346443040674151&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/698346443040674151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/698346443040674151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/bukankah-perbedaan-membuat-dunia.html' title='Bukankah Perbedaan Membuat Dunia Menjadi Indah?'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3dcpaMIb-iA/TZvup_3b6zI/AAAAAAAAAP4/o09SjyswxXk/s72-c/warna-warni+dunia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6863904353115789821</id><published>2011-04-06T09:57:00.001+07:00</published><updated>2011-04-06T18:19:21.883+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Meraih</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ketika tangan tidak lagi dapat menggenggam apapun, apakah kita akan berusaha meraih kembali Tuhan?&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #990000;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6863904353115789821?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6863904353115789821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6863904353115789821&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6863904353115789821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6863904353115789821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/meraih.html' title='Meraih'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-5798521299131172034</id><published>2011-04-04T09:04:00.001+07:00</published><updated>2011-04-04T12:39:24.364+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Manusia dan Hukuman</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/2009/04/prison.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://www.babble.com/CS/blogs/strollerderby/2009/04/prison.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;babble.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukuman telah dikenal dan digunakan oleh manusia selama ratusan bahkan ribuan tahun. Bahkan dalam beberapa versi, hukuman pertama yang dialami manusia adalah ketika Adam melanggar larangan Tuhan yang menyebabkan dirinya dan Hawa dihukum dengan diusir dari surga. Hingga kini, manusia masih menerapkan hukuman dalam peradabannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hukuman sendiri telah mengalami perubahan dari yang sebelumnya hanya sebatas bentuk “pembalasan” atas perilaku yang telah diperbuat individu tersebut sebelumnya hingga kini sebagai bentuk "konsekuensi" agar manusia menghindari, mengurangi, atau menghilangkan perilaku tertentu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Para ilmuwan psikologi behavioris-lah yang membawa konsep hukuman dalam bentuk baru tersebut. Mereka yang rata-rata mendapatkan pengaruh kuat filsafat positivistik dari Auguste Comte kemudian berpendapat bahwa perkembangan psikologi saat itu telah melampaui fase yang yang seharusnya. Mereka berpendapat bahwa ilmuan psikologi seharusnya lebih berfokus pada hal-hal yang tampak dan dapat diobservasi secara langsung.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh karena itu Skinner dan kawan-kawan merintis kembali psikologi dari awal. Dengan asumsi bahwa dunia itu kosmos, maka dia percaya bahwa suatu perilaku akan terjadi karena ada yang mengawali dan mengakhiri. Dari pola-pola inilah nantinya diharapkan akan diketahui ilmu psikologi yang sesungguhnya dan dapat digunakan untuk memprediksi, mengetahui, memanipulasi, suatu perilaku yang akan terjadi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Skinner percaya bahwa pada dasarnya manusia dan hewan memiliki pola interaksi yang sama, hanya saja manusia dalam memproses suatu stimulus secara lebih kompleks (Alwisol, 2008). Kekompleksan tersebut diwujudkan oleh para behavioris dalam konsep &lt;i&gt;black box&lt;/i&gt;. Skinner sendiri menggunakan hewan sebagai subjek penelitiannya karena lebih &lt;i&gt;simple&lt;/i&gt; dan tidak serumit manusia. Penggunaan hewan sebagai subjek hingga kini masih sering digunakan oleh para ilmuwan behavioris.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun perkembangan dunia saat ini menuntut agar ilmuwan menjadi semakin pragmatis, ilmu diharapkan untuk bisa menjawab permasalahan-permasalahan nyata secara praktis dengan ilmu-ilmu yang ada. Padahal bisa jadi ilmu-ilmu tersebut masih belum matang dan siap diaplikasikan dalam kehidupan nyata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal inilah yang digugat oleh Lerman dan Vorndran (2002) dalam artikelnya berjudul &lt;i&gt;On The Status of Konwledge for Using Punishment: Implications for Treating Behavior Disorder&lt;/i&gt;. Mereka mempertanyakan dasar-dasar dari konsep &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; (hukuman) dari aliran behavioris. Menurut mereka konsep-konsep tersebut belum benar-benar matang dan belum siap diaplikasikan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Alih-alih memperdalam penelitian tentang faktor-faktor utama yang mempengaruhi, para ilmuwan saat ini justru lebih banyak meneliti berbagai bentuk prosedur dari aplikasinya dan bukan mempelajari faktor-faktornya secara mendalam. Padahal banyak dari konsep-konsep behavioris yang “belum siap” untuk diaplikasikan ke dalam kehidupan nyata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagian besar konsep-konsep behavioris dilandaskan atas penelitian dengan subjek hewan dan temuan tersebut seringkali belum direplikasikan kepada manusia dan diteliti secara mendalam. Seharusnya konsep-konsep tersebut diujikan terlebih dahulu pada manusia sebelum diaplikasikan ke dalam bentuk treatmen-treatmen perilaku.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Punishment&lt;/i&gt; sendiri sebagai salah satu konsep yang lahir dari rahim para behavioris dipertanyakan efeknya secara langsung pada manusia. Mengingat tidak semua teori atau konsep yang dihasilkan dapat diaplikasikan kepada manusia. Konsep &lt;i&gt;Law of Readiness&lt;/i&gt; dari Thorndike misalnya ketika direplikasikan pada manusia ternyata gagal. Maka pertanyaannya adalah bagaimana &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; berakibat pada manusia?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penelitian yang dilakukan oleh Wood (2007) merupakan sebuah contoh bahwa manusia merespon stimulus dengan lebih kompleks dibandingkan hewan. Dalam penelitiannya berjudul &lt;i&gt;Exploring the Positive Punishment Effect Among Incarcerated Adult Offenders&lt;/i&gt; menunjukkan bahwa hukuman tidak begitu saja secara otomatis mengubah perilaku manusia seperti yang diharapkan. Penelitian ini menunjukkan adanya respon berbeda-beda dari para narapidana dalam menerima stimulus berupa hukuman ini. Pada sebagian narapidana, &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; justru menjadi semacam bentuk penguat atas perilaku kriminal yang mereka lakukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ternyata ada berbagai faktor yang mempengaruhi efektivitas &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; itu sendiri pada manusia. Salah satunya adalah seperti yang disebutkan dalam penelitiannya Prooijen, Galluci, dan Toeset (2008) adalah tentang persepsi terhadap keadilan. Mereka yang merasa tidak adil dalam mendapatkan &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; akan mengurangi efek &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; itu sendiri dan dalam kondisi tertentu justru meningtkatkan perilaku yang akan dihilangkan. Selain itu masih banyak faktor-faktor lain yang harus diteliti sebelum dapat diterapkan secara langsung.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ini menunjukkan bahwa banyak konsep-konsep yang lahir dari rahim para behavioris sebenarnya belum siap untuk diaplikasikan. Perlu penelitian dan kajian lebih dalam terhadap faktor-faktor dan hukum-hukum yang berlaku pada manusia.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kaitannya dengan penggunaan konsep-konsep tersebut sebagai bentuk modifikasi perilaku pun masih mengalami tanda tanya. Selama ini memang berbagai bentuk modifikasi perilaku menggunakan pendekatan ini cukup berhasil dalam setting klinis. Namun efek jangka panjang dari penggunaannya pun jarang diteliti.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut saya modifikasi perilaku dengan pendekatan ini hanya bersifat semu. Hal ini seperti yang telah disebutkan oleh para behavioris bahwa suatu perilaku akan mengalami kemusnahan jika tidak terus menerus diperkuat, sedangkan dalam kehidupan nyata kita tidak bisa terus menerus memberikan penguatan atas suatu perilaku tertentu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Manusia lebih kompleks daripada hewan, dalam artian bahwa manusia memiliki akal. Drs. Martono (dosen Psikologi UGM) pernah mengatakan bahwa &lt;i&gt;reward&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; tidak akan menghasilkan perilaku yang seperti kita harapkan, tetapi sebatas perilaku untuk mendapatkan &lt;i&gt;reward&lt;/i&gt; itu sendiri dan menghindari &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; yang ada. Dengan akal yang ada, manusia cenderung “mengakali” prosedur yang ada dan menciptakan &lt;i&gt;shortcut&lt;/i&gt; untuk mendapatkan &lt;i&gt;reward&lt;/i&gt; dan menghindari &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; tanpa harus melakukan perilaku tertentu. Hal ini telah dipraktekkan oleh Uichol Kim dan membuat dirinya sadar sehingga membuat sebuah pendekatan yang disebut &lt;i&gt;Indigenous Psychology&lt;/i&gt;.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka sekali lagi kita terdampar dalam dilematis keilmuan klasik, antara pragmatis dan teoritis. Di satu sisi masyarakat menuntut nilai praktis dari setiap ilmu yang ada. Perlu kita akui juga bahwa banyak keberhasilan dalam penggunaan konsep &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt; dalam setting tertentu. Namun di sisi lain ada tanggung jawab lain dimana kita sebagai ilmuwan untuk tidak begitu saja menggunakan konsep yang belum diuji kebenaran dan efeknya secara teoritis.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Bibliography:&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;Alwisol. 2008. Psikologi Kepribadian edisi revisi. Malang: UMM Press&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Lerman, D. &amp;amp;. (2002). On The Status of Knowledge for Using Punishment: Implications for Treating Behavior Disorder. Journal of Applied Behavior Analysis , 431-464.&lt;br /&gt;Prooijen, J.-W. v., Galluci, M., &amp;amp; Toeset, G. (2008). Procedural Justice in Punishment Systems: Inconsistent Punishment Procedures have Detrimental Effects on Cooperation. British Journal of Social Psychology , 311-324.&lt;br /&gt;Wood, P. (2007). Exploring the Positive Punishment Effect Among Incarcerated Adults Offenders. American Journal of Criminal Justice , 8-22.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-5798521299131172034?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/5798521299131172034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=5798521299131172034&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5798521299131172034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/5798521299131172034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/manusia-dan-hukuman.html' title='Manusia dan Hukuman'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7968629455122523115</id><published>2011-04-03T11:50:00.000+07:00</published><updated>2011-04-03T11:50:23.404+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Sakit</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;sakit&lt;/b&gt; sa.kit&amp;nbsp;[a] berasa tidak nyaman di tubuh atau bagian tubuh krn menderita sesuatu&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Sebenarnya ada berapa macam sakit. Dahulu kita mengatakan sakit jika tubuh kita merasa tidak enak karena ada yang tidak beres secara fisik atau &lt;b&gt;sakit fisik&lt;/b&gt;. Kemudian kita menganggap orang lain yang tidak bertindak seperti seharusnya sebagai &lt;b&gt;sakit jiwa&lt;/b&gt;. Apabila kita merasa tidak enak terhadap apa yang kita alami secara mental kita akan menganggap diri kita &lt;b&gt;sakit mental&lt;/b&gt;. Lalu ketika kita merasa diri kita tidak sesuai harapan orang-orang di sekitar kita dan tidak berperilaku secara "normal" apakah kita disebut &lt;b&gt;sakit sosial&lt;/b&gt;?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7968629455122523115?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7968629455122523115/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7968629455122523115&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7968629455122523115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7968629455122523115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/04/sakit.html' title='Sakit'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8753477505410362587</id><published>2011-03-30T21:50:00.006+07:00</published><updated>2011-04-09T18:15:41.580+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Kebijakan Educopolis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-ZiO4ODoxVkE/TZvvET7SvgI/AAAAAAAAAP8/FmvE132Q5G0/s1600/ugm.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="267" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZiO4ODoxVkE/TZvvET7SvgI/AAAAAAAAAP8/FmvE132Q5G0/s400/ugm.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Akhir-akhir ini kampus Gadjah tempat saya menimba ilmu sedang dilanda perseteruan. Bagai dunia persilatan yang penuh persaingan maupun dunia politik yang penuh intrik, satu sama lain saling menjatuhkan argumen satu dengan lainnya. Mulai dari diskusi-diskusi publik hingga debat kusir tanpa akhir, semua mempertahankan pendapat masing-masing dengan berbekal kepercayaan akan sebuah kebenaran dalam genggaman masing-masing pihak (lebay).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Intinya, kebenaran adalah tergantung pada kacamata yang kita gunakan. Kita akan selalu melihat kegelapan bila menggunakan kacamata hitam. Maka seharusnya kita saling bertukar kacamata untuk saling memahami, bukankah Tuhan menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenali dan bukan bermusuhan?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Pro&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (Al-Hujurat:12)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Lalu Lintas&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pengaturan adalah suatu keharusan. Itulah mengapa manusia cenderung menciptakan tatanan sosial agar tercipta aturan. Karena dalam hidup ini kita juga hidup dengan orang lain. Maka diciptakanlah aturan demi kepentingan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga dengan wilayah UGM sebagai sebuah kampus yang terletak di tengah kota. Dengan semakin banyaknya penduduk Jogja dan kepadatan lalu lintas maka pengaturan adalah sebuah keharusan bukan hanya dalam lingkup UGM tetapi juga di level propinsi, nasional, maupun dunia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu isu yang menyeruak saat ini adalah kepadatan lalu lintas. Bukan hanya dalam lingkup kampus tetapi ini menjadi masalah penting di tingkat propinsi karena kepadatan lalu lintas di Jogjakarta sudah mulai mengkhawatirkan. Maka wajar pula jika UGM mengeluarkan kebijakan pengaturan lalu lintas di wilayahnya salah satunya dengan kebijakan educopolisnya yang berusaha mengurangi kepadatan lalu lintas di wilayah kampus.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kalau boleh jujur, ini cukup berhasil. Jika kita amati daerah sekitar Boulevard dan kompleks sosio-humaniora sudah cukup lenggang tidak sepadat dahulu sebelum kebijakan ini diterapkan. Maka saya pikir sudah tepat dengan adanya regulasi untuk mengatur kepadatan lalu lintas di UGM.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Keamanan&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Saya ingat betul beberapa tahun lalu UGM bukanlah kawasan yang benar-benar ramah bagi masyarakat. Mulai dari mobil goyang di daerah lembah dan kompleks perumahan sosio-humaniora. Selain itu banyak terjadi pemalakan di daerah-daerah kampus yang rawan (misal sekitaran maskam).&amp;nbsp;Parkir liar pun menjamur dengan tarif bisa berkali-kali lipat dari tarif normal. Hingga tawuran pelajar yang tidak jarang juga terjadi di lingkungan UGM sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perlu diakui juga sejak diberlakukannya kebijakan ini mobil goyang, tawuran, dan pemalakan sudah mulai berkurang di sekitaran wilayah sosio-humaniora. Kampus menjadi relatif lebih tertib dan aman. Tawuran juga tidak sebanyak dahulu.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di sisi lain parkir liar juga mulai menghilang. Dalam acara wisuda misalnya seringkali muncul parkir liar yang harganya bisa mencapai lima ribu rupiah. Bandingkan dengan sekarang dengan kebijakan ini hanya membayar dua ribu rupiah untuk mobil dan penjagaannya relatif &lt;i&gt;lebih meyakinkan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;dibanding parkir liar yang biasa muncul.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka wajar jika sebagian pihak tidak keberatan dengan tarif yang diberlakukan karena menggunakan perbandingan keadaan sekitar. Seperti halnya yang dikatakan dalam teori deprivasi relatif dimana orang akan merasa adil atau tidak dengan cara membandingkan. Dalam hal ini para pengendara membandingkan tarif yang dibayarkan untuk memasuki wilayah UGM dengan tarif parkir. Dalam kondisi harga yang sama dan jaminan keamanan yang lebih &lt;i&gt;meyakinkan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;(saya tidak mengatakan lebih baik) maka hal ini dianggap wajar.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Mahasiswa Bayar?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu argumen yang mengemuka adalah bahwa mahasiswa harus membayar untuk memasuki kampusnya sendiri, tidak adil bukan? Bukankah ini sama tidak adilnya dengan ketika saya mau ke Parangtritis saya harus membayar tiket masuk, membayar parkir, kamar mandi, dsb. Padahal saya sejak kecil lahir di Jogja dan punya KTP Jogja, kenapa untuk masuk ke pantai di daerah saya sendiri saya juga harus membayar?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Karena semua ada aturannya. Mahasiswa sebenarnya digratiskan dengan membuat KIK. Jadi siapa bilang mahasiswa membayar? Mereka yang membayar adalah mereka yang tidak memiliki KIK. Sama seperti halnya ketika kita tidak memiliki SIM kita juga harus membayar denda. Sehingga argumen menolak KIK karena mahasiswa harus membayar menurut saya kurang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bagaimana dengan Tamu?&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu alasan penolakan lainnya adalah bahwa &lt;i&gt;tamu&lt;/i&gt;&amp;nbsp;kampus juga harus membayar. Sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena UGM juga mengeluarkan &lt;i&gt;kupon KIK gratis&lt;/i&gt;. Kupon ini bisa diperoleh di masing-masing fakultas (beberapa BKM di Gelanggang juga konon katanya memperoleh). Sehingga ketika meninggalkan kampus setelah urusannya selesai, tamu tersebut cukup menunjukkan kupon tersebut tanpa harus membayar. Jadi klaim tersebut untuk menolak kebijakan ini saya rasa kurang tepat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Komersialisasi?&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Salah satu alasan lain dalam penolakan KIK adalah karena dianggap sebagai bentuk komersialisasi. Saya pribadi kurang setuju terhadap hal ini. Selain karena&amp;nbsp;&lt;a href="http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/01/antara-pendidikan-dan-biaya.html"&gt;definisi komersialisasi&lt;/a&gt;&amp;nbsp;itu sendiri, tetapi juga karena saya sebagai mahasiswa psikologi melihat tarif disinsentif itu sendiri dengan cara berbeda (terlebih setelah mendapat penjelasan dari pihak pembuat kebijakan).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Insentif sendiri berarti perangsang atau penambah gairah. Sedangkan disinsentif adalah sebaliknya atau pengurang gairah. Dalam teori modifikasi perilaku (pendekatan behavioris) dikenal istilah&amp;nbsp;&lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt;&amp;nbsp;yaitu suatu bentuk konsekuensi yang diberikan atas suatu perilaku tertentu dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; margin-top: 0px; text-align: justify;"&gt;Dalam hal ini tarif tersebut bukan dimaksudkan untuk mencari keuntungan (saya yakin UGM bisa lebih pintar dalam mencari uang daripada sekedar dengan uang parkir), tetapi agar perilaku masyarakat mondar-mandir di wilayah UGM dengan kendaraaan pribadi bisa berkurang. Syukur-syukur masyarakat kemudian beralih ke sepeda atau kendaraan umum. Hal ini sejalan dengan konsep educopolis yang bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan beralih ke kendaraan umum atau sepeda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kontra&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Orang yang Berkepentingan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu hal yang membuat saya kurang setuju adalah bagaimana pihak pembuat kebijakan mendefinisikan &lt;i&gt;pihak yang berkepentingan&lt;/i&gt; itu sendiri. Seringkali &lt;i&gt;pihak yang berkepentinngan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;ini didefinisikan hanya sebatas tamu akademisi dan orang-orang yang berkepentingan dengan UGM sebagai sebuah institusi pendidikan. Menurut saya pendefinisian semacam ini sangat egois.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal menurut saya mereka yang ke wilayah kampus hanya sekedar jalan-jalan, berolahraga, berwisata, dan sebagainya juga termasuk &lt;i&gt;orang yang berkepentingan&lt;/i&gt;. Kepentingan dalam hal wilayah kampus sebagai wilayah &lt;i&gt;public space&lt;/i&gt; yang kondusif untuk sekedar &lt;i&gt;refreshing&lt;/i&gt;. Maka tidak seharusnya mereka ini dikenai tarif disinsentif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Punishment&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika memang itu tarif disinsentif sebagai sebuah bentuk &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt;, maka pertanyaan berikutnya efektifkah? Seperti yang telah dijelaskan dalam bagian pro di atas, bahwa tarif tersebut tidak memiliki efek jera pada masyarakat karena tarif seperti itu telah dianggap biasa (toh di Jogja mau beli rokok sebatang juga harus parkir dahulu membayar seribu rupiah). Itu berarti bentuk &lt;i&gt;punishment&lt;/i&gt;&amp;nbsp;semacam ini tidak efektif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka satu-satunya alasan atas keberadaan tarif tersebut telah gugur. &lt;i&gt;Punishment&lt;/i&gt;&amp;nbsp;semacam itu tidak efektif. Bisa saja berdalih dengan jika tanpa adanya tarif maka masyarakat &lt;i&gt;yang tidak berkepentingan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;akan bersliweran dan usaha untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di wilayah UGM akan gagal.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Benarkah? Tidak juga. Karena keberadaaan portal sendiri sudah cukup menciptakan tembok psikologis dimana mereka yang tidak benar-benar berniat memasuki wilayah UGM akan menyingkir dengan sendirinya. Sehingga menurut saya keberadaan portal saja sudah cukup tanpa harus menerapkan tarif disinsentif.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pengabdian&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tiga pilar utama perguruan tinggi adalah pendidikan, penelitian dan pengabdian. Namun sayangnya pengabdian seringkali mengalami penyempitan makna menjadi sebatas KKN, proyek fakultas, dan sebagainya. Padahal ada satu hal yang bisa dilakukan UGM tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup banyak yaitu menyediakan &lt;i&gt;public space&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di tengah pembangunan kota tanpa perencanaan dan &lt;i&gt;public space &lt;/i&gt;yang memadai, keberadaan UGM sebagai sebuah ruang terbuka untuk umum tentunya akan sangat berarti. Kampus bukan hanya untuk mereka yang menuntut ilmu, tetapi juga untuk berbagi dengan masyarakat. Bukankah ilmu kita juga digunakan dalam masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pembatasan secara berlebihan dan menjadikan UGM sebagai ruang privat justru menjauhkan akademisi dari laboratorium sosial terbesar mereka. Terlebih di tengah kurikulum pendidikan kita yang &lt;i&gt;semakin sibuk&lt;/i&gt; sehingga kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat semakin berkurang. Suatu hal yang kontras dengan kebudayaan masyarakat Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;b&gt;Membuka Mata&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mau tidak mau kita juga harus melihat dari kedua sisi. Di satu sisi adalah munculnya berbagai permasalahan yang menuntut diselesaikan sehingga memunculkan kebijakan. Kita tidak bisa menolak begitu saja suatu kebijakan dan mengabaikan permasalahan yang ada. Tetapi yang harus kita lakukan adalah bagaimana menyelesaikan masalah yang ada tanpa perlu menimbulkan masalah baru.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di satu sisi kebijakan yang dibuat pihak rektorat kurang memperhatikan faktor-faktor tentang &lt;i&gt;good governance &lt;/i&gt;yang meliputi:&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Partisipasi&lt;/b&gt;: dimana seharusnya setiap kebijakan dibuat dengan partisipasi dari seluruh pihak dengan mengutamakan asas demokrasi dan kebersamaan. Yang terjadi justru rektorat menciptakan kebijakan tanpa pertimbangan pihak lain misalnya mahasiswa sebagai warga terbesar dan bahkan pihak fakultas sendiri (itu yang saya pahami ketika berbagi pikiran dengan dekan saya yang mengatakan tidak mendapatkan sosialisasi apapun). Perwakilan mahasiswa hanya diberitahukan sebagai sebuah bentuk sosialisasi dan dimintai pertimbangan, namun kelanjutannya mengenai penerapannya tidak jelas.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Akuntabilitas&lt;/b&gt;: dimana setiap kebijakan yang ada seharusnya memiliki perhitungan-perhitungan yang rasional dan terukur. Tidak bisa begitu saja menciptakan suatu kebijakan tanpa perhitungan yang tepat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Transparansi&lt;/b&gt;: dimana ada kejujuran dari masing-masing pihak dan kontrol bersama atas kebijakan tersebut. Selama ini kurang adanya sosialisasi yang jelas atas kebijakan tersebut dan &lt;i&gt;statement&lt;/i&gt; dari pihak-pihak terkait yang seringkali bertentangan. Ini menimbulkan munculnya rumor yang memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Keadilan&lt;/b&gt;: dimana pemerataan kebijakan dan kesejahteraan bersama diutamakan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Landasan Hukum&lt;/b&gt;: adanya sebuah lanndasan hukum atas setiap kebijakan yang diciptakan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Faktor partisipasi dan transparansi inilah yang menjadi masalah. Tidak adanya keterlibatan dalam pengambilan kebijakan dan transparansi akan kebijakan itu sendiri menyebabkan timbulnya penolakan. Kebijakan Educopolis ini baru setengah atau mungkin seperempat jalan. Perlu adanya kepastian rencana yang secara rinci atas penerapan kebijakan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tentu harus kita akui kebijakan tidak ada yang sempurna, selalu ada yang cenderung dirugikan dan diuntungkan. Tetapi yang utama adalah bagaimana kebijakan tersebut dapat diterima semua pihak demi kepentingan bersama. Singkirkan ego dan emosi masing-masing, berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah yang ada.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Solusi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bukan tentang sanggup atau tidak sanggup, bukan tentang bisa atau tidak bisa, mau atau tidak mau, tetapi tentang apakah kita mau melakukannya atau tidak, itulah moral. Pihak yang cenderung dirugikan pasti selalu ada. Tetapi bagaimana supaya kerugian itu tidak diderita oleh orang lain itulah pengorbanan. Jika kita mampu memberikan yang terbaik untuk kepentingan orang lain mengapa tidak?&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Buntu&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pihak rektorat menginginkan bentuk penataan kampus yang ideal dimana masyarakat umum tidak lalu lalang begitu saja di wilayah kempus. Bentuk idaman ini seringkali diidentikan kampus UI depok, UII, UNY, dsb. Namun seringkali kita lupa bahwa kampus kita tidak sama dengan kampus-kampus tersebut. Sialnya (atau untungnya?) kampus kita tepat berada di tengan perkotaan sehingga menjadi jalur perjalanan.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu ide yang saya tawarkan adalah dengan menutup jalan-jalan di sekitar sosio-humaniora dan hanya membuka jalan dari arah bunderan UGM. Ini akan menciptakan jalan buntu sehingga masyarakat &lt;i&gt;yang tidak berkepentingan&lt;/i&gt;&amp;nbsp;akan menghindari jalan tersebut. Untuk kluster lain semisal teknik, hukum, dsb saya rasa telah menjadi jalan buntu yang dihindari masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kampus Bebas Kendaraan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ide lainnya adalah dengan menerapkan peraturan pelarangan kendaraan bermotor memasuki portal-portal. Namun tentunya dengan konsekuensi bahwa pihak kampus menyediakan parkir gratis semisal di lembah atau semacamnya. Pelarangan ini bukan hanya sebatas tarif disinsentif namun kebijakan yang tegas. Mungkin bisa dimulai dengan pelarangan kendaraan roda empat yang kemudian dilanjutkan kendaraan bermotor roda dua dan tiga (kecuali kendaraan operasional kampus).&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan ini bukan hanya mengurangi kepadatan di wilayah kampus, tetapi dalam jangka panjang juga berdampak pada kebijakan transportasi di Indonesia. Kebijakan ini akan menciptkan budaya berjalan kaki dan bersepeda (tidak seperti saat ini jarak seratus meter pun menggunakan kendaraan bermotor). Bagi mereka yang gemar meneriakkan isu-isu lingkungan saya pikir ini seharusnya dapat diterima.&amp;nbsp;Setelah budaya jalan kaki muncul, maka budaya penggunaan model transportasi umum pun akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Aku menjamin sebuah rumah di surga paling bawah bagi siapa yang meninggalkan debat meskipun ia benar&lt;/b&gt;, sebuah rumah di surga yang tengah bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun bergurau, dan sebuah rumah di surga paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik (HR. Abu Dawud)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada berbagai kebijakan yang bisa dipikirkan bersama. Mari kita berdiskusi bersama dan menghindari ego dan prasangka-prasangka buruk atas masing-masing pihak. Jangan berdebat dan mempertahankan kebenaran subjektif kita masing-masing, tetapi berdiskusilah untuk kepentingan bersama.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8753477505410362587?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8753477505410362587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8753477505410362587&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8753477505410362587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8753477505410362587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/kebijakan-educopolis.html' title='Kebijakan Educopolis'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-ZiO4ODoxVkE/TZvvET7SvgI/AAAAAAAAAP8/FmvE132Q5G0/s72-c/ugm.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-7392148570739451235</id><published>2011-03-26T22:17:00.003+07:00</published><updated>2011-04-06T11:36:46.700+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mata bicara'/><title type='text'>Rel Kehidupan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Kasihan ya kereta"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Maksudmu?"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Ya seumur hidupnya gitu-gitu aja, jalan di tempat yang sama"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"..."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Meski badannya kokoh besar tidak ada yang berani menantangnya, tetap saja hidupnya diatur lurus seperti itu saja tidak pernah berubah"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Lalu bagaimana dengan kita?"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Maksudmu? Kita kan berbeda, kita berjalan atas kemauan kita sendiri"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Tapi bukankah ada takdir? Bagaimana jika hidup yang kita jalani selama ini ternyata sudah ada yang mengatur. Apa yang selama ini kita kira kita lakukan atas kemauan kita ternyata sudah di atur oleh Tuhan?"&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"..."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;"Bukankah kita sama saja dengan kereta itu? Berjalan di atas rel kita masing-masing. Sadar atau tidak."&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-a_c6kLXqdMU/TZvtiV3fydI/AAAAAAAAAP0/rtggiZUS2oY/s1600/rel.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="213" src="http://4.bp.blogspot.com/-a_c6kLXqdMU/TZvtiV3fydI/AAAAAAAAAP0/rtggiZUS2oY/s320/rel.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-7392148570739451235?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/7392148570739451235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=7392148570739451235&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7392148570739451235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/7392148570739451235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/rel-kehidupan.html' title='Rel Kehidupan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-a_c6kLXqdMU/TZvtiV3fydI/AAAAAAAAAP0/rtggiZUS2oY/s72-c/rel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-970511349461327362</id><published>2011-03-25T10:20:00.002+07:00</published><updated>2011-04-06T18:20:20.942+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kritik</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Kritik akan menjadi sangat berharga dalam dunia yang sempurna. Dan usaha akan menjadi sangat berharga pula dalam dunia yang hancur.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Ini bukan tentang posisi, tetapi adalah tentang harmoni dan frekuensi. Dan janganlah berlebih-lebihan.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-970511349461327362?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/970511349461327362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=970511349461327362&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/970511349461327362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/970511349461327362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/kritik.html' title='Kritik'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3240412369388037824</id><published>2011-03-24T21:05:00.000+07:00</published><updated>2011-03-24T21:05:13.732+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><title type='text'>Jane Elliott's Experiment: Stereotype &amp; Prejudice</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;object width="320" height="266" class="BLOGGER-youtube-video" classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0" data-thumbnail-src="http://2.gvt0.com/vi/6BrFHq-t2VY/0.jpg"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/6BrFHq-t2VY&amp;fs=1&amp;source=uds" /&gt;&lt;param name="bgcolor" value="#FFFFFF" /&gt;&lt;embed width="320" height="266" src="http://www.youtube.com/v/6BrFHq-t2VY&amp;fs=1&amp;source=uds" type="application/x-shockwave-flash"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jane Elliot (1983) adalah seorang guru dan juga seorang aktivis anti-rasis di Amerika Serikat. Dian menciptakan sebuah eksperimen yang kemudian dikenal dengan nama Blue Eyes Brown Eyes Exercise yang bertujuan mendidik masyarakat untuk tidak melakukan rasisme (Elliott, 2003). Permainan ini pertama kali dilakukan pada anak didiknya di SD dengan menerapkan aturan permainan dimana pada hari pertama mereka yang bermata biru mendapatkan perlakukan khusus dan superioritas dan mereka yang bermata coklat mendapat diskriminasi. Kemudian hari berikutnya aturan menjadi sebaliknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Permainan ini sendiri telah banyak diadaptasi dalam berbagai bentuk permainan lainnya misalnya saja Alpha Victoria yang biasa digunakan dalam pembelajaran antar kelompok. Inti dari permainan ini adalah bagaimana peserta bisa memahami tidak hanya secara kognitif tetapi juga secara emosi tentang adanya diskriminasi dan memahami apa yang terjadi pada kelompok lain agar tercipta saling pengertian akan perbedaaan. Dalam bahasa singkat adalah untuk menghapus prasangka (judgement) negatif terhadap orang di luar kelompok kita (outgroup).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sebenarnya bagaimana prasangka bisa terbentuk? Sistem kognitif kita seringkali menciptakan sejenis shortcut untuk memudahkan sistem kerjanya dan overload terhadap informasi berlebihan. Salah satu bentuknya adalah apa yang biasa kita sebut sebagai stereotype, yaitu generalisasi terhadao sekelompokorang yang terlihat memiliki ciri yang sama dan mengabaikan perbedaan antar individu yang ada dalam kelompok tersebut (Aronson, 2007).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stereotype ini sendiri berfungsi untuk membantu kita mendapatkan gambaran tentang seseorang yang belum kita kenal. Misalnya kita telah memiliki stereotype tertentu tentang orang dari suku Sunda, maka ketika kita bertemu orang sunda kita akan langsung menempatkan stereotype tersebut pada dirinya untuk membantu mengenali orang tersebut. Stereotype ini sendiri tidak sepenuhnya salah, bahkan kemungkinan benarnya sangat besar (Kanazawa, 2011).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Stereotype ini sendiri sebenarnya bersifat netral. Namun selain memiliki mekanisme ini, sistem kognisi kita juga memiliki defense mechanism yang membuat diri kita selalu merasa benar. Salah satu caranya adalah adanya kecenderungan untuk menilai secara negatif orang-orang yang berada di luar kelompok kita (outgroup).&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam permainan Alpha Victoria misalnya ada kecenderungan untuk selalu menilai perbedaan dari kelompok lain secara negatif. Sehingga stereotype kita terhadap kelompok lain biasanya juga bernilai secara negatif. Padahal tiap sifat sebenarnya memiliki dua sisi positif dan negatif. Perilaku menyimpan uang misalnya, dalam bahasa positif kita menyebutnya sebagai hemat sedangkan dalam bahasa negatif kita menyebutnya pelit.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inilah yang menyebabkan munculnya prasangka negatif yang kemudian berujung pada rasisme. Misalnya suku Jawa yang lelet dan malas dalam bekerja, suku Sunda yang suka materi, suku Batak yang kasar, dan sebagainya. Padahal kita bisa menilainya secara positif dengan mengatakan suku Jawa yang sabar dan tenang, suku Sunda yang pandai berdandan dan berpenampilan menarik, suku Batak yang tegas dan beraani, dsb.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa begitu saja menghapus stereotype yang kita miliki karena sistem kognisi kita memang membutuhkannya. Yang sebaiknya kita lakukan adalah bagaimana memahami perbedaan yang ada tersebut. Kita seharusnya bisa memandang setiap permasalahan dalam dua sisi yang berbeda.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bentuk pelatihan seperti permainan Alpha Victoria atau Blue Eyes Brown Eyes Exercise termasuk cukup efektif dalam membantu kita memahami perbedaan. Karena program semacam ini tidak hanya menggunakan sistem kognisi dalam menciptakan suatu pemahaman tetapi juga emosi. Dengan mengalami sendiri apa yang terjadi akan membantu kita dalam memahami perbedaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;[49:13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Bibliography&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Aronson, E. W. (2007). Social Psychology. New Jersey: Pearson Education.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Elliott, J. (2003). Retrieved March 24, 2011, from Jane Elliott's Blue Eyes Brown Eyes Exercise: http://www.janeelliott.com/&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kanazawa, S. (2011, March 13). Criminals Look Different From Noncriminals. Retrieved March 2011, 2011, from psychologytoday.com: http://www.psychologytoday.com/blog/the-scientific-fundamentalist/201103/criminals-look-different-noncriminals&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas mata kuliah kesehatan mental&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3240412369388037824?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3240412369388037824/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3240412369388037824&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3240412369388037824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3240412369388037824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/jane-elliotts-experiment-stereotype.html' title='Jane Elliott&apos;s Experiment: Stereotype &amp; Prejudice'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-2562825945460429579</id><published>2011-03-24T13:02:00.001+07:00</published><updated>2011-04-06T18:21:32.736+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Kebenaran</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Pencarianku akan kebenaran hingga saat ini menunjukkan bahwa kebenaran tidak berada dimana pun. Karena kebenaran terletak pada kacamata kita untuk melihat.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: #666666;"&gt;Namun keimananku mengatakan bahwa ada satu kacamata yang paling jernih lensanya, itulah yang menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-B6t3yLpdRzE/TYreRrztcII/AAAAAAAAAOw/dqt8OiDBzIQ/s1600/DSC08640+copy.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="266" src="https://lh6.googleusercontent.com/-B6t3yLpdRzE/TYreRrztcII/AAAAAAAAAOw/dqt8OiDBzIQ/s400/DSC08640+copy.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-2562825945460429579?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/2562825945460429579/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=2562825945460429579&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2562825945460429579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/2562825945460429579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/kebenaran.html' title='Kebenaran'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-B6t3yLpdRzE/TYreRrztcII/AAAAAAAAAOw/dqt8OiDBzIQ/s72-c/DSC08640+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3393351068379212252</id><published>2011-03-23T20:19:00.001+07:00</published><updated>2011-03-23T22:35:31.353+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Pragmatisme dan Masalah</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;prag·ma·tis&lt;/b&gt; a &lt;b&gt;1&lt;/b&gt; bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dng nilai-nilai praktis; &lt;b&gt;2&lt;/b&gt; mengenai atau bersangkutan dng pragmatism&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pragmatis seringkali dianggap memiliki konotasi negatif. Pragmatisme sering diidentikan dengan bentuk penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan. Penghalalan ini seringkali bertentangan dengan nilai moral, budaya, dan adat sehingga dianggap sebagai musuh bersama sebuah kebudayaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal pragmatis sendiri adalah suatu hal yang sifatnya netral. Tergantung sejauh mana pragmatis itu sendiri diterapkan dan dalam konteks apa. Pragmatis bisa menjadi positif, negatif, dan netral tergantung pada konteksnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam konteks tertentu misalnya, pragmatis dianggap sebagai salah satu unsur kebijaksanaan. Dimana dengan bertindak pragmatis kita dapat menyelesaikan sebuah permasalahan dengan tepat tanpa harus berbelit-belit. Misalnya cerita tentang astronot AS yang sibuk menciptakan ballpoint yang mampu bertahan di luar angkasa sedangkan para astronot Rusia cukup menggunakan pansil untuk mengatasi masalah tersebut adalah sebuah contoh bentuk pragmatis yang bersifat positif.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bentuk lain dari pragmatis yang memiliki konotasi positif adalah efektif dan efisien. Efektif adalah sejauh mana langkah yang kita ambil sesuai untuk mencapai tujuan kita. Sedangkan efisiensi adalah rasio input dibandingkan dengan output dalam mencapai suatu tujuan. Semakin kecil input yang kita lakukan namun dapat mengeluarkan output yang semakin besar, maka semakin efisiensi-lah yang kita lakukan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika pragmatis merupakan bentuk pengutamaan tindakan berdasarkan asas kemanfaatan maka pertanyaan berikutnya adalah kemanfaatan bagi siapa? Disinilah pragmatis berbenturan dengan nilai moral karena pada prakteknya yang dimaksud kemanfaatan adalah bagi individu atau kelompok pengambil kebijakan itu sendiri. Terlebih dalam budaya kita yang menanamkan untuk tidak egois dan selalu mengutamakan orang lain maka disinilah terjadi persinggungan yang keras terhadap pragmatis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kini kita menghadapi sebuah dilema, ketika dunia menuntut kita semakin efektif dan efisien dalam bertindak maka pragmatis menjadi jalan keluar terbaik. Di sisi lain kita masih memiliki ikatan moral dan budaya, ikatan yang dianggap sebagai sebuah halusinasi dalam dunia yang menagung-agungkan logika.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Efeknya adalah muncul kebijakan-kebijakan yang sifatnya efektif dan efisien, namun memiliki tingkat penolakan tinggi dari masyarakat. Sedangkan kebijakan-kebijakan yang seringkali mudah diterima memiliki tingkat efektivitas dan efisiensi yang rendah.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kita harus membuka mata lebih lebar. Kemanfaatan tidak boleh hanya diukur dari segi individu ataupun kelompok tertentu. Ada sebuah tanggung jawab sosial dimana kita juga harus memikirkan kemanfaatan terhadap orang lain, bahkan yang tidak memiliki hubungan langsung dengan diri kita.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan yang dilihat harus diambil dengan langkah pragmatis bersama, yaitu mengutamakan kemanfaatan bersama dan bukan hanya golongan tertentu. Jika ini diterapkan maka tidak ada lagi penggusuran PKL secara sepihak tanpa solusi yang kongkrit ataupun pemagaran wilayah-wilayah terntentu dengan dalih private space sementara banyak pihak lain yang juga memiliki kepentingan di daerah tersebut meski bukan pemilik legalnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebijakan-kebijakan seperti ini memang terkesan kurang efektif secara langsung, tetapi memiliki asas kebermanfaatan dan nilai moral yang lebih besar. Hal ini mejadi penting karena moral merupakan warisan budaya berharga. Meski kini warisan ini mulai dilupakan karena dianggap tidak efektif dalam menyelesaikan masalah.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3393351068379212252?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3393351068379212252/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3393351068379212252&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3393351068379212252'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3393351068379212252'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/pragmatisme-dan-masalah.html' title='Pragmatisme dan Masalah'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1023572436189598558</id><published>2011-03-23T20:09:00.000+07:00</published><updated>2011-03-23T20:09:18.405+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><title type='text'>Pragmatisme Pendidikan</title><content type='html'>&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;prag·ma·tis&lt;/b&gt; a 1 bersifat praktis dan berguna bagi umum; bersifat mengutamakan segi kepraktisan dan kegunaan (kemanfaatan); mengenai atau bersangkutan dng nilai-nilai praktis; 2 mengenai atau bersangkutan dng pragmatism&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="https://lh6.googleusercontent.com/-1PbZqkAysGk/TYnwKPtoJjI/AAAAAAAAAOc/0UYrd5T4qYY/s1600/mencoba+iseng+lagi+2.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="133" src="https://lh6.googleusercontent.com/-1PbZqkAysGk/TYnwKPtoJjI/AAAAAAAAAOc/0UYrd5T4qYY/s200/mencoba+iseng+lagi+2.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dunia saat ini terasa semakin cepat berputar. Perkembangan zaman yang semakin cepat tentu juga memberikan pengaruh pada penduduk dunia. Saat ini semua hal semakin dituntut untuk serba cepat, sehingga kinerja harus semakin efektif dan efisien. Oleh karena itu kita menjadi semakin pragmatis dalam menghadapi masalah yang ada.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pragmatis sendiri jangan selalu dikonotasikan dalam hal yang sifatnya negatif. Pragmatis berarti kita melakukan sesuatu secara praktis, dalam bahasa lain disebut sebagai efektif dan efisien. Pragmatis sendiri juga banyak membantu manusia dalam memecahkan masalah-masalah yang rumit.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun seringkali pragmatis menerobos nilai-nilai norma dan budaya yang ada. Sehingga terkadang dianggap sebagai sebuah bentuk penghalalan segala cara. Hal lain yang dipertanyakan adalah kebermanfaatan itu untuk siapa. Yang terjadi justru adalah kebermanfaat untuk diri sendiri atau kelompok tertentu sehingga membentuk masyarakat &lt;i&gt;pragmatis-egois&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Tuntutan Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akhir-akhir ini institusi pendidikan semakin dituntut untuk menyediakan sumber daya manusia yang berkualitas. Pertanyaannya adalah apa indikator dari kualitas itu sendiri? Seringkali berkualitas didefiniskan sebagai sesuai dengan kebutuhan pasar. Jadi masyarakat dididik untuk menjadi individu yang siap dimanfaatkan oleh pasar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Penilaian masyarakat dan pengguna sumber daya manusia ini pada dasarnya sama, perguruan tinggi dituntut memberikan ilmu-ilmu yang sifatnya praktis dan langsung berguna dalam menyelesaikan masalah yang ada. Dalam kata lain institusi pendidikan dituntut semakin pragmatis. Karena menurut mereka lulusan SMA dan Sarjana saat ini memiliki kemampuan sumber daya yang kurang dalam menerapkan ilmu-ilmu demi kepentingan pasar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka yang menjadi momok dari semua ini adalah perguruan tinggi. Karena pamor lulusan sekloah menengah atas sudah mulai turun di pasar perusahaan kelas elit. Para lulusan perguruan tinggi baik itu sarjana maupun diploma diharapkan bisa diterima oleh pasar dan sesuai kebutuhan dengan baik.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Tuntutan in sendiri bukan hanya berasal dari pengguna sumber daya yang bersangkutan, tetapi juga dari masyarakat sendiri. Dalam kata lain masyarakat semakin menuntut agar perguruan tinggi semakin pragmatis.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terkadang ini justru mencederai ilmu itu sendiri. Ilmu-ilmu menjadi disederhanakan dan berkurang nilainya karena hanya dituntut menemukan cara-cara praktis tanpa benar-benar memahami esensi dan konsekuensi dari tindakannya tersebut. Ilmu juga dikembangkan dan dipelihara sebatas kemanfaatan secara langsung dari ilmu itu sendiri, bukan atas dasar pencarian kebenaran.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Maka kini pengelola perguruan tinggi menghadapi sebuah dilematis. Mereka berada di tengah keputusan untuk menentukan mana yang lebih utama: ilmu-ilmu yang sifatnya praktik atau justru yang sifatnya esensial kebenaran.Semua keputusan tersebut nantinya dirumuskan dalam bentuk kurikulum.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Salah Kaprah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Di Indonesia, dikenal tiga macam bentuk sekolah menengah atas. Yang pertama adalah SMA yang bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang siap meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kedua adalah SMK, sekolah menengah yang bertujuan menyiapkan sumber daya manusia siap kerja yang terampil, dan yang terakhir adalah MAN yang mendidik sumber daya manusia dengan menekankan pada nilai moral keagamaan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perguruan Tinggi pun memiliki berbagai macam program, beberapa diantaranya adalah Program Sarjana dan Diploma. Seperti halnya SMA, program Sarjana bertujuan menyiapkan sumber daya manusia yang siap melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sedangkan Diploma disiapkan sebagai tenaga kerja terampil bagi pasar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali masyarakat tidak menyadari akan hal ini sehingga menjadi salah kaprah. Masyarakat mulai menilai kurikulum pendidikan SMA dan Sarjana terlalu teoritis dan pragmatis serta kurang bermanfaat dalam dunia kerja. Berbeda dengan kurikulum SMK dan Diploma. Namun di sisi lain paara pemilik modal cenderung lebih suka memanfaatkan tenaga kerja dengan ijazah Sarjana karena menganggap strata mereka lebih tinggi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Terlebih dari itu yang perlu dicermati bukanlah strata atau kedudukan, melainkan nilai kegunaan. Jika memang menginginkan sumber daya siap kerja seharusnya para pemilik modal lebih merekrut lulusan Diploma atau SMK karena mereka memang disiapkan untuk itu. Sedangkan Sarjana dan SMA sendiri memang dari awal tidak disiapkan untuk bekerja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ibarat kata Sarjana dan Diploma memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi ilmu. Mereka yang berada di jalur Diploma atau SMK misalnya, adalah orang-orang yang memanfaatkan ilmu untuk kebermanfaatan atau nilai-nilai praktis yang langsung berguna. Sedangkan mereka yang berada di jalan Sarjana atau SMA adalah mereka yang haus akan ilmu pengetahuan, mereka mencari ilmu bukan hanya sekedar pemanfaatan secara praktis namun mencari esensi dari kebenaran itu sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Memang terkadang pencarian kebenaran ini lebih bersifat teoritik dan bukan praktis. Oleh karena itu dibutuhkan sinergitas antara Sarjana dalam mengembangkan ilmu yang ada dengan Diploma yang bertugas menerapkan ilmu yang telah ada ke dalam bentuk nyata.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Semua telah memiliki tempatnya masing-masing tinggal bagaimana penempatannya. Akan menjadi sebuah masalah bila adanya kesalahpahaman tentang ini semua sehingga menimbulkan penempatan yang salah. Sarjana dan Diploma hanya dinilai sebatas strata pendidikan dan sosial bukan karena kemanfaatannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Akibatnya orang berbondong-bondong mencapai satu tujuan yaitu Sarjana tanpa benar-benar memahami fungsi dari masing-masing. Ketika Program Sarjana tidak menghasilkan produk seperti yang mereka harapkan lalu Perguruan Tinggi dituntut untuk menerapkan nilai kepraktisan dalam kurikulumnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika ini dibiarkan, maka ke depan ilmu hanya akan berkembang sesuai kebutuhan para pemilik modal (kapitalis) dan bukan atas pencarian kebenaran itu sendiri. Prgoram Sarjana dan Diploma hanya masalah strata sosial dan bukan kekhususan. Pada akhirnya semuanya hanya akan melebur menjadi satu program yaitu program pendidikan berasas pragmatisme.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1023572436189598558?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1023572436189598558/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1023572436189598558&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1023572436189598558'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1023572436189598558'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/pragmatisme-pendidikan.html' title='Pragmatisme Pendidikan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='https://lh6.googleusercontent.com/-1PbZqkAysGk/TYnwKPtoJjI/AAAAAAAAAOc/0UYrd5T4qYY/s72-c/mencoba+iseng+lagi+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8460156825143371792</id><published>2011-03-22T20:01:00.003+07:00</published><updated>2011-04-09T18:16:32.074+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paradoks'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Pagar</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Orang gila tidak pernah benar-benar mengakui dan menyadari bahwa dirinya gila. Lalu kenapa aku merasa normal dan orang lain gila?&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Bagaimana jika pagar rumah sakit jiwa bukanlah untuk menjaga orang gila agar tidak keluar, tetapi agar orang gila tidak masuk?&amp;nbsp;Bayangkan jika kebenaran yang sesungguhanya adalah milik mereka yang berada di dalam pagar tersebut.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-8460156825143371792?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/8460156825143371792/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=8460156825143371792&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8460156825143371792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/8460156825143371792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/pagar.html' title='Pagar'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-3558461646680656081</id><published>2011-03-21T20:48:00.000+07:00</published><updated>2011-03-21T20:48:59.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Keadilan dan Kesenjangan</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_jiyiyi0y7DM/SgGnDMN-NLI/AAAAAAAAABg/NpTvJlbdOFk/s320/kumuh.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="129" src="http://2.bp.blogspot.com/_jiyiyi0y7DM/SgGnDMN-NLI/AAAAAAAAABg/NpTvJlbdOFk/s200/kumuh.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;blogadvintro.blogspot.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Slumdog Milionaire&lt;/i&gt;, sebuah film yang berhasil meraih empat penghargaan &lt;i&gt;Golden Globes&lt;/i&gt; dan delapan &lt;i&gt;piala Oscar&lt;/i&gt;. Film ini bercerita tentang kehidupan masyarakat pinggiran kota Mumbay. Di tengah pesatnya perkembangan perekonomian India dengan dibangunnya bangunan-bangunan megah ternyata menyisakan sampah peradaban yang biasa kita sebut sebagai kawasan kumuh.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menjadi menarik untuk mempelajari perspektif keadilan dari masyarakat pinggiran yang kurang beruntung. Dimana perkembangan kota Mumbay tidak memberi pengaruh signifikan terhadp kehidupan mereka. Di satu sisi, masyarakat lain memperoleh keberuntungan dari perkembangan tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Yang muncul adalah kesenjangan sosial antar masyarakat. Pertempuran (atau sengaja dipertempurkan) antara pihak miskin dan kaya menjadi kian meruncing. Masing-masing memiliki perspektif mereka masing-masing dan saling membenarkan tindakan mereka sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Suka atau tidak, kawasan kumuh atau &lt;i&gt;slum area&lt;/i&gt; selalu muncul dalam peradaban manapun. Mulai dari Amerika Serikat yang berfaham Liberalis Kapitalis hingga China yang menganut Komunis Sosialis selalu melahirkan &lt;i&gt;slum area&lt;/i&gt; di samping permkembangan kota metropolitan mereka. Keduanya ibarat dua sisi mata koin yang tidak dapat dipisahkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Slum Area&lt;/i&gt; ini sendiri selalu menimbulkan berbagai masalah diantaranya adalah kriminalitas. Dengan dalih keadilan sosial, seringkali tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh mereka yang kurang beruntung dibenarkan oleh sebagian masyarakat. Dalam beberapa kebudayaan, bahkan perilaku semacam itu memiliki penghargaan tersendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Syaitan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui. (2:268)&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cerita tentang Robin Hood misalnya, merampok masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih tinggi untuk dibagikan kepada masyarakat dengan tingkat ekonomi lebih rendah. Bagi masyarakat yang dibagikan hasil rampokan tentu ini sebuah keadilan. Namun bagi masyarakat yang dirampok tentu akan memiliki perspektif yang berbeda, ini jelas tidak adil. Apa yang membuat masing-masing dari kelompok tersebut saling membenarkan tindakan mereka masing-masing?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Masyarakat dengan tingkat ekonomi rendah, cenderung mendefinisikan keadilan sebagai sama rasa sama rata. Dalam artian menggunakan model keadilan distributif. Sehingga adanya kesenjangan antara si miskin dan si kaya dianggap sebagai sebuah keadaan yang tidak semestinya terjadi. Kesejahteraan adalah milik bersama. Kesamaan strata menjadi bentuk ideal. Mereka mengklaim bahwa tanpa adanya pemaksaan (kebijakan hukum, perampokan, dsb) terhadap pihak lainnya, tidak akan terjadi kesetaraan atau keadilan sosial dalam konsep mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Lain halnya dengan masyarakat tingkat ekonomi tinggi yang cenderung lebih melihat keadilan dalam bentuk lain. Bagi mereka keadilan cukup diterapkan dalam bentuk prosedural. Dalam artian bahwa setiap masyarakat memiliki peluang atau kesempatan yang sama. Sedangkan hasil dipengaruhi oleh kinerja dari masing-masing individu tersebut. Mereka yang kurang giat dalam berusaha tidak seharusnya mendapatkan hasil yang sama dengan mereka yang giat berusaha. Jadi mereka mengklaim bahwa hasil yang mereka peroleh selama ini merupakan hak mereka karena hasil jerih payah mereka sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perbedaan konsep keadilan inilah yang sering menimbulkan perbedaan dan pertentangan. Di satu sisi menggunakan keadilan prosedural sebagai tolak ukur sedangkan di sisi lain menggunakan bentuk keadilan distributif sebagai tolak ukur. Bentuk lain yang dapat kita cermati adalah dimana paham kapitalis lebih dapat diterima pada masyarakat dengan tingkat ekonomi tinggi sedangkan paham sosialis dalam masyarakat yang sebaliknya. Jika konsep keadilan ini sendiri dipertentangkan oleh masing-masing pihak, pertanyaan berikutnya adalah apakah memang benar ini semua adalah tentang keadilan?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Menurut saya, hal ini sebenarnya lebih kepada konsep kesenjangan. Masing-masing iri terhadap kondisi dari kelompok yang lain. Satu kelompok merasa iri terhadap hasil yang kelompok lain miliki sedangkan kelompok lainnya merasa iri dengan pengorbanan yang dilakukan oleh kelompok lainnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Miskin dan kaya sendiri adalah suatu keseimbangan dunia, dimana satu sama lain memang akan selalu ada dan tidak dapat dipisahkan. Sama halnya bahwa dari setiap pertumbuhan kota metropolitan, akan anda jumpai sampah peradaban yang biasa disebut sebagai &lt;i&gt;slum area&lt;/i&gt;. Keadaan ini saling menyimbangkan satu sama lain sehingga menciptakan keharmonisan yang kita sebut sebagai keadilan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Jika memang miskin dan kaya adalah suatu &lt;i&gt;sunatullah&lt;/i&gt; yang pasti akan selalu ada, maka yang harus kita lakukan adalah bagaimana ini menjadi suatu keharmonisan. Bagaimana agar keadaan ini tidak menjadi sebuah bentuk pertentangan tetapi menjadi sebuah bentuk kerjasama. Disinilah peranan konsep saling memberi, infak, sedekah, tolong menolong, dsb dalam kehidupan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;*) ditulis sebagai tugas isu-isu kontemporer sosial&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-3558461646680656081?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/3558461646680656081/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=3558461646680656081&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3558461646680656081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/3558461646680656081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/keadilan-dan-kesenjangan.html' title='Keadilan dan Kesenjangan'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_jiyiyi0y7DM/SgGnDMN-NLI/AAAAAAAAABg/NpTvJlbdOFk/s72-c/kumuh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-1840865007177431774</id><published>2011-03-19T21:00:00.001+07:00</published><updated>2011-03-19T21:03:32.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pemikiran'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><title type='text'>Ada Apa Dengan Kita</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2103/199/65/1619337140/n1619337140_124159_8065.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="150" src="http://a3.sphotos.ak.fbcdn.net/photos-ak-snc1/v2103/199/65/1619337140/n1619337140_124159_8065.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Entah kenapa akhir-akhir ini seringkali kita mempertanyakan bangsa kita sendiri. Mengapa kita tidak seperti ini, tidak seperti itu, tidak bisa kayak ini, tidak bisa kayak itu. Dalam sekejap seolah seluruh hal yang ada di sekitar kita menjadi suatu hal yang sangat using dan menyedihkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita menjadi memiliki hobi baru, yaitu mencaci maki bangsa kita sendiri. Mulai dari pemerintah yang dianggap korup (memangnya kita sebagai rakyat kita tidak?), kinerja (kita) yang buruk, kualitas SDM (kita) yang rendah, penjajahan oleh asing, kekalahan dibanding bangsa lain, disiplin hukum yang rendah, dsb. Kita mulai mencari-cari penyebab hal tersebut dan tentu saja, mulai dari mencari kesalahan orang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada beberapa teori dan asumsi mengapa hal ini terjadi. Mulai dari literatur buku-buku yang kebanyakan berbahasa Inggris dan penulisnya bahkan belum pernah menginjakkan kaki di negeri ini hingga obrolan masyarakat di tempat parkir. Mereka memiliki teori dan kemungkinan mereka sendiri-sendiri mengenai masalah ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Pemerintah yang Korup&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Salah satu alasan yang sering dijadikan kambing hitam mengenai hal ini adalah tentang pemerintahan yang korup. Pasca lengsernya Alm. Soeharto, KKN atau korupsi, kolusi dan nepotisme ditengarai menjadi penyebab bobroknya Negara ini. Hal ini dimulai dari krisis moneter tahun 1998.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Padahal jika kita boleh jujur, krisis moneter tahun 1998 tidak disebabkan oleh korupsi melainkan karena memang dampak global. Korupsi hanya sekedar memperparah keadaan yang ada. Namun kejadian ini membuat masyarakat sadar bahwa apa yang seringkali kita lakukan dan menjadi budaya kita ternyata dianggap sebagai suatu hal yang tidak benar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pasca runtuhnya orde baru muncul pula krisis kepercayaan terhadap instansi pemerintah baik ditingkat legislatif, eksekutif, dan yudikiatif. Terlepas dari apakah pemerintah tidak kompeten, munculnya krisis kepercayaan ini berdampak pada pelaksanaan program-program pemerintah yang tidak lagi mendapat dukungan dari rakyat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulai dari program konversi gas, redenominasi rupiah, dsb yang terus menerus disoroti dan mendapat kritikan. Efeknya adalah kini tercipta masyarakat yang tidak lagi mau diatur. Berbagai unjuk rasa mulai liar, aksi anarkisme dari berbagai kelompok kian menguat, dsb. Negara ini kian menjadi rimba raya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun pernahkah terpikir bahwa semua ini hanya merupakan akibat dari pemerintah yang tidak becus? Jika kita lihat lebih dalam lagi, ternyata ketidakbecusan tersebut terjadi secara merata hampir di tiap lapisan masyarakat. Yang melakukan korupsi dan malas bekerja bukan hanya oknum wakil rakyat tetapi seluruh rakyatnya pun demikian. Maka kita pahami bahwa masalah ini jauh lebih mendalam dari sekedar pemerintahan yang kurang kompeten.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Kualitas SDM yang Buruk&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Banyak yang berkata bahwa kualitas SDM Indonesia jauh tertinggal dibandingkan Negara lain. Jika pada zaman dahulu kita bisa mengekspor para guru untuk mengajar di Malaysia kini yang dapat kita kirimkan kebanyakan adalah TKI untuk pekerjaan rendahan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Mulai dari etos kerja yang rendah, pekerjaan yang kurang beres. Dan sekali lagi yang menjadi sorotan utama adalah pegawai di instansi pemerintah alias PNS. Padahal jika mau jujur hampir di seluruh lapisan terjadi hal semacam ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Selain pekerjaannya yang dianggap kurang becus, seringkali kita memberikan label pada bangsa kita sendiri dengan label bodoh. Kualitas pendidikan yang dianggap &lt;i&gt;kurang mumpuni&lt;/i&gt; menjadi penyebab ini semua. Maka tidak heran kini berbagai pihak baik swasta maupun pemerintah dengan gencarnya melaksanakan program apa yang mereka sebut sebagai kualitas internasional. Meski pada prakteknya yang internasional hanyalah bahasanya dan bukan kualitasnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun belum ada satu pun referensi atau hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kecerdasan kita tertinggal dengan bangsa lain. Seringkali kita menjuarai berbagai lomba ilmiah tingkat internasional bahkan mengalahkan Negara-negara lain yang dianggap lebih maju. Jadi masalah utama yang kita hadapi bukan pada kualitas kecerdasan kita melainkan ada suatu hal yang lain.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Penjajahan&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Seringkali kita mennganggap bahwa etos kerja kita saat ini dikarenakan kita telah dijajah 350 tahun sehingga terbentuk sebuah konstruk sosial dimana kita menjadi masyarakat bermental budak. Selain itu pemerintahann orde baru juga dianggap sebagai bentuk penjajahan baru yang memperparah kondisi ini. Namun benarkah demikian?&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Bahkan sejarah pun membuktikan bahwa kita tidak benar-benar dijajah selama 350 tahun. Karena penjajahan yang dimaksud pada saat itu bukan benar-benar penjajahan yang seperti kita bayangkan saat ini. Jika kita mau lebih memahami bahwa pada saat itu Indonesia masih berbentuk kerajaan-kerajaan kecil yang berbeda-beda. Sebagian menjadi kerajaan yang berdaulat penuh sedangkan sebagian lain mengalami penjajahan dalam arti tertentu. Sehingga bisa jadi bukan penjajahan yang membentuk kita seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Tidak Mau&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Satu pertanyaan yang patut direnungkan adalah sejak kapan kita menganggap kerja dan materi menjadi suatu hal yang penting? Jika kita mau memahami dalam budaya Jawa misalnya, bahwa sebenarnya budaya kerja bukan menjadi suatu hal yang pokok.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kita lihat saja dari adanya istilah-istilah nyambut gawe ojo ngoyo, mangan ra mangan kumpul, dsb. Ini menunjukkan bahwa kerja bukan bagian utama dari budaya Jawa. Bagaimana mungkin kita bisa mengatakan bahwa budaya Jawa menjunjung tinggi semangat kerja jika ketika kita bekerja keras justru disebut ngoyo. Ketika kita memiliki ambisi justru malah dianggap sebagai suatu hal yang aneh dan reko-reko. Bagimana kita bisa menghasilkan banyak uang jika membicarakan uang saja dianggap saru.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kontruk budaya Jawa berfokus pada budaya kekerabatan dan hubungan sosial. Berbeda dengan konstruk budaya modern yang berfokus pada kerja dan materi. Apa yang terjadi pada kita adalah kita dibesarkan dengan norma-norma budaya kekerabatan namun perkembangan memaksa kita utuk menelan nilai-nilai kerja dan materi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sehingga negara ini tidak maksimal dalam mengadakan pembangunan bukan karena tidak mampu melainkan karena tidak mau. Bukan karena kita tidak pintar, melainkan karena belum ada rasa pentingnya bagi kita untuk mewujudkan pemikiran-pemikiran yang ada. Karena bagi kita kekerabatan dan hubungan sosial jauh leboh penting daripada sekedar kerja keras dan materi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kerja hanya dianggap sebagai sarana memperoleh nasi dimana nasi sendiri menjadi suatu hal yang disepelekan. Begitu juga dimana mengejar materi juga dianggap sebagai suatu hal yang tabu dan memalukan untuk dilakukan. Bukan karena kita tidak mampu melakukan semua itu, tetapi karena kita tidak mau. Kita memiliki kekayaan kita sendiri yang itu tidak terwujud dalam materi. Kita memiliki nilai-nilai dan apa yang kita anggap berharga berbeda dengan orang lain.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Bertindak Bijaksana&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pernahkah terpikir seberapa cepat seorang petani mampu mengetik mennggunakan komputer? Ataukah seberapa banyak hasil panen dari sawah yang digarap oleh pegawai administrasi kantoran? Serahkanlah pekerjaan kepada ahlinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Setiap orang memiliki kemampuan dan keahlian masing-masing yang berbeda-beda. Begitu pula dengan tiap-tiap bangsa yang merupakan kumpulan orang-orang. Perlu waktu yang lama untuk mengajari seorang petugas administrasi bagaimana menggarap sawah. Namun lebih cepat lagi jika anda mengajari seorang petani bagaimana meningkatkan hasil panennya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Cara yang paling bijaksana adalah bukan dengan memaksakan orang lain melakukan sesuatu, tetapi menempatkan orang lain pada tempat yang tepat. Kita mengajarkan untuk menerima nilai-nilai kerja keras dan materi kepada masyarakat Jawa sama saja membongkar pondasi gedung bertingkat dan membangun dari ulang. Lebih bijaksana adalah kita melihat potensi yang ada dan mengembangkannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kini kita ada di persimpangan dua budaya yang sangat berbeda. Modernisasi menuntut kita mengubah nilai-nilai yang telah kita resapi dan tertanam dalam diri kita selama ini. Pertanyaannya adalah apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan membongkar ulang dan menelan nilai-nilai baru ataukah kita akan mengembangkan nilai-nilai yang telah kita miliki? Ini semua terserah pada kita sendiri.&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;*) ditemukan dari arsip lama di komputer dalam bentuk PDF, entah waktu itu saya tulis untuk perluan apa&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-1840865007177431774?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/1840865007177431774/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=1840865007177431774&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1840865007177431774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/1840865007177431774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/ada-apa-dengan-kita.html' title='Ada Apa Dengan Kita'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-6408265135602627725</id><published>2011-03-19T18:59:00.001+07:00</published><updated>2011-03-21T20:56:16.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Orang yang Berfungsi Sepenuhnya (Carl Rogers)</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-zVHs0_82zBQ/TXmYmUkno2I/AAAAAAAAAEU/CYkOZ3hpEK8/s1600/CarlRogers.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/-zVHs0_82zBQ/TXmYmUkno2I/AAAAAAAAAEU/CYkOZ3hpEK8/s320/CarlRogers.jpg" width="224" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sekitarkudimataku.blogspot.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Carl Rogers tumbuh di lingkungan keluarga Kristen Fundamental yang sangat keras dan tidak suka berkompromi. Sehingga ketika masa muda Rogers memilih untuk mengabdikan dirinya menjadi seorang Pendeta.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun pandangan hidupnya berubah ketika menjadi salah satu peserta konfrensi mahasiswa Kristen di Peking, China tahun 1920. Di sana dia bertemu dengan berbagai macam orang yang kemudian mengubah pandangan hidupnya. Pandangan inilah yang nantinya menjadi dasar dari teori Rogers tentang self-concept dan humanistiknya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rogers mendapatkan gelar Ph.D. dari Columbia University Teachers College tahun 1931. Rogers terkenal dengan terapinya yang biasa disebut sebagai client-centered therapy.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pendekatan Rogers terhadap Kepribadian&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Rogers mendapatkan data-datanya dalam membentuk teorinya dari pengalamannya menghadapi klien-klien atau individu-individu yang terganggu dan mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Individu-individu dibimbing oleh persepsi sadar mereka dan bukan oleh kekuatan-kekuatan dari luar yang tidak dapat mereka kontrol. Menurut Rogers, pengalaman masa lalu sedikit banyak berpengaruh juga pada kehidupan mas sekarang. Namun Rogers lebih menekankan akan pentingnya masa sekarang. Yang penting adalah bagaimana di saat ini kita melakukan sesuatu dan melihat dunia ini.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepribadian seseorang harus dinilai secara subjektif dari sudut pandang orang itu sendiri. Kenyataan adalah bagaimana individu mempersepsikan pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Oleh karena itu realitas akan berbeda bagi tiap-tiap individu.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Motivasi Orang yang Sehat: Aktualisasi&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam diri seseorang ada suatu drongan yang kuat atau sebuah kebutuhan fundamental yang sudah dibawa sejak lahir dan meliputi komponen fisiologis dan psikologis. Komponen fisiologis ini manjadi dominan pada masa-masa awal perkembangan manusia. Kebutuhan ini digambarkan sebagai kebutuhan untuk aktualisasi.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada tingkatan yang rendah, aktualisasi ini berbentuk kebutuhan fisiologis untuk mempertahankan hidup seperti misalnya makan dan minum. Selain itu aktualisasi juga membantu kita dalam pematangan dan pertumbuhan. Pematangan yang penuh ini membutuhkan banyak usaha meski secara otomatis tubuh kita akan berkembang dengan sendirinya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Misalnya saja sebagai contoh adalah bagaimana bayi belajar berjalan. Meskipun bayi harus seringkali terjatuh dan merasa sakit ketika belajar untuk berjalan, namun bayi tetap terus menerus berusaha untuk berjalan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Hal ini karena adanya dorongan dalam diri individu untuk mengaktualisasikan dirinya dengan cara berjalan. Dorongan ini lebih kuat dibandingkan rasa sakit dan perjuangan yang dialaminya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perubahan ini terus terjadi ke arah maju ke depan dan tidak dapat dibendung. Kecenderungan aktualisasi ini tidak bertujuan mengurangi tegangan, akan tetapi justru perjuangan serta keuletan untuk berjuang tersebut membuat diri individu makin tegang.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika seorang bertambah besar maka konsep self (diri) makin berkembang dan muncul kecenderungan aktualisasi beralih dari fisiologis ke psikologis. Setelah konsep diri muncul maka proses aktualisasi diri menjadi terlihat. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat serta seluruh potensi psikologisnya yang unik.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Pengembangan Diri&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ketika kecil anak mulai memisahkan penngalaman-pengalaman tertentu dalam dirinya. Pengalaman-pengalaman inilah yang nantinya membantu dalam membentuk self-concept (konsep diri) anak tersebut. Konsep tersebut juga menggambarkan keinginan anak tersebut nantinya akan menjadi seperti apa.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam perkembangannya anak akan belajar untuk membutuhkan cinta. Kebutuhan ini disebut Rogers sebagai positive regards (penghargaan positif). Apakah anak tersebut akan menjadi pribadi yang sehat atau tidak tergantung dari apakah positive regards anak tersebut terpenuhi dengan baik atau tidak.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam kondisi tertentu, anak akan mengorbankan aktualisasi dirinya untuk mendapatkan positive regards. Caranya adalah dengan menjadi pribadi seperti apa yang diinginkan orang tuanya agar mendapatkan positive regards dari orang tuanya dan bukan menjadi pribadi yang diinginkan oleh dirinya sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Anak yang tumbuh dalam kondisi ini mengembangkan apa yang disebut sebagai conditional positif regards (penghargaan positif bersyarat). Oleh karena itu kepribadian yang dikembangkan oleh anak itu bukan konsep dirinya sendiri melainkan konsep kepribadian yang diinginkan oleh orang tuanya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kondisi ini membuat individu tidak dapat mengaktualisasikan dirinya dan menciptakan ketidakharmonisan dalam diri individu tersebut. Individu semacam inilah yang disebut sebagai individu yang tidak sehat.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pribadi yang sehat tumbuh dalam kondisi sebaliknya. Salah satu cirinya adalah penerimaan unconditional positive regards (penghargaan positif tanpa syarat) pada masa kecilnya. Dimana orang tua dalam memberikan cinta dan kasih sayang atau positive regards tidak bergantung pada tingkah laku anaknya. Sehingga individu tersebut dapat mengembangkan dirinya sesuai dengan konsep dirinya sendiri.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-weight: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;Orang yang Berfungsi Sepenuhnya&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kepribadian bukan merupakan suatu keadaan tetapi melainkan suatu proses, suatu arah bukan suatu tujuan. Aktualisasi diri merupakan suatu proses yang berlangsung terus menerus dan tidak pernah merupakan suatu kondisi yang selesai atau statis. Proses ini merupakan sebuah proses yang sukar dan terkadang menyakitkan.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kebahagian sendiri merupakan hasil sampingan dari proses ini. Bukan berarti orang yang berhasil mengaktualisasikan dirinya akan terus menerus bahagia namun hanya pada saat-saat tertentu saja.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Orang-orang yang berhasil mengaktualisasikan dirinya maka mereka benar-benar menjadi diri mereka sendiri. Mereka tidak begitu terpengaruh dengan lingkungan mereka dan melakukan apa yang benar-benar mereka mau lakukan. Namun bukan berarti mereka seenaknya dalam melakukan sesuatu.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya menurut Rogers, yaitu:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Keterbukaan pada Pengalaman&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih emosional dalam hidupnya. Dalam artian dirinya selalu terbuka terhadap pengalaman-penngalaman baru dan lebih dapat mengekspresikan perasaan yang dirasakannya dalam setiap pengalaman tersebut.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kehidupan Eksistensial&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Orang yang berfungsi sepenuhnya merasakan suatu sensasi yang baru dalam setiap momen kehidupan. Dirinya benar-benar menikmati momen-momen tersebut apa adanya tanpa adanya tekanan dari dalam diri sendiri. Dapat dikatakan mereka dapat menikmati dan mengoptimalkan setiap momen dalam hidupnya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kepercayaan terhadap Diri Sendiri&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Pribadi yang berfungsi sepenuhnya mereka berfokus pada dirinya sendiri dalam mengambil keputusan. Bukan hanya berfokus pada hal-hal yang berada disekitarnya ataupun logika dan rasionalitas, namun juga pada perasaan dan intuisi dirinya itu yang lebih utama.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Perasaan Bebas&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Pribadi yang sehat bebas dalam mengambil tindakan dan menentukan tindakan yang akan diambilnya.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Kreativitas&lt;/b&gt;.&amp;nbsp;Orang-orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kretif. Hal ini dikarenakan mereka tidak terkekang dengan keharusan-keharusan dan bebas menjadi diri mereka sendiri.&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sumber:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Schultz, D. 1991. Psikologi Pertumbuhan. Yogyakarta: Kanisius.&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/9053239010447574298-6408265135602627725?l=berpikirberbeda.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/feeds/6408265135602627725/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=9053239010447574298&amp;postID=6408265135602627725&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6408265135602627725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/9053239010447574298/posts/default/6408265135602627725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://berpikirberbeda.blogspot.com/2011/03/orang-yang-berfungsi-sepenuhnya-carl.html' title='Orang yang Berfungsi Sepenuhnya (Carl Rogers)'/><author><name>Khusni Mustaqim</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05542684671330584478</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/-6-Omz4YtclU/TaBCuw2vG4I/AAAAAAAAARY/N-ar2LkQ-QY/s220/berpikir%2Bberbeda.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-zVHs0_82zBQ/TXmYmUkno2I/AAAAAAAAAEU/CYkOZ3hpEK8/s72-c/CarlRogers.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-9053239010447574298.post-8024137428856546457</id><published>2011-03-19T18:46:00.001+07:00</published><updated>2011-03-21T20:57:16.513+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ilmiah'/><title type='text'>Orang Disini dan Kini (Fritz Perls)</title><content type='html'>&lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="float: left; margin-right: 1em; text-align: left;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://sasstrology.com/wp-content/uploads/2010/04/perls.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; margin-bottom: 1em; margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="165" src="http://sasstrology.com/wp-content/uploads/2010/04/perls.jpg" width="200" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;sasstrology.com&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Pada mulanya Perls adalah seorang ahli psikoanalisis di Afrika Selatan. Hingga pada tahun 1936 dalam kongres tahunan Psikoanalitis dia mengalami kekecewaan. Konsep-konsep dan ide-idenya ditolak olah para ahli psikoanalitis. Termasuk dari Sigmund Freud itu sendiri yang menolaknya dengan kasar.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dari kekecewaannya tersebut dia kemudian keluar dari psikoanalitis dan berusaha menciptakan teorinya sendiri. Kemudian Perls mengembangkan apa yang disebut sebagai Terapi Gestalt. Model ini menciptakan pengaruh sendiri dalam keilmuan psikologi. Perls yang semula hanya seorang ahli psikoanalitis yang biasa saja kemudian menjelma menjadi seorang ahli dari teorinya sendiri yang memiliki banyak pengikut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Inti dari terapi Gestalt sebenarnya terkandung dalam puisinya yang berjudul Doa Gestalt:&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Aku melakukan halku dan kau melakukan halmu&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Aku tidak berada di dunia ini untuk berbuat sesuai dengan harapan-harapanmu,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dan kau tidak berada di dunia ini umtuk berbuat sesuai dengan harapan-harapanku.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kau adalah kau dan aku adalah aku,&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Dan apabila kebetulan kita saling bertemu maka hal itu baik.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Kalau tidak, maka tidak dapat berbuat apa-apa.&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;b&gt;Pendekatan Perls terhadap Kepribadian: Terapi Gestalt&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang dapat diterjemahkan sebagai bentuk, wujud, dan organisasi. Kata tersebut mengandung pengertian kebulatan atau keparipurnaan. Psikologi Gestalt sendiri umumnya berbicara tentang persepsi individu terhadap lingkungannya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Perls sendiri sebanarnya bukan seorang ahli psikologi Gestalt. Dia hanya menggunakan kata tersebut untuk mendeskripsikan konsepnya. Menurutnya manusia cenderung mengarah kepada kebulatan atau keparipurnaan. Segala hal yang mengacaukan gestalt ini akan menimbulkan apa yang disebut sebagai unfinished situation bagi individu tersebut.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;i&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;&lt;i&gt;Unfinished situatio&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal;"&gt;n ini sangat banyak dalam hidup kita. Fungsi dan tujuan hidup manusia pada umumnya adalah menyelesaikan gestalt-gestalt ini. Gestalt-gestalt tersebut diselesaikan oleh individu sesuai dengan tingkat kepentingan yang ada. Situasi yang sangat urgen mendesak untuk selalu diselesaikan terlabih dahulu dan diutamakan.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Dalam menghadapi berbagai situasi ini ada konsep lain yang cukup penting yaitu peraturan terhadap diri sendiri versus peraturan dari luar. Orang yang sehat dapat mengatur diri sendiri tanpa campur tangan dari luar. Kita seharusnya melakukan suatu tindakan atas kesadaran dari diri sendiri dan bukan karena pengaruh dari luar. Dengan kata lain orang dituntut untuk mengetahui impuls-impuls mereka sendiri.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun sayangnya banyak individu yang telah mendapatkan tekanan dari lingkungan mereka untuk tidak mengungkapkan impuls-impuls dari dalam diri mereka. Impuls-impuls ini kemudian tidak hilang tetapi menjelma dalam bentuk lain misalnya dalam bentuk fisik seperti jerawat, urat yan
