Tampilkan postingan dengan label nyampah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nyampah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

Apa yang dapat Kamu Bayangkan tentang Neraka Ketujuh?

"Menurutmu seperti apa neraka ketujuh itu?"

"Maksudmu?", kata-kata tersebut membuatku cukup terhenyak. Tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam hidupku untuk membicarakan topik semacam ini, terlebih dengan dirinya.

"Kau tahu, bahwa hampir seluruh agama menggambarkan neraka dalam berbagai tingkatan atau lapisan. Dan neraka ketujuh, apa yang aku tanyakan tadi, merupakan neraka dengan tingkatan paling tinggi."

"Yah, entah kenapa agama-agama tertarik dengan angka tujuh", jawabku sambil lalu.

"Jadi menurutmu, seperti apakah neraka ketujuh itu?"

"Aku masih belum paham maksudmu"

"Baiklah, menurutmu hukuman dan penderitaan apa yang paling mengerikan, sesuatu yang cukup pantas berada di neraka ketujuh. Dimana siksaan paling pedih ada disana?", tanyanya sambil menatap dengan tajam. Saat itu aku tahu bahwa dia bukan sedang bermain-main dengan pertanyaannya.

This is Hell (zxxiusxz.deviantart.com)

Suasane hening. Kami berdua mencoba mengolah imajinasi kami, sebuah hadiah terbaik dari Tuhan yang diberikan kepada manusia, kini digunakan untuk memikirkan hal terburuk yang ada di alam semesta ini.

"Aku dapat sesuatu"

"Apa itu?"

"Bayangkan kau berada di sebuah ruang yang hampa. Tanpa ada sesuatu apapun dan kau tidak dapat melakukan apapun. Namun kau tetap dapat berpikir, dan pikiranmu selalu dipenuhi dengan hal-hal buruk dan penyesalan dalam hidupmu. Bagiku itu adalah siksaan paling kejam."

Rabu, 16 Mei 2012

Manusia Satu Malam

Dan mendadak semua menjadi seorang alim, yang memiliki berbagai pengetahuan tentang agama dan Tuhan mereka. Merasa telah mengkhatamkan ribuan kitab dan menyalahkan para ulama yang bodoh, karena tidak sependapat dengan nilai masa kini.

Mendadak pula para filsuf bermunculan dengan kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman satu dua dekade. Para generasi tua hendaknya mati saja meninggalkan dunia yang dipercaya akan lebih baik. Padahal para tetua kita juga pernah muda, pernah seperti mereka.

Berbicara tentang menghormati perbedaan dengan menafikkan perbedaan itu sendiri. Berbicara tentang pengetahuan tanpa adanya ilmu. Siapa benar? Siapa salah? Siapa tahu? Itulah kita, itulah manusia. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, dan kami tidak.

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat. (1:6-7)
The Way to Heaven (katta80.deviantart.com)

Jumat, 11 Mei 2012

Impian

It's called "life," John. Activities available; just add meaning. (Alicia - A Beautiful Mind)

Sebagian orang berkata bahwa manusia dapat hidup tanpa makanan, tetapi  manusiatidak dapat hidup tanpa harapan. Entahlah, semua hal semacam itu -mimpi, harapan, makna, dan tujuan- bukanlah sesuatu yang mudah dipahami dan dipercayai. Bagaimana mungkin kita bisa tahu sesuatu yang tidak dapat kita sentuh maupun kita lihat sama sekali?

Manusia tidak melakukan sesuatu sebatas apa yang dapat kita lihat. Ada makna dibalik setiap tindakan. Makna yang membuat seseorang tetap menjadi manusia dan bukanlah robot. Makna yang memberi warna pada hidup kita.

Begitu pula mimpi dan tujuan serta harapan. Itu semua memberikan kita arti dalam kehidupan. Pengejaran akan suatu imajinasi yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran kita. Kita mengejarnya, meraihnya jika berhasil dan bersenang-senang atasnya. Sebaliknya kegagalan akan menyebabkan perasaan sakit yang cukup mendalam.

Saya tidak mau bermimpi karena saya tahu itu bisa menyakiti. Tetapi saya sadar, hidup tanpa perasaan bukanlah suatu kehidupan yang nyata. Sejak kapan kita mendefiniskan pahit sebagai suatu rasa yang tidak kita kehendaki? Apapun itu, mimpi memberikan hidup kita makna. Dan semoga mimpi ini tidak berakhir dengan perasaan sakit.

Meaning (sesfitts.deviantart.com)

Jumat, 04 Mei 2012

Pauli

Akhirnya aku menemukan hal lain yang paling menjemukan dan menyebalkan dibandingkan menunggu dalam sendirian: mengerjakan tes Pauli. Celakanya di saat diriku harus menghadapinya seluruh tubuhku justru menolaknya dengan keras. Tanganku entah kenapa mendadak keram seolah tidak rela digunakan menulis jawaban diantara angka-angka yang berbaris rapi tersebut. Kakiku menolak perintahku untuk tenang dan justru berdetak mengikuti suara alunan musik yang bahkan telingaku tidak mampu mendengarnya. Minus pn seolah mendadak bertambah, meski aku tahu itu hanya tingkah bola mataku. Begitu pula otak pun -entah sengaja atau tidak- lebih memilih untuk mengajakku berkelilig dunia imajinasi yang tentunya jauh lebih menarik dibandingkan harus menjumlahkan angka-angka secara terus menerus dan berulang-ulang dalam waktu 3600 kali jarum detik berdetak tanpa alasan yang berarti. Dari dulu saya memang paling benci hal semacam ini.

The Numbers (johnshine.deviantart.com)

Kamis, 16 Februari 2012

Malas

Twitter seringkali membuat saya menulis di blog, karena lebih simpel.

Minggu, 12 Februari 2012

Saya Suka Hujan

Tik...tik...tik..bunyi hujan di atas genting. Airnya turun tidak terkira. Cobalah tengok daun dan ranting. Pohon dan kebun basah semua. (Hujan - Ibu Sud)
Saya suka hujan. Aroma yang tercium ketika tetes pertama menyentuh bumi seolah menghapuskan dahaga setelah seharian terpapar pancaran cahaya menyilaukan. Aroma kesegaran merasuk sel-sel dalam tubuh. Memberikan semangat dan perasaan menenangkan. Seolah benar apa kata pepatah, panas setahun dihapus hujan sehari.

Saya suka hujan. Suara bergemuruh di atap rumah menemani kesunyian dalam hati. Seolah menunjukkan bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Kita tidak sendiri dalam menghadapai segala masalah yang ada. Bahwa selalu ada orang lain yang menemanimu di dunia ini.

Saya suka hujan. Hawa dingin yang menggigit merasuk kalbu, membuat kita bersyukur akan kehangatan. Syukur, kata yang sering teringat setalah kita kehilangan sesuatu. Kata yang sering terlupa ketika kita memiliki apa yang kita inginkan. Seolah Ying dan Yang, rasa dingin dan kehangatan merupakan pasangan yang memberikan kenyamanan.

Saya suka hujan. Tetes-tetes air yang menerpa bagian terluar tubuh. Menyejukkan raga yang selama ini terlalu lama bekerja, menentramkan batin. Membasahi jiwa yang selama ini terlalu kering akibat huru-hara duniawi. Mendekatkan diri pada alam, membasuh kehampaan.

Saya suka hujan.

Sang Anak Hujan (missnajm.deviantart.com)

Ada Disana

Mengapa kau membenci kesederhanaan? Hanya karena dia menolakmu, atau karena iri dengan kehangatan yang tak kau miliki?
Malam ini bulan tidak lagi menampakkan dirinya secara utuh. Waktu telah menggigitnya, memaksanya untuk menyembunyikan luka yang hanya bisa disembuhkan oleh waktu pula. Namun malam ini bukan hanya waktu yang telah menggigit bulan, begitu juga dengan dingin yang menggigit dengan kencangnya. Membuat diriku merindukan akan kehangatan perasaan manusia.

Ya, suara itu, semangat itu, telah sirna ditelan oleh bisingnya teknologi. Teknologi yang dibuat untuk mendekatkan manusia tetapi juga menenggelamkannya secara perlahan dalam kehidupan fana. Seolah semua itu terlupa, seolah alam tak lagi bersuara. Seolah manusia tidak lagi hangat. tahukah kau bahwa semua itu tidak hilang?

Tidak, semua ada di sini. Di dalam kelembutan angin yang menelusuri celah-celah sempit diantara tembok. Bahwa sejatinya alam tidak pernah diam dan manusia tetap dengan kehangatannya.

Maka jika kau merindukannya kembalilah ke tempat itu. Tempat yang cukup jauh dari hingar bingar kehidupan, dimana semua berjalan perlahan, namun disana kau tahu tersembunyi kekuatan magis yang hanya dapat kita rasakan. Kekuatan yang mampu membuat tubuh merasa hangat dan bercengkrama dengan suara alam. Tempat dimana kita tidak akan lupa dengan Tuhan.

deaf (j4d3.deviantart.com)

Rabu, 18 Januari 2012

Saya Tidak Pernah Benar-Benar memahami para Revolusioner

Konon revolusi adalah suatu harga mati atas perubahan. Pemberontakan, gerakan radikal semua seolah menjadi syarat mutlak akan adanya perubahan. Saya bukan orang yang anti perubahan. Hanya saja bagaimana perubahan itu terjadi menjadi catatan tersendiri yang harus diperhatikan.

Revolusioner, seolah selalu dan harus ditandai dengan adanya gerakan radikal yang sifatnya merusak. Seolah sebuah pembangunan harus dimulai dengan perusakan. Tidak dapatkah kita berubah tanpa merugikan orang lain?

Semua itu biasanya disebut sebagai pengorbanan, harga yang harus dibayar untuk perubahan. Lucunya kenapa harus orang lain yang berkorban? Jika ledakan bisa mengubah segalanya kenapa tidak ledakkan rumah kita sendiri? Jika kematian bisa mengubah segalanya kenapa tidak kita bunuh saja saudara-saudara kita, teman-teman kita, atau bahkan diri kita sendiri?

Kenapa harus selalu orang lain. Jika pun ada bagian dari diri kita yang mati, apakah memang dari awal kita menghendakinya atau keterpaksaan? Jika kita yang harus berkorban, bisakah kita bersikap biasa sebagaimana kita bersikap terhadap orang lain menjadi korban?

Sejarah mencatat berbagai macam revolusi, dan kebanyakan yang menjadi topik adalah revolusi dengan kekerasa. Meski mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya itu semua hanya menjadi omong kosong pertarungan antara elit. Usaha untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa dengan rezim lainnya, dan bagaimanapun juga rakyat hanya menjadi alat. Padahal rakyatlah yang selalu harus berkorban.

Lalu sejauh mana revolusi membuat perubahan? Sejauh mana pula korban harus jatuh dalam revolusi?

Pray for Revolution (denull.deviantart.com)

Kamis, 15 Desember 2011

Dang, Si Anak Laki-Laki

Sosok itu terdiam, membeku dan kaku. Terpendam dalam tanah beberapa meter di bawah. Jasadnya, entah berbentuk apa sekarang. Bahkan sebelum dimakamkan pun luka bakar telah menghiasi kulitnya. Ya, luka yang membawanya kepada kematian.


Orang itu hanya diam tanpa kata. Tetapi orang-orang disini terlalu ribut dengan berbagai spekulasi dan teori konspirasi. Menerjemahkan perilakunya ke dalam ego dan imajinasi masing-masing, menjadi pembenaran akan kepentingan dan idealisme yang diusungnya. Jika dia yang disana masih bisa berkata, tentulah kita akan bertanya apa maksudnya.


Namun bagaimanapun juga Tuhan tidak pernah menyukai hambaNya yang menyia-nyiakan hidupnya. Dan janjiNya telah pasti. Akan tetapi di zaman modern saat ini Tuhan dianggap sudah ketinggalan zaman. Sehingga apalah pentingnya membicarakan Tuhan dibandingkan dengan reformasi, revolusi, dan politik?


Dan disinilah dia berada. Mati dengan janji akan kemurkaan, namun kita menyebutnya patriot. Entahlah tampaknya orang yang hanya duduk di kejauhan sana bisa dikatakan sebagai pembunuh orang yang menyiramkan bensin ke tubuhnya sendiri. Saat ini aku tidak tahu lagi berapa banyak orang yang masih terlalu bodoh untuk percaya Tuhan.


Apakah tidak cukup dengan murka itu sehingga kita menambahkannya? Dia yang telah mati justru menjadi pembenaran untuk berbagai tindakan amoral, perusakan fasilitas umum, dan semacamnya. Entahlah disini tampaknya membakar diri sendiri jauh dapat menyelesaikan suatu masalah daripada menghentikan orang untuk berbuat kerusakan itu sendiri.


Nasib memang tidak pernah dapat ditebak, begitu pula manusia. Makhluk berakal yang terlalu pintar sehingga sulit untuk dipahami. Mungkin Tuhan pun berdecak heran melihat tingkah polah kita yang semakin tidak karuan saja. Peradaban hanyalah bangunan batu, bukan pondasi moral dan tingkah laku.


Gila!!! Itulah kita saat ini. Apakah kita telah membunuh Tuhan dalam diri kita sendiri dan menukarnya dengan politik? Atau mungkin kita yang terlalu egois, mengambil keuntungan dari kematian seseorang demi kepentingan tertentu? Ataukah saya yang terlalu gila sehingga tidak dapat memahami kebenaran? Entahlah. Andai kita bisa bertanya pada anak muda itu. Dan bagiku, Tuhan tidak dapat diperdebatkan dan diajak berdebat.


gambar: mattthesamurai.deviantart.com

Sabtu, 10 Desember 2011

Hidup dalam Bayangan

gambar: vadonny88.deviantart.com
Lelaki itu menghentikan langkahnya sejenak, meneruskan pandangannya kepada segerombol mahasiswa yang berdiri di depan sana. Kepayahan menahan terik panas yang membuat orang tidak betah berada di luar ruangan  mereka tetap berdiri dengan penuh semangat dan teriakan. Tapi untuk apa?

Penindasan dan ketidakadilan serta kekurangan memang untuk dikritisi agar dapat berusaha menjadi lebih baik lagi. Namun seharusnya kebaikan juga berhak mendapatkan apresiasi sebagaimana kesalahan mendapatkan kritik. Bukan justru kebaikan pun dikritik secara membabi buta ibarat orang yang belum akhil baligh tidak bisa membedakan kebaikan dan keburukan.

Kini sudah bukan lagi zaman orde baru dimana demonstrasi adalah suatu tontonan yang langka. Kini orang justru telah muak dengan berbagai demonstrasi di jalanan. Beberapa dari mereka yang lebih kreatif melakukan demonstrasi melalui seni, musik, wayang, lukisan, dan berbagai macam media elektronik yang menjamur bak cendawan di musim hujan. Bentuk-bentuk yang seringkali justru diapresiasi sebagai sebuah bentuk kritikan cerdas.

Lalu untuk apa mereka disana? Memperjuangkan gagasan yang bisa mereka wujudkan dengan tangan mereka sendiri tetapi lebih tertarik untuk berteriak di jalanan dan sekali lagi menjadi simbol dari perlawanan terhadap penindasan. Mengapa berpuas diri menjadi simbol jika kita bisa berusaha sendiri? Apakah kita terlalu malas bertindak dan berharap sebuah simbol dapat menyelesaikan permasalahan yang ada?

Orang akan menempuh berbagai cara untuk meraih cita-cita dan tentunya akan mencoba jalan paling efektif untuk meraihnya. Namun apa yang laki-laki itu lihat disana bukanlah demikian. Maka muncul gagasan apakah mungkin bahwa terwujudnya cita-cita tersebut bukanlah sesuatu yang mereka inginkan?

Lalu disana dia melihat bayangan yang menaungi mereka. Bayangan prestasi dan keberhasilan mahasiswa untuk bersatu padu membuat perubahan besar melalui demonstrasi pada zamannya. Apakah itu arti dari ini semua? Sebuah bentuk perwujudan untuk menunjukkan eksistensi suatu generasi pada generasi lainya? Apakah ini semua hanya untuk itu, eksistensi? Maka kasihanilah mereka yang hidup dalam bayang-bayang orang lain.


Kamis, 08 Desember 2011

Dibenci oleh yang Dipuja

Siapa tidak kenal Soe Hok Gie? Nama yang sangat populer di kalangan mahasiswa, aktivis, idealis, atau apapun lah itu namanya. Saya pribadi tidak begitu mengnalnya karena mungkin saya bukan seorang idealis, aktivis, atau apapunlah itu. Kalaupun ada orang yang menyebut saya demikian, saya pribadi tidak begitu suka dengan sebutan itu.


Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi. (Soe Hok Gie)


Satu hal yang menarik adalah bagaimana para aktivis idealis tersebut begitu memuja-mujanya, mendengaungkan kata-katanya ke seantero negeri demi menyampaikan pesan tersebut. Seolah mereka hendak menjadi Gie berikutya. Dengan idealisme menantang semuanya.

Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun. (Soe Hok Gie)

Namun beberapa kata-kata Gie menyadarkan saya. Apa yang saya lihat saat ini, justru sebagian dari mereka yang menganggap Gie sebagai pahlawan adalah mereka yang dibenci oleh Gie sendiri. Benarkah?


gambar: muhammadharir.deviantart.com






NB: Omong-omong maaf jika akhir-akhir ini saya jadi terlalu sering manulis. terlalu banyak omong kosong idealisme yang tidak sesuai dengan perilaku yang terjadi di kampus saya. Maaf juga jika kali ini saya menggunakan kata "mereka" dan bukan "kita" meski saya mungkin bagian dari "mereka"

Aku Selalu Paling Benar

Apa itu kebenaran? Sebuah pertanyaan klasik dengan beribu jawaban. Mulai dari idealis sampai pada pragmatis. Menempatkan sebuah tujuan sebagai simbol suci untuk dijunjung tinggi dan pada akhirnya memaksa orang lain untuk mensucikannya juga. Mereka yang menolaknya, katakan saja mereka tidak bermoral, egois, dan berbagai macam makian yang entah bagaimana bisa keluar dari mulut-mulut orang yang suci tersebut. Suci karena mereka bersama kebenaran.
adakah musuh kita selalu salah dan kita selalu benar?
Aku telah bertemu dengan berbagai orang dan tiap orang tersebut mendefiniskan sendiri kebenaran mereka. Kebenaran yang berbeda itu bagi tiap orang menjadi Tuhan mereka, mereka marah ketika orang tidak setuju dan menganggap orang tersebut kafir dari kebenaran mereka. Tidak sadarkah bahawa kita sendiri pun belum sepakat dengan kebenaran kita?
adakah kita akan menyebut sesuatu yang merugikan diri kita sebagai kebenaran?
Lalu pada akhirnya sampailah saya pada penghujung simpulan. Mulut boleh berkata karena lidah tak bertulang, tetapi tindakan membuktikan apa yang sebenarnya berada dalam pikiran. Kebenaran adalah sebuah bentuk kepenntingan yang disucikan. Itulah sebabnya kebenaran selalu berubah.
pada akhirnya kita belum bisa menjunjung tinggi kebenaran, apa yang kita junjung selama ini adalah kepentingan
Pada akhirnya kita harus bercermin pada tindakan kita. Apakah memang seperti itukah kebenaran? Sebuah kepentingan pribadi yang disucikan. Membuat diri sendiri menjadi sangat bermoral karena menjunjungnya dan merendahkan moral orang lain karena berbeda. Pada akhirnya semua orang merasa paling benar sendiri dan tak ada orang yang paling salah. Selama kepentingan diperjuangkan, maka saat itulah kebenaran ditegakkan. Eh?


gambar: do-while.com

Rabu, 07 Desember 2011

Goblok

Kita ini Goblok! Sibuk memperbaharui undang-undang, menyusun berbagai macam aturan, memasang alat presensi sidik jari, menaikkan remunerasi, mennerbitkan berbagai macam tes dan ijazah. Padahal ini semua adalah masalah moral.


saveyoutube.blogspot.com

Selasa, 06 Desember 2011

Belajar Dahlan

Dia yang selalu percaya. Ketika orang lain merasa dirinya sendiri yang terbaik dan superior, dia percaya bahwa setiap orang memiliki keahliannya masing-masing. Meyingkirkan ego untuk menjadi dominan dan memberi kepercayaa orang lain untuk menyelesaikan masalah yang ada.


Dia yang selalu menghargai. Ketika orang lain lebih suka mengeluh dan mengkritik, dia percaya bahwa setiap orang telah melakukan usahanya semaksimal mungkin untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik. Maka yang diperlukan adalah apresiasi untuk terus berprestasi dan bantuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik lagi.


Dia yang apa adanya. Ketika orang lain mendambakan kenyamanan dan kemewahan sebagai bagian dari pekerjaannya, dia lebih suka turun langsung ke lapangan. Apa adanya melihat kenyataan dengan mata baginya tampak lebih meyakinkan daripada deskripsi-deskripsi dalam lembaran kertas. Dia yang tidak segan untuk repot karena itu memang tugasnya. Menyingkirkan jas, sepatu kulit, dan segala bentuk formalitas yang mengganggu pekerjaannya.


Dia Dahlan Iskan.


sumber: dahlaniskan.wordpress.com

Kamis, 01 Desember 2011

Negeri Sarkastik

Sungguh Elok Nian Negeri ini. Rakyatnya kaya raya, bahkan tanah subur pun mereka tolak. Mereka tidak membutuhkannya. Lantas mereka tutupi saja tanah tersebut dengan bebatuan keras dan keangkuhan. Memendam sejarah dan warisan nenek moyang dengan modernisasi.


sumber: just-di.deviantart.com




Disini, orang tidak perlu bekerja keras. Dengan demonstrasi permasalahan dapat terselesaikan. Dengan Undang-Undang masyarakat menjadi bermoral. Dan dengan Uang, ya Uang, tidak ada satupun permasalahan yang tidak dapat diselesaikan. Bukankah semua masalah di dunia ini hanyalah tentang kemiskinan? Moralitas dan akhlak hanyalah kata-kata penghibur yang membuat rakyat miskin tetap tenang.


Laku tidaklah penting, yang penting adalah simbol. Semua tentang simbol, ketika simbol dipertarungkan dan menang, maka keadaan akan berubah. Seolah simbol adalah dunia itu sendiri. Tindakan tidaklah penting, karena semua itu tidak ada artinya dibandingkan simbol.


Mendadak manusia hanya menjadi objek. Benda yang hanya dapat terpengaruh tanpa memberi pengaruh. Cukuplah dengan aturan, demonstrasi, dan simbol-simbol ini dunia bisa menjadi tempat yang labih baik dengan masyarakat mendadak menjadi bermoral.

Rabu, 30 November 2011

Kenapa saya dituduh sebagai koruptor?

Saya orang baik-baik, warga negara Indonesia asli. Terlebih lagi saya adalah orang yang suka memberi manfaat kepada sesama. Orang tua saya selalu mengajarkan kepada saya untuk selalu menolong orang lain. Biasanya petuah tersebut disampaikan bersama nukilan ayat suci, ungkapan Jawa, dan cerita Wayang.


Pada dasarnya kita adalah orang-orang baik. Terlalu baik malah, bahkan terhadap koruptor sekalipun.

Sebagai warga negara yang baik, saya memperpanjang KTP tepat waktu. Dimulai dengan meminta surat izin dari RT sembari melampirkan sedikit recehan. Kasihan, Ketua RT selalu bekerja tanpa diberi imbalan apapun. Padahal dia manusia juga, dia juga butuh makan. Begitu juga Ketua RW.
paramarimas.blogspot.com

Saya tahu bahwa membuat KTP itu gratis, tetapi saya juga tahu bahwa gaji PNS itu kecil. Oleh karena itu ketika saya harus "membeli" formulir yang bisa saya kopi sendiri dengan harga 50x lipat saya diam saja dan menyelipkan beberapa lembar yang dia inginkan. Itu semua demi membantu kesejahteraan mereka. Bantuan yang sama yang saya berikan juga kepada Polisi ketika membuat surat kehilangan yang biasa juga disebut "bantuan administrasi".

Bantuan yang secara "sukarela" diberikan untuk "membantu" mereka yang "membutuhkan". Karena sejatinya kita adalah masyarakat baik, masyarakat yang suka menolong satu sama lain. Kini ketika kebaikan dituduh sebagai korupsi, akankah kita kehilangan nurani dan rasa persaudaraan kita ditelan kemajuan zaman?


Di akhir bait, teriring doa semoga KPK segera dapat membubarkan diri.

Selasa, 01 November 2011

Suwung Awang Uwung

Disana aku bertemu kembali dengannya. Kala hujan badai menerjang perpustakaan tua, disudut lorong berisi buku-buku kumal yang seakan tidak menarik dibanding buku lain yang berjajar di rak dengan bahasa asing. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu.

Nothing is absolute, there are always twilights between night and day, grades between good and evil, shades between black and white, subtleties between love and hate, degrees between happiness and grief, as well asa nuances between male and female. (Boediarjo, 1978)

Entahlah mungkin Tuhan sengaja menciptakan badai ini agar aku terjebak di ruangan itu untuk bertemu lagi dengannya. Bukan lelaki bukan perempuan, dia tidak berbentuk. Bulat karena pantat dan payudaranya. Namun auranya cukup untuk membuat orang terdiam. Raut mukanya menggambarkan kesedihan dan kesenangan secara bersamaan.

Sosok itu tertawa, atau mungkin menangis. Dalam dirinya semua itu sulit dibedakan. Kata-kata bijaksana yang meluncur dari mulut tersenyumnya, tatapan mata sendu seolah menyimpan kesedihan yang mendalam. Semua hal melebur menjadi satu. Tidak ada lagi pertentangan maupun hubungan. Tidak ada lagi derajat maupun tingkatan. Seolah memang seperti itulah seharusnya.

Sabar, Saleh, Sareh. Sugih tanpa bandha, perang tanpa bala maju, menang tanpa ngasorake, weweh tanpa kelangan.

Saat ini aku tidak lagi yakin akan bertemu dengan sosoknya di dunia ini. Jauh, jauh sekali jarak antara kita dan dirinya. Keberadaannya tidak lebih dari sebuah mitos yang tergusur oleh perkembangan zaman. Adakah aku akan jumpa lagi dengannya dalam orang-orang yang aku temui?

Dia yang berbicara dengan dewa dalam bahasa kasar, namun berbicara halus terhadap yang lebih rendah. Bahkan dia lebih merendah lagi, menjadi babu bagi majikan yang bukan siapa-siapa dibanding dirinya. Dirinya adalah tinggi yang rendah. Dewa yang jelata.

Aku adalah puing-puing masa lalu. Terkubur, bangkit untuk mepertahankan. Mengingatkan padamu tentang dirimu, dirinya. Bahwa semua satu, tak ada satu tanpa satu lainnya. Bahwa semua sama. Ingatlah Manunggaling Kawulo Gusti.

Bukan siapa-siapa tapi semua orang. Mengingatkan yang agung akan kelemahan, membisikkan keagungan bagi yang lemah. Tak akan menjadi siapa tanpa orang-orang. Bahwa sejatinya siapa ditentukan oleh orang di sekitar kita, bukan semata diri sendiri.

Dahulu dirinya muncul untuk mepertahankan kita, sebagai sebuah identitas. Melawan mereka yang menerjang, merasuk semua sendi, memukul tulang-tulang. Menang. Kini perang belum usai. Hantaman datang bertubi-tubi, tetapi kita terlalu lengah. Tak sadar akan hantaman yang ada. Akankah dirinya muncul dalam diri kita?

sumber: tembi.org

Minggu, 30 Oktober 2011

Mati Suri



Aku ingin kembali hidup, menjadi manusia, di dalam dunia. Melihat dan mendengar apa yang dapat menggerakkan hati dan pikiran. Menyentuh sesuatu yang dapat memberikan rasa. Bertindak yang dapat membuahkan perubahan. Bukan sekedar ribuan kalkulasi dan opini mengenai dunia dan manusia.

Kamis, 27 Oktober 2011

Serakah #4

Konon katanya permasalahan utama ekonomi adalah kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan sumber daya yang terbatas. Lalu kita saling berebut meraih kapital sebanyak mungkin yang mampu kita raup. Semua demi diri kita sendiri. Serakah.


Bagaimana jika itu salah? Bahwa kebutuhan itu berbatas. Syukuri apa yang kita miliki. Dan ekonomi tidak ada. Toh bagaimanapun juga sumber daya akan tetap terbatas, lalu kita batasi saja kebutuhan kita. Eh?