Tampilkan postingan dengan label media massa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media massa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2011

Kepada Yth. Mereka yang Berada di Layar Kaca

adverta.rs
Kalian adalah orang-orang yang spesial. Ketampanan dan kecantikan telah kondang bahkan sebelum dilahirkan. Begitu juga dengan pesona yang mampu menyihir semua orang.

Terlebih dalam dunia yang hampir di seluruh rumah terdapat kaca yang bersinar, wajah kalian telah memasuki rumah-rumah kami. Dan kehidupan kami. Meski kita tidak saling kenal, kalian banyak berpengaruh pada kehidupan. Pesona, kecantikan, dan ketampanan telah merasuk ke setiap neuron-neuron dalam otak hingga sumsum tulang belakang.

Sadar atau tidak, kalian mengajarkan kepada kami ilmu kehidupan. Baik buruk, pantas tidak pantas, cantik, tampan, gaya hidup, sopan santun, dan sebagainya. Para psikolog menyebutnya unconscious. Mereka juga menciptakan berbagai istilah untuk menyebutnya, em apa itu, modelling? Atau mungkin sugesti?

Apapun itu telah membuat kami membeli pelitur yang menyembunyikan warna kecoklatan kita yang alami, vitamin yang dapat diproduksi sendiri oleh tubuh, pengharum yang menusuk hidung orang lain, dan sebagainya. Bahkan kami menjadi tahu bagaimana seharusnya kita berpakaian, berperilaku, dan mengumpat orang lain.

Dahulu, kami berpikir bahwa itu semua hanyalah ilusi dramatis dari kehidupan. Kami tidak sungguh-sungguh percaya pada apa yang kami lihat. Namun ketidakpercayaan tersebut terkikis secara perlahan tanpa disadari, dan menanamkannya menjadi sebuah realita standar kehidupan. Dari situlah kami mendefinisikan apa itu baik, keren, gaul, modis, dsb. Kami dipertontonkan tentang kehamilan di luar nikah agar merasa iba, kesedihan yang dieksploitasi menjadi hiburan, perseteruan dan perkelahian menjadi berita biasa.

Dan ternyata kehidupan kalian pun tidak jauh dari tontonan, begitu pula kehidupan kami. Seiring kemajuan zaman, kehamilan pun bisa mengalami akselerasi bak sekolah-sekolah. Kehidupan menjadi kelas Internasional dimana semuanya berbahasa Inggris. Isa-isa lain lahir dari rahim-rahim ibu tak bersuami. Bintang porno pun tak masalah selama sudah insyaf.

Awalnya kami mencibir, mencemooh, dan sebagainya. Lama kelamaan kami lelah seiring bertambah banyaknya yang harus dijauhi, jadi kami diam. Lantas semua menjadi sesuatu yang biasa saja. Wajar, sebuah kata yang membenarkan setiap tindakan salah yang kita lakukan.

Kalian bisa mengelak bahwa itu kehidupan pribadi kalian dan bersembunyi di balik daging babi. Begitu pula kami akan berusaha menjauhi kalian. Tetapi hubungan kita jauh lebih dalam daripada apa yang dibayangkan. Dan kita tidak bisa begitu saja berpisah. Kalian memang orang-orang dengan anugerah yang luar biasa. Hubungan kita begitu dalam bahkan kepada anak-anak kita yang masih di dalam kandungan. Mungkin ini memang takdir Tuhan.

Karenanya saya memohon untuk tidak lagi mempertontonkan apa yang tidak disampaikan orang tua kita kepada anak-anaknya. Lakukanlah demi siapa pun yang kita cintai. Ajarkan kepada kami mana yang baik dan buruk, sesuai dengan yang telah orang tua kita ajarkan bukan apa yang kita lakukan. Biarkan saja jika ternyata itu munafik, tetapi kepalsuan yang indah kelamaan akan menjadi kenyataan.

Great Power, Great Responsibility. Bahkan jika memang itu hak kalian, maka tolong relakanlah hak tersebut demi orang lain. Sebuah pengorbanan. Muhammad tidak pernah memaksa orang untuk masuk Islam, maka saya pun sama tidak berhaknya untuk memaksa anda. Saya hanya memohon, meminta. Kewajiban saya hanyalah menyampaikan, selebihnya itu urusan anda dengan Tuhan. Tuhan yang ada dalam kehidupan publik maupun kehidupan pribadi kita.

Selasa, 12 April 2011

Layar Moral

Ketika retsleting celana dibuka, keluarlah nafsu dari sangkarnya. Ibarat orang kelaparan yang kemudian memakan seluruh isi dunia. Kita mungkin jarang merasakan kebebasan, bukan berarti lantas kita menuhankan kebebasan.

Masih ada dalam ingatan ketika negeri ini dipimpin oleh Jendral yang selalu tersenyum di hadapan layar kaca. Itu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Ketika apa yang kita lihat penuh dengan kepalsuan. Kepalsuan yang indah.

Kata orang, sepahit apapun kenyataan lebih baik daripada kebohongan. Entahlah, kupikir mereka yang berkata demikian belum pernah merasakan kenyataan yang benar-benar pahit dalam hidupnya.

Mengapa kita tidak hidup saja dalam kepalsuan? Toh setelah kita lama tinggal disana kita akan menganggapnya kenyataan. Jika kita bisa bahagia dengan kepalsuan.

Atau kita lebih suka dengan kenyataan, justifikasi atas tindakan tidak bermoral kita yang masih saja ditampakkan dalam layar dunia. Hak Asasi Manusia yang membolehkan kita berbuat tidak bermoral atas nama pribadi, melarang orang lain mengajarkan kebajikan pada orang lain dengan dalih pemaksaan dan kebebasan.

Jika moral adalah sebuah kepalsuan dan mitos masa lalu, maka lebih baik tinggal dalam mimpi daripada kenyataan.

Kamis, 07 April 2011

Great Power, Great Responsibility

Mereka yang memiliki kekuasaan yang besar memiliki tanggung jawab moral yang lebih besar pula. Bagaimana dengan media massa saat ini?

Sabtu, 17 April 2010

jurnalisme anti penguasa

Hehe..entah kenapa saya sedang senang mengkritik para jurnalis akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya menulis the journalist can do no wrong? yang berisi tentang kekhawatiran jurnalisme yang semakin menjadi dewa tak bermoral, kini saya ingin melanjutkan kekhawatiran yang saya rasakan terhadap dunia jurnalisme di Indonesia.

Akhir-akhir ini layar televisi, komputer (yang nyambung internet), radio (gak ada layarnya tapi ada suaranya), surat kabar, dan media massa lain sibuk memberitakan bentrok berdarah yang terjadi di Koja. Saya akan membahas bentrokan ini dari sudut pandang psikologi lain waktu, namun saat ini ada sebuah cuplikan gambar yang menarik bagi saya. Yaitu cuplikan adegan satpol PP menghajar warga yang diputar di televisi berulang-ulang dengan sangat jelas.

Bukan masalah siapa yang salah, yang menarik juga adalah adanya cuplikan adegan massa yang kalap menghajar satpol PP yang tidak berdaya hingga sekarat. Namun anehnya, cuplikan adegan tersebut sengaja diburamkan.

Ada semacam kejanggalan disini. Jika memang adegan menghakimi satpol PP diburamkan karena adegan kekerasan yang takutnya nanti ditiru oleh anak-anak, tetapi mengapa adegan satpol PP memukuli warga ditampilkan dengan gamblang?

Jika kita melihat data di lapangan, ternyata sebagian korban terluka dan meninggal justru dari pihak satpol PP itu sendiri. Itu berarti ada lebih banyak adegan massa menghajar satpol PP dibanding adegan satpol PP menghajar warga. Namun mengapa yang selalu ditampilkan dan digembor-gemborkan adalah adegan satpol PP menghajar warga? Apakah karena mereka bagian dari pemerintah dan karena mereka aparat?

Media massa memang merupakan media propaganda dan kita tahu itu. Namun sebenarnya apa yang mereka propagandakan itu yang menjadi sebuah pertanyaan tersendiri.

Jika kita cermati lagi, entah mengapa media massa sangat sekali tertarik dengan isu pemerintahan, terutama isu negatifnya. Seringkali kita melihat headline berita dipenuhi dengan isu-isu negatif tentang pemerintah. Bahkan dalam berita bencana alam pun tak luput menyertakan kekurangan pemerintah.

Entah sekecil apapun itu, saya melihat kecenderungan ini memang ada. Saya sendiri mencoba berpikir mencari jawaban atas hal ini. Dalam tulisan ini saya akan bercerita tentang dua sekenario gila tentang apa yang terjadi di dunia jurnalisme saat ini yaitu jurnalisme balas dendam dan jurnalisme bayaran.

Jurnalisme Balas Dendam
Kita semua tahu bahwa pada zaman orde baru, dunia jurnalisme cukup terkekang. Salah tulis sedikit bisa-bisa kita pergi tak kembali. Media massa dikuasai pemerintah secara berlebihan. Pendapat dikekang dengan sangat kuat bahkan untuk sekedar meludah pun harus tengok kiri-kanan.

Kondisi sebaliknya terjadi ketika 1998 pasca lengsernya orde baru. Euforia Demokrasi terasa sampai kesendi-sendinya. Saatnya kini jurnalis bebas berbicara tentang apa yang selama ini mereka takut untuk dibicarakan.

Sesuai teori bandul, maka ketika suatu keadaan beralih dari ekstrim kiri maka akan berlaih menuju ekstrim kanan ibarat bandul yang diayunkan. Bagitu pula dengan jurnalisme.

Ketika sebelumnya berbicara tentang pemerintah saja dianggap sebagai sebuah hal yang tabu, maka ketika bandul dilepaskan yang terjadi adalah masa dimana jurnalis bebas mencaci maki pemerintahan.

Dan kita bisa melihat hal itu memang benar adanya pada era reformasi 1998. Hal ini tidak terjadi hanya pada dunia jurnalisme, tetapi terjadi hampir semua sektor beralih menjadi golongan anti kekuasaan.

Jika sebelumnya menyanjung pun takut salah kini mencaci maki menjadi hal yang biasa. Yang sebelumnya patuh pada aturan kini beralih menjadi tidak mau terikat peraturan. Dan sebagainya.

Yang menakutkan adalah jka semangat ini mengakar dan tertanam dengan erat di dunia jurnalisme Indonesia. Yang terjadi adalah pemberitaan dan propaganda yang tidak sehat. Propaganda tidak sehat ini tentunnya juga akan berpengaruh pada masyarakat dan menular ke berbagi sektor lain.

Jadi ada kemungkinan pola propaganda jurnalisme saat ini merupakan benntuk balas dendam atas kesewenang-wenangan penguasa pada era sebelumnya yang mengakar dan menjadi budaya hingga saat ini. Propaganda yang ada ditujukan memunculkan sentimen anti-penguasa sebagai sebuah bentuk balas dendam dari era sebelumnya.

Jurnalisme Bayaran
Prinsip utama dari ekonomi adalah keuntungan. Di Indonesia istilah kerja identik dengan uang. Inilah yang menjadi poin utama dari semua ini.

Jurnalisme dan media massa merupakan salah satu sektor pekerjaan yang ada di Indonesia. Itu juga mengapa jurnalisme dan media massa tidak bisa terlepas dari uang. Meskipun saya lebih suka ide tentang jurnalisme balas dendam yang seolah-olah penuh propaganda terselubung, tetapi tampaknya skenario ini yang lebih masuk akal.

Apa yang terjadi di dunia jurnalisme saat ini tidak lepas dari pengaruh uang. Apa yang menjadi berita bukan karena masalah propaganda ke arah mana, tetapi hanya semata-mata untuk meraih keuntungan.

Seorang teman saya yang berkecimpung di dunia jurnalistik mahasiswa pernah berkata bahwa dunia jurnalisme saat ini kehilangan idealisme dan hanya semata-mata dipandang dan digunakan sebagai sarana memperoleh keuntungan.

Jadi jikalau selama ini media massa dan dunia jurnalisme seolah-olah selalu memojokkan pemerintah sebenarnya itu hanyalah upaya untuk menjual isu yang hangat dengan menyirami minyak tanah ke api unggun. Dan boleh dibilang masyarakat saat ini memang sedang hobi mengkritik dan menjelek-jelekkan pemerintah jadi itu yang dijual.

Jika masyarakat memukuli satpol PP tentu itu akan dilihat sebelah mata, namun jika satpol PP memukuli masyarakat apalagi masih anak-anak tentu itu akan lebih menarik dan menjual. Itulah analogi yang terjadi.

Penutup
Apa yang saya tulis disini hanyalah dua buah buah skenario ngawur yang mengkritisi dunia jurnalisme di Indonesia saat ini. Saya tidak akan berkata bahwa inilah yang sesungguhnya terjadi, tetapi inilah pendapat saya. Anda boleh percaya atau tidak.

Media massa merupakan salah satu alat yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan masyarakat dan merubah peradaban saat ini. Mengutip kata-kata dalam film Spiderman, "great power, great responsibility." Kekuasaan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar. Saya sungguh berharap bahwa media massa dapat mendidik masyarakat kita menjadi lebih baik.

Senin, 12 April 2010

the journalist can do no wrong?

Jika dahulu kala kita sering mendengar ada istilah The King can do no wrong mungkin istilah tersebut tidak berlaku lagi saat ini. Di zaman yang konon katanya kita bebas berpendapat ini media massa menjadi salah satu kekuatan terbesar.

Bagaimana tidak kita dapat melihat bagaimana media memberikan kepada kita informasi-informasi dan cekokan  secara tidak langsung mengenai apa yang benar dan apa yang salah.
Namun yang patut menjadi perhatian apakah apa yang selama ini kita terima merupakan kebenaran yang sebenar-benarnya atau tipuan dari mata kita sendiri. Apakah informasi yang kita terima itu berimbang sehingga kita dapat menentukan kebenaran yang ada dengan objektif atau hanya berat sebelah.

Kita dapat lihat bagaimana media massa membela diri ketika tersangkut kasus Luna Maya beberapa waktu yang lalu. Namun bolehlah kita bertanya apakah media massa memberikan porsi yang sama kepada Luna Maya untuk melihat kasus tersebut dari sudut pandangnya?

Ketika media massa lebih suka memuat berita tentang perusakan pagar oleh Mahasiswa dibanding memberitakan aspirasi mahasiswa untuk Indonesia yang lebih baik, maka kita patut bertanya apakah maksud dari pemberitaan tersebut.

Kami hanya mengabarkan fakta yang ada di lapangan. Ya memang itu mungkin sebuah fakta. Tapi fakta tersebut hanyalah sebuah fakta tidak penting yang mungkin masih multitafsir dibanding fakta lain yang lebih penting yang tidak dikabarkan.

kesalahan media bukan pada apa yang mereka sampaikan, tetapi pada apa yang tidak mereka sampaikan

Bukan hal yang aneh juga ketika sebuah televisi menayangkan sebuah doalog tentang pembunuhan yang mencengangkan. Dan ketika narasumber berkata bahwa mungkin penyebabnya adalah karena belajar dari apa yang ada di media massa maka presenter acara tersebut manggut-manggut. Dan setelah itu kembali menayangkan reka ulang alias tips&trik membunuh yang ditonton oleh anak-anak dan masyarakat lain.

Sadar atau tidak, media massa bukan hanya menjadi sekedar sarana penyaluran informasi. Namun juga sarana pendidikan dan pembentukan budaya. Dengan media massa masyarakat bisa menjadi senang, bahagia, atau bahkan muak dan membenci terhadap suatu hal tertentu.

Hal inilah yang terkadang kurang disadari. Bahwa media massa sebagai sarana pendidikan memiliki tanggung jawab kepada masyarakat bukan hanya sekedar menginformasikan fakta, tetapi mendidik masyarakat dengan fakta-fakta tersebut. Jangan menjadi orang bodoh yang menyampaikan cerita seram kepada anak kecil yang penakut dan berkata, “Memang itu kenyataannya” sehingga anak tersebut tidak bisa tidur dan mengompol.

Bagaimanapun juga kita tidak dapat memenjarakan sebuah senapan karena benda itu telah membunuh orang. Yang dapat kita persalahkan adalah orang yang menggunakan senapan tersebut. Senapan hanyalah alat, tergantung dari siapa yang menggunakannya. Begitu pula dengan media massa. Media hanya sebuah alat. Namun saya yakin sebagian dari mereka masih memiliki apa yang mereka sebut idealisme dan itu menjadi sebuah harapan akan dunia yang lebih baik.

*) ditulis untuk Buletin SIKLUS yang diterbitkan oleh Psikomedia edisi bulan April dan sebagai kado untuk mereka yang menyebarkan berita

Sabtu, 25 Juli 2009

Indonesia Kids choice awards: eksploitasi anak?


Beberapa hari yang lalu saya menyaksikan sebuah acara yang bernama Indonesia Kids choice awards di sebuah televisi swasta. Seperti namanya, ketika pertama kalinya acara ini diadakan (kalau tidak salah pada tahun 2008) dalam promosinya, ini adalah sebuah acara sebagai wadah anak kecil untuk menunjukkan ekpresinya dalam dunia entertainment. Bahkan penyelennggaraannya pun tidak jauh-jauh dari hari anak nasional sehingga terkesan acara ini adalah sebuah bentuk hadiah dari televisi swasta tersebut yang bekerjasama dengan nickelodeon. Sekilas tampaknya memang acara ini didedikasikan untuk anak-anak. Akan tetapi benarkah demikian?

Acara ini dikemas dalam bentuk sebuah acara penghargaan dimana artis-artis atau musisi-musisi serta orang lain dalam dunia entertainment akan diberi penghargaan oleh anak-anak sesuai pilihan mereka. Bahkan anak-anak pun diberi kesempatan untuk ikut memilih melalui poling SMS sebelum hari pelaksanaan. Sampai disini tidak ada yang aneh dalam semua itu.

Namun ketika dalam pelaksanaannya saya menemukan beberapa hal yang cukup aneh. Pertanyaan pertama yang terlintas dibenak saya adalah apa manfaat acara tersebut bagi anak-anak itu sendiri? Okelah memang mereka (para juara) dipilih oleh anak-anak, lantas kenapa? Tetap saja mereka yang dipilih adalah para penyanyi yang menyanyikan lagu-lagu tentang cinta, selingkuh, dsb yang menurut saya itu jauh sekali dari apa yang seharusnya dikonsumsi oleh anak-anak. Tetap saja artis-artis yang mereke pilih adalah artis-artis dewasa yang seringkali memakai baju minim dalam penampilannya dan tentu saja menurut saya itu tidak selayaknya dikonsumsi anak-anak.

Bahkan dalam acara tersebut ditampilkan pula artis-artis dan penyanyi serta bintang tamu lainnya yang menurut saya penampilannya (secara fisik misalnya berpakaian) jauh dari apa yang layak dikonsumsi anak-anak. Bahkan ketika Luna Maya tampil bersama Ariel Peterpan dalam panggung tiba-tiba anak-anak serentak berteriak, “Cium..cium..” (biasanya sih hal seperti ini memang telah diatur oleh petugas di studio). Astaghfirullah, mau jadi apa generasi penerus kita?

Maka dari hal itu kita dapat mempertanyakan suatu hal: Siapakah yang sebenarnya diuntungkan dengan adanya acara ini? Menurut saya tentu saja yang paling diuntungkan adalah artis-artis dan para musisi yang mendapat penghargaan tersebut karena tentu saja hal ini akan menaikkan rating mereka. Pihak lain adalah penyelenggara acara tersebut karena mereka dapat menjual suatu tontonan yang cukup jarang diadakan (dengan embel-embel didedikasikan untuk anak-anak). Sementara anak-anak sendiri apa keuntungan mereka?

Seharusnya jika memang acara ini didedikasikan untuk anak-anak, mungkin jenis penghargaannya berupa penghargaan bagi penyanyii cilik, acara televisi yang bermanfaat bagi anak-anak, lagu-lagu untuk anak-anak, dsb yang tentunya dengan adanya penghargaan tersebut maka mereka yang berkecimpung dalam dunia entertainment akan lebih terdorong untuk memberikan kontribusi mereka pada dunia anak.

Contoh kecil saja misalnya penghargaan yang diberikan kepada penyanyi anak-anak tentunya akan mendorong tumbuhnya penyanyi-penyanyi lagu anak-anak yang kini telah mulai menghilang dan bukan hanya sekedar penyanyi dewasa yang bertubuh mini (lihat saja dalam acara AFI Junior dsb, meskipun penyanyinya adalah anak-anak akan tetapi lagu-lagu yang dinyanyikan jauh dari apa yang seharusnya dikonsumsi anak-anak).

Memang mungkin sudah saatnya bagi dunia entertainment untuk mulai memikirkan tentang dunia anak-anak. Jangan hanya berfokus pada mengambil keuntungan, meskipun dunia anak mungkin bukan industry yang menjanjikan, tetapi anak-anak kita sebagai generasi penerus tentunya perlu kita didik dan salah satunya adalah dari dunia entertainment. Marilah kita bersama-sama berkontribusi nyata demi generasi penerus bangsa ini.

Jumat, 19 Juni 2009

merah putih dan layar kaca


Iseng-iseng, akhir-akhir ini beberapa televisi swasta kembali memutar film-film India. Bukan masalah artis-artisnya yang seksi atau jogednya yang aduhai, ada satu hal yang membuatku miris. Dalam film itu, meskipun terkadang setting tempatnya di luar negeri, sering kali mereka digambarkan sebagai sosok nasionalis. Mereka menggambarkan diri mereka sendiri yang cinta pada negara mereka sendiri. Sangat tidak jarang bendera mereka berkibar di film-film mereka. Bahkan terkadang diceritakan pula mereka (orang India) melawan orang-orang ras kaukasian dan mereka menang. Sungguh mengharukan, andaikan kita punya film seperti itu.

Bukan cuma India, coba kita lihat film-film Barat dari Amerika misalnya. Seringkali kita melihat film-film yang menggembor-gemborkan kehebatan negara mereka. Bahkan tidak jarang dalam film fiksi (semisal film superhero) mereka menyisipkan nilai-nilai nasionalisme kebanggaan mereka terhadap mereka, meski hanya sekedar bendera mereka yang berkibar (dalam film Spiderman misalnya). Bendera berkibar? Apa pentingnya? Dalam ilmu Psikologi (dan mungkin juga ilmu komunikasi) kita mengenal adanya subliminal message, dan menurut saya, bendera yang berkibar di sebuah film adalah sebuah subliminal message yang mempengaruhi rasa nasionalisme.

Namun apa yang terjadi pada perfilman kita? Seberapa sering kita melihat merah putih berkibar dalam film kita? Atau seberapa banyak film yang menyampaikan pesan nasionalisme? Saya rasa hal itu sangatlah sedikit. Sebut saja Nagabonar, Denias, dsb adalah contoh film-film yang menggugah rasa nasionalisme.

Ambil sebuah contoh film Indonesia yang mengambil setting tempat di luar negeri misal dalam eiffel i'm in love. Dari judulnya saja patut dipertanyakan mengapa mereka lebih suka menggunakan bahasa asing daripada bahasa persatuan, bahasa Indonesia (telah lupakah mereka pada sumpah pemuda?). Lalu apa yang mereka sajikan dalam film tersebut? Bila dibandingkan dengan film India yang saya ceritakan sebelumnya, sungguh miris. Yang ada hanyalah gambaran kehidupan hedonis orang-orang yang "cukup beruntung" bisa mondar-mandir di luar negeri sementara petani kiyta kesulitan mencari pupuk. Lalu dimana bendera merah putih? Jangan bermimpi, disebut nama Indonesia pun itu sudah untung. Tiidak perlu saya lanjutkan, saya rasa masyarakat sudah cukup pintar mencari dimana merah putih dalam perfilman di Indonesia.

Contoh lain adalah dunia periklanan. Berapa banyak yang mengangkat tema nasionalisme?? Saya rasa hanya beberapa perusahaan rokok (karena mereka bingung mau beriklan seperti apa) dan beberapa lainnya. Yang lebih miris lagi, di masa kampanye ini, iklan partai/capres yang berisikan semangat nasionalisme sangat sedikit. Padahal seharusnya momen ini tentu momen yang tepat untuk menggugah rasa nasionalisme. Tetapi kebanyakan partai dan capres lebih sibuk bernarsis-ria dibanding memberikan pendidikan nasionalisme kepada masyarakatnya. Dan anehnya, masyarakat kita sendiri juga lebih suka kepada iklan yang narsis daripada iklan yang menggugah.

Jika nasionalisme adalah sesuatu hal yang penting untuk ditumbuhkan, maka saya rasa layar kaca adalah salah satu media efektif. Ajaklah nonton saudara, teman, anak, keluarga, dsb anda untuk menonton film-film yang menggugah semisal Nagabonar, Denias, Laskar Pelangi, Garuda di Dadaku, King, dsb daripada sekedar genderuwo vs tuyul. Jika anda adalah orang yang bekerja di industri perfilman, maka cobalah sisipkan merah putih dalam film anda. Atau mungkin yang lebih mudah adalah sisipkan merah putih dalam blog anda. Dan semoga dunia layar kaca kita nantinya akan lebih sering dihiasi merah putih.