Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Oktober 2014

Banding

Diantara seluruh lelaki/wanita yang pernah memasuki kehidupanmu, siapakah yang paling cantik/tampan? Siapa yang paling pintar? Siapa yang paling kaya? Kamu boleh menjumlahkannya, mengalikannya dengan bobot tertentu ataupun memberikan nilai dengan angka apapun. Lalu jawablah pertanyaan terakhir ini: apakah dia yang akan engkau pilih menjadi pendamping hidupmu? Atau yang lebih mendasar, tegakah kamu membandingkan kekasihmu dengan lelaki/wanita lain?

Lalu apa jadinya jika pacar atau kekasihmu saat ini membandingkan dirimu dengan mantan kekasihnya? Apakah kamu akan merasa bangga ketika mampu merendahkan orang lain? Bagaimana jika kamu yang ternyata lebih rendah, relakah?

Kawan, manusia bukanlah sesuatu yang bisa kau bandingkan begitu saja. Sadarilah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun bukan hak kita untuk menilai dan membandingkan. Manusia adalah makhluk berjiwa dan berperasaan, bukan sekedar objek dari justifikasi kita yang subjektif. Mereka tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain.

Kawan, yakinlah siapa mereka saat ini adalah yang terbaik yang dapat mereka raih. Kita tidak pernah tahu lingkungan seperti apa yang mereka hadapi sebelumnya. Yakinlah bahwa mereka saat ini adalah hasil dari sebuah proses dari perjalanan mereka menuju kesempurnaan. Dan kesempurnaan masing-masing orang tidaklah sama.

Compare (erinbird.deviantart.com)

Maka satu hal yang menjadi hak kita hanyalah untuk membuktikan kita lebih naik dari mereka. Bukan mencela, merendahkan atau membandingkan.

Setiap kali orang yang engkau rasa kurang baik muncul sebagai pemenang, maka bukanlah kebencian yang harus kau tanamkan. Tetapi rasa malu karena orang baik masih belum mampu menyamai kehebatan mereka.

Selasa, 28 Oktober 2014

Sumpah Istimewa

Apa yang membedakan sumpah pemuda dengan sumpah lainnya? Sudah sering aku mendengar para pemuda itu bersumpah, dan seringpula aku melihat bahwa mereka mengingkarinya. Mulai dari sumpah tentang kisah percintaan mereka, kenakalan yang mereka lakukan, janji yang tidak dapat mereka tepati, hingga idealisme yang luntur ketika mereka sudah tidak lagi menjadi pemuda. Sumpah mereka sama saja, tidak ada bedanya dengan kebanyakan manusia yang munafik dan menganggap Tuhan tidak ada sehingga tidak ada konsekuensi apapun terhadap sumpah yang mereka langgar.

Apa yang membedakan pemuda dengan orang lainnya? Sudah sering aku melihat pemuda bertindak dengan gegabah. Mereka merasa paling tahu di dunia ini, serta tidak mau tunduk terhadap sistem organisasi di dalam masyarakat. Mereka merasa paling tahu karena tidak tahu. Mereka sering bertindak tanpa dilandasi pemikiran yang mendalam. Mereka adalah kereta api yang meluncur dengan cepat tanpa adanya sistem pengereman yang memadai. Semua diterabas tanpa berpikir akan konsekuensinya.

Pemuda hanyalah sebuah fase kehidupan. Maka ketika kita tidak muda lagi, apakah lantas janji yang telah kita ucapkan otomatis gugur seiring perubahan status kita? Ataukah itu sumpah yang mengikat kita sepanjang hayat? Bagaimana pula dengan pemuda saat ini yang mereka tidak mengikuti sumpah di kala itu, akankah mereka juga terikat dengan sumpah yang diucapkan oleh pendahulunya?

Sumpah Pemuda (agoez-depe.deviantart.com)

Maka ketahuilah bahwa manusia itu dilihat dari pribadinya. Mereka yang tidak mampu mengikuti sumpah yang mereka ucapkan, tentu tidak bisa dianggap sebagai manusia. Selamat hari sumpah pemuda.

Rabu, 27 Agustus 2014

Logic

I love logic. Although love aren't logic.

Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka dari Hati

 
(source: kdri.web.id)
Dunia ini sempurna dengan setiap kekurangan dan kelemahannya masing-masing. Itulah mengapa Tuhan menciptakan manusia, untuk menjadi kekurangan dan kelemahan dari dunia, serta untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan tersebut. Sebongah demi sebongkah, sama halnya ketika kita membuat kerusakan di dunia. Dan dengan bantuan dari Sang Waktu maka hal yang sedikit itu perlahan menjadi banyak di luar apa yang mampu dibayangkan oleh manusia.

Maka sesuatu yang besar juga memiliki permasalahan dan kekurangan yang besar pula. Dunia ini adil. Di balik setiap kekuatan yang ada tersedia tantangan yang luar basa. Dan sekali lagi Sang Waktu hanyalah instrument netral. Dia akan mengalikan setiap kebaikan dan kekurangan yang ada sesuai dengan proporsinya masing-masing.

Enam puluh sembilan tahun adalah faktor pengali dari kebaikan dan kelemahan bangsa ini. Bukan berarti enam puluh sembilan tahun menunjukkan bahwa bangsa ini merdeka dari permasalahan, justru enam puluh sembilan tahun menunjukkan bahwa permasalahan bangsa ini lebih kompleks enam puluh sembilan kali dari awal kemerdekaan. Namun kekuatan kita juga enam puluh Sembilan kali lebih banyak dari awal kemerdekaan. Seharusnya.

Maka disinilah kita menambil peran. Dunia selalu memiliki sisi baik dan sisi buruk, pertanyanya adalah ada dimana kita selama ini dan berbuat apa di dalam sisi tersebut. Seseorang oleh berada di sisi yang buruk, namun disana dia mengajak orang-orang di dalamnya untuk berbuat kebaikan. Begitu pula seseorang bisa saja berada di sisi yang baik, namun di dalamnya dia mengajak orang-orang untuk berbuat kerusakan.

“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.” (Mahatma Gandhi)

Maka dimanapun kita berada, teruslah berusaha untuk berbuat kebaikan dan terus menerus membangun apa yang kita yakini sebagai kebaikan. Kita tidak bisa hanya berdiam diri dan berkata bahwa itu semua berada di luar kemampuan kita. Ingatlah bahwa dalam setiap keterbatasan terdapat sebuah pilihan. Dan mendiamkan keburukan adalah sama halnya dengan berbuat keburukan itu sendiri. Bertindaklah, tunjukkan bahwa kita berada dalam barisan orang-orang yang berusaha untuk berbuat kebaikan dengan berbagai cara.

Perjuangan ini belum berakhir. Kita boleh bangga bahwa Indonesia telah lepas dari jeratan utang IMF, namun kita harus ingat bahwa bukan berarti Indonesia kini tidak lagi berhutang. Kita boleh bangga bahwa pertumbuhan ekonomi kita cukup tinggi, namun kita harus ingat bahwa kita masih melakukan impor dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Permasalahan ini masih ada, dan akan terus ada seiring perkebangan manusia. Itulah mengapa Tuhan menciptakan mausia, untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka ciptakan sendiri. Dan kita tiak bisa hanya berdiam diri dan mengatakan itu semua di luar kuasa kita. Ingatlah bahwa setiap permasalahan juga diciptakan oleh tindakan-tindakan kecil. Begitu pula bahwa setiap kebaikan juga akan disebarkan melalui setiap tindakan-tindakan kecil. Merdeka, dan tetap berusaha dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun. Merdeka dari dalam hati untuk bertindak.

Kamis, 26 Juni 2014

Cantik

Sebagian orang terlihat cantik sekilas pandang. Namun jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka sebenarnya dia tidak secantik apa yang kita kira sebelumnya.

Sebaliknya, sebagian yang lain tampak biasa saja sekilas pandang. Namun jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh, barulah kita menyadari bahwa dia lebih cantik dari apa yang kita kira.

Sedangkan sisanya, mereka benar-benar cantik ataupun biasa saja. Memandang dengan intensitas yang lebih lama tidak akan mengubah pendapat kita.

Beauty (troyblue.deviantart.com)

Perhatikan

Rabu, 25 Juni 2014

Capres dan Islam

Kalau saya boleh berpendapat, maka pemilu kali ini adalah pemilu yang paling menyedihkan. Bukan karena kualitas demokrasi, banyaknya kecurangan, atau alasan lainnya, hanya saja pada pemilu presiden kali ini sangat banyak black campaign maupun negative campaign yang ditujukan menyerang salah satu pasangan atau pasangan lainnya. Salah satunya yang membuat saya miris adalah terkait dengan isu agama.

Terlebih lagi, seringkali pihak yang menyebarkan negative campaign maupun black campaign berasal dari kalangan aktivis Islam garis keras dengan mengangkat isu-isu dan tema-tema yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Bermodalkan informasi yang tidak jelas dan cenderung berat sebelah tersebut, kemudian muncul opini-opini yang menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan agama. Bahkan seringkali opini-opini tersebut masuk ke tataran akidah dan seolah agama tertentu mewajibkan capres tertentu. Padahal stahu saya hingga saat ini tidak ada satu pun ayat al-quran ataupun hadis yang mengarahkan umat islam untuk memilih Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK.

(Sumber: lensaindonesia.com)

Yang justru ditekankan dalam hadis adalah bagaimana kita yang mengaku sebagai umat Islam dilarang untuk menjelekkan/merendahkan orang lain dengan berit yang memang benar adanya (negative campaign/ghibah) maupun berita palsu (black campaign/fitnah). Misalnya sesuai dengan surat Al-Hujurat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (49:12)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk menjauhi prasangka dan mencari-cari kejelekan orang lain. Allah SWT menyamakan orang-orang yang melakukan negative campaign maupun black campaign sebagai seorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri (sebuah perilaku yang menjijikkan).

Maka sangat tidak antas kepada kita atau siapapun yang mengaku sebagai orang Islam, melakukan negative campaign maupun black campaign dengan alasan apapun. terlebih lagi jika tindakannya tersebut diklaim atas nama perintah agama Islam sementara di sisi lain Islam sendiri melalui Al-Quran telah menyatakan secara jelas bahwa tindakan tersebut sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Islam dan Politik

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dimana mayoritas penduduknya tercatat beragama Islam, memiliki sejarah politik yang cukup panjang. Dalam hal ini kekuatan Islam yang menjadi mayoritas di negara ini berkali-kali pula diseret ke dalam kepentingan politik. Baik dari sebelum masa kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan. Imam Bonjol misalnya, melakukan perlawanan kepada Belanda dengan mengatasnamakan Islam.

Setelah masa kemerdekaan, berbagai kekuatan Islam pun unjuk gigi dalam perpolitikan Indonesia baik secara halus maupun secara kasar. Munculnya DI/TII dan NII misalnya, merupakan salah satu bentuk kemunculan kekuatan Islam dalam bentuk yang kurang halus. Secara internal pun kekuatan politik Islam cuku terlihat dari munculnya partai-partai Islam seperti Masyumi dan sebagainya.

Pada awal masa orde baru, kekuatan Islam dianggap sebagai salah satu tonggak untuk menyingkirkan faham komunis secara terang-terangan (melalui partai Komunis Indonesia). Komunis seringkali diseberangkan dengan faham Islam sehingga kekuatan Islam mau digerakkan oleh pemerintah saat itu untuk menyingkirkan komunis. Padahal belakangan mulai muncul kesadaran bahwa komunis dan Islam bukanlah faham yang bertentangan, banyak tokoh dalam partai Komunis Indonesia yang pada saat bersamaan merupakan tokoh masyarakat Islam. Itu semua hanya permainan politik saat itu untuk mendapatkan dukungan masyarakat muslim.

Pada masa orde baru pula sistem perpolitikan Indonesia dibuat lebih sederhana. Kubu muslinm disatukan ke dalam partai Persatuan Pembangunan. Meski pada kenyataannya banyak kekuatan Islam yang juga masuk ke dalam Golkar maupun Partai Demokrasi Indonesia. HMI maupun ICMI misalnya, pergerakan mereka untuk mendominasi kepengurusan Golkar terbilang cukup berhasil.

Kekuatan Islam seringkali hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan politik tertentu. Sangat jarang terlihat para politisi maupun partai politik (bahkan yang mengatasnamakan Islam) tampak untuk membela kepentingan umat. Yang ada justru Islam dijadikan kedok untuk meraih kepentingan probadi mereka. Mari kita tengok daftar politisi yang juga merupakan tokoh muslim justru terlibat dalam berbagai tindak korupsi.

Kalau saya boleh berpendapat, justru para koruptor-lah yang lebih pantas dibilang sebagai orang kafir. Koruptor adalah para pencuri, dan mencuri dilarang didalam Islam sesuai ayat berikut:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksa dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (5:38-39)
Pada saat yang bersamaan, para koruptor menunjukkan ciri sebagai orang munafik seperti dalam hadis berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"
Maka dalam hal ini, para koruptor adalah terdakwa dengan pasal berlapis. bagi saya para koruptor tersebut sudah tidak lagi pantas disebut sebagai orang Islam, tidak peduli apakah mereka kader dari partai Islam maupun tokoh Islam darimanapun. Mereka adalah orang yang mengaku sebagai orang Islam, namun mereka menginjak-injak aturan Allah SWT secara terang-terangan. 

Islamkah Kedua Kubu?

Jika kita menilik latar belakang politik kedua calon presiden, maka sesungguhnya keduanya tidak memiliki keterkaitan erat dengan kubu umat Islam. Prabowo besar dari latar belakang militer yang kemudian berkiprah dalam Golkar dan belakangan mendirikan Gerindra. Gerindra sendiri merupakan partai berhaluan sosialis yang seringkali berseberangan dengan kepentingan Islam. Sama halnya dengan PDI Perjuangan yang juga berhauluan sosialis. Terlebih lagi pada saat orde baru dimana sistem kepartaian disederhanakan menjadi tiga partai, PDI merupakan rumah bagi masyarakat non-muslim. Maka dari segi kepartaian keduanya sama-sama tidak memiliki latar belakang dukungan partai Islam.

Lain halnya dengan kedua calon wakil presiden. Hatta Rajasa berasal dari partai Amanat nasional, partai yang seringkali dianggap sebagai representatif dari umat muslim Muhammadiyah. Sedangkan Jusuf Kalla merupakan mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam, sebuah pergerakan islam d kalangan mahasiswa yang belakangan berhasil menguasai dominasi dalam tubuh partai Golkar. Keduanya memiliki latar belakang kepentingan politik Islam, meskipun saya berpendpat kedua organisasi tersebut pun tidak sepenuhnya menunjukkan nilai-nilai ke-Islam-an. Maka dalam hal ini kedua pasangan memiliki nilai yang sama.

Dari segi pendukung pun sama halnya, keduanya memiliki basis dukungan partai dan tokoh Islam. Di kubu Prabowo Hatta mereka memiliki dukungan dari partai-partai Islam semisal PPP, PKS, PAN, dsb. Sedangkan di kubu Jokowi JK mereka didukung oleh PKB. Meskipun belakangan kondisi akhir-akhir ini menunjukkan kedua kubu membawa gerbong kosong, artinya massa dari partai-partai tersebut akhirnya terpecah dan membela kedua kubu sesuai kehendak mereka. Sedangkan untuk tokoh Islam di luar sistem kepartaian dari kubu Prabowo Hatta muncul nama-nama seperti Said Aqil Sirodj dan Arifin Ilham. Sedangkan di kubu Jokowi JK muncul nama-nama seperti Hazim Musyadi dan Syafi'i Ma'arif. Dari segi ini, kubu Prabowo Hatta tampak memiliki dukungan lebih banyak tokoh Islam, meskipun jika kita melihat secara keseluruhan dukungan tokoh masyarakat ke Prabowo Hatta lebih banyak daripada ke Jokowi JK.

Meski demikian, fakta tersebut menunjukkan bahwa kedua pasangan sama-sama tidak memiliki track record keberpihakan kepada politik Islam dan keduanya juga sama-sama didukung oleh tokoh Islam. Maka dari itu, adanya tuduhan berupa black campaign dan negatif campaign untuk menjatuhkan keduanya dalam bentuk isu agama menurut saya sangatlah tidak beralasan. terlebih jika tuduhan tersebut justru disuarakan oleh kalangan aktivis Islam. Ibarat kata ketika Tuhan berfirman untuk tidak makan babi, kita kemudian justru memakan babi untuk berbuka puasa.

Pada akhirnya kedua pasangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keduanya adalah putra terbaik bangsa. Kembali kepada kita untuk menentukan siapa yang akan kita pilih. Kita cukup memilih salah satu tanpa harus merendahkan pihak lain yang berbeda. Karena keduanya sama-sama baik.

Senin, 26 Mei 2014

Terima kasih, Bapak

Biru bukanlah warna nasional kita. Bahkan ketika biru bergabung dengan merah putih mengingatkan akan kepiluan di masa silam. Masa dimana nusantara digerayangi oleh bayang-bayang asing yang cukup lama sebelum akhirnya diusir oleh "saudara tiri" merah putih kita. Merah putih biru adalah Belanda, negeri yang seringkali dianggap telah menjajah bangsa kita selama tiga ratus lima puluh tahun.

Namun biru, telah memberi nuansa tersendiri selama satu dekade terakhir. Dimulai dari sebuah warna dengan intensitas yang cukup kecil di tahun 2004 sebuah siratan kecil yang tidak akan disangka menjadi dominan dalam dua kali lima tahun. Akan tetapi di bawah tangan dingin dari Bapak yang sering disebut sebagai ahlinya pencitraan, biru mampu menjadi dominan dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebuah demokrasi tidak berjalan dengan tenang, namun disitulah demokrasi. Banyak hiruk pikuk selama sepuluh tahun terakhir, namun itu justru menguatkan arti demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi yang memberikan ruang atas ketidaksetujuan, tanpa mengganggu perjuangan yang sedang dilakukan. Bukan demokrasi yang saling menumbangkan kekuasaan ataupun mengkudeta kemakmuran suatu bangsa.

Sebuah pertumbuhan tidak berjalan dengan mudah, namun itulah arti dari perjuangan. Ekonomi kita tidak melesat menjadi yang terbaik, tetapi tumbuh konsisten menuju yang terbaik. Semua butuh proses. Siapa sangka di tahun 2008 dunia mengalami krisis namun kita hampir tidak merasakannya? Dan kini negara dunia ketiga yang selama ini dipandang sebelah mata mulai bangkit seiring perpindahan poros dunia yang tidak lagi terpusat kepada negara persatuan.

Sebuah keadilan yang hakiki hanya akan terwujud pada hari pembalasan, namun kita bisa berusaha mewujudkannya saat ini. Keadilan bukan berarti tidak ada penjahat, namun keadilan adalah tentang memberikan hukuman kepada yang berlaku jahat dan penghargaan kepada yang berlaku baik. Pada satu dekade ini banyak kasus korupsi bermunculan, namun itu berarti bahwa pengadilan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya intervensi dari penguasa yang ada.

Sebuah pemimpin yang baik bukanlah yang sempurna, namun yang melahirkan pemimpin-pemimpin lain yang lebih sempurna. Pada dekade ini pula mulai muncul tokoh-tokoh nasional yang disegani dalam bidangnya masing-masing. Seolah rakyat Indonesia yang pemalas mendadak menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Semua memiliki kesempatan untuk berusaha menjadi yang terbaik, dan berhasil. Impian itu belum terwujud, tetapi seolah memberikan kepastian bahwa itu pasti akan terwujud.

Maka terima kasih, semua pemimpin pasti memiliki kekurangan. Namun bukan berarti kita berhak untuk tidak menghargainya di kemudian hari. Kita harus berterima kasih kepada Soekarno atas kepemimpinannya di awal kemerdekaan, namun kita boleh tidak setuju dengan sikap otoriter dan kegemarannya menghamburkan kekayaan untuk monumen. Kita boleh marah atas sikap koruptif Soeharto beserta kroni-kroninya, namun kita harus tetap berterima kasih atas perjuangan pada awal masa orde baru dalam membuat rencana pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Kita boleh tidak setuju dengan sikap Gus Dur yang sesuka hati, namun kita harus menghargai bahwa pada masanya semua orang merasa diterima dan setara dinegeri ini. Semua pemimpin memiliki tinta emas dan corengan arang dalam masa kehidupannya.

(source: zimbio.com)

Dan kepada Bapak, kami mengucapkan terima kasih atas stabilitas negeri selama satu dekade ini. Sebuah perjuangan yang tidak mudah mengingat banyak saudara kita yang mengalami berbagai pemberontakan dan kudeta dalam satu dekade terakhir. Terima kasih atas stabilitas ekonomi yang dibangun, dimana kita mampu terus merangkak ke atas di saat yang lain jatuh terkena gelombang krisis. Terima kasih atas demokrasi yang berhasil dijaga, dimana semua orang berhak menyampaikan kesetujuannya maupun ketidaksetujuannya tanpa adanya konsekuensi negatif atas tindakannya. Terima kasih atas keadilannya yang berhasil ditegakkan, meskipun korupsi masih banyak terjadi (bahkan di lingkaran terdekatnya) namun penegakan hukum tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dan terakhir pada saat biru tidak lagi dapat bertahan di merah putih, Bapak memberikan pendidikan politik terbaik. Kemauan untuk memberikan kesempatan kepada semua pihak ketika putra mahkota terperosok ke lubang hitam, sikap kesatria untuk tidak mengemis namun memilih bersikap netral. Terima kasih.



update: netral? cuih... #shameOnYouSBY

Rabu, 12 Maret 2014

Sebuah grafik tentang waktu dan perjalanan

Kadang aku iri, dengan orang lain dan kehidupannya. Dengan perjalanan mereka yang nampak sangat menyenangkan dan menantang. Dengan apa yang mereka miliki dan dapatkan dari dekade waktu yang sama kita hidup.

Kadang aku iri, aku ingin menjadi mereka. Berjalan di kehidupan mereka. Merasakan apa yang mereka alami. Menghirup udara yang menopang kehidupan mereka selama ini.

Kadang aku iri, ingin pergi dari jalan hidupku yang landai dan tenang. Yang hanya memberikan apa yang telah aku miliki selama ini. Yang selalu membuatku iri ketika aku berkumpul bersama mereka. Ketika mereka membanggakan perjalanan mereka.

Bukan aku tak berusaha. Beberapa kali kucoba menuju jalan mereka namun terhalang dengan tembok yang kokoh. Aku hanya yakin bahwa Tuhan tahu apa yang tidak aku tahu. Dan setiap kegagalan dari usahaku adalah karena Tuhan tahu bahwa itu bukan yang terbaik untukku. Untuk diriku yang masih meraba masa depan di dalam kabut ketidakpastian.

Inilah kali pertama dimana aku menciptakan berbagai skenario kehidupan, namun aku tidak yakin mana yang akan aku jalani.

Grass (bagi1992.deviantart.com)

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, dan kita selalu membandingkan warna rumput. Dan sesungguhnya mereka pun merasa iri terhadap kehidupan kita.

Senin, 17 Februari 2014

Dunia

Di tahun pertama aku tiba di dunia ini. Aku takjub dengan peradaban yang telah dibangun manusia. Dengan ketinggian yang tidak pernah dibayangkan nenek moyang kita. Dengan akses yang mudah dan cepat. Dengan kenyamanan yang membuat orang enggan untuk beranjak dari tempatnya.

Ini adalah dunia dimana usaha, kerja keras dan perjuangan dipertaruhkan. Kini kita dapat melihat hasilnya secara kasat mata. Buah dari peradaban manusia, perkembangan akal dan kekuatan usaha.

Namun di tahun kedua aku merasakan realita yang berbeda. Dimana manusia hidup hampir tidak seperti manusia. Manusia hidup tidak tumbuh. Hanya sekedar mempertahankan hidup dari hari ke hari. Dari detik ke detik. Sisi lain yang menggambarkan kerasnya kehidupan.

Memang sebuah hasil tidak akan nampak tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan. Jangan katakan bahwa perjuangan dan pengorbanan itu mudah. Lihatlah mereka yang hidup dari hari ke hari. Perjuangan dan pengorbanan yang membuat kita menitikkan air mata. Terlebih ketika kita melihat orang yang kita kasihi mengalaminya.

Growth (marthep.deviantart.com)

Namun itulah kehidupan. Sesaat sebelumnya seseorang berkata kepadaku bahwa dunia tak selamanya menyenangkan, namun itulah yang membuatnya menyenangkan. Itulah dinamika dunia. Itulah kehidupan.

Maka kita yang disini memiliki kekuatan untuk berusaha hendaklah menyisingkan lengan baju. Bukan hanya untuk hidup, tetapi juga tumbuh dan berkembang. Terlebih lagi mengembangkan.

Senin, 20 Januari 2014

(Mungkin) Membosankan

Selamat datang di dunia tanpa setan, dimana seluruh kehidupan berjalan dengan penuh senyuman. Seluruh warga tersenyum tanpa pernah merasakan kesedihan. Mereka semua bahagia, tidak ada yang namanya gesekan sosial atau apapun itu. Tidak ada kesalahpahaman. Semua bagian masyarakat menghormati dan menghargai satu sama lain.

Tidak ada kemiskinan, semua hidup dengan kecukupan yang sama. Semua saling memberi dan menerima, tanpa ada yang kekurangan maupun kelebihan. Semua cukup makmur sehingga mampu membagikan kepada orang lain, namun tidak pula ada satu pun pemberian yang ditolak karena mereka tidak mau menyakiti hati orang lain dengan menolak pemberian. Semua orang memiliki bagian kosong dari perut masing-masing orang. Semua cukup untuk memberi dan menerima.

Maka ketika menonton televisi di pagi, siang maupun malam hari. Tidak akan kita jumpai sebuah kabar yang tidak menyenangkan. Semuanya kabar gembira, mulai dari kelahiran seorang anak di sebuah keluarga kecil bahagia hingga kabar tentang adanya program pemerintah yang membuat masyarakatnya semakin sejahtera, dan berhasil. Semua orang tersenyum seumur hidupnya.

Tidak pernah ada yang namanya masalah maupun musibah. Atau bahkan penduduknya tidak pernah sekalipun mengenal kata-kata tersebut. buat apa menciptakan sebuah kata yang tidak relevan dengan kehidupan mereka? Itu mubadzir. Dan mubadzir tidak dikenal di dunia tersebut.

Hingga disini, semuanya baik-baik saja.

Perfection is Boring (qazinahin.deviantart.com)

Tetapi dunia itu membosankan. Duniaku jauh lebih baik. Dimana orang-orang baik pun saling bertengkar untuk mewujudkan niat baik mereka. Mungkin setan memang berguna untuk mewarnai hidup ini.






Catatan: setelah beberapa saat penulis menerima keluhan dari setan, dia berkata "kami hanya mengajak, kalian yang melakukan. Mengapa kami yang disalahkan?"

Minggu, 19 Januari 2014

Dipikir karo Mlaku

Manusia hidup dengan tujuan, karena kita makhluk yang memiliki mimpi. Namun terkadang apa yang kita inginkan untuk kita raih bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak rintangan dan godaan yang menghalangi. Tau bahkan mungkin sebenarnya Tuhan pun tahu mana yang lebih baik dan berkehendak yang lain untuk diri kita.

Kita bermimpi, kita berdoa dan kita berusaha. Namun pada akhirnya Tuhan yang akan menentukan mana yang terbaik untuk diri kita. Semua sudah ada jalannya, semua sudah ada waktunya. Semua akan memiliki skenario kehidupannya masing-masing yang paling indah.

Kita boleh berharap untuk menulis skenario hidup kita, kita boleh berusaha untuk mewujudkannya. Atau mungkin kita memang harus. Namun dunia lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Lalu apakah kita menyerah dan menganggap itu semua kehendak Tuhan?

sumber: DP BBM seorang teman

Tentu tidak, Tuhan tidak suka kepada mereka yang menyerah dan berputus asa. Kita harus tetap berusaha dan berpikir tentang skenario terbaik dalam kehidupan kita. Kita harus bersahabat dengan perubahan dan tetap terbuka.

Jumat, 29 November 2013

#Respect

Respect is something to gain, not ask

Bolehkah kita meminta orang lain untuk menghormati kita? Tentu boleh. Namun apakah mereka mau memberikannya itu adalah hal lain. Respect adalah urusan hati. Dan hati tidak suka berbohong, tidak seperti mulut.

Respect adalah hak orang lain, bukan kita. Setiap orang berhak menghormati orang yang mereka hormati dan tidak menghormati orang yang tidak mereka hormati. Sebuah kehormatan dan anugerah tersendiri. Kita patut bersuka hati karenanya.

Tapi bagi sebagian orang, respect dari orang lain telah menjadi kebutuhan hidup. Mereka hidup dengan hal itu, dan tidak bisa kehilangannya. Mereka melihatnya sebagai hak mereka, bukan hak orang lain.

Respect (skia.deviantart.com)

Bagaimanapun juga, kita hanya sebatas anggapan orang lain terhadap kita. Bukan anggapan diri kita sendiri. Respect adalah sesuatu yang harus kita peroleh dari orang lain, bukan dengan memintanya. Karena meminta respect dari orang lain tidak ada bedanya dengan pengemis. Kita tidak mau jadi pengemis.

Senin, 28 Oktober 2013

Sumpah Pemuda Revisi 01

Kami putra putri Indonesia, berjuang untuk yang satu. Kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kami putra putri Indonesia, bersatu padu. Tanpa perselisihan antar kelompok.

Kami putra putri Indonesia, berbahasa satu. Bahasa intelektualitas dan kemajuan bersama.

Rabu, 16 Oktober 2013

The Hedonic Treadmill

Mungkin kita akan mengeluh kepada Tuhan, mengapa apa yang kita inginkan seringkali tidak pernah kita dapatkan. Namun sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan justru menjadi apa yang kita miliki saat ini.

Benarkah demikian?

I want more (garyckarntzen.deviantart.com)

Coba kita cermati lagi apa yang kita miliki saat ini. Lalu kita buka kembali arsip doa-doa kita di masa lampau. Doa-doa yang pernah kita panjatkan sepenuh hati di masa lalu, namun tidak ada lagi dalam ingatan kita di masa sekarang. Doa yang dulu kita tangisi agar dikabulkan oleh Yang Mampu Mengabulkan. Doa yang kita panjatkan di malam hari dengan sepenuh hati.

Samakah?

Bisa jadi ...
Apa yang kita miliki saat ini adalah jawaban dari doa-doa di masa lampau.

Mungkin manusia memang tidak pernah bersyukur ...

Atau mungkin memang manusia diciptakan demikian halnya. Berdoa, berusaha meraihnya, memperolehnya, kemudian berdoa akan hal lain yang lebih baik lagi. Terus menerus berputar seeikit demi sedikit meraih yang lebih baik. Hingga pada suatu saat seluruh usaha tersebut terakumulasi dan menjadi sebuah kebaikan yang di luar dari apa yang mampu kita kira.

Maka tidak salah ketika kita terus berdoa dan berusaha untuk memperoleh yang lebih baik. Yang salah adalah mengeluh, padahal kita telah mendapatkan apa yang kita minta sebelumnya.

Maka berdoa, berusaha, bersyukur. Berdoa, berusaha, bersyukur. Berdoa, berusaha, bersyukur. Itu saja.

Minggu, 08 September 2013

Manusia ... ckckck

Selalu mengeluh tentang keinginan untuk nyaman ataupun tidak nyaman. Namun lupa ketika memilikinya. Kapan bersyukur?

.Grateful. (crayon-chewer.deviantart.com)

Yang dibutuhkan hanyalah sedikit waktu untuk berpikir, waktu untuk melihat sekilas apa yang telah dilalui dan sedang dilalui, sedikit musik yang tepat, mood yang menyenangkan dan sejumput senyum di wajah.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Enam Puluh Delapan

Tentu mudah membandingkan antara idealisme dengan kenyataan. Namun mencari tahu permasalahan yang sesungguhnya tentang mengapa keduanya tidak sesuai dan membuat perbaikan akan hal itu, adalah perjuangan yang sesungguhnya

Lapangan itu sepi. Tidak ada anak kecil berlarian sembari menggigit sendok berisi kelereng di mulutnya, tidak ada dua puluh dua orang lelaki berebut bola dengan memakai daster atau sarung, tidak ada orang bahu membahu memanjat pinang berlumuran minyak, tidak ada anak-anak yang berusaha memakan kerupuk dengan kesusahan, tidak ada.

Sebagian orang masih berbaris rapi mengelilingi tiang bendera di pagi dan sore hari, menghormat kepada Sang Saka. Sebagian karena rasa cinta, sebagian karena harga diri dan eksistensi kelompoknya, sebagian lagi karena kebiasaan. Aku tidak tahu, mana yang lebih banyak.

Maka orang akan berkata bahwa nasionalisme telah pudar. Indonesia tidak lagi dicintai rakyatnya. Mereka mulai menyalahkan satu sama lain atas hal ini. Mereka adalah orang yang pesimis.

Aku percaya pada hukum energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan melainkan hanya berubah bentuk. Begitu pula energi untuk mencintai dan membangun negeri ini tidak pudar ataupun lenyap, hanya berubah bentuk seiring perubahan zaman.

IIP - Ikatan Indonesia (indonesia.devinatart.com)

Mungkin berbagai perayaan dan upacara telah memudar, tetapi itu karena semangat dan kecintaan tersebut perlahan mulai meresap ke dalam raga. Bukan lagi tampak di permukaan. Mereka meresap ke dalam raga, dan keluar dengan caranya masing-masing. Melalui lagu, melalui puisi, melalui seni jalanan, melalui jejaring sosial, melalui iklan, melalui ekspresi, dan melalui kerja keras. Ya, kerja keras sehari-hari demi membangun negeri yang kita perjuangkan bersama.

Menumpuk batu adalah pekerjaan yang membosankan. Bayangkan setiap hari menumpuk satu per satu batu, dan engkau mengulanginya setiap hari selama satu tahun saja. Kau akan mati kebosanan sebelum sampai di akhir tahun. Butuh semangat yang tinggi dan rasa cinta yang besar terhadap impian untuk terus menumpuk batu sebongkah demi sebongkah secara konstan dan konsisten terus menerus. Di akhir dari perjalanan nanti kita akan melihat sebuah bangunan megah, yang dibangun dari tumpukan batu yang konsisten yang kita lakukan sedikit demi sedikit. Itulah kerja keras.

Enam puluh delapan adalah waktu untuk berhenti sejenak menumpuk batu untuk melihat apa yang telah kita capai. Mungkin kita pernah melihat bangunan indah di masa lampau, namun bangunan tersebut kemudian hancur akibat kemalasan kita untuk merawatnya. Kemudian kita memutuskan untuk membangun ulang semua itu.

Mungkin kita hanya melihat tumpukan batu saat ini, tapi bukan berarti kita gagal. Kita hanya belum selesai membangun. Enam puluh delapan adalah waktu yang relatif. Sejenak kita berhenti untuk merenungi pencapaian kita dan mengingat kembali mimpi kita. Selanjutnya kita mulai lagi menumpuk satu demi satu, sebongkah demi sebongkah. Semangat dan doa mengalir di dalam darah kita. Teruslah produktif.

Minggu, 28 Juli 2013

Lompat

Tebing itu cukup dalam, orang yang jatuh besar kemungkinan tidak akan selamat. Syukur-syukur jika hanya terluka. Tetapi tetap saja luka itu akan dia bawa sampai akhir hidupnya, meski hanya sekedar ingatan tetapi itu cukup menyakitkan.

Pun jarak antara kedua tebing tersebut cukup jauh. Tidak bisa sembarang orang melompatinya dan bisa meraihnya. Perlu tenaga ekstra dalam lompatan seseorang untuk dapat mencapai ke seberang sana. Tidak sembarang orang mampu melompatinya, sebagian yang pernah mencobanya harus berakhir dengan rasa sakit ataupun kematian akibat kegagalan tersebut.

Lalu untuk apa melompat ke seberang sana? Di daerah ini segala sesuatunya telah tersedia. Kampung indah nan asri penuh dengan orang-orang yang baik. Hewan ternak tumbuh dengan riang gembira dan melimpah disini, tidak perlu takut akan datangnya kelaparan. Begitu pula biji sayur yang jatuh ke tanah pun bisa langsung tumbuh dengan suburnya.

Sebuah masyarakat kecil yang hidup penuh kemakmuran. Seolah terasing dari hiruk pikuk kehidupan di luar sana. Kedamaian yang tercipta akibat ketidaktahuan, tapi untuk apa perlu mengetahui permasalahan jika kita bisa menghindarinya? Hidup di bagian ini sudah sangat baik.

Sedangkan diseberang sana kita tidak tahu ada apa. Informasi tidak pernah sampai dengan utuh. Sebagian orang berkata di seberang sana adalah tempat yang lebih indah dibandingkan di sisi ini. Sedangkan sebagian lainnya bercerita tentang tempat yang lebih tandus serta kehidupan yang lebih keras untuk dijalani.

Apa yang tampak pun cukup menguatkan anggapan kedua. Di seberang sana hanya tampak bebatuan keras dan gunung yang tandus. Namun apa yang ada di balik gunung tersebut tidak tampak oleh kita. Bagamanapun juga hanya sedikit orang yang mau untuk kembali dari balk gunung tersebut. Sebuah misteri yang tidak pernah kita ketahui jawabannya jika kita tidak mencarinya sendiri.

Lalu dimana lelaki itu? Dia berjalan di pinggir, memandangi kedalamannya dan apa yang tampak oleh mata di seberang sana. Tapaknya dia berpikir untuk melompatinya.

Namun akhirnya dia berbalik arah berjalan kembali ke kampungnya. Bagiku tampaknya dia hendak mengurungkan niatnya. Mengukur kemampuannya bahwa dia tidak mampu, aau mungkin apa yang di seberang sana tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Mengubur mimpi dan rasa keingintahuannya ke dalam kedamaian yang dia miliki. Namun aku salah.

Dia berhenti setelah 50 meter dari tebing. Kembali menghadap ke jurang, mengambil posisi berlari. Tampaknya dia tidak putus asa. Dia hanya mengambil persiapan untuk melompat. Dan dia mulai berlari.

30 meter ...

Sebenarnya ada apa di seberang sana? Apa yang nampak hanyalah sebuah kegersangan dan ketandusan. Pun jika sampai di seberang bukanlah kehidupan nyaman yang akan kita jalani. Namun perjuangan bertahan hidup yang lebih keras. Tapi apa hanya untuk bertahan hiduplah kita hidup? Disana ada jawaban atas semua pertanyaan dan keingintahuan tersebut.

"Curiosity killed the cat" (anonim)

10 meter ...

Di belakang sana, kehidupan nyaman menanti.  Masyarakat yang tenang, keluarga yang selalu menyambut dengan tangan terbuka. Status sosial yang membuat dirinya cukup terpandang dan disegani. Bahkantidak mungkin dia akan menjadi pemimpin kami. Orang paling penting dalam masyarakat ini. Kekayaan pun tidak ia bawa kecuali sebuah tas ransel yang ada di punggungnya. Sebuah bekal yang tidak tahu mampu menopang hidupnya sampai kapan di seberang sana. Dia menafikkan kondisi menyenangkan saat ini dan masa depan yang cemerlang. Menukarnya dengan ketidakpastian. Namun aku yakin dia melihat impian di seberang sana.

" Good is the enemy of great" (Jim Collins)

5 meter ...

Entahlah, apakah momentum dan kekuatan yang dia coba bangun cukup untuk melompati celah tersebut?Sudah banyak orang yang gagal melompatinya dan berakhir dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Apakah dia akan berhasil? Ataukah dia akan jatuh terperosok ke dalam jurang kegagalan? Apakah pilihannya sudah tepat ataukah dia harus mengurungkan niatnya kembali? Masih ada waktu untuk berubah pikiran dan menyelamatkan diri.

Namun bukan untuk itulah hidup, adalah tentang mencari makna, menentukan impian, dan meraihnya. Masalah dan kegagalan selalu ada, tetapi bukan berarti kita harus selalu ketakutan dan bersembunyi dari masalah.

"Trouble is a friend" (Lenka)

1 meter ...

Sudah tidak mungkin lagi untuk berhenti. Jurang tampak sudah terlihat di depan mata. Sangat dalam, entah apa yang akan terjadi padanya beberapa detik kemudian. Tebing di seberang pun tanpa begitu jauh, entah apakah dia mampu meraihnya atau tidak. Perasaan ragu itu masih menghinggapi dirinya bahkan sampai detik terakhir.

Namun ini adalah tentang pilihan. Kita berhak menentukan pilihan sesuka hati kita, namun pada akhirnya kita harus menjalani setiap konsekuensi dari pilihan kita tersebut. Dan konsekuensi terindah adalah konsekuensi dari pilihan yang telah kita buat sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan atas diri kita.

"Hidup adalah tentang pilihan, dan menjalani pilihan tersebut" (seorang teman)

Dan dia melompat ...

Choices and consequences ... (ash-3xpired.deviantart.com)

Sejak saat itu aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Aku tidak tahu apakah dia berhasil sampai ke seberang sana atau terjatuh ke dalamnya. Aku pun tidak tertarik untuk mengetahuinya. Yang aku ketahui adalah wajahnya yang tersenyum ketika dia melompat dari tebing dimana kakiku berpijak saat ini. Sebuah eksresi kegembiraan dan kepuasan yang rasanya jauh lebih berharga dari kehidupan itu sendiri.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tai Asu

Kata orang, jika tidak ingin kecewa maka jangan berharap. Rasa tidak suka muncul akibat adanya jarak antara harapan dengan kenyataan. Dulu saya percaya itu. Maka agar terus bahagia, hapuskanlah harapan dalam hidupmu.

Tapi apa artinya kehidupan tanpa harapan? Kehidupan yang mengalir apa adanya. Kehidupan yang pasif, menunggu dunia membawa kita entah kemana. Dan kita hanya duduk terdiam melihat segala sesuatu di sekitar kita silih berganti. Tanpa usaha, tanpa perasaan apapun, dan tanpa tujuan.

Dunia hanya sekedar makan untuk mempertahankan hidup dan menjalani hidup untuk mencari makan. Sebuah fase yang terus menerus bergulir tanpa akhir, dan tanpa hasil apapun. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk mempertahankan kehidupan?

Maka sejatinya manusia dilahirkan dengan impian, sesuatu yang menjadikan manusia cukup berarti di dalam hidup ini. Sesuatu yang menjadikan hidup bermakna, bukan sekedar mengikuti dunia entah kemana tanpa tujuan. Kita-lah yang menciptakan tujuan itu, kitalah yang berusaha meraihnya.

Tapi tentu saja, hidup tidaklah semanis pemanis buatan. Tidak semua impian dapat tercapai, dan kegagalan adalah sesuatu yang menyakitkan. Sungguh.

Hopeless (graphic-resistance.deviantart.com)

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not. (2:216)
Maka bangunlah, jangan berpikir sebuah impian akan mudah didapat. Sakit, tapi itu menunjukkan bahwa dirimu hidup. Karena hanya orang yang hidup yang dapat merasakan sakit. Mereka yang tidak pernah berharap tidak pernah merasa sakit, tidak pula mereka hidup sesungguhnya.

Maka janganlah berputus asa, terus kejar impian kita. Karena untuk itulah kita hidup, bukan sekedar hidup untuk mempertahankan hidup. Hidup untuk berjuang. Jatuh dan bangkit lagi.


"Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi!" (Soekarno)

Kamis, 09 Mei 2013

Pahlawan

Sebagian orang memilih bertani. Menanam sayuran untuk sekedar dimakan diri sendiri dan orang-orang terdekat yang membantunya serta sisanya dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan dijual untuk membeli kebutuhan lainnya.

Sebagian orang berpikir tentang masa depan. Membujuk para petani untuk menyisihkan sebagian hasil panennya, mengumpulkannya, dan menyimpannya untuk dibagikan kepada masyarakat di musim paceklik mendatang.

Sebagian orang kelaparan. Menggedor-gedor pintu gudang untuk meminta sekarung dua karung beras untuk dimakan. Mereka berpikir bahwa mereka berhak terhadap beras-beras tersebut dan keluarga mereka saaat ini lebih utama.

Sebagian lain membela yang tertindas. Mendobrak pintu gudang, menjarah isinya, dan membagikan beras-beras tersebut kepada mereka-mereka yang meminta. Membagikan dengan rasa ikhlas tanpa sedikit pun mengambil bagian.

Hero (lenupetcomics.deviantart.com)

Lalu siapakah yang menjadi pahlawan?
Pekerja, perencana, tertindas, ataukah pendobrak ...

Semua berada dalam satu kesatuan harmoni dunia

Sabtu, 27 April 2013

Tidak Adil

Banyak sekali kata-kata motivasi atau kutipan-kutipan dari orang hebat yang dipropagandakan di media mencoba untuk membandingkan antara keberhasilan akademik dengan kesuksesan kerja. Tentang orang tidak tamat sekolah yang menjadi sukses, tentang orang yang mendapatkan nilai-nilai buruk di sekolah tetapi berhasil meraih impiannya, tentang orang-orang yang malas belajar namun berhasil. Seolah tidak ada satu pun korelasi antara prestasi akademik dengan prestasi di dunia kerja.

Kata-kata motivasi yang akhirnya menjadi demotivasi. Sebuah paradoks akan suatu tujuan yang berhasil tercapai dengan menafikkan tujuan yang lain. Seperti halnya membunuh orang lain agar dirinya mampu bertahan hidup.

Ayolah, bagaimana jika kita balik. Akankah ada jaminan juga bahwa mereka yang gagal dalam akademisnya justru akan meraih kesuksesan juga di bidang lainnya? Don't be ridicculous.


Justru mereka yang menunjukkan keberhasilan dalam bidang akademis setidaknya telah menunjukkan bahwa mereka setidaknya telah berhasil dalam satu hal. Keberhasilan diraih atas usaha dan kemauan dari individu tersebut. Begitu pula keberhasilan akademik diraih karena mereka mau untuk berusaha dan meraihnya. Lalu apakah ada jaminan bahwa mereka yang tidak mau berusaha untuk bidang akademis mereka akan mau berusaha untuk bidang lainnya? Entahlah.
Don't blame the miror because our ugly face
Yang terpenting adalah apakah kita mau untuk berusaha meraih kesuksesan diri kita, dan mencoba untuk tidak menertawakan kesuksesan orang lain. Biarlah semua orang bahagia dengan kesuksesan masing-masing.