Tampilkan postingan dengan label paradoks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label paradoks. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Januari 2014

(Mungkin) Membosankan

Selamat datang di dunia tanpa setan, dimana seluruh kehidupan berjalan dengan penuh senyuman. Seluruh warga tersenyum tanpa pernah merasakan kesedihan. Mereka semua bahagia, tidak ada yang namanya gesekan sosial atau apapun itu. Tidak ada kesalahpahaman. Semua bagian masyarakat menghormati dan menghargai satu sama lain.

Tidak ada kemiskinan, semua hidup dengan kecukupan yang sama. Semua saling memberi dan menerima, tanpa ada yang kekurangan maupun kelebihan. Semua cukup makmur sehingga mampu membagikan kepada orang lain, namun tidak pula ada satu pun pemberian yang ditolak karena mereka tidak mau menyakiti hati orang lain dengan menolak pemberian. Semua orang memiliki bagian kosong dari perut masing-masing orang. Semua cukup untuk memberi dan menerima.

Maka ketika menonton televisi di pagi, siang maupun malam hari. Tidak akan kita jumpai sebuah kabar yang tidak menyenangkan. Semuanya kabar gembira, mulai dari kelahiran seorang anak di sebuah keluarga kecil bahagia hingga kabar tentang adanya program pemerintah yang membuat masyarakatnya semakin sejahtera, dan berhasil. Semua orang tersenyum seumur hidupnya.

Tidak pernah ada yang namanya masalah maupun musibah. Atau bahkan penduduknya tidak pernah sekalipun mengenal kata-kata tersebut. buat apa menciptakan sebuah kata yang tidak relevan dengan kehidupan mereka? Itu mubadzir. Dan mubadzir tidak dikenal di dunia tersebut.

Hingga disini, semuanya baik-baik saja.

Perfection is Boring (qazinahin.deviantart.com)

Tetapi dunia itu membosankan. Duniaku jauh lebih baik. Dimana orang-orang baik pun saling bertengkar untuk mewujudkan niat baik mereka. Mungkin setan memang berguna untuk mewarnai hidup ini.






Catatan: setelah beberapa saat penulis menerima keluhan dari setan, dia berkata "kami hanya mengajak, kalian yang melakukan. Mengapa kami yang disalahkan?"

Sabtu, 17 Agustus 2013

Enam Puluh Delapan

Tentu mudah membandingkan antara idealisme dengan kenyataan. Namun mencari tahu permasalahan yang sesungguhnya tentang mengapa keduanya tidak sesuai dan membuat perbaikan akan hal itu, adalah perjuangan yang sesungguhnya

Lapangan itu sepi. Tidak ada anak kecil berlarian sembari menggigit sendok berisi kelereng di mulutnya, tidak ada dua puluh dua orang lelaki berebut bola dengan memakai daster atau sarung, tidak ada orang bahu membahu memanjat pinang berlumuran minyak, tidak ada anak-anak yang berusaha memakan kerupuk dengan kesusahan, tidak ada.

Sebagian orang masih berbaris rapi mengelilingi tiang bendera di pagi dan sore hari, menghormat kepada Sang Saka. Sebagian karena rasa cinta, sebagian karena harga diri dan eksistensi kelompoknya, sebagian lagi karena kebiasaan. Aku tidak tahu, mana yang lebih banyak.

Maka orang akan berkata bahwa nasionalisme telah pudar. Indonesia tidak lagi dicintai rakyatnya. Mereka mulai menyalahkan satu sama lain atas hal ini. Mereka adalah orang yang pesimis.

Aku percaya pada hukum energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan melainkan hanya berubah bentuk. Begitu pula energi untuk mencintai dan membangun negeri ini tidak pudar ataupun lenyap, hanya berubah bentuk seiring perubahan zaman.

IIP - Ikatan Indonesia (indonesia.devinatart.com)

Mungkin berbagai perayaan dan upacara telah memudar, tetapi itu karena semangat dan kecintaan tersebut perlahan mulai meresap ke dalam raga. Bukan lagi tampak di permukaan. Mereka meresap ke dalam raga, dan keluar dengan caranya masing-masing. Melalui lagu, melalui puisi, melalui seni jalanan, melalui jejaring sosial, melalui iklan, melalui ekspresi, dan melalui kerja keras. Ya, kerja keras sehari-hari demi membangun negeri yang kita perjuangkan bersama.

Menumpuk batu adalah pekerjaan yang membosankan. Bayangkan setiap hari menumpuk satu per satu batu, dan engkau mengulanginya setiap hari selama satu tahun saja. Kau akan mati kebosanan sebelum sampai di akhir tahun. Butuh semangat yang tinggi dan rasa cinta yang besar terhadap impian untuk terus menumpuk batu sebongkah demi sebongkah secara konstan dan konsisten terus menerus. Di akhir dari perjalanan nanti kita akan melihat sebuah bangunan megah, yang dibangun dari tumpukan batu yang konsisten yang kita lakukan sedikit demi sedikit. Itulah kerja keras.

Enam puluh delapan adalah waktu untuk berhenti sejenak menumpuk batu untuk melihat apa yang telah kita capai. Mungkin kita pernah melihat bangunan indah di masa lampau, namun bangunan tersebut kemudian hancur akibat kemalasan kita untuk merawatnya. Kemudian kita memutuskan untuk membangun ulang semua itu.

Mungkin kita hanya melihat tumpukan batu saat ini, tapi bukan berarti kita gagal. Kita hanya belum selesai membangun. Enam puluh delapan adalah waktu yang relatif. Sejenak kita berhenti untuk merenungi pencapaian kita dan mengingat kembali mimpi kita. Selanjutnya kita mulai lagi menumpuk satu demi satu, sebongkah demi sebongkah. Semangat dan doa mengalir di dalam darah kita. Teruslah produktif.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tai Asu

Kata orang, jika tidak ingin kecewa maka jangan berharap. Rasa tidak suka muncul akibat adanya jarak antara harapan dengan kenyataan. Dulu saya percaya itu. Maka agar terus bahagia, hapuskanlah harapan dalam hidupmu.

Tapi apa artinya kehidupan tanpa harapan? Kehidupan yang mengalir apa adanya. Kehidupan yang pasif, menunggu dunia membawa kita entah kemana. Dan kita hanya duduk terdiam melihat segala sesuatu di sekitar kita silih berganti. Tanpa usaha, tanpa perasaan apapun, dan tanpa tujuan.

Dunia hanya sekedar makan untuk mempertahankan hidup dan menjalani hidup untuk mencari makan. Sebuah fase yang terus menerus bergulir tanpa akhir, dan tanpa hasil apapun. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk mempertahankan kehidupan?

Maka sejatinya manusia dilahirkan dengan impian, sesuatu yang menjadikan manusia cukup berarti di dalam hidup ini. Sesuatu yang menjadikan hidup bermakna, bukan sekedar mengikuti dunia entah kemana tanpa tujuan. Kita-lah yang menciptakan tujuan itu, kitalah yang berusaha meraihnya.

Tapi tentu saja, hidup tidaklah semanis pemanis buatan. Tidak semua impian dapat tercapai, dan kegagalan adalah sesuatu yang menyakitkan. Sungguh.

Hopeless (graphic-resistance.deviantart.com)

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not. (2:216)
Maka bangunlah, jangan berpikir sebuah impian akan mudah didapat. Sakit, tapi itu menunjukkan bahwa dirimu hidup. Karena hanya orang yang hidup yang dapat merasakan sakit. Mereka yang tidak pernah berharap tidak pernah merasa sakit, tidak pula mereka hidup sesungguhnya.

Maka janganlah berputus asa, terus kejar impian kita. Karena untuk itulah kita hidup, bukan sekedar hidup untuk mempertahankan hidup. Hidup untuk berjuang. Jatuh dan bangkit lagi.


"Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi!" (Soekarno)

Kamis, 09 Mei 2013

Pahlawan

Sebagian orang memilih bertani. Menanam sayuran untuk sekedar dimakan diri sendiri dan orang-orang terdekat yang membantunya serta sisanya dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan dijual untuk membeli kebutuhan lainnya.

Sebagian orang berpikir tentang masa depan. Membujuk para petani untuk menyisihkan sebagian hasil panennya, mengumpulkannya, dan menyimpannya untuk dibagikan kepada masyarakat di musim paceklik mendatang.

Sebagian orang kelaparan. Menggedor-gedor pintu gudang untuk meminta sekarung dua karung beras untuk dimakan. Mereka berpikir bahwa mereka berhak terhadap beras-beras tersebut dan keluarga mereka saaat ini lebih utama.

Sebagian lain membela yang tertindas. Mendobrak pintu gudang, menjarah isinya, dan membagikan beras-beras tersebut kepada mereka-mereka yang meminta. Membagikan dengan rasa ikhlas tanpa sedikit pun mengambil bagian.

Hero (lenupetcomics.deviantart.com)

Lalu siapakah yang menjadi pahlawan?
Pekerja, perencana, tertindas, ataukah pendobrak ...

Semua berada dalam satu kesatuan harmoni dunia

Sabtu, 27 April 2013

Tidak Adil

Banyak sekali kata-kata motivasi atau kutipan-kutipan dari orang hebat yang dipropagandakan di media mencoba untuk membandingkan antara keberhasilan akademik dengan kesuksesan kerja. Tentang orang tidak tamat sekolah yang menjadi sukses, tentang orang yang mendapatkan nilai-nilai buruk di sekolah tetapi berhasil meraih impiannya, tentang orang-orang yang malas belajar namun berhasil. Seolah tidak ada satu pun korelasi antara prestasi akademik dengan prestasi di dunia kerja.

Kata-kata motivasi yang akhirnya menjadi demotivasi. Sebuah paradoks akan suatu tujuan yang berhasil tercapai dengan menafikkan tujuan yang lain. Seperti halnya membunuh orang lain agar dirinya mampu bertahan hidup.

Ayolah, bagaimana jika kita balik. Akankah ada jaminan juga bahwa mereka yang gagal dalam akademisnya justru akan meraih kesuksesan juga di bidang lainnya? Don't be ridicculous.


Justru mereka yang menunjukkan keberhasilan dalam bidang akademis setidaknya telah menunjukkan bahwa mereka setidaknya telah berhasil dalam satu hal. Keberhasilan diraih atas usaha dan kemauan dari individu tersebut. Begitu pula keberhasilan akademik diraih karena mereka mau untuk berusaha dan meraihnya. Lalu apakah ada jaminan bahwa mereka yang tidak mau berusaha untuk bidang akademis mereka akan mau berusaha untuk bidang lainnya? Entahlah.
Don't blame the miror because our ugly face
Yang terpenting adalah apakah kita mau untuk berusaha meraih kesuksesan diri kita, dan mencoba untuk tidak menertawakan kesuksesan orang lain. Biarlah semua orang bahagia dengan kesuksesan masing-masing.

Senin, 15 April 2013

Kesepian

Entah sejak kapan duduk di tepian jalan menjadi sesuatu yang menarik. Memandangi hilir mudik manusia menjalani kehidupan mereka. Meraih mimpi, dikejar beban, bersenang-senang. Semua terangkum di dalam harmoni kehidupan. Semua mengalir begitu saja di jalanan. Sebuah aliran kehidupan.

Semua itu membuatku lebih berpikir tentang kehidupan, tentang aliran harmoni dunia, dan tentang dimana aku berada. Aku ingin hidup di mana kehidupan berdetak keras.

Dimana orang-rang benar-benar menjalani hidup mereka, bukan sebuah hidup keterpaksaan. Dimana wajah setiap orang berseri karena mereka benar-benar hidup, bukan pucat karena nyawa mereka terenggut oleh rutinitas yang membunuh mereka.

Live (jturon.deviantart.com)

Dimana setiap orang menjalani mimpi mereka sepenuh hati, bukan tentang dunia dan lainnya.

Selasa, 11 September 2012

Siapa Kafir?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (4:144)
Bagaimana menakar keimanan seseorang? Atau lebih mudah lagi bagaimana kita dapat menentukan seseorang beriman atau tidak akan suatu hal? Siapa dapat menakar hati manusia.

Kafir (sultonenterjava.deviantart.com)

Keimanan bukanlah sekedar kata-kata dalam kartu identitas. Keimanan merupkan sebuah entitas kesadaran secara penuh dan pengakuan akan suatu ide atau gagasan. Keimanan adalah sebuah kesadaran jiwa dan raga.

Maka semenjak kita belum dapat menemukan alat ukur yang valid untuk mengetahui dalamnya hati, dapatkah kita memiliki acuan akan keimanan seseorang? Cukupkah kata-kata dalam sebuah kartu identitas mendaulat seseorang untuk dinyatakan beriman atau tidak?

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (4: 142 & 145)

Maka dimana posisi kita ketika kita dihadapkan pada mereka yang tidak peduli dengan Tuhan tetapi terus melakukan kebaikan dan mereka yang mengakui Tuhan tetapi mengingkarinya?

Selasa, 21 Agustus 2012

Siapa Maha Adil?

Apakah keadilan itu? Ketika kesenjangan mulai nampak maka orang-orang menjadi percaya bahwa keadilan berarti sama rasa sama rata. Sebuah ide seorang lelaki miskin dengan banyak hutang hidup di sebuah negara industri. Dan mendadak ide tersebut menjadi sebuah impian yang indah dan begitu dipuja.

Maka sama rasa sama rata menjadi sebuah keadilan idealis. Sebuah dunia tanpa perbedaan, sebuah dunia tanpa kesenjangan. Dimana semua kehidupan menjadi sama meski itu berarti sama miskinnya.

Sama, secara materi.


Tapi sama rasa sama rata juga berarti satu hal. Bahwa Tuhan bukanlah yang Maha Adil. Karena Tuhan lah yang menciptakan manusia dalam kedaan yang berbeda-beda dan tidak setara. Tuhan juga yang mengatur segala sesuatunya. Maka pantaskah Tuhan sebagai yang Maha Adil ketika fitrah manusia hidup dalam ketidaksamaan dan ketidak rataan? Adilkah?

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (3:18)

Maka keadilan bukanlah sama rasa sama rata. Keadilan bukanlah tentang jumlah harta yang sama dari setiap insan. Keadilan adalah tentang bagaimana orang mendapatkan apa yang diusahakannya dan tidak mendapatkan sesuatu yang tidak diusahakannya. Itulah keadilan hakiki.

Namun dibalik itu semua terdapat juga kasih sayang, dimana yang berlebih membantu yang kekurangan.

Jumat, 30 Maret 2012

Kesalahan Pendidikan Ilmu Sosial

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial di Indonesia mengalami kesalahan fundamentalis yang cukup parah. Kesalahan ini berakar dari metode belajar mengajar yang kurang tepat ditunjang dengan kurikulum sesat. Akibat terbesarnya adalah adanya ketidaktepatan antara teori-teori yang dipelajari dengan kenyataan di lapangan. Gejala ini seringkali muncul terutama melalui adanya anggapan dunia teoritik yang jauh dari kenyataan.

Belajar (gasse.deviantart.com)


Perbedaan Fundamental
Di AS ilmu pengetahuan dibagikan menjadi dua jenis yaitu Art dan Science sedangkan di Indonesia pembagian ini lebih dikenal sebagai Ilmu-Ilmu Alam dan Ilmu-Ilmu Sosial. Keduanya sebenarnya memiliki karakteristik fundamentalis yang berbeda. Ilmu-ilmu alam mempercayai adanya kebenaran mutlak yang bersifat objektif, dimana kebenaran tersebut dapat diterima oleh semua manusia tanpa terkecuali. Misalnya batu yang dilepaskan akan jatuh ke bawah. Di belahan bumi manapun fenomena tersebut akan terus berulang tapa adanya perbedaan. Itulah yang disebut kebenaran mutlak yang bersifat objektif.

Lain halnya ilmu-ilmu sosial, meski hingga saat ini terdapat kecenderungan para ahli untuk mencari sebuah kebenaran objektif yang bebas nilai dan budaya, akan tetapi pada akhirnya para ahli tetap dipaksa untuk mengakui bahwa sangat sulit atau mustahil untuk menemukan satu kebenaran mutlak yang bersifat objektif. Ilmu sosial memang erat kaitannya dengan objektivitas, sehingga dalam ilmu sosial tidak dikenal adanya satu kebenaran mutlak tetapi adanya kebenaran yang beragam merunut dari berbagai versi.

Sehingga dalam pembelajaran ilmu sosial sangat diperlukan adanya ragam versi dalam penguasaan ilmu tersebut. Ilmu sosial harus dikembangkan dari subjektivitas masing-masing yang berasal dari beragam nilai dan budaya masing-masing. Hal ini diperlukan untuk memberikan gambaran secara lengkap dan terperinci terhadap keadaan yang ada serta demi mengembangkan keilmuan itu sendiri.

Kegagalan Sistem Ajar
Meski demikian kurikulum dan sistem pembelajaran di Indonesia saat ini gagal memahami adanya perbedaan fundamental tersebut. Setelah tumbangnya era Islam, ilmu pengetahuan alam dan tekonologi saat itu banyak yang diboyong ke masyarakat Eropa dan dikembangkan. Sejak masa itu disebutlah era reinassance dimana setelahnya sejarah mencatat AS-Eropa menjadi pusat peradaban dunia ditandai dengan kemajuan teknologi yang dimiliki.

Asia yang saat itu tertiggal kemudian mencoba belajar dari AS-Eropa. Termasuk salah satunya adalah Indonesia. Pada awalnya ilmu-ilmu yang diimpor tersebut merupakan ilmu-ilmu alam seperti teknik dan kedokteran. Hingga pada akhirnya muncul impor ilmu pengetahuan secara besar-besaran hingga saat ini dan tidak sebatas ilmu alam tetapi juga ilmu sosial. Impor ini dilakukan dengan metode copy cat yang masuk dalam kurikulum pembelajaran Indonesia.

Fenomena impor pengetahuan ini tentunya tidak menjadi masalah dalam ranah ilmu sosial dengan anggapan utamanya tentang kebenaran mutlak yang objektif. Akan tetapi tanpa disadari impor ilmu pengetahuan ini adalah tindakan yang salah dalam ranah ilmu sosial. Hal ini dikarenakan ranah ilmu sosial tidak mengenal adanya kebenaran ilmu mutlak sehingga ilmu-ilmu impor tersebut sangat rentan terhadap ketidakcocokan kondisi masyarakat pegimpor ilmu tersebut.

Masalahnya adalah sistem ajar ranah ilmu alam dan ilmu sosial disamakan. Ilmu alam dikembangkan dengan metode evaluasi dan inovasi. Langkah pertama adalah mengejar ketertinggalan dengan sebanyak mungkin menguasai ilmu-ilmu impor tersebut. Sedangkan langkah kedua adalah sekedar mengawinsilangkan dan menambahi atau inovasi dari ilmu-ilmu tersebut untuk menciptakan ilmu baru.

Begitu juga dalam ranah ilmu sosial. Pembelajaran didasarkan pada buku teks impor yang tentunya juga berisi ilmu pengetahuan impor. Ditambah dengan metode pembelajaran yang sifatnya evaluatif hanya sebatas melihat kemampuan siswa dalam menyerap pengetahuan impor tersebut. Pada akhirnya metode semacam ini hanya melahirkan buku-buku yang berjalan.

Diploma Disease
Cara pembelajaran seperti ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah dalam level pendidikan diploma, SMA, dan kebawah. Namun menjadi masalah yang sangat berarti dalam tataran tingkat sarjana dan seterusnya. Hal ini dikarenakan sifat pendidikan sarjana yang bertujuan untuk mengembangkan keilmuan (baca: Mengenal Pendidikan). Celakanya kekurang pahaman terhadap perbedaan ini menimbulkan adanya pragmatisme pendidikan pada tingkatan sarjana yang justru memperparah keadaan ini (baca: Pragmatisme Pendidikan)

Maka dari itu salah seorang teman saya mencetuskan sebuah istilah yang disebut sebagai Diploma Disease. Istilah ini merujuk pada kecenderungan para mahasiswa tingkat sarjana yang justru menerapkan sistem pembelajaran model diploma yaitu sebatas copy cat terhadap ilmu yang sudah ada daripada mencari gagasan pemahaman secara keseluruhan. Dalam bahasa kasarnya, adanya kecenderungan mahasiswa untuk menghafal buku ajar demi persyaratan akademik (nilai) dibanding kecenderunngan untuk mencari pemahaman dan mengembangkan ilmu sendiri.

Jauh-jauh hari salah seorang peneliti Belanda yaitu Niels Mulder telah mengkritik metode pembelajaran yang kurang tepat diterapkan dalam ranah ilmu sosial ini. Mulder mengkritik bagaimana para mahasiswa Indonesia lebih diarahkan kepada penguasaan teori-teori asing yang kurang tepat terhadap budaya mereka dibandingkan dengan mengembangkan gagasan mereka sendiri. Akibatnya ilmu pengetahuan ini stagnan dan tidak berkembang serta kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dari ilmu-ilmu tersebut seringkali merusak tatanan sosial yang telah ada.

Epidemi Akut
Celakanya penyakit ini telah menjadi epidemi akut di wilayah Asia. Pola-pola semacam ini ditemukan tidak hanya di Indonesia tetapi juga pada pembelajaran di negara-negara Asia lain semisal China dan Jepang. Pola-pola pembelajaran ini telah menjadi trend tersendiri dalam dunia pendidikan di Asia. Namun pola seperti ini kurang memberikan ruang untuk kelahiran ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru namun lebih sebatas inobasi dai apa yang telah ada. Jika kita lihat lebih teliti misalnya kita akan melihat bahwa meskipun Jepang dan China sudah cukup maju dalam bidang IT namun teknologi yang mereka hasilkan lebih ke arah inovasi dibandingkan sebuah penemuan baru.

Jika hal ini terus dibiarkan akan menjadi permasalahan tersendiri terutama dalam ranah ilmu sosial. Terlebih karena kebanyak ilmu yang telah ada saat ini berasal dari basis masyarakat yang memiliki nilai dan kebudayaan yang cukup berbeda. Disinilah kita perlu untuk melahirkan sebuah gagasan-gagasan baru yang lahir dari subjektivitas nilai dan kebudayaan kita sendiri. Karena jika bukan ilmu yang berubah maka nilai dan budayalah yang akan mengalami perubahan.

Maka perlu adanya perubahan fundamental dalam sistem pendidikan ilmu sosial saat ini. Ruang-ruang untuk  gagasan dan ide segar perlu dibuka lebih luas. Mahasiswa harus didorong untuk berpikir dan menganalisis, jangan sebatas menghafal ilmu-ilmu yang telah ada. Sistem penilaian pembelajaran harus didasarkan pada originalitas dan logika gagasan daripada literatur dan penguasaan teori (baca: Siapa Bodoh). Pola penilaian seperti ini akan memunculkan pemikir-pemikir ulung di masa mendatang alih-alih buku berjalan.

Selain itu perlu kiranya menilik kembali ilmu-ilmu dari buku-buku tua karya asli para ahli Indonesia daripada memenuhi rak buku perpustakaan denganbuku impor. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan adanya gagasan-gagasan asli yang telah dicentuskan sebelumnya dan menunggu untuk dikembangkan. Ini semua memerlukan sebuah kemauan yang besar dari pemilik kebijakan.

Kamis, 26 Januari 2012

Sama Saja

Sebenarnya, kita sama buruknya dengan orang lain di luar sana. Kecuali kita mau melakukan sesuatu yang berbeda.

we're all the same (magicviper.deviantart.com)

Kamis, 19 Januari 2012

Negeri Anak Manja

"Fasilitas..fasilitas..fasilitas..", pintaku

Negeri ini terlalu kaya dan makmur, bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Hidup dalam lautan kolam susu. Maka tidak aneh jika di dalamnya dipenuhi oleh anak-anak manja, bukan karena ingin tetapi karena terbiasa.

Maka fasilitas menjadi segala-galanya. Mulai dari wakil hingga rakyat itu sendiri beramai-ramai menuntut fasilitas. Seolah dengan adanya fasilitas maka terjaminlah kinerja dan moralitas. Seolah dengan fasilitas manusia paling busuk sekalipun bisa menjadi Nabi.

Jikalau karpet merah terhampar di trotoar kita dan bus pun dilengkapi dengan tempat tidur, akankah kita meninggalkan kendaraan pribadi dan beralih ke kendaraan umum?

Semua hanya omong kosong tanpa adanya tekad keras untuk berubah . . . dan berkorban.

Dan Ia Masih Tetap Semangat (lmpx3478.deviantart.com)

Selasa, 01 November 2011

Suwung Awang Uwung

Disana aku bertemu kembali dengannya. Kala hujan badai menerjang perpustakaan tua, disudut lorong berisi buku-buku kumal yang seakan tidak menarik dibanding buku lain yang berjajar di rak dengan bahasa asing. Ini bukan pertama kalinya aku bertemu.

Nothing is absolute, there are always twilights between night and day, grades between good and evil, shades between black and white, subtleties between love and hate, degrees between happiness and grief, as well asa nuances between male and female. (Boediarjo, 1978)

Entahlah mungkin Tuhan sengaja menciptakan badai ini agar aku terjebak di ruangan itu untuk bertemu lagi dengannya. Bukan lelaki bukan perempuan, dia tidak berbentuk. Bulat karena pantat dan payudaranya. Namun auranya cukup untuk membuat orang terdiam. Raut mukanya menggambarkan kesedihan dan kesenangan secara bersamaan.

Sosok itu tertawa, atau mungkin menangis. Dalam dirinya semua itu sulit dibedakan. Kata-kata bijaksana yang meluncur dari mulut tersenyumnya, tatapan mata sendu seolah menyimpan kesedihan yang mendalam. Semua hal melebur menjadi satu. Tidak ada lagi pertentangan maupun hubungan. Tidak ada lagi derajat maupun tingkatan. Seolah memang seperti itulah seharusnya.

Sabar, Saleh, Sareh. Sugih tanpa bandha, perang tanpa bala maju, menang tanpa ngasorake, weweh tanpa kelangan.

Saat ini aku tidak lagi yakin akan bertemu dengan sosoknya di dunia ini. Jauh, jauh sekali jarak antara kita dan dirinya. Keberadaannya tidak lebih dari sebuah mitos yang tergusur oleh perkembangan zaman. Adakah aku akan jumpa lagi dengannya dalam orang-orang yang aku temui?

Dia yang berbicara dengan dewa dalam bahasa kasar, namun berbicara halus terhadap yang lebih rendah. Bahkan dia lebih merendah lagi, menjadi babu bagi majikan yang bukan siapa-siapa dibanding dirinya. Dirinya adalah tinggi yang rendah. Dewa yang jelata.

Aku adalah puing-puing masa lalu. Terkubur, bangkit untuk mepertahankan. Mengingatkan padamu tentang dirimu, dirinya. Bahwa semua satu, tak ada satu tanpa satu lainnya. Bahwa semua sama. Ingatlah Manunggaling Kawulo Gusti.

Bukan siapa-siapa tapi semua orang. Mengingatkan yang agung akan kelemahan, membisikkan keagungan bagi yang lemah. Tak akan menjadi siapa tanpa orang-orang. Bahwa sejatinya siapa ditentukan oleh orang di sekitar kita, bukan semata diri sendiri.

Dahulu dirinya muncul untuk mepertahankan kita, sebagai sebuah identitas. Melawan mereka yang menerjang, merasuk semua sendi, memukul tulang-tulang. Menang. Kini perang belum usai. Hantaman datang bertubi-tubi, tetapi kita terlalu lengah. Tak sadar akan hantaman yang ada. Akankah dirinya muncul dalam diri kita?

sumber: tembi.org

Senin, 31 Oktober 2011

Dalam Kegelapan

sumber: naddie-catastrophe.deviantart.com

Waktu kecil, saya suka ketika listrik padam di malam hari. Menjauhkanku dari hingar bingar dunia fana, mendekatkanku pada alam yang sesungguhnya. Dalam kegelapan aku merenungi keindahan malam yang selama ini tertutup oleh terangnya peradaban. Dalam kegelapan membuat aku, bapak, ibu, saudara, teman-teman, dan tetanggaku meninggalkan penjara rumah mereka dan keluar bersatu pada dalam gelapnya malam. Meski hanya lilin kecil yang menyala dalam kegelapan, namun hati kami terang. Kami melupakan bahwa peradaban telah membangun tembok imajiner yang telah memisahkan kita selama ini.

Jumat, 28 Oktober 2011

Ajining Diri Gumantung ing Lathi

Apa arti sumpah untuk bertumpah darah yang satu? Jika kita masih membela kepentingan masing-masing.


Apa arti sumpah untuk berbangsa yang satu? Jika kita masih saling curiga dan berprasangka.


Apa arti sumpah untuk berbahasa yang satu? Jika kita masih malu berhasa Indonesia dan bangga berbahasa asing.

Kamis, 27 Oktober 2011

Serakah #4

Konon katanya permasalahan utama ekonomi adalah kebutuhan yang tidak terbatas, sedangkan sumber daya yang terbatas. Lalu kita saling berebut meraih kapital sebanyak mungkin yang mampu kita raup. Semua demi diri kita sendiri. Serakah.


Bagaimana jika itu salah? Bahwa kebutuhan itu berbatas. Syukuri apa yang kita miliki. Dan ekonomi tidak ada. Toh bagaimanapun juga sumber daya akan tetap terbatas, lalu kita batasi saja kebutuhan kita. Eh?

Minggu, 10 April 2011

Serakah #3: Kontradiksi

Kontradiksi. Perlawanan antara dua hal yang berbeda, mungkin ada dalam masing-masing benak. Karena mata hati dan logika seringkali bertabrakan. Atau dalam bahasa ilmiah kita sebut saja cognitive dissonance. Sialnya kita sering tidak tahu apa yang harus kita lakukan, bahkan mungkin kita tidak tahu kontradiksi itu sendiri.

Kita yang Cukup
Kita yang dihidupi oleh alam yang begitu melimpah. Kita ambil saja secukupnya. Karena kita tahu bahwa alam yang menghidupi kita sejatinya akan hancur oleh tangan kita sendiri. Tangan kita tidak lebih luas dari sebuah bola sepak, namun dapat menghancurkan alam seluas bola dunia.

Maka kemudian kita diajarkan untuk mengambil secukupnya. Hidup sederhana. Ambil yang perlu bukan yang ingin karena sejatinya keinginan tiada berbatas. Dan sisakan juga untuk masa depan karena bukan satu atau dua bulan kita hidup di alam fana lagi. Terlebih karena kita mencintai anak-anak kita, maka kita sisihkan juga untuk mereka.

Anak-anak kita pun mencintai anak-anaknya, begitu seterusnya. Lantas kita diajarkan untuk menghormati alam. Mengambil secukupnya, dan biarkan sisanya menjadi hak dari dunia. Hidup bukan tentang memanfaatkan alam, tetapi lebih dari itu ada suatu esensi kehidupan dari tiap insan.

Seiring waktu berjalan kita terlupakan oleh semua itu, namun nilai-nilai tidak secepat itu musnah. Kita terbiasa hidup dalam kecukupan tanpa berusaha lebih. Kita ditakut-takuti dengan keserakahan yang akan meghancurkan dunia, namun kita lupa makna sejatinya. Jadi kita hidup dalam kecukupan bukan karena ingin, tapi karena tidak biasa berusaha. Kita tidak ingin bergerak, bukan menahan diri untuk bergerak. Kontradiksi.

Kita yang Berusaha
Alam tidak sesederhana yang kita pikirkan dan kita tidak pernah tahu masa depan. Kita hidup di alam yang keras, bung! Jangankan untuk masa depan, syukur sekali kita bisa meraih sesuatu dari alam saat ini. Tidak pernah terlintas dalam pikiran kita akan merusak alam, karena kita hidup di alam yang sudah rusak.

Maka yang harus kita lakukan adalah membangun alam, minimal untuk kepentingan kita sendiri. Meski tanah ini gersang, kita berusaha untuk menanaminya. Minimal menanam yang kita makan untuk bertahan hidup. Dan ketika alam memberi sesuatu kepada kita, maka sudah semestinya kita manfaatkan sebaik mungkin selagi masih ada.

Seperti waktu yang dapat menghapus luka, dia juga melakukan hal yang sama terhadap tujuan. Perlahan kita tidak lagi melakukannya untuk hidup, tetapi karena kita suka melakukannya. Kita terjebak dalam permainan angan-angan kita sendiri. Lalu kita gembira ketika meraihnya. Kita ciptakan lagi, raih lagi, ciptakan lagi, raih lagi, ciptakan lagi. Sebuah proses tiada berujung.

Ini tidak lagi tentang kehidupan, ini tentang kegembiraan. Sialnya juga, kita yang hidup di alam keras ini tidak pernah menyadari bahwa tangan kita yang kecil mampu menghancurkan dunia yang besar ini. Kontradiksi.

Kontradiksi
Jamane jaman edan, ra edan ra keduman
Perubahan itu pasti. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Bahkan jika kita diam sekalipun pasti orang lain akan membuat perubahan, dan kita juga yang akan kena dampaknya. Karena kita hidup dalam dunia yang saling mempengaruhi.

Dan ini, tidak akan ada habisnya. Kita bisa saja menjadi mencapai Zen dan keluar dari gejolak tanpa akhir ini atau kita bisa ikut bermain dalam dunia yang semakin gila. Atau dalam yang lebih mulia, kita berenang untuk mengajak orang lain keluar dari kolam kehidupan yang semakin bergelombang.

Maka disinilah pilihan. Kita yang merasa kaya, atau kita yang merasa miskin. Tidak ada yang sempurna, tetapi mana yang lebih kita sukai.

Rabu, 06 April 2011

"Membunuh" Tuhan dengan Rasionalitas

Tunggu saja saatnya. Katholik dan kristen kian mati karena pengikutnya mulai rasional. Begitu pula dengan agama lain termasuk Islam. Ada kalanya nanti Islam pun mulai kehilangan pengikutnya karena masyarakat mulai rasional.

Begitu lah kira-kira yang hendak disampaikan salah seorang dosen saya ketika menjalani perkuliahan. Terlepas dari setuju atau tidaknya, dan terlepas dari ketidaktahuan dosen tersebut akan fakta-fakta terkini yang menunjukkan hal sebaliknya (misalnya mengapa orang-orang eropa yang konon katanya rasional justru makin banyak yang masuk Islam dan bahkan, populasi muslim telah berhasil melampaui populasi Katholik di dunia), namun apa yang beliau katakan ada benarnya.

Saya tidak akan membahas tentang agama dalam hal ini, namun benar kiranya rasionalitas membunuh hal-hal lain termasuk diantaranya agama, nasionalisme, harga diri, dsb.

Saya teringat ketika agresi Israel ke Palestina, hampir setiap aksi massa saya ikuti, entah oraganisasi apa itu. Namun saya sempat heran ketika orang-orang mencemooh apa yang kami lakukan. Setelah saya pikir, emang tidak rasional apa yang kami lakukan. Bahkan kalaupun kami setiap hari turun ke jalan, agresi Israel tetap akan terjadi. Jadi secara rasional apa yang kami lakukan sia-sia? Uang yang kami kumpulkan juga tidak seberapa.

Ketika Masyarakat sibuk meneriakkan ganyang Malaysia beberapa waktu ini, seorang dosen saya chat dengan saya dan mengatakan keheranannya. Mengapa orang-orang Indonesia sibuk berteriak-teriak marah kepada Malaysia? Padahal di Malaysia malah justru adem ayem. Kenapa orang-orang Indonesia sangat reaktif? Reaksi masyarakat Indonesia yang berlebihan itu dianggap sebagai bukti bahwa masyarakat Indonesia pemikirannya kurang Rasional.

Lalu saya membayangkan sebuah tatanan masyarakat rasional. Masyarakat yang ketika Israel melakukann agrresi maka mereka diam saja dan membiarkan saja hal tersebut dan menyerahkan semuanya pada diplomasi. Masyarakat yang ketika pemerintah melakukan privatisasi terhadap sektor-sektor penting negara demi dua kata, yaitu: efektif dan efisien, mereka akan diam saja dan hanya sekedar perang opini di internet. Masyarakat yang ketika harga dirinya dilecehkan tetap tenang dan mencoba untuk berdiplomasi. Seperti itukah yang diharapkan?

Saya lebih melihat masyarakat semacam itu sebagai masyarakat apatis daripada masyarakat rasional. Pemikiran manusia yang rasional, terkadang justru menjadikan kita manusia apatis. Kita meliihat segala feniomena sebagai suatu hal yang biasa saja dan memakluminya.

Sebenarnya hal ini juga saya alami di tempat kuliah saya dimana ajaran yang diajarkan mengubah kami menjadi orng semacam itu. Sebagian dari kami menyebutnya nihilisme sedangkan sebagian dari kami melihatnya sebagai positif thinking.

Saya menyadari ada sesuatu yang lebih daripada sekedar rasional. Ada kalanya kita harus berbuat tidak rasional, mengapa? Karena itulah yang akan mewarnai hidup. Ada kalanya kita melakukan sesuatu yang tidak rasional dan tidak masuk akal, namun kita yakin itu benar. Terkadang kita harusmemiliki rasa percaya yang tidak rasional semacam itu.

Sekali-kali cobalah ikut turun ke jalan melakukan hal-hal yang tidak rasional. Sekali-kali mengototlah membela pendapatmu meski itu tidak rasional. Maka kamu akan menemukan bahwa hidup kita tidak hanya tentang rasional, akal, dan berpikir.

Ketika nasionalisme disamakan dengan chauvinisme dan fanatik sempit, ketika penegakkan akidah dianggap sebagai pelanggaran atas kebebasan beragama, ketika pencegahan kepada yang mungkar dianggap sebagai ikut campur atas kehidupan pribadi, saat itukah rasionalitas berada di setiap kepala manusia?

*) ditulis pada Oktober 2009 di sebuah situs jejaring sosial

Rabu, 30 Maret 2011

Kebijakan Educopolis

Akhir-akhir ini kampus Gadjah tempat saya menimba ilmu sedang dilanda perseteruan. Bagai dunia persilatan yang penuh persaingan maupun dunia politik yang penuh intrik, satu sama lain saling menjatuhkan argumen satu dengan lainnya. Mulai dari diskusi-diskusi publik hingga debat kusir tanpa akhir, semua mempertahankan pendapat masing-masing dengan berbekal kepercayaan akan sebuah kebenaran dalam genggaman masing-masing pihak (lebay).

Intinya, kebenaran adalah tergantung pada kacamata yang kita gunakan. Kita akan selalu melihat kegelapan bila menggunakan kacamata hitam. Maka seharusnya kita saling bertukar kacamata untuk saling memahami, bukankah Tuhan menciptakan kita bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenali dan bukan bermusuhan?

Pro
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (Al-Hujurat:12)
Lalu Lintas
Pengaturan adalah suatu keharusan. Itulah mengapa manusia cenderung menciptakan tatanan sosial agar tercipta aturan. Karena dalam hidup ini kita juga hidup dengan orang lain. Maka diciptakanlah aturan demi kepentingan bersama.

Begitu juga dengan wilayah UGM sebagai sebuah kampus yang terletak di tengah kota. Dengan semakin banyaknya penduduk Jogja dan kepadatan lalu lintas maka pengaturan adalah sebuah keharusan bukan hanya dalam lingkup UGM tetapi juga di level propinsi, nasional, maupun dunia.

Salah satu isu yang menyeruak saat ini adalah kepadatan lalu lintas. Bukan hanya dalam lingkup kampus tetapi ini menjadi masalah penting di tingkat propinsi karena kepadatan lalu lintas di Jogjakarta sudah mulai mengkhawatirkan. Maka wajar pula jika UGM mengeluarkan kebijakan pengaturan lalu lintas di wilayahnya salah satunya dengan kebijakan educopolisnya yang berusaha mengurangi kepadatan lalu lintas di wilayah kampus.

Kalau boleh jujur, ini cukup berhasil. Jika kita amati daerah sekitar Boulevard dan kompleks sosio-humaniora sudah cukup lenggang tidak sepadat dahulu sebelum kebijakan ini diterapkan. Maka saya pikir sudah tepat dengan adanya regulasi untuk mengatur kepadatan lalu lintas di UGM.

Keamanan
Saya ingat betul beberapa tahun lalu UGM bukanlah kawasan yang benar-benar ramah bagi masyarakat. Mulai dari mobil goyang di daerah lembah dan kompleks perumahan sosio-humaniora. Selain itu banyak terjadi pemalakan di daerah-daerah kampus yang rawan (misal sekitaran maskam). Parkir liar pun menjamur dengan tarif bisa berkali-kali lipat dari tarif normal. Hingga tawuran pelajar yang tidak jarang juga terjadi di lingkungan UGM sendiri.

Perlu diakui juga sejak diberlakukannya kebijakan ini mobil goyang, tawuran, dan pemalakan sudah mulai berkurang di sekitaran wilayah sosio-humaniora. Kampus menjadi relatif lebih tertib dan aman. Tawuran juga tidak sebanyak dahulu.

Di sisi lain parkir liar juga mulai menghilang. Dalam acara wisuda misalnya seringkali muncul parkir liar yang harganya bisa mencapai lima ribu rupiah. Bandingkan dengan sekarang dengan kebijakan ini hanya membayar dua ribu rupiah untuk mobil dan penjagaannya relatif lebih meyakinkan dibanding parkir liar yang biasa muncul.

Maka wajar jika sebagian pihak tidak keberatan dengan tarif yang diberlakukan karena menggunakan perbandingan keadaan sekitar. Seperti halnya yang dikatakan dalam teori deprivasi relatif dimana orang akan merasa adil atau tidak dengan cara membandingkan. Dalam hal ini para pengendara membandingkan tarif yang dibayarkan untuk memasuki wilayah UGM dengan tarif parkir. Dalam kondisi harga yang sama dan jaminan keamanan yang lebih meyakinkan (saya tidak mengatakan lebih baik) maka hal ini dianggap wajar.

Mahasiswa Bayar?
Salah satu argumen yang mengemuka adalah bahwa mahasiswa harus membayar untuk memasuki kampusnya sendiri, tidak adil bukan? Bukankah ini sama tidak adilnya dengan ketika saya mau ke Parangtritis saya harus membayar tiket masuk, membayar parkir, kamar mandi, dsb. Padahal saya sejak kecil lahir di Jogja dan punya KTP Jogja, kenapa untuk masuk ke pantai di daerah saya sendiri saya juga harus membayar?

Karena semua ada aturannya. Mahasiswa sebenarnya digratiskan dengan membuat KIK. Jadi siapa bilang mahasiswa membayar? Mereka yang membayar adalah mereka yang tidak memiliki KIK. Sama seperti halnya ketika kita tidak memiliki SIM kita juga harus membayar denda. Sehingga argumen menolak KIK karena mahasiswa harus membayar menurut saya kurang tepat.

Bagaimana dengan Tamu?
Salah satu alasan penolakan lainnya adalah bahwa tamu kampus juga harus membayar. Sebenarnya tidak sepenuhnya benar, karena UGM juga mengeluarkan kupon KIK gratis. Kupon ini bisa diperoleh di masing-masing fakultas (beberapa BKM di Gelanggang juga konon katanya memperoleh). Sehingga ketika meninggalkan kampus setelah urusannya selesai, tamu tersebut cukup menunjukkan kupon tersebut tanpa harus membayar. Jadi klaim tersebut untuk menolak kebijakan ini saya rasa kurang tepat.

Komersialisasi?
Salah satu alasan lain dalam penolakan KIK adalah karena dianggap sebagai bentuk komersialisasi. Saya pribadi kurang setuju terhadap hal ini. Selain karena definisi komersialisasi itu sendiri, tetapi juga karena saya sebagai mahasiswa psikologi melihat tarif disinsentif itu sendiri dengan cara berbeda (terlebih setelah mendapat penjelasan dari pihak pembuat kebijakan).

Insentif sendiri berarti perangsang atau penambah gairah. Sedangkan disinsentif adalah sebaliknya atau pengurang gairah. Dalam teori modifikasi perilaku (pendekatan behavioris) dikenal istilah punishment yaitu suatu bentuk konsekuensi yang diberikan atas suatu perilaku tertentu dengan tujuan mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut.

Dalam hal ini tarif tersebut bukan dimaksudkan untuk mencari keuntungan (saya yakin UGM bisa lebih pintar dalam mencari uang daripada sekedar dengan uang parkir), tetapi agar perilaku masyarakat mondar-mandir di wilayah UGM dengan kendaraaan pribadi bisa berkurang. Syukur-syukur masyarakat kemudian beralih ke sepeda atau kendaraan umum. Hal ini sejalan dengan konsep educopolis yang bertujuan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dan beralih ke kendaraan umum atau sepeda.


Kontra
Orang yang Berkepentingan
Satu hal yang membuat saya kurang setuju adalah bagaimana pihak pembuat kebijakan mendefinisikan pihak yang berkepentingan itu sendiri. Seringkali pihak yang berkepentinngan ini didefinisikan hanya sebatas tamu akademisi dan orang-orang yang berkepentingan dengan UGM sebagai sebuah institusi pendidikan. Menurut saya pendefinisian semacam ini sangat egois.

Padahal menurut saya mereka yang ke wilayah kampus hanya sekedar jalan-jalan, berolahraga, berwisata, dan sebagainya juga termasuk orang yang berkepentingan. Kepentingan dalam hal wilayah kampus sebagai wilayah public space yang kondusif untuk sekedar refreshing. Maka tidak seharusnya mereka ini dikenai tarif disinsentif.

Punishment
Jika memang itu tarif disinsentif sebagai sebuah bentuk punishment, maka pertanyaan berikutnya efektifkah? Seperti yang telah dijelaskan dalam bagian pro di atas, bahwa tarif tersebut tidak memiliki efek jera pada masyarakat karena tarif seperti itu telah dianggap biasa (toh di Jogja mau beli rokok sebatang juga harus parkir dahulu membayar seribu rupiah). Itu berarti bentuk punishment semacam ini tidak efektif.

Maka satu-satunya alasan atas keberadaan tarif tersebut telah gugur. Punishment semacam itu tidak efektif. Bisa saja berdalih dengan jika tanpa adanya tarif maka masyarakat yang tidak berkepentingan akan bersliweran dan usaha untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di wilayah UGM akan gagal.

Benarkah? Tidak juga. Karena keberadaaan portal sendiri sudah cukup menciptakan tembok psikologis dimana mereka yang tidak benar-benar berniat memasuki wilayah UGM akan menyingkir dengan sendirinya. Sehingga menurut saya keberadaan portal saja sudah cukup tanpa harus menerapkan tarif disinsentif.

Pengabdian
Tiga pilar utama perguruan tinggi adalah pendidikan, penelitian dan pengabdian. Namun sayangnya pengabdian seringkali mengalami penyempitan makna menjadi sebatas KKN, proyek fakultas, dan sebagainya. Padahal ada satu hal yang bisa dilakukan UGM tanpa harus mengeluarkan dana yang cukup banyak yaitu menyediakan public space.

Di tengah pembangunan kota tanpa perencanaan dan public space yang memadai, keberadaan UGM sebagai sebuah ruang terbuka untuk umum tentunya akan sangat berarti. Kampus bukan hanya untuk mereka yang menuntut ilmu, tetapi juga untuk berbagi dengan masyarakat. Bukankah ilmu kita juga digunakan dalam masyarakat.

Pembatasan secara berlebihan dan menjadikan UGM sebagai ruang privat justru menjauhkan akademisi dari laboratorium sosial terbesar mereka. Terlebih di tengah kurikulum pendidikan kita yang semakin sibuk sehingga kesempatan untuk berinteraksi dengan masyarakat semakin berkurang. Suatu hal yang kontras dengan kebudayaan masyarakat Indonesia.

Membuka Mata
Mau tidak mau kita juga harus melihat dari kedua sisi. Di satu sisi adalah munculnya berbagai permasalahan yang menuntut diselesaikan sehingga memunculkan kebijakan. Kita tidak bisa menolak begitu saja suatu kebijakan dan mengabaikan permasalahan yang ada. Tetapi yang harus kita lakukan adalah bagaimana menyelesaikan masalah yang ada tanpa perlu menimbulkan masalah baru.

Di satu sisi kebijakan yang dibuat pihak rektorat kurang memperhatikan faktor-faktor tentang good governance yang meliputi:
  1. Partisipasi: dimana seharusnya setiap kebijakan dibuat dengan partisipasi dari seluruh pihak dengan mengutamakan asas demokrasi dan kebersamaan. Yang terjadi justru rektorat menciptakan kebijakan tanpa pertimbangan pihak lain misalnya mahasiswa sebagai warga terbesar dan bahkan pihak fakultas sendiri (itu yang saya pahami ketika berbagi pikiran dengan dekan saya yang mengatakan tidak mendapatkan sosialisasi apapun). Perwakilan mahasiswa hanya diberitahukan sebagai sebuah bentuk sosialisasi dan dimintai pertimbangan, namun kelanjutannya mengenai penerapannya tidak jelas.
  2. Akuntabilitas: dimana setiap kebijakan yang ada seharusnya memiliki perhitungan-perhitungan yang rasional dan terukur. Tidak bisa begitu saja menciptakan suatu kebijakan tanpa perhitungan yang tepat.
  3. Transparansi: dimana ada kejujuran dari masing-masing pihak dan kontrol bersama atas kebijakan tersebut. Selama ini kurang adanya sosialisasi yang jelas atas kebijakan tersebut dan statement dari pihak-pihak terkait yang seringkali bertentangan. Ini menimbulkan munculnya rumor yang memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.
  4. Keadilan: dimana pemerataan kebijakan dan kesejahteraan bersama diutamakan.
  5. Landasan Hukum: adanya sebuah lanndasan hukum atas setiap kebijakan yang diciptakan.
Faktor partisipasi dan transparansi inilah yang menjadi masalah. Tidak adanya keterlibatan dalam pengambilan kebijakan dan transparansi akan kebijakan itu sendiri menyebabkan timbulnya penolakan. Kebijakan Educopolis ini baru setengah atau mungkin seperempat jalan. Perlu adanya kepastian rencana yang secara rinci atas penerapan kebijakan tersebut.

Tentu harus kita akui kebijakan tidak ada yang sempurna, selalu ada yang cenderung dirugikan dan diuntungkan. Tetapi yang utama adalah bagaimana kebijakan tersebut dapat diterima semua pihak demi kepentingan bersama. Singkirkan ego dan emosi masing-masing, berpikir jernih dalam menyelesaikan masalah yang ada.

Solusi
Bukan tentang sanggup atau tidak sanggup, bukan tentang bisa atau tidak bisa, mau atau tidak mau, tetapi tentang apakah kita mau melakukannya atau tidak, itulah moral. Pihak yang cenderung dirugikan pasti selalu ada. Tetapi bagaimana supaya kerugian itu tidak diderita oleh orang lain itulah pengorbanan. Jika kita mampu memberikan yang terbaik untuk kepentingan orang lain mengapa tidak?

Buntu
Pihak rektorat menginginkan bentuk penataan kampus yang ideal dimana masyarakat umum tidak lalu lalang begitu saja di wilayah kempus. Bentuk idaman ini seringkali diidentikan kampus UI depok, UII, UNY, dsb. Namun seringkali kita lupa bahwa kampus kita tidak sama dengan kampus-kampus tersebut. Sialnya (atau untungnya?) kampus kita tepat berada di tengan perkotaan sehingga menjadi jalur perjalanan.

Salah satu ide yang saya tawarkan adalah dengan menutup jalan-jalan di sekitar sosio-humaniora dan hanya membuka jalan dari arah bunderan UGM. Ini akan menciptakan jalan buntu sehingga masyarakat yang tidak berkepentingan akan menghindari jalan tersebut. Untuk kluster lain semisal teknik, hukum, dsb saya rasa telah menjadi jalan buntu yang dihindari masyarakat.

Kampus Bebas Kendaraan
Ide lainnya adalah dengan menerapkan peraturan pelarangan kendaraan bermotor memasuki portal-portal. Namun tentunya dengan konsekuensi bahwa pihak kampus menyediakan parkir gratis semisal di lembah atau semacamnya. Pelarangan ini bukan hanya sebatas tarif disinsentif namun kebijakan yang tegas. Mungkin bisa dimulai dengan pelarangan kendaraan roda empat yang kemudian dilanjutkan kendaraan bermotor roda dua dan tiga (kecuali kendaraan operasional kampus).

Kebijakan ini bukan hanya mengurangi kepadatan di wilayah kampus, tetapi dalam jangka panjang juga berdampak pada kebijakan transportasi di Indonesia. Kebijakan ini akan menciptkan budaya berjalan kaki dan bersepeda (tidak seperti saat ini jarak seratus meter pun menggunakan kendaraan bermotor). Bagi mereka yang gemar meneriakkan isu-isu lingkungan saya pikir ini seharusnya dapat diterima. Setelah budaya jalan kaki muncul, maka budaya penggunaan model transportasi umum pun akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Aku menjamin sebuah rumah di surga paling bawah bagi siapa yang meninggalkan debat meskipun ia benar, sebuah rumah di surga yang tengah bagi siapa yang meninggalkan dusta meskipun bergurau, dan sebuah rumah di surga paling tinggi bagi siapa saja yang berakhlak baik (HR. Abu Dawud)

Ada berbagai kebijakan yang bisa dipikirkan bersama. Mari kita berdiskusi bersama dan menghindari ego dan prasangka-prasangka buruk atas masing-masing pihak. Jangan berdebat dan mempertahankan kebenaran subjektif kita masing-masing, tetapi berdiskusilah untuk kepentingan bersama.

Selasa, 22 Maret 2011

Pagar

Orang gila tidak pernah benar-benar mengakui dan menyadari bahwa dirinya gila. Lalu kenapa aku merasa normal dan orang lain gila?


Bagaimana jika pagar rumah sakit jiwa bukanlah untuk menjaga orang gila agar tidak keluar, tetapi agar orang gila tidak masuk? Bayangkan jika kebenaran yang sesungguhanya adalah milik mereka yang berada di dalam pagar tersebut.