Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka dari Hati

 
(source: kdri.web.id)
Dunia ini sempurna dengan setiap kekurangan dan kelemahannya masing-masing. Itulah mengapa Tuhan menciptakan manusia, untuk menjadi kekurangan dan kelemahan dari dunia, serta untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan tersebut. Sebongah demi sebongkah, sama halnya ketika kita membuat kerusakan di dunia. Dan dengan bantuan dari Sang Waktu maka hal yang sedikit itu perlahan menjadi banyak di luar apa yang mampu dibayangkan oleh manusia.

Maka sesuatu yang besar juga memiliki permasalahan dan kekurangan yang besar pula. Dunia ini adil. Di balik setiap kekuatan yang ada tersedia tantangan yang luar basa. Dan sekali lagi Sang Waktu hanyalah instrument netral. Dia akan mengalikan setiap kebaikan dan kekurangan yang ada sesuai dengan proporsinya masing-masing.

Enam puluh sembilan tahun adalah faktor pengali dari kebaikan dan kelemahan bangsa ini. Bukan berarti enam puluh sembilan tahun menunjukkan bahwa bangsa ini merdeka dari permasalahan, justru enam puluh sembilan tahun menunjukkan bahwa permasalahan bangsa ini lebih kompleks enam puluh sembilan kali dari awal kemerdekaan. Namun kekuatan kita juga enam puluh Sembilan kali lebih banyak dari awal kemerdekaan. Seharusnya.

Maka disinilah kita menambil peran. Dunia selalu memiliki sisi baik dan sisi buruk, pertanyanya adalah ada dimana kita selama ini dan berbuat apa di dalam sisi tersebut. Seseorang oleh berada di sisi yang buruk, namun disana dia mengajak orang-orang di dalamnya untuk berbuat kebaikan. Begitu pula seseorang bisa saja berada di sisi yang baik, namun di dalamnya dia mengajak orang-orang untuk berbuat kerusakan.

“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.” (Mahatma Gandhi)

Maka dimanapun kita berada, teruslah berusaha untuk berbuat kebaikan dan terus menerus membangun apa yang kita yakini sebagai kebaikan. Kita tidak bisa hanya berdiam diri dan berkata bahwa itu semua berada di luar kemampuan kita. Ingatlah bahwa dalam setiap keterbatasan terdapat sebuah pilihan. Dan mendiamkan keburukan adalah sama halnya dengan berbuat keburukan itu sendiri. Bertindaklah, tunjukkan bahwa kita berada dalam barisan orang-orang yang berusaha untuk berbuat kebaikan dengan berbagai cara.

Perjuangan ini belum berakhir. Kita boleh bangga bahwa Indonesia telah lepas dari jeratan utang IMF, namun kita harus ingat bahwa bukan berarti Indonesia kini tidak lagi berhutang. Kita boleh bangga bahwa pertumbuhan ekonomi kita cukup tinggi, namun kita harus ingat bahwa kita masih melakukan impor dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Permasalahan ini masih ada, dan akan terus ada seiring perkebangan manusia. Itulah mengapa Tuhan menciptakan mausia, untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka ciptakan sendiri. Dan kita tiak bisa hanya berdiam diri dan mengatakan itu semua di luar kuasa kita. Ingatlah bahwa setiap permasalahan juga diciptakan oleh tindakan-tindakan kecil. Begitu pula bahwa setiap kebaikan juga akan disebarkan melalui setiap tindakan-tindakan kecil. Merdeka, dan tetap berusaha dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun. Merdeka dari dalam hati untuk bertindak.

Senin, 26 Mei 2014

Terima kasih, Bapak

Biru bukanlah warna nasional kita. Bahkan ketika biru bergabung dengan merah putih mengingatkan akan kepiluan di masa silam. Masa dimana nusantara digerayangi oleh bayang-bayang asing yang cukup lama sebelum akhirnya diusir oleh "saudara tiri" merah putih kita. Merah putih biru adalah Belanda, negeri yang seringkali dianggap telah menjajah bangsa kita selama tiga ratus lima puluh tahun.

Namun biru, telah memberi nuansa tersendiri selama satu dekade terakhir. Dimulai dari sebuah warna dengan intensitas yang cukup kecil di tahun 2004 sebuah siratan kecil yang tidak akan disangka menjadi dominan dalam dua kali lima tahun. Akan tetapi di bawah tangan dingin dari Bapak yang sering disebut sebagai ahlinya pencitraan, biru mampu menjadi dominan dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebuah demokrasi tidak berjalan dengan tenang, namun disitulah demokrasi. Banyak hiruk pikuk selama sepuluh tahun terakhir, namun itu justru menguatkan arti demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi yang memberikan ruang atas ketidaksetujuan, tanpa mengganggu perjuangan yang sedang dilakukan. Bukan demokrasi yang saling menumbangkan kekuasaan ataupun mengkudeta kemakmuran suatu bangsa.

Sebuah pertumbuhan tidak berjalan dengan mudah, namun itulah arti dari perjuangan. Ekonomi kita tidak melesat menjadi yang terbaik, tetapi tumbuh konsisten menuju yang terbaik. Semua butuh proses. Siapa sangka di tahun 2008 dunia mengalami krisis namun kita hampir tidak merasakannya? Dan kini negara dunia ketiga yang selama ini dipandang sebelah mata mulai bangkit seiring perpindahan poros dunia yang tidak lagi terpusat kepada negara persatuan.

Sebuah keadilan yang hakiki hanya akan terwujud pada hari pembalasan, namun kita bisa berusaha mewujudkannya saat ini. Keadilan bukan berarti tidak ada penjahat, namun keadilan adalah tentang memberikan hukuman kepada yang berlaku jahat dan penghargaan kepada yang berlaku baik. Pada satu dekade ini banyak kasus korupsi bermunculan, namun itu berarti bahwa pengadilan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya intervensi dari penguasa yang ada.

Sebuah pemimpin yang baik bukanlah yang sempurna, namun yang melahirkan pemimpin-pemimpin lain yang lebih sempurna. Pada dekade ini pula mulai muncul tokoh-tokoh nasional yang disegani dalam bidangnya masing-masing. Seolah rakyat Indonesia yang pemalas mendadak menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Semua memiliki kesempatan untuk berusaha menjadi yang terbaik, dan berhasil. Impian itu belum terwujud, tetapi seolah memberikan kepastian bahwa itu pasti akan terwujud.

Maka terima kasih, semua pemimpin pasti memiliki kekurangan. Namun bukan berarti kita berhak untuk tidak menghargainya di kemudian hari. Kita harus berterima kasih kepada Soekarno atas kepemimpinannya di awal kemerdekaan, namun kita boleh tidak setuju dengan sikap otoriter dan kegemarannya menghamburkan kekayaan untuk monumen. Kita boleh marah atas sikap koruptif Soeharto beserta kroni-kroninya, namun kita harus tetap berterima kasih atas perjuangan pada awal masa orde baru dalam membuat rencana pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Kita boleh tidak setuju dengan sikap Gus Dur yang sesuka hati, namun kita harus menghargai bahwa pada masanya semua orang merasa diterima dan setara dinegeri ini. Semua pemimpin memiliki tinta emas dan corengan arang dalam masa kehidupannya.

(source: zimbio.com)

Dan kepada Bapak, kami mengucapkan terima kasih atas stabilitas negeri selama satu dekade ini. Sebuah perjuangan yang tidak mudah mengingat banyak saudara kita yang mengalami berbagai pemberontakan dan kudeta dalam satu dekade terakhir. Terima kasih atas stabilitas ekonomi yang dibangun, dimana kita mampu terus merangkak ke atas di saat yang lain jatuh terkena gelombang krisis. Terima kasih atas demokrasi yang berhasil dijaga, dimana semua orang berhak menyampaikan kesetujuannya maupun ketidaksetujuannya tanpa adanya konsekuensi negatif atas tindakannya. Terima kasih atas keadilannya yang berhasil ditegakkan, meskipun korupsi masih banyak terjadi (bahkan di lingkaran terdekatnya) namun penegakan hukum tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dan terakhir pada saat biru tidak lagi dapat bertahan di merah putih, Bapak memberikan pendidikan politik terbaik. Kemauan untuk memberikan kesempatan kepada semua pihak ketika putra mahkota terperosok ke lubang hitam, sikap kesatria untuk tidak mengemis namun memilih bersikap netral. Terima kasih.



update: netral? cuih... #shameOnYouSBY

Senin, 17 Februari 2014

Dunia

Di tahun pertama aku tiba di dunia ini. Aku takjub dengan peradaban yang telah dibangun manusia. Dengan ketinggian yang tidak pernah dibayangkan nenek moyang kita. Dengan akses yang mudah dan cepat. Dengan kenyamanan yang membuat orang enggan untuk beranjak dari tempatnya.

Ini adalah dunia dimana usaha, kerja keras dan perjuangan dipertaruhkan. Kini kita dapat melihat hasilnya secara kasat mata. Buah dari peradaban manusia, perkembangan akal dan kekuatan usaha.

Namun di tahun kedua aku merasakan realita yang berbeda. Dimana manusia hidup hampir tidak seperti manusia. Manusia hidup tidak tumbuh. Hanya sekedar mempertahankan hidup dari hari ke hari. Dari detik ke detik. Sisi lain yang menggambarkan kerasnya kehidupan.

Memang sebuah hasil tidak akan nampak tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan. Jangan katakan bahwa perjuangan dan pengorbanan itu mudah. Lihatlah mereka yang hidup dari hari ke hari. Perjuangan dan pengorbanan yang membuat kita menitikkan air mata. Terlebih ketika kita melihat orang yang kita kasihi mengalaminya.

Growth (marthep.deviantart.com)

Namun itulah kehidupan. Sesaat sebelumnya seseorang berkata kepadaku bahwa dunia tak selamanya menyenangkan, namun itulah yang membuatnya menyenangkan. Itulah dinamika dunia. Itulah kehidupan.

Maka kita yang disini memiliki kekuatan untuk berusaha hendaklah menyisingkan lengan baju. Bukan hanya untuk hidup, tetapi juga tumbuh dan berkembang. Terlebih lagi mengembangkan.

Jumat, 29 November 2013

#Respect

Respect is something to gain, not ask

Bolehkah kita meminta orang lain untuk menghormati kita? Tentu boleh. Namun apakah mereka mau memberikannya itu adalah hal lain. Respect adalah urusan hati. Dan hati tidak suka berbohong, tidak seperti mulut.

Respect adalah hak orang lain, bukan kita. Setiap orang berhak menghormati orang yang mereka hormati dan tidak menghormati orang yang tidak mereka hormati. Sebuah kehormatan dan anugerah tersendiri. Kita patut bersuka hati karenanya.

Tapi bagi sebagian orang, respect dari orang lain telah menjadi kebutuhan hidup. Mereka hidup dengan hal itu, dan tidak bisa kehilangannya. Mereka melihatnya sebagai hak mereka, bukan hak orang lain.

Respect (skia.deviantart.com)

Bagaimanapun juga, kita hanya sebatas anggapan orang lain terhadap kita. Bukan anggapan diri kita sendiri. Respect adalah sesuatu yang harus kita peroleh dari orang lain, bukan dengan memintanya. Karena meminta respect dari orang lain tidak ada bedanya dengan pengemis. Kita tidak mau jadi pengemis.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Enam Puluh Delapan

Tentu mudah membandingkan antara idealisme dengan kenyataan. Namun mencari tahu permasalahan yang sesungguhnya tentang mengapa keduanya tidak sesuai dan membuat perbaikan akan hal itu, adalah perjuangan yang sesungguhnya

Lapangan itu sepi. Tidak ada anak kecil berlarian sembari menggigit sendok berisi kelereng di mulutnya, tidak ada dua puluh dua orang lelaki berebut bola dengan memakai daster atau sarung, tidak ada orang bahu membahu memanjat pinang berlumuran minyak, tidak ada anak-anak yang berusaha memakan kerupuk dengan kesusahan, tidak ada.

Sebagian orang masih berbaris rapi mengelilingi tiang bendera di pagi dan sore hari, menghormat kepada Sang Saka. Sebagian karena rasa cinta, sebagian karena harga diri dan eksistensi kelompoknya, sebagian lagi karena kebiasaan. Aku tidak tahu, mana yang lebih banyak.

Maka orang akan berkata bahwa nasionalisme telah pudar. Indonesia tidak lagi dicintai rakyatnya. Mereka mulai menyalahkan satu sama lain atas hal ini. Mereka adalah orang yang pesimis.

Aku percaya pada hukum energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan melainkan hanya berubah bentuk. Begitu pula energi untuk mencintai dan membangun negeri ini tidak pudar ataupun lenyap, hanya berubah bentuk seiring perubahan zaman.

IIP - Ikatan Indonesia (indonesia.devinatart.com)

Mungkin berbagai perayaan dan upacara telah memudar, tetapi itu karena semangat dan kecintaan tersebut perlahan mulai meresap ke dalam raga. Bukan lagi tampak di permukaan. Mereka meresap ke dalam raga, dan keluar dengan caranya masing-masing. Melalui lagu, melalui puisi, melalui seni jalanan, melalui jejaring sosial, melalui iklan, melalui ekspresi, dan melalui kerja keras. Ya, kerja keras sehari-hari demi membangun negeri yang kita perjuangkan bersama.

Menumpuk batu adalah pekerjaan yang membosankan. Bayangkan setiap hari menumpuk satu per satu batu, dan engkau mengulanginya setiap hari selama satu tahun saja. Kau akan mati kebosanan sebelum sampai di akhir tahun. Butuh semangat yang tinggi dan rasa cinta yang besar terhadap impian untuk terus menumpuk batu sebongkah demi sebongkah secara konstan dan konsisten terus menerus. Di akhir dari perjalanan nanti kita akan melihat sebuah bangunan megah, yang dibangun dari tumpukan batu yang konsisten yang kita lakukan sedikit demi sedikit. Itulah kerja keras.

Enam puluh delapan adalah waktu untuk berhenti sejenak menumpuk batu untuk melihat apa yang telah kita capai. Mungkin kita pernah melihat bangunan indah di masa lampau, namun bangunan tersebut kemudian hancur akibat kemalasan kita untuk merawatnya. Kemudian kita memutuskan untuk membangun ulang semua itu.

Mungkin kita hanya melihat tumpukan batu saat ini, tapi bukan berarti kita gagal. Kita hanya belum selesai membangun. Enam puluh delapan adalah waktu yang relatif. Sejenak kita berhenti untuk merenungi pencapaian kita dan mengingat kembali mimpi kita. Selanjutnya kita mulai lagi menumpuk satu demi satu, sebongkah demi sebongkah. Semangat dan doa mengalir di dalam darah kita. Teruslah produktif.

Minggu, 28 Juli 2013

Lompat

Tebing itu cukup dalam, orang yang jatuh besar kemungkinan tidak akan selamat. Syukur-syukur jika hanya terluka. Tetapi tetap saja luka itu akan dia bawa sampai akhir hidupnya, meski hanya sekedar ingatan tetapi itu cukup menyakitkan.

Pun jarak antara kedua tebing tersebut cukup jauh. Tidak bisa sembarang orang melompatinya dan bisa meraihnya. Perlu tenaga ekstra dalam lompatan seseorang untuk dapat mencapai ke seberang sana. Tidak sembarang orang mampu melompatinya, sebagian yang pernah mencobanya harus berakhir dengan rasa sakit ataupun kematian akibat kegagalan tersebut.

Lalu untuk apa melompat ke seberang sana? Di daerah ini segala sesuatunya telah tersedia. Kampung indah nan asri penuh dengan orang-orang yang baik. Hewan ternak tumbuh dengan riang gembira dan melimpah disini, tidak perlu takut akan datangnya kelaparan. Begitu pula biji sayur yang jatuh ke tanah pun bisa langsung tumbuh dengan suburnya.

Sebuah masyarakat kecil yang hidup penuh kemakmuran. Seolah terasing dari hiruk pikuk kehidupan di luar sana. Kedamaian yang tercipta akibat ketidaktahuan, tapi untuk apa perlu mengetahui permasalahan jika kita bisa menghindarinya? Hidup di bagian ini sudah sangat baik.

Sedangkan diseberang sana kita tidak tahu ada apa. Informasi tidak pernah sampai dengan utuh. Sebagian orang berkata di seberang sana adalah tempat yang lebih indah dibandingkan di sisi ini. Sedangkan sebagian lainnya bercerita tentang tempat yang lebih tandus serta kehidupan yang lebih keras untuk dijalani.

Apa yang tampak pun cukup menguatkan anggapan kedua. Di seberang sana hanya tampak bebatuan keras dan gunung yang tandus. Namun apa yang ada di balik gunung tersebut tidak tampak oleh kita. Bagamanapun juga hanya sedikit orang yang mau untuk kembali dari balk gunung tersebut. Sebuah misteri yang tidak pernah kita ketahui jawabannya jika kita tidak mencarinya sendiri.

Lalu dimana lelaki itu? Dia berjalan di pinggir, memandangi kedalamannya dan apa yang tampak oleh mata di seberang sana. Tapaknya dia berpikir untuk melompatinya.

Namun akhirnya dia berbalik arah berjalan kembali ke kampungnya. Bagiku tampaknya dia hendak mengurungkan niatnya. Mengukur kemampuannya bahwa dia tidak mampu, aau mungkin apa yang di seberang sana tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Mengubur mimpi dan rasa keingintahuannya ke dalam kedamaian yang dia miliki. Namun aku salah.

Dia berhenti setelah 50 meter dari tebing. Kembali menghadap ke jurang, mengambil posisi berlari. Tampaknya dia tidak putus asa. Dia hanya mengambil persiapan untuk melompat. Dan dia mulai berlari.

30 meter ...

Sebenarnya ada apa di seberang sana? Apa yang nampak hanyalah sebuah kegersangan dan ketandusan. Pun jika sampai di seberang bukanlah kehidupan nyaman yang akan kita jalani. Namun perjuangan bertahan hidup yang lebih keras. Tapi apa hanya untuk bertahan hiduplah kita hidup? Disana ada jawaban atas semua pertanyaan dan keingintahuan tersebut.

"Curiosity killed the cat" (anonim)

10 meter ...

Di belakang sana, kehidupan nyaman menanti.  Masyarakat yang tenang, keluarga yang selalu menyambut dengan tangan terbuka. Status sosial yang membuat dirinya cukup terpandang dan disegani. Bahkantidak mungkin dia akan menjadi pemimpin kami. Orang paling penting dalam masyarakat ini. Kekayaan pun tidak ia bawa kecuali sebuah tas ransel yang ada di punggungnya. Sebuah bekal yang tidak tahu mampu menopang hidupnya sampai kapan di seberang sana. Dia menafikkan kondisi menyenangkan saat ini dan masa depan yang cemerlang. Menukarnya dengan ketidakpastian. Namun aku yakin dia melihat impian di seberang sana.

" Good is the enemy of great" (Jim Collins)

5 meter ...

Entahlah, apakah momentum dan kekuatan yang dia coba bangun cukup untuk melompati celah tersebut?Sudah banyak orang yang gagal melompatinya dan berakhir dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Apakah dia akan berhasil? Ataukah dia akan jatuh terperosok ke dalam jurang kegagalan? Apakah pilihannya sudah tepat ataukah dia harus mengurungkan niatnya kembali? Masih ada waktu untuk berubah pikiran dan menyelamatkan diri.

Namun bukan untuk itulah hidup, adalah tentang mencari makna, menentukan impian, dan meraihnya. Masalah dan kegagalan selalu ada, tetapi bukan berarti kita harus selalu ketakutan dan bersembunyi dari masalah.

"Trouble is a friend" (Lenka)

1 meter ...

Sudah tidak mungkin lagi untuk berhenti. Jurang tampak sudah terlihat di depan mata. Sangat dalam, entah apa yang akan terjadi padanya beberapa detik kemudian. Tebing di seberang pun tanpa begitu jauh, entah apakah dia mampu meraihnya atau tidak. Perasaan ragu itu masih menghinggapi dirinya bahkan sampai detik terakhir.

Namun ini adalah tentang pilihan. Kita berhak menentukan pilihan sesuka hati kita, namun pada akhirnya kita harus menjalani setiap konsekuensi dari pilihan kita tersebut. Dan konsekuensi terindah adalah konsekuensi dari pilihan yang telah kita buat sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan atas diri kita.

"Hidup adalah tentang pilihan, dan menjalani pilihan tersebut" (seorang teman)

Dan dia melompat ...

Choices and consequences ... (ash-3xpired.deviantart.com)

Sejak saat itu aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Aku tidak tahu apakah dia berhasil sampai ke seberang sana atau terjatuh ke dalamnya. Aku pun tidak tertarik untuk mengetahuinya. Yang aku ketahui adalah wajahnya yang tersenyum ketika dia melompat dari tebing dimana kakiku berpijak saat ini. Sebuah eksresi kegembiraan dan kepuasan yang rasanya jauh lebih berharga dari kehidupan itu sendiri.

Kamis, 09 Mei 2013

Pahlawan

Sebagian orang memilih bertani. Menanam sayuran untuk sekedar dimakan diri sendiri dan orang-orang terdekat yang membantunya serta sisanya dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan dan dijual untuk membeli kebutuhan lainnya.

Sebagian orang berpikir tentang masa depan. Membujuk para petani untuk menyisihkan sebagian hasil panennya, mengumpulkannya, dan menyimpannya untuk dibagikan kepada masyarakat di musim paceklik mendatang.

Sebagian orang kelaparan. Menggedor-gedor pintu gudang untuk meminta sekarung dua karung beras untuk dimakan. Mereka berpikir bahwa mereka berhak terhadap beras-beras tersebut dan keluarga mereka saaat ini lebih utama.

Sebagian lain membela yang tertindas. Mendobrak pintu gudang, menjarah isinya, dan membagikan beras-beras tersebut kepada mereka-mereka yang meminta. Membagikan dengan rasa ikhlas tanpa sedikit pun mengambil bagian.

Hero (lenupetcomics.deviantart.com)

Lalu siapakah yang menjadi pahlawan?
Pekerja, perencana, tertindas, ataukah pendobrak ...

Semua berada dalam satu kesatuan harmoni dunia

Sabtu, 27 April 2013

Tidak Adil

Banyak sekali kata-kata motivasi atau kutipan-kutipan dari orang hebat yang dipropagandakan di media mencoba untuk membandingkan antara keberhasilan akademik dengan kesuksesan kerja. Tentang orang tidak tamat sekolah yang menjadi sukses, tentang orang yang mendapatkan nilai-nilai buruk di sekolah tetapi berhasil meraih impiannya, tentang orang-orang yang malas belajar namun berhasil. Seolah tidak ada satu pun korelasi antara prestasi akademik dengan prestasi di dunia kerja.

Kata-kata motivasi yang akhirnya menjadi demotivasi. Sebuah paradoks akan suatu tujuan yang berhasil tercapai dengan menafikkan tujuan yang lain. Seperti halnya membunuh orang lain agar dirinya mampu bertahan hidup.

Ayolah, bagaimana jika kita balik. Akankah ada jaminan juga bahwa mereka yang gagal dalam akademisnya justru akan meraih kesuksesan juga di bidang lainnya? Don't be ridicculous.


Justru mereka yang menunjukkan keberhasilan dalam bidang akademis setidaknya telah menunjukkan bahwa mereka setidaknya telah berhasil dalam satu hal. Keberhasilan diraih atas usaha dan kemauan dari individu tersebut. Begitu pula keberhasilan akademik diraih karena mereka mau untuk berusaha dan meraihnya. Lalu apakah ada jaminan bahwa mereka yang tidak mau berusaha untuk bidang akademis mereka akan mau berusaha untuk bidang lainnya? Entahlah.
Don't blame the miror because our ugly face
Yang terpenting adalah apakah kita mau untuk berusaha meraih kesuksesan diri kita, dan mencoba untuk tidak menertawakan kesuksesan orang lain. Biarlah semua orang bahagia dengan kesuksesan masing-masing.

Sabtu, 13 April 2013

Menjadi Manusia

Apa yang membuat manusia menjadi tidak lagi manusia?

Manusia memiliki kelebihan berupa akal dibandingkan makhluk lainnya. Akal-lah yang menjadikan manusia menjadi makhluk paling dominan di dunia ini. Bahkan dalam kisah Sulaiman, seorang ahli kitab (orang yang gemar belajar) adalah orang yang berhasil memindahkan singgasana Bilqis dibandingkan Jin tercerdik sekalipun.

Open Your Mind (oo-rein-oo.deviantart.com)


Namun apa jadinya ketika manusia berhenti belajar dan menggunakan akalnya? Ketika manusia tenggelam dalam rutinitas dan kesibukannya sehingga menjadikan mereka lupa akan esensi dari manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang terus berkembang dan mengembangkan dirinya. Bukan sebuah mayat yang hidup stagnan dan mengerjakan sesuatu secara berulang tanpa mengembangkannya.

Maka camkan ini dalam hidup kita, ketika kehidupan mulai terus berulang tanpa arah dan tanpa perkembangan, ketika bangun tidur di pagi hari menjadi sebuah beban karena kehidupan yang tidak menarik, ketika kehidupan berada di puncak piramida dan tiada lagi yang dapat didaki,  ketika hidup sudah tidak lagi memiliki arah tujuan dan semangat, maka itu saatnya untuk duduk sejenak dan berbalik arah.

Hiduplah dimana kita benar-benar hidup di dalam kehidupan kita. Dimana kita benar-benar menjadi manusia, yang berkembang dan mengembangkan dirinya. Hiduplah di dunia yang keras namun kita nikmati alih-alih di kehidupan nyaman yang membosankan. Dan berkembanglah.

Ketika manusia tidak lagi bisa menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, maka sejatinya dia bukanlah manusia yang sesungguhnya. Dia adalah -apa yang disebut Sudjiwotedjo sebagai- SOBIMAN. Sosok binatang mirip manusia, namun dia bukanlah manusia. Karena dia tidak berkembang.

Sabtu, 12 Januari 2013

Not yet a Man

Actualy i'm still boy who to against the world, not yet a man. But if i can choose, i want to be a boy in my entire life.

"Jika kau boleh memilih waktu, akankah kau memilih masa lalu?"

"Maksudmu?"

(sumber: gubraker.com)

Suara seruputan kopi memecah keheningan percakapan. Kopi sore itu pahit, kurang cocok sebenarnya sebagai teman bercengkrama ditemani cahaya senja. "Suara memang tidak dapat dibungkam, ada saja cara mereka untuk keluar ke dunia. Dan seni adalah media terindah untuk itu."

"Kau yakin masa lalu lebih indah?", tanyanya sembari menatap truk berjalan menjauh. Masih terlalu dini di tempat tersebut untuk dapat tenggelam di dalam keriuhan.

"Lalu bagaimana dengan mantanmu?"

"Maksudmu?"

"Itu masa lalu bukan?"

"Yah seperti masa sekolah kita dahulu"

"Jadi menurutmu, mana yang lebih indah? Masa lalu atau saat ini?"

Pertanyaan tersebut mengakhiri segala perdebatan. "Kalaupun masa lalu lebih indah, itu karena kita masih kanak-kanak. Kita bisa bebas bersenang-senang. Tapi sayangnya dunia ini dikuasai dan dibangun oleh orang-orang dewasa. Orang-orang yang dengan serius mengabdikan hidunya dan berkorban demi kebaikan dunia."

"Kenapa kita tidak bersenang-senang sembari membangun dunia? Bayangkan saja seperi kita bermain balok susun. Bukankah kita merindukan masa kanak-kanak tersebut?"

Senin, 07 Januari 2013

.. and we just talking something

Lelaki itu berdiri di tempat kencing sebelahnya, "Mas, Kau mau tahu cerita lucu tentang pesawat terbang?"

"Apa itu?", tanyanya sebagai basa-basi. Dia yakin itu hanyalah cerita yang sama diulang-ulang, cerita yang entah dia pernah dengar dari siapa dan diulang kembali oleh wajah-wajah baru penuh semangat seolah itu adalah cerita epik ciptaannya sendiri untuk menghibur orang lain, namun toh dia tetap mendengarkannya. Setidaknya lelaki itu mencoba menghibur, dan kita cukup diam dan mendengarkan untuk menghargainya.

"Suatu hari terbanglah pesawat Amerika Serikat melintasi Iran tanpa izin, lantas sang Jenderal pun segera memerintahkan anak buahnya 'Tembak! Tembak! jangan biarkan mereka lolos!' dengan penuh kekhawatiran. Para prajurit pun segera menembakkan senjata mereka berusaha menjatuhkan pesawat tersebut namun gagal", lelaki itu berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

"Lalu setelah itu datang lagi pesawat dari Indonesia terbang tanpa izin lewat, namun kali ini para prajurit bingung karena sang Jenderal tampak diam saja. Kemudian mereka bertanya, 'Jenderal. apa perlu kita tembak jatuh mereka?'. Sang jenderal kemudian tertawa, 'itu pesawat Indonesia, tidak perlu ditembak nanti jatuh sendiri' hahaha", cerita itu ditutup dengan gelak tawa kedua lelaki di dalam toilet umum. Entah tawa ikhlas atau sekedar basa-basi.

Mendadak seorang lelaki keluar dari toilet di belakang mereka. Lelaki tersebut tampak lusuh, sudah berhari-hari dia tidak tidur untuk mewujudkan satu mimpinya: menciptakan pesawat terbang buatan Indonesia. Mendengar seluruh guyonan tersebut, dia hanya bisa tersenyum kecut.

Habibie - Pesawat Terbang

***

"Kau tahu? pemerintah tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada anak-anak bangsa yang cerdas. Jadi jangan salahkan mereka ketika mereka memilih bekerja di luar negeri demi negeri lain daripada di Indonesia. Maklum saja, disana mereka dibayar lebih tinggi", lelaki itu bercerita dengan teman sebelahnya di balik koran. Berita pagi itu dihiasi denganjudul fenomenal dengan hambar sebuah mobil hitam buatan anak- SMK.

"Bagaimana menurutmu tentang mobil SMK itu?", tanya lelaki di depannya yang mencoba mencari-cari sebuah topik pembicaraan sekenanya.

"Ah, itu. Katanya sih mobil nasional, tapi onderdilnya impor semua. Dulu Timor juga bikin mobil nasional akhirnya pun gak laku. Kalau aku pribadi punya uang sebanyak itu, mending beli mobil lain merk Toyota, Daihatsu, atau apa lah. Yang lebih terpercaya pokoknya"

"Tentu saja, belum lagi nanti purna jualnya, dan sebagainya. Jangan-jangan nanti dua tahun sudah harus jadi besi tua, maklum yang bikin juga anak-anak", percakapan tersebut diakhir dengan senyum yang enath apa maknanya. Mungkin sekedar basa-basi. "Ini Jokowi juga walikota ngapain ngurusin mobil, kayak kerjaannya sudah beres semua"

"Ah itu paling cuma pencitraan untuk 2014 nanti haha ..."

Jokowi - Mobil SMK

***

"Masa mobilnya iru Ferari, pakai plat nomer palsu pula. Ada-ada saja pencitraan si Dahlan Iskan ini. Mau nyalon jadi 2014 ini pasti!"

"Betul itu! Lagian masa Ferari mau disamain sama mobil buatan Indonesia. Beda jauh lah! Mobil Indonesia gampang rusak gitu pasti, murahan pula. Apalagi ini mobil listrik"

"Sepeda listrik aja cuma bisa jalan pelan tersendat-sendat gitu, ini pake acara bikin mobil listrik. Ini Dahlan Iskan kurang kerjaan banget, sih. Mending ngurusin BUMN aja sana daripada ngurusin mobil"

"Bener sekali, tuh kan mobilnya aja akhirnya nabrak gara-gara rem blong, kemarin juga mogok pas uji coba. Emang gak ada harapan," muka remeh muncul di wajah kedua orang tersebut. Tampaknya mereka seolah marah, tapi tidak tahu marah sama siapa dan atas apa. Jadilah muka mereka tertekuk tanpa jelas kemana arahnya.

"Wah lagi rame nih, pada ngomongin mobil listrik buatan anak bangsa, plat nomer palsu, apa Dahlan Iskan nih?", lelaki itu menghampiri dengan wajah tersenyum.

Dahlan Iskan - Mobil Listrik

***

Applause (yslen.deviantart.com)

At least they do something to reach their dream
And we just talking something too
But it's hurts them..
... Sorry

Sabtu, 10 November 2012

Efektivitas dan Efisensi

Efektivitas dan efiensi organisasi telah menjadi salah satu isu utama dalam pengembangan organisasi. Kedua hal ini terbukti sebagai salah satu cara terbaik untuk mengembangkan sebuah organisasi. Berbeda dengan angapan kuno dimana hasil selalu diidentikkan dengan penambahan sumberdaya dan tenaga di dalam perusahaan.

Jepang merupakan negara yang menjadi contoh terdepan dalam penerapan prinsip ini. Sejarah mencatat bahwa Eropa dan Amerika menjadi penemu benda-benda hebat seperti radio, mobil, dan sebagainya. Namun Jepang yang menyusul di belakang kini justru menjadi raja dalam hal-hal tersebut. Eropa dan Amerika boleh bangga dengan mengatakan bahwa mereka yang menciptakan produk tersebut, akan tetapi Jepang lah yang membuat inovasi dan pada akhirnya menunjukkan bahwa produk mereka lah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Melalui kedua prinsip tersebut, Jepang berhasil menunjukkan bahwa masyarakat lebih tertarik dengan produk-produk yang lebih efektif dan efisien dibanding kuantitas dan kualitas yang berlebihan. Mobil misalnya, lain halnya produk-produk Eropa dan Amerika yang seringkali memiliki tenaga besar dan boros energi, produk-produk Jepang justru lebih efisien dan efektif. Ibaratnya untuk apa memiliki mobil 4WD jika hanya digunakan untuk perjalanan di dalam kota yang datar?

Efficiency (1n73rl0p3r.devientart.com)

Trend ini pada akhirnya mengarahkan organisasi untuk seramping mungkin namun menunjukkan kualitas yang luar biasa. Bagi sebagian orang hal ini cukup aneh, bagaimana mungkin ketika faktor-faktor prduksi dikurangi namun hasil produksi justru terus meningkat. Disinilah organisasi ditantang untuk dapat seefektif dan sefisien mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Salah satunya dalam hal human capital yang dimiliki oleh organisasi.

Menurut saya, setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan human capital di dalam organisasi. Yang pertama adalah peningkatkan kualitas human capital, pembangunan sistem, dan pemanfaatan teknologi. Ketiga langkah ini bagi saya merupakan cara terbaik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan human capital dalam suatu organisasi.

Kualitas Human Capital
Peningkatan kualitas human capital menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi dalam menjalankan bisnisnya. Seringkali kita terjebak dalam paradigma semakin tinggi kuantitas maka semakin meningkat pula produktivitas organisasi.  Paradigma semacam ini hanya melihat human capital sebagai angka-angka penjumlahan dan gagal dalam melihat human capital sebagai manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa pada akhirnya ada sebuah titik dimana penambahan sumber daya justru memberikan korelasi yang negatif terhadap produktivitas organisasi. Bayangkan saja sebuah organisasi dimana memiliki banyak anggota akan tetapi tugasnya tidak terlalu banyak, maka pada akhirnya yang terjadi adalah sebagian anggota justru menjadi benalu dan mengganggu produktivitas anggota lainnya.

Pada akhirnya mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa tidak semua orang itu sama. Beberapa orang memang memiliki kemampuan yang lebih dibanding yang lain. Poin utama dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi adalah melalui rekruitmen. Dengan merekrut orang-orang yang memiliki kualitas-kualitas terbaik, maka meski dengan jumlah yang sedikit namun produktivitas organisasi tetap akan tetap berkembang.

Misalnya saja pekerjaan dari dua orang yang biasa saja bisa dikerjakan oleh satu orang dengan kualitas unggul. Apabila kita merekrut tenaga-tenaga unggul dalam organisasi kita tentu biaya yang harus dikeluarkan relatif lebih sedikit daripada merekrut dua orang dengan kualitas sedang atau biasa akan tetapi tetap mendapatkan hasil yang baik.

Selain rekruitmen, organisasi juga memiliki tanggung jawab dalam pengembangan human capital yang dimiliki. Organisasi harus dapat meningkatkan kemampuan human capital  yang dimilikinya agar pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efisien dalam pengerjaannya.

Pembangunan Sistem
Terkadang beban kerja yang kita alami sebagian besar terjadi karena tidak adanya manajemen kerja yang baik. Sistem dan pembagian kerja yang serabutan serta asal pada akhirnya akan justru akan menambah pekerjaan itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya sistem yang baik dalam setiap tugas yang dilaksanakan.

Saya berikan sebuah ilustrasi:
Sebuah kantin mengalami permasalahan yang cukup rumit. Jumlah pengunjung kantin secara perlahan tapi pasti terus meningkat. Efeknya adalah jumlah meja yang tersedia dirasa kurang karena setelah digunakan meja tersebut harus dibersihkan dan disingkirkan terlebih dahulu piring-piring kotor dari pengguna sebelumnya sebelum dapat digunakan kembali oleh pengguna berikutnya.
Dalam kasus tersebut, logika sederhana untuk memecahkan kasus tersebut adalah dengan menambah jumlah pelayan untuk mengambili piring-piring kotor dan membersihkan meja yang telah digunakan. Hal itu berarti menambah human capital yang dimiliki organisasi dan juga menambah biaya.

Namun permasalahan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan sebuah solusi tanpa harus menambah human capital yang berarti juga menambah biaya. Solusinya adalah sediakan sebuah meja tempat piring kotor sehinga para pengunjung kantin yang telah selesai menggunakan piringnya bisa meletakkannya disitu. Dengan sistem ini pengelola kantin tidak perlu menambah human capitalnya tetapi mengajak para pengunjung untuk ikut bertanggung jawab dalam kebersihan kantin. Sistem ini selain meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan kantin, juga efektif dalam meningkatkan rasa tanggung jawab para pengunjung terhadap isu kebersihan.

Tanpa adanya sistem yang baik, bukan tidak mungkin kesalahan yang sama juga akan terus menerus dialami dan organisasi masih saja bingung bagaimana menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya organisasi akan terlalu sibuk mengurusi hal-hal operasional rutin dan gagal melakukan perbaikan atau improvement. Human Capital yang dimiliki tersita oleh permasalahan-permasalahan rutin yang sudah sering terjadi dan sebenarnya telah diketahui pola pemecahannya.

Misalnya saja sebuah perusahaan manufaktur mengalami kerusakan dalam conveyornya sehingga macet dan tidak berfungsi. Kerusakan serupa sebenarnya pernah dialami perusahaan beberapa waktu yang lalu dan diketahui penyebab serta cara memperbaikinya. Namun sayangnya teknisi tersebut telah dipindahkan dan digantikan dengan teknisi baru yang belum pernah menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya perusahaan tersebut akan mulai dari nol lagi dalam menghadapi masalah yang sama.

Sistem yang baik seharusnya bisa mendokumentasikan dan mendistribusikan informasi-informasi penting semacam ini kepada semua orang. Sehingga meskipun anggota datang silih berganti dalam organisasi, namun organisasi tidak kembali ke nol dalam setiap masalah yang dihadapi. Salah satu contohnya dapat dituangkan melalui Standard Operational Procedure (SOP) atau dokumen-dokumen lainnya.

Pemanfaatan Teknologi
Teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Bayangkan pada zaman dahulu kita harus menggosok-gosokkan batu atau kayu untuk menciptakan percikan api yang dapat digunakan untuk menyalakan api. Namun kini hanya dengan menekan tombol korak api, api dapat langsung keluar sehingga dapat kita gunakan.

Begitu pula dalam organisasi, sebuah organisasi yang baik harus dapat memilah-milah mana saja kegiatan rutin yang terjadi terus menerus secara berulang-ulang dan mengembangkan kemungkinan pemanfaatan teknologi dalam pengerjaan tugas tersebut. Dengan penggunaan teknologi ini tentunya human capital yang tersedia akan terbebas dari pekerjaan-pekerjaan rutin yang menyita waktu dan dapat fokus kepada pengembangan-pengembangan yang dapat dilakukan oleh organisasi.

Automatic Teller Machine merupakan salah satu contoh nyata penerapan teknologi sebagai langkah efektivitas dan efisiensi yang dilakukan oleh perbankan. Dahulu sebelum adanya ATM, dapat kita bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang dihabiskan oleh para karyawan perbankan untuk menangani segala macam transaksi yang dilakukan oleh pelanggang mereka. Namun kini dengan adanya ATM, perbankan dapat mengurangi jumlah teller mereka karena banyak transaksi yang dapat dilakukan via ATM.

Arus Modernisasi
Trend dewasa ini memaksa organisasi untuk bertindak seefisien dan seefektif dalam mencapai tujuan mereka. Hal ini dikarenakan manusia mulai menyadari keteratasan sumber daya yang ada. Jika sumber daya tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, dalam jangka panjang tentu akan merugikan bagi seluruh umat manusia atau organisasi.

Bahan bakar minyak misalnya, masyarakat kini  mulai menyadari betapa sangat terbatasnya sumber daya tersebut. Keterbatasan ini pada akhirnya mendorong konsumen untuk membeli kendaraan-kendaraan yang hemat energi demi menjaga persediaan sumber daya yang dimiliki.

Begitu pula organisasi seiring berjalannya waktu seharusnya semakin bijak dalam menggunakan sumber daya yang mereka miliki, termasukjuga human capital yang meskipun jumlahnya sangat banyak akan tetapi kita sadar human capital tidak dapat berdiri sendiri tanpa memerlukan sumber daya yang lain.

Adalah sebuah pemborosan yang sangat tidak efektif dan efisien dengan menempatkan manusia hanya sebagai alat untuk melakukan tugas-tugas rutin yang terus berulang. Terlebih jika manusia-manusia tersebut merupakan manusia-manusia yang telah terdidik dengan baik. Seharusnya human capital semacam ini dapat dimanfaatkan sebagai ujung tombak dari perbaikan yang dilakukan organisasi. Terlebih dengan adanya akal sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Jika kita terus menerus disibukkan dengan permasalahan yang sama, maka sepatutnya kita mempertanyakan dimana akal kita. Dimana mempertanyakan keberadaaan akal juga berarti mempertanyakan keberadaan manusia itu sendiri.

Rabu, 03 Oktober 2012

Outsourcing (seharusnya) bukan Perbudakan

Hari ini (rabu, 3 Oktober 2012) dunia industri tanah air digemparkan dengan aksi turun ke jalan para buruh. Salah satu tema yang diangkat adalah penghapusan sistem outsourcing (OS) di perusahaan-perusahaan Indonesia. Tema klasik yang sebenarnya telah menjadi bahan perdebatan cukup lama di dalam dunia ketanagakerjaan di Indonesia. Artikel kali ini mencoba membahas keberadaan sistem OS di Indonesia.

Labour (piuccheperfetto.deviantart.com)

Sistem outsourcing sendiri telah ada sejak zaman kolonial Belanda yang diatur dalam undang-undang (yang pada akhirnya sebagian masih digunakan sebagai dasar hukum Indonesia). Pada masa lalu para Demang menyediakan tenaga kerja-tenaga kerja lokal untuk dipekerjakan kepada orang-orang Belanda. Para pekerja ini nantinya upahnya sebagian akan dipotong oleh para Demang sebagai jatah mereka.

Outsourcing di Indonesia mulai populer kembali beberapa tahun terakhir. Tujuan utamanya pada kala itu adalah sebagai stimulus kepada dunia usaha untuk dapat berkembang dengan baik. OS kemudian dipandang sebagai sebuah langkah untuk mendapatkan tenaga kerja murah.

Akan tetapi anggapan seperti itu adalah sebuah praktek yang salah. Sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada semangat spesialisasi terhadap bidang keahlian tertentu. Tenaga outsourcing seharusnya adalah tenaga-tenaga kerja ahli dan spesialis dalam bidangnya, bukan tenaga kerja murah.

Praktek OS yang baik adalah ketika perusahaan user membutuhkan bantuan tenaga ahli atau spesialis dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga membutuhkan jasa OS dalam membantu permasalahan tersebut. Misalnya saja sebuah perusahaan yang berfokus pada bidang manufaktur sebagai user maka mereka akan melakukan outsourcing pada bidang-bidang yang bukan area keahlian mereka misalnya security, cleaning service, catering, IT, dsb. Tujuan utamanya adalah agar perusahaan tersebut bisa fokus mengerjakan bisnis utamanya, sedangkan hal-hal yang bersifat supporting tersebut akan ditangani oleh pihak-pihak yang lebih ahlinya misalnya perusahaan IT, perusahaan jasa catering, dsb.

Karyawan-karyawan OS tersebut pada dasarnya adalah para karyawan tetap yang telah dijamin hak-hak dan kesejahteraannya oleh perusahaan penyalur tersebut. Sehingga transaksi yang terjadi adalah antara user dengan perusahaan penyedia jasa, sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kekaryawanan merupakan bagian dan tanggung jawab sepenuhnya dari pihak penyedia jasa.

Peraturan pemerintah juga senada dengan hal tersebut. Dalam revisinya terakhir MK menegaskan bahwa sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada penyediaan tenaga ahli dan bukan tenaga murah. Dengan adanya revisi ini para pekerja OS berhak mendapatkan pesangon dan hak-hak lainnya seperti halnya karyawan tetap. Selain itu sistem OS sendiri hanya diperbolehkan pada bagian-bagian yang sifatnya supporting dan bukan bisnis utama atau produksi.

Akan tetapi tentu tidak akan ada asap jika tidak ada api. Jika peraturan tersebut sudah benar-benar sepenuhnya dijalankan maka tentunya para buruh tidak akan turun ke jalan. Pada prakteknya banyak perusahaan yang masih menggunakan sistem OS pada bisnis utama mereka. Dalam kasus tertentu misalnya sebuah perusahaan manufaktur menggunakan tenaga OS dalam jumlah besar sebagai buruh kasar di pabrik. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan seringkali masih meihat OS sebagai sebuah cara penyediaan tenaga murah.

Kasus lain yang sering saya temui adalah tidak adanya ikatan dan hubungan yang jelas antara karyawan OS dengan pihak penyalur tenaga kerja. Saya sering jumpai bagaimana karyawan OS yang bahkan tidak mengenal kontrak kerja dengan perusahaan penyalurnya. Praktek yang terjadi seolah-olah pihak perusahaan penyalur hanya sebatas memotong upah dari para karyawan OS tanpa adanya timbal balik semisal jaminan kesejahteraan para pekerja itu sendiri.

Jika demikian prakteknya maka itu sama bobroknya dengan sistem penyaluran jasa TKI yang sering dicemooh atau lebih parah lagi adalah mengulang kesalahan zaman kolonial dengan pengulangan sistem "Demang" yang itu berarti adalah bentuk pemalakan atau jika tidak bisa disebut perbudakan.

Maka dari itu sistem outsourcing di Indonesia masih perlu disempurnakan. Dari sisi pemerintah perlu diperketat lagi mengenai definisi dan aturan penggunaan sistem outsourcing. Bahkan dalam bentuk ekstrim jika perlu untuk sementara hapuskan sistem outsourcing untuk para pekerja kerah biru, sistem OS hanya digunakan secara terbatas pada pekerja kerah putih.

Yang kedua adalah pengawasan implementasi di lapangan. Bagaimana perusahaan penyedia jasa OS harus dapat memenuhi kewajibannya dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan-karyawannya. Jangan sampai perusahaan jasa OS pada prakteknya hanya menjadi "pemalak" tanpa memberikan timbal balik keuntungan kepada para karyawan.

Dan ketiga adalah bagaimana peran serta user dalam sistem ini perlu dibenahi. Stigma OS sebagai penyedia tenaga kerja murah harus sepenuhnya dihapus dan digantikan dengan stigma penyedia tenaga kerja ahli. Para user seharusnya juga bisa lebih ketat lagi dalam memilih para penyedia jasa yang akan mereka gunakan. User memiliki kekuatan untuk menyeleksi dan memilih penyedia-penyedia jasa yang benar-benar memperhatikan karyawannya untuk dijadikan partner.

Bagaimanapun juga sebuah tindakan dzalim untuk mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memberikan haknya. Pada titik inilah kita seharusnya berpikir ulang bagaimana kita memandang OS selama ini, apakah masih sebatas uang ataukah sudah melihatnya sebagai sebuah manusia yang utuh sepenuhnya?

Minggu, 30 September 2012

Merdeka!

Jika aku boleh memilih mimpiku, maka aku ingin bermimpi tentang sebuah dunia dimana semua orang bebas dan merdeka dari segala penjajahan dan kebodohan. Bahkan jika pun penjajahan itu berasal dari perut mereka sendiri.

Namun dunia ini tidaklah seindah mimpi-mimpi. Meski aku banyak bertemu dengan orang-orang merdeka yang hidup di atas dan dengan mimpi mereka untuk mewujudkannya di dalam dunia, namun pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa mereka hanyalah segelintir orang yang jumlahnya tidak banyak. Dan segelintir itu pun banyak yang kemudian mati terbunuh oleh perut mereka yang semakin membesar.

Harus kuterima pula kenyataan bahwa aku terlalu lama hidup di pusat dunia, di sisi yang selalu terpapar cahaya matahari. Padahal dunia ini luas. Di bagian dunia yang lain banyak mereka yang hidup dalam kegelapan dan sibuk dengan perut mereka hingga lupabahwa diri mereka manusia.

Mimpi Kami (ambientdream.deviantart.com)


Maka aku berdoa kepada Dia yang Maha Kuasa dan menguasai hati, agar aku dan orang-orang lain bisa merdeka. Agar kita tidak terbunuh oleh perut kita, agar mimpi kita menjadikan kita manusia yang sesungguhnya.

Selasa, 21 Agustus 2012

Siapa Maha Adil?

Apakah keadilan itu? Ketika kesenjangan mulai nampak maka orang-orang menjadi percaya bahwa keadilan berarti sama rasa sama rata. Sebuah ide seorang lelaki miskin dengan banyak hutang hidup di sebuah negara industri. Dan mendadak ide tersebut menjadi sebuah impian yang indah dan begitu dipuja.

Maka sama rasa sama rata menjadi sebuah keadilan idealis. Sebuah dunia tanpa perbedaan, sebuah dunia tanpa kesenjangan. Dimana semua kehidupan menjadi sama meski itu berarti sama miskinnya.

Sama, secara materi.


Tapi sama rasa sama rata juga berarti satu hal. Bahwa Tuhan bukanlah yang Maha Adil. Karena Tuhan lah yang menciptakan manusia dalam kedaan yang berbeda-beda dan tidak setara. Tuhan juga yang mengatur segala sesuatunya. Maka pantaskah Tuhan sebagai yang Maha Adil ketika fitrah manusia hidup dalam ketidaksamaan dan ketidak rataan? Adilkah?

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (3:18)

Maka keadilan bukanlah sama rasa sama rata. Keadilan bukanlah tentang jumlah harta yang sama dari setiap insan. Keadilan adalah tentang bagaimana orang mendapatkan apa yang diusahakannya dan tidak mendapatkan sesuatu yang tidak diusahakannya. Itulah keadilan hakiki.

Namun dibalik itu semua terdapat juga kasih sayang, dimana yang berlebih membantu yang kekurangan.

Minggu, 05 Agustus 2012

Toilet

Semua orang menginginkan sebuah toilet umum yang bersih dan nyaman. Diana bau pesing tidak tercium dan tidak ada ceceran entah dari siapa dan darimana. Sebuah mimpi yang indah akan sebuah kedaaan ideal yang selalu didambakan.

Namun siapa mau membersihkan toilet umum?

toilet (danor.deviantart.com)

Kita selalu berharap akan mimpi yang indah, namun dunia bukanlah mimpi. Usaha dan hasil adalah dua sisi mata uang yang saling melekat dan melengkapi satu sama lain. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Dan di dunia ini banyak sisi-sisi semacam itu, dimana kedua sisi saling berlawanan namun tidak dapat dipisahkan.

Sabtu, 19 Mei 2012

Masyarakat Sensor

in censor we trust (punknroll.deviantart.com)
Beberapa pekan terakhir media elektronik sedang dihebohkan dengan beberapa pencekalan yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat di Indonesia. Menjadi semakin heboh ketika tinndakan pencekalan ini kemudian dikaitkan dengan hakikat kebebasan. Meskipun agak lucu, mengingat paham kebebasan dan demokrasi sendiri belum lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia setelah beberapa dekade berada di bawah pemerintahan yang bertangan besi.

Mulai dari Irshad Mandji hingga Lady Gaga sebenarnya merupakan pucuk dari fenomena yang terjadi sebenarnya di dalam masyarakat. Permaasalahan ini tidak akan selesai hanya dengan membubarkan satu atau dua ormas, tetapi lebih dari itu permasalahan ini sebenarnya berkaitan dengan nilai dan kebudayaan suatu masyarakat. Tulisan kali ini akan mencoba mengulas fenomena tersebut.

Tipikal Masyarakat Kolektif
Para ahli sepakat bahwa Indonesia merupakan contoh sebuah masyarakat yang lebih condong ke arah nilai-nilai kolektif daripada individualis. Meski demikian banyak orang yang kurang begitu paham mengenai apa sebenarnya masyarakat kolektif itu. Masyarakat kolektif memiliki sebuah sistem dan struktur masyarakat yang sangat berbeda dengan model individualis.

Di dalam masyarakat kolektif, individu dipandang sebagai bagian dari kelompok. Hal ini berbeda dengan tipikal masyarakat individualis yang lebih memandang individu sebagai sebuah entitas yang mandiri dan berdiri sendiri. Efeknya adalah bahwa setiap tindakan suatu individu dalam kelompok haruslah dilandasi pada kepentingan kelompok dan bukan kepentingan pribadi. Kewajiban individu kepada kelompok lebih ditekankan daripada hak-hak individu itu sendiri (baca: Masyarakat Daging Babi).

Selain itu masyarakat kolektif memiliki hierarki, lain halnya dengan masyarakat yang cenderung individualis dimana semua orang dipandang setara. Masyarakat kolektif memandang masyarakat sebagai sebuah kesatuan atau kelompok, maka dari itu perlu orang-orang khusus untuk mengatur kelompok tersebut. Orang-orang khusus ini merupakan orang-orang yang dianggap paling ahli dan bijaksana di dalam kelompok tersebut. Dalam prakteknya kita jumpai tokoh masyarakat, presiden, ulama, pendeta, dan sebagainya.

Orang-orang tersebut memiliki tugas menjaga kelompok dari setiap ancaman yang ada. Termasuk diantaranya adalah ancaman ideologis berupa nilai-nilai yang dianggap berseberangan dengan nilai-nilai kelompok tersebut. Dalam menjaga kelompok, orang-orang khusus tersebut memiliki beberapa hak istimewa terhadap masyarakat lain. Termasuk diantaranya adalah sensor dan pencekalan untuk mencegah masuknya ideologi-ideologi yang dianggap bertentangan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan sebuah cara untuk "melindungi" ideologi kelompok dari ideologi asing yang dianggap dapat mengancam. Maka disini dapat kita lihat bahwa pencekalan misalnya dilakukan oleh organisasi Islam, organisasi tersebut "merasa" memiliki hak untuk melakukan pencekalan dalam masyarakat karena karakteristiknya yang "lebih memahami" ideologi tertentu dibanding masyarakat awam. Maka sebenarnya fenomena ini adalah sebuah fenomena yang "sangat biasa" di dalam kebudayaan masyarakat kolektif.

Sudah Biasa
Sebenarnya bukan pertama kali ini pencekalan atau sensor dilakukan di Indonesia. Bahkan sebenarnya sejak awal Indonesia berdiri sensor dan pencekalan sudah sangat sering dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa berkewajiban untuk menjaga ideologi kelompok.

Pada masa Orde Lama misalnya kita temui bagaimana musik Koes Ploes yang diilhami dari band The Beatles sempat dicekal karena dianggap membawa nilai-nilai liberal Barat. Pada waktu itu Indonesia menganut paham sosialis-komunis yang kental sehingga berbagai macam bentuk "penyerangan" dari ideologi Barat dilawan oleh pemerintah.

Jika kita berpikir bahwa pencekalan dan sensor hanya dilakukan oleh masyarakat kolektif dengan ideologi sosialis-komunis maka itu salah besar. Ketika orde baru berkuasa dan kita lebih dekat dengan Barat pun pencekalan dan sensor tetap ada. Buku-buku komunis dan sosialis dibumihanguskan sebagai upaya "menjaga" ideologi bangsa yang saat itu mulai condong ke arah Barat. Bukti lain yang masih ada hingga saat ini adalah adanya aturan yang mewajibkan film asing berbahasa selain Inggris untuk didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Peraturan ini sebenarnya adalah upaya film AS (liberal) pada masa itu melawan serbuan film China (komunis) di Indonesia dan cara tersebut terbukti efektif.

Pergeseran Budaya
Melihat sejarah dan karakter budaya masyarakat Indonesia pada zaman dahulu, maka menimbulkan keherana tersendiri bagi saya. Di saat banyak orang heran tentang bagaimana sebuah kebebasan dibatasi, saya justru heran mengapa hal itu menjadi sebuah masalah besar. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi bagi saya sensor dan pencekalan telah lama menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Menjadi masalah adalah ketika nilai-nilai dalam masyarakat telah mulai bergesar. Di satu sisi kita harus mengakui kepandaian strategi AS dalam perang ideologi. Bagaimana mereka memilih untuk mengekspor film dibanding komoditi lainnya yang lebih berharga. Hal ini dilakukan agar ideologi dapat bergeser dari yang semula sangat kolektiv-sosialis beralih ke individualis-liberal.

Saat ini masyarakat Indonesia pun terpecah, di satu sisi sebagian masyarakat mulai menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan persamaan derajat. Presiden, ulama, dan para ahli mulai dianggap sama dengan masyarakat lainnya dalam berpendapat. Masyarakat merasa lebih tahu apa yang disebut "baik" bagi dirinya sendiri. Namun di sisi lain sebagian masyarakat masih menganut nilai-nilai kolektiv dan hierarki sosial. Dimana masyarakat sendiri masih belum mampu berdiri sendiri tanpa sokongan "para ahli". Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang dipahami pun belum sempurna. Meski masyarakat merasa dapat megatur dirinya tersendiri dan merasa lebih terdidik, namun kenyataan di lapangan bahkan banyak golongan terpelajar yang bertindak tidak terpelajar. Struktur masyarakat lama mulai rubuh tetapi belum ada konsensus mengenai struktur yang baru.

Menyikapi Lady Gaga misalnya, meski yang paling keras terdengar mengenai di jejaring sosial merupakan bentuk penyesalan tindakan FPI namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak masyarakat kita yang turut mendukung sikap tersebut. Pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang dari generasi tua misalnya setelah melihat seperti apa "wujud" dari Lady Gaga di televisi banyak yang kemudian justru merasa prihatin dan setuju terhadap tindakan FPI, MUI, PPP, dan sebagainya untuk menolak. Lain halnya dengan media jejaring sosial yang lebih banyak didominasi generasi muda yang sudah lebih "demokratis" dan hidup dengan nilai-nilai yang berbeda.

Maka disinilah toleransi akan budaya diuji. Sejauh mana masyarakat mampu memahami masyarakat lain yang hidup dengan nilai-nilai yang berbeda. Meski tentu itu bukan hal yang mudah karena bagi satu pihak menghormati adalah menuruti kehendak yang lain yang itu berlawanan dengan nilai-nilai kebebasan. Sementara di pihak lain menghormati diterjemahkan sebagai memberikan kebebasan bagis etiap orang yang itu berarti mengabaikan kebaikan kelompok.

Selasa, 24 April 2012

Makna Bekerja bagi Masyarakat Jawa di Daerah Kotagede

 Alhamdulillah selesai juga penelitian saya mengenai makna bekerja bagi masyarakat Jawa. Penelitian tersebut mengajarkan banyak hal kepada saya akan apa arti dari kehidupan dan kedudukan hakikat manusia. Sebuah bagian dari perjalanan hidup yang (semoga) tidak akan terlupa.
ABSTRAK  Penelitian sebelumya menunjukkan adanya perbedaan makna kerja pada budaya yang satu dengan yang lainnya. Padahal makna kerja memiliki pengaruh pada kepuasan kerja, komitmen organisasi, stress, motivasi, dan hasil kerja itu sendiri. Penelitian ini mencoba mencari tahu makna kerja dari masyarakat Jawa yang tinggal di daerah Kotagede. Metode: penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan melibatkan tiga orang subjek dari berbagai latar belakang pekerjaan yang tinggal di Kotagede. Data diambil menggunakan metode wawancara. Hasil: bekerja diartikan sebagai sebuah usaha untuk mendapatkan hasil (rezeki, nafkah, dsb) yang telah ditetapkan oleh Tuhan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Lebih dari itu bekerja juga dimaknai sebagai upaya mempertahankan eksistensi diri kepada Tuhan dan masyarakat.

Lebih lanjut silahkan klik disini untuk mengunduh ringkasan penelitian tersebut.

Senin, 26 Maret 2012

Bensin Naik Lagi

Bensin: Making the World Turn (officemr1980.deviantart.com)

Beberapa hari terakahir isu kenaikan BBM menjadi semakin panas. Berbagai aksi demonstrasi marak bermunculan di berbagai tempat. Bahkan beberapa pihak menuding adanya upaya makar. Di satu sisi TNI pun terpaksa keluar barak membackup POLRI dalam mengatasi demonstrasi yang jumlahnya semakin banyak. Ketidakpastian akan kebijakan itu sendiri dan berbagai macam spekulasi turut memperkeruh keadaan. Terlebih dengan adanya bumbu dari media massa dan partai oposisi yang sedang naik daun sehingga situasi politik menjadi  kian memanas. Namun entah mengapa Pak Presiden kita malah plesir ke negeri Komunis yang sedang mencoba menggenggam dunia.

Udah Pernah
Sebenarnya kenaikan BBM bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Beberapa kali kenaikan pernah terjadi namun tidak sepanas kali ini. Pada era Megawati masyarakat cukup maklum BBM dinaikkan karena situasi ekonomi sedang mengalami kesulitan. Sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri mengingat saat itu Indonesia sedang mengalami keterpurukan pasca krisis moneter 1998. Bukan itu saja, pada era SBY-JK harga BBM juga pernah naik. Hal itu dilatarbelakangi melambungnya harga minyak dunia. Maka saat itu masyarakat menjadi maklum dengan kenaikan tersebut.

Di sisi lain adalah bagusnya manajemen pengumuman kebijakan. Pada kenaikan-kenaikan sebelumnya pengumuman kebijakan tersebut langsung disampaikan secara gamblang dan tegas. Dilanjutkan dengan pelaksanaan yang dilakukan dalam waktu yang tidak berselang lama. Hal ini menyebabkan berbagai spekulasi dan penolakan tidak sempat tumbuh dan berkembang dengan liar. Sebuah ketegasan dari seorang pemimpin yang memberikan jaminan dalam bentuk kepastian masa depan, bukan keragu-raguan.

Memahami Oposisi
Mari kita kembali untuk memahami sebenarnya apa itu subsidi BBM. Subsidi BBM pada awalnya adalah selisih keuntungan hasil penjualan minyak Indonesia dengan pembelian minyak untuk konsumsi. Prinsip model seperti ini sebenarnya semi-sosialis dimana negara memberikan rakyatnya kemudahan dalam berbagai sektor termasuk BBM. Namun sayangnya selisih keuntungan tersebut semakin lama semakin menipis mengingat sumber daya alam minyak Indonesia yang juga semakin habis. Maka pada akhirnya subsidi tersebut justru membebani APBN karena harus diambilkan dari sektor penerimaan lain. (Lebih lanjut baca: Sedikit Mengenal Minyak Indonesia)

Namun dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sehat saat ini, pihak oposisi mempertanyakan alasan menaikkan harga BBM. Ketika APBN Indonesia sedang gemuk mengapa bisa muncul anggapan bahwa subsidi BBM membebani APBN? Jika anggaran yang direncanakan untuk subsidi kurang, mengapa tidak ditambah saja porsinya?

Selama ini BBM dianggap sebagai barang konsumsi saja. Padahal menurut pihak oposisi, BBM di satu sisi juga merupakan barang modal. Dengan adanya BBM murah maka perekonomian menjadi semakin maju dan berkembang. BBM murah juga memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Jadi mengapa tidak mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk subsidi BBM yang pada akhirnya akan dinikmati masyarakat banyak?

BBM sendiri juga telah menjadi salah satu barang pokok dalam kehidupan. Kenaikan harganya akan memiliki efek domino dan berpengaruh pada komoditi-komoditi lainnya. Inflasi akan meningkat, selain itu dikhawatirkan kenaikan harga ini akan memperburuk kondisi ekonomi dan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia.

Terlebih dengan adanya tuduhan kepentingan asing di balik pengurangan subsidi ini, maka isu kenaikan harga BBM ini menjadi semakin panas. Kenaikan harga BBM akan membuat selisih harga BBM pemerintah (yang dikelola pertamina) menjadi semakin tipis dengan BBM swasta (semisal Shell, Petronas, dsb) yang tentunya akan menguntungkan pihak swasta asing tersebut. Ditambah dengan adanya isu neoliberalisme yang bertujuan menghapus berbagai macam subsidi demi pasar bebas yang kurang memihak negara berkembang dan kurang sesuai dengan grand design negara Indonesia.

Sisi Lain
Di sisi lain anggaran subsidi BBM selama ini dianggap sebagai sebuah pemborosan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa BBM kebanyakan dinikmati kendaraan-kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum atau pegangkut barang. Terlebih dengan banyaknya pasaran kendaraan murah di Indonesia membuat konsumsi BBM menjadi semakin mengganas. Konsumsi BBM untuk kendaraan pribadi menunjukkan bahwa selama ini BBM lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah atas, yang notabene dianggap mampu secara ekonomi untuk membeli BBM tanpa subsidi.

Begitu juga dengan meningkatnya konsumsi BBM dan tidak diimbangi dengan produktivitas BBM Indonesia maka anggaran yang dibutuhkan semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya embargo Iran yang melambungkan harga minyak dunia sehingga beban APBN menjadi semakin besar. Anggaran sebesar itu dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, menjadi pertanyaan tersendiri apakah sudah tepat kebijaksanaan tersebut.

Maka dari itu sebagian ahli menyatakan bahwa alangkah lebih bermanfaatnya jika anggaran yang selama ini digunakan untuk membayar subsidi BBM dialihkan untuk hal-hal lain semisal pendidikan dan kesehatan. Hal inilah yang menguatkan dorongan untuk mengurangi anggaran yang dihabiskan pemerintah untuk mensubsidi harga BBM. Terlebih masyarakat kini mulai menyadari bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hal utama yang seharusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah.

Bijaksana
Perubahan memang kata-kata yang indah, namun bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan (baca: Perubahan #2). Perubahan selalu menimbulkan gejolak sosial, ibarat sebuah mangkuk berisi air yang dipindahkan (baca: Analogi Mangkuk). Terlepas dari prinsip mana yang anda pegang dalam menyikapi kenaikan BBM, maka ada hal-hal lain yang juga kita perlu cermati.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya kenyataan bahwa konsumsi BBM di Indonesia terlalu berlebiha. Terlebih karena kebanyakan BBM tersebut digunakan untuk kendaraan pribadi, dimana sebenarnya hal tersebut dapat ditekan. Misalnya saja dahulu ketika BBM mencapai angka enam ribu per liter, orang menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan BBM. Aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dihindari. Semisal sekedar membeli makanan dalam jarak dekat maka lebih disarankan untuk berjalan kaki atau bersepada.

Namu tidak saat ini. Jarak yang sangat dekat pun terkadang ditempuh dengan kendaraan bermotor karena kita terlalu malas. Pergi sendirian lebih memilih menggunakan mobil padahal sudah tentu mobil jauh lebih boros daripada BBM. Kita terlalu malas, dan kita terlalu manja. Kita menggunakan BBM dengan borosnya tanpa berpikir bahwa uang yang kita hamburkan dapat kita gunakan untuk kepentingan lain.

Maka dimana para aktivis lingkungan dadakan yang menyuarakan keselamatan lingkungan? Entah kenapa saya menjadi berpikir mungkin ada baiknya jika BBM dinaikkan. Sama seperti halnya terkadang kita harus mendapatkan sakit agar dapat bersyukur terhadap kesehatan yang kita dapatkan selama ini. Bijaksanalah. Bukan impian muluk untuk menyingkirkan kendaraan bermotor, tetapi hematlah semampu kita.

Minggu, 25 Maret 2012

Analogi Mangkuk

Apa yang terjadi jika sebuah mangkuk berisi air dipindahkan? Jawabannya adalah bergoyang. Seberapapun tenang air tersebut pada akhirnya ketika kita memindahkan mangkuk tersebut air di dalamnya akan bergoyang kesana kemari.

Itu lah perubahan. Perubahan selalu mengganggu ketenangan yang telah tercipta selama ini. Harmoni yang menentramkan jiwa manusia. Itu juga yang membuat masyarakat Jawa tidak terlalu suka dengan perubahan.

Namun kini orang berkata perubahan itu pasti. Lalu bagaimana seharusnya perubahan itu terjadi? Ibarat memindahkan mangkuk berisi air agar tidak tumpah, ada dua cara yang perlu dilakukan. Pertama adalah perbesar mangkuknya agar mampu menghadapai perubahan. Kedua pindahkan secara perlahan, jangan sampai mengganggu ketenangan yang ada.

Bagaimanapun juga kita tidak pernah ingin menjadi orang yang tumpah sebagai tumbal dari perubahan, pun orang lain juga serupa. Maka bijaksanalah dalam merancang perubahan.

kubes.net


*) analogi ini saya pelajari dari seorang teman yang mengajarkan kebijaksanaan kepada saya tentang apa arti perubahan