Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemikiran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2014

Capres dan Islam

Kalau saya boleh berpendapat, maka pemilu kali ini adalah pemilu yang paling menyedihkan. Bukan karena kualitas demokrasi, banyaknya kecurangan, atau alasan lainnya, hanya saja pada pemilu presiden kali ini sangat banyak black campaign maupun negative campaign yang ditujukan menyerang salah satu pasangan atau pasangan lainnya. Salah satunya yang membuat saya miris adalah terkait dengan isu agama.

Terlebih lagi, seringkali pihak yang menyebarkan negative campaign maupun black campaign berasal dari kalangan aktivis Islam garis keras dengan mengangkat isu-isu dan tema-tema yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Bermodalkan informasi yang tidak jelas dan cenderung berat sebelah tersebut, kemudian muncul opini-opini yang menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan agama. Bahkan seringkali opini-opini tersebut masuk ke tataran akidah dan seolah agama tertentu mewajibkan capres tertentu. Padahal stahu saya hingga saat ini tidak ada satu pun ayat al-quran ataupun hadis yang mengarahkan umat islam untuk memilih Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK.

(Sumber: lensaindonesia.com)

Yang justru ditekankan dalam hadis adalah bagaimana kita yang mengaku sebagai umat Islam dilarang untuk menjelekkan/merendahkan orang lain dengan berit yang memang benar adanya (negative campaign/ghibah) maupun berita palsu (black campaign/fitnah). Misalnya sesuai dengan surat Al-Hujurat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (49:12)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk menjauhi prasangka dan mencari-cari kejelekan orang lain. Allah SWT menyamakan orang-orang yang melakukan negative campaign maupun black campaign sebagai seorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri (sebuah perilaku yang menjijikkan).

Maka sangat tidak antas kepada kita atau siapapun yang mengaku sebagai orang Islam, melakukan negative campaign maupun black campaign dengan alasan apapun. terlebih lagi jika tindakannya tersebut diklaim atas nama perintah agama Islam sementara di sisi lain Islam sendiri melalui Al-Quran telah menyatakan secara jelas bahwa tindakan tersebut sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Islam dan Politik

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dimana mayoritas penduduknya tercatat beragama Islam, memiliki sejarah politik yang cukup panjang. Dalam hal ini kekuatan Islam yang menjadi mayoritas di negara ini berkali-kali pula diseret ke dalam kepentingan politik. Baik dari sebelum masa kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan. Imam Bonjol misalnya, melakukan perlawanan kepada Belanda dengan mengatasnamakan Islam.

Setelah masa kemerdekaan, berbagai kekuatan Islam pun unjuk gigi dalam perpolitikan Indonesia baik secara halus maupun secara kasar. Munculnya DI/TII dan NII misalnya, merupakan salah satu bentuk kemunculan kekuatan Islam dalam bentuk yang kurang halus. Secara internal pun kekuatan politik Islam cuku terlihat dari munculnya partai-partai Islam seperti Masyumi dan sebagainya.

Pada awal masa orde baru, kekuatan Islam dianggap sebagai salah satu tonggak untuk menyingkirkan faham komunis secara terang-terangan (melalui partai Komunis Indonesia). Komunis seringkali diseberangkan dengan faham Islam sehingga kekuatan Islam mau digerakkan oleh pemerintah saat itu untuk menyingkirkan komunis. Padahal belakangan mulai muncul kesadaran bahwa komunis dan Islam bukanlah faham yang bertentangan, banyak tokoh dalam partai Komunis Indonesia yang pada saat bersamaan merupakan tokoh masyarakat Islam. Itu semua hanya permainan politik saat itu untuk mendapatkan dukungan masyarakat muslim.

Pada masa orde baru pula sistem perpolitikan Indonesia dibuat lebih sederhana. Kubu muslinm disatukan ke dalam partai Persatuan Pembangunan. Meski pada kenyataannya banyak kekuatan Islam yang juga masuk ke dalam Golkar maupun Partai Demokrasi Indonesia. HMI maupun ICMI misalnya, pergerakan mereka untuk mendominasi kepengurusan Golkar terbilang cukup berhasil.

Kekuatan Islam seringkali hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan politik tertentu. Sangat jarang terlihat para politisi maupun partai politik (bahkan yang mengatasnamakan Islam) tampak untuk membela kepentingan umat. Yang ada justru Islam dijadikan kedok untuk meraih kepentingan probadi mereka. Mari kita tengok daftar politisi yang juga merupakan tokoh muslim justru terlibat dalam berbagai tindak korupsi.

Kalau saya boleh berpendapat, justru para koruptor-lah yang lebih pantas dibilang sebagai orang kafir. Koruptor adalah para pencuri, dan mencuri dilarang didalam Islam sesuai ayat berikut:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksa dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (5:38-39)
Pada saat yang bersamaan, para koruptor menunjukkan ciri sebagai orang munafik seperti dalam hadis berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"
Maka dalam hal ini, para koruptor adalah terdakwa dengan pasal berlapis. bagi saya para koruptor tersebut sudah tidak lagi pantas disebut sebagai orang Islam, tidak peduli apakah mereka kader dari partai Islam maupun tokoh Islam darimanapun. Mereka adalah orang yang mengaku sebagai orang Islam, namun mereka menginjak-injak aturan Allah SWT secara terang-terangan. 

Islamkah Kedua Kubu?

Jika kita menilik latar belakang politik kedua calon presiden, maka sesungguhnya keduanya tidak memiliki keterkaitan erat dengan kubu umat Islam. Prabowo besar dari latar belakang militer yang kemudian berkiprah dalam Golkar dan belakangan mendirikan Gerindra. Gerindra sendiri merupakan partai berhaluan sosialis yang seringkali berseberangan dengan kepentingan Islam. Sama halnya dengan PDI Perjuangan yang juga berhauluan sosialis. Terlebih lagi pada saat orde baru dimana sistem kepartaian disederhanakan menjadi tiga partai, PDI merupakan rumah bagi masyarakat non-muslim. Maka dari segi kepartaian keduanya sama-sama tidak memiliki latar belakang dukungan partai Islam.

Lain halnya dengan kedua calon wakil presiden. Hatta Rajasa berasal dari partai Amanat nasional, partai yang seringkali dianggap sebagai representatif dari umat muslim Muhammadiyah. Sedangkan Jusuf Kalla merupakan mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam, sebuah pergerakan islam d kalangan mahasiswa yang belakangan berhasil menguasai dominasi dalam tubuh partai Golkar. Keduanya memiliki latar belakang kepentingan politik Islam, meskipun saya berpendpat kedua organisasi tersebut pun tidak sepenuhnya menunjukkan nilai-nilai ke-Islam-an. Maka dalam hal ini kedua pasangan memiliki nilai yang sama.

Dari segi pendukung pun sama halnya, keduanya memiliki basis dukungan partai dan tokoh Islam. Di kubu Prabowo Hatta mereka memiliki dukungan dari partai-partai Islam semisal PPP, PKS, PAN, dsb. Sedangkan di kubu Jokowi JK mereka didukung oleh PKB. Meskipun belakangan kondisi akhir-akhir ini menunjukkan kedua kubu membawa gerbong kosong, artinya massa dari partai-partai tersebut akhirnya terpecah dan membela kedua kubu sesuai kehendak mereka. Sedangkan untuk tokoh Islam di luar sistem kepartaian dari kubu Prabowo Hatta muncul nama-nama seperti Said Aqil Sirodj dan Arifin Ilham. Sedangkan di kubu Jokowi JK muncul nama-nama seperti Hazim Musyadi dan Syafi'i Ma'arif. Dari segi ini, kubu Prabowo Hatta tampak memiliki dukungan lebih banyak tokoh Islam, meskipun jika kita melihat secara keseluruhan dukungan tokoh masyarakat ke Prabowo Hatta lebih banyak daripada ke Jokowi JK.

Meski demikian, fakta tersebut menunjukkan bahwa kedua pasangan sama-sama tidak memiliki track record keberpihakan kepada politik Islam dan keduanya juga sama-sama didukung oleh tokoh Islam. Maka dari itu, adanya tuduhan berupa black campaign dan negatif campaign untuk menjatuhkan keduanya dalam bentuk isu agama menurut saya sangatlah tidak beralasan. terlebih jika tuduhan tersebut justru disuarakan oleh kalangan aktivis Islam. Ibarat kata ketika Tuhan berfirman untuk tidak makan babi, kita kemudian justru memakan babi untuk berbuka puasa.

Pada akhirnya kedua pasangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keduanya adalah putra terbaik bangsa. Kembali kepada kita untuk menentukan siapa yang akan kita pilih. Kita cukup memilih salah satu tanpa harus merendahkan pihak lain yang berbeda. Karena keduanya sama-sama baik.

Jumat, 02 Mei 2014

Terus Belajar dan Berkembang

Dua Mei, sebuah hari dimana orang biasa mengenalnya sebagai hari pendidikan nasional. Namun entah kenapa saya kurang setuju dengan istilah "pendidikan". Istilah itu seolah menempatkan manusia hanya sebagai objek dari sebuah sistem yang output-nya ditentukan oleh sistem, bukan oleh manusia. Pendidikan menempatkan manusia sebagai objek yang artinya manusia sebagai elemen utama dalam pendidikan justru bersifat pasif. Padahal manusia harusnya bersifat aktif dalam proses tersebut.

Orang berkata bahwa pendidikan adalah bentuk perlawanan dari tindakan penjajahan. Meski demikian, toh banyak orang berhasil melawan penjajahan tanpa mengenyam pendidikan. Tapi bukan berarti dia bodoh, mereka belajar. Tanpa pendidikan mereka dapat berkembang sendiri karena tekad dan kemauannya yang terwujudkan dalam aktivitas belajar mereka.

Maka belajar adalah sebuah proses aktif dan pendidikan adalah sebuah proses pasif. Lalu apakah salah pendidikan ketika seorang manusia memilih untuk tetap bodoh meskipun telah diberikan kesempatan berkali-kali untuk menikmati pendidikan? Lalu dimana harkat dan martabat seorang manusia yang memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang dikehendakinya?

Adalah lebih baik ketika ini semua tidak lagi berbicara tentang pendidikan, tetapi berbicara tentang kemauan untuk belajar. Sebuah usaha untuk lepas dari penjajahan, bukan sebuah treatment yang membuat kita lepas dari penjajahan. Maka kini saatnya kembali pada diri kita sendiri, sejauh mana usaha kita untuk belajar.

Belajar adalah suatu hal yang mudah, terlebih pada era keterbukaan dimana informasi dan pengetahuan mudah didapat. Maka bukan lagi salah Tuhan ketika ada orang yang tetap menjadi bodoh, tetapi salah orang itu sendiri yang memilih untuk tetap bodoh dan tidak mau berusaha untuk lepas dari kebodohan. Belajar adalah sebuah proses aktif yang harus didorong dari dalam pribadi, bukan dipaksakan.

Belajar adalah proses memasukan suatu pengetahuan ke dalam diri. Ada dua hal penting dari proses tersebut. Pertama, kemauan untuk membuka dan menerima sesuatu dari luar ke dalam diri. Tanpa adanya kemauan untuk membuka, sebesar apapun usaha untuk memasukkan pengetahuan akan percuma. Kedua adalah kemauan untuk menarik pengetahuan dari luar. Proses ini yang menunjukkan apakah seseorang bersifat pasif maupun aktif.

Pembelajar aktif akan berusaha sebanyak mungkin menarik pengetahuan dari luar untuk dimasukkan ke dalam diri. Sedangkan pembelajar pasif hanya tergantung dari sejauh mana sistem pendidikan berusaha memasukkan pengetahuan ke dalam diri. Itulah yang membedakan antara manusia (yang seharusnya aktif) dengan objek benda mati yang hanya dapat diberikan perlakuan tanpa menolak.

Bagi kita yang mengaku sebagai manusia, maka bukan lagi saatnya kita berbicara tentang pendidikan. Saatnya kita berbicara tentang belajar dan berkembang. Ada lebih dari seribu cara untuk belajar dan berkembang. Tergantung kepada diri kita untuk memilih dan melaksanakan apa yang kita inginkan.

Seorang manusia tentu berbeda dengan seekor burung yang kehidupannya dari generasi ke generasi tanpa progres. Seorang ahli bukanlah seseorang yang mampu mengerjakan apa yang biasa dikerjakan, tetapi juga apa yang biasa dikerjakan orang lain. Dunia terus berkembang,  dan berdiam diri adalah cara terbaik untuk mati perlahan. Jangan merasa bangga dengan apa yang kita capai selama ini.

Teruslah belajar, teruslah berkembang.

Minggu, 21 April 2013

Belajar Membangun Sistem Pendidikan dari Kapitalis

Beberapa saat yang lalu Indonesia digemparkan dengan salah satu isu nasional di bidang pendidikan. Ujian nasional yang merupakan salah satu agenda tahunan yang menyangkut hajad hidup banyak orang, mengalami kesemrawutan dalam pelaksanaannya. Kesemrawutan ini terutama pada saat distribusi soal ujian yang mengalami keterlambatan hingga menyebabkan pengunduran jadwal ujian di sebelas provinsi di Indonesia Tengah.

Kesemrawutan pelaksanaan tersebut dijadikan alasan bagi sebagian pihak untuk dijadikan pembenaran sebagai penghapusan agenda serupa di tahun berikutnya. Meski demikian alasan tersebut tidaklah sepenuhnya benar, karena secara logika apabila terjadi permasalahan dalam pelaksanaan maka solusinya adalah dengan memperbaiki sistem pelaksanaan ke depannya, bukan justru menghapuskan keseluruhannya.

Ujian Nasional (ready2errupt.deviantart.com)

Bagi saya pribadi UN sebenarnya adalah manifestasi nyata dari rasa ketidakpercayaan institusi pendidikan di pusat terhadap pelaksanaan pendidikan di unit-unitnya baik di tingkat daerah maupun sekolah. Rasa ketidakpercayaan tersebut kemudian melahirkan sebuah sistem untuk menguji keberhasilan pendidikan yang dilakukan unit-unitnya melalui ujian terstandar yang langsung dari pusat.

Hal itu menunjukkan adanya kerusakan dalam sistem pendidikan kita karena tidak mampunya tiap-tiap unit untuk menerjemahkan visi dari institusi pendidikan di pusat. Oleh karena itu untuk kondisi saat ini saya percaya bahwa UN sangat membantu dalam melaksanakan kontrol terhadap pendidikan kita. Meski untuk jangka panjang sistem ini mungkin perlu ditiadakan lagi. Hanya saja ketika seluruh unit-unit pendidikan corrupt dimana dapat kita lihat siswa saling mencontek, guru tidak peduli atau bahkan membocorkan soal ujian, dan permasalahan sosial yang dilakukan pelajar begitu beragam, mungkin UN merupakan solusi jangka pendek yang sangat tepat.

Pembangunan Pendidikan
Semua orang tentu setuju bahwa pendidikan adalah kunci bagi sebuah bangsa untuk dapat maju berkembang. Terlepas perasaaan setuju tersebut karena memang dipahami sepenuhnya atau hanya pembenaran untuk menuntut pendidikan gratis dari pemerintah. Meski demikian hal tersebut telah menjadi common sense bagi masyarakat pada umumnya.

Pemerintah Indonesia pun telah menunjukkan komitmennya selama beberapa tahun terakhir dengan menghabiskan 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Menjadi pertanyaan tersendiri adalah apakah 20% dari APBN tersebut telah digunakan secara tepat guna dalam menunjang pencapaian visi pemerintah?

"Kualitas, kualitas, dan kualitas. Jangan hanya ditandai mana yang sudah dikerjakan tetapi bagaimana kualitas dari pekerjaan itu sendiri" (C.A. Rahmat)

Pendidikan dan Fasilitas
Apa yang menjadi faktor utama penunjang keberhasilan? Sebagian orang mengatakan bahwa fasilitas adalah kuncinya. Para penganut pemahaman ini percaya dengan menciptakan sekolah dengan fasilitasnya semewah mungkin akan meningkatkan motivasi belajar ara siswa. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa cara paling tepat menyalrkan 20% dari APBN adalah melalui pemberian fasilitas-fasilitas bagi sekolah di Indonesia.

Pendapat itu mungkin benar, namun tidak sepenuhnya tepat bagi saya. Di kota besar misalnya dimana sekolah telah memiliki fasilitas yang memadai justru malah sering kita jumpai permasalahan sosial menyangkut pelajar. Meski telah ditunjang fasilitas memadai, toh pada kenyataannya banyak siswa yang masih mencontek, membolos, tawuran, dan sebagainya.

Lain lagi jika kita berkaca ke India. Sebagai salah satu raksasa dunia, kita tentu paham bahwa pembangunan di India ditunjang oleh sumber daya manusianya. Menjadi paradoks adalah ketika kita mengetahui bahwa fasilitas pendidikan di India jauh lebih tidak nyaman dibandingkan fasilitas pendidikan di Indonesia. Namun kenyataan 

Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa pada ahirnya fasilitas dan peningkatan kualitas pendidikan tidak selalu berbanding lurus. Saya pribadi setuju bahwa fasilitas itu penting, namun hal itu hanya menunjang sampai pada tahap tertentu. Pun fasilitas yang saya anggap menunjang disini adalah buku, perpustakaan, akses terhadap informasi, dan sebagainya alih-alih pendingin ruangan, ruangan yang indah, dan sebagainya.

Fasilitas sendiri hanya akan menunjang pembangunan pendidikan apabila terdapat keinginan yang kuat dari internal pendidik dan yang dididik untuk belajar. Tanpa adanya keinginan tersebut, fasilitas hanya akan menjadi tumpukan sampah yang teronggok begitu saja.

Sumber Daya Pengajar
Hal lain yang dianggap tidak kalah penting terkait pembangunan pendidikan adalah sumber daya dari tenaga pendidik itu sendiri. Untuk pendapat ini saya setuju seratus persen. Bagi saya tenaga pendidik adalah kunci utama yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan di Indonesia.

Salah satu program yang saya anggap luar biasa adalah Indonesia Mengajar. Program ini berhasil menyediakan guru-guru muda yang berkualitas meski hanya untuk jangka pendek. Dengan memanfaatkan semagat iddealisme para pemuda dan paket kompensasi yang cukup menarik, program ini dapat berjalan dengan sangat baik. Meski kita tentu pahami bahwa program ini lebih sekedar sebagai "bantuan" dan sangat sulit untuk diaplikasikan dalam keseluruhan sistem pendidikan di Indonesia.

Bagi saya, ada tiga kunci penting dalam meningkatkan sumber daya pengajar di Indonesia yaitu: paket kompensasi, seleksi, sistem monitoring/ controlling dan pengembangan SDM. Kunci tersebut sebenarnya tidak hanya sebatas dalam dunia pendidikan, tetapi juga di dalam organisasi secara umumnya. Hal ini juga sudah jamak diterapkan di dalam perusahaan-perusahaan maju dalam mengelola SDM mereka.

Paket Kompensasi
Paket kompensasi menjadi hal pertama yang menunjang keberhasilan dalam pembangunan sumber daya manusia. Fungsi utama dari paket kompensasi bukanlah untuk meningkatkan semangat dan motivasi, tetapi hanya sebagai "umpan" untuk menarik sumber daya-sumber daya yang kualitas untuk bergabung ke dalam sistem.

Oleh karena itu pemerintah perlu menempatkan paket remunerasi para pendidik ke dalam persentil (menurut saya) setidaknya berada di kisaran 50-65% dari keseluruhan populasi. Sehingga posisi pendidik di pasar tenaga kerja menjadi cukup menarik yang dampaknya -seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya- mampu menarik sumber daya yang berkualitas untuk bergabung ke dalam sistem. Intinya adalah bagaimana mungkin kita berharap memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas jika tidak ada yang mendaftar? Disana lah fungsi dari paket remunerasi.

Pemerintah saat ini telah mencoba membangun bagian ini dengan memberikan berbagai tunjangan kepada para tenaga pendidik yang jumlahnya tidak sedikit. Meski demikian seringkali pemberian tunjangan tersebut disalahartikan untuk mendongkrak kualitas itu sendiri. Padahal paket remunerasi sebenarnya hanyalah sebagai pancingan pertama, masih banyak hal ain yang perlu dibangun.

Sistem Seleksi
Setelah adanya paket remunerasi sebagai pancingan, maka bagian kedua yang perlu diperbaiki adalah sistem seleksi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sumber daya yang terbaik diantara yang ada. Jika paket kompetensi sebagai umpan, maka proses seleksi bertugas untuk memastikan bahwa kandidat yang terjaring adalah yang terbaik dan paling sesuai dengan kebutuhan.

Terbaik dalam kapasitas ini bukan diartikan sebagai yang terpandai, melainkan yang paling cocok untuk menjadi pendidik. Orang-orang yang memang memiliki passion dalam dunia pendidikan. Orang-orang yang memahami dan mengerti tentang dunia pendidikan dan memiliki visi terhadapnya. Orang-orang yang memiliki kapabilitas untuk dapat memfasilitasi orang lain dalam belajar. Orang-orang yang dapat dijadikan panutan sekaligus teman bagi anak-anak didiknya. Orang-orang yang mau bekerja 130% dari yang seharusnya.

"Bekerja itu harus 130%. Yang 100% adalah kewajiban dari gaji yang kita terima, yang 30% merupakan bentuk rasaterima kasih, rasa syukur, dan pemberian (pengabdian) kita terhadap organisasi" (L. Haryanto)

Harapannya adalah bagaimana tenaga pendidik kita nantinya diisi oleh orang-orang berkualitas dan sesuai dengan bidangnya. Bukan orang-orang yang hanya ingin bersantai dan memperoleh uang semata. Dengan sistem seleksi yang tepat, kita dapat memperoeh calon-calon pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Bukan orang-orang yang menjadikan istlah tersebut sebagai justifikasi atas penderitaan hidupnya.

Monitoring & Controlling
Setelah memastikan kita memperoleh sumber daya yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa sumber daya yang ada berjalan ke arah yang seharusnya. Disinilah perlunya sebuah sistem monitoring dan controlling terhadap kinerja para pendidik kita.

Jika setiap anak didik mendapatkan hasil evaluasi atas hasil pencapaian pendidikan mereka secara berkala, mengapa para pendidik justru tidak mendapatkan evaluasi serupa atas kinerja mereka? Pemerintah perlu menciptakan sebuah sistem evaluasi kinerja untuk mengetahui sejauh mana para pendidik mereka berhasil membangun apa yang seharusnya mereka bangun.

Sebenarnya hal tersebut bukanlah tidak mungkin. Misalnya saja saat ini kita sering menyelenggarakan evaluasi pendidikan secara kolektif dalam tingkat provinsi atau kota. Dengan analogi bahwa keberhasilan peserta didik adalah berkat kinerja dari para pendidik, maka hasil dari evaluasi belajar tersebut seharusnya juga dapat digunakan untuk menentukan pendidik mana yang berhasil mengembangkan peserta didiknya dengan baik dan mana yang tidak berhasil.

Para pendidik perlu dibuatkan key performance indicator atas setiap tugas-tugas mereka. Hal ini untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan monitoring dan controlling terhadap kinerja para pendidik mereka. Untuk memastikan bahwa sistem pendidikan kita berjalan searah untuk mencapai visi yang sama.

Pengembangan Sumber Daya Pendidik
Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengembangkan tenaga pendidik kita sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh sistem pendidikan kita saat ini. Apalagi dalam saat seperti sekarang ini, maka cara terbaik memperbaiki sistem pendidikan kita adalah melalui pengembangan sumber daya tenaga didik itu sendiri.

Pengembangan tersebut tidak harus selalu melalui pelatihan-pelatihan, terlebih pelatihan formal yang cenderung hanya basa-basi tanpa memberikan keahlian atau solusi praktis tertentu. Pelatihan-pelatihan perlu didesain dengan sistem praktek dan studi kasus yang menarik sehingga aplicable dalam pekerjaan sehari-hari para pendidik kita. Misalnya saja pelatihan dalam berbicara di depan publik, pelatihan dalam menyusun materi pelajaran, pelatihan penggunaan sarana/ fasilitas dalam menunjang pengajaran, dan sebagainya.

Connected Capitalism
Neville Isdel, mantan CEO Coca-Cola Company pernah mengungkapkan sebuah istilah yang disebut connected capitalism. Isdel menyoroti bagaimana lembaga-lembaga sosial seringkali gagal membangun masyarakat karena alih-alih mengembangkan masyarakat, untuk mempertahankan organisasinya agar dapat terus beroperasi pun mereka gagal.

Di sisi lain Isdel mencontohkan bagaimana banyak perusahaan justru berhasil membangun masyarakat. Selain dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan ekonomi masyarakat, banyak perusahaan berhasil berkontribusi kepada masyarakat daripada lembaga-lembaga sosial nirlaba lainnya. Dengan sumber daya perusahaan dan sistem yang luar biasa, perusahaan mempu mengembangkan masyarakat dengan cara mereka.

Oleh karena itu Isdel percaya bahwa dengan adanya kapitalis-kapitalis yang terhubung dengan baik dan tersistem, pengembangan masyarakat justru akan mengalami perkembangan pesat dibandingkan sistem tradisional lembaga-lembaga nirlaba saat ini.

Saya antara setuju dan tidak setuju dengan teori tentang connected capitalism tersebut, di satu sisi bukti-bukti yang diberikan Isdel adalah benar. Namun saya percaya bahwa kebenaran tersebut bukan karena kapitalisme melainkan sistem dan sumber daya yang dimiliki para kapitalis itu sendiri. Pertanyaan terbesar bagi saya adalah mengapa lembaga-lembaga sosial dan pemerintahan tidak dapat memiliki sebuah sistem dan sumber daya sebaik perusahaan-perusahaan kapitalis tersebut?

Orang seringkali anti dengan sistem kapitalis dan menutup mata akan keunggulannya. Hal ini juga yang sering menjadi justifikasi bagi lembaga-lembaga sosial dan pemerintahan untuk tidak mau belajar terhadap sistem-sistem kapitalis semacam ini.

Padahal bagi saya kebaikan itu bersifat universal. Sosialisme atau Kapitalisme hanyalah sebuah versi, mana yang lebih baik itu adalah suatu hal yang dapat diperdebatkan. Namun yang terpenting adalah mana dari sistem tersebut yang dapat kita adopsi untuk membangun kebaikan, itu yang terpenting

Uraian saya sebelumnya tentang bagaimana sistem pendidikan yang seharusnya di atas sebenarnya adalah sebuah bentuk adopsi sistem kapitalisme yang biasa dijalankan oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia. Pertanyaan bagi saya mengapa tidak mencoba untuk menerapkan sistem yang sama ke dalam organisasi-organisasi lain di luar perusahaan.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa trend pemimpin politik saat ini pun mulai ke arah pemimpin-pemimpin profesional dengan latar belakang enterprenur. Beberapa lembaga pemerintahan daerah maupunpusat juga mencoba mengadopsi sistem-sistem serupa ke dalam bisnis mereka untuk meningkatkan proesionalitas mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Apapun itu, asal baik tentu saja perlu kita pelajari dan kita adopsi untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik lagi. Jangan terlalu defense terhadap perubahan, karena perubahan itu sendiri mutlak keberadaannya. Karena kita sebagai manusia memiliki kewajiban untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati (melakukan perbaikan) supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (103:1-3)

Sabtu, 10 November 2012

Efektivitas dan Efisensi

Efektivitas dan efiensi organisasi telah menjadi salah satu isu utama dalam pengembangan organisasi. Kedua hal ini terbukti sebagai salah satu cara terbaik untuk mengembangkan sebuah organisasi. Berbeda dengan angapan kuno dimana hasil selalu diidentikkan dengan penambahan sumberdaya dan tenaga di dalam perusahaan.

Jepang merupakan negara yang menjadi contoh terdepan dalam penerapan prinsip ini. Sejarah mencatat bahwa Eropa dan Amerika menjadi penemu benda-benda hebat seperti radio, mobil, dan sebagainya. Namun Jepang yang menyusul di belakang kini justru menjadi raja dalam hal-hal tersebut. Eropa dan Amerika boleh bangga dengan mengatakan bahwa mereka yang menciptakan produk tersebut, akan tetapi Jepang lah yang membuat inovasi dan pada akhirnya menunjukkan bahwa produk mereka lah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Melalui kedua prinsip tersebut, Jepang berhasil menunjukkan bahwa masyarakat lebih tertarik dengan produk-produk yang lebih efektif dan efisien dibanding kuantitas dan kualitas yang berlebihan. Mobil misalnya, lain halnya produk-produk Eropa dan Amerika yang seringkali memiliki tenaga besar dan boros energi, produk-produk Jepang justru lebih efisien dan efektif. Ibaratnya untuk apa memiliki mobil 4WD jika hanya digunakan untuk perjalanan di dalam kota yang datar?

Efficiency (1n73rl0p3r.devientart.com)

Trend ini pada akhirnya mengarahkan organisasi untuk seramping mungkin namun menunjukkan kualitas yang luar biasa. Bagi sebagian orang hal ini cukup aneh, bagaimana mungkin ketika faktor-faktor prduksi dikurangi namun hasil produksi justru terus meningkat. Disinilah organisasi ditantang untuk dapat seefektif dan sefisien mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Salah satunya dalam hal human capital yang dimiliki oleh organisasi.

Menurut saya, setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan human capital di dalam organisasi. Yang pertama adalah peningkatkan kualitas human capital, pembangunan sistem, dan pemanfaatan teknologi. Ketiga langkah ini bagi saya merupakan cara terbaik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan human capital dalam suatu organisasi.

Kualitas Human Capital
Peningkatan kualitas human capital menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi dalam menjalankan bisnisnya. Seringkali kita terjebak dalam paradigma semakin tinggi kuantitas maka semakin meningkat pula produktivitas organisasi.  Paradigma semacam ini hanya melihat human capital sebagai angka-angka penjumlahan dan gagal dalam melihat human capital sebagai manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa pada akhirnya ada sebuah titik dimana penambahan sumber daya justru memberikan korelasi yang negatif terhadap produktivitas organisasi. Bayangkan saja sebuah organisasi dimana memiliki banyak anggota akan tetapi tugasnya tidak terlalu banyak, maka pada akhirnya yang terjadi adalah sebagian anggota justru menjadi benalu dan mengganggu produktivitas anggota lainnya.

Pada akhirnya mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa tidak semua orang itu sama. Beberapa orang memang memiliki kemampuan yang lebih dibanding yang lain. Poin utama dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi adalah melalui rekruitmen. Dengan merekrut orang-orang yang memiliki kualitas-kualitas terbaik, maka meski dengan jumlah yang sedikit namun produktivitas organisasi tetap akan tetap berkembang.

Misalnya saja pekerjaan dari dua orang yang biasa saja bisa dikerjakan oleh satu orang dengan kualitas unggul. Apabila kita merekrut tenaga-tenaga unggul dalam organisasi kita tentu biaya yang harus dikeluarkan relatif lebih sedikit daripada merekrut dua orang dengan kualitas sedang atau biasa akan tetapi tetap mendapatkan hasil yang baik.

Selain rekruitmen, organisasi juga memiliki tanggung jawab dalam pengembangan human capital yang dimiliki. Organisasi harus dapat meningkatkan kemampuan human capital  yang dimilikinya agar pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efisien dalam pengerjaannya.

Pembangunan Sistem
Terkadang beban kerja yang kita alami sebagian besar terjadi karena tidak adanya manajemen kerja yang baik. Sistem dan pembagian kerja yang serabutan serta asal pada akhirnya akan justru akan menambah pekerjaan itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya sistem yang baik dalam setiap tugas yang dilaksanakan.

Saya berikan sebuah ilustrasi:
Sebuah kantin mengalami permasalahan yang cukup rumit. Jumlah pengunjung kantin secara perlahan tapi pasti terus meningkat. Efeknya adalah jumlah meja yang tersedia dirasa kurang karena setelah digunakan meja tersebut harus dibersihkan dan disingkirkan terlebih dahulu piring-piring kotor dari pengguna sebelumnya sebelum dapat digunakan kembali oleh pengguna berikutnya.
Dalam kasus tersebut, logika sederhana untuk memecahkan kasus tersebut adalah dengan menambah jumlah pelayan untuk mengambili piring-piring kotor dan membersihkan meja yang telah digunakan. Hal itu berarti menambah human capital yang dimiliki organisasi dan juga menambah biaya.

Namun permasalahan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan sebuah solusi tanpa harus menambah human capital yang berarti juga menambah biaya. Solusinya adalah sediakan sebuah meja tempat piring kotor sehinga para pengunjung kantin yang telah selesai menggunakan piringnya bisa meletakkannya disitu. Dengan sistem ini pengelola kantin tidak perlu menambah human capitalnya tetapi mengajak para pengunjung untuk ikut bertanggung jawab dalam kebersihan kantin. Sistem ini selain meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan kantin, juga efektif dalam meningkatkan rasa tanggung jawab para pengunjung terhadap isu kebersihan.

Tanpa adanya sistem yang baik, bukan tidak mungkin kesalahan yang sama juga akan terus menerus dialami dan organisasi masih saja bingung bagaimana menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya organisasi akan terlalu sibuk mengurusi hal-hal operasional rutin dan gagal melakukan perbaikan atau improvement. Human Capital yang dimiliki tersita oleh permasalahan-permasalahan rutin yang sudah sering terjadi dan sebenarnya telah diketahui pola pemecahannya.

Misalnya saja sebuah perusahaan manufaktur mengalami kerusakan dalam conveyornya sehingga macet dan tidak berfungsi. Kerusakan serupa sebenarnya pernah dialami perusahaan beberapa waktu yang lalu dan diketahui penyebab serta cara memperbaikinya. Namun sayangnya teknisi tersebut telah dipindahkan dan digantikan dengan teknisi baru yang belum pernah menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya perusahaan tersebut akan mulai dari nol lagi dalam menghadapi masalah yang sama.

Sistem yang baik seharusnya bisa mendokumentasikan dan mendistribusikan informasi-informasi penting semacam ini kepada semua orang. Sehingga meskipun anggota datang silih berganti dalam organisasi, namun organisasi tidak kembali ke nol dalam setiap masalah yang dihadapi. Salah satu contohnya dapat dituangkan melalui Standard Operational Procedure (SOP) atau dokumen-dokumen lainnya.

Pemanfaatan Teknologi
Teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Bayangkan pada zaman dahulu kita harus menggosok-gosokkan batu atau kayu untuk menciptakan percikan api yang dapat digunakan untuk menyalakan api. Namun kini hanya dengan menekan tombol korak api, api dapat langsung keluar sehingga dapat kita gunakan.

Begitu pula dalam organisasi, sebuah organisasi yang baik harus dapat memilah-milah mana saja kegiatan rutin yang terjadi terus menerus secara berulang-ulang dan mengembangkan kemungkinan pemanfaatan teknologi dalam pengerjaan tugas tersebut. Dengan penggunaan teknologi ini tentunya human capital yang tersedia akan terbebas dari pekerjaan-pekerjaan rutin yang menyita waktu dan dapat fokus kepada pengembangan-pengembangan yang dapat dilakukan oleh organisasi.

Automatic Teller Machine merupakan salah satu contoh nyata penerapan teknologi sebagai langkah efektivitas dan efisiensi yang dilakukan oleh perbankan. Dahulu sebelum adanya ATM, dapat kita bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang dihabiskan oleh para karyawan perbankan untuk menangani segala macam transaksi yang dilakukan oleh pelanggang mereka. Namun kini dengan adanya ATM, perbankan dapat mengurangi jumlah teller mereka karena banyak transaksi yang dapat dilakukan via ATM.

Arus Modernisasi
Trend dewasa ini memaksa organisasi untuk bertindak seefisien dan seefektif dalam mencapai tujuan mereka. Hal ini dikarenakan manusia mulai menyadari keteratasan sumber daya yang ada. Jika sumber daya tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, dalam jangka panjang tentu akan merugikan bagi seluruh umat manusia atau organisasi.

Bahan bakar minyak misalnya, masyarakat kini  mulai menyadari betapa sangat terbatasnya sumber daya tersebut. Keterbatasan ini pada akhirnya mendorong konsumen untuk membeli kendaraan-kendaraan yang hemat energi demi menjaga persediaan sumber daya yang dimiliki.

Begitu pula organisasi seiring berjalannya waktu seharusnya semakin bijak dalam menggunakan sumber daya yang mereka miliki, termasukjuga human capital yang meskipun jumlahnya sangat banyak akan tetapi kita sadar human capital tidak dapat berdiri sendiri tanpa memerlukan sumber daya yang lain.

Adalah sebuah pemborosan yang sangat tidak efektif dan efisien dengan menempatkan manusia hanya sebagai alat untuk melakukan tugas-tugas rutin yang terus berulang. Terlebih jika manusia-manusia tersebut merupakan manusia-manusia yang telah terdidik dengan baik. Seharusnya human capital semacam ini dapat dimanfaatkan sebagai ujung tombak dari perbaikan yang dilakukan organisasi. Terlebih dengan adanya akal sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Jika kita terus menerus disibukkan dengan permasalahan yang sama, maka sepatutnya kita mempertanyakan dimana akal kita. Dimana mempertanyakan keberadaaan akal juga berarti mempertanyakan keberadaan manusia itu sendiri.

Rabu, 03 Oktober 2012

Outsourcing (seharusnya) bukan Perbudakan

Hari ini (rabu, 3 Oktober 2012) dunia industri tanah air digemparkan dengan aksi turun ke jalan para buruh. Salah satu tema yang diangkat adalah penghapusan sistem outsourcing (OS) di perusahaan-perusahaan Indonesia. Tema klasik yang sebenarnya telah menjadi bahan perdebatan cukup lama di dalam dunia ketanagakerjaan di Indonesia. Artikel kali ini mencoba membahas keberadaan sistem OS di Indonesia.

Labour (piuccheperfetto.deviantart.com)

Sistem outsourcing sendiri telah ada sejak zaman kolonial Belanda yang diatur dalam undang-undang (yang pada akhirnya sebagian masih digunakan sebagai dasar hukum Indonesia). Pada masa lalu para Demang menyediakan tenaga kerja-tenaga kerja lokal untuk dipekerjakan kepada orang-orang Belanda. Para pekerja ini nantinya upahnya sebagian akan dipotong oleh para Demang sebagai jatah mereka.

Outsourcing di Indonesia mulai populer kembali beberapa tahun terakhir. Tujuan utamanya pada kala itu adalah sebagai stimulus kepada dunia usaha untuk dapat berkembang dengan baik. OS kemudian dipandang sebagai sebuah langkah untuk mendapatkan tenaga kerja murah.

Akan tetapi anggapan seperti itu adalah sebuah praktek yang salah. Sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada semangat spesialisasi terhadap bidang keahlian tertentu. Tenaga outsourcing seharusnya adalah tenaga-tenaga kerja ahli dan spesialis dalam bidangnya, bukan tenaga kerja murah.

Praktek OS yang baik adalah ketika perusahaan user membutuhkan bantuan tenaga ahli atau spesialis dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga membutuhkan jasa OS dalam membantu permasalahan tersebut. Misalnya saja sebuah perusahaan yang berfokus pada bidang manufaktur sebagai user maka mereka akan melakukan outsourcing pada bidang-bidang yang bukan area keahlian mereka misalnya security, cleaning service, catering, IT, dsb. Tujuan utamanya adalah agar perusahaan tersebut bisa fokus mengerjakan bisnis utamanya, sedangkan hal-hal yang bersifat supporting tersebut akan ditangani oleh pihak-pihak yang lebih ahlinya misalnya perusahaan IT, perusahaan jasa catering, dsb.

Karyawan-karyawan OS tersebut pada dasarnya adalah para karyawan tetap yang telah dijamin hak-hak dan kesejahteraannya oleh perusahaan penyalur tersebut. Sehingga transaksi yang terjadi adalah antara user dengan perusahaan penyedia jasa, sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kekaryawanan merupakan bagian dan tanggung jawab sepenuhnya dari pihak penyedia jasa.

Peraturan pemerintah juga senada dengan hal tersebut. Dalam revisinya terakhir MK menegaskan bahwa sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada penyediaan tenaga ahli dan bukan tenaga murah. Dengan adanya revisi ini para pekerja OS berhak mendapatkan pesangon dan hak-hak lainnya seperti halnya karyawan tetap. Selain itu sistem OS sendiri hanya diperbolehkan pada bagian-bagian yang sifatnya supporting dan bukan bisnis utama atau produksi.

Akan tetapi tentu tidak akan ada asap jika tidak ada api. Jika peraturan tersebut sudah benar-benar sepenuhnya dijalankan maka tentunya para buruh tidak akan turun ke jalan. Pada prakteknya banyak perusahaan yang masih menggunakan sistem OS pada bisnis utama mereka. Dalam kasus tertentu misalnya sebuah perusahaan manufaktur menggunakan tenaga OS dalam jumlah besar sebagai buruh kasar di pabrik. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan seringkali masih meihat OS sebagai sebuah cara penyediaan tenaga murah.

Kasus lain yang sering saya temui adalah tidak adanya ikatan dan hubungan yang jelas antara karyawan OS dengan pihak penyalur tenaga kerja. Saya sering jumpai bagaimana karyawan OS yang bahkan tidak mengenal kontrak kerja dengan perusahaan penyalurnya. Praktek yang terjadi seolah-olah pihak perusahaan penyalur hanya sebatas memotong upah dari para karyawan OS tanpa adanya timbal balik semisal jaminan kesejahteraan para pekerja itu sendiri.

Jika demikian prakteknya maka itu sama bobroknya dengan sistem penyaluran jasa TKI yang sering dicemooh atau lebih parah lagi adalah mengulang kesalahan zaman kolonial dengan pengulangan sistem "Demang" yang itu berarti adalah bentuk pemalakan atau jika tidak bisa disebut perbudakan.

Maka dari itu sistem outsourcing di Indonesia masih perlu disempurnakan. Dari sisi pemerintah perlu diperketat lagi mengenai definisi dan aturan penggunaan sistem outsourcing. Bahkan dalam bentuk ekstrim jika perlu untuk sementara hapuskan sistem outsourcing untuk para pekerja kerah biru, sistem OS hanya digunakan secara terbatas pada pekerja kerah putih.

Yang kedua adalah pengawasan implementasi di lapangan. Bagaimana perusahaan penyedia jasa OS harus dapat memenuhi kewajibannya dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan-karyawannya. Jangan sampai perusahaan jasa OS pada prakteknya hanya menjadi "pemalak" tanpa memberikan timbal balik keuntungan kepada para karyawan.

Dan ketiga adalah bagaimana peran serta user dalam sistem ini perlu dibenahi. Stigma OS sebagai penyedia tenaga kerja murah harus sepenuhnya dihapus dan digantikan dengan stigma penyedia tenaga kerja ahli. Para user seharusnya juga bisa lebih ketat lagi dalam memilih para penyedia jasa yang akan mereka gunakan. User memiliki kekuatan untuk menyeleksi dan memilih penyedia-penyedia jasa yang benar-benar memperhatikan karyawannya untuk dijadikan partner.

Bagaimanapun juga sebuah tindakan dzalim untuk mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memberikan haknya. Pada titik inilah kita seharusnya berpikir ulang bagaimana kita memandang OS selama ini, apakah masih sebatas uang ataukah sudah melihatnya sebagai sebuah manusia yang utuh sepenuhnya?

Minggu, 05 Agustus 2012

Toilet

Semua orang menginginkan sebuah toilet umum yang bersih dan nyaman. Diana bau pesing tidak tercium dan tidak ada ceceran entah dari siapa dan darimana. Sebuah mimpi yang indah akan sebuah kedaaan ideal yang selalu didambakan.

Namun siapa mau membersihkan toilet umum?

toilet (danor.deviantart.com)

Kita selalu berharap akan mimpi yang indah, namun dunia bukanlah mimpi. Usaha dan hasil adalah dua sisi mata uang yang saling melekat dan melengkapi satu sama lain. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Dan di dunia ini banyak sisi-sisi semacam itu, dimana kedua sisi saling berlawanan namun tidak dapat dipisahkan.

Minggu, 29 Juli 2012

Stereotype

Stereotype, sebuah generalisasi umum akan suatu keadaan. Atau dalam versi negatifnya kita bisa mengatakannya sebagai sebuah prasangka. Suatu hal yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Stereotype (oskart.deviantart.com)


Entah sejak kapan, mungkin zaman kolonial, kita selalu diajarkan untuk membenci orang kaya dan beranggapan orang miskin selalu tertindas dan yang paling benar. Seolah semua orang kaya itu busuk, dan semua orang miskin. Stereotype.

Tapi sebuah fase kehidupanku menunjukkan bahwa itu tidak semuanya benar. Bagaimana jika saya katakan bahwa ada orang-orang kaya di dunia ini yang peduli dengan orang lain? Sementara ada juga orang-orang kaya yang malas dan suka mengambil jalan pintas untuk dirinya sendiri? Bagaimana jika para komunis yang miskin yang diberi kesempatan malah berubah menjadi kapitalis kaya yang tamak dan serakah?

Bagaimana jika rakyat, yang selalu dianggap tertindas justru seringkali yang menindas? Bagaimana jika para kapitalis adalah orang-orang yang bervisi besar untuk kemajuan masyarakat bersama?

Percayakah? Entahlah, sosialis telah meresap ke sendi-sendi kita. Kebencian ini juga yang menghantarkan bangsa ini menjadi jati dirinya yang sekarang.

Bagaimanapun juga stereotype muncul dari fakta-fakta yang digeneralisir. Saya tidak bilang bahwa prasangka adalah sesuatu yang salah, tetapi saya juga tidak berkata bahwa prasangka adalah sesuatu yang benar.

Akan tetapi kebencian merupakan suatu hal yang buruk, terlebih kebencian yang timbul karena rasa iri hati.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13)

Sabtu, 28 Juli 2012

The whole is greater than the sum of the parts

Saya selalu percaya pada frase tersebut. Bahwa persatuan dan kesatuan akan selalu menciptakan sebuah kekuatan yang luar biasa. Itulah sebabnya manusia hidup berkelompok, karena sejatinya kita bisa meraih suatu hal yang luar biasa dalam kebersamaan.

Organisasi adalah tempat orang berkumpul dan bervisi, serta memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan mimpi mereka.

Hanya saja sebagian organisasi memilih untuk berpikir sempit dan hanya memikirkan perut mereka, sedangkan sebagian lain mencoba memenuhi kewajiban moral mereka. Dan kita yang dibesarkan oleh rahim sosialis selalu berpikiran buruk tentang mereka.

Communist until you get rich
Feminist until you get married
Atheist until the airplane starts falling

Akan tetapi saya percaya disana ada sekumpulan orang-orang yang bekerja untuk mewujudkan mimpi mereka. Mewujudkan kepentingan bersama sebagai sebuah tujuan utama. Dan mereka kapitalis.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)

Sabtu, 19 Mei 2012

Masyarakat Sensor

in censor we trust (punknroll.deviantart.com)
Beberapa pekan terakhir media elektronik sedang dihebohkan dengan beberapa pencekalan yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat di Indonesia. Menjadi semakin heboh ketika tinndakan pencekalan ini kemudian dikaitkan dengan hakikat kebebasan. Meskipun agak lucu, mengingat paham kebebasan dan demokrasi sendiri belum lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia setelah beberapa dekade berada di bawah pemerintahan yang bertangan besi.

Mulai dari Irshad Mandji hingga Lady Gaga sebenarnya merupakan pucuk dari fenomena yang terjadi sebenarnya di dalam masyarakat. Permaasalahan ini tidak akan selesai hanya dengan membubarkan satu atau dua ormas, tetapi lebih dari itu permasalahan ini sebenarnya berkaitan dengan nilai dan kebudayaan suatu masyarakat. Tulisan kali ini akan mencoba mengulas fenomena tersebut.

Tipikal Masyarakat Kolektif
Para ahli sepakat bahwa Indonesia merupakan contoh sebuah masyarakat yang lebih condong ke arah nilai-nilai kolektif daripada individualis. Meski demikian banyak orang yang kurang begitu paham mengenai apa sebenarnya masyarakat kolektif itu. Masyarakat kolektif memiliki sebuah sistem dan struktur masyarakat yang sangat berbeda dengan model individualis.

Di dalam masyarakat kolektif, individu dipandang sebagai bagian dari kelompok. Hal ini berbeda dengan tipikal masyarakat individualis yang lebih memandang individu sebagai sebuah entitas yang mandiri dan berdiri sendiri. Efeknya adalah bahwa setiap tindakan suatu individu dalam kelompok haruslah dilandasi pada kepentingan kelompok dan bukan kepentingan pribadi. Kewajiban individu kepada kelompok lebih ditekankan daripada hak-hak individu itu sendiri (baca: Masyarakat Daging Babi).

Selain itu masyarakat kolektif memiliki hierarki, lain halnya dengan masyarakat yang cenderung individualis dimana semua orang dipandang setara. Masyarakat kolektif memandang masyarakat sebagai sebuah kesatuan atau kelompok, maka dari itu perlu orang-orang khusus untuk mengatur kelompok tersebut. Orang-orang khusus ini merupakan orang-orang yang dianggap paling ahli dan bijaksana di dalam kelompok tersebut. Dalam prakteknya kita jumpai tokoh masyarakat, presiden, ulama, pendeta, dan sebagainya.

Orang-orang tersebut memiliki tugas menjaga kelompok dari setiap ancaman yang ada. Termasuk diantaranya adalah ancaman ideologis berupa nilai-nilai yang dianggap berseberangan dengan nilai-nilai kelompok tersebut. Dalam menjaga kelompok, orang-orang khusus tersebut memiliki beberapa hak istimewa terhadap masyarakat lain. Termasuk diantaranya adalah sensor dan pencekalan untuk mencegah masuknya ideologi-ideologi yang dianggap bertentangan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan sebuah cara untuk "melindungi" ideologi kelompok dari ideologi asing yang dianggap dapat mengancam. Maka disini dapat kita lihat bahwa pencekalan misalnya dilakukan oleh organisasi Islam, organisasi tersebut "merasa" memiliki hak untuk melakukan pencekalan dalam masyarakat karena karakteristiknya yang "lebih memahami" ideologi tertentu dibanding masyarakat awam. Maka sebenarnya fenomena ini adalah sebuah fenomena yang "sangat biasa" di dalam kebudayaan masyarakat kolektif.

Sudah Biasa
Sebenarnya bukan pertama kali ini pencekalan atau sensor dilakukan di Indonesia. Bahkan sebenarnya sejak awal Indonesia berdiri sensor dan pencekalan sudah sangat sering dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa berkewajiban untuk menjaga ideologi kelompok.

Pada masa Orde Lama misalnya kita temui bagaimana musik Koes Ploes yang diilhami dari band The Beatles sempat dicekal karena dianggap membawa nilai-nilai liberal Barat. Pada waktu itu Indonesia menganut paham sosialis-komunis yang kental sehingga berbagai macam bentuk "penyerangan" dari ideologi Barat dilawan oleh pemerintah.

Jika kita berpikir bahwa pencekalan dan sensor hanya dilakukan oleh masyarakat kolektif dengan ideologi sosialis-komunis maka itu salah besar. Ketika orde baru berkuasa dan kita lebih dekat dengan Barat pun pencekalan dan sensor tetap ada. Buku-buku komunis dan sosialis dibumihanguskan sebagai upaya "menjaga" ideologi bangsa yang saat itu mulai condong ke arah Barat. Bukti lain yang masih ada hingga saat ini adalah adanya aturan yang mewajibkan film asing berbahasa selain Inggris untuk didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Peraturan ini sebenarnya adalah upaya film AS (liberal) pada masa itu melawan serbuan film China (komunis) di Indonesia dan cara tersebut terbukti efektif.

Pergeseran Budaya
Melihat sejarah dan karakter budaya masyarakat Indonesia pada zaman dahulu, maka menimbulkan keherana tersendiri bagi saya. Di saat banyak orang heran tentang bagaimana sebuah kebebasan dibatasi, saya justru heran mengapa hal itu menjadi sebuah masalah besar. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi bagi saya sensor dan pencekalan telah lama menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Menjadi masalah adalah ketika nilai-nilai dalam masyarakat telah mulai bergesar. Di satu sisi kita harus mengakui kepandaian strategi AS dalam perang ideologi. Bagaimana mereka memilih untuk mengekspor film dibanding komoditi lainnya yang lebih berharga. Hal ini dilakukan agar ideologi dapat bergeser dari yang semula sangat kolektiv-sosialis beralih ke individualis-liberal.

Saat ini masyarakat Indonesia pun terpecah, di satu sisi sebagian masyarakat mulai menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan persamaan derajat. Presiden, ulama, dan para ahli mulai dianggap sama dengan masyarakat lainnya dalam berpendapat. Masyarakat merasa lebih tahu apa yang disebut "baik" bagi dirinya sendiri. Namun di sisi lain sebagian masyarakat masih menganut nilai-nilai kolektiv dan hierarki sosial. Dimana masyarakat sendiri masih belum mampu berdiri sendiri tanpa sokongan "para ahli". Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang dipahami pun belum sempurna. Meski masyarakat merasa dapat megatur dirinya tersendiri dan merasa lebih terdidik, namun kenyataan di lapangan bahkan banyak golongan terpelajar yang bertindak tidak terpelajar. Struktur masyarakat lama mulai rubuh tetapi belum ada konsensus mengenai struktur yang baru.

Menyikapi Lady Gaga misalnya, meski yang paling keras terdengar mengenai di jejaring sosial merupakan bentuk penyesalan tindakan FPI namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak masyarakat kita yang turut mendukung sikap tersebut. Pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang dari generasi tua misalnya setelah melihat seperti apa "wujud" dari Lady Gaga di televisi banyak yang kemudian justru merasa prihatin dan setuju terhadap tindakan FPI, MUI, PPP, dan sebagainya untuk menolak. Lain halnya dengan media jejaring sosial yang lebih banyak didominasi generasi muda yang sudah lebih "demokratis" dan hidup dengan nilai-nilai yang berbeda.

Maka disinilah toleransi akan budaya diuji. Sejauh mana masyarakat mampu memahami masyarakat lain yang hidup dengan nilai-nilai yang berbeda. Meski tentu itu bukan hal yang mudah karena bagi satu pihak menghormati adalah menuruti kehendak yang lain yang itu berlawanan dengan nilai-nilai kebebasan. Sementara di pihak lain menghormati diterjemahkan sebagai memberikan kebebasan bagis etiap orang yang itu berarti mengabaikan kebaikan kelompok.

Rabu, 25 April 2012

Para Pekerja Nasionalis

"Kemana para nasionalis bekerja?"

Pertanyaan tersebut seketika memecahkan ruang keheningan yang tercipta. "Apa maksudmu?", tanyaku.

"Kau tahu, mereka yang memiliki jiwa nasionalisme dan ingin membangun negara, kemana mereka nantinya akan bekerja?"

"Entahlah, mungkin mencoba menjadi Presiden, menteri, anggota DPR atau semacamnya", jawabku sekenanya.

"Ah kau ini, berapa banyak sih orang yang menjadi presiden, berapa banyak pula orang yang berjiwa nasionalis. Maksudku selain itu kemana mereka akan pergi?"

"Benar juga apa katamu, mungkin menjadi Pegawai Negeri seperti kebanyakan orang ... atau seorang Guru yang mencerdaskan masyarakatnya", kataku mencoba bijaksana.

Lelaki itu tertawa kecil, "PNS? Kau yakin? PNS saat ini terlalu identik dengan kenyamanan dan kemalasan. Orang bahkan lupa bahwa mereka bekerja untuk mengabdi pada bangsanya, atau mungkin memang tidak demikian"

Di dalam hati aku mau tidak mau sedikit setuju dengan apa yang dikatakannya. Tetapi aku masih ragu akan kebenaran perkataan tersebut. "Sebagian yang lain mencoba menjadi wiraswasta, tentu dengan segala resikonya. Kau tahu menjadi wiraswasta dalam budaya yang sangat Jawa-sentrik ini bukanlah sesuatu yang membanggakan. Disini orang hidup untuk mengabdi ..."

"Tapi bukan berarti semua masyarakat Jawa anti terhadap wiraswasta kawan, kau tahu ada beberapa daerah di Jawa ini yang terkenal dengan jiwa wiraswastanya. Meski benar apa katamu, selalu ada mitos yang menghantui mereka", potongnya menyela perkataanku.

"Wiraswasta, mereka membangun negeri ini. Kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya kepada negara. Kapitalis kata mereka, tetapi kapitalis juga yang selama ini ikut membangun negeri. Mereka nasionalis." Aku diam sejenak memikirkan kata-kataku tadi. "Selama ini orang banyak berpikir mengabdi adalah tentang menjadi bawahan, tentang bekerja tanpa imbalan. Padahal dengan kita berusaha sebaik mungkin membangun bisnis, kita juga membangun negeri ini."

"Tangan ghaib Adam Smith, eh? Tak ku sangka kau percaya juga hal macam itu." Katanya sembari tersenyum. Bukan senyum ramah, tetapi sedikit ada bumbu sinis terpampang disana. "Jadi salahkah kita berjiwa nasionalisme dengan menjadi pekerja yang loyal mengabdi?"

Veteran Bandung (ahdhan.deviantart.com)
Aku berpikir sejenak. Entah kenapa sedari tadi kata-kata tersebut keluar dari mulutku dimana bahkan aku sendiri pun tidak percaya akan berkata demikian. Tetapi muncul dorongan yang dalam untuk terus melanjutkan percakapan ini. "Tidak, tentu tidak. Lihatlah para tentara kita misalnya, dengan gaji yang tidak seberapa mereka rela bersusah payah berjuang demi negara ini. Mungkin mereka adalah contoh nasionalis sejati."

"Lalu bagaimana dengan aku? Apakah sebagai nasionalis aku harus menjadi tentara untuk mengabdi?", tanyanya tajam terhadapku.

"Ah kau ini, aku yakin kau tidak sebodoh itu. Mengabdi kepada negara bukan berarti harus berupa jiwa dan raga fisik sepenuhnya. Saat ini ekonomi menjadi medan perang dunia yang sesungguhnya. Sebagian dari para nasionalis itu mereka mencoba mempertahankan negara ini melalui perusahaan-perusahaan BUMN dan perusahaan nasional lainnya. Mungkin kita bisa ikut disana."

"Lalu bagaimana kau tahu perusahaan mana yang membantu kita dalam peperangan ini?"

Aku terdiam sejenak. Menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah. "Kau tahu, secara formal perusahaan nasional dilihat dari tempat dimana saham-saham mereka dijual. Selama saham mereka tercatat di pasar modal Indonesia maka itu menjadi perusahaan nasional." Dirinya tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun aku lantas menyambung perkataanku tadi. "Tetapi tentu tidak semudah itu, menjadi ironi adalah ketika ternyata saham-saham tersebut banyak dimiliki oleh orang asing. Begitu pula sebaliknya tidak sedikit pengusaha Indonesia yang memiliki saham-saham perusahaan asing. Lantas pada siapa sebenarnya kita bekerja?"

Dia tampak terpana. Tatapan matanya yang dalam seolah ingin menelanjangi pikiranku sepenuhnya.

Aku melanjutkan perkataanku, "Menjadi ironi juga adalah ketika banyak perusahaan nasional yang justru merugikan masyarakat negeri ini sendiri sementara di sisi lain banyak perusahaan asing yang justru banyak membantu dalam membangun negeri ini. Lantas bagaimana kita menakar nasionalisme kita dalam situasi tersebut?"

"Ah kau ini, aku yang bertanya duluan. Kenapa kamu malah menanyakan kembali kepadaku?", tampak senyum kepuasan di wajahnya. Kepuasan larena telah berhasil menularkan kebimbanngan hatinya selama ini.

"Nasionalisme tidak bisa dilihat sebatas dimana kita bekerja, kawan. B.J Habibie misalnya, dia bekerja untuk orang asing di negeri asing sana. Tetapi dengan pekerjaannya itu dia mengharumkan nama negeri ini di kancah dunia. Maka dapatkah kita tuduh bahwa orang yang bekerja untuk orang-orang asing sana tidak memiliki jiwa nasionalis?", aku mengambil nafas dalam.

"Jadi, kesimpulannya apa kawan?"

"Entahlah aku masih bingung," jawabku. Aku terdiam, mencoba meresapi dan memahami sepenuhnya kata-kataku sendiri. "Nasionalisme adalah sebuah jiwa, tekad, niatan, dan motivasi. Dia memilliki wujud abstrak. Seorang petani misalnya, dia bisa menjadi sangat mulia ketika dia melakukan pekerjaannya demi memberi makan dunia. Sebaliknya menjadi sangat tidak mulia ketika apa yang dilakukannya hanya demi lembaran uang yang digunakannya untuk memenuhi nafsu dan egonya semata. Nasionalisme bukanlah tentang dimana dan menjadi apa ketika kamu bekerja, tetapi tentang untuk apa kamu bekerja. Tentang niat dan tekad untuk selalu memberikan yang terbaik untuk negeri ini"

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob rodiallohuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rosululloh alaihisolatu wassalam bersabda :
"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.“ (H.R. Bukhori no:01 dan Muslim no:1907)

Selasa, 24 April 2012

Makna Bekerja bagi Masyarakat Jawa di Daerah Kotagede

 Alhamdulillah selesai juga penelitian saya mengenai makna bekerja bagi masyarakat Jawa. Penelitian tersebut mengajarkan banyak hal kepada saya akan apa arti dari kehidupan dan kedudukan hakikat manusia. Sebuah bagian dari perjalanan hidup yang (semoga) tidak akan terlupa.
ABSTRAK  Penelitian sebelumya menunjukkan adanya perbedaan makna kerja pada budaya yang satu dengan yang lainnya. Padahal makna kerja memiliki pengaruh pada kepuasan kerja, komitmen organisasi, stress, motivasi, dan hasil kerja itu sendiri. Penelitian ini mencoba mencari tahu makna kerja dari masyarakat Jawa yang tinggal di daerah Kotagede. Metode: penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan melibatkan tiga orang subjek dari berbagai latar belakang pekerjaan yang tinggal di Kotagede. Data diambil menggunakan metode wawancara. Hasil: bekerja diartikan sebagai sebuah usaha untuk mendapatkan hasil (rezeki, nafkah, dsb) yang telah ditetapkan oleh Tuhan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Lebih dari itu bekerja juga dimaknai sebagai upaya mempertahankan eksistensi diri kepada Tuhan dan masyarakat.

Lebih lanjut silahkan klik disini untuk mengunduh ringkasan penelitian tersebut.

Jumat, 30 Maret 2012

Kesalahan Pendidikan Ilmu Sosial

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial di Indonesia mengalami kesalahan fundamentalis yang cukup parah. Kesalahan ini berakar dari metode belajar mengajar yang kurang tepat ditunjang dengan kurikulum sesat. Akibat terbesarnya adalah adanya ketidaktepatan antara teori-teori yang dipelajari dengan kenyataan di lapangan. Gejala ini seringkali muncul terutama melalui adanya anggapan dunia teoritik yang jauh dari kenyataan.

Belajar (gasse.deviantart.com)


Perbedaan Fundamental
Di AS ilmu pengetahuan dibagikan menjadi dua jenis yaitu Art dan Science sedangkan di Indonesia pembagian ini lebih dikenal sebagai Ilmu-Ilmu Alam dan Ilmu-Ilmu Sosial. Keduanya sebenarnya memiliki karakteristik fundamentalis yang berbeda. Ilmu-ilmu alam mempercayai adanya kebenaran mutlak yang bersifat objektif, dimana kebenaran tersebut dapat diterima oleh semua manusia tanpa terkecuali. Misalnya batu yang dilepaskan akan jatuh ke bawah. Di belahan bumi manapun fenomena tersebut akan terus berulang tapa adanya perbedaan. Itulah yang disebut kebenaran mutlak yang bersifat objektif.

Lain halnya ilmu-ilmu sosial, meski hingga saat ini terdapat kecenderungan para ahli untuk mencari sebuah kebenaran objektif yang bebas nilai dan budaya, akan tetapi pada akhirnya para ahli tetap dipaksa untuk mengakui bahwa sangat sulit atau mustahil untuk menemukan satu kebenaran mutlak yang bersifat objektif. Ilmu sosial memang erat kaitannya dengan objektivitas, sehingga dalam ilmu sosial tidak dikenal adanya satu kebenaran mutlak tetapi adanya kebenaran yang beragam merunut dari berbagai versi.

Sehingga dalam pembelajaran ilmu sosial sangat diperlukan adanya ragam versi dalam penguasaan ilmu tersebut. Ilmu sosial harus dikembangkan dari subjektivitas masing-masing yang berasal dari beragam nilai dan budaya masing-masing. Hal ini diperlukan untuk memberikan gambaran secara lengkap dan terperinci terhadap keadaan yang ada serta demi mengembangkan keilmuan itu sendiri.

Kegagalan Sistem Ajar
Meski demikian kurikulum dan sistem pembelajaran di Indonesia saat ini gagal memahami adanya perbedaan fundamental tersebut. Setelah tumbangnya era Islam, ilmu pengetahuan alam dan tekonologi saat itu banyak yang diboyong ke masyarakat Eropa dan dikembangkan. Sejak masa itu disebutlah era reinassance dimana setelahnya sejarah mencatat AS-Eropa menjadi pusat peradaban dunia ditandai dengan kemajuan teknologi yang dimiliki.

Asia yang saat itu tertiggal kemudian mencoba belajar dari AS-Eropa. Termasuk salah satunya adalah Indonesia. Pada awalnya ilmu-ilmu yang diimpor tersebut merupakan ilmu-ilmu alam seperti teknik dan kedokteran. Hingga pada akhirnya muncul impor ilmu pengetahuan secara besar-besaran hingga saat ini dan tidak sebatas ilmu alam tetapi juga ilmu sosial. Impor ini dilakukan dengan metode copy cat yang masuk dalam kurikulum pembelajaran Indonesia.

Fenomena impor pengetahuan ini tentunya tidak menjadi masalah dalam ranah ilmu sosial dengan anggapan utamanya tentang kebenaran mutlak yang objektif. Akan tetapi tanpa disadari impor ilmu pengetahuan ini adalah tindakan yang salah dalam ranah ilmu sosial. Hal ini dikarenakan ranah ilmu sosial tidak mengenal adanya kebenaran ilmu mutlak sehingga ilmu-ilmu impor tersebut sangat rentan terhadap ketidakcocokan kondisi masyarakat pegimpor ilmu tersebut.

Masalahnya adalah sistem ajar ranah ilmu alam dan ilmu sosial disamakan. Ilmu alam dikembangkan dengan metode evaluasi dan inovasi. Langkah pertama adalah mengejar ketertinggalan dengan sebanyak mungkin menguasai ilmu-ilmu impor tersebut. Sedangkan langkah kedua adalah sekedar mengawinsilangkan dan menambahi atau inovasi dari ilmu-ilmu tersebut untuk menciptakan ilmu baru.

Begitu juga dalam ranah ilmu sosial. Pembelajaran didasarkan pada buku teks impor yang tentunya juga berisi ilmu pengetahuan impor. Ditambah dengan metode pembelajaran yang sifatnya evaluatif hanya sebatas melihat kemampuan siswa dalam menyerap pengetahuan impor tersebut. Pada akhirnya metode semacam ini hanya melahirkan buku-buku yang berjalan.

Diploma Disease
Cara pembelajaran seperti ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah dalam level pendidikan diploma, SMA, dan kebawah. Namun menjadi masalah yang sangat berarti dalam tataran tingkat sarjana dan seterusnya. Hal ini dikarenakan sifat pendidikan sarjana yang bertujuan untuk mengembangkan keilmuan (baca: Mengenal Pendidikan). Celakanya kekurang pahaman terhadap perbedaan ini menimbulkan adanya pragmatisme pendidikan pada tingkatan sarjana yang justru memperparah keadaan ini (baca: Pragmatisme Pendidikan)

Maka dari itu salah seorang teman saya mencetuskan sebuah istilah yang disebut sebagai Diploma Disease. Istilah ini merujuk pada kecenderungan para mahasiswa tingkat sarjana yang justru menerapkan sistem pembelajaran model diploma yaitu sebatas copy cat terhadap ilmu yang sudah ada daripada mencari gagasan pemahaman secara keseluruhan. Dalam bahasa kasarnya, adanya kecenderungan mahasiswa untuk menghafal buku ajar demi persyaratan akademik (nilai) dibanding kecenderunngan untuk mencari pemahaman dan mengembangkan ilmu sendiri.

Jauh-jauh hari salah seorang peneliti Belanda yaitu Niels Mulder telah mengkritik metode pembelajaran yang kurang tepat diterapkan dalam ranah ilmu sosial ini. Mulder mengkritik bagaimana para mahasiswa Indonesia lebih diarahkan kepada penguasaan teori-teori asing yang kurang tepat terhadap budaya mereka dibandingkan dengan mengembangkan gagasan mereka sendiri. Akibatnya ilmu pengetahuan ini stagnan dan tidak berkembang serta kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dari ilmu-ilmu tersebut seringkali merusak tatanan sosial yang telah ada.

Epidemi Akut
Celakanya penyakit ini telah menjadi epidemi akut di wilayah Asia. Pola-pola semacam ini ditemukan tidak hanya di Indonesia tetapi juga pada pembelajaran di negara-negara Asia lain semisal China dan Jepang. Pola-pola pembelajaran ini telah menjadi trend tersendiri dalam dunia pendidikan di Asia. Namun pola seperti ini kurang memberikan ruang untuk kelahiran ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru namun lebih sebatas inobasi dai apa yang telah ada. Jika kita lihat lebih teliti misalnya kita akan melihat bahwa meskipun Jepang dan China sudah cukup maju dalam bidang IT namun teknologi yang mereka hasilkan lebih ke arah inovasi dibandingkan sebuah penemuan baru.

Jika hal ini terus dibiarkan akan menjadi permasalahan tersendiri terutama dalam ranah ilmu sosial. Terlebih karena kebanyak ilmu yang telah ada saat ini berasal dari basis masyarakat yang memiliki nilai dan kebudayaan yang cukup berbeda. Disinilah kita perlu untuk melahirkan sebuah gagasan-gagasan baru yang lahir dari subjektivitas nilai dan kebudayaan kita sendiri. Karena jika bukan ilmu yang berubah maka nilai dan budayalah yang akan mengalami perubahan.

Maka perlu adanya perubahan fundamental dalam sistem pendidikan ilmu sosial saat ini. Ruang-ruang untuk  gagasan dan ide segar perlu dibuka lebih luas. Mahasiswa harus didorong untuk berpikir dan menganalisis, jangan sebatas menghafal ilmu-ilmu yang telah ada. Sistem penilaian pembelajaran harus didasarkan pada originalitas dan logika gagasan daripada literatur dan penguasaan teori (baca: Siapa Bodoh). Pola penilaian seperti ini akan memunculkan pemikir-pemikir ulung di masa mendatang alih-alih buku berjalan.

Selain itu perlu kiranya menilik kembali ilmu-ilmu dari buku-buku tua karya asli para ahli Indonesia daripada memenuhi rak buku perpustakaan denganbuku impor. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan adanya gagasan-gagasan asli yang telah dicentuskan sebelumnya dan menunggu untuk dikembangkan. Ini semua memerlukan sebuah kemauan yang besar dari pemilik kebijakan.

Senin, 26 Maret 2012

Bensin Naik Lagi

Bensin: Making the World Turn (officemr1980.deviantart.com)

Beberapa hari terakahir isu kenaikan BBM menjadi semakin panas. Berbagai aksi demonstrasi marak bermunculan di berbagai tempat. Bahkan beberapa pihak menuding adanya upaya makar. Di satu sisi TNI pun terpaksa keluar barak membackup POLRI dalam mengatasi demonstrasi yang jumlahnya semakin banyak. Ketidakpastian akan kebijakan itu sendiri dan berbagai macam spekulasi turut memperkeruh keadaan. Terlebih dengan adanya bumbu dari media massa dan partai oposisi yang sedang naik daun sehingga situasi politik menjadi  kian memanas. Namun entah mengapa Pak Presiden kita malah plesir ke negeri Komunis yang sedang mencoba menggenggam dunia.

Udah Pernah
Sebenarnya kenaikan BBM bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Beberapa kali kenaikan pernah terjadi namun tidak sepanas kali ini. Pada era Megawati masyarakat cukup maklum BBM dinaikkan karena situasi ekonomi sedang mengalami kesulitan. Sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri mengingat saat itu Indonesia sedang mengalami keterpurukan pasca krisis moneter 1998. Bukan itu saja, pada era SBY-JK harga BBM juga pernah naik. Hal itu dilatarbelakangi melambungnya harga minyak dunia. Maka saat itu masyarakat menjadi maklum dengan kenaikan tersebut.

Di sisi lain adalah bagusnya manajemen pengumuman kebijakan. Pada kenaikan-kenaikan sebelumnya pengumuman kebijakan tersebut langsung disampaikan secara gamblang dan tegas. Dilanjutkan dengan pelaksanaan yang dilakukan dalam waktu yang tidak berselang lama. Hal ini menyebabkan berbagai spekulasi dan penolakan tidak sempat tumbuh dan berkembang dengan liar. Sebuah ketegasan dari seorang pemimpin yang memberikan jaminan dalam bentuk kepastian masa depan, bukan keragu-raguan.

Memahami Oposisi
Mari kita kembali untuk memahami sebenarnya apa itu subsidi BBM. Subsidi BBM pada awalnya adalah selisih keuntungan hasil penjualan minyak Indonesia dengan pembelian minyak untuk konsumsi. Prinsip model seperti ini sebenarnya semi-sosialis dimana negara memberikan rakyatnya kemudahan dalam berbagai sektor termasuk BBM. Namun sayangnya selisih keuntungan tersebut semakin lama semakin menipis mengingat sumber daya alam minyak Indonesia yang juga semakin habis. Maka pada akhirnya subsidi tersebut justru membebani APBN karena harus diambilkan dari sektor penerimaan lain. (Lebih lanjut baca: Sedikit Mengenal Minyak Indonesia)

Namun dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sehat saat ini, pihak oposisi mempertanyakan alasan menaikkan harga BBM. Ketika APBN Indonesia sedang gemuk mengapa bisa muncul anggapan bahwa subsidi BBM membebani APBN? Jika anggaran yang direncanakan untuk subsidi kurang, mengapa tidak ditambah saja porsinya?

Selama ini BBM dianggap sebagai barang konsumsi saja. Padahal menurut pihak oposisi, BBM di satu sisi juga merupakan barang modal. Dengan adanya BBM murah maka perekonomian menjadi semakin maju dan berkembang. BBM murah juga memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Jadi mengapa tidak mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk subsidi BBM yang pada akhirnya akan dinikmati masyarakat banyak?

BBM sendiri juga telah menjadi salah satu barang pokok dalam kehidupan. Kenaikan harganya akan memiliki efek domino dan berpengaruh pada komoditi-komoditi lainnya. Inflasi akan meningkat, selain itu dikhawatirkan kenaikan harga ini akan memperburuk kondisi ekonomi dan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia.

Terlebih dengan adanya tuduhan kepentingan asing di balik pengurangan subsidi ini, maka isu kenaikan harga BBM ini menjadi semakin panas. Kenaikan harga BBM akan membuat selisih harga BBM pemerintah (yang dikelola pertamina) menjadi semakin tipis dengan BBM swasta (semisal Shell, Petronas, dsb) yang tentunya akan menguntungkan pihak swasta asing tersebut. Ditambah dengan adanya isu neoliberalisme yang bertujuan menghapus berbagai macam subsidi demi pasar bebas yang kurang memihak negara berkembang dan kurang sesuai dengan grand design negara Indonesia.

Sisi Lain
Di sisi lain anggaran subsidi BBM selama ini dianggap sebagai sebuah pemborosan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa BBM kebanyakan dinikmati kendaraan-kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum atau pegangkut barang. Terlebih dengan banyaknya pasaran kendaraan murah di Indonesia membuat konsumsi BBM menjadi semakin mengganas. Konsumsi BBM untuk kendaraan pribadi menunjukkan bahwa selama ini BBM lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah atas, yang notabene dianggap mampu secara ekonomi untuk membeli BBM tanpa subsidi.

Begitu juga dengan meningkatnya konsumsi BBM dan tidak diimbangi dengan produktivitas BBM Indonesia maka anggaran yang dibutuhkan semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya embargo Iran yang melambungkan harga minyak dunia sehingga beban APBN menjadi semakin besar. Anggaran sebesar itu dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, menjadi pertanyaan tersendiri apakah sudah tepat kebijaksanaan tersebut.

Maka dari itu sebagian ahli menyatakan bahwa alangkah lebih bermanfaatnya jika anggaran yang selama ini digunakan untuk membayar subsidi BBM dialihkan untuk hal-hal lain semisal pendidikan dan kesehatan. Hal inilah yang menguatkan dorongan untuk mengurangi anggaran yang dihabiskan pemerintah untuk mensubsidi harga BBM. Terlebih masyarakat kini mulai menyadari bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hal utama yang seharusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah.

Bijaksana
Perubahan memang kata-kata yang indah, namun bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan (baca: Perubahan #2). Perubahan selalu menimbulkan gejolak sosial, ibarat sebuah mangkuk berisi air yang dipindahkan (baca: Analogi Mangkuk). Terlepas dari prinsip mana yang anda pegang dalam menyikapi kenaikan BBM, maka ada hal-hal lain yang juga kita perlu cermati.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya kenyataan bahwa konsumsi BBM di Indonesia terlalu berlebiha. Terlebih karena kebanyakan BBM tersebut digunakan untuk kendaraan pribadi, dimana sebenarnya hal tersebut dapat ditekan. Misalnya saja dahulu ketika BBM mencapai angka enam ribu per liter, orang menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan BBM. Aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dihindari. Semisal sekedar membeli makanan dalam jarak dekat maka lebih disarankan untuk berjalan kaki atau bersepada.

Namu tidak saat ini. Jarak yang sangat dekat pun terkadang ditempuh dengan kendaraan bermotor karena kita terlalu malas. Pergi sendirian lebih memilih menggunakan mobil padahal sudah tentu mobil jauh lebih boros daripada BBM. Kita terlalu malas, dan kita terlalu manja. Kita menggunakan BBM dengan borosnya tanpa berpikir bahwa uang yang kita hamburkan dapat kita gunakan untuk kepentingan lain.

Maka dimana para aktivis lingkungan dadakan yang menyuarakan keselamatan lingkungan? Entah kenapa saya menjadi berpikir mungkin ada baiknya jika BBM dinaikkan. Sama seperti halnya terkadang kita harus mendapatkan sakit agar dapat bersyukur terhadap kesehatan yang kita dapatkan selama ini. Bijaksanalah. Bukan impian muluk untuk menyingkirkan kendaraan bermotor, tetapi hematlah semampu kita.

Jumat, 09 Maret 2012

Kacamata #2

Kau tahu? Tidak ada orang yang pernah tahu seperti apa dunia sebenarnya. Sejak kecil kita telah dipakaikan kacamata untuk memandang dunia. Kacamata agama, kacamata budaya, kacamata idealisme, kacamata politis, dan kacamata-kacamata lain.

Dunia telah diburamkan oleh kacamata kita, dan semua yang kita lihat dipandang sebagai kebenaran. Maka demikian, kebenaran kita diburamkan oleh kacamata kita. Meski semua yakin bahwa kacamata kita lah yang terjernih.

Disinilah lahir keyakinan. Kepercayaan akan dunia yang ada di balik lensa buram kacamata, dunia yang sesungguhnya.

Aku sungguh tidak tahu tentang kacamatamu, pun tentang panorama yang kau tangkap dengan kedua bola matamu. Tapi bagiku, dunia yang sesungguhnya, yang aku yakini, adalah dunia dengan penuh cahaya. Meski mataku tak sanggup menahan semua cahaya itu saat ini, maka lensa buram kugunakan agar lebih teduh.

Dan aku adalah orang Islam, yang hidup dengan dan di dalam budaya Jawa. Bukan sebaliknya.
Kulo nyekseni menawi mboten enten  Tuhan kajaba Gusti Allah SWT, lan kulo nyekseni Muhammad iku Rasul utusanipun Gusti Allah SWT
Allah (saesm.deviantart.com)

Sabtu, 21 Januari 2012

Semua Orang Boleh Hidup, tetapi Tidak Semua Bisa Diterima

Kemarin ada berita cukup fenomenal yaitu seorang waria yang mendaftarkan dirinya sebagai anggota Komnas HAM. Tujuannya tidak lain adalah untuk memperjuangkan nasib kaumnya agar diterima oleh masyarakat. Bagaimanapun juga perjuangan waria, gay, lesbi, dan semacamnya dewasa ini cukup gencar.

Saya pribadi bukanlah orang yang setuju terhadap hal tersebut. Namun bukan berati saya tidak menghormati mereka. Terlepas dari apapun tindakan mereka bagaimanapun juga kita tetap tidak boleh menghakimi, menyakiti, ataupun merusak apa yang menjadi milik mereka.

Namuns ekali lagi saya tegaskan bukan berarti saya setuju. Karena bagi saya setuju itu adalah dimana kita mendapatkan bahwa saudara/ orang tua/ anak atau orang terdekat kita berbuat demikian dan kita justru senang atas tindakannya itu. Dan bagaimanapun juga saya tidak pernah setuju terhadap perbuatan tersebut.

Teman saya pernah berkata mereka hanyalah orang yang berbeda dan kita harus menanggapinya dengan wajar. Ibarat kata ada orang yang suka apel, ada orang yang suka jeruk, dan sebagainya. Namun bagaimanapun juga mereka adalah orang yang suka buah Khuldi, buah yang dilarang oleh Tuhan dan jelas itu bukan tindakan yang dibenarkan.

Sebagian berkilah bahwa mereka memang diciptakan dengan masalah tersebut. lalu kembali kepada keimanan kita apakah kita akan percaya begitu saja bahwa Tuhan kita yang Maha Adil menciptakan suatu makhluk yang pasti akan dimasukkan ke dalam neraka tanpa adanya daya dan kuasa untuk menolak? Tentu tidak.

Lalu apakah salah jika masyarakat menolak kehadiran mereka? Tentu tidak. Kembali kepada analogi buah-buahan seandainya kita ke supermarket apakah kita harus membeli semua buah-buahan yang ada disana atau kita boleh memilih sebatas apa yang kita inginkan? Begitu juga suatu masyarakat pada akhirnya memiliki hak untuk memilih anggotanya.

Untuk hidup setiap manusia memiliki haknya. Akan tetapi untuk diterima pada suatu kelompok atau masyarakat, maka ada kewajiban terlebih dahulu yang harus dijunjung dan dipenuhi sebelum memperoleh haknya.

Meteor FPI Menghantam Waria (cotzart.deviantart.com)

Rabu, 18 Januari 2012

Saya Tidak Pernah Benar-Benar memahami para Revolusioner

Konon revolusi adalah suatu harga mati atas perubahan. Pemberontakan, gerakan radikal semua seolah menjadi syarat mutlak akan adanya perubahan. Saya bukan orang yang anti perubahan. Hanya saja bagaimana perubahan itu terjadi menjadi catatan tersendiri yang harus diperhatikan.

Revolusioner, seolah selalu dan harus ditandai dengan adanya gerakan radikal yang sifatnya merusak. Seolah sebuah pembangunan harus dimulai dengan perusakan. Tidak dapatkah kita berubah tanpa merugikan orang lain?

Semua itu biasanya disebut sebagai pengorbanan, harga yang harus dibayar untuk perubahan. Lucunya kenapa harus orang lain yang berkorban? Jika ledakan bisa mengubah segalanya kenapa tidak ledakkan rumah kita sendiri? Jika kematian bisa mengubah segalanya kenapa tidak kita bunuh saja saudara-saudara kita, teman-teman kita, atau bahkan diri kita sendiri?

Kenapa harus selalu orang lain. Jika pun ada bagian dari diri kita yang mati, apakah memang dari awal kita menghendakinya atau keterpaksaan? Jika kita yang harus berkorban, bisakah kita bersikap biasa sebagaimana kita bersikap terhadap orang lain menjadi korban?

Sejarah mencatat berbagai macam revolusi, dan kebanyakan yang menjadi topik adalah revolusi dengan kekerasa. Meski mengatasnamakan rakyat, pada akhirnya itu semua hanya menjadi omong kosong pertarungan antara elit. Usaha untuk menjatuhkan rezim yang berkuasa dengan rezim lainnya, dan bagaimanapun juga rakyat hanya menjadi alat. Padahal rakyatlah yang selalu harus berkorban.

Lalu sejauh mana revolusi membuat perubahan? Sejauh mana pula korban harus jatuh dalam revolusi?

Pray for Revolution (denull.deviantart.com)