Tampilkan postingan dengan label negara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label negara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Agustus 2013

Enam Puluh Delapan

Tentu mudah membandingkan antara idealisme dengan kenyataan. Namun mencari tahu permasalahan yang sesungguhnya tentang mengapa keduanya tidak sesuai dan membuat perbaikan akan hal itu, adalah perjuangan yang sesungguhnya

Lapangan itu sepi. Tidak ada anak kecil berlarian sembari menggigit sendok berisi kelereng di mulutnya, tidak ada dua puluh dua orang lelaki berebut bola dengan memakai daster atau sarung, tidak ada orang bahu membahu memanjat pinang berlumuran minyak, tidak ada anak-anak yang berusaha memakan kerupuk dengan kesusahan, tidak ada.

Sebagian orang masih berbaris rapi mengelilingi tiang bendera di pagi dan sore hari, menghormat kepada Sang Saka. Sebagian karena rasa cinta, sebagian karena harga diri dan eksistensi kelompoknya, sebagian lagi karena kebiasaan. Aku tidak tahu, mana yang lebih banyak.

Maka orang akan berkata bahwa nasionalisme telah pudar. Indonesia tidak lagi dicintai rakyatnya. Mereka mulai menyalahkan satu sama lain atas hal ini. Mereka adalah orang yang pesimis.

Aku percaya pada hukum energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan melainkan hanya berubah bentuk. Begitu pula energi untuk mencintai dan membangun negeri ini tidak pudar ataupun lenyap, hanya berubah bentuk seiring perubahan zaman.

IIP - Ikatan Indonesia (indonesia.devinatart.com)

Mungkin berbagai perayaan dan upacara telah memudar, tetapi itu karena semangat dan kecintaan tersebut perlahan mulai meresap ke dalam raga. Bukan lagi tampak di permukaan. Mereka meresap ke dalam raga, dan keluar dengan caranya masing-masing. Melalui lagu, melalui puisi, melalui seni jalanan, melalui jejaring sosial, melalui iklan, melalui ekspresi, dan melalui kerja keras. Ya, kerja keras sehari-hari demi membangun negeri yang kita perjuangkan bersama.

Menumpuk batu adalah pekerjaan yang membosankan. Bayangkan setiap hari menumpuk satu per satu batu, dan engkau mengulanginya setiap hari selama satu tahun saja. Kau akan mati kebosanan sebelum sampai di akhir tahun. Butuh semangat yang tinggi dan rasa cinta yang besar terhadap impian untuk terus menumpuk batu sebongkah demi sebongkah secara konstan dan konsisten terus menerus. Di akhir dari perjalanan nanti kita akan melihat sebuah bangunan megah, yang dibangun dari tumpukan batu yang konsisten yang kita lakukan sedikit demi sedikit. Itulah kerja keras.

Enam puluh delapan adalah waktu untuk berhenti sejenak menumpuk batu untuk melihat apa yang telah kita capai. Mungkin kita pernah melihat bangunan indah di masa lampau, namun bangunan tersebut kemudian hancur akibat kemalasan kita untuk merawatnya. Kemudian kita memutuskan untuk membangun ulang semua itu.

Mungkin kita hanya melihat tumpukan batu saat ini, tapi bukan berarti kita gagal. Kita hanya belum selesai membangun. Enam puluh delapan adalah waktu yang relatif. Sejenak kita berhenti untuk merenungi pencapaian kita dan mengingat kembali mimpi kita. Selanjutnya kita mulai lagi menumpuk satu demi satu, sebongkah demi sebongkah. Semangat dan doa mengalir di dalam darah kita. Teruslah produktif.

Senin, 26 Maret 2012

Bensin Naik Lagi

Bensin: Making the World Turn (officemr1980.deviantart.com)

Beberapa hari terakahir isu kenaikan BBM menjadi semakin panas. Berbagai aksi demonstrasi marak bermunculan di berbagai tempat. Bahkan beberapa pihak menuding adanya upaya makar. Di satu sisi TNI pun terpaksa keluar barak membackup POLRI dalam mengatasi demonstrasi yang jumlahnya semakin banyak. Ketidakpastian akan kebijakan itu sendiri dan berbagai macam spekulasi turut memperkeruh keadaan. Terlebih dengan adanya bumbu dari media massa dan partai oposisi yang sedang naik daun sehingga situasi politik menjadi  kian memanas. Namun entah mengapa Pak Presiden kita malah plesir ke negeri Komunis yang sedang mencoba menggenggam dunia.

Udah Pernah
Sebenarnya kenaikan BBM bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Beberapa kali kenaikan pernah terjadi namun tidak sepanas kali ini. Pada era Megawati masyarakat cukup maklum BBM dinaikkan karena situasi ekonomi sedang mengalami kesulitan. Sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri mengingat saat itu Indonesia sedang mengalami keterpurukan pasca krisis moneter 1998. Bukan itu saja, pada era SBY-JK harga BBM juga pernah naik. Hal itu dilatarbelakangi melambungnya harga minyak dunia. Maka saat itu masyarakat menjadi maklum dengan kenaikan tersebut.

Di sisi lain adalah bagusnya manajemen pengumuman kebijakan. Pada kenaikan-kenaikan sebelumnya pengumuman kebijakan tersebut langsung disampaikan secara gamblang dan tegas. Dilanjutkan dengan pelaksanaan yang dilakukan dalam waktu yang tidak berselang lama. Hal ini menyebabkan berbagai spekulasi dan penolakan tidak sempat tumbuh dan berkembang dengan liar. Sebuah ketegasan dari seorang pemimpin yang memberikan jaminan dalam bentuk kepastian masa depan, bukan keragu-raguan.

Memahami Oposisi
Mari kita kembali untuk memahami sebenarnya apa itu subsidi BBM. Subsidi BBM pada awalnya adalah selisih keuntungan hasil penjualan minyak Indonesia dengan pembelian minyak untuk konsumsi. Prinsip model seperti ini sebenarnya semi-sosialis dimana negara memberikan rakyatnya kemudahan dalam berbagai sektor termasuk BBM. Namun sayangnya selisih keuntungan tersebut semakin lama semakin menipis mengingat sumber daya alam minyak Indonesia yang juga semakin habis. Maka pada akhirnya subsidi tersebut justru membebani APBN karena harus diambilkan dari sektor penerimaan lain. (Lebih lanjut baca: Sedikit Mengenal Minyak Indonesia)

Namun dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sehat saat ini, pihak oposisi mempertanyakan alasan menaikkan harga BBM. Ketika APBN Indonesia sedang gemuk mengapa bisa muncul anggapan bahwa subsidi BBM membebani APBN? Jika anggaran yang direncanakan untuk subsidi kurang, mengapa tidak ditambah saja porsinya?

Selama ini BBM dianggap sebagai barang konsumsi saja. Padahal menurut pihak oposisi, BBM di satu sisi juga merupakan barang modal. Dengan adanya BBM murah maka perekonomian menjadi semakin maju dan berkembang. BBM murah juga memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Jadi mengapa tidak mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk subsidi BBM yang pada akhirnya akan dinikmati masyarakat banyak?

BBM sendiri juga telah menjadi salah satu barang pokok dalam kehidupan. Kenaikan harganya akan memiliki efek domino dan berpengaruh pada komoditi-komoditi lainnya. Inflasi akan meningkat, selain itu dikhawatirkan kenaikan harga ini akan memperburuk kondisi ekonomi dan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia.

Terlebih dengan adanya tuduhan kepentingan asing di balik pengurangan subsidi ini, maka isu kenaikan harga BBM ini menjadi semakin panas. Kenaikan harga BBM akan membuat selisih harga BBM pemerintah (yang dikelola pertamina) menjadi semakin tipis dengan BBM swasta (semisal Shell, Petronas, dsb) yang tentunya akan menguntungkan pihak swasta asing tersebut. Ditambah dengan adanya isu neoliberalisme yang bertujuan menghapus berbagai macam subsidi demi pasar bebas yang kurang memihak negara berkembang dan kurang sesuai dengan grand design negara Indonesia.

Sisi Lain
Di sisi lain anggaran subsidi BBM selama ini dianggap sebagai sebuah pemborosan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa BBM kebanyakan dinikmati kendaraan-kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum atau pegangkut barang. Terlebih dengan banyaknya pasaran kendaraan murah di Indonesia membuat konsumsi BBM menjadi semakin mengganas. Konsumsi BBM untuk kendaraan pribadi menunjukkan bahwa selama ini BBM lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah atas, yang notabene dianggap mampu secara ekonomi untuk membeli BBM tanpa subsidi.

Begitu juga dengan meningkatnya konsumsi BBM dan tidak diimbangi dengan produktivitas BBM Indonesia maka anggaran yang dibutuhkan semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya embargo Iran yang melambungkan harga minyak dunia sehingga beban APBN menjadi semakin besar. Anggaran sebesar itu dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, menjadi pertanyaan tersendiri apakah sudah tepat kebijaksanaan tersebut.

Maka dari itu sebagian ahli menyatakan bahwa alangkah lebih bermanfaatnya jika anggaran yang selama ini digunakan untuk membayar subsidi BBM dialihkan untuk hal-hal lain semisal pendidikan dan kesehatan. Hal inilah yang menguatkan dorongan untuk mengurangi anggaran yang dihabiskan pemerintah untuk mensubsidi harga BBM. Terlebih masyarakat kini mulai menyadari bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hal utama yang seharusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah.

Bijaksana
Perubahan memang kata-kata yang indah, namun bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan (baca: Perubahan #2). Perubahan selalu menimbulkan gejolak sosial, ibarat sebuah mangkuk berisi air yang dipindahkan (baca: Analogi Mangkuk). Terlepas dari prinsip mana yang anda pegang dalam menyikapi kenaikan BBM, maka ada hal-hal lain yang juga kita perlu cermati.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya kenyataan bahwa konsumsi BBM di Indonesia terlalu berlebiha. Terlebih karena kebanyakan BBM tersebut digunakan untuk kendaraan pribadi, dimana sebenarnya hal tersebut dapat ditekan. Misalnya saja dahulu ketika BBM mencapai angka enam ribu per liter, orang menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan BBM. Aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dihindari. Semisal sekedar membeli makanan dalam jarak dekat maka lebih disarankan untuk berjalan kaki atau bersepada.

Namu tidak saat ini. Jarak yang sangat dekat pun terkadang ditempuh dengan kendaraan bermotor karena kita terlalu malas. Pergi sendirian lebih memilih menggunakan mobil padahal sudah tentu mobil jauh lebih boros daripada BBM. Kita terlalu malas, dan kita terlalu manja. Kita menggunakan BBM dengan borosnya tanpa berpikir bahwa uang yang kita hamburkan dapat kita gunakan untuk kepentingan lain.

Maka dimana para aktivis lingkungan dadakan yang menyuarakan keselamatan lingkungan? Entah kenapa saya menjadi berpikir mungkin ada baiknya jika BBM dinaikkan. Sama seperti halnya terkadang kita harus mendapatkan sakit agar dapat bersyukur terhadap kesehatan yang kita dapatkan selama ini. Bijaksanalah. Bukan impian muluk untuk menyingkirkan kendaraan bermotor, tetapi hematlah semampu kita.

Minggu, 25 Maret 2012

Analogi Mangkuk

Apa yang terjadi jika sebuah mangkuk berisi air dipindahkan? Jawabannya adalah bergoyang. Seberapapun tenang air tersebut pada akhirnya ketika kita memindahkan mangkuk tersebut air di dalamnya akan bergoyang kesana kemari.

Itu lah perubahan. Perubahan selalu mengganggu ketenangan yang telah tercipta selama ini. Harmoni yang menentramkan jiwa manusia. Itu juga yang membuat masyarakat Jawa tidak terlalu suka dengan perubahan.

Namun kini orang berkata perubahan itu pasti. Lalu bagaimana seharusnya perubahan itu terjadi? Ibarat memindahkan mangkuk berisi air agar tidak tumpah, ada dua cara yang perlu dilakukan. Pertama adalah perbesar mangkuknya agar mampu menghadapai perubahan. Kedua pindahkan secara perlahan, jangan sampai mengganggu ketenangan yang ada.

Bagaimanapun juga kita tidak pernah ingin menjadi orang yang tumpah sebagai tumbal dari perubahan, pun orang lain juga serupa. Maka bijaksanalah dalam merancang perubahan.

kubes.net


*) analogi ini saya pelajari dari seorang teman yang mengajarkan kebijaksanaan kepada saya tentang apa arti perubahan

Jumat, 16 Maret 2012

Siapa Durhaka?

Masa remaja merupakan masa dimana kita merasa sebagai pribadi yang telah dewasa dan mapan. Kita cenderung memberontak, melawan hukum-hukum serta aturan yang ditetapkan orang tua kita. Membangkang, atau bahkan berdiri di hadapan sembari menunjuk-nunjuk dengan jari teracung seolah mereka musuh kita.

Meski pada akhirnya kita akan kembali tunduk di meja makan ketika lapar dan memakan makanan yang disediakan musuh kita tersebut. Tidur dalam kehangatan dan kenyamanan rumah yang setiap jengkalnya dibangun oleh mereka. Pada akhirnya kita tetap tidak bisa hidup tanpa mereka.

Kita hanyalah anak kecil yang merasa sok berkuasa dan menganggap diri paling hebat. Sampai pada akhirnya kita menyadari bahwa diri kita bukanlah apa-apa tanpa mereka, dan juga di mata Tuhan. Kita terlalu asyik daalam imajinasi mimpi yang kita bangun disaat diri kita bahkan belum sanggup meneteskan keringat. Kita memang masih remaja dan kita masih bergantung.

...

Begitu pula sebagai rakyat kita masih remaja ...
Lalu jika demikian siapa yang durhaka?

Waktu Masih Jagoan (sndjitotok.deviantart.com)

Selasa, 21 Juli 2009

prahara dua jendral

Siapa yang tidak kenal dengan Susilo Bambang Yudhoyono? Jendral bintang empat ini setelah mengakhiri karir militernya berhasil menjadi orang nomer satu di Indonesia. Bukan hanya itu, dalam pilpres tahun 2009 ini pun beliau diperkirakan akan menang telak dari lawan-lawan politiknya dalam pilpres satu putaran (untuk kepastiannya mari kita tunggu hasil dari KPU). Dengan jabatannya sebagai Presiden RI dimana memegang komando tertinggi militer tentunya jendral yang satu ini tentu sangat besar pengaruhnya di Indonesia bukan hanya dalam bidang militer, namun mencakup seluruh aspek kehidupan yang ada.

Namun kita tentunya tidak dapat menutup mata bahwa ada satu jendral lagi yang memiliki pengaruh cukup besar pada Negara ini pada saat ini. Meskipun beliau hanya jendral bintang tiga yang diberhentikan bersamaan dengan lengsernya orde baru, tetapi kemunculannya kembali ke dalam kancah politik ternyata cukup menyedot perhatian masyarakat. Meskipun beliau tidak menduduki jabatan apapun dalam kemiliteran saat ini, namun sebagian masyarakat percaya bahwa banyak anggota TNI maupun purnawirawan yang bersedia berada di bawah komando beliau bila diinginkan. Bahkan sebagiann masyarakat percaya bahwa jika beliau menginginkan sebuah kudeta, maka pastilah terjadi. Jendral itu bernama Prabowo Subianto.

Kedua Jendral ini memiliki karakteristik yang bisa dikatakan cukup bertolak belakang satu sama lainnya. Dimana SBY terkenal dengan sifatnya yang charming, lembut, dsb maka Prabowo Subianto justru tampil dengan sifatnya yang keras, blak-blakan, dsb.

Cita-cita serta visi misi yang dibawa pun tampaknya berbeda seratus delapan puluh derajat. Ketika SBY muncul dengan angin perubahan pasca reformasi, Prabowo Subianto justru muncul dengan harapan akan kejayaan masa lalu dan kembali kepada kodrat kita yang seharusnya. Selain itu tentunya masih banyak hal yang berbeda diantara kedua jendral tersebut.

Mengapa saya membanding-bandingkan kedua jendral tersebut? Saya rasa tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat rivalitas yang cukup kuat diantara keduanya. Bahkan bisa dibilang satu dengan lain pun mengakui posisi masing-masing dan berebut pengaruh dalam militer.

Lihat saja ketika SBY dalam kampanye bercerita tentang kinerja tim suksesnya yang semi intelejen pun itu dilakukan dengan alas an untuk menyaingi Prabowo. Ini bukti bahwa secara tidak langsung beliau (SBY) mengakui kemampuan Prabowo dalam hal intelejen dan militer.

Hal lainnya adalah ketika pidato kenegaraan SBY pasca bom Marriot kedua yang oleh sebagian masyarakat ditafsirkan sebagai tuduhan terhadap rival politiknya (saya juga tidak tahu bagaimana sebenarnya maksud dari pidato tersebut, marilah kita berpikir positif saja dalm hal ini) maka tokoh yang secara tidak lanngsung dituduh adalah Prabowo Subianto, padahal jujur saja bahwa rival politik SBY bukan hanya Prabowo Subianto. Beliau juga bukan satu-satunya jendral yang berkecimpung dalam bidang politik (sebut saja Wiranto dsb).

Intinya adalah pasca kemunculan kembali Prabowo Subianto dalam kancah politik negeri ini yang justru membawa hal yang cukup bertolak belakang dengan Susilo Bambanng Yudhoyono maka akan membawa warna baru dalam NKRI minimal untuk lima tahun mendatang. Saya tidak akan membanding-bandingkan mana yang lebih baik diantara keduanya karena bagi saya memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dan memiliki pengikut masing-masing. Hanya saja pengaruh Prabowo Subianto dalam militer dan politik serta rivalitas mereka berdua tampaknya akan cukup membuat prahara politik di NKRI antara kedua Jendral ini cukup menarik. Semoga mereka dapat memberikan pengaruh positif dalam kemajuan NKRI. Maju terus NKRI!!!

Blogged with the Flock Browser

Sabtu, 18 Juli 2009

Bom Marriot dan SBY

Ada sesuatu yang berbeda dari pidato SBY menanggapi kejadian bom di dua hotel di kawasan Mega Kuningan kemarin. Ntah memang ada hubungannya atau tidak, beliau membawa isu politik ke dalam kasus ini. Meskipun secara langsung beliau jangan berspekulasi tanpa ada bukti yang jelas, namun beliau justru membahas hal ini cukup serius. Bahkan beliau menunjukkan beberapa data intelejen yang didapatnya.

Ketika beliau membahas isu tentang ABS di jajaran TNI Polri yang justru niatnya diredam malah menjadi semakin meluas beredar. Sama halnya dengan isu pihak-pihak yang tidak suka tersebut justru malah diekspos dan secara tidak langsung ada kemungkinan diindikasikan adanya keterlibatan terhadap kejadian ini. Mungkin lebih bijaksana jika isu ini tidak dibahas dalam pidato tersebut karena dapat memanaskan kembali suasana politik yang makin mendingin pasca pilpres.

Sebenarnya jika SBY tidak membahas hal ini maka tuduhan akan langsung dialamatkan kepada komplotan Dr. Azhari (tidak termasuk di dalamnya Ayu Azhari dan Rahma Azhari) dan Noordin M. Top. Tentu saja yang akan ikut kena getahnya lagi-lagi adalah Islam. Akan tetapi dengan diangkatnya isu ini dalam pidato beliau maka perhatiann kita beralih pada pihak-pihak yang tidak suka kepada SBY. Tentu saja secara tidak langsung diangkatnya isu ini cukup menguntungkan Islam karena tidak dijadikan kambing hitam lagi dalam kasus ini (meskipun sebenarnya Islam tidak pernah memiliki kaitan apapun terhadap terorisme, namun pendapat masyarakat yang ada saat ini cukup memojokan dunia Islam).

Tentu saja kita juga harus mencari tahu lebih dalam lagi apakah gerakan anti-SBY ini adalah rasa tidak suka secara SBY personal atau tidak suka kepada Presiden RI. Jika SBY sebagai Presiden RI maka yang akan dituduh adalah pihak-pihak yang tidak suka kepada NKRI misalnya gerakan separatis, pihak asing, dsb. Sedangkan jika yang dimaksud SBY disini adalah secara personal maka tuduhan tersebut bisa saja dialamatkan salah satunya adalah kepada rival politik SBY. Jika memang demikian maka tentunya itu sangat berbahaya.

Apapun yang terjadi kejadian ini cukup mennganggu terhaadap stabilitas di Indonesia dari berbagai bidang. Apalagi setelah sebelumnya juga terjadi beberapa kejadian penyerangan di Papua oleh pihak yang sampai saat ini belum dapat dipastikan. Dengan adanya serangan bom dari pihak yang juga belum dapat dipastikan tersebut tentunya juga menambah stabilitas pemerintahan yang ada. Marilah kita berpikir postif dan jangan terpecah belah. Anggap saja ini ulah dari pihak-pihak di luar NKRI dan janngan terlalu mempolitisir kasus ini. Semoga kebenaran segera ditegakkan. Wallahu a’lam.

Kamis, 09 Juli 2009

nasib oposisi

Pilpres belum berakhir, namun hasil dari quickcount beberapa lembaga survey telah menunjukkan bahwa pilpres hanya akan satu putaran. Bahkan joke bahwa SBY dipasangkan dengan sandal jepit pun tetap akan menang kini mulai banyak dipercaya. Saya tidak akan membahas banyak mengenai pemilu tetapi bagaimana nasib Negara ini ke depannya.

Seperti telah diketahui bahwa pada pilpres 2009 ini SBY berhasil membangun sebuah koalisi raksasa yang terdiri dari partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, PKB, serta beberapa partai nol koma lainnya yang jika ditotal semuanya berjumlah lebih dari 50% dari kursi di legislatif.

Belum lagi melihat hasil pilpres kemarin dimana Jusuf Kalla yang merupakan representasi partai Golkar meengalami kekalahan telak. Ini menunjukkan adanya perpecahan yang sangat besar dalam tubuh partai Golkar sendiri sehingga komitmen Partai Golkar yang telah dibangun sebelumnya oleh PDIP untuk bersama-sama menjadi oposisi makin dipertanyakan. Apalagi melihat sejarah partai Golkar yang selama ini selalu menempel pada pihak penguasa serta sikap dari sebagian petinggi partai Golkar yang dari jauh-jauh hari telah menunjukkan dukungannya kepada SBY. Maka tidak heran jika nantinya dalam perjalanannya Golkar justru merapat pada Demokrat.

Sedangkan partai yang sudah dapat dipastikan akan menjadi opossi adalah PDIP melihat dari sikapnya selama 5 tahun pemerintahan yang lalu pasti juga akan melakukan hal yang sama, dan Partai Gerindra dimana sejak jauh-jauh hari salah satu tokoh utama partai tersebut, yaitu Prabowo Subianto telah menyatakan anti terhadap kubu Cikeas. Sedangkan Hanura sendiri masih dipertanyakan sejauh mana Wiranto akan mengambil sikap dalam pemerintahan ke depan. Namun kemungkinan sikap Hanura tidak akan jauh berbeda dari nasib Golkar dalam mengambil posisi.

Ini tentunya akan berpengaruh banyak dalam jalannya pemerintah ke depan dimana kemungkinan tiap kebijakan pemerintah akan lebih mudah disetujui oleh legislatif. Permasalahannya adalah ketika legislatif dipenuhi oleh partai pendukung pemerintah ditakutkan oleh sebagian pihak bahwa nantinya legislative hanya akan menjadi tukang stempel terhadap segala kebijakan pemerintah dan kurang bisa melaksanakan tugasnya sebagai pengkritisi kebijakan pemerintah. Dan melihat kenyataan yang terjadi selama ini memang begitulah kenyataannya.

Ini tentunya akan sangat berbhaya ketika eksekutif memiliki kekuasaan penuh terhadap NKRI tanpa adanya legislatif yang menyeimbangkannya. Bukan hal yang mustahil akan muncul neo orde baru (sudah pake baru masih neo?) dimana Presiden memliki kewenangan penuh. Apalagi sebagian pihak juga menilai tindakan SBY akhir-akhir ini terkesan terlalu jumawa dan mulai menunjukkan sikap otoriternya.

Jadi melihat realita dan beberapa prediksi yang ada, kemungkinan besar DPR nantinya kurang optimal dalam mengkritisi setiap kebijakan pemerintah mengingat jumlah oposisi yang sedikit yang tentunya akan kalah suara.

Meskipun pihak oposisi di dalam lembaga legislatif melemah, namun saya melihat semakin menguatnya oposisi dalam masyarakat kita yang vokal. Jika kita cermati, menjelang pilpres kemarin masyarakat kita yang sering vokal terhadap keadaan bangsa (para penngamat dsb) banyak yang murtad dari yang sebelumnya mendukung SBY menjadi berbalik arah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya tulisan dan tayangan yang mengkritik kebijakan pemerintah. Sebagian masyarakat inilah yang memiliki potensi untuk menjadi pihak oposisi nantinya.

Meskipun jumlah mereka relatif cukup sedikit dibanding jumlah masyartakat Indonesia secara keseluruhan yang mayoritas mendukung SBY, namun posisi mereeka cukup strategis dalam membentuk opini publik. Sebab sebagian dari orang-orang yang murtad tersebut adalah figur publik. Sebagai sebuah contoh lihatlah para pengamat politik (diluar tim sukses SBY) yang mengatakan bahwa kemenangan SBY lebih karena pencitraannya, secara tidak langsung mereka mengatakan bahwa kualitas SBY tidak sebagus pencitraannya.

Selain itu ada lagi golongan oposisi yang selama ini terlupakan. Mereka adalah golongan putih yang dalam pileg kemarin mencapai angka 40%. Jadi bisa dikatakan bahwa pendukung SBY yang riil hanyalah 60% dari 60% sisanya setelah jumlah seluruh penduduk dikurangi angka golput yaitu sekitar 36%. Tentu saja mereka yang Golput adalah mereka yang kecewa terhadap pemerintahan selama ini. Maka dapat dikatakan angka riil para pendukung pemerintah sebenarnya hanya berkisar 36% atau tidak lebih dari 40%.

Dengan bertambah banyaknya pihka anti SBY di kalangan figur masyarakat kita tentunya mereka berpengaruh besar dalam menggerakkan massa anti pemerintah yang jumlahnya banyak. Jadi secara umum, menurut ke depan pemerintah akan lebih banyak dikritisi langsung oleh masyarakat dibandingkan oleh lembaga legislatif. Jadi pemerintah jangan jumawa dahulu, bisa jadi jika mereka membuat kesalahan fatal tidak hanya dikritisi oleh legislatif, namun bisa jadi lanngsung digulingkan oleh rakyatnya. Berhati-hatilah.

Blogged with the Flock Browser

Sedikit Mengenal Minyak di Indonesia

Bahan Bakar Minyak sudah menjadi bagian utama dari kehidupan manusia modern saat ini. Betapa tidak karena listrik, kendaraan, dan sebagainya sangat bergantung dengan benda yang satu ini. Sehingga tidak heran ketika harga benda ini sedikit berubah pun berpengaruh cukup banyak terhadap perekonomian modern.

Di Indonesia sendiri, selama ini kita mengenal bahwa negara ini merupakan salah satu penghasil minyak dunia. Negara ini pernah (dan masih?) bergabung dengan organisasi negara pedagang minyak dunia yang disebut OPEC. Namun konon katanya kita juga merupakan salah satu negara pengimpor minyak terbesar di dunia (nah lo??). Kita juga seringkali mengenal istilah subsidi BBM. Konon katanya sih BBM di negara kita telah disubsidi pemerintah. Untuk itu marik kita bahas sedikit dari permasalahan minyak di negeri kita ini.

Negara Pengekspor Minyak

Apakah benar negara kita merupakan salah satu pengekspor minyak? Jawabannya adalah iya. Lalu apakah negara kita juga negara pengimpor minyak? Jawabannya juga iya. Bagaimana bisa?

Kandungan minyak di Indonesia adalah salah satu dari jenis minyak yang terbaik di dunia. Tetapi apa yang beredar di masyarakat bukanlah minyak dari negara kita sendiri. Pemerintah menggunakan sistem ekspor-impor. Minyak kita (yang konon katanya lebih bagus dan tentunya lebih mahal itu) dijual ke luar negeri. Kemudian pemerintah membeli minyak lain yang lebih murah untuk digunakan di dalam negeri. Tentu saja harapannya itu semua demi alasan ekonomi.

Akan tetapi meskipun harga di atas kertas antara minyak yang kita jual dan kita beli terdapat selisih harga, namun setelah dikenai biaya lain-lain (transportasi dsb) ternyata justru biaya beli kita lebih mahal dari harga minyak yang kita jual. Anggap lah harga minyak kita 1000. Lalu kita beli minyak lain yang harganya 800. Namun pada kenyataannya harga minyak terseut setelah dihitung dengan ongkos jerigen dan sebagainya justru 1100. Oleh karena itu kini sebagian pihak mempertanyakan alasan kebijakan pemerintah dalam ekspor-impor minyak karena dalam prakteknya justru kita terus merugi. Mungkin sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan ekspor-impor tersebut.

Subsidi BBM

Apa yang terbayang dalam kepala kita ketika mendengar istilah subsidi BBM? Pemerintah mengalokasikan sebagian pendapatannya dari sector pajak atau apapunlah untuk memberikan subsidi pada masyarakat. Oleh karena itu wajar jika akhir-akhir ini pemerintah menghapuskan subsidi BBM (malah justru mengambil untung dari BBM penjualannya) karena dianggap memanjakan rakyatnya, terutama golongan menengah ke atas.

Sebenarnya itu tidak bisa dibilang benar, namun disebut salah juga tidak tepat. Apa yang disebut subsidi BBM yang sebenarnya adalah selisih harga minyak di dalam negeri dengan harga minyak dunia.

Pada awalnya Negara kita memproduksi minyak jauh lebih banyak dari konsumsi masyarakat. Selisih ini tentunya memberikan keuntungan dan keuntungan inilah yang digunakan sebagai apa yang biasa kita sebut sebagai “subsidi”. Sehingga menurut saya mungkin istilah subsidi kurang tepat digunakan karena yang terjadi bukanlah subsidi melainkan kita menikmati hasil kekayaan alam kita sendiri. Jadi istilah penghapusan subsidi demi kemandirian bangsa saya rasa juga kuranglah tepat.

Mengapa kita harus mengikuti harga orang lain untuk barang kita sendiri? Pertanyaan itulah yang seringkali ditanyakan oleh para ekonom radikal dan menuduh pemerintah yang mulai dimasuki paham neo liberal. Ini juga yang menjadi dasar beberapa pihak yang mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia seharusnya tidak perlu diikuti dengan kenaikan harga minyak dalam negeri. Karena logikanya meskipun pengeluaran kita untuk membeli minyak bertambah akan tetapi dengan kenaikan harga tersebut tentunya pemasukan kita juga bertambah dari hasil penjualan minyak. Dengan asas menikmati hasil kekayaan alam sendiri tentunya tidaklah tepat penghapusan subsidi BBM oleh pemerintah.

Kembali pada masalah produksi dan konsumsi. Namun dalam perjalanannya selisih jumlah produksi dengan jumlah konsumsi yang kian lama makin berkurang (bahkan pada sekitar tahun 2004 bisa dibilang “defisit” dalam arti jumlah konsumsi lebih banyak daripada jumlah produksi). Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan selain itu faktor utamanya adalah sudah tuanya sumur-sumur minyak kita sehingga kapasitas produksinya menurun.

Oleh karena itu kini pemerintah sedang giat-giatnya mengurangi konsumsi minyak kita melalui konversi energi. Selain itu juga telah dimulai usaha-usaha pembukaan sumur-sumur minyak baru di Indonesia.

Minyak Dikuasai Asing

Salah satu isu yang paling sering dibahas di Negara ini adalah pengelolaan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tentunya dalam hal ini kita akan membahas tentang minyak.

Seperti telah diketahui dan menjadi rahasia umum bahwa memang banyak sumur-sumur minyak kita dikuasai asing. Hal ini dikarenakan biaya pengeboran minyak bukanlah suatu hal yang murah, dan pemerintah tidak mau ambil resiko dalam hal ini. Bayangkan saja, biaya untuk pengeboran awal saja sekitar 25-30juta dolar amerika. Dan itu juga belum lagi resiko bahwa tempat tersebut ternyata tidak ada kandungan minyaknya. Karena katanya bisnis minyak adalah bisnis yang untung-untungan. Tidak ada jaminan pasti suatu temapat ada sumber minyaknya atau tidak. Belum lagi biaya tenaga ahli dan peralatan yang sangat mahal.

Oleh sebab itulah pemerrintah lebih memilih bekerjasama dengan para investor dikarenakan resikonya yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Dalam hal ini mengapa investor asing adalah karena bisnis minyak adalah bisnis dengan resiko tinggi yang kurang diminati oleh investor dalam negeri sehingga tidak heran jika yang lebih banyak berkecimpung dalam bisnis ini adalah investor asing.

Penutup

Sebagai penutup seperti sebelumnya, saya akan mengutip sepenggal dari konstitusi negara kita. Dalam hal ini adalah pasal 33 UUD 1945.

BAB XIV
KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Mari kita tengok kembali apakah pemerintah telah melakukan apa yang diamanatkan dalam konstitusi dasar Negara kita. Apakah minyak sebagai salah satu cabang produksi penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak telah dikuasai oleh pemerintah sesuai amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 ataukah justru dikuasai swasta dan pihak asing sesuai harapan paham neo liberal? Apakah sumber daya alam yang ada sudah digunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat ataukah pemerintah lebih menyukai penghapusan subsidi? Apakah pemerintah lebih menurut pada UUD 1945 ataukah lebih menuruti consensus Washington?

Siapapun presidennya, semoga permasalahan ini mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Mari berharap demi kejayaan NKRI. NKRI Jayamahe!!!
Blogged with the Flock Browser