Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label informasi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Agustus 2012

Bekerja di Tambang


Bagi sebagian orang bekerja di perusahaan tambang merupakan impian tersendiri. Dengan iming-iming gaji tinggi, fasilitas lengkap, dan sebagainya sangat menarik hati terutama bagi mereka yang sangat mengejar materi sebagai kebutuhan hidupnya. Namun tidak banyak orang yang tahu seperti apa bekerja di perusahaan tambang sebenarnya.

Remote Area
"Kan enak kerja di tambang, gajinya gedhe"
Kebanyakan perusahaan tambang berada di daerah terpencil bahkan di remote area (minimal satu jam perjalanan dari perkampungan terdekat). Itu berarti disana fasilitas publik masih terbatas. Begitu juga fasilitas hiburan, makanan, perdagangan, dan sebagainya yang serba terbatas.

Hal ini yang sering dikeluhkan oleh para rekruiter perusahaan tambang: banyak orang menginginkan bekerja di tambang,tetapi tidak banyak yang bersedia ditempatkan di site. Kebanyakan pelamar ingin bekerja di perusahaan tambang namun mereka menginginkan ditempatkan di head office di Jakarta, Balikpapan, atau kota-kota besar lainnya.

Selain itu perlu dipertimbangkan juga bahwa gaji yang besar tersebut akan diimbangi dengan pengeluaran yang besar. Di daerah-daerah tambang biasanya harga barang kebutuhan dan makanan akan menjadi sangat mahal. Selain karena terbatasnya transportasi dan barang dagangan yang ada, asumsi bahwa perusahaan tambang sebagai perusahaan dengan banyak uang membuat para pedagang di sekitar berani memasang tarif tinggi untuk dagangan mereka. Jadi pada akhirnya semua akan sama saja.

Sistem Rooster
"Gakpapa kok di daerah terpencil, kan cutinya lama dan dapet biaya tiket perjalanan"
Sebagian lainnya beranggapan bahwa meskipun di daerah terpencil tetapi mereka berasumsi akan mendapat "jatah" cuti dan pulang ke daerah asal dengan penerapan sistem rooster. Kebanyakan beranggapan bahwa sistem rooster berupa 3 bulan kerja dan 2 minggu libur.

Tapi sayangnya tidak semua perusahaan tambang seperti itu. Sistem rooster biasanya digunakan oleh para kontraktor tambang, sedangkan owner tambang kebanyakan menggunakan sistem kerja reguler dimana 5 hari kerja/minggu dan 8jam/hari. Meski menggunakan sistem reguler, namun jatah cuti lebih banyak yaitu 14 hari cuti dan 6 hari home leave.

Sedangkan untuk sistem rooster sendiri jangan diangap sebagai suatu hal yang menyenangkan. Biasanya sistem rooster menggunakan model 13 hari kerja dan 1 hari libur. Itu berarti dalam dua minggu kita hanya akan mendapatkan jatah libur satu hari. Jatah libur lainnya akan diakumulasikan menjadi hari off dimana biasanya karyawan akan dipulangkan ke daerah asalnya.

Selain libur satu hari dalam dua minggu, jam kerja yang ada juga tidaklah menyenangkan. Bekerja di kontraktor seringkali anda berangkat paling siang pukul 6 pagi (beberapa bahkan sebelum subuh sudah berangkat) dan pantang pulang sebelum matahari terbenam. Belum lagi jika mendapat giliran untuk shift malam. Maka bisa anda banyangkan bagaimana kehidupan tambang sebenarnya.

Fasilitas Lengkap
"Bekerja di tambang kan enak, fasilitas lengkap"
Biasanya perusahaan tambang memberikan fasilitas lengkap untuk para karyawannya. Mulai dari tempat tinggal, makanan, laundry, transportasi (terbatas), fasilitas olahraga, dan sebagainya. Hal ini tampaknya menjadi suatu hal yang sangat menggiurkan.

Fasilitas-fasilitas ini sebenarnya sebagai bentuk "penghibur" atas minimnya sarana hiburan di daerah tersebut. Dalam artian fasilitas tersebut memang tersedia, namun hanya itu saja ang ada. Terlebih dengan beban kerja dan jam kerja yang ada bisa jadi kita tidak akan bisa terlalu sering menggunakan fasilitas tersebut.

Keamanan
Kebutuhan akan keamanan merupakan kebutuhan dasar kedua setelah kebutuhan fisiologis menurut piramida Maslow. Namun sayangnya bekerja di perusahaan tambang berarti anda harus siap untuk berhadapan dengan rasa tidak aman.

Perusahaan tambang merupakan perusahaan dengan kapital dan kemampuan teknologi tinggi. Namun sayangnya perusahaan semacam ini justru berada di daerah terpencil dan cenderung tertinggal. Dampaknya adalah munculnya ketimpangan sosial yang sangat tinggi dan rawan konflik sosial.

Meskipun banyak program pengembangan masyarakat dan bantuan telah dikucurkan, namun potensi konflik sosial masih tinggi. Maka dari itu ada kelakar bahwa demonstrasi sudah menjadi hal yang sangat lumrah terjadi di perusahaan tambang. Hal ini dikarenakan perusahaan dipandang masyarakat sebagai bongkahan emas di pedalaman hutan.

No Pain, No Gain
Apa yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa jangan pernah berpikir untuk bermalas-malasan dan mendapatkan hasil yang banyak. Hasil yang kita dapat nantinya sebenarnya adalah buah dari kerja keras kita sendiri. Dimanapun kita bekerja nantinya pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Sudah menjadi sunatullah kehidupan bahwa hasil berbanding lurus dengan usaha dan pengorbanan yang kita lakukan.Hal ini bahkan telah dijamin oleh Tuhan yang Maha Adil. Jadi jangan berharap akan mendapatkan hasil yang baik tanpa adanya usaha yang baik pula.

Bagaimanapun juga bekerja bukan sebatas mencari materi. Rasanya terlalu sayang jika kita manusia yang mulia ini harus tunduk dan menghamba pada materi. Lebih dari itu menurut saya bekerja berangkat dari hati. Setiap orang memiliki bidang kecocokannya masing-masing. Itulah yang paling utama, menemukan pekerjaan yang paling cocok dengan diri kita.

Minggu, 12 Agustus 2012

Mau jadi Spesialis atau Generalis?

Hidup adalah adalah tenteng memilih dan menjalani pilihan. Dan pilihan tersebut pada akhirnya akan mengarhkan pada pilihan lain dan pilihan lainnya lagi. Begitulah kehidupan yang berkisah tentang pilihan yang terus berputar hingga akhir hayat.

Dahulu ketika lulus kuliah saya dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan sekolah atau berkarir. Maka dengan hati yang mantap saya memutuskan untuk mengutamakan karir terlebih dahulu dengan segala pertimbangan yang ada. Namun ternyata pilihan tidak berhenti sampai disitu, masih ada banyak pilihan lain yang datang menghampiri silih berganti.

Choosing a Career (costalonga.deviantart.com)

"Mau jadi generalis atau spesialis, Dek?", sebuah pertanyaan yang menghentakkanku. Aku bahkan tidak tahu apa beda dari keduanya tersebut. Artikel ini akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya memasuki dunia kerja, dan saya harap pengalaman ini akan memberikan informasi dan pengetahuan kepada teman-teman yang nantinya juga melangkah ke dunia yang sama.

Menjadi Spesialis
Karir sendiri (setahu saya) dibedakan menjadi dua jenis: specialist dan generalist. Dari keduanya sebenarnya sudah nampak apa perbedaannya secara umum. Specialist mengarahkan seseorang memiliki keahlian khusus dalam satu bidang tertentu secara mendalam, sedangkan generalist mengarahkan seseorang memliki banyak keahlian sekaligus meskipun tidak terlalu mendalam.

Pada umumnya ada beberapa posisi yang menuntut spesialisasi, misalnya recruitment, engineer, surveyor, dan sebagainya. Posisi-posisi spesialis ini biasanya memiliki embel-embel semisal junior atau senior di depan jabatan mereka. Misalnya Junior Recruitment Officer atau Senior Surveyor.

Pemberian nama junior atau surveyor ini biasanya digunakan untuk menunjukkan tingkatan karir dari si pemegang jabatan tersebut. Hal ini dilakukan karena dalam bidang spesialisasi si pemegang jabatan tidak akan pernah berganti pekerjaan. Misalnya seorang spesialis dalam bidang rekruitmen akan terus menerus melakukan pekerjaannya sebagai rekruiter. Yang membedakannya hanyalah levelnya. Untuk level junior mungkin hanya diperbolehkan mengurusi administrasi atau mungkin melakukan rekruitmen untuk tingkatan freshgraduate. Sedangkan untuk posisi-posisi level atas misalnya supervisor atau superintendent mungkin hanya senior recruitment officer yang diperbolehkan melakukan rekruitmen.

Bahkan jika kita memang sudah benar-benar menjadi spesialis dalam bidang tersebut, bisa jadi puncak karir dari spesialis adalah menjadi seorang advisor. Para spesialis ini memang jarang yang kemudian menduduki posisi puncak dalam organisasi, tetapi spesialisasi mereka menjadi harga tersendiri yang sangat dibutuhkan organisasi.

Meski demikian belakangan ini banyak organisasi yang menghapus penggunaan kata junior atau senior pada jabatan-jabatanyang ada dalam perusahaan mereka. Salah satu pertimbangannya adalah karena faktor gengsi. Tentu akan lebih membanggakan jika dua orang karyawan dari dua organisasi berbeda bertemu dan yang satu mengatakan sebagai recruitment officer dibandingkan junior recruitment officer meskipun mungkin sebenarnya keduanya memiliki kedudukan dan fungsi yang sama.

Lalu bagaimana membedakan posisi mereka? Setiap perusahaan biasanya memiliki sistem evaluasi pekerjaan mereka masing-masing. Dimana dari evaluasi tersebut dapat kita ketahui level dari masing-masing posisi dibandingkan posisi lainnya. Posisi ini biasanya ditunjukkan menggunakan angka. Maka dalam beberapa organisasi mereka membandingkan satu posisi dengan posisi lainnya melalui angka level tersebut daripada nama jabatan itu sendiri.

Menjadi Generalis
Apabila dengan menjadi spesialis membuat kita ahli dalam satu bidang tertentu.Maka menjadi generalis mengarahkan kita memiliki beberapa keahlian tertentu sekaligus. Para generalis diarahkan untuk menduduki posisi-posisi puncak perusahaan. Dimana posisi tersebut tentunya membutuhkan beberapa keahlian sekaligus. Untuk menjadi CEO misalnya harus memiliki kemampuan dalam keuangan, administrasi, produksi, dan sebagainya.

Oleh karena itu karir para generalis cenderung berpindah-pindah posisi agar nantinya ketika menjadi seorang pemimpin sudah memiliki pengetahuan dari masing-masing bagian yang dibawahinya. Kemampuan utama yang harus dimiliki seorang generalis cenderung ke arah kemampuan maanjerial dibanding kemampuan yang sifatnya khusus. Meski demikian perpindahan tersebut cenderung dalam satu bidang yang sama atau mirip.

Posisi-posisi generalis ini biasanya tidak memiliki embel-embel junior atau senior pada jabatannya. Meski demikian trend saat ini dimana banyak organisasi seringkali menghapuskan kata junior dan senior dalam jabatan spesialis mereka membuat kita kebingungan dalam mendeteksi suatu jabatan apakah hal tersebut mengarah kepada spesialisasi atau generalisasi.

Dalam kondisi seperti ini lebih baik tanyakanlah kepada bagian HR. Karena setiap jabatan memiliki career path masing-masing. Career path ini juga yang nantinya menuntun kita dalam penyusunan Individual Development Program untuk masing-masing individu dalam perusahaan. Jangan sampai kita salah memilih jalan yang akan kita tempuh karena masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

Menentukan Tingkatan
Pertanyaan lain yang sempat membuat saya bingung dahulu adalah ketika seorang interviewer menanyakan kepada saya, "Dalam sepuluh tahun setelah ini, anda mau menjadi apa?". Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan umum dalam wawancara pekerjaan. Namun di saat itu saya baru benar-benar sadar bahwa saya tidak tahu apapun tentang tingkatan karir/hierarki organisasi.

Masing-masing organisasi memiliki strukturnya masing-masing. Tidak ada aturan khusus yang mengharuskan suatu organisasi menggunakan struktur tertentu dan menamai jabatan dalam organisasinya dengan standar tertentu. Meski demikian secara umum struktur perusahaan tersusun sebagai berikut (mulai dari yang bawah):

  1. clerk (untuk pekerjaan kantor)/ leadmen (untuk pekerjaan lapangan)/ frontliner (biasanya digunakan perbankan). Pada tingakatan ini biasanya diisi oleh lulusan SMA/SMK/D3
  2. analyst/ foreman (untuk pekerjaan di lapangan) /officer (untuk pekerjaan di kantor)/ junior ... (untuk karir spesialis). Posisi ini memungkinkan untuk dijabat freshgraduate level sarjana.
  3. supervisor (untuk generalis)/ nama jabatan tanpa embel-embel (untuk karir spesialis). Untuk menduduki posisi ini setidaknya di butuhkan pengalaman 2-3 tahun di bidang yang sama.
  4. superintendent (untuk generalis) / senior ... (untuk generalis). Seorang superintendent biasanya memimpin section atau bagian tertentu. Dalam bahasa Indonesia kita sering menyebutnya sebagai kepala bagian. Untuk menduduki posisi ini setidaknya memiliki pengalaman 5 tahun di bidang tersebut.
  5. manajer. Posisi ini memimpin beberapa section sekaligus dalam satu departemen. Untuk menduduki posisi ini setidaknya harus memiliki pengalaman selama 8-10 tahun di bidang yang sama.
Untuk level berikutnya penamaan posisi menjadi lebih relatif lagi sesuai struktur masing-masing organisasi. Struktur itu biasanya disesuaikan dengan bisnis organisasi dan kebijakan yang ada. Beberapa organisasi memiliki jenjang yang lebih pendek sementara organisasi lainnya lebih panjang.

Oleh karena itu tidak serta merta satu posisi yang memiliki nama yang sama di perusahaan berbeda memiliki tingkatan yang sama. Seorang manajer hotel tentunya memiliki level yang berbeda dibandingkan manajer perusahaan manufaktur. Hal ini dikarenakan bisnis dari masing-masing organisasi yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Begitu pula tentang batas minimal waktu yang harus ditempuh untuk naik ke tingkat berikutnya. Bisa dikatakan menjadi superintendent dalam lima tahun misalnya, merupakan sebuah karir yang termasuk pesat dan lancar. Bisa jadi kita akan menduduki posisi tertentu lebih lama daripada yang kita bayangkan. Ini semua kembali pada sistem dan diri kita sendiri.

Menghargai Diri Sendiri
Ketika masing-masing organisasi memiliki strukturnya sendiri. Bagitu pula kita harus bisa menentukan tujuan dari karir kita nantinya. Apakah akan menjadi seorang spesialis yang ahli dalam bidang tertentu atau generalis yang nantinya menjadi bagian dari kepemimpinan suatu organisasi.

Satu hal yang perlu dicatat adalah meski para spesialis kecil kemungkinan untuk menduduki posisi-posisi manajerial dalam organisasi bukan berarti mereka tidak dihargai. Para spesialis memiliki posisi yang sama pentingnya dalam suatu organisasi sama halnya para generalis. Begitu pula dalam hak-hak yang akan mereka peroleh.

Jadi ini semua kembali kepada pilihan kita masing-masing, sebagian orang cocok menjadi seorang pemimpin. Sedangkan sebagian lainnya mungkin lebih tertarik dan cocok untuk fokus dalam bidang tertentu dan menjadi spesialis. Maka kenali diri kita dan pilihlah jalan kita.

Minggu, 29 Januari 2012

Muslim dan Anjing

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar (atau lebih tepatnya membaca) tentang adanya pembantaian anjing di suatu daerah di Yogyakarta. Sebenarnya hal tersebut merupakan suatu yang jamak terjadi. Sudah menjadi rahasia umum dimana sering terjadi pembunuhan atau pembantaian terhadap anjing-anjing yang biasanya tidak sengaja lewat di suatu perkampungan muslim.
manusia lawan anjing (bountylist.deviantart.com)


Pada akhirnya hal tersebut menjadi suatu bentuk sentimen anti-muslim dimana seolah-olah orang Islam sangat sadis terhadap anjing. Padahal fenomena ini terjadi bukan sebagai bagian budaya Islam. Lalu bagaimana sebenarnya Islam sendiri memandang anjing dan bagaimana kita sebagai muslim harus menyikapinya?

Anjing dalam Islam
Satu hal yang selalu diasosiasikan terhadap anjing dalam agama Islam adalah sifatnya yang haram. Anjing seringkali disejajarkan dengan babi dimana disebutkan bahwa anjing haram untuk dimakan. Meski demikian anjing sendiri tidak seperti babi yang disebutkan secara gamblang dalam al qur'an tetapi hanya dimaktub dalam hadis. Hadis itu sendiri pun tidak menyebutkan anjing secara langsung melainkan disebutkan secara implisit sebagai bagian dari hewan yang bertaring.
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR. Muslim no. 1934)
Tetapi perlu diingat secara jelas bahwa sifat haram dari anjing hanya muncul dalam kasus untuk dimakan. Bukan berarti keberadaan anjing sendiri menjadi sesuatu yang haram. Jika tidak untuk dimakan, maka anjing sama seperti hewan lainnya yang tidak memiliki sifat apapun.

Hal lain yang selalu diasosiasikan terhadap anjing adalah najis. Anjing memang memiliki najis, namun itu hanya sebatas air liurnya saja dan bukan seluruh bagian dari tubuhnya. Najis sendiri adalah suatu kotoran yang harus dibersihkan jika ingin bersembahyang dalam ajaran Islam.

Sama seperti keharamannya, perihal tentang kenajisan air liur anjing tidak disebutkan langsung dalam al quran tetapi melalui sebuah hadis. Hadis tersebut menceritakan bagaimana sebuah bejana berisi air yang jika telah terkena air liur anjing harus dibersihkan terlebih dahulu. Dari hadis tersebut maka disimpulkan bahwa air liur anjing sifatnya najis.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda,`Bila seekor anjing minum dari wadah milik kalian, maka cucilah 7 kali. (HR Bukhari 172, Muslim 279, 90).
Meski demikian hendaklah tidak perlu berlebihan dalam menyikapi kenajisan tersebut. najis memang sesuatu yang kotor namun hal tersebut dapat disucikan. Sama halnya dengan tinja misalnya yang bersifat najis. Meskipun tinja najis, bukan berarti kita lantas menahan buang air seumur hidup untuk menghindari najis. Begitu pula dengan air liur anjing yang bersifat najis, yang perlu kita lakukan hanyalah membersihkannya.

Muslim memelihara Anjing
Banyak orang beranggapan bahwa seorang muslim tidak sepantasnya memelihara anjing. Hal ini disebabkan adanya hadis yang menyebutkan bahwa malaikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing. Keberadaan malaikat sendiri bukan sesuatu hal yang mutlak (malaikat harus ada), namun dipercaya bahwa keberadaan mereka dapat membantu mendoakan kita kepada Allah SWT.
Rasulullah bersabda: “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing (2), juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits sahih Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa'i dan Ibnu Majah]
Namun sebenarnya bukan berarti seorang muslim tidak boleh memelihara anjing. Memelihara anjing untuk berburu dan menjaga rumah misalnya adalah sesuatu yang jamak dilakukan di semua negara termasuk di jazirah arab dengan mayoritas muslim di dalamnya.

Rasulullah sendiri sebenarnya memperbolehkan sahabat untuk memelihara anjing untuk keperluan-keperluan tertentu semisal menjaga ladang dan berburu. Namun ada konsekuensi tertentu ketika kita memelihara anjing untuk keperluan diluar yang telah disebutkan yaitu berkurangnya pahala.
“Barangsiapa memanfaatkan anjing, bukan untuk maksud menjaga hewan ternak atau bukan maksud dilatih sebagai anjing untuk berburu, maka setiap hari pahala amalannya berkurang sebesar dua qiroth.” (HR. Bukhari no. 5480 dan Muslim no. 1574)
Lalu bagaimana dengan keberadaan anjing untuk menjaga rumah? Sebagian ulama berpendapat hal tersebut dibolehkan sedangkan sebagian lain berpendapat tidak boleh. Namun demikian keberadaan anjing di rumah sudah barang pasti menjauhkan keberadaan malaikat dan bahaya akan najisnya yang berkeliaran menjadi tanggung jawab tersendiri yang barang pasti bukan suatu hal yang mudah.

Itu berarti dalam Islam memelihara anjing untuk menjaga ladang dan berburu diperbolehkan selama anjing tersebut tidak berada di dalam rumah. Oleh karena itu sebaiknya jika ingin memelihara anjing untuk keperluan tersebut maka perlu dibuatkan tempat tersendiri.

Membunuh Anjing
Lalu bagaimana dengan hukum membunuh anjing seperti yang jamak terjadi di beberapa kampung muslim? Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa anjing sendiri sama seperti hewan-hewan lainnya kecuali dagingnya yang haram, air liurnya yang najis, dan keberadaannya di rumah yang mengganggu malaikat. Meski demikian pembunuhan terhadap anjing tidak dibenarkan.

Anjing memang salah satu hewan yang boleh dibunuh bahkan di tanah suci sekalipun namun sebatas jika anjing tersebut mengganggu dan membahayakan manusia. Jika bukan dari kedua hal tersebut maka tentunya haram membunuh makhluk Allah SWT dengan sia-sia.
"Lima jenis hewan yang harus dibunuh, baik di tanah haram maupun di tanah biasa, yaitu : ular, kalajengking, tikus, anjing buas dan burung rajawali" (H.R. Abu Daud)
Namun sekali lagi pembunuhan terhadap anjing bukanlah sesuatu hal yang dibenarkan kecuali ada alasan tertentu semisal membahayakan manusia. Perlu diingat juga tentang sebuah riwayat yang menceritakan bagaimana seorang wanita masuk neraka hanya karena membunuh kucing. Maka sudah tentu membunuh makhluk Allah SWT merupakan suatu dosa besar termasuk di dalamnya adalah membunuh anjing.

Ketakutan Berlebihan
Sebagai seorang muslim yang tumbuh besar di lingkungan muslim juga, saya menyadari betapa seringnya anjing dibicarakan dalam Islam bahkan dalam taraf tertentu saya menilainya sebagai sesuatu yang berlebihan. Anjing seringkali disamakan dengan babi, muslim-muslim ditanamkan tentang pentingnya isu anjing secara berlebihan sehingga dalam alam bawah sadar tertanamkan akan bahayanya anjing sebagai penyebab terhalangnya barokah dari Allah SWT.

Penanaman yang berlebihan hingga merasuk alam bawah sadar ini pada akhirnya menimbulkan suatu ketakutan atau kebencian terhadap anjing itu sendiri. Dalam istilah psikologis hal ini mungkin bisa disebut sebagai phobia.

Bagi sebagian orang mungkin akan menyangkal hal tersebut, namun gejala nyatanya tampak dalam perilaku sehari-hari muslim ketika berhadapan dengan anjing. Bahkan phobia ini seringkali dimanfaatkan oleh tentara-tentara AS dalam melakukan teror psikologis terhadap tahanan muslim, caranya dengan menghadirkan anjing di dekat mereka.

Keberadaan anjing sendiri pada akhirnya menimbulkan keresahan dan ketakutan yang berlebihan bahkan jika anjing tersebut tidak melakukan sesuatu apapun. Ketakutan ini sering diasosiasikan dengan ketakutan karena terkena najis dari air liurnya dan juga karena kebuasan anjing tersebut. Padahal tidak semua anjing buas dan membahayakan manusia.

Ketakutan inilah yang menurut pendapat saya mengarahkan berbagai pembantaian dan pembunuhan anjing atas nama agama. Pembunuhan dibenarkan atas dasar membahayakan manusia padahal belum tentu demikian yang terjadi.

Introspeksi
Maka perlu menjadi introspeksi diri kita sendiri dalam menghadapi anjing. Anjing tidak berbeda dengan makhluk Allah SWT lainnya. Kita boleh saja membelai atau memeluk hewan tersebut. Anjing tidak akan menjadi haram selama kita tidak memakannya dan jika pun karena suatu hal kita terkena liurnya maka tinggal dibersihkan saja.

Ingatlah cerita tentang bagaimana seorang pelacur dengan dosanya yang menumpuk bisa masuk surga karena memberi minum seekor anjing. Ingat juga bagaimana seorang wanita masuk neraka karena membunuh seekor kucing. Pada akhirnya itu semua menunjukkan bahwa bukan makhluk itu, tetapi perbuatan kita terhadap makhluk tersebut yang mengantarkan kita kepada surga atau neraka.
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (99:7-8) 


Jumat, 25 November 2011

Mengenal Pendidikan

Berawal dari berita beberapa waktu yang lalu dan tulisan seorang teman mengenai perbedaan dan perbedaan jalur sarjana dan diploma maka saya menjadi tergerak untuk menuliskan gagasan yang telah lama tertanam dalam benak saya. Gagasan ini sebenarnya telah saya singgung sedikit dalam tulisan saya sebelumnya namun saya ingin mengungkapkan gagasan tersebut dalam bentuk lain yang lebih terfokus (karena tulisan sebelumnya saya tulis untuk mengkritisi sebuah kebijakan waktu itu).

Masyarakat awam banyak yang kurang memahami tentang alur pendidikan kita. Semua pendidikan dianggap berjenjang dalam satu alur yag tidak bercabang. Mulai dari playgroup yang paling rendah hingga Doktor. Padahal dalam prakteknya terdapat percabangan pada tingkatan-tingkatan tertentu yang mengarah pada spesialisasi dan spesifikasi keahlian tertentu.

Ketidaktahuan ini berdampak pada kesalahpahaman terhadap tujuan pendidikan yang kita alami selama ini. Sehingga mucul anggapan bahwa pendidikan seringkali tidak sesuai dengan dunia kerja (meskipun perbedaan itu ada, namun tidak sebesar anggapan masyarakat yang salah kaprah). Selain itu muncul penyalahan terhadap sistem padahal kita sendiri yang salah masuk sistem. Ibarat kata kita menyalahkan supir bis karena tidak mengantar kita ke tempat yang kita inginkan, padahal kita sendiri yang salah naik jalur.

Dalam tulisan ini saya akan membahas berbagai bentuk pendidikan formal beserta tujuannya sehingga dapat memberikan gambaran kepada kita akan arah pendidikan kita nantinya.

bagan pendidikan


Taman Kanak-Kanak
Sebenarnya tingkatan pendidikan formal dimulai dari tingkat sekolah dasar. Akan tetapi dewasa ini di lingkungan perkotaan TK sendiri seolah menjadi bagian pokok dari pendidikan anak-anak. Bahkan tidak jarang TK dan playgroup dewasa ini memasukkan unsur-unsur akademis dengan sangat kental. Mulai dari bahasa Inggris, menulis, dan sebagainya.

Padahal TK sendiri merupakan jenjang peralihan dari kehidupan anak di rumah menuju kehidupan sosial sekolah. TK mengajarkan anak untuk bersosialisasi dengan orang lain. Jika sebelumnya sosialisasi anak hanya kepada keluarga dan kerabat di rumah, di TK anak diajarkan untuk bersosialisasi dengan teman sebaya dan orang asing. Itulah tujuan utama dari TK.

Sedangkan pendidikan mengenai baca tulis dan sebagainya sebenarnya hanya merupakan ekstra atau tambahan saja. Sayangnya kemajuan anak dewasa ini memaksa anak-anak balita untuk melakukan lebih dari itu. Orang tua seringkali memasukkan anaknya ke dalam TK tertentu agar pandai berbahasa Inggris, baca tulis dan sebagainya. Dalam taraf tertentu hal ini justru menjadi beban bagi anak tersebut.

Sekolah Dasar & Madrasah Ibtidaiyah
Dari sinilah seharusnya anak mulai belajar nilai-nilai akademis. Di SD anak diajarkan baca tulis dan dikenalkan dengan pengetahuan-pengetahuan yang sifatnya umum. Pengetahuan ini masih sangat mendasar dan hanya bersifat mengenalkan.

Namun akibat akselerasi zaman dewasa ini terjadi salah kaprah bahwa anak belajar baca tulis dari TK. Bahkan kemampuan baaca tulis menjadi syarat masuk sekolah dasar. Kemampuan yang seharusnya baru diajarkan pada tingkatan ini. Efek lainnya pengetahuan yang diajarkan di SD tidak lagi sebatas memperkenalkan tetapi lebih dari itu. Ini tentaunya menjadi beban bagi anak tersebut.

Selain SD dikenal juga Madrasah Ibtidaiyah pada tingkatan yang sama. MI sendiri merupakan jenjang yang sama dengan SD, hanya saja memiliki penekanan pada agama lebih dominan. Tujuannya tentu menciptakan ahli-ahli agama, ustad dan ulama. Mi sendiri berada di bawah Departemen Agama berbeda dengan SD yang berada di bawah Departemen Pendidikan. Hal yang sama juga dikenal pada tingkatan selanjutnya yang dikenal dengan MTS dan MAN.

Meski demikian pada prakteknya penekanan ini seringkali kurang tampak. Beberapa MI tetap lebih mengutamakan ilmu-ilmu umum daripada ilmu agama itu sendiri. Sehingga yang nampak bukan sekolah agama tetapi lebih kepada sekolah umum bernuansa agama.

Sekolah Menengah Pertama & MTS
Pada tingkatan ini pengetahuan diajarkan secara utuh. Berbagai cabang ilmu utama diajarkan kepada para siswa. Tujuannya adalah mengantarkan siswa pada jenjang pendidikan berikutnya. Semua cabang utama diajarkan dan dikenalkan namun tidak secara mendalam.

Disinilah para siswa seharusnya mulai menentukan masa depannya. Pekerjaan apa yang dia inginkan, ilmu apa yang ingin dia pelajari, dan sebagainya sebaiknya sudah dipikirkan. Hal ini mengingat pada jenjang berikutnya telah terjadi percabangan dan spesifikasi.

Sekolah Menengah Kejuruan
Pada jenjang ini pendidikan formal mulai mengalami percabangan. Pada model SMK siswa diarahkan pada pendidikan mengenai keterampilan-keterampilan praktis dalam bekerja. Keterampilan ini pun terspesifikasi dengan sangat jelas terbentuk dalam jurusan-jurusan. Tiap-tiap jurusan mewakili keahlian-keahlian tertentu yang terspesifikasi. Lulusannya merupakan tenaga kerja terampil yang siap bekerja. Mereka memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai dalam bekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Hanya saja seringkali melekat stigma negatif pada jenjang pendidikan ini. SMK seringkali dicap sebagai sekolah untuk masyarakat menengah ke bawah. Penjelasan mengenai stigma ini akan dibahas lebih lanjut pada bagian berikutnya.

Sekolah Menengah Atas & MAN
SMA & Man memiliki tingkatan yang sama dengan SMK. Hanya saja instanti-instansi ini memiliki tujuan yang berbeda. Jika SMK mendidik siswa sebagai tenaga kerja terampil, SMA dan MAN sendiri hanya memperdalam ilmu yang diajarkan di SMP & MTS. Tujuannya hanya sebatas menyiapkan siswa untuk menuju jenjang pendidikan berikutnya.

Inilah yang sering tidak dipahami oleh masyarakat umum bahwa SMA memang tidak mendidik siswanya menjadi tenaga kerja. Jadi suatu hal yang sangat wajar jika lulusan SMA seringkali kurang siap menghadapi dunia kerja karena memang jenjang ini tidak mengarahkan siswanya menjadi tenaga kerja.

Diploma
Program pendidikan ini juga seringkali dianggap sama dengan prodi Sarjana dan hanya dibedakan oleh lamanya masa studi (bahkan dalam program D4 masa studinya sama). Padahal keduanya memiliki tujuan yang sangat berbeda. Diploma sendiri sedikit banyak mirip dengan jenjang pendidikan SMK. Dimana pada program pendidikan ini mengarahkan siswanya menjadi tenaga-tenaga kerja ahli terutama berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya teknis.

Lulusan dari jenjang pendidikan ini memiliki kemampuan dan keterampilan kerja yang sangat memadai dalam bidang teknis. Keahlian yang diajarkan lebih bersifat praktis dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan nyata. Dalam perusahaan-perusahaan dan instansi-instansi besar lulusan diploma dipercayakan untuk menangani hal-hal yang bersifat praktis atau langsung.

Sarjana
Lain halnya dengan Diploma, tujuan utama dari program pendidikan ini adalah menyiapkan siswa-siswanya menuju jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu Master (S2). Selain itu dalam beberapa ilmu tertentu lulusan jenjang ini dapat mengambil program profesi.

Jika dalam program Diploma ilmu-ilmu yang diajarkan bersifat praktis dan langsung dapat diterapkan, maka program Sarjana justru mengajarkan ilmu-ilmu yang bersifat teoritis. Hal ini dikarenakan program ini mengajarkan siswanya untuk mendalami suatu ilmu tertentu dan diharapkan untuk dapat mengembangkannya.

Meski demikian program ini mendidik siswanya untuk dapat melakukan analisa-analisa terhadap suatu permasalahan yang ada. Keahlian inilah yang seringkali dibutuhkan oleh instansi-instansi dan perusahaan untuk mengatasi masalah mereka. Oleh karena itu lulusan Sarjana biasanya ditempatkan sebagai analis dan tugasnya kurang begitu praktis dibanding program Diploma.

Persepsi yang Salah
Kesalahan persepsi juga terjadi dalam dunia kerja. Seringkali muncul anggapan bahwa pekerjaan terbaik adalah pekerjaan di balik meja dan bukan pekerjaan yang menggunakan keterampilan kasar. Anggapan ini memunculkan adanya satu pekerjaan terbaik di dunia ini dan di sisi lain ada satu pekerjaan terburuk. Semakin banyak keterampilan kasar yang digunakan maka semakin buruk pekerjaan tersebut, begitu pula sebaliknya. Pada akhirnya semua orang bercita-cita untuk mendapatkan pekerjaan di balik meja.

Gejala ini sangat tampak terutama pada petani. Para petani ramai-ramai menyekolahkan anaknya agar bisa mendapatkan pekerjaan yang "lebih baik" dan menjadi orang orang kantoran. Sebaliknya sangat jarang kita jumpai petani yang menyekolahkan anaknya agar dapat membantu meningkatkan hasil panen ayahnya.

Padahal tidak ada pekerjaan yang paling baik di dunia ini. Setiap orang memiliki karakter yang berbeda yang masing-masing memiliki kecocokan pada pekerjaan tertentu. Pada akhirnya pertanyannya bukanlah apa pekerjaan kita melainkan seberapa baik kita bekerja.

Jangan berpikir bahwa pekerjaan di balik meja selalu mendapatkan hasil berupa uang yang lebih besar. Tentu kita bisa saksikan berapa banyak pelukis, seniman, mekanik, pembuat kerajinan, ahli dekorasi, yang hampir semuanya lebih banyak menggunakan keterampilan kasar mendapatkan hasil yang jauh lebih banyak terhadap mereka yang duduk di belakang meja.

Maka yang harus kita lakukan adalah pahami sistem yang ada kemudian pilihklah jalan yang kita inginkan. Dan ingatlah bahwa yang terbaik adalah berada di tempat kita sendiri dan menjadi diri kita sendiri.

Senin, 22 Juni 2009

neo liberal dan UUD 45: mengapa dipermasalahkan?


Saya bukanlah seorang ahli ekonom, bukan juga negarawan. Saya hanyalah seorang ekonom instan dan nasionalis musiman. Tetapi saya mencoba untuk memahami apa itu neo liberal dan mengapa isu ini layak diperbincangkan

neoliberal dan sejarahnya


Dalam sebuah artikel yang ditulis di Revrisond Baswir (Tim Ahli Studi Ekonomi Kerakyatan UGM) dalam SKH Kedaulatan Rakyat (maaf saya lupa tanggalnya) telah dijelaskan bagaimana sejarah neoliberal itu sendiri. Namun sayangnya saya tidak berhasil menemukan artikel tersebut sehingga mohon maaf saya tidak dapat mengutipkan secara utuh namun saya akan berusaha menjelaskan seingat saya.
Ekonomi Neo Liberal sendiri lahir setelah faham ekonomi Liberal yang digagas Adam Smith dimana ekonomi tergantung sepenuhnya pada pasar dan pemerintah sama sekali tidak boleh campur tangan ternyata gagal. Kegagalan tersebut terbukti dengan adanya krisis dunia pada tahun 1940. Saat itu masayarakat mulai menyadari bahwa sistem ekonomi Liberal bukanlah yang terbaik.
Pada saat itulah muncul sistem ekonomi neo liberal yang memasukkan peran pemerintah dalam perekonomian namun hanya terbatas sebagai regulator saja (membuat dan menjalankan peraturan). Namun saat itu sistem ekonomi neo liberal sendiri kalah bersaing dengan konsep negara kesejahteraan sebagaimana digagas oleh John Maynard Keynes. Dalam konsep negara kesejahteraan, peranan negara dalam bidang ekonomi tidak dibatasi hanya sebagai pembuat peraturan, tetapi diperluas sehingga meliputi pula kewenangan untuk melakukan intervensi fiskal, khususnya untuk menggerakkan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja.
Jadi dapat disimpulkan dalam bahasa mudahnya bahwa sistem ekonomi neo liberal adalah pandangan dimana pemerintah hanya boleh campur tangan dalam hal regulasi dan perekonomian sepenuhnya diserahkan pada pasar.

UUD 1945


Hal yang berbeda terdapat dalam UUD 1945. Sistem perekonomian yang berdasar pada Pancasila dan UUD 1945 inilah yang seringkali disebut sebagai sistem ekonomi kerakyatan. Meskipunn seringkali berbagai pihak sering menafsirkannya berbeda (seperti halnya penafsiran sistem ekonomi neo liberal).
Dalam UUD 1945 pasal 33 tertulis:
BAB XIV
KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Perhatikan bagian yang saya garis bawahi. Hal ini tentu menunjukkan peran pemerintah sebagai pelaku dan penguasa sektor ekonomi tertentu dan tentunya itu bertentangan dengan faham neo-liberal dimana seharusnya pemerintah hanya boleh campur tangan dalam bentuk regulasi dan kegiatan ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada pasar. Inilah yang menyebabkan paham neo liberal seharusnya tidak dapat diterima di Indonesia karena konstiitusi kita telah mengamanatkan pandangan yang berbeda terhadap peran pemerintah dalam bidang ekonomi.

teori dan kenyataan


Dalam prakteknya, pembentukan BUMN adalah salah satu upaya perwujudan dari apa yang telah diamanatkan dalam konstitusi kita. BUMN merupakan bentuk penguaaan pemerintah terhadap sektor-sektor ekonomi yang menyangkut hajat hidup orang banyak.
Akan tetapi sejak masa orde baru penyelewengan terhadap konstitusi ini mulai nampak. Misalnya saja adalah sengan memberikan pengelolaan sumber daya alam kita kepada swasta (pasar). Ini tentu mencederai pasal 33 ayat 3 UUD 1945 dimana seharusnya hal tersebut dikuasai oleh negara dan digunakan semaksimal mungkin untuk kesejahteraan rakyat.
Indikasi penyelewengan lainnya adalah privatisasi 10 BUMN pada zaman Megawati dan 44 BUMN pada zaman SBY-JK. Apapun alasannya (misal: Megawati untuk membayar hutang, SBY-JK untuk efisiensi) tentunya hal itu merupakan suatu indikasi adanya pengalihan kegiatan ekonomi yang sebelumnya dikuasai oleh pemerintah ke tangan swasta. perlu dicermati yang dimaksud swasta (pasar) bukan berarti orang asing yang kaya raya, akan tetapi bisa saja orang dalam negeri bahkan orang miskin. Inilah yang seringkali oleh para ekonom radikal semisal Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli sebagai indikasi masuknya neoliberal dalam pemerintahan kita.

penyangkalan


Maraknya isu neo liberal dalam pilpres kali ini tentunya menimbulkan banyak penyangkalan. Akan tetapi salah persepsi kita dalam memahami masalah ini seringkali menciptakan penyangkalan yang tidak masuk akal.
Misalnya saja menyangkal dengan alasan kehidupan pelaku neo liberal yang jauh dari kemewahan, mendukung sistem syariah, pemberian BLT, perekonomian yang mandiri, dan PNPM mandiri serta berbagai program kebijakan yang berpihak kepada rakyat bawah.
Padahal inti dari permasalahan ini adalah pada sejauh mana Pemerintah dan Swasta turut campur tangan dalam perekonomian. Jika sektor-sektor penting dikuasai oleh swasta, meskipun swasta tersebut adalah dalam negeri atau bahkan orang miskin, tetap saja itu merupakan pencederaan terhadap konstitusi kita dan indikasi adanya praktek neo liberal. Apa artinya hidup sederhana tetapi semua sektor perekonomian dikuasai oleh swasta?
Seringkali kita mengidentikan ekonomi neo liberal dengan orang-orang hedonis yang kaya raya dan asing (meskipun mungkin pada prakteknya demikian) namun pada dasarnya hal itu merupakan pemahaman yanng salah yang menyebabkan kita terjerumus dalam kesesatan.
Semoga pemimpin kita nantinya adalah yang terbaik bagi bangsa ini. NKRI Berdikari!!!



tambahan: bagi orang-orang yang lebih berkompeten dalam bidang hukum dan ekonomi (atau yang berkaitan) sangat dinantikan kritikan dan masukan. Kritikan seperti apapun tidak akan saya anggap itu sebagai sesuatu yang tidak santun.

Sabtu, 09 Mei 2009

cerita tentang gula

Bagi warga Jogja mungkin saat ini agak sulit mencari gula pasir putih di pasaran. tetapi mungkin beberapa orang tidak akan menyadarinya. Bagi mereka selama minuman mereka massih manis mereka tidak peduli tentang hal itu. Toh ada pembanntu yang sudah siap menyediakan segalanya dan ada toko supermarket 24jam yang selalu lengkap. Tetapi percaya atau tidak, anda cari di beberapa toko besar pun anda akan kesulitan menemukan gula pasir putih.

Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah Indonesia saat ini sedang kekurangan gula? Saya teringat cerita seseorang tetangga saya yang kebetulan berjualan sembako. Sebenarnya bukannya tidak ada, melainkan tidak boleh dijual. tetangga saya tersebut berniat membeli gula untuk "kulakan" akan tetapi dia diperingatkan untuk tidak boleh menjualnya.

Mengapa? Apakah ini akal-akal para pedagang?Jawabannya mungkin tidak. Karena jika menjual ancamannnya adalah hukum pidana. Berarti ini entah ulah dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.

Saya teringat artikel beberapa hari yang lalu di suatu surat kabar di Jogjakarta (sebut saja KR) yang memberitakan bahwa sebuah pabrik gula yang cukup terkenal di Jogjakarta (sebut saja Madukismo) akan memulai penggilingan. Jika dugaan saya benar, maka hilangnya gula pasir putih dari pasaran mungkin adalah tindakan protektif dari pemerintah kepada industri gula nasional (karena gula buatan Madukismo berwarna agak kelabu).

Jika dugaan saya tersebut benar dan semoga saja benar, sungguh berbahagia sekali saya mendengar berita itu. karena memang sudah sepantasnya pemerintah melindungi pengusaha dalam negeri agar mereka bisa mempertahankan dan mengembangkan usahanya. Kalo perlu, embargo aja negara ini dari luar negeri agar pengusaha dalam negeri giat mengembanngkan usahanya dan masyarakat lebih menghargai produk negeri sendiri.

Lihatlah Iran, setelah mereka di embargo oleh Amerika justru mereka menjadi semakin mandiri. Kini mereka bisa membangun reaktor nuklir kita sendiri, mobil buatan mereka sendiri, dan sebagainya. Mungkin sudah saatnya kita embargo negara kita sendiri. Hentikan impor produk yang bisa kita produksi, dan yakinlah akan kekuatan the power of kepepet!!!

Kamis, 07 Mei 2009

Psychology of Nation



“Kehebatan suatu bangsa bukanlah dinilai oleh diri sendiri, tetapi merupakan hasil dari penilaian orang lain”
Oleh karena itu Fakultas Psikologi UGM bersama dengan Lembaga Mahasiswa Psikologi Fak. Psikologi UGM menyelenggarakan seminar nasional dengan tema: Psychology of Nation
Menjelang Pemilihan Presiden pada bulan Juli mendatang, politik menjadi sesuatu yang hangat dibicaraka. Menjadi sebuah daya tarik tersendiri untuk mengetahui bagaimana sebenarnya keadaan bangsa dan negara ini dari sudut pandang dalam dan luar negeri. Terlebih lagi dilihat dari kacamata ilmu Psikologi terutama Psikologi Politik yang jarang diperbincangkan oleh masyarakat umum.
Seminar ini mendatangkan Dr. Margaret Rueffer seorang ahli Psikologi Politik dari Peace Institute Switzerland sebagai pembicara utama. Beliau akan memberikan materi tentang Psikologi Politik dan pandangannya terhadap Indonesia dari sudut pandang luar negeri. Selain itu hadir pula sebagai pembicara adalah Prof. Djamaludin Ancok, Ph.D (Guru Besar fakultas Psikologi UGM), Prof. Dr. Faturrochman, MA (dekan fakultas Psikologi UGM), dan Dr. Parni Hadi (Presiden Direktur RRI).
Acara ini akan diselenggarakan pada:
hari/tanggal : ahad, 24 Mei 2009
pukul : 07.30 - 13.00 WIB
tempat : Auditorium Fakultas Psikologi UGM
acara : seminar nasional "psychology of Nation"

Untuk pendaftaran dibuka mulai tanggal 10-23 Mei 2009 di sekretariat Lembaga Mahasiswa Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Fasilitas yang tersedia berupa snack, seminar kit, sertifikat, dan makan siang. Untuk informasi lebih lanjut dapat mengirim email ke gagdongemail@yahoo.com atau menghubungi A'am (0857-2966-4447).

tambahan: bagi yang berminat untuk menjadi sponsor atau donatur bisa menghubungi Dyah (0899-5065-813) atau email ke gagdongemail@yahoo.com

Sabtu, 11 April 2009

Sekedar menjawab pertanyaan


Akhir-akhir ini saya banyak sekali ditanya oleh teman-teman saya. Mengapa saya berganti haluan? Mengapa saya dukung Prabowo? dan sebagainya. Daripada susah payah menjawab itu semua satu per satu maka saya putuskan menulis di note saya.

Pertama saya menyatakan saya tidak berganti haluan. Jika sebelumnya saya mendukung PKS karena dalam konteks legislatif.Dalam legislatif saya lebih percaya kepada kader-kader PKS. Hal itu karena
  1. tugas legislatif yang utama adalah mengawasi, dan dalam mengawasi kita perlu orang-orang yang bersih dan jujur.
  2. tugas lainnya dari legislatif adalah membuat peraturan dan menurut saya syarat mutlak dari pembuat peraturan adalah memiliki moral. tidak mungkin seorang pemabuk akan membuat peraturan tentang larangan mabuk-mabukan, tidak mungkin seorang perokok membuat aturan dilarang merokok, tidak mungkin pula seorang koruptor membuat aturan tentang korupsi.
  3. PKS adalah satu2nya partai politik yang memiliki jaringan baik yang terstruktur sampe ke bawah. Berbeda dengan paratai lain yang hanya berkumpul ketika menjelang pemilu.
  4. saya menjalani kehidupan saya di dalam lingkungan PKS sehingga saya cukup tahu tentang mereka (baik dan buruknya)
Oleh karena itu dalam PEMILU legislatif kemarin saya memilih PKS.

Kedua adalah kenapa saya mendukung Prabowo? Karena saya rasa ide-ide dan ideologi Prabowo lah yang mengarah kepada INDONESIA BERDIKARI dibandingkan calon-calon lainnya. Prabowp tidak menjajikan Indonesia dengan gedung-gedung tinggi dan megah, teknologi canggih, dan sebagainya tetapi dia menjanjikan Indonesia yang bertumpu pada rakyat bangsa ini (bukan kapitalis). Bagaimana ide-idenya tentang sistem ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada apa yang kita miliki: pedagang pasar, pertanian, koperasi, BUMN, dsb dan bukan pabrik-pabrik kapitalis dan ekonomi liberal yang terbukti gagal. Apabila dibandinngkan dengan calon-calon Presiden lainnya meenurut saya konsep Prabowo lah yang paling mendekati konsep INDONESIA BERDIKARI.

Ketiga mengapa tidak SBY?
  1. Saya akui pemerintahan Indonesia selama lima tahun ini tidaklah buruk. Tetapi "tidak buruk" saja tidak cukup. Saya pernah merenungkan sesuatu. Saya mengibaratkan Indonesia ini bagaikan kapal yang besar. Ketika reformasi 1998 kemarin kapal ini menjadi limpung akibat carut marutnya suasana hingga menyebabkan kapal ini bergoyang ke kiri ke kanan dan hampir tenggelam. Bagi saya, apa yang dilakukan SBY selama ini hanyalah menyeimbangkan kapal itu. Tetaapi mereka lupa satu hal: ARAH KAPAL ITU SALAH. Selama ini kapal itu hanya mengekor kepada kapal-kapal Barat yang mereka anggap lebih canggih tanpa tahu bahwa kapal-kapal yang mereka ikuti dan mereka puja-puja tersebut sebenarnya juga salah arah. SBY memang berhasil menstabilkan negara in, tetapi dia tidak menngembalikan negara ini kepada nilai-nilai PANCASILA dan kerakyatan.
  2. SBY kurang memiliki jiwa pemimpin dan cenderung kurang memiliki sikap. Coba anda lihat pemimpin-pemimpin yang hebat (da orang-orang biasa yang dianggap hebat) adalah orang-orang yang memiliki sikap. Lihatlah Huga Chavez, lihatlah Soekarno, lihatlah Ahmadinejad, dan sebagainya. Mengaaapa mereka dipuji? Karena mereka memiliki sikap dan tidak hanya sekedar menjilat orang yang berkuasa (Barat). Selama ini saya lihat SBY kurang memiliki sikap. Terlalu lama menimbang-nimbang dan terlalu menuurut kepada masyarakat mayoritas.
  3. saya melihat dukungan masyarakat kepada SBY lebih kepada sikap "nrimo" yang dimiliki bangsa ini. Saya yakin jika SBY dapat mempertahankan kinerjanya seperti ini terus menerus maka dia akan selamanya menjadi Presiden seperti Soeharto (dengan catatan aturan Presiden hanya boleh 2x dihapuskan). Bangsa ini mudah puas dengan apa yang mereka dapatkan.

Ketiga jika saya mendukung Prabowo mengapa tidak memilih Gerindra pada pemilu legislatif? Seperti yang saya ungkapkan pada bagian pertama tadi bahwa saya melihat PKS lebih capable berada dalam legislatif dibading Gerindra yang masih baru.

Keempat melihat bahwa perolehan suara Gerindra yang tidak sampai 20% maka kecil kemungkinan untuk bisa menjadi presiden. Saya mengatakan mendukung Prabowo untuk menjadi Presiden, tetapi tidak haru 2009 ini. Bisa saja untuk 2014 nanti.

Mungkin itu saja pendapat saya. Jika ada prtanyaan lain silahkan ditanyakan. Sekali lagi saya tidak bermaksud kampannye hanya saja saya memberitahukan alasan saya. Jika anda berbeda pendapat dengan saya silahkan saja. Ini semua tergantung iman. (baca:
http://gagdongemail.blogspot.com/2009/04/memahami-sebuah-kepercayaan.html)

Minggu, 29 Maret 2009

sekedar informasi

saya ingin meminta maaf kepada semua yang merasa pernah saya salahi. dengan ini saya ingin mangatakan bahwa mulai saat ini saya terpaksa berjualan pulsa. jika suatu saat nanti teman-teman terpaksa membeli pulsa di tempat saya silahkan hubungi saya lewat hape, mxit (kalo onlen), YM (kalo onlen), berbicara langsung, maupun melalui telepati (jika sanggup). tidak dianjurkan melalui merpati pos karena terlalu lama. pembayaran bisa dilakukan dimana saja anda bisa menemukan saya. kalau terpaksa silahkan mengutang tetapi sebaiknya jangan mengutang karena ajal dapat tiba sewaktu-waktu. berhutang juga dilarang terlalu lama kecuali anda memang sudah meniatkannya untuk dibayar di akhirat kelak (hehehe). berikut daftar harganya:
SIMPATI (jateng+DIY)
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
50k : 49.000
100k : 96.000

AS (jateng+DIY)
5k : 5.500
10k : 10.500
15k : 16.000
25k : 26.000
50k : 50.000
100k : 97.000

Ceria
5k : 5.500
10k : 10.000
20k : 20.000
50k : 49.000
100k : 97.000

XL
Regular
5k : 5.500
10k : 10.500
25k : 25.500
50k : 50.000
100k : 99.000
Xtra
10k : 10.500
50k : 50.000
100k : 99.000

Flexi
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
50k : 48.000
100k : 94.000
150k : 141.000

Fren
10k : 10.500
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 97.000

StarOne
10k : 10.500
20k : 20.000
50k : 49.000
100k : 97.000

3
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
30k : 30.000
50k : 50.000
100k : 97.000

Mentari
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.500
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 97.000

IM3
Regular
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 96.500
SMS
5k : 5.500
200x : 8.500
2000x : 30.000

AXIS
5k : 5.500
10k : 10.000
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 96.000

ESIA
5k : 5.500
10k : 10.500
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 95.000

Smart
5k : 5.500
10k : 10.000
20k : 20.000
25k : 24.500
50k : 48.000
100k : 96.000

catatan: harga sewaktu-waktu dapat berubah tergantung suasana politik, suasana hati pedagang, dan perolehan kursi parlemen dalam pemilu legislatif 9 april nanti. gunakan hak pilih anda!!! (malah gag nyambung) penjual berhak menagih hutang pembeli bahkan sampai di akhirat nanti. jika anda menemukan harga saya terlalu murah/mahal anda boleh membayar lebih atau silahkan