Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 Juni 2014

Capres dan Islam

Kalau saya boleh berpendapat, maka pemilu kali ini adalah pemilu yang paling menyedihkan. Bukan karena kualitas demokrasi, banyaknya kecurangan, atau alasan lainnya, hanya saja pada pemilu presiden kali ini sangat banyak black campaign maupun negative campaign yang ditujukan menyerang salah satu pasangan atau pasangan lainnya. Salah satunya yang membuat saya miris adalah terkait dengan isu agama.

Terlebih lagi, seringkali pihak yang menyebarkan negative campaign maupun black campaign berasal dari kalangan aktivis Islam garis keras dengan mengangkat isu-isu dan tema-tema yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Bermodalkan informasi yang tidak jelas dan cenderung berat sebelah tersebut, kemudian muncul opini-opini yang menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan agama. Bahkan seringkali opini-opini tersebut masuk ke tataran akidah dan seolah agama tertentu mewajibkan capres tertentu. Padahal stahu saya hingga saat ini tidak ada satu pun ayat al-quran ataupun hadis yang mengarahkan umat islam untuk memilih Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK.

(Sumber: lensaindonesia.com)

Yang justru ditekankan dalam hadis adalah bagaimana kita yang mengaku sebagai umat Islam dilarang untuk menjelekkan/merendahkan orang lain dengan berit yang memang benar adanya (negative campaign/ghibah) maupun berita palsu (black campaign/fitnah). Misalnya sesuai dengan surat Al-Hujurat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (49:12)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk menjauhi prasangka dan mencari-cari kejelekan orang lain. Allah SWT menyamakan orang-orang yang melakukan negative campaign maupun black campaign sebagai seorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri (sebuah perilaku yang menjijikkan).

Maka sangat tidak antas kepada kita atau siapapun yang mengaku sebagai orang Islam, melakukan negative campaign maupun black campaign dengan alasan apapun. terlebih lagi jika tindakannya tersebut diklaim atas nama perintah agama Islam sementara di sisi lain Islam sendiri melalui Al-Quran telah menyatakan secara jelas bahwa tindakan tersebut sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Islam dan Politik

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dimana mayoritas penduduknya tercatat beragama Islam, memiliki sejarah politik yang cukup panjang. Dalam hal ini kekuatan Islam yang menjadi mayoritas di negara ini berkali-kali pula diseret ke dalam kepentingan politik. Baik dari sebelum masa kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan. Imam Bonjol misalnya, melakukan perlawanan kepada Belanda dengan mengatasnamakan Islam.

Setelah masa kemerdekaan, berbagai kekuatan Islam pun unjuk gigi dalam perpolitikan Indonesia baik secara halus maupun secara kasar. Munculnya DI/TII dan NII misalnya, merupakan salah satu bentuk kemunculan kekuatan Islam dalam bentuk yang kurang halus. Secara internal pun kekuatan politik Islam cuku terlihat dari munculnya partai-partai Islam seperti Masyumi dan sebagainya.

Pada awal masa orde baru, kekuatan Islam dianggap sebagai salah satu tonggak untuk menyingkirkan faham komunis secara terang-terangan (melalui partai Komunis Indonesia). Komunis seringkali diseberangkan dengan faham Islam sehingga kekuatan Islam mau digerakkan oleh pemerintah saat itu untuk menyingkirkan komunis. Padahal belakangan mulai muncul kesadaran bahwa komunis dan Islam bukanlah faham yang bertentangan, banyak tokoh dalam partai Komunis Indonesia yang pada saat bersamaan merupakan tokoh masyarakat Islam. Itu semua hanya permainan politik saat itu untuk mendapatkan dukungan masyarakat muslim.

Pada masa orde baru pula sistem perpolitikan Indonesia dibuat lebih sederhana. Kubu muslinm disatukan ke dalam partai Persatuan Pembangunan. Meski pada kenyataannya banyak kekuatan Islam yang juga masuk ke dalam Golkar maupun Partai Demokrasi Indonesia. HMI maupun ICMI misalnya, pergerakan mereka untuk mendominasi kepengurusan Golkar terbilang cukup berhasil.

Kekuatan Islam seringkali hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan politik tertentu. Sangat jarang terlihat para politisi maupun partai politik (bahkan yang mengatasnamakan Islam) tampak untuk membela kepentingan umat. Yang ada justru Islam dijadikan kedok untuk meraih kepentingan probadi mereka. Mari kita tengok daftar politisi yang juga merupakan tokoh muslim justru terlibat dalam berbagai tindak korupsi.

Kalau saya boleh berpendapat, justru para koruptor-lah yang lebih pantas dibilang sebagai orang kafir. Koruptor adalah para pencuri, dan mencuri dilarang didalam Islam sesuai ayat berikut:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksa dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (5:38-39)
Pada saat yang bersamaan, para koruptor menunjukkan ciri sebagai orang munafik seperti dalam hadis berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"
Maka dalam hal ini, para koruptor adalah terdakwa dengan pasal berlapis. bagi saya para koruptor tersebut sudah tidak lagi pantas disebut sebagai orang Islam, tidak peduli apakah mereka kader dari partai Islam maupun tokoh Islam darimanapun. Mereka adalah orang yang mengaku sebagai orang Islam, namun mereka menginjak-injak aturan Allah SWT secara terang-terangan. 

Islamkah Kedua Kubu?

Jika kita menilik latar belakang politik kedua calon presiden, maka sesungguhnya keduanya tidak memiliki keterkaitan erat dengan kubu umat Islam. Prabowo besar dari latar belakang militer yang kemudian berkiprah dalam Golkar dan belakangan mendirikan Gerindra. Gerindra sendiri merupakan partai berhaluan sosialis yang seringkali berseberangan dengan kepentingan Islam. Sama halnya dengan PDI Perjuangan yang juga berhauluan sosialis. Terlebih lagi pada saat orde baru dimana sistem kepartaian disederhanakan menjadi tiga partai, PDI merupakan rumah bagi masyarakat non-muslim. Maka dari segi kepartaian keduanya sama-sama tidak memiliki latar belakang dukungan partai Islam.

Lain halnya dengan kedua calon wakil presiden. Hatta Rajasa berasal dari partai Amanat nasional, partai yang seringkali dianggap sebagai representatif dari umat muslim Muhammadiyah. Sedangkan Jusuf Kalla merupakan mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam, sebuah pergerakan islam d kalangan mahasiswa yang belakangan berhasil menguasai dominasi dalam tubuh partai Golkar. Keduanya memiliki latar belakang kepentingan politik Islam, meskipun saya berpendpat kedua organisasi tersebut pun tidak sepenuhnya menunjukkan nilai-nilai ke-Islam-an. Maka dalam hal ini kedua pasangan memiliki nilai yang sama.

Dari segi pendukung pun sama halnya, keduanya memiliki basis dukungan partai dan tokoh Islam. Di kubu Prabowo Hatta mereka memiliki dukungan dari partai-partai Islam semisal PPP, PKS, PAN, dsb. Sedangkan di kubu Jokowi JK mereka didukung oleh PKB. Meskipun belakangan kondisi akhir-akhir ini menunjukkan kedua kubu membawa gerbong kosong, artinya massa dari partai-partai tersebut akhirnya terpecah dan membela kedua kubu sesuai kehendak mereka. Sedangkan untuk tokoh Islam di luar sistem kepartaian dari kubu Prabowo Hatta muncul nama-nama seperti Said Aqil Sirodj dan Arifin Ilham. Sedangkan di kubu Jokowi JK muncul nama-nama seperti Hazim Musyadi dan Syafi'i Ma'arif. Dari segi ini, kubu Prabowo Hatta tampak memiliki dukungan lebih banyak tokoh Islam, meskipun jika kita melihat secara keseluruhan dukungan tokoh masyarakat ke Prabowo Hatta lebih banyak daripada ke Jokowi JK.

Meski demikian, fakta tersebut menunjukkan bahwa kedua pasangan sama-sama tidak memiliki track record keberpihakan kepada politik Islam dan keduanya juga sama-sama didukung oleh tokoh Islam. Maka dari itu, adanya tuduhan berupa black campaign dan negatif campaign untuk menjatuhkan keduanya dalam bentuk isu agama menurut saya sangatlah tidak beralasan. terlebih jika tuduhan tersebut justru disuarakan oleh kalangan aktivis Islam. Ibarat kata ketika Tuhan berfirman untuk tidak makan babi, kita kemudian justru memakan babi untuk berbuka puasa.

Pada akhirnya kedua pasangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keduanya adalah putra terbaik bangsa. Kembali kepada kita untuk menentukan siapa yang akan kita pilih. Kita cukup memilih salah satu tanpa harus merendahkan pihak lain yang berbeda. Karena keduanya sama-sama baik.

Senin, 26 Mei 2014

Terima kasih, Bapak

Biru bukanlah warna nasional kita. Bahkan ketika biru bergabung dengan merah putih mengingatkan akan kepiluan di masa silam. Masa dimana nusantara digerayangi oleh bayang-bayang asing yang cukup lama sebelum akhirnya diusir oleh "saudara tiri" merah putih kita. Merah putih biru adalah Belanda, negeri yang seringkali dianggap telah menjajah bangsa kita selama tiga ratus lima puluh tahun.

Namun biru, telah memberi nuansa tersendiri selama satu dekade terakhir. Dimulai dari sebuah warna dengan intensitas yang cukup kecil di tahun 2004 sebuah siratan kecil yang tidak akan disangka menjadi dominan dalam dua kali lima tahun. Akan tetapi di bawah tangan dingin dari Bapak yang sering disebut sebagai ahlinya pencitraan, biru mampu menjadi dominan dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebuah demokrasi tidak berjalan dengan tenang, namun disitulah demokrasi. Banyak hiruk pikuk selama sepuluh tahun terakhir, namun itu justru menguatkan arti demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi yang memberikan ruang atas ketidaksetujuan, tanpa mengganggu perjuangan yang sedang dilakukan. Bukan demokrasi yang saling menumbangkan kekuasaan ataupun mengkudeta kemakmuran suatu bangsa.

Sebuah pertumbuhan tidak berjalan dengan mudah, namun itulah arti dari perjuangan. Ekonomi kita tidak melesat menjadi yang terbaik, tetapi tumbuh konsisten menuju yang terbaik. Semua butuh proses. Siapa sangka di tahun 2008 dunia mengalami krisis namun kita hampir tidak merasakannya? Dan kini negara dunia ketiga yang selama ini dipandang sebelah mata mulai bangkit seiring perpindahan poros dunia yang tidak lagi terpusat kepada negara persatuan.

Sebuah keadilan yang hakiki hanya akan terwujud pada hari pembalasan, namun kita bisa berusaha mewujudkannya saat ini. Keadilan bukan berarti tidak ada penjahat, namun keadilan adalah tentang memberikan hukuman kepada yang berlaku jahat dan penghargaan kepada yang berlaku baik. Pada satu dekade ini banyak kasus korupsi bermunculan, namun itu berarti bahwa pengadilan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya intervensi dari penguasa yang ada.

Sebuah pemimpin yang baik bukanlah yang sempurna, namun yang melahirkan pemimpin-pemimpin lain yang lebih sempurna. Pada dekade ini pula mulai muncul tokoh-tokoh nasional yang disegani dalam bidangnya masing-masing. Seolah rakyat Indonesia yang pemalas mendadak menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Semua memiliki kesempatan untuk berusaha menjadi yang terbaik, dan berhasil. Impian itu belum terwujud, tetapi seolah memberikan kepastian bahwa itu pasti akan terwujud.

Maka terima kasih, semua pemimpin pasti memiliki kekurangan. Namun bukan berarti kita berhak untuk tidak menghargainya di kemudian hari. Kita harus berterima kasih kepada Soekarno atas kepemimpinannya di awal kemerdekaan, namun kita boleh tidak setuju dengan sikap otoriter dan kegemarannya menghamburkan kekayaan untuk monumen. Kita boleh marah atas sikap koruptif Soeharto beserta kroni-kroninya, namun kita harus tetap berterima kasih atas perjuangan pada awal masa orde baru dalam membuat rencana pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Kita boleh tidak setuju dengan sikap Gus Dur yang sesuka hati, namun kita harus menghargai bahwa pada masanya semua orang merasa diterima dan setara dinegeri ini. Semua pemimpin memiliki tinta emas dan corengan arang dalam masa kehidupannya.

(source: zimbio.com)

Dan kepada Bapak, kami mengucapkan terima kasih atas stabilitas negeri selama satu dekade ini. Sebuah perjuangan yang tidak mudah mengingat banyak saudara kita yang mengalami berbagai pemberontakan dan kudeta dalam satu dekade terakhir. Terima kasih atas stabilitas ekonomi yang dibangun, dimana kita mampu terus merangkak ke atas di saat yang lain jatuh terkena gelombang krisis. Terima kasih atas demokrasi yang berhasil dijaga, dimana semua orang berhak menyampaikan kesetujuannya maupun ketidaksetujuannya tanpa adanya konsekuensi negatif atas tindakannya. Terima kasih atas keadilannya yang berhasil ditegakkan, meskipun korupsi masih banyak terjadi (bahkan di lingkaran terdekatnya) namun penegakan hukum tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dan terakhir pada saat biru tidak lagi dapat bertahan di merah putih, Bapak memberikan pendidikan politik terbaik. Kemauan untuk memberikan kesempatan kepada semua pihak ketika putra mahkota terperosok ke lubang hitam, sikap kesatria untuk tidak mengemis namun memilih bersikap netral. Terima kasih.



update: netral? cuih... #shameOnYouSBY

Sabtu, 12 Januari 2013

Not yet a Man

Actualy i'm still boy who to against the world, not yet a man. But if i can choose, i want to be a boy in my entire life.

"Jika kau boleh memilih waktu, akankah kau memilih masa lalu?"

"Maksudmu?"

(sumber: gubraker.com)

Suara seruputan kopi memecah keheningan percakapan. Kopi sore itu pahit, kurang cocok sebenarnya sebagai teman bercengkrama ditemani cahaya senja. "Suara memang tidak dapat dibungkam, ada saja cara mereka untuk keluar ke dunia. Dan seni adalah media terindah untuk itu."

"Kau yakin masa lalu lebih indah?", tanyanya sembari menatap truk berjalan menjauh. Masih terlalu dini di tempat tersebut untuk dapat tenggelam di dalam keriuhan.

"Lalu bagaimana dengan mantanmu?"

"Maksudmu?"

"Itu masa lalu bukan?"

"Yah seperti masa sekolah kita dahulu"

"Jadi menurutmu, mana yang lebih indah? Masa lalu atau saat ini?"

Pertanyaan tersebut mengakhiri segala perdebatan. "Kalaupun masa lalu lebih indah, itu karena kita masih kanak-kanak. Kita bisa bebas bersenang-senang. Tapi sayangnya dunia ini dikuasai dan dibangun oleh orang-orang dewasa. Orang-orang yang dengan serius mengabdikan hidunya dan berkorban demi kebaikan dunia."

"Kenapa kita tidak bersenang-senang sembari membangun dunia? Bayangkan saja seperi kita bermain balok susun. Bukankah kita merindukan masa kanak-kanak tersebut?"

Senin, 26 Maret 2012

Bensin Naik Lagi

Bensin: Making the World Turn (officemr1980.deviantart.com)

Beberapa hari terakahir isu kenaikan BBM menjadi semakin panas. Berbagai aksi demonstrasi marak bermunculan di berbagai tempat. Bahkan beberapa pihak menuding adanya upaya makar. Di satu sisi TNI pun terpaksa keluar barak membackup POLRI dalam mengatasi demonstrasi yang jumlahnya semakin banyak. Ketidakpastian akan kebijakan itu sendiri dan berbagai macam spekulasi turut memperkeruh keadaan. Terlebih dengan adanya bumbu dari media massa dan partai oposisi yang sedang naik daun sehingga situasi politik menjadi  kian memanas. Namun entah mengapa Pak Presiden kita malah plesir ke negeri Komunis yang sedang mencoba menggenggam dunia.

Udah Pernah
Sebenarnya kenaikan BBM bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Beberapa kali kenaikan pernah terjadi namun tidak sepanas kali ini. Pada era Megawati masyarakat cukup maklum BBM dinaikkan karena situasi ekonomi sedang mengalami kesulitan. Sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri mengingat saat itu Indonesia sedang mengalami keterpurukan pasca krisis moneter 1998. Bukan itu saja, pada era SBY-JK harga BBM juga pernah naik. Hal itu dilatarbelakangi melambungnya harga minyak dunia. Maka saat itu masyarakat menjadi maklum dengan kenaikan tersebut.

Di sisi lain adalah bagusnya manajemen pengumuman kebijakan. Pada kenaikan-kenaikan sebelumnya pengumuman kebijakan tersebut langsung disampaikan secara gamblang dan tegas. Dilanjutkan dengan pelaksanaan yang dilakukan dalam waktu yang tidak berselang lama. Hal ini menyebabkan berbagai spekulasi dan penolakan tidak sempat tumbuh dan berkembang dengan liar. Sebuah ketegasan dari seorang pemimpin yang memberikan jaminan dalam bentuk kepastian masa depan, bukan keragu-raguan.

Memahami Oposisi
Mari kita kembali untuk memahami sebenarnya apa itu subsidi BBM. Subsidi BBM pada awalnya adalah selisih keuntungan hasil penjualan minyak Indonesia dengan pembelian minyak untuk konsumsi. Prinsip model seperti ini sebenarnya semi-sosialis dimana negara memberikan rakyatnya kemudahan dalam berbagai sektor termasuk BBM. Namun sayangnya selisih keuntungan tersebut semakin lama semakin menipis mengingat sumber daya alam minyak Indonesia yang juga semakin habis. Maka pada akhirnya subsidi tersebut justru membebani APBN karena harus diambilkan dari sektor penerimaan lain. (Lebih lanjut baca: Sedikit Mengenal Minyak Indonesia)

Namun dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sehat saat ini, pihak oposisi mempertanyakan alasan menaikkan harga BBM. Ketika APBN Indonesia sedang gemuk mengapa bisa muncul anggapan bahwa subsidi BBM membebani APBN? Jika anggaran yang direncanakan untuk subsidi kurang, mengapa tidak ditambah saja porsinya?

Selama ini BBM dianggap sebagai barang konsumsi saja. Padahal menurut pihak oposisi, BBM di satu sisi juga merupakan barang modal. Dengan adanya BBM murah maka perekonomian menjadi semakin maju dan berkembang. BBM murah juga memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Jadi mengapa tidak mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk subsidi BBM yang pada akhirnya akan dinikmati masyarakat banyak?

BBM sendiri juga telah menjadi salah satu barang pokok dalam kehidupan. Kenaikan harganya akan memiliki efek domino dan berpengaruh pada komoditi-komoditi lainnya. Inflasi akan meningkat, selain itu dikhawatirkan kenaikan harga ini akan memperburuk kondisi ekonomi dan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia.

Terlebih dengan adanya tuduhan kepentingan asing di balik pengurangan subsidi ini, maka isu kenaikan harga BBM ini menjadi semakin panas. Kenaikan harga BBM akan membuat selisih harga BBM pemerintah (yang dikelola pertamina) menjadi semakin tipis dengan BBM swasta (semisal Shell, Petronas, dsb) yang tentunya akan menguntungkan pihak swasta asing tersebut. Ditambah dengan adanya isu neoliberalisme yang bertujuan menghapus berbagai macam subsidi demi pasar bebas yang kurang memihak negara berkembang dan kurang sesuai dengan grand design negara Indonesia.

Sisi Lain
Di sisi lain anggaran subsidi BBM selama ini dianggap sebagai sebuah pemborosan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa BBM kebanyakan dinikmati kendaraan-kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum atau pegangkut barang. Terlebih dengan banyaknya pasaran kendaraan murah di Indonesia membuat konsumsi BBM menjadi semakin mengganas. Konsumsi BBM untuk kendaraan pribadi menunjukkan bahwa selama ini BBM lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah atas, yang notabene dianggap mampu secara ekonomi untuk membeli BBM tanpa subsidi.

Begitu juga dengan meningkatnya konsumsi BBM dan tidak diimbangi dengan produktivitas BBM Indonesia maka anggaran yang dibutuhkan semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya embargo Iran yang melambungkan harga minyak dunia sehingga beban APBN menjadi semakin besar. Anggaran sebesar itu dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, menjadi pertanyaan tersendiri apakah sudah tepat kebijaksanaan tersebut.

Maka dari itu sebagian ahli menyatakan bahwa alangkah lebih bermanfaatnya jika anggaran yang selama ini digunakan untuk membayar subsidi BBM dialihkan untuk hal-hal lain semisal pendidikan dan kesehatan. Hal inilah yang menguatkan dorongan untuk mengurangi anggaran yang dihabiskan pemerintah untuk mensubsidi harga BBM. Terlebih masyarakat kini mulai menyadari bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hal utama yang seharusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah.

Bijaksana
Perubahan memang kata-kata yang indah, namun bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan (baca: Perubahan #2). Perubahan selalu menimbulkan gejolak sosial, ibarat sebuah mangkuk berisi air yang dipindahkan (baca: Analogi Mangkuk). Terlepas dari prinsip mana yang anda pegang dalam menyikapi kenaikan BBM, maka ada hal-hal lain yang juga kita perlu cermati.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya kenyataan bahwa konsumsi BBM di Indonesia terlalu berlebiha. Terlebih karena kebanyakan BBM tersebut digunakan untuk kendaraan pribadi, dimana sebenarnya hal tersebut dapat ditekan. Misalnya saja dahulu ketika BBM mencapai angka enam ribu per liter, orang menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan BBM. Aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dihindari. Semisal sekedar membeli makanan dalam jarak dekat maka lebih disarankan untuk berjalan kaki atau bersepada.

Namu tidak saat ini. Jarak yang sangat dekat pun terkadang ditempuh dengan kendaraan bermotor karena kita terlalu malas. Pergi sendirian lebih memilih menggunakan mobil padahal sudah tentu mobil jauh lebih boros daripada BBM. Kita terlalu malas, dan kita terlalu manja. Kita menggunakan BBM dengan borosnya tanpa berpikir bahwa uang yang kita hamburkan dapat kita gunakan untuk kepentingan lain.

Maka dimana para aktivis lingkungan dadakan yang menyuarakan keselamatan lingkungan? Entah kenapa saya menjadi berpikir mungkin ada baiknya jika BBM dinaikkan. Sama seperti halnya terkadang kita harus mendapatkan sakit agar dapat bersyukur terhadap kesehatan yang kita dapatkan selama ini. Bijaksanalah. Bukan impian muluk untuk menyingkirkan kendaraan bermotor, tetapi hematlah semampu kita.

Jumat, 16 Maret 2012

Siapa Durhaka?

Masa remaja merupakan masa dimana kita merasa sebagai pribadi yang telah dewasa dan mapan. Kita cenderung memberontak, melawan hukum-hukum serta aturan yang ditetapkan orang tua kita. Membangkang, atau bahkan berdiri di hadapan sembari menunjuk-nunjuk dengan jari teracung seolah mereka musuh kita.

Meski pada akhirnya kita akan kembali tunduk di meja makan ketika lapar dan memakan makanan yang disediakan musuh kita tersebut. Tidur dalam kehangatan dan kenyamanan rumah yang setiap jengkalnya dibangun oleh mereka. Pada akhirnya kita tetap tidak bisa hidup tanpa mereka.

Kita hanyalah anak kecil yang merasa sok berkuasa dan menganggap diri paling hebat. Sampai pada akhirnya kita menyadari bahwa diri kita bukanlah apa-apa tanpa mereka, dan juga di mata Tuhan. Kita terlalu asyik daalam imajinasi mimpi yang kita bangun disaat diri kita bahkan belum sanggup meneteskan keringat. Kita memang masih remaja dan kita masih bergantung.

...

Begitu pula sebagai rakyat kita masih remaja ...
Lalu jika demikian siapa yang durhaka?

Waktu Masih Jagoan (sndjitotok.deviantart.com)

Rabu, 19 Oktober 2011

Kraton dan Harga Diri

sumber: kratonwedding.tumblr.com
Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah hajatan besar di Kraton Ngayogyakarta. Mungkin hajatan ini lebih pantas disebut sebagai pesta rakyat. Bagaimana tidak dalam hajatan tersebut bukan hanya tuan rumah yang punya hajat, tetapi juga mayoritas warga Ngayogyakarta.

Seumur hidup saya baru dua kali saya melihat begitu banyak masyarakat berkumpul menjadi satu seperti itu. Pertama pada saat dukungan Keistimewaan DIY dan yang kedua pada saat Pawiwahan Agung kemarin, dimana malioboro dipenuhi oleh lautan manusia.

Masyarakat sebanyak itu bisa berkumpul menjadi satu merupakan sebuah kesitimewaan tersendiri. Bandingkan dengan berbagai kegiatan pengumpulan massa selama ini baik berbentuk pengajian, konser, demonstrasi, dan sebagainya belum ada yang sefantastis itu.

Terlebih lagi masyarakat hadir tidak hanya sebagai penonton ataupun tamu, tetapi juga ikut menyemarakkan hajat yang sedang dilaksanakan. Mulai dari menyumbang makanan di angkringan, janur, atau bahkan pertunjukkan kesenian. Semua tumpah ruah menjadi satu seolah tidak hanya Sultan yang memiliki hajat melainkan seluruh masyarakat Jogjakarta.

Hal ini merupakan sebuah fenomena yang menarik. Di tengah maraknya sentimen anti kekuasaan dan rasa ketidakpercayaan terhadap penguasa, Sultan sebagai sosok penguasa dengan sentimen monarki di dalamnya justru mendapatkan dukungan tersendiri bagi rakyat Yogyakarta.

Dalam era modern dimana demokrasi dan kebebasan dituhankan dan semua orang ditekan untuk menjadi setara, sebuah fenomena unik ini muncul ke permukaan. Pada akhirnya pemimpin tidak hanya sebatas pada kekuasaan semata tetapi juga bagaimana seorang pemimpin memberikan dan mendapatkan pengaruh dari masyarakat. Dalam tulisan ini saya akan membahas beberapa sudut pandang untuk memahami fenomena ini secara lebih dalam.

Kerinduan Budaya
Dalam zaman globalisasi saat ini informasi mengalir begitu derasnya. Jarak tidak lagi menjadi penghalang. Akibatnya budaya satu dan lainnya berdatangan mempengaruhi satu sama lain. Nilai, ide, gagasan, dan idealisme bercampur aduk menjadi satu. Seseorang tidak lagi bisa diketahui etnisnya hanya dari lokasi tempat tinggal.

Celakanya budaya modern Eropa-AS memiliki kekuatan media. Entah itu kapitalis, sekuler, sosialis, komunis, liberal dan sebagainya masuk ke setiap sendi kehiudpan tanpa kita sadari. Nilai-nilai pun bergeser. Masyarakat modern memiliki tuntutan tersendiri terhadap dunia.

Dalam dunia yang dikuasai nilai-nilai Eropa-AS muncul segelintir masyarakat yang justru merindukan budaya asli Indonesia. Masyarakat ini didominasi dua macam: (1) generasi tua yang memang sejak dahulu dibesarkan dengan nilai-nilai tradisional dan menjadi pelaku budaya itu sendiri serta (2) generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap budaya asli, mereka bukan pelaku dari budaya tersebut akan tetapi memiliki ketertarikan dan dukungan terhadap budaya tersebut.

Gejala ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena yang muncul akhir-akhir ini. Mulai dari penggunaan simbol-simbol etnis semisal batik, surjan, dan simbol-simbol etnik lainnya. Begitu pula dengan dengan fenomena yang kita bahas saat ini.

Banyaknya dukungan masyarakat yang muncul dalam Gerakan Pro-Penetapan dan Pawiwahan Agung kemarin merupakan bentuk dari kerinduan masyarakat akan budaya asli tradisional. Sultan dan Kraton sebagai simbol yang mereka junjung untuk mengungkapkan gagasan akan pentingnya local wisdom dari kebudayaan yang selama ini justru mulai ditinggalkan.

Gagasan tradisional ini diwujudkan dalam dukungan dan penghormatan terhadap Sultan dan Kraton secara keseluruhan. Gagasan untuk kembali kepada kebudayaan awal, kebudayaan yang telah dibangun ratusan tahun oleh para pendahulu kita. Kebudayaan rasa.

Kraton sebagai Identitas
Setiap kelompok memiliki ciri khas tersendiri, ciri tersebut yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain serta menyatukan anggota kelompok tersebut. Dalam kasus ini, Kraton dan Sultan sendiri merupakan ciri khusus yang menjadi simbol dari masyarakat Jogjakarta.

Itu sebabnya isu Pro-Penetapan muncul dengan gaung yang keras ketika Kraton dan Sultan diusik. Penyerangan terhadap simbol-simbol dan identitas kelompok sama halnya dengan menyerang anggota kelompok itu sendiri. Dalam kasus ini "penyerangan" terhadap eksistensi Kraton dan Sultan itu sendiri merupakan bentuk penyerangan terhadap masyarakat Jogjakarta.

Oleh karena itu muncul reaksi keras untuk "mempertahankan" identitas dari kelompok tersebut. Bentuk pertahanan ini muncul dalam bentuk fenomena Gerakan Pro-Penetapan. Mulai dari bendera-bendera, gerakan massa, hingga dukungan terhadap eksistensi Kraton dan Sultan itu sendiri.

Ini semua dapat dilihat sebagai upaya sekelompok masyarakat untuk mempertahankan identitas mereka. Tanpa adanya identitas dan ciri khas dari suatu kelompok, maka eksistensi kelompok itu sendiri akan turut menghilang. Maka disinilah diuji, apakah kelompok itu akan tetap berdiri dengan simbol-simbolnya atau tertelan oleh kejamnya zaman.

Lakum Dinukum Waliyadin
Perkembangan zaman telah menggeser nilai-nilai dalam suatu budaya. Pengaruh datang silih berganti dan saling mempengaruhi. Begitu pula dengan struktur masyarakat yang merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.

Dahulu, individu dianggap sebagai bagian dari kelompok, suati fenomena yang lumrah dalam masyarakat kolektif. Dimana individu yang satu dan lain memiliki keterikatan degan kelompok. Individu diharuskan menjunjung tinggi norma kelompok meski itu berarti mengorbankan individu itu sendiri. Orang bisa menuntut orang lain untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai kelompok.

Saat ini dimana individualisme telah ikut berpengaruh, maka individu mulai berdiri sendiri dan melepaskan diri dari kelompok. Orang tidak bisa lagi memaksa individu untuk bertingkah laku tertentu. Tas nama kebebasan dan Hak Asasi Manusia seolah semua hal boleh dilakukan. Demokrasi menjadi tameng orang untuk berbicara sesuka hati meski itu menyakiti orang lain. Atas nama demokrasi, kebebasan, dan kebenaran.

Maka disini saya hanya bermaksud menyampaikan. Orang boleh bertindak sesuai kemauannya sendiri atas nama HAM, tetapi orang juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya tersebut. Terlebih terhadap tindakan-tindakan yang bersinggungan dengan orang lain.

Sultan sebagai seorang manusia tentu tidak sempurna, saya yakin dalam diri pribadi Sultan banyak kekhilafan dan kesalahan. Namun Sultan sebagai sebuah simbol perrlu dipertahankan dan dijaga sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Sultan sebagai pemimpin memiliki hak untuk dijunjung tinggi, begitu pula sebagai yang dipimpin pun kita memiliki nilai-nilai dan norma yang harus dijunjung.

Namun dalam dunia penuh dengan logika saat ini, rasa dianggap subjektif. Perlahan ditinggalkan dan diabaikan. Padahal sejatinya manusia sejati hidup dengan rasa. Hormatilah orang lain, maka dengan demikian orang lain akan menghormati anda.

Senin, 25 Januari 2010

Elok Nian Tuan Ini

Kita pantas berbangga hati. Betapa tidak, Negeri ini memiliki Presiden yang tergolong produktif. Buktinya, dalam tiga tahun ini sudah tiga album yang berhasil diluncurkan. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Presiden beliau masih juga sempat-sempatnya menggunakan waktunya untuk menciptakan lagu.

Ah, memang elok nian Presiden kita satu itu. Bukan hanya memiliki gaya tubuh yang baik ketika berbicara, fotogenik, tetapi pandai pula bersenandung dan menciptakan lagu. Memang zaman sekarang mulai banyak artis multi talenta. Bukan hanya pandai bersandiwara, tetapi juga piawai dalam bersenandung dan bahkan, menjadi politikus. Jadi tiada salah ketika seorang politisi (dalam hal ini Presiden) tidak mau kalah. Jika artis multi talenta bisa menjadi politisi, maka politisi pun bisa menjadi artis multi talenta.

Memang Indonesian Odol 2009 kemarin memang menghasilkan juara yang brillian. Setelah berhasil mengalahkan para finalis lainnya, kini beliau menunjukkan kepiawaiannya dalam dunia entertainment. Jadi tidak salah jika ajang Indonesia Odol 2009 yang menghabiskan dana trilyunan tersebut memang beda, bukan hanya polingnya tidak melalui SMS melainkan lewat kertas suara (lebih lanjut baca Bermain Odol)

Buka hanya itu, presiden kita yang satu ini pun sangat pandai. Betapa tidak dia berhasil dianugerahi Doktor dalam bidang pertanian. Selain itu dia juga paham mengenai wewenangnya sebagai Presiden. Sehingga ketika Rakyat menunggu sebuah keputusan pun dia bisa berkata, "Itu bukan wewenang saya".

Tapi, ah. Kami rakyat mana tahu hal seperti itu. Yang kami tahu Presiden adalah pemimpin (bukan manajer) tertinggi di Negara ini. Tidak tahulah kami siapa memiliki wewenang apa. Yang kami tahu adalah setiap kegagalan dari pemerintah merupakan tanggung jawab Presiden sebagaimana dia bertanggung jawab terhadap segala keberhasilannya seperti dalam kampanyenya.

Bagi kami pemimpin adalah seseorang yang menujukkan kepada kami mana yang benar dan mana yang salah serta menuntun serta mengakkan kepada kebenaran dan bukan hanya berkata itu bukan wewenangnya. Pemimpin bukan hanya manajer yang baik tetapi orang yang memberikan kepada kami visi yang jelas untuk kebaikan kami. Pemimpin adalah orang yang memberikan kepada kami rasa aman dan bukan malah curhat mengatakan dirinya juga sedang terancam.

Kami tidak butuh senandung-senandung merdu penuh balutan keindahan semu. Kami juga tidak butuh sandiwara heroik yang menyentuh. Yang kami butuh hanyalah kebenaran meski itu pahit rasanya. Yang kami inginkan adalah apa yang menjadi tujuan dan cita-cita kami. Namun, suatu saat nanti ku yakin sampai disana. Namun bukan di masa Kura-Kura Ninja beraksi.

Rabu, 06 Januari 2010

Kesatria Kegelapan berwarna hijau??


The Dark Knight


Hemm..siapa tidak mengenal film yang satu ini? Film sekuel dari Batman Begins ini laris manis dan pantas disebut sebagai salah satu film terbaik 2009. Bagaimana tidak, mata saya terpaku ke layar bioskop selama lebih dari dua jam (kayak pas nonton Transformers ma Avatar juga sih^^).

Saya tidak ingin membahas tentang film. Yang ingin saya bicarakan adalah pesan yang terkandung dalam film tersebut. Dalam film itu Batman digambarkan sebagai pahlawan yang bukan pahlawan. Bagaimana tidak di akhir cerita digambarkan bahwa masyarakat menganggap Batman sebagai seorang pembunuh dari Two-Face yang dianggap sebagai Pahlawan, dan itu memang keinginan Batman. Dalam film itu digambarkan ada dua macam pahlawan, yaitu kesatria putih dan kesatria kegelapan.

Kesatria Kegelapan adalah dia yang menegakkan kebenaran dengan suatu cara yang mungkin sangat berbeda dengan cara-cara yang seharusnya atau pada umumnya. Bahkan secara ekstrim kadang berlawanan sehingga seorang pahlawan tidak lagi dicap sebagai pahlawan bahkan mungkin sebagai kontra-pahlawan.

Ini Dunia Nyata, Bukan Film


Ada satu orang yang menurut saya pantas mendapat julukan sebagai Dark Knight di Indonesia, beliau adalah Alm KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dan sayangnya, kita baru merasa memiliki sesuatu yang berharga ketika kita kehilangan.

Mungkin apa yang dikatakan Gus Dur bukanlah sebuah kebenaran, bahkan terkadang itu adalah suatu kontra-kebenaran. Gus Dur mungkin bukan seseorang yang selalu bertindak benar, tapi tindakannya merupakan pelengkap dari sebuah kebenaran.

Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu hitam jika kita belum pernah melihat putih. Jangan katakan anda pernah merasakan sehat ketika anda belum pernah merasakan sakit. Bahkan kita merasakan dan bersyukur akan sebuah nikmat sehat ketika kita sedang sakit bukan?

Apa yang dikatakan Gus Dur mungkin bukanlah sesuatu kebenaran yang harus apa kita ikuti, namun apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang memberi arti tentang sebuah kebenaran yang seharusnya kita ikuti.

Gus Dur menunjukkan bahwa ada suatu dunia lain di luar dunia yang ada di kepala kita, dan dunia itu nyata meskipun cuma minoritas. Dalam Suatu kelompok. orang-orang seperti Gus Dur ini lah yang menyebabkan kita terhindar dari suatu Groupthink dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan (lebih lanjut silahkan ambil mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Kelompok).

Gus Dur mungkin dianggap agak gila bagi sebagian orang, tetapi beliau adalah orang yang membuat kita tetap waras dan mengajarkan pentingnya kita akan sebuah kewarasan. Di luar daripada itu, beliau adalah seorang jenius deengan pemikiran-pemikirannya. Beliau bukan orang biasa, tetapi dia adalah orang yang luar biasa. Seseorang yang bisa berpikir di luar dari apa yang biasa dipikirkan oleh orang lain dan melewati batasan kebiasaan.

dasar Manusia!!!


Manusia memang tidak pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya. Kita baru merasakan sesuatu sangat berarti bagi kita ketika kita mulai kehilangan. Kita baru bersyukur akan nikmat kesehatan yang dianugerahkan kepada kita ketika kita sakit. Dan kita baru memahami pentingnya Gus Dur dan menghargainya ketika kita kehilangannya.

Gus Dur mungkin bukan pemberi cahaya dalam kegelapan, tetapi dialah yang menciptakan kegelapan sehingga kita dapat melihat cahaya yang tersisa dan menuju ke sana. Selamat Jalan Wahai Sang Penakluk Kebiasaan. Semoga kami disini tetap akan bisa berpikir waras tanpa kehadiranmu. Dan satu lagi: Terima Kasih :)

Jumat, 23 Oktober 2009

Keluar istana bak pahlawan?

Pria kecil itu kini tak berada lagi disana. Kini kumis tipisnya tidak akan lagi terlihat di dalam bangunan putih tersebut. Dia keluar dengan senyum dan kembali menikmati kehidupannya sehari-hari. Sungguh seharunya dia bersyukur telah keluar gedung itu dengan senyum. Kini hanya ada satu matahari dalam tempat itu.

Empat puluh tiga tahun yang lalu sang orator itu diusir keluar dari tempat itu dan dikucilkan. Sebelas tahun lalu Jendral yang tersenyum itu juga keluar setelah diusir oleh ribuan orang dijalanan. Tak lama anak jenius itu juga keluar dengan hardikan. Delapan tahun lalu sang Kiai pun keluar hanya berkaos dalam dan celana pendek. Lima tahun yang lalu Srikandi pertama itu pun juga keluar dengan penuh aura perlawanan. Sungguh telah banyak orang keluar dari tempat itu dengan penuh luka coreng.

Namun apa yang terjadi padanya justru berbeda. Pria itu keluar bak pahlawan. Meski dia hanya bulan tetapi dia disamakan seakan matahari. Namanya dielu-elukan oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang bukan bagian dari 13 pendukungnya saat Juni.

Hanya pada masa lelaki itu lah beringin raksasa tersebut mampu menjadi sebuah beringin, meski kini itu semua kandas karena beringin tersebut justru lebih suka menjadi tanaman rambat. Tetapi perlu kita akui seumur hidup, baru kali ini beringin itu berani untuk (bahkan hanya sekedar berpikir) tumbuh sendiri tanpa perlu merambat ke pohon lain.

Mungkin lelaki itu tidak tampan, tidak pula anggun dan pandai berkata-kata. Dirinya pun tidak fotogenik sehingga tidak banyak penggemarnya. Tapi sungguh, mereka yang mendukungnya melihat jauh ke dalam diri lelaki Makassar itu. Dirinyalah yang mereka kagumi. Meski mungkin lelaki berpeci itu bukanlah matahari yang seharusnya menyinari kami selama lima tahun ini, namun sinarnya jauh lebih terang daripada matahari itu sendiri. Dua yang bisa kami katakan saat kaki lelaki berlapis sepatu buatan Indonesia itu melangkah keluar: Selamat Jalan dan Terima Kasih. Lelaki itu sungguh lebih besar dari apa yang tampak oleh mata.

Sabtu, 03 Oktober 2009

Islam dan Penguasa

Beberapa saat yang lalu, ketika televisi sedang gencar-gencarnya memberitakan drama penggrebekan di Temanggung dan mengatakan bahwa Nordin M. Top terbunuh, saya langsung tidak percaya. Bukan karena apa, tapi saya punya teori tersendiri bahwa meskipun Nordin M. Top memang benar-benar terbunuh, pasti pemerintah akan merahasiakannya karena sebenarnya Nordin M. Top adalah senjata rahasia yang bisa digunakan pemerintah untuk kepentingannya.

Pemerintah dan Penguasa


Saya pernah berpikir apa sih sebenarnya fungsi dari negara di zaman modern ini? Kemudian saya mencoba berpikir merenung dari zaman masa lalu awal mula adanya suatu Negara. Zaman dimana masih berbentuk kerajaan.

Mengapa masyarakat membutuhkan atau tunduk pada raja? Menurut saya bukan jawaban yang idealis yang bisa menjawabnya. Mudah saja, salah satu dosen saya pernah berkata bahwa Penguasa itu bersahabat dengan teror. Zaman dahulu masyarakat tunduk pada raja mereka agar mereka dilindungi oleh Raja mereka dari terror-teror maupun serangan-serangan. Jadi jawabannya adalah masalah keamanan. Dan saya rasa memang itulah pentingnya suatu Negara yaitu untuk memberi keamanan.

Zaman dahulu tentunya permasalahan keamanan adalah sesuatu yang sangat penting karena begitu banyaknya perang di dunia ini. AKan tetapi, di zaman sekarang ini dimana dunia relatif damai dan peperangan yang terjadi bukanlah perang fisik tetapi pperang ekonomi, maka peran pemerintah mulai dipertanyakan.

Sedangkan campur tangang pemerintah dalam bidang ekonomi pun juga dipertanyakan. Maka wajar jika zaman sekarang muncul ide-ide penyatuan dunia dalam sebuah pemerintahan bersama atau kemerdekaan dari para penguasa itu sendiri. Maka bukan hal yang aneh jika suatu Negara bersahabat dengan terror, karena terror itulah yang membuat Negara masihberdiri dan dibutuhkan oleh rakyatnya.

Masa Orde Baru


Pada masa orde baru, pemerintah sengaja memelihara sebuah teror yang bernama PKI. Dengan alas an PKI itulah pemerintah bebas menahan dan menghukum pihak-pihak kontra pemerintah dan mereka yang dianggap tidak sejalan denngan pemerintah serta mengganngu stabilitas.

Segala bentuk pengamanan ini dilakukan oleh ABRI. Makan bukan suatu hal yang mengherankan ketika orang-orang menghilang dan mati secara tiba-tiba. Jangan heran juga jika dalam setiap kutbah dan seminar intelejen berkeliaran dalam ruangan dan tiba-tiba pembicara diculik dan tidak pernaah kembali. Itu semua dianggap sebagai suatu hal yang wajar oleh masyarakat karena mereka berpikir itu semua juga demi keamanan mereka.

Demokrasi dan Islam


Pasca lengsernya Soeharto, Islam di Indonesia berkembang semakin pesat. Apalagi dengan adanya dalih demokrasi yang digembor-gemborkan sendiri oleh pemerintah kita. Dan perkembangan ini bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang makin menngkhawatirkan. Maka tidak heran ketika dosen saya pernah berkata bahwa Islam saat ini adalah Islam yang cukup agresif. Umat Islam kini bebas mengatakan setuju dan tidak setuju terhadap suatu hal tanpa perlu takut diberangus lagi.

Pergerakan Islam pun semakin pesat, tidak hanya sekedar dalam forum-forum pengajian, tetapi sudah masuk ke semua sektor ekonomi, politik, pendidikan, pemerintahan, sosial, dsb. Pergerakan-pergerakan pun makin banyak macamnya mulai dari yang lembut hingga yang keras. Dan pemerintah pun tidak bisa mengatur perkembangan ini karena telah termakan oleh demokrasi yang telah mereka ciptakan sendiri.

Angin segar muncul ketika terorisme menjadi tren tersendiri. Semenjak penyerangan WTC oleh Osama bin Laden maka kata terorisme menjadi komoditi tersendiri bagi seluruh Negara di dunia. Salah satunya di Indonesia semenjak tragedi bom bali. Dan beberapa saat yang lalu tren ini muncul kembali dengan adanya kejadian bom Marriot jilid 2.

Ustad Abu Bakar Ba’asyir pernah mengatakan bahwa sesungguhnya terorisme adalah sesuatu yang diciptakan untuk memberangus pergerakan Islam saat ini. Dan kini hal itu makin nampak masuk akal. Semenjak kejadian Bom Marriot jilid 2 mulai tampak kegiatan pemerintah memperketat pengawasan perkembangan Islam. Mulai dari isu penggunaan outbound oleh Saefudin Jaelani sebagai bentuk perekrutan teroris, anjuran dari TNI agar melaporkan pendatang yang menggunakan sorban (apdahal para teroris justru tidak menggunakan sorban dalam penyamaran mereka), hingga yang terakhir ini adalah dimulainya lagi kegiatan intelejen dalam setiap kutbah-kutbah di masjid oleh pihak kepolisian.

Sekarang coba bandingkan dengan zaman orde baru, saya rasa hampir sama. Bedanya jika dahulu pekerjaan ini dilakukan oleh ABRI aka sekarang dilakukan oleh Polisi. Jika dahulu pemerintah tidak perlu repot-repot memberikan alasan kepada masyarakat maka kini cukuplah terorisme untuk melakukan tindakan-tindakan yang dirasa perlu.

Penutup


Tulisan ini bukan bermaksud mendukung terorisme atau menjelek-jelekkan pemerintah, hanya saja ketika pemerintah menggembor-gemborkan demokrasi maka kami umat Islam juga menuntut hal yang sama. Jika terorisme bisa dilakukan oleh siapa saja mengapa hanya kami umat Islam yang diawasi? Mengapa seminar-seminar dan kutbah-kutbah di gereja atau pun Pura tidak diawasi? Ataukah memang terorisme adalah sebutan lain bagi kami umat Islam? La khaula wa la kuwata illa bi illah.

Militer di mata saya

Bermula ketika semester satu saya mengambil mata kuliah kewarganegaraan dimana saya mendapat tugas dengan tema civil society. Dari situlah saya mengenal adanya yang disebut sebagai masyarakat sipil dan masyarakat militer. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa perlu adanya pemisahan antara masyarakat sipil dan militer.

Militer, manusia yang berbeda


Siapa yang tidak mengenal istilah-istilah koleris, sanguinis, melankolis, dan pregmatis? Sudah ribuan buku psikologi popular yang menjajakan tes-tes mainan tersebut kepada masyarakat awam. Namun tahukah anda bahwa tipe tes psikologi ini juga pernah menjadi andalan di militer pada saat perang dunia?

Ada sebuah sejarah yang menarik dimana pada saat perang dunia Negara-negara Eropa menggunakan tes ini sebagai seleksi tentara mereka. Dan mungkin anda sekalian juga bisa menebak bahwa tentu saja orang dengan tipe koleris lah yang mereka cari untuk dijadikan tentara.

Koleris aalah tipe manusia dimana secara gampangnya mereka disebut sebagai orang-orang yang gampag marah. Tentunya kita tahu bahwa tidak mungkin menggunakan orang-orang sanguinis, melankolis, dan pregmatis di dalam perang karena mereka dorongan dari dalam diri mereka untuk balas menyerang ketika mereka diserang tidak akan sebesar orang-orang tipe koleris. Kita tidak membutuhkan kegembiraan dalam berperang, kita juga tidak punya waktu untuk meratapi peperangan. Dan tentunya kita tidak bisa hanya bersabar ketika musuh menodongkan senjata kepada kita.

Oleh karena itulah ada sebuah tempat yang disebut sebagai barak militer yang salah satu fungsinya adalah menjauhkan mereka dari masyarakat sipil agar tidak terjadi konflik. Bahkan beberapa Negara seperti Amerika Serikat misalnya mereka terus menerus menciptakan perang dan tentunya salah satu tujuan lainnya adalah menyalurkan hasrat masyarakat militer agar nantinya hasrat tersebut tidak disalurkan ke negeri mereka sendiri.

Dalam masyarakat militer, perasaan marah dan kekerasan disalurkan dalam bentuk yang tepat sehingga menguntungkan mereka.

Kita sebagai warga sipil, pernahkah terpikir bahwa ada makhluk lain yang menyerupai kita dari segi jasmani. Mereka juga makhluk hidup dominan seperti kita. Akan tetapi mereka memiliki struktur kehidupan dan masyarakat yang berbeda?

Sekarang bayangkan sebuah masyarakat dimana penuh dengan orang-orang yang cenderung lebih mudah marah dan lebih dekat dengan kekerasan. Dalam masyarakat militer hal itu justru dipupuk dan diolah dengan baik. Sedangkan dalam masyarakat kita itu semua adalah hal yang tabu. Maka adalah sebuah tindakan yang bodoh ketika kita mempermasalahkan kekerasan yang terjadi di militer.

Jika kita sebagai masyarakat sipil digerakkan oleh opini masyarakat maka mereka digerakkan oleh perintah dari orang di atas mereka. Mereka tidak mengenal demokrasi seperti halnya kita memuja-mujanya, karena demokrasi hanya akan menghancurkan keteraturan dalam masyarakat mereka. Mereka tidak mengenal HAM seperti kita mengagung-agungkannya. Karena bagi mereka HAM hanyalah mainan orang-orang cengeng.

Pikiran mereka dipenuhi hanya dengan satu versi kebenaran saja: melakukan apa saja demi tanah air. Dan memang sejak kecil mereka dididik unntuk cinta kepada tanah air mereka melebihi apapun. Yang mereka tahu hanyalah menjalankan perintah sebaik-baiknya demi tanah air mereka.

Masyarakat mereka sungguh berbeda dengan kita. Sehingga menurut saya adalah konyol memaksakan pemikiran-pemikiran kita kepada mereka. Adalah bodoh memaksakan demokrasi ke dalam sistem komando. Dan bagaimana kita bisa membentuk militer yang tangguh jika sedikit-sedikit mereka berbicara tentang HAM?

Jangan berpikir itu semua tidak manusiawi dan kita mengasihani mereka. Justru merekalah yang kasihan kepada kita. Yang perlu kita lakukan adalah menghargai mereka dan memperlakukan mereka sebagaimana seharusnya.

Militer di Indonesia


Di Indonesia sendiri, terjadi perubahan yang cukup besar dalam struktur masyarakat sipil dan militer beberapa tahun terakhir ini. Dimulai dari orde baru dimana pemerintah bertumpu kepada militer. Namun pasca tumbangnya orde baru muncul sebuah phobia masyarakat sipil terhadap masyarakat militer.

Pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, persenjataan yang selama ini hanya dikuasai oleh masyarakat militer yang diwadahi dalam ABRI (pasca reformasimasi menjadi TNI-Polri), kini masyarakat sipil pun diberi persenjataan dengan adanya pemisahan Polri dari masyarakat militer menjadi masyarakat sipil. Sehingga kini bisa dibilang persenjataan tidak hanya dimonopoli oleh masyarakat militer namun masyarakat sipil juga berhak.

Bukan hanya itu, phobia anti orde baru dan juga ani militer tidak hanya merubah struktur persenjataan. Jika anda cermati maka militer kian lama kian dikebiri dari berbagai sektor. Pemerintah juga mulai beralih kepada polisi (masyarakat sipil) dibanding kepada TNI (masyarakat militer) karena polisi dianggap lebih ramah lingkungan.

Salah satu indikasinya adalah kasus pengeboman. Untuk mengatasi kasus ini pemerintah sampai perlu repot-repot membentuk detasemen khusus dibawah POLRI padahal dalam struktur TNI sendiri sudah ada detasemen tersendiri untuk mengatasi apa yang sekarang biasa disebut terorisme. Dan sepak terjang detasemen anti teror milik TNI tersebut juga sudah teruji di mata Internasional. Bahkan telah berhasil menduduki peringkat kedua di dunia setelah Jerman. Namun pemerintah lebih suka meanfaatkan Polisi (sipil) dan membentuk detasemen baru karena dianggap lebih ramah lingkungan.

Dan keberalihan pemerintah dari masyarakat militer ke sipil itu juga berpengaruh kepada kesejahteraan masyarakat militer kita yang kian lama kian menurun. Salah satu yang bisa kita cermati adalah jatuhnya pesawat-pesawat militer beberapa tahun terakhir ini.

Selain itu, dosen saya pernah bercerita tentang sebuah penilitian yang menarik tentang kesejahteraan TNI dan Polri. Penelitian dilakukan dengan mendata sampah-sampah dari kedua sampel masyarakat tersebut. Dan hasilnya tentu tidak mengherankan ketika ditemukan bahwa masyarakat Polri (sipil) jauh lebih sejahtera dibandingkan dengan TNI (militer). Ini menunjukkan keberkurangan perhatian pemerintah kepada masyarakat militer dan beralih kepada masyarakat sipil.

Penutup


Apa yang saya tuliskan bukanlah sesuatu yang bermaaksud menjelek-jelekkan atau membeda-bedakan antara masyarakat yang satu dengan yang lain. Yang saya harapkan adalah bahwa kita menyadari adanya perbedaan antara sipil dan militer. Perbedaan tersebut hendaknya disikapi secara bijaksana. Tidak perlu ada phobia dari masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Apalagi perlakuan diskriminasi satu dengan lainnya.

Hal lai yang menjadi keprihatinan saya adalah adanya kecenderungan untuk terus mengebiri kesejahteraan masyarakat militer di Indonesia. Bagaimanapun juga mereka tetaplah manusia dan bagian dari NKRI dan menjadi tanggung jawab pemerintah untuk mengurusinya. Bagi saya, mereka adalah para patriot sejati dibanding kita masyarakat sipil. Dan semoga seiring bertambah majunya kesejahteraan masyarakat sipil maka masyarakat militer kita kembali Berjaya menjadi macan Asia, atau bahkan macan dunia. NKRI Jayamahe!

Sabtu, 25 Juli 2009

jangan berjanji bila tidak mau menepati


Pagi ini saya cukup kaget ketika membaca judul berita headline di SKH Kedaulatan Rakyat (25/7/2009) yang menyatakan bahwa pemerintah menghentikan BLT mulai tahun depan. Sebenarnya saya pribadi kurang setuju dengan keberadaan BLT itu sendiri karena menurut saya itu kurang tepat.

Namun bukan itu yang membuat saya kaget, akan tetapi saya kembali teringat janji salah satu capres kita (yang tampaknya akan menjadi presiden untuk 5tahun ke depan) dengan slogan LANJUTKAN-nya dia berjanji akan melanjutkan program pro rakyat (BLT, PNPM, dsb) jika terpilih kelak. Akan tetapi baru saja KPU mengumumkan hasil perhitungannya dan belum pelantikan akan tetapi indikasi kebohongan sudah mulai tampak.

Saya sendiri tidak tahu apakah meengingkari janji adalah memang tipikal dari para politisi ataukah itu semua hanya dilakukan oleh oknum-oknum politisi tertentu. Saya sendiri selalu berpikiran positif bahwa itu semua hanya dilakukan oknum-oknum tertentu yang jumlahnya tidak banyak.

Akan tetapi memang janji politisi adalah sesuatu yang telah dianggap sebagai sampah oleh masyarakat. Itulah sebabnya angka golput dari tahun ke tahun cenderung mengalami kenaikan hingga mencapai 40% pada pemilu legislatif kemarin.

Bagi saya sendiri janji adalah sesuatu yang diperlukan untuk menunjukkan kesungguhan seseorang terhadap suatu hal. Janji juga merupakan sebuah kontrak moral yang pertanggungjawabannya akan dimintai dalam dunia sosial dan religius. Saya sendiri sangat setuju bahwa para politisi seharusnya berjanji. Bahkan jika para politisi tersebut tidak berhasil mewujudkan janjinya akan tetapi mereka telah berusaha saya akan tetap menghargai mereka.

Akan tetapi ketika mereka mengingkari janji tanpa berusaha maka saat itulah saya akan berkata bahwa mereka adalah sampah. Jika memang mereka tidak memiliki kesungguhan atau niat bersungguh-sungguh dalam melakukan apa yang mereka janjikan maka sebaiknya tidak usah berjanji saja. Karena janji bukan hanya berada di mulut, akan tetapi janji berdampak juga pada kehidupan sosial dan religius. Maka janganlah berjanji jika memang tidak ada niatan untuk ditepati.