Kamis, 09 April 2009

cerita sebuah hape


seseorang pernah berkata bahwa "Allah bersama dengan orang-orang yang beriman". Saya tidak akan mengatakan bahwa saya orang beriman, tapi saya yakin Allah bersama mereka. lagsung saja saya mulai cerita saya.

Berawal dari suatu siang yang panas sekali karena dampak efek global warming. Saya sedang melihat hasil sementara Quick Count dari sebuah televisi swasta. Udara sangat panas hingga benda-benda di sekitar saya meleleh. Rumah tetangga saya kebakaran, (egag ding,,)

Tiba-tiba terdengarlah suaru seorang wanita dari kejauhan memanggil-manggil. Saya sempat merinding. Tapi ternyata itu suaraibu say yang menyuruh saya untuk pergi ke Barat mencari kitab suci. Egag ding, saya disuruh keluar untuk mencari suatu benda yang diperebutkan bajak laut yang biasa disebut ONE PIECE (malah jadi kayak komik).

Walhasil pergilah saya ke Barat untuk membeli daun pisang. Di tengah udara yang panas menyengat itulah saya pergi menunaikan kewajiban demi baktiku kepada orang tua dan Tuhan (ceile...padahal ya karena terpaksa daripada ntar gag dikasih makan n diusir dari rumah). Saya pergi menuju Gondomanan. Belok kiri sebelum perempatan teman-teman...(malah nyanyi).

Di tengah jalan tiba-tiba insting laba-laba saya merasakan sesuatu (sebelumnya saya memang pernah digigit kecoak sehingga saya memiliki kemampuan khusus seperti sapiderman,, loh??). Ntah kenapa saku celana saya terasa ringan. Ternyata saya tidak pake celana!!! Bukan ding, saya dapati saku saya kosong tanpa adanya hape saya. Lantas saya langsung balik menyusuri jalan yang saya lewati berharap menemukan hape saya.

Akhirnya saya nyampe rumah (loh belom jadi beli daun pisang). Saya miskol hape saya pake hape laen tetapi tidak nyambung. Saya terus miskol hape saya sambil bolak balik menyusuri jalan yang tadi saya lewati. Tetapi tetap saja tidak ketemu.

Akhirnya hape saya berbunyi tuut...tuut.... tetapi tetap juga tidak diangkat sampe akhirnya hape saya mati kembali. Saya sudah pasrah. Berniat mati gatung diri tapi talinya putus, lalu saya lompat dari atas tebing ternyata dibawahnya ada kasur yang sangat empuk. Ya sudahlah mungkin say tidak ditakdirkan untuk mati. Lalu saya pergi kembali menjalankan misi ke Barat. Di tengah jalan saya ditabrak bis lalu mati. Cerita selesai.











egag ding, ternyata sampe Gondomanan tidak ada yang jualan daun pisang, adanya daun ganja. Lantas saya membeli daun ganja. Tetapi karena di dekat sana ada kantor polisi saya mengurungkan niat saya. Alhasil saya pulang dengan tangan kosong.

Lalu saya mebuat sebuah pengumuman di fesbuk memberitakan telah hilang sebuah hape dengan meninggalkan 4 orang istri, 3 orang anak, dan 1 orang pembantu. Saya juga sempat sms ke beberapa ekor teman saya. Tiba-tiba hape bapak saya nyambung dengan hape saya. HARAPAN ITU MASIH ADA!!! Sesuai jargon dari sebuah partai politik. Dan walhasil orang yang menemukan hape saya berjanji untuk mengembalikannya dengan tebusan 5 Milyar. Lalu disepakati lah pertemuan anatara kami dengan catatan mereka (yang menemukan hape saya) tidak boleh menghubungi RSJ.

Sore hari bangun tidur ku terus mandi. Tidak lupa menggosok gigi. (malah nyanyi lagi). Saya terbangun kemudian mendatangi tempat yang telah dijanjikan. Saya mempersiapkan uang tebusan tersebut. Saya sebelumnya juga tidak lupa memakai rompi anti santet.

Tempat pertemuan, pukul 17.08
Suasana sangat tegang, kami telah sampai di tempat yang dijanjikan. Untunglah mereka tidak menelpon RSJ seperti permintaan kami. Tetapi tetap saja mereka masih menyandera hape saya. Lantas saya melihat orang itu, ya orang itu.

Ternyata orang itu tidak seperti yang saya bayangkan. Orang itu berbaju putih dan bersinar (lebay, tapi emang saat itu dya berbaju putih). Dia langsung mengembalikan hape saya. Bahkan ketika saya berikan uang tebusan dya menolak. Dia berkata,"kok cuma dikit?? gag maw aku."

egag ding, orang itu denganbaik hatinya berkata; "apa ini? saya kan cuma menemukan jadi tidak usah". Tetapi ketika bapak saya berkata, "anggap saja ini sedekah" dia lengsung bertanya,"ikhlas?".

Bapak saya pun menjawab, "ikhlas". Tiba-tiba penghulu dan empat orang saksi berteriak, "sah!!!".

Saya pikir baik sekali orang ini. Jarang ada orang yang mau mengembalikan hape yang hilang. Apalai itu adalah hape saya yang pasti akan laku mahal dikalangan fans saya. Saya jadi berpikir akan sebuah janji,"jika yang menemukan hape ini adalah wanita cantik, baik hati, sabaya, tidak sombong, solihah maka akan saya jadikan istri. Jika laki-laki maka akan saya jadikan pembantu atau saya kasihkan ke salah satu teman saya yang homo".

Tetapi berhubung Bram sudah meninggalkan status homo-nya dan Galih ntah berada dimana (katanya kemaren mo ke pante, mungkin sudah mati terseret ombak) maka saya mengurungkan niat tersebut. Lalu saya kembali ke rumah dengan hati riang. Di tengah jalan hape saya ilang lagi. Lalu terulanglah kejadian seperti di atas dan seterusnya.

=============================================================

Pesan moral dari cerita di atas: rajin-rajinlah menyirami tanaman!!!
catatan: cerita di atas tidak sepenuhnya fiksi, nama tokoh memang disengaja dengan maksud untuk mengejek (piss dab!!)
tambahan: anda kemabli bisa menghubungi saya di nomer yang dahulu

Jumat, 03 April 2009

memahami sebuah kepercayaan


Apakah arti dari kepercayaan? Bagaimana kepercayaan kita dapat diukur? Hal yang simple ini terkadang tampak sangat tidak perlu untuk diperbincangkan.

Yang sering salah adalah pemahaman bahwa kepercayaan dan logika adalah sesuatu yang berbanding lurus. Justru sebaliknya, kepercayaan akan berbanding terbalik dengan logika (hal-hal yang bersifat masuk akal).

Ketika anda berhadapan dengan seseorang yang kaya raya, dermawan, jujur, amanah, dan selalu menepati janji datang kepada anda untuk meminjam uang katakanlah sekedar 20ribu karena dia lupa membawa uang pada saat itu. Tentu anda akan dengan ringan hati memberikannya. Namun bukan itu semua arti dari kepercayaan.

Semua orang percaya dengan hal itu. Semua orang bisa melakukannya. Dan itu sama sekali tidak istimewa. Tetapi bayangkan jika orang yang dihadapan anda itu adalah orang yang urakan, egois, pembohong, suka semaunya, dan sering ingkar janji. Apakah anda akan meminjaminya?

Ketika anda meminjaminya maka saat itulah anda benar-benar memahami arti dari sebuah kepercayaan. Kepercayaan yang tertinggi adalah kepercayaan yang diberikan kepada hal-hal yang tidak masuk akal. Semakin tidak masuk akal dan anda mempercayainya, maka semakin tinggilah nilai kepercayaan anda.

Keimanan bukan tergantung dari seberapa banyak masjid yang masih tetap berdiri setelah diterjang tsunami, bukan pula tergantung seberapa banyak bukti yang ada di hadapan kita. Keimanan tidak tergantung pada logis dan tidak logis. Keimanan berada di atas itu semua. Ketika seseorang sudah percaya, tidak peduli seberapa tidak masuk akalnya, tidak peduli seberapa mustahil, itulah kepercayaan/keimanan.

Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau mengihidupkan orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu?”. Ibrahim menjawab: “Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)”. Allah berfirman: “(kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “ Lalu letakkan tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, Niscaya mereka akan datang kepadamu dengan segera”. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (2:260)

Percakapan Ibrahim tersebut telah menjelaskan kepada kita arti kepercayaan. Kepercayaan tidak bergantung pada kenyataan ataupun bukti yang ada, tetapi justru lebih dari itu semua. Bisa jadi ketika kita menanyakan sebuah pertanyaan, justru itu mencederai kepercayaan kita. Bukan berarti kita tidak boleh mencari bukti, namun yang perlu diingat adalah bukti atau sesuatu yang logis tersebut hanyalah sebagai pembenaran atas kepercayaan kita.

Ingatkah ketika Muhammad menceritakan perjalanannya ke langit ketujuh (Isra’ Mi’raj) dihadapan umatnya hingga mereka semua banyak yang justru keluar dari Islam karena menganggap itu semua tiddak masuk akal? Saat itulah Abu Bakar berkata, “Jikalau Muhammad berkata demikian maka aku mempercayainya”. Itulah sebuah kepercayaan. Kepercayaan Abu Bakar kepada Muhammad, dan juga kepada Allah SWT lah yang meyakinkan dia, tidak peduli apakah itu semua masuk akal atau tidak.

Kadang kita ragu apakah kita perlu mempercayai sesuatu. Apakah seseorang/sesuatu dapat kita percayai atau tidak. Namun menurut saya satu hal: yang salah bukanlah kepercayaan yang kita berikan, melainkan orang yang mengkhianati kepercayaan. Tetaplah percaya terhadap hal-hal yang positif. Tanpa mimpi/harapan ataupun kepercayaan tidak aka nada hari esok yang cerah. Wallahu a’lam.

Minggu, 29 Maret 2009

sekedar informasi

saya ingin meminta maaf kepada semua yang merasa pernah saya salahi. dengan ini saya ingin mangatakan bahwa mulai saat ini saya terpaksa berjualan pulsa. jika suatu saat nanti teman-teman terpaksa membeli pulsa di tempat saya silahkan hubungi saya lewat hape, mxit (kalo onlen), YM (kalo onlen), berbicara langsung, maupun melalui telepati (jika sanggup). tidak dianjurkan melalui merpati pos karena terlalu lama. pembayaran bisa dilakukan dimana saja anda bisa menemukan saya. kalau terpaksa silahkan mengutang tetapi sebaiknya jangan mengutang karena ajal dapat tiba sewaktu-waktu. berhutang juga dilarang terlalu lama kecuali anda memang sudah meniatkannya untuk dibayar di akhirat kelak (hehehe). berikut daftar harganya:
SIMPATI (jateng+DIY)
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
50k : 49.000
100k : 96.000

AS (jateng+DIY)
5k : 5.500
10k : 10.500
15k : 16.000
25k : 26.000
50k : 50.000
100k : 97.000

Ceria
5k : 5.500
10k : 10.000
20k : 20.000
50k : 49.000
100k : 97.000

XL
Regular
5k : 5.500
10k : 10.500
25k : 25.500
50k : 50.000
100k : 99.000
Xtra
10k : 10.500
50k : 50.000
100k : 99.000

Flexi
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
50k : 48.000
100k : 94.000
150k : 141.000

Fren
10k : 10.500
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 97.000

StarOne
10k : 10.500
20k : 20.000
50k : 49.000
100k : 97.000

3
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
30k : 30.000
50k : 50.000
100k : 97.000

Mentari
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.500
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 97.000

IM3
Regular
5k : 5.500
10k : 10.500
20k : 20.000
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 96.500
SMS
5k : 5.500
200x : 8.500
2000x : 30.000

AXIS
5k : 5.500
10k : 10.000
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 96.000

ESIA
5k : 5.500
10k : 10.500
25k : 25.000
50k : 49.000
100k : 95.000

Smart
5k : 5.500
10k : 10.000
20k : 20.000
25k : 24.500
50k : 48.000
100k : 96.000

catatan: harga sewaktu-waktu dapat berubah tergantung suasana politik, suasana hati pedagang, dan perolehan kursi parlemen dalam pemilu legislatif 9 april nanti. gunakan hak pilih anda!!! (malah gag nyambung) penjual berhak menagih hutang pembeli bahkan sampai di akhirat nanti. jika anda menemukan harga saya terlalu murah/mahal anda boleh membayar lebih atau silahkan

Kamis, 12 Maret 2009

Berbicaralah dengan bahasa manusia


Orang Jepang terkenal dengan kepandaiannnya. Betapa maju teknologi yang mereka miliki. Tetapi seberapa cenggih dan pintarnya mereka, ketika mereka berada di Inggris mereka terpaksa menggunakan bahasa Inggris untuk menanyakan dimanna letak toilet.

Bahasa adalah suatu sistem dari lambang bunyi arbitrer yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identifikasi diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan adalah bahasa sekunder. Arbitrer yaitu tidak adanya hubungan antara lambang bunyi dengan bendanya. (http://organisasi.org/definisi-pengertian-bahasa-ragam-dan-fungsi-bahasa-pelajaran-bahasa-indonesia)

Bahasa adalah sesuatu yang digunakan untuk mengkomunikasikan ide atau gagasan antara satu individu dengan individu lainnya. Tanpa bahasa, suatu gagasan tidak akan sampai dari satu individu ke individu lainnya. Sebagus apa gagasannya, sebenar apa informasi tersebut, tanpa bahasa maka segala ide, informasi, gagasan tersebut tidak akan sampai kepada orang lain. Dengan bahasa yang tepat pula, sesuatu yang salah seolah-olah bisa menjadi benar di mata orang lain.

Itulah bahasa, sesuatu yang sangat vital. Sehebat apapun ide, gagasan, dan pikiran anda jika tidak anda sampaikan pada orang lain maka itu hanya akan menjadi angan-angan kosong.

Saya tidak berbicara bahasa hanya dalam konteks kenegaraan dan budaya. Bukann bahasa urdu, bahasa Jawa, bahasa Arab, bahasa Indonesia, dan sebagainya. Bahasa yang saya maksud termasuk di dalamnya adalah sudut pandang, ideologi, nilai-nilai, dan sebagainya.

Sebenarnya saya membuat tulisan ini sebagai kritikan bagi para pendakwah dan para orang yang suka berdebat tentang kebenaran versi mereka. Meskipun gagasan mereka bagus, terkadang mereka kurang tepat dalam menyampaikan. Sebagus apapun gagasan mereka tanpa penyamnpaian yang tepat itu semua hanya menjadi angin lalu yang masuk dari telinga kanan dan keluar melalui anus.

Jangan bicara dogma dikalangan akademis, berbicaralah tentang fakta-fakta. Jangan berbicara nilai-nilai agama di hadapan orang-orang humanis, bicaralah kepada mereka tentang nilai-nilai kebajikan. Jangan berbicara tentang zakat di kalangan kaum matrealistis, berbicaralah tentang kemampuan system ekonomi syariah mengahadapi krisis ekonomi global. Jangan berteriak tentang syariat Islam dihadapan orang-orang yang alergi dengan agama/masyarakat sekuler, perkenalkanlah produk-produk hukum ciptaan Allah SWT tanpa membawa labelnya.

Al-Quran diturunkan secara bertahap, dakwah juga dilakukan secara bertahap. Biarkanlah orang-orang yang tidak tahu itu menngerti sesuatu yang dapat mereka pahami dahulu. Jika tidak bisa membawa utuh, bawalah isinya dahulu baru setelah mereka tertarik tunjukkanlah labelnya.

Jangan ngomong dengan bahasa arab yang njlimet kepada orang-orang awam, terangkanlah pada mereka dengan bahasa mereka, bahasa orang awam. Jangan membantah sesuatu yang ilmiah dengan opini, bantahlah dengan sesuatu yang ilmiah juga. Jangan membantah sesuatu yang legal dengan kebenaran, bantahlah dengan sesuatu yang legal juga.

Marilah kita hilangkan keegoisan kita dan berusaha memahami mereka, agar kita bisa memahamkan mereka terhadap kebenaran

Kamis, 05 Maret 2009

Lihatlah pemandangan yang indah untuk pikiran yang indah



Lihatlah televisi. Berapa banyak berita negatif yang anda temukan. Bacalah surat kabar. Cobalah anda cari berapa banyak berita positif dalam ssurat kabar tersebut. Suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, selama ini tanpa kita sadari kita secara perlahan tapi pasti sering diicekoki tentang hal-hal negatif tentang lingkungan kita. Dan gawatnya, secara tidak sadari kita digiring untuk mempersepsikan lingkungan kita ini sebagai suatu yang buruk. Sehingga seringkali schema yang ada dalam pikiran kita adalah schema-schema negatif.

Mari saya beri sedikit contoh. Ketika anda di tengah jalan diberhentikan oleh polisi maka apa yang terlintas di pikiran anda? Saya yakin mayoritas akan berpikir, “ wah hilang deh duid 20rb untuk menyogok Polisi ini agar berdamai.” Padahal bisa saja Polisi tersebut memberhentikan anda karena ingin memberitahu bahwa ban sepeda motor anda kempes. Tetapi schema yang ada dalam pikiran anda adalah schema negative.

Saya jelaskan sedikit tentang schema. Schema is a template how do you interprete the stimulus. Dalam bahasa mudahnya, schema adalah suatu persepsi yang ada dalam pikiran anda untuk menafsirkan sesuatu hal. Schema ini berpengaruh besar terhadap social cognition. Social cognition is how people see and understand the reality (materi ini saya dapat dari mata kuliah Psikologi Sosial yang diampu oleh dosen Djamaludin Ancok).

Intinya, dalam memandang dunia ini manusia dipengaruhi oleh schema-schema yang ada dalam pikiran kita. Lantas darimana schema-schema ini berasal? Schema-schema ini berasala dari apa yang biasa kita lihat sehari-hari. Jadi kesimpulannya semakin sering anda melihat hal-hal buruk maka semakin anda secara tidak sadar digiring untuk melihat dunia ini secara negatif.

Mungkin sebagian dari kita berpendapat,”yah yang kita lihat di media massa itulah kebenaran yang ada.” Mungkin benar bahwa yang ada di media massa adalah fakta, tetapi tidak semua fakta ada di media massa. Fakta yang serinng dieksppos oleh media massa adalah fakta-fakta yang relatif berbeda, bukan fakta yang terbaik untuk dikonsumsi. Dan parahnya, kebanyakan fakta yang dianggap berbeda itu adalah fakta yang negatif. Mari saya beri sedikit simulasi.

Secara otomatis, manusia terdorong untuk tertarik pada perbedaan. Ketika anda melihat gambar di atas, maka secara otomatis anda akan fokus pada perbedaan. Anda akan fokus pada tulisan “negatif” yang berwarna hitam. Mengapa anda tidak melihat layar putih di sekitarnya yang lebih besar?

Yang saya maksudkan adalah, memang benar ada fakta berupa tulisan “negatif” dalam gambar tersebut. Akan tetapi coba bandingkan dengan warna putih di sekelilingnya. Sesungguhnya warna hitam (tulisan “negatif”) tersebut sebenarnya hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan. Lihatlah bagaimana person schema kita pada para pemimpin kita. Banyak yang menganggap para anggota DPR kita gemar korupsi, karena selama ini kita sering kali dimasuki berita tentang korupsi para pejabat kita. Sangat jarang sekali ada berita tentang pejabat kita yang gemar menabung dan menyirami tanaman serta menyapu halaman. Padahal itu semua bukan berarti bahwa seluruh pejabat kita melakukan korupsi dan tidak pernah menyirami tanaman. Kalo kita cermati lagi, berapa banyak sih pejabat kita yang terbukti korupsi dibandingkan dengan jumlah pejabat seluruhnya? Berapa banyak Polantas dibandingkan jumlah keseluruhan personil Polisi? Itu semua hanyalah bagaikan tulisan kecil berwarna hitam di atas lembaran putih yang besar. Tapi secara otomatis kita selalu memandang warna hitam tersebut dan bukan pada warna putih yang lebih besar. Dan celakanya, terkadang kita terlalu asyik memandangi warna hitam tersebut hingga lupa pada warna putih yang ada.

Engkau bisa melihat kebaikanku sebanyak apa yang ada pada diriku, tetapi engkau akan menemukan keburukanku sebanyak yang ada dalam pikiranmu.

Keburukan itu selalu ada, tetapi janganlah keburukan yang ada membuat kita melupakan keberadaan dari kebaikan yang sebenarnya jauh lebih besar. Marilah kita senantiasa berpikiran positif. Bukankah Rasulullah mengajarkan kepada kita agar tidak berburuk sangka?

Jauhilah darimu prasangka karena sebagian besar dari prasangka mengarah ke keburukan.

Apabila anda memakai kacamata hitam, maka anda akan selalu melihat kegelapan. Apabila anda memakai kacamata hijau, maka anda akan mendapatkan kesegaran pada mata anda. Gunakanlah kacamata yang berpengaruh baik terhadap anda.

Senin, 09 Februari 2009

Penonton dan Pemain


Pertandingan sudah mendekati akhir, klub tersebut telah berhasil unggul 1 angka. Para penonton bersorak sorai penuh kemenangan. Akan tetapi karena permainan terus menyerang, sehingga seringkali berkali-kali gawangnya hampir kebobolan. Penonton marah-marah. Salah satu penonton berkata, “dasar pemain tidak becus! Dia tidak tahu apa-apa tentang pertandingan. Sudah menang satu angka tapi terus saja menyerang. Harusnya mereka bertahan saja agar mereka menang dalam pertandingan ini! Apalagi klub lawan sangat hebat, beruntung klub ini bisa unggul 1 angka dari mereka”. Tetapi sebuah kejadian yang membuat gawang klub itu hampir saja kebobolan menyulut amarah para pendukungnya sendiri. Puncaknya para supporter justru melempari tribun tempat duduk pemain cadangan dan pelatih kelompok yang mereka dukung. Beberapa bahkan turun ke lapangan sehingga membuat suasana menjadi rusuh dan pertandingan terpaksa dihentikan. Salah satu dari penonton tersenyum,”dasar bodoh! Lihat akibatnya kalau tidak menurut dengan kami. Masih untung pertandingan dihentikan saat kalian menang 1 angka dari mereka, jadi kemungkinan kalian tetap akan menang”.
***
Seorang pemain dari klub amatiran berada di sudut lapangan. Dia tersenyum bahagia. Teringat kejadian beberapa waktu lalu sebelum pertandingan.
Di dalam ruang ganti, seorang pelatih sedang sibuk menerangkan betapa pentingnya pertandingan ini kepada para pemainnya. Klub ini harus menang minimal 2 angka agar bisa melanjutkan ke baba berikutnya. Pelatih terus menerus berkata jika sebelum melebihi dua angka, posisi permainan jangan berubah dan terus fokus untuk menyerang. Hanya ada dua kemungkinan: menang dua angka atau kalah. Pelatih juga member tahu kabar baik lainnya. Bahwa klub lawan yang terkenal tangguh tersebut kebetulan sedang berada dalam situasi yang tidak biasanya dimana terdapat sebuah problem internal yang menyebabkan klub lawan sedang berada dalam kondisi terlemah.
Kini klubnya yang notabene hanya klub amatiran telah unggul 1 angka dari klub professional yang menjadi lawannya. Apa yang dikatakan pelatih benar. Klub musuh sedang tidak berada dalam kondisi prima untuk bertanding. Berkali-kali serangan lawan hampir membobol gawang mereka tetapi selalu gagal. Kini mereka terus berusaha menyerang agar mereka bisa unggul 2 angka agar bisa melanjutkan turnamen ke babak selanjutnya. Karenajika hanya unggul 1 angka meeka tetap tidak bisa maju ke babak berikutnya. Tetapi sesuatu terjadi sehingga membuat harapannya hancur. Para penonton mulai membuat rusuh sehingga pertandingan terpaksa dihentikan dengan kemenangan hanya 1 angka sehingga mereka tidak bisa melaju ke babak berikutnya. Salah satu pemain yang marah berkata, “dasar bodoh! Penonton yang tidak tahu apa-apa tapi selalu merasa benar sendiri! Mereka hanya tinggal menonton, mendukung, dan percaya saja tidak bisa!”.

Ada perbedaan besar antara penonton dan pemain. Penonton lebih leluasa dalam bertindak dan berpendapat dibandingkan pemain, karena mereka tidak berada dalam posisi yang terdesak seperti yang dialami pemain. Apapun hasil pertandingan tidak akan berpengaruh langsung terhadap penonton. Pengaruh yang mereka rasakan adalah pengaruh tidak langsung.
Akan tetapi, penonton tidak akan pernah menang. Itulah perbedaan mendasar dari pemain dan penonton. Penonton hanya akan mendapat segala sesuatu secara tidak langsung. Kemenangan hanya akan berpengaruh sedikit terhadap mereka. Tidak sebesar pengaruhnya pada diri para pemain.
Tetapi yang lebih buruk dari semua itu adalah penonton yang tidak tertib. Mereka tidak menyadari apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai penonton dan apa yang seharusnya tidak mereka lakukan. Penonton seperti inilah yang terkadang membuat kekacauan dalam sebuah rencana yang telah disusun demi kebaikan diri mereka sendiri.
Saya tidak inging mengomentari tentang supporter sepakbola kita yang sering rusuh. Saya hanya ingin mengajak diri kita untuk introspeksi. Terkadang kita sebagai penonton merasa lebih tahu dari para pemain dalam kehidupan nyata ini. Terkadang karena tindakan kita yang terlalu gegabah untuk menolong mereka justru membuat impian mereka hancur berantakan. Percayalah pada mereka, mereka lebih tahu tnetang medan yang mereka hadapi dan kemampuan mereka sendiri daripada kita yang hanya menjadi pengamat. Mereka lebih mengerti tentang sesuatu daripada kita yang hanya menonton, karena mereka telah biasa dan dilatih untuk itu maka percayalah.
Percayalah pada para ahli ekonomi untuk membangun perekonomian Negara ini karena mereka lebih tahu. Percayalah pada para ulama karena mereka lebih tahu tentang agama. Percayalah pada para negarawan untuk mengatur Negara ini karena mereka lebih tahu.
Jika anda tidak dapat percaya pada permainan mereka, maka ikutlah bermain menjadi pemain. Jangan hanya bertindak rusuh dan mengacaukan segalanya. Jika anda tidak percaya pada para pemain, cobalah menjadi pemain dan rasakan apakah para penonton bisa mempercayai anda untuk bermain ataukah mereka meragukan anda seperti anda meragukan pemain-pemain lain. Semoga Allah SWT selalu menunjukkan apa-apa yang harus kita lakukan dan apa-apa yang tidak boleh kita lakukan. Wallahu’alam.

Sabtu, 07 Februari 2009

Akankah yang haram menjadi halal?


Perkembangan hidup, teknologi, ilmu pengetahuan, dan sebagainya melahirkan banyak hal-hal baru yang dipertanyakan manfaat keberadaannya dalam keimanan kita. Hal-hal tersebut tidak dijelaskan secara gambling sejelas-jelasnya dalam ajaran yang kita anut selama ini. Hanya dijelaskan tentang hukum-hukum dari inti-inti yang ada. Hal inilah yang menimbulkan penafsiran tentang hukum  atas sesuatu.

Permasalahannya adalah terkadang kita sering menerima sesuatu tanpa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Kita terima begitu saja bahwa sesuatu itu haram atau halal dari orang lain tanpa kita pertanyakan apa yang menyebabkan benda itu haram atau halal. Padahal haram halal yang dikatakan orang lain itu hanyalah sebuah pendapat dan bukan ketetapan yang mutlak.

Sebuah contoh adalah diharamkannya khamr adalah sesuatu yang mutlak dan hukumnya telah dijelaskan secara langsung. Dan khamr sendiri tidak akan pernah menjadi halal. Misalnya ketika suatu saat manusia telah berhasil menciptakan khamr yang tidak memabukkan, maka kita tidak perlu bingung memikirkan apakah khamr tersebut menjadi halal ataukah tetap haram. Karena esensi yang doicari dari orang meminum khamr adalah untuk mabuk, ketika khamr sudah tidak memabukkan lagi karena zat-zat yang ada telah banyak dihilangkan, maka saat itu khamr berganti nama menjadi air putih (karena semua unsur yang membedakan khamr dengan air putih telah dihilangkan). Begitu pula dengan zina dan sebagainya.

Permasalahannya adalah bagaimana dengan televisi, internet, musik, demokrasi, dan sebagainya? Hal-hal tersebut tidak dijelaskan secara langsung dan gamblang oleh Rasulullah dan hanya dijelaskan inti-intinya yang menyebabkan munculnya berbagai macam penafsiran.

Saya ambil sebuah contoh tentang pendapat beberapa kalangan tentang haramnya televise. Pertanyaannnya adalah mengapa televisi itu haram? Apakah karena banyak mudharatnya daripada keuntungannya?

Memang jika kita lihat tayangan televisi saat ini lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Tapi tidak menutup sebuah kemungkinan bahwa televisi bisa diisi dengan hal-hal yang banyak manfaatnya seperti pendidikan, berita, dan sebagainya. Sekarang pertanyaannya jika sutu saat nanti tayangan televisi  banyak berisi hal-hal yang bermanfaat seperti berita, siaran pendidikan, ajakan beriman, dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan sebagainya, apakah orang-orang yang berpendapat televisi itu haram akan tetap mengharamkannya atau menghalalkannya?

Meskipun dunia televisi saat ini masih jauh dari harapan (terutama karena banyaknya sinetron-sinetron yang tidak bermutu dan cenderung menyesatkan) tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa televisi dapat menjadi sarana dakwah yang sangat efektif. Lihatlah berapa banyak orang yang dapat dipengaruhi oleh benda segi empat tersebut. Pikirkan betapa efektifnya benda tersebut jika berhasil dikuasai oleh orang yang tepat. Apakah ketika benda tersebut telah berada di pihak yang benar maka benda tersebut masih haram?

Pertanyaan serupa juga bisa kita tanyakan pada hal-hal lain semacam musik, internet, sinetron, dan sebagainya. Atau mungkin dapatkah kita terapkan hal serupa pada paham-paham Barat yang disebut komunis, demokrasi, liberalisme, dan sebagainya?
Selama ini kita selalu berpikiran bahwa liberalisme menyebabkan kemungkaran bebas berkembang dengan pesat, tetapi di sisi lain ada sebuah kemungkinan bahwa dengan liberalisme juga menyebabkan kebaikan dapat berkembang dengan bebas pula.

Selama ini kita sering berpikir bahwa demokrasi menyebabkan keburukan karena semua tergantung kehendak rakyat, bahkan yang haram dapat menjadi halal karena kehendak rakyat. Tetapi jika suatu ketika kita dipmpin oleh orang yang dzalim dengan demokrasilah kita bisa mengingatkan pemimpin kita agar tidak berbuat lalimmkepada rakyatnya. Apakah bagian dari demokrasi yang ini juga haram?

Itu semua menjadi sebuah pertanyaan besar yang harus kita cari tahu jawabannya. Kewajiban kita mencari tahu adalah karena kita diberi akal oleh Allah SWT untuk digunakan. Semoga Allah SWT senantiasa menuntun kita ke dalam kebenaran dan membuka mata kita untuk dapat melihat mata kita. Wallahu’alam.