Sabtu, 02 Januari 2010

berlari (lagi)


Anakku, jadilah engkau anak yang kuat. Larilah sekencang mungkin jangan sampai engkau tertinggal di belakang. Kalau bisa kamu justru harus mendahului yang lain dan jangan sampai tertinggal

Mengapa aku harus berlari ayah?
Supaya engkau tidak tertinggal dengan yang lain.
Supaya engkau menjadi yang terdepan.

Memang mereka mau berlari kemana ayah?
Memang kenapa kalau aku tetap disini dan tidak pergi kesana?
…

Jika ayah pun tidak tahu mereka akan kemana mengapa aku harus mengikuti mereka?
Apakah tempat tujuan mereka jauh lebih baik dari tempat kita saat ini?
…

Tak ada yang tahu mereka mau kemana.
Tapi aku tahu, mereka adalah orang-orang yang tersesat.
Ketika mereka telah jauh di depan barulah mereka sadar dunia kita lebih indah dari tujuan mereka.
 
Lalu ayah menyuruhku untuk mengejar mereka supaya aku tidak tertinggal, apakah ayah menginginkanku supaya tersesat juga bersama mereka?

Senin, 28 Desember 2009

efektif dan efisien: sebuah budaya baru dalam bekerja


sebuah cerita awal


"Berkerjalah dengan efektif dan efisien" atau "Belajarlah dengan efektif dan efisien", ntah kenapa kedua kata itu kini cukup populer untuk digunakan. Entah sejak kapan kini kita tidak lagi disuruh bekerja dengan benar dan baik tetapi budaya yang muncul mengajarkan kita untuk belajar dan bekerja dengan efektif dan efisien.

Dan parahnya lagi, budaya efektif dan efisien telah meresap ke syaraf-syaraf pemikiran kita. Banyak sekali kebijakan-kebijakan yang diambil efektif dan efisien, namun terkadang seolah bertentangan dengan norma, nilai, dan filosofis yang ada. Apakah itu benar?

siapa itu mereka sebenarnya


Efektif adalah sejauh mana langkah yang kita ambil sesuai untuk mencapai tujuan kita. Sedangkan efisiensi adalah rasio input dibandingkan dengan output dalam mencapai suatu tujuan. Semakin kecil input yang kita lakukan namun dapat mengeluarkan output yang semakin besar, maka semakin efisiensi-lah yang kita lakukan.

Yang menarik adalah kata ini tidak dapat anda temukan di Rusia. Di negeri dingin tersebut tidak ditemukan padanan kata effective. Jika kita telaah lebih dalam, kata-kata ini sering digunakan dalam konteks-konteks perekonomian secara garis besar. Dan kita tahu bahwa Rusia pada awalnya menganut sistem ekonomi sosialis. Jadi biarkanlah saya menuduh kedua kata ini sebagai anak kandung dari budaya eropa yang menganut sistem ekonomi Liberalis-Kapitalis.

Mungkin bagi beberapa orang itu dianggap terlalu berlebihan, tapi percayalah bahwa bahasa merupakan cerminan budaya dari suatu bangsa.

Bagaimana di Indonesia?


Di Indonesia sendiri pun tidak ada kata yang menyamai kata effective. Kata efektif yang biasa kita gunakan pun itu merupakan serapan dari bahasa asing yaitu effective. Begitu pula dengan kata yang satunya. Jadi bisa saya katakan bahwa efektif dan efisien merupakan pendatang dalam budaya kita.

Saya mencoba mencari kata asli yang memiliki arti menyerupai kata tersebut namun belum berhasil menemukannya. Yang saya temukan paling mendekati adalah kata tepat namun itupun memiliki arti yang cukup berbeda. Jadi bisa saya katakan bahwa bangsa kita sebelumnya tidak mengenal konsep efektif dan efisien. Baru ketika pengaruh asing mulai masuk kita kemudian mengenalnya.

Bekerja yuk..


Supaya tidak melebar kemana-mana, sebenarnya saya hanya mengaitkan kedua kata ini dalam budaya etos kerja bangsa kita. Seperti telah dibahas sebelumnya, kini kata-kata populer yang biasa muncul dalam etos atau nasihat kita adalah "bekerjalah dengan efektif dan efisien".

Jika kita mencoba mengingat-ingat lagi, kata-kata itu sebelumnya jarang muncul. Dalam bahasa Indonesia sebelumnya, kata yang biasa kita dengar adalah "Bekerjalah dengan baik dan benar". Sedangkan dalam budaya yang lebih tua lagi (misal budaya Jawa) kata-kata yang muncul adalah "Nyambut gawe sing pener" (Bekerjalah dengan pener).

Apa bedanya?


Dari gambaran di atas terdapat tiga etos kerja yang berbeda yaitu efektif dan efisien; baik dan benar; serta pener. Kita akan bahas satu per satu ketiga etos kerja tersebut.

Efektif dan Efisien. Kedua kata ini mengandung dimensi tujuan dan pengorbanan. Bekerja yang efektif dan efisien adalah bagaimana kita bisa melakukan sesuatu yang tepat untuk meraih tujuan kita dengan pengorbanan seminimal mungkin. Ini menunjukkan suatu etos kerja yang berfokus pada pencapaian tujuan.

Baik dan Benar. Kedua kata ini mengandung dimensi proses saja. Bekerja dengan baik dan benar adalah bagaimana kita bekerja sesuai dengan aturan yang ada dan tidak melanggarnya. Ini menunjukkan suatu etos kerja yang berfokus pada proses yang baik.

Pener. Mungkin sebagian orang heran mengapa saya tidak menyamakan saja arti kata ini dengan kata baik dan benar. Memang banyak orang yang memberikan arti yang sama pada kata-kata tersebut, nemun menurut saya, kata pener itu sendiri lebih dari sekedar baik/benar/tepat. Kata tersebut selain memiliki makna benar, baik, dan tepat, juga memiliki satu dimensi spriritual dimana yang dimaksud benar disini bukan hanya pada menaati aturan tetapi memiliki dimensi spiritualitas dan menjaga nilai-nilai keluhuran.

Oke saya bingung, terus bagaimana?


Kita beri satu contoh saja mengenai privatisasi perusahaan-perusahaan negara. Dalam dimensi pertama, langkah tersebut dinilai efektif dan efisien karena pada kenyataannya bentuk perusahaan terbuka (PT) justru dapat menghasilkan nilai jual yang lebih dan keuntungan lebih banyak. Secara aturan apakah langkah tersebut sesuai dengan UU dan aturan yang ada? Apakah hal itu diperbolehkan? Pertanyaan-pertanyaan ini mengandung dimensi baik dan benar. Apakah kebijakan yang kita ambil ini benar sesuai aturan dan baik bagi negara ini?

Namun ada satu hal yang luput dari kedua hal tersebut yang diampu oleh etos ketiga. Apakah langkah tersebut sesuai dengan filosofi para pendahulu kita? Lalu dimana letak kemandirian dan kedaulatan? Bukankah para pendahulu kita mengamanatkan agar sektor-sektor penting dikuasai oleh negara?

Beri saya satu contoh lagi


Oke baiklah kali ini tentang portal UGM. Beberapa orang berpendapat bahwa jika sistem ini diserahkan pada pihak swasta maka ini akan lebih efektif dan efisien (etos yang pertama). Lalu kita kaji lebih mendalam apakah hal itu memang yang terbaik bagi UGM dan tidak bertentangan dengan aturan yang ada (etos kedua). Tetapi secara filosofis, terus apa gunanya SKKK? Kenapa tidak sekalian kita pecat aja semua SKKK dan kita serahkan keamanan pada pihak swasta? (etos ketiga).

Untuk bonusnya saya beri satu contoh lagi tentang sistem outsourcing. Ditinjau dari efektif dan efisien ternyata memang benar sistem ini menghasilkan kinerja yang lebih bagus dan lebih efisien. Lalu dari segi baik dan benar apakah memang sistem ini baik untuk digunakan dan memang seperti ini seharusnya? Sedangkan ditinjau dari segi pener maka dimana tanggung jawab moral anda sebagai pengambil kebijakan menyiksa orang lain dalam ketidakpastian? Maukah anda menjadi pegawai outsourcing?

Bukan bermaksud bijak, tetapi ini sedikit nasihat


Jika anda cermat dalam membaca buku Organizational Behavior (Robbins, 2003), maka anda akan temukan kekurangan dalam dunia saat ini yaitu aspek spiritual. Etos kerja yang pertama dan yang saat ini sedang populer, yaitu efektif dan efisien, hanya menngandung dimensi pencapaian tujuan sehingga yang terjadi saat ini adalah the end justify the mean.

Namun jika kita mau menggali lebih dalam keluhuran nilai-nilai bangsa kita sendiri, maka anda akan menemukan bahwa para leluhur kita jauh-jauh hari telah berpesan untuk memikirkan proses (baik dan benar) serta berfokus pada nilai-bilai luhur spiritual (pener). Dan subhanallah, ternyata dalam Islam hal serupa juga ada dimana hasil (pencapaian tujuan) adalah milik Allah, sedangkan kewajiban kita hanya berusaha (proses). Maka nyambut gawea sing pener. Jamane jaman edan, ra edan ra keduman. Tapi po kowe rep dadi wong edan men keduman?

Kamis, 03 Desember 2009

Hanya Satu Soekarno..

Mungkin memang hanya satu Soekarno yang memerdekakan Indonesia. Hanya satu Mahatma Gandhi yang mengajarkan untuk melawan keburukan dengan kebaikan. Dan hanya satu Nelson Mandela untuk membuat perubahan tentang apa arti hitam dan putih di dunia ini.

Tetapi kawan tahukah engkau bahwa mereka tidak dapat melakukannya sendirian? Apa yang akan dilakukan Soekarno saat pembacaan Proklamasi tanpa adanya merah putih yang berkibar? Di saat itulah Fatmawati mengambil perannya. Apakah Soekarno akan mantap mendeklarasikan Proklamasi tanpa adanya barisan pemuda di belakangnya yang siap mendukung dia untuk segera melakukan proklamasi?

Apa pula arti Mahatma Gandhi dan Nelson Mandella tanpa masyarakat yang menyorotinya dan mengamalkan pemikiran mereka? Apakah Nelson Mandela berhasil mengubah arti hitam dan putih di dunia ini sendirian? Tentu tidak.

Kawan, mungkin memang hanya dibutuhkan seorang pemimpin untuk mengarahkan dan menunjukkan perubahan dan kebenaran. Namun butuh banyak pengikut yang mau dipimpin untuk membuat sebuah perubahan dan menegakkan sebuah kebenaran.

Kita tidak bisa berharap kepada Presiden untuk membersihkan sampah yang terbuang sembarangan karena Presiden bukanlah tukang sapu. Perubahan terletak di kedua tangan kita. Kita lah yang membuat perubahan, bukan dia, kamu, kami, ataupun mereka.

Senin, 26 Oktober 2009

bingkisan air mata untuk 1928, ketika para pemuda melupakan sumpahnya

Bukan kami yang mengucap sumpah 81 tahun yang lalu. Tetapi kakek tua renta yang duduk di seberang sana. Maka tidak ada ikatan apa pun bagi kami. Sungguh, Kek, apa yang kakek lakukan 81 tahun silam itu tidak berarti apa-apa bagi kami.

Mungkin bagi kakek, itu adalah sebuah bukti pengorbanan dan rasa cinta taah air bagi kakek. Namun bagi kami, disaat kini dimana cinta tanah air sudah tidak lagi populer dan dianggap sebagai sebuah fanatisme sempit dan tergeser oleh tatanan masyarakat global, apa yang kakek lakukan hanya tinggal coretan kata di buku pelajaran anak-anak yang masih memakai baju putih-merah.

Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia



Kek, aku ingin bertanya sesuatu. Apa itu tanah air? Kami pun tidak tahu. Sesungguhnya kami adalaha warga negara Indonesia. Kami hanya manusia yang bermukim di wilayah yang kebetulan merupakan bagian dari wilayah kedaulatan NKRI. Bukan berarti kami rela menumpahkan darah demi tempat tinggal kami. Sungguh jika kami mampu, maka kami akan lebih memilih tinggal di negara-negara Eropa sana untuk agar bisa memadu kasih di bayang-bayang keindahan Eiffel, berteriak kebebasan di atas Miss Liberty, atau tersesat di keramaian kota New York.

Hanya saja kami tidak mampu. Takdir mendamparkan kami di negeri yang masyarakatnya banyak di bawah garis kemiskinan atau tepat di garis kemiskinan tersebut. Negeri dengan ketimpangan ekonomi yang sangat besar. Dan sebuah negara besar yang bahkan tidak berkutik meski berulang kali diusik oleh tetangganya.

Jadi buat apa kami menumpahkan darah untuk tanah ini? Sungguh hanya orang-orang bodoh yang rela menumpahkan darah dan berperang hanya demi apa yang mereka sebut harga diri. Heran saja di zaman globalisasi ini masih ada orang yang fanatik sempit hanya untuk apa yang mereka sebut tanah air. Kami hanyalah warga negara, kami bukan penduduk. Tidak ada kewajiban bagi kami untuk membela apa yang disebut tanah air. Bahkan kami tidak mengerti apa itu.

Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia



Sadarlah, Kek. Jenral tersenyum itu tidak lagi berkuasa. Tidak ada lagi istilah menyatukan keragaman. Di masa sekarang ini yang sedang trend adalah upaya mempertahankan keragaman. Tidak perlulah kalian berbohong dengan berkata hanya ada satu bangsa di NKRI ini.

Bahkan secara nyata tampak dari dulu bahwa negara ini didiami oleh bermacam-macam bangsa yang berbeda baik itu pribumi maupun pendatang. Secara ilmiah, tidak ada apa itu yang kalian sebut sebagai Bangsa Indonesia. Selama 32 tahun Orde Baru istilah Bangsa Indonesia hanya digunakan orang-orang Jawa dalam upayanya menjajah daerah-daerah lain. Kini lihatlah mereka mulai sadar bahwa tidak ada Bangsa Indonesia, yang ada adalah Bangsa Jawa yang memaksakan bangsa-bangsa lain di NKRI ini untuk mengikuti mereka.

Jadi, Kek, kenapa kalian berbohong bahwa kalian itu sama? Kenapa kalian membuat sumpah palsu bahwa kalian itu satu? Bukankah pada kenyataannya kalian itu berbeda-beda dan itu tidak dapat dipungkiri lagi. Mungkin hanya satu kesamaan kalian pada waktu itu yaitu: sama-sama dijajah!

Kenapa pula Kakek bangga mengaku bagian dari mereka? Lihatlah mereka adalah sekumpulan orang-orang yang malas bekerja dan korup. Tidak ada yang membanggakan dari mereka. Lihatlah negara yang kaya ini hancur bukan karena orang lain, tetapi karena perilaku mereka sendiri. Lalu apa yang Kakek banggakan dengan mengaku bahwa kalian adalah satu: Bangsa Indonesia?

Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia



Kek, ingatkah adikku yang paling kecil kini bersekolah di Taman Kanak-Kanak? Disana dia tidak lagi diajari bahasa persatuan kalian itu. Ini era globalisasi. Maka kini Bahasa Persatuan kami adalah Bahasa Inggris. Bahasa Inggris lah yang menyatukan kami dengan negara-negara lain. Bahasa Inggris pula lah yang menunjukkan seberapa terpelajar kami di masayarakat kita ini.

Maka jangan heran jika kini orang tua kami lebih suka menyekolahkan anaknya di sekoah yang mengajarkan Bahasa Persatuan kami itu. Jangan heran pula jika kini kami lebih suka menggunakan isstilah asing dalam keseharian kami. Karena bahasa persatuan kami adalah Bahasa Inggris.

Cukuplah Bahasa Persatuan kalian itu dipelajari dalam sekolah-sekolah konvesional kami dari umur 5tahun hingga 18tahun, tidak lebih. Dan jangan berharap kami akan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari kami karena itu sangat memalukan. Mana mungkin di zaman globalisasi ini kami masih menggunakan bahasa konvensional itu??

Lihatlah buku-buku kami, dapatkah Kakek temukan Bahasa Persatuan kakek? Lihatlah selebaran-selebaran kami yang dipenuhi istilah-istilah Bahasa Persatuan kami. Lihatlah forum-forum terpelajar kami yang mulai meninggalkan Bahasa Persatuan kakek karena sudah ketinggalan zaman. Kek,kenapa 81 tahun yang lalu kalian tidak bersumpah saja menjunjung tinggi Bahasa Inggris?

Sekali lagi, Kek, kami sungguh tidak paham dengan kalian. Mengapa kalian membuat sumpah semacam itu 81 tahun yang lalu? Tidak tahukah kakek bahwa Sumpah dan Janji itu sangat sakral dan harus ditepati? Tapi untunglah, Kek, bukan kami yang bersumpah melainkan kalian.

Jumat, 23 Oktober 2009

Keluar istana bak pahlawan?

Pria kecil itu kini tak berada lagi disana. Kini kumis tipisnya tidak akan lagi terlihat di dalam bangunan putih tersebut. Dia keluar dengan senyum dan kembali menikmati kehidupannya sehari-hari. Sungguh seharunya dia bersyukur telah keluar gedung itu dengan senyum. Kini hanya ada satu matahari dalam tempat itu.

Empat puluh tiga tahun yang lalu sang orator itu diusir keluar dari tempat itu dan dikucilkan. Sebelas tahun lalu Jendral yang tersenyum itu juga keluar setelah diusir oleh ribuan orang dijalanan. Tak lama anak jenius itu juga keluar dengan hardikan. Delapan tahun lalu sang Kiai pun keluar hanya berkaos dalam dan celana pendek. Lima tahun yang lalu Srikandi pertama itu pun juga keluar dengan penuh aura perlawanan. Sungguh telah banyak orang keluar dari tempat itu dengan penuh luka coreng.

Namun apa yang terjadi padanya justru berbeda. Pria itu keluar bak pahlawan. Meski dia hanya bulan tetapi dia disamakan seakan matahari. Namanya dielu-elukan oleh semua orang, bahkan oleh mereka yang bukan bagian dari 13 pendukungnya saat Juni.

Hanya pada masa lelaki itu lah beringin raksasa tersebut mampu menjadi sebuah beringin, meski kini itu semua kandas karena beringin tersebut justru lebih suka menjadi tanaman rambat. Tetapi perlu kita akui seumur hidup, baru kali ini beringin itu berani untuk (bahkan hanya sekedar berpikir) tumbuh sendiri tanpa perlu merambat ke pohon lain.

Mungkin lelaki itu tidak tampan, tidak pula anggun dan pandai berkata-kata. Dirinya pun tidak fotogenik sehingga tidak banyak penggemarnya. Tapi sungguh, mereka yang mendukungnya melihat jauh ke dalam diri lelaki Makassar itu. Dirinyalah yang mereka kagumi. Meski mungkin lelaki berpeci itu bukanlah matahari yang seharusnya menyinari kami selama lima tahun ini, namun sinarnya jauh lebih terang daripada matahari itu sendiri. Dua yang bisa kami katakan saat kaki lelaki berlapis sepatu buatan Indonesia itu melangkah keluar: Selamat Jalan dan Terima Kasih. Lelaki itu sungguh lebih besar dari apa yang tampak oleh mata.

Selasa, 20 Oktober 2009

Jenis-jenis Pemimpin

Saya menulis note ini hanya sebagai bahan lelucon, jadi gag usah dipikir terlalu serius..^^
Ini dia beberapa kriteria pemimpin berdasarkan beberapa disiplin ilmu:

Ilmu Ekonomika dan Bisnis


Pemimpin adalah orang yang mampu mengatur dan mengkoordinir pengikutnya agar dapat meraih tujuannya secara efektif dan efisien

Ilmu Komunikasi


Pemimpin adalah orang yang dapat menginspirasi para pengikutnya melalui kata-katanya dan dapat menyampaikan segala yang dia pikirkan kepada pengikutnya dengan jelas

Ilmu Hukum


Pemimpin adalah orang yang dapat menegakkan keadilan dan memberikan persamaan hak kepada seluruh rakyatnya tanpa pandang bulu

Ilmu Psikologi


Pemimpin adalah orang yang dapat memotivasi pengikutnya secara internal agar mereka mau bekerja dengan senang hati tanpa paksaan

Ilmu Budaya


Pemimpin adalah orang yang dapat menjaga dan mempertahankan nilai-nilai luhur dan budaya yang ada pada masyarakat

Ilmu Filsafat


Pemimpin adalah orang yang memiliki pikiran yang luas dan tidak memaksakan hanya ada satu kebenaran saja di dalam masyarakatnya

Ilmu Sosiologi


Pemimpin adalah orang yang memiliki banyak pengikut/pendukung dan memiliki hubungan yang baik dengan mereka

Ilmu Sejarah


Pemimpin adalah orang yang dapat menjalankan apa yang telah diamanatkan oleh para pendahulunya

Ilmu Hubungan Internasional (HI)


Pemimpin adalah orang yang dapat menjaga hubungan baik dengan negara-negara lain dan berperan aktif dalam komunitas global serta mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat Internasional

Ilmu Agama


Pemimpin adalah orang yang dapat menegakkan hukum-hukum agama yang dianutnya dan menuntun pengikutnya kepada kebaikan

ada lagi yang mau menambahkan?^^

Senin, 05 Oktober 2009

ingin rasanya berhenti sejenak dan menengadahkan wajah ke atas..

Mungkin dia lelah berlari hingga ingin berhenti sejenak. Sungguh bukan karena dia tidak mau berlari, sama sekali tidak. Dia senang berlari dan dia menikmati tiap detiknya, tiap langkahnya, tiap detak jantung yang memompa darahnya ke seluruh tubuhnya hingga kuat berlari. Atau bahkan dia sama sekali belum lelah. Hanya saja sebuah kejadian mengingatkanya akan sesuatu yang selama ini telah dilupakannya yang membuatnya ingin berhenti sejenak.

Jangan pernah berkata pernah merasakan sebuah ketenangan yang hakiki sebelum pernah merasakan apa itu ketakutan. Tidak perlu menodongkan senjata dimukanya untuk merasakan sebuah ketakutan. Bahkan bunyi jarum jatuh pun telah cukup untuk membuatnya menggigil ketakutan.

Tapi dia sadar ke mana seharusnya dia beranjak. Dia tahu dimana mendapatkan ketenangan. Dan itulah yang membuatnya sadar apa yang selama ini telah dia lupakan. Bunyi jarum jatuh telah membuatnya mendongak ke atas dan merasakan apa yang telah lama tidak dia rasakan.

Perasaan yang bahkan tidak dia rasakan di hari-hari 29 dimana hujan deras menerpa tubuhnya. Saat dimana harusnya dia menggigil namun dirinya merasa kering. Tapi lebih dari itu, sebuah bunyi jarum jatuh telah membuatnya merasa seakan-akan dibenamkan dalam samudra yang dalam.

Dia menemukan yang selama ini dia cari. Sesuatu yang bahkan tidak dia dapatkan di hari-hari 29 itu. Dan dia temukan dari sebuah bunyi jarum dan sedikit rasa ketakutan. Benar kata orang, penguasa itu bersahabat dengan teror/ketakutan. Karena takut lah yang membuat kita mengingat siapa sebenarnya yang berkuasa dalam permainan ini.

Kini dia ingin berhenti sejenak untuk merasakan apa yang didapatnya dari teror itu lagi. Bukan terornya, tapi apa yang ada dibaliknya. Sesuatu yang menurutnya pantas dibayar dengan berhenti berlari. Karena mungkin dia terlalu asyik berlari sehingga tidak dapat merasakan air yang berada di tubuhnya.