Selasa, 09 Februari 2010

Pendidikan Hari Ini

Tadi siang saya bertemu kembali dengan teman-teman SMA saya yang tersebar dari beberapa jurusan. Kemudian kami sedikit mengobrol kesana kemari. Akhirnya saya jadi makin tergelitik untuk menulis sesuatu tentang apa yang terjadi di dunia pendidikan. Emh..oke mari saya bahas satu per satu.

Fluid Intellegent lawan Cryztallized Intellegent

Salah satu Teori tentang Intellegent adalah yang membagi menjadi dua yaitu Fluid Intellegent dan Cryztallized Intellegent. Cryztallized Intellegent adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki. Sedangkan Fluid Intellegent adalah kemampuan untuk memecahkan atau mengatasi situasi dimana pengalaman atau pengetahuan sebelumnya tidak membantu dalam mengatasi masalah tersebut (Passer&Smith, 2007).

Menurut saya, sistem pendidikan yang ada saat ini adalah sistem untuk mengembangkan Cryztallized Intellegent. Padahal sistem pendidikan yang banyak dianut di negara maju saat ini adalah sistem yang lebih mengembangkan Fluid Intellegent.

Contoh nyatanya adalah adanya keluhan dari Dekan Matematika ITB bahwa mata pelajaran Matematika di Indonesia kurang menekankan pada pengunaan logika. Hal ini yang menyebabkan siswa Indonesia mengalami kesulitan dalam mengerjakan soal-soal Olimpiade karena soal-soal tersebut berbasis pada pemecahan masalah penggunaan logika (Kompas).


Kalo kita cermati lebih mendalam lagi, sistem pendidikan yang dianut Indonesia lebih mengarah pada Teacher Centered Learning dan pengulangan. Kelemahan dari sistem Teacher Centered Learning adalah pada dimana sistem ini hanya bersifat menstransfer pengetahuan yang sudah ada dari guru kepada siswa dan kurang terbuka terhadap perkembangan baru. Jadi bisa dikatakan sistem ini hanya akan mengembangkan Cryztallized Intellegent siswa itu sendiri.

Siswa tidak diajarkan untuk membentuk pengetahuan mereka sendiri namun menerima dan memahami pengetahuan yang sudah ada. efeknya adalah siswa kurang terlatih untuk menciptakan suatu pengetahuan baru dan hanya terbatas pada penguasaan dan pemahaman pengetahuan lama. Sehingga kecerdasan mereka terbatas hanya apda apa yang telah ditransfer kepada mereka dan kurang bisa menghadapi masalah-masalah baru.

Lebih celakanya lagi pengetahuan yang ditransfer kepada mereka adalah pengetahuan yang telah tertinggal oleh zaman beberapa tahun yang lalu sehingga mereka hanya memiliki pemahaman tentang sesuatu yang lama yang tidak dapat mereka gunakan untuk mengatasi masalah-masalah baru.

Merubah Haluan ke Arah yang Salah

Gantunglah cita-citamu setinggi mungkin. Intinya, jika kita memiliki keinginan atau sebuah mimpi, maka bermimpilah yang besar. Saat ini makin banyak masyarakat yang prihatin akan keadaan pendidikan di Negeri ini. Sehingga mereka menginginkan adanya perubahan dalam sistem pendidikan kita.

Namun sayangnya, perubahan yang mereka cita-citakan adalah pendidikan yang berbasis pangsa pasar. Bahasa mudahnya adalah perguruan diharapkan mencetak lulusan sesuai dengan kebutuhan perusahaan-perusahaan. Itulah celakanya.

Dunia pendidikan bukan hanya sebatas bagaimana ilmu untuk mencari uang. Apalagi sebatas menjadi pegawai. Itu kesalahan yang sangat fatal.

Lihat saja bagaimana daerah-daerah berusaha untuk menyekolahkan putra daerah mereka ke perguruan tinggi di kota-kota besar untuk kemudian kembali ke daerahnya. Namun apa yang terjadi? Bagaimana mungkin mereka membangun daerah mereka sementara selama ini mereka hanya diajari bagaimana bekerja di sebuah perusahaan besar.

Jika mereka bekerja di Ekonomi ya mereka diajari bagaimana mengelola keungan perusahaan, mereka belajar di Psikologi ya mereka diajari menjadi HRD perusahaan. Merka yang sekolah di pertanian punmulain enggan turun ke sawah. Padahal di daerah mereka tidak ada perusahaan besar jadi mereka tidak tahu bagaimana bisa mereka bekerja di daerah mereka?

Sehingga secara tidak kasat mata kita akan melihat adanya aliran SDM dari daerah ke kota. Dan jangan berharap setelah menempuh perguruan tinggi mereka akan kembali ke daerah, yang terjadi adalah justru sebaliknya mereka akan menetap atau pindah ke kota yang lebih besar lagi.

Polemik Ujian Akhir

Salah satu masalah yang cukup ngetredn akhir-akhir ini di dunia pendidikan adalah masalah ujian akhir. Secara pribadi saya melihat UAN bukanlah solusi yang terbaik untuk memperbaiki masalah pendidikan. Namun di sisi lain saya melihat untuk saat ini mungkin UAN masih diperlukan.

Jika dibaratkan, kuda adalah pendidikan, maka UAN adalah cambuknya. Sekarang kita lihat secara jujur, jikalau UAN itu tidak ada apakah siswa-siswa mau belajar?

Namun sekali lagi, kuda yang dicambuk memang akan berlari. Akan tetapi kuda tersebut lari tak terarah. Hasilnya adalah jika tidak diarahkan dengan baik maka hanya kan lari ke arah jurang.

Memang UAN semakin membuat siswa untuk belajar, akan tetapi seperti yang kita lihat mereka kini hanya terfokus untuk belajar bagaimana menghadapi soal UAN dan bisa lulus. Sehingga intisari dari ilmu yang sesungguhnya malah tidak didapatkan. Sehingga bimbingan belajar pun laris manis. Dan itulah yang terjadi saat ini.

Prolog

Mungkin ini sebuah akhir, namun ini hanya sebuah akhir dari tulisan dan bukan sebuah akhir dari koreksi dunia pendidikan kita dan akhir dari perbaikan. Bagaimanapun juga masih banyak yang harus kita benahi bersama di Negeri ini. Ini bukan hanya PR pemerintah tetapi merupakan PR bersama. Karena pendidikan merupakan kewajiban Negara dan bukan kewajiban pemerintah.

Jumat, 05 Februari 2010

nasionalisme instan

Bukan negerinya, melainkan orang-orang yang mendiami negeri ini. Mereka adalah orang-orang instan. Tentu saja bukan berarti orang-orang ini berada dalam bungkusan dan siap dimasukkan ke dalam air panas agar matang. Tetapi instan sudah melekat dalam hati dan pikiran kami.

Mungkin ini karena apa yang kami makan. Meskipun mie bukan makanan pokok kami, tetapi kami adalah negara konsumer mie instan terbesar di dunia. Bahkan salah satu produk mie instan dari negeri kami sangat terkenal dan digemari di dunia. Jadi wajar jika pikiran kami pun ingin yang serba instan.

Mulai dari tontonan kami: sinetron instan, artis instan, politikus instan, pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan sesuatu yang dapat terwujud secara tiba-tiba itulah yang kami gemari. Tentu saja tidak heran jika artis dan politikus dadakan menjamur bak di musim hujan. Sekali lagi, ini negeri orang instan.

Bahkan pemimpin kami pun pemimpin instan. Presiden yang menggunakan jinggle mie instan sebagai theme song kampanyenya itulah yang dekat di hati kami. Presiden yang yakin bahwa mie instan yang dimakannya dicampur dengan singkong dan tidak hanya dari gandum.

Kalau kami tidak suka dengan pemimpin kami, tinggal gulingkan saja. Toh tak perlu susah-susah cari pengganti karena masih banyak pemimpin instan lainnya. Jadi wajar jika hampir semua dari lima presiden kami terdahulu (tidak termasuk dua yang dilupakan) jatuh dari kursi empuknya dengan terguling kecuali Sang Srikandi, itupun karena kami tidak enak hati padanya. Bukankah kita harus berlaku lemah lembut pada wanita?

Perilaku kami pun instan, coba lihat betapa kami suka dengan korupsi karena itu instan. Kekayaan instan tanpa perlu susah-susah bekerja sedikit demi sedikit, itu yang kami suka. Lihatlah bagaimana kami lebih suka memberi uang kepada mafia hukum jalanan ketika kami melanggar aturan lalu lintas. Karena kami ingin menyelesaikan masalah ini dengan instan, tanpa perlu repot-repot.

Begitu pula kami dalam mengelola ekonomi negara ini. BUMN merugi? Jual saja jadikan perseroan. SKKK kurang ahli dalam mengelola keamanan? Pakai saja jasa swasta.  Bahkan negara ini tak lebih dari sebuah perusahaan besar.

Lihatlah bagaimana kami belajar. Kami menjadi pintar hanya dengan semalam. Dan lusa, kami sudah lupa. Benar-benar instan pula lah kepandaian kami ini. Tidak heran juga bimbingan belajar dan les privat menjadi populer di dunia pendidikan. Meski mereka hanya mengajari kami bagaimana mengerjakan soal dan bukannnya mengajari kami ilmunya, tapi kami anggap itu jauh lebih penting dan lebih berguna.

Ketika rumah dan harta kami hancur karena musibah, maka yang kami lakukan hanyalah menunggu bantuan instan dari pemerintah. Dan berharap bantuan tersebut jika direbus dengan air mendidih akan segera menjadi rumah dan harta benda baru bagi kamu. Lihat kan? Betapa instan pemikiran kami.

Siapa bilang negeri ini bukan negeri instan? Bah,  pendahulu kami mendamba negeri yang elok yang dibangun dengan keringat, bukan negeri yang direbus dengan air matang. Tapi kami adalah manusia instan. Mungkin gandum tidak tumbuh di negeri ini tetapi instan telah menjadi nama tengah kami.

Senin, 25 Januari 2010

Jangan Takut Masuk UGM


Elok Nian Tuan Ini

Kita pantas berbangga hati. Betapa tidak, Negeri ini memiliki Presiden yang tergolong produktif. Buktinya, dalam tiga tahun ini sudah tiga album yang berhasil diluncurkan. Di tengah-tengah kesibukannya sebagai Presiden beliau masih juga sempat-sempatnya menggunakan waktunya untuk menciptakan lagu.

Ah, memang elok nian Presiden kita satu itu. Bukan hanya memiliki gaya tubuh yang baik ketika berbicara, fotogenik, tetapi pandai pula bersenandung dan menciptakan lagu. Memang zaman sekarang mulai banyak artis multi talenta. Bukan hanya pandai bersandiwara, tetapi juga piawai dalam bersenandung dan bahkan, menjadi politikus. Jadi tiada salah ketika seorang politisi (dalam hal ini Presiden) tidak mau kalah. Jika artis multi talenta bisa menjadi politisi, maka politisi pun bisa menjadi artis multi talenta.

Memang Indonesian Odol 2009 kemarin memang menghasilkan juara yang brillian. Setelah berhasil mengalahkan para finalis lainnya, kini beliau menunjukkan kepiawaiannya dalam dunia entertainment. Jadi tidak salah jika ajang Indonesia Odol 2009 yang menghabiskan dana trilyunan tersebut memang beda, bukan hanya polingnya tidak melalui SMS melainkan lewat kertas suara (lebih lanjut baca Bermain Odol)

Buka hanya itu, presiden kita yang satu ini pun sangat pandai. Betapa tidak dia berhasil dianugerahi Doktor dalam bidang pertanian. Selain itu dia juga paham mengenai wewenangnya sebagai Presiden. Sehingga ketika Rakyat menunggu sebuah keputusan pun dia bisa berkata, "Itu bukan wewenang saya".

Tapi, ah. Kami rakyat mana tahu hal seperti itu. Yang kami tahu Presiden adalah pemimpin (bukan manajer) tertinggi di Negara ini. Tidak tahulah kami siapa memiliki wewenang apa. Yang kami tahu adalah setiap kegagalan dari pemerintah merupakan tanggung jawab Presiden sebagaimana dia bertanggung jawab terhadap segala keberhasilannya seperti dalam kampanyenya.

Bagi kami pemimpin adalah seseorang yang menujukkan kepada kami mana yang benar dan mana yang salah serta menuntun serta mengakkan kepada kebenaran dan bukan hanya berkata itu bukan wewenangnya. Pemimpin bukan hanya manajer yang baik tetapi orang yang memberikan kepada kami visi yang jelas untuk kebaikan kami. Pemimpin adalah orang yang memberikan kepada kami rasa aman dan bukan malah curhat mengatakan dirinya juga sedang terancam.

Kami tidak butuh senandung-senandung merdu penuh balutan keindahan semu. Kami juga tidak butuh sandiwara heroik yang menyentuh. Yang kami butuh hanyalah kebenaran meski itu pahit rasanya. Yang kami inginkan adalah apa yang menjadi tujuan dan cita-cita kami. Namun, suatu saat nanti ku yakin sampai disana. Namun bukan di masa Kura-Kura Ninja beraksi.

Rabu, 06 Januari 2010

Kesatria Kegelapan berwarna hijau??


The Dark Knight


Hemm..siapa tidak mengenal film yang satu ini? Film sekuel dari Batman Begins ini laris manis dan pantas disebut sebagai salah satu film terbaik 2009. Bagaimana tidak, mata saya terpaku ke layar bioskop selama lebih dari dua jam (kayak pas nonton Transformers ma Avatar juga sih^^).

Saya tidak ingin membahas tentang film. Yang ingin saya bicarakan adalah pesan yang terkandung dalam film tersebut. Dalam film itu Batman digambarkan sebagai pahlawan yang bukan pahlawan. Bagaimana tidak di akhir cerita digambarkan bahwa masyarakat menganggap Batman sebagai seorang pembunuh dari Two-Face yang dianggap sebagai Pahlawan, dan itu memang keinginan Batman. Dalam film itu digambarkan ada dua macam pahlawan, yaitu kesatria putih dan kesatria kegelapan.

Kesatria Kegelapan adalah dia yang menegakkan kebenaran dengan suatu cara yang mungkin sangat berbeda dengan cara-cara yang seharusnya atau pada umumnya. Bahkan secara ekstrim kadang berlawanan sehingga seorang pahlawan tidak lagi dicap sebagai pahlawan bahkan mungkin sebagai kontra-pahlawan.

Ini Dunia Nyata, Bukan Film


Ada satu orang yang menurut saya pantas mendapat julukan sebagai Dark Knight di Indonesia, beliau adalah Alm KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Dan sayangnya, kita baru merasa memiliki sesuatu yang berharga ketika kita kehilangan.

Mungkin apa yang dikatakan Gus Dur bukanlah sebuah kebenaran, bahkan terkadang itu adalah suatu kontra-kebenaran. Gus Dur mungkin bukan seseorang yang selalu bertindak benar, tapi tindakannya merupakan pelengkap dari sebuah kebenaran.

Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu hitam jika kita belum pernah melihat putih. Jangan katakan anda pernah merasakan sehat ketika anda belum pernah merasakan sakit. Bahkan kita merasakan dan bersyukur akan sebuah nikmat sehat ketika kita sedang sakit bukan?

Apa yang dikatakan Gus Dur mungkin bukanlah sesuatu kebenaran yang harus apa kita ikuti, namun apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang memberi arti tentang sebuah kebenaran yang seharusnya kita ikuti.

Gus Dur menunjukkan bahwa ada suatu dunia lain di luar dunia yang ada di kepala kita, dan dunia itu nyata meskipun cuma minoritas. Dalam Suatu kelompok. orang-orang seperti Gus Dur ini lah yang menyebabkan kita terhindar dari suatu Groupthink dan lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan (lebih lanjut silahkan ambil mata kuliah Psikologi Sosial dan Psikologi Kelompok).

Gus Dur mungkin dianggap agak gila bagi sebagian orang, tetapi beliau adalah orang yang membuat kita tetap waras dan mengajarkan pentingnya kita akan sebuah kewarasan. Di luar daripada itu, beliau adalah seorang jenius deengan pemikiran-pemikirannya. Beliau bukan orang biasa, tetapi dia adalah orang yang luar biasa. Seseorang yang bisa berpikir di luar dari apa yang biasa dipikirkan oleh orang lain dan melewati batasan kebiasaan.

dasar Manusia!!!


Manusia memang tidak pernah bersyukur atas apa yang dimilikinya. Kita baru merasakan sesuatu sangat berarti bagi kita ketika kita mulai kehilangan. Kita baru bersyukur akan nikmat kesehatan yang dianugerahkan kepada kita ketika kita sakit. Dan kita baru memahami pentingnya Gus Dur dan menghargainya ketika kita kehilangannya.

Gus Dur mungkin bukan pemberi cahaya dalam kegelapan, tetapi dialah yang menciptakan kegelapan sehingga kita dapat melihat cahaya yang tersisa dan menuju ke sana. Selamat Jalan Wahai Sang Penakluk Kebiasaan. Semoga kami disini tetap akan bisa berpikir waras tanpa kehadiranmu. Dan satu lagi: Terima Kasih :)

Minggu, 03 Januari 2010

sebuah cerita fiksi tentang pendidikan di Yogyakarta


sebuah prolog


Saya hanyalah seorang anak biasa yang tinggal di pinggiran selatan kota Jogja, bukan di daerah utara yang penduduknya relatif lebih maju daripada mereka yang di selatan sehingga wajar ketika saya sedang memberi makan burung merpati saya, teman-teman saya sedang asyik bermain beri-beri (saya tidak bisa mengucapkan kata blackberry). Ketika TK, saya nunut di sebuah TK milik yayasan Batik dimana kebetulan budhe saya menjadi kepala sek4olah. Saya menjalaninya selama tiga tahun karena kebetulan di tahun kedua saya tidak lulus UNAS TK sehingga saya terpaksa mengulanginya di tahun berikutnya.

Ketika saya beranjak memasuki SD, saya mengikuti tetangga saya dan meminta disekolahkan di sebuah SD Muhammadiyah yang baru di kemudian hari ketika saya menduduki bangku kuliah dan berkumpul kembali dengan teman SD, saya meragukan apakah itu benar SD saya dahulu memang sebuah SD Muhammadiyah.

SMP pun saya tidak jauh dari rumah. Sebuah SMP Negeri yang sederhana dengan pagar bak penjara. SMP yang angkanya jika dibalik tetap menjadi angka lain (misal 6 dibalik menjadi 9, 5 dibalik menjadi 2) di daerah pusat kerajinan perak. Saat itu pemikiran saya masih lah sederhana, maklum karena SMP pinggiran maka banyak teman saya yang jauh-jauh dari daerah-daerah pinggiran lainnya yang bersepeda ke sekolah dan menikmati kehidupan SMP yang sederhana. Ahh..itulah kehidupan orang-orang pinggiran yang cukup beruntung.

Ternyata nasib saya sebagai orang pinggiran tidak begitu berubah ketika SMA. Saya masih saja sekolah di sebuah SMA Negeri yang lagi-lagi angkanya jika dibalik akan memunculkan angka yang sama (misal 8 dibalik tetap 8, 0 dibalik tetap 0) dan tentu saja masih saja sekolah pinggiran. Namun bedanya sekolah ini lebih favorit dibanding SMP saya.

Dan ketika kuliah Alhamdulillah saya berhasil duduk di sebuah bangku kuliah di sebuah Universitas Gajah yang berada di Yogyakarta. Berada di sebuah Fakultas bergengsi yang bahkan tetangga desa saya belum paham apa itu (karena ilmu ini masih konsumsi publik menengah ke atas).

Sebuah Keheranan


Sekali lagi, saya hidup di pingiran kota yang sederhana. Ketika SD, saya belum memahami seperti apa kehidupan di Jogjakarta ini. Ketika SMP, yang ada di sekeliling saya adalah kehidupan yang membuat saya memahami mengapa Indonesia belum bisa disebut sebagai negara kaya. Namun pandangan saya tersebut kian lama kian berubah ketika saya memasuki bangku SMA dan kuliah.

Saya kan bercerita sebuah saja tentang sebuah keheranan saya. Ketika awal kuliah dan zaman FB baru muncul, saya cukup tersentak kaget ketika melihat status teman saya yang merencanakan untuk pergi ke luar negeri mengisi liburan. Mungkin itu sebuah hal yanng biasa saja tetapi bagi saya orang pinggiran ini ke luar negeri dalam kamus saya hanyalah sebatas pergi ke tanah suci merayakan ibadah haji. Dan semakin saya memahami kemana teman-teman saya pergi untuk mngisi waktu liburan tersebut semakin heran saja.

Ingatan ini terlintas ketika beberapa hari lalu dalam sebuah guyonan iseng di sebuah gubuk bernomer F2 teman saya berkata, "Bagaimana jika kita mengadakan tour ke Singapura?". Lebih heran lagi ketika teman saya yang lain menimpal,"iya kemarin teman saya habis darisana katanya tiketnya murah, gak nyampe 800rb bolak-balik".

Tidak ada yang salah dari percakapan tersebut. Mungkin saya saja yang terlalu ndeso. Tapi saya cukup shock. Saya tahu mereka cuma bercanda, tetapi gaya bahasa mereka membicarakan liburan ke luar negeri seolah biasa saja yang bagi saya yang ndeso ini sangat luar biasa.

Yeah..liburan ke luar negeri dengan kata cuma. Kalau saya bercerita kepada teman-teman SMP saya mungkin topik yang kami bicarakan masih seputar liburan ke Parangtritis.

Sebuah Kesenjangan


Yeah Indonesia tidak miskin, hanya saja tidak merata. Itulah yang saya tangkap dari orang-orang di sekitar saya. Disaat orang lain dengan mudahnya menghabiskan uang hasil kerja kerasnya untuk memanjakan dirinya, pada saat itu orang lain bahkan tidak mendapatkan uang dari hasil kerja kerasnya.

Ah tidak ada yang salah dari orang yang menjadi kaya karena kerja kerasnya, yang salah adalah orang miskin yang tidak berbuat apa-apa. Buat apa saya membicarakan orang lain yang mennghabiskan duitnya sendiri. Mungkin di era semi-individualis ini saya termasuk dalam orang yang ikut campur. Jadi tidak perlulah dibahas lebih panjang lagi.

Sebuah Saran


Jika anda adalah orang tua yang tidak ingin anaknya menjadi kuper dan tidak hanya membicarakan tentang merpati peliharannnya di Kasultanan ini, maka ada sebuah tips dan trik yang bisa dilakukan. Mulai dari hal yang sederhana yaitu memilih sekolah.

  1. Masukkan anak anda ke TK yang cukup terkenal dan favorit, biasanya didominasi oleh TK Swasta Islam

  2. Setelah lulus dari TK, sekolahkan anak anda di SD yang favorit juga. Misalnya SD Muhammadiyah Sapien

  3. Lulus dari SD masukkan SMP favorit yang berada di daerah kisaran dengan batas Selatan stadion Kridosono, batas Utara rumah sakit Panti Rapih, batas Timur Jemabatan Layang, dan batas Barat Pasar Terban

  4. untuk SMA, dari dua SMA paling favorit saya sarankan anda untuk memilih yang angkannya paling besar

  5. dan untuk kuliah anda bisa mengkuliahkan anak anda ke luar negeri atau minimal di sekolah Lereng Gunung Merapi (atau di cabang-cabangnya), jika ingin ke Sekolah Gajah pastikan anak anda memasuki fakultas dengan nominal PBS tertinggi untuk IPA dan IPS



Memang tidak murah, tetapi yah secara tidak kasat mata saya yakin anak anda akan bergaul dengan orang-orang yang saya akui dari segi intelektualitas dan ekonomi. Dan seperti pepatah Jawa ojo cedak kebo gupak atau nasehat Rasulullah barangsiapa (lha barangnya sapa?) berteman dengan penjual parfum maka akan tertular wanginya.

Sebenarnya dari sini kita mungkin bisa membuat hipotesis adanya korelasi positif antara tingkat ekonomi dan intelektualitas dalam level sekolah. Apakah benar atau tidak silahkan dibuktikan dengan penelitian. Anda bisa menggunakan teori Jer Basuki Mawa Bea sebagai dasar teori anda.

Sebuah Penipuan


Sekali lagi, ini hanyalah sebuah cerita fiksi. Jika anda mempercayai apa yang saya katakan maka anda telah tertipu. tetapi seperti film-film fiksi, saya kan memasang peringatan:

Cerita ini hanya merupakan cerita fiksis semata. Mohon maaf apabila ada kesamaan nama karakter, tokoh, instansi, maupun kejadian maka itu merupakan sebuah ketidak sengajaan yang tidak ada kaitannya dengan cerita ini.

Sabtu, 02 Januari 2010

berlari (lagi)


Anakku, jadilah engkau anak yang kuat. Larilah sekencang mungkin jangan sampai engkau tertinggal di belakang. Kalau bisa kamu justru harus mendahului yang lain dan jangan sampai tertinggal

Mengapa aku harus berlari ayah?
Supaya engkau tidak tertinggal dengan yang lain.
Supaya engkau menjadi yang terdepan.

Memang mereka mau berlari kemana ayah?
Memang kenapa kalau aku tetap disini dan tidak pergi kesana?
…

Jika ayah pun tidak tahu mereka akan kemana mengapa aku harus mengikuti mereka?
Apakah tempat tujuan mereka jauh lebih baik dari tempat kita saat ini?
…

Tak ada yang tahu mereka mau kemana.
Tapi aku tahu, mereka adalah orang-orang yang tersesat.
Ketika mereka telah jauh di depan barulah mereka sadar dunia kita lebih indah dari tujuan mereka.
 
Lalu ayah menyuruhku untuk mengejar mereka supaya aku tidak tertinggal, apakah ayah menginginkanku supaya tersesat juga bersama mereka?