Selasa, 15 Februari 2011

Arus Massa dan Proyeksi Otoritas

Rabu 14 April 2010 terjadi bentrokan berdarah di Tanjung Priok. Puluhan kendaraan dibakar oleh massa. Tercatat 134 orang luka dan tiga orang tewas dalam bentrokan antara massa dengan aparat Satpol PP tersebut (VivaNews, 2010). Bentrokan itu dipicu masalah salah paham tentang rencana pembangunan di daerah sekitar makam tersebut.

Selain itu masih banyak lagi bentrokan antar massa yang sering terjadi di Indonesia. Sebut saja bentrokan antar supporter, bentrokan antar warga, dan sebagainya. Bahkan juga sering sekali terjadi perkelahian antar sekolah.

Bentrokan itu sebenarnya dipicu hal-hal yang sepele, namun entah mengapa massa sangat mudah terpengaruh. Satu pemantik kecil saja langsung dapat menyebabkan suatu bentrokan.

Pada masa reformasi 1998 dahulu kita sering mendengar istilah provokator. Provokator didefinisikan sebagai orang yang melakukan provokasi. Sedangkan provokasi itu sendiri berarti perbuatan untuk membangkitkan kemarahan; tindakan menghasut; penghasut; pancingan (Pusat Bahasa, 2008).

Provokator biasa muncul dalam massa yang sedang kacau balau. Dengan hasutannya, seorang provokator dapat membuat massa melakukan suatu tindakan tertentu yang mungkin tindakan tersebut bahkan tidak disetujui oleh individu-individu dalam massa tersebut.

Pertanyaannya adalah bagaimana seseorang sapat mempengaruhi banyak orang sekaligus untuk melakukan suatu tindakan tertentu dalam waktu yang singkat? Tulisan ini akan mencoba membahas fenomena tersebut dengan menggunakan pendekatan Psikologis.

Proyeksi Otoritas 
Dalam pendekatan Psikoanalisis dari Sigmund Freud dikenal istilah proyeksi. Proyeksi merupakan sebuah bentuk defense mechanism yang berfungsi menstabilkan diri kita dari tekanan-tekanan yang ada. Proyeksi merupakan bentuk pelampiasan-pelampiasan secara tidak sadar sebagai proses defensive.

Konsep ini mendapat perluasan dari Bellak yang kemudian mengemukakan konsep apperceptive distortion. Apersepsi merupakan sebuah bentuk persepsi yang dikaitkan dengan pengalaman dan subjektivitas individu. Jadi secara umum distorsi apersepsi dijelaskan sebagai intepretasi secara subjektif yang menyimpang dari kenyataan.

Kembali pada kasus massa tersebut, Freud berpendapat bahwa setiap individu akan mengintrojeksikan massa atau kelompok sebagai faktor transitory di salam ego dan super ego sehingga individu tersebut melihat dari kacamata massa. Dalam keadaan suatu individu berada dalam suatu kelompok massa, maka segala perbuatan yang dilakukan oleh massa dilihat sebagai suatu kebenaran yang sesungguhnya. Massa dianggap sebagai figur otoritas yang harus dituruti dan diikuti.

Konsep ini mirip dengan apa yang terjadi dalam kasus hipnotis, dimana menurut Ferenczi orang yang kesadarannya menurun akan menganggap penghipnotis sebagai figur otoritas dalam hal ini sosok ibu. Sehingga segala macam suggesti yang ada akan dianggap sebagai seorang perintah ibu kepada anaknya yang harus diikuti.

Apa yang terjadi dalam massa adalah suggesti atau provokasi yang ada dianggap sebagai sebuah pendapat massa yang dianggap sebagai kebenaran bagi individu dalam massa tersebut dan dituruti. Hal itu dikarenakan massa dianggap sebagai figur otoritas dari individu yang ada.

Padahal pendapat massa tersebut bisa jadi hanya pendapat seseorang. Orang yang mempengaruhi dan pendapatnya dianggap sebagai pendapat massa inilah yang dianggap sebagai provokator.

Jadi dari konsep ini dijelaskan bahwa massa dapat bertindak anarkis dan tidak manusiawi dikarenakan adanya proyeksi bahwa massa dianggap sebagai figur otoritas oleh individu yang harus diikuti. Padahal pendapat massa belum tentu benar. Karena massa memiliki otoritas maka massa dapat memaksa suatu individu untuk melakukan apa yang dianggap benar oleh massa tersebut.

Maka wajar jika di Indonesia hasutan massa sangat mudah terjadi. Berbagai bentrokan dan perkelahian begitu mudah terjadi karena massa dianggap sebagai figur otoritas. Terlebih lagi Indonesia memiliki Power Distance yang tinggi (Hofstede) dimana pemegang otoritas cenderung sangat dituruti dan diikuti. Berbeda dengan negara yang memiliki Poer Distance rendah dimana figur otoritas tidak begitu penting untuk diikuti.

Pendekatan Lain 
Fenomena ini juga sering terjadi tidak hanya dalam massa, tetapi bahkan juga dalam kelompok kecil. Sebuah pendapat dianggap sebagai kebenaran bersama padahal bisa jadi masing-masing individu dalam kelompok tersebut tidak setuju dengan pendapat tersebut.

Konsep tersebut biasa disebut sebagai groupthink, yaitu sebuah pemikiran yang menganggap bahwa kohesivitas dan solidaritas kelompok dianggap lebih utama daripada kebenaran itu sendiri (Aronson, Wilson, & Akert, 2007). sehingga pendapat kelompok akan selalu dituruti meski tidak sesuai dengan kebenaran.

Menggunakan konsep ini, tindakan massa yang terkadang beringas dan di luar batas diakibatkan karena individu merasa bahwa kohesivitas kelompok lebih utama, sehingga apapun tindakan kelompok harus diikuti agar kelompok tetap utuh dan tidak terpecah meskipun individu itu sendiri tidak setuju terhadapnya.

Fenomena ini juga dijelaskan dalam konsep deindividuation. Deindividuation adalah hilangnya konsep perilaku normal ketika individu tidak dapat diidentifikasi. Ketika seseorang berada dalam massa maka tidak lagi akan dilihat sebagai seorang individu melainkan massa itu sendiri, sehingga individu merasa lebih bebas melakukan apapun karena tidak diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu individu tersebut menjadi seolah lepas kontrol dan melakukan berbagai perbuatan yang di luar batas-batas kewajaran.

Kesimpulan 
Ketika seorang individu berada di dalam massa atau sekelompok orang, maka terkadang akan bertindak sesuai dengan keinginan massa tersebut. Hal itu karena massa dianggap sebagai figur otoritas yang harus dituruti.

Selain itu terkadang timbul pemikiran bahwa kepentingan dan keutuhan kelompok harus diutamakan, sehingga tindakan kelompok tetap akan diikuti meski individu itu sendiri tidak setuju akan hal tersebut. Terlebih lagi ketika berada di dalam massa identitas individu tersebut akan terhapus dan tergantikan oleh identitas massa sehingga individu lebih bebas dalam bertindak.

Bibliography 

Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2007). Social Psychology. New Jersey: Pearson Education.

Hofstede, G. (n.d.). Geert Hofstede™ Cultural Dimensions. Retrieved januari 18, 2011, from ITIM International: http://www.geert-hofstede.com/hofstede_indonesia.shtml

Pusat Bahasa. (2008). Provokasi. Retrieved Januari 18, 2011, from Kamus Besar Bahasa Indonesia: http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

VivaNews. (2010, April 15). Korban Tewas Bentrok Makam Mbah Priok Jadi Tiga Orang. Retrieved Januari 18, 2011, from TvOne: http://jabodetabek.tvone.co.id/berita/view/36733/2010/04/15/korban_tewas_bentrok_makam_mbah_priok_jadi_tiga_orang/

Senin, 14 Februari 2011

Batin dan Rasa: Dimensi yang Hilang

Pendahuluan 

Latar Belakang Masalah 

Masihkah ada orang beragama? Kita sebagai masyarakat Indonesia pasti secara mudah akan menjawab masih. Meskipun tentu saja ketika diharuskan menjelaskan tentang apa itu agama akan mengalami kesulitan. Tetapi apakah hal ini juga berlaku di semua negara di dunia? 

Seorang teman sepulangnya pergi dari Australia untuk sebuah konferensi keagaamaan mengatakan bahwa salah jika beranggapan orang-orang eropa, australia, dan AS adalah orang-orang kristen karena mereka sebenarnya atheis. Dewasa ini di barat pertanyaan semisal “apa agamamu?” adalah sebuah pertanyaan menggelikan yang dianggap bodoh di Barat (Prama, 2007). 

Agama dianggap sebagai sebuah mitos masa lalu yang tidak sesuai dengan budaya saat ini yang cenderung ke arah materialisme. Dimana segala sesuatu harus ditakar secara objektif, logis dan nyata. Sehingga hal-hal yang sifatnya subjektif dan abstrak akan ditolak kebenarannya. Intelektualitas dipandang sebagai sesuatu yang ut 

Hal ini tentu memiliki dampak yang besar dalam dunia psikologi. Psikologi yang penuh berisi hal-hal abstrak berusaha dikongkritkan. Subjektivitas dihapuskan dan digantikan objektivitas. Permasalahan yang muncul adalah bagaimana mendeskripsikan sesuatu yang abstrak menjadi kongkrit? 

Akibatnya adalah banyak dimensi-dimensi yang hilang atau luput dalam pembahasan psikologi. Aspek religiusitas misalnya, psikologi terkadang justru meremehkannya padahal agama sangat memiliki pengaruh yang besar dalam coping (Pargament, 1997). 

Tidak haya berkaitan dengan agama, aspek-aspek lain yang sifatnya abstrak dan sulit untuk dikongkritkan secara perlahan tapi pasti cenderung dihindari dan diabaikan. Perkembangan Psikologi dewasa ini cenderung lebih tertarik kepada hal-hal yang sifatnya nyata dan dapat terukur secara pasti. Sehingga banyak sekali aspek-aspek yang sebenarnya penting namun terlewatkan. 

Gawatnya, hampir seluruh ilmu kita bersumber dari Psikologi Barat yang telah kehilangan aspek-aspek tersebut. Misalnya saja aspek rasa (Mawardi, 2010). Padahal dalam kebudayaan Jawa misalnya, rasa adalah sebuah dimensi yang sangat dominan berpengaruh dalam kebudayaan dan individu masyarakatnya. 


Deskripsi Gejala 

Di Indonesia, gejala-gejala tersebut sudah mulai nampak. Mulai dari pergeseran nilai dan budaya yang berdampak pada perubahan-perubahan perilaku di masyarakat. Masyarakat saat ini yang lebih mengutamakan kebenaran intelektual dibandingkan perasaan-perasaan. 

Kritik yang disampaikan secara berlebihan. Tindakan-tindakan yang dianggap di luar batas nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati. Asertivitas yang tidak mengenal sopan santun. Objektivitas berlebihan yang mengarah kepada materialisme. Dimana segala sesuatu diukur dari sebuah bentuk nyata tanpa mempedulikan bentuk-bentuk abstrak. 

Korupsi, mencuri, dan sebagainya merupakan contoh perilaku orang-orang yang kehilangan rasa dan batin mereka. Mereka mencari materi dan cenderung mengabaikan konsep-konsep abstrak semisal norma, aturan, nilai, dan sebagainya. 

Contoh nyata lain misalnya kasus RUUK DIY dimana sebagian orang lebih mementingkan kemajuan ekonomi yang nyata dibandingkan aspek-aspek ketentraman dan kedamaian. Mereka yang memilih penetapan berasumsi bahwa dengan dipimpin seorang Sultan maka DIY akan lebih aman dan tentram. Sebaliknya, mereka yang berbeda pendapat mengingkan agar DIY dipimpin oleh orang yang cakap dan mampu membawa kemajuan. 

Dampak sistematis berikutnya adalah agama yang mulai ditinggalkan karena tidak bisa memberikan hasil-hasil berupa materi yang nyata. Orang tidak lagi memperdulikan bentuk-bentuk rasa dan batin semisal kedamaian, ketentraman, dan sebagainya. 


Pertanyaan Penelitian 

Dari gambaran tersebut penulis mencoba menjawab pertanyaan mengapa dimensi-dimensi abstrak tersebut (misalnya batin dan rasa) terkadang diabaikan oleh ilmu Psikologi dewasa ini. Mengapa ilmpu Psikologi lebih tertarik kepada dimensi-dimensi yang sifatnya lebih kongkrit dan mudah untuk dideteksi dibanding dimensi-dimensi abstrak yang sebenarnya juga berpengaruh dalam perilaku manusia. 


Analisis Gejala 

Sebenarnya mengapa ada sebuah kecenderungan untuk memisahkan antara dunia ilmu pengetahuan yang logis empirik dengan hal-hal yang sifatnya batin seperti agama dan semacamnya? Kemungkinan hal ini disebabkan oleh trauma sejarah. 

Sejarah Eropa mencatat beberapa kali terjadi konflik antara dunia pengetahuan dengan agama, dalam hal ini adalah Gereja. Eropa pernah mengalami masa kegelapan (Dark Age) di bawah kepemimpinan gereja pada masa itu. Bahkan periode-periode setelahnya sebelum munculnya renaissance banyak sekali pembatasan-pembatasan terhadap ilmu pengetahuan oleh Gereja. Apa yang terjadi pada Galileo Galilei merupakan sebuah contoh nyata dimana seringkali para ilmuwan tidak dapat mengembangkan pengetahuannya karena batasan-batasan dari Gereja. 

Yang terjadi berikutnya adalah seperti dalam teori bandul dimana suatu keadaan ekstrim akan beralih ke titik ekstrim yang berlawanan. Ketika sebelumnya agama (dalam hal ini Gereja) berpengaruh kuat dan memiliki otoritas yang sangat tinggi, apa yang berikutnya terjadi justru agama mulai dihindari dan dianggap sebagai sesuatu yang kurang pantas. Sama halnya ketika pada masa Orde Baru kita mengagung-agungkan otoritas dan kekuasaan, kini di masa reformasi kita justru mencaci-makinya. 

Rangkaian peristiwa tersebut menciptakan sentimen tidak percaya terhadap hal-hal yang berbau agama dan mengagung-agungkan rasionalitas. Akibatnya muncul budaya logis-empirik yang kita kenal saat ini. 

Terlebih lagi dalam perkembangannya aliran positivisme yang diusung Auguste Comte (1798-1857) menjadi primadona dalam perkembangan ilmu pengetahuan berikutnya. Hal ini juga diikuti oleh ilmu Psikologi. 

Psikologi yang pada dasarnya mempelajari hal-hal yang sifatnya abstrak dipaksa untuk dileburkan dengan paham positivisme dimana segala sesuatu harus bisa diterima dan dirasakan oleh inderawi kita serta anti terhadap hal-hal yang sifatnya metafisika. 

Padahal psikologi banyak mengandung hal-hal abstrak yang sulit diterima oleh inderawi kita. Rasa misalnya, tidak dapat diterima oleh organ inderawi kita. Hal ini justru mengebiri ilmu psikologi itu sendiri menjadi terbatas pada hal-hal yang bisa diterima oleh inderawi kita. 

Terlebih lagi dewasa ini perkembangan ilmu Psikologi berpusat pada Amerika Serikat yang merupakan pengembangan dari Willhelm Wundt (1832–1920) yang menggunakan pendekatan positivisme. Semua ini menyebabkan perkembangan Psikologi berikutnya lebih berfokus pada hal-hal yang sifatnya dapat dirasakan oleh organ inderawi kita. 

Jadi wajar jika teori Psikologi dewasa ini cenderung mengabaikan konsep batin dan rasa. Menurut pendekatan behavioris misalnya. Pendekatan ini berfokus pada aturan bahwa lingkungan luar akan berpengaruh terhadap perilaku kita (Passer & Smith, 2007). Pendekatan ini lebih menekankan bahwa suatu stimulus akan direspon dengan cara tertentu oleh individu. Dari semua aliran psikologi, behavioris-lah yang paling kongkrit. 

Meskipun dalam pendekatan ini dikenal pula istilah black box dimana dalam memproses suatu stimulus indvidu memiliki caranya tersendiri. Namun black box sendiri kurang begitu diperhatikan atau dibahas dalam perkembangannya karena sangat sulit untuk dikongkritkan. 

Dalam konsep psikoanalisis dikenal istilah-istilah ketidak sadaran. Menurut Freud, pikiran manusia dibagi menjadi tiga tingkatan. Tingkatan pertama disebut conscious yang berisi tentang ide, nilai dan pengetahuan yang sedang kita sadari. Preconscious yang berada di luar kesadaran dan namun dapat dengan mudah dipanggil kembali. Unconscious yang tidak dapat disadari dalam keadaan normal (Passer & Smith, 2007). 

Namun dalam konsep ini juga kebatinan dan rasa tidak memperoleh porsi tersendiri. Segala tindakan merupakan dorongan alam bawah sadar (id) yang kemudian dibatasi oleh lingkungan (superego). Batasan-batasan dalam diri merupakan sebuah bentuk tekanan-tekanan yang sifatnya terpaksa yang kemudian menjadi sebuah bentuk defense mechanism (Hall & Lindzey, 1993). 

Kekurangan ini bisa dijelaskan mengunakan teori Kepribadian Jen dari Francis L.K. Hsu (Fudyartanto, 2003). Menurut Hsu, manusia membutuhkan daerah isi jiwa tambahan. Dalam teorinya daerah ini digambarkan dalam lingkaran lima yaitu lingkaran lapisan kesadaran jiwa yang tidak dinyatakan. Isinya berisi pikiran-pikiran atau gagasan yang disadari namun tidak disampaikan. 

Gagasan-gagasan ini tidak disampaikan karena berbagai alasan. Misalnya saja di Jawa kita mengenal istiah pakewuh atau sungkan dalam bahasa Indonesia. Bisa juga karena gagasan tersebut jika disampaikan akan menyebabkan suatu hal yang buruk. Disampaikan atau tidak suatu gagasan dipengaruhi oleh rasa. Berbebeda dengan konsep-konsep Barat yang seolah-olah semua gagasan harus disampaikan tanpa memperdulikan rasa. 

Lingkaran ke lima inilah yang digambarkan sebagai konsep batin dalam kebudayaan Jawa. Batin berarti di dalam manusia itu sendiri (Subagya, 1976). Lingkaran kelima ini juga menunjukkan ciri tersendiri dimana Psikologi Timur lebih dapat mengapresiasi hal-hal yang sifatnya abstrak (misal batin) dalam teorinya. 

Batin adalah sebuah keadaan sadar namun tidak dinyatakan. Bagian ini kurang mendapat bahasan dalam teori-teori Barat karena masyarakat Eropa yang cenderung asertif dimana biasa mengungkapkan segala sesuatu yang ada. Berbeda dengan masyarakat kita yang terkadang menyimpan sesuatu atau disebut dibatin (b.Jawa). 

Batin ini terkadang dianggap sebagai sesuatu yang kurang rasional dan tidak logis, namun hal ini ternyata memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan masyarakat terutama di daerah Asia. Batin ini memiliki kaitan erat dengan rasa. 

Rasa sendiri sangat susah untuk diwujudkan dalam sesuatu yang kongrit. Misalnya saja rasa tentram, damai, dan sebagainya. Hal itu ada namun sulit untuk diwujudkan dan dijelaskan. Terlebih lagi jika kita menggunakan patokan lima indera utama dalam tubuh kita, hal itu tidak akan dirasakan oleh kelima indera tersebut. Damai tidak dirasakan oleh mata, telinga, hidung, kulit, ataupun mulut. Oleh sebab itulah rasa sulit untuk diterima dalam dunia psikologi modern. 

Jadi sangat wajar jika stereotype bahwa masyarakat Timur cenderung emosional dan kurang logis dibanding masyarakat Barat. Dimana semakin logis seseorang dalam berpikir dan bertindak maka semakin beradab suatu masayarakat. Akibatnya masyarakat Timur dianggap kurang beradab dan dipandang miring oleh masyarakat Barat. 

Hal ini juga berfek dalam teori-teori yang muncul, tentang tolong menolong misalnya atau yang biasa disebut sebagai prosocial behavior. Banyak ilmuwan mencoba menjelaskan mengenai munculnya fenomena ini. Salah satu penjelasan yang ditemukan adalah konsep yang disebut sebagai norm of reprocity (Aronson, Wilson, & Akert, 2007) dimana kita melakukan suatu tindakan menolong dengan harapan akan mendapat perlakuan yang sama di masa mendatang. Konsep ini dianggap sebagai sebuah jawaban logis. 

Namun konsep ini justru bersinggungan dengan konsep pamrih dalam budaya Indonesia yang dianggap sebagai suatu hal yang buruk. Jika memang demikian maka konsep norm of reprocity tersebut gugur. 

Lalu apa yang yang sebenarnya menyebabkan munculnya perilaku tolong menolong? Jawaban kita yang paling sederhana adalah karena kasihan. Namun jawaban semacam ini dianggap tidak logis karena kasihan sendiri adalah sesuatu yang sifatnya abstrak dan sulit diterima oleh inderawi kita. 

Itu juga yang menyebabkan konsep-konsep semisal keimanan, ketentraman, dan sebagainya kurang dapat diterima oleh masyarakat ilmuwan psikologi saat ini. Hal itu dikarenakan aliran positivisme yang mengakar kuat pada perkembangan Psikologi dewasa ini dan keterbatasan definisi inderawi itu sendiri yang hanya dibatasi oleh lima indera utama. 

Keimanan misalnya, adalah sebuah konsep yang tidak dapat diterima oleh organ inderawi manapun. Keimanan juga sulit dijelaskan dengan hal-hal yang logis. Bahkan mungkin keimanan justru bertolak belakang dengan logika (mustaqim, 2009). 

Keterbatasan ini karena dalam pengembangannya ilmuwan Psikologi selalu dituntut untuk mengkongkritkan hal-hal abstrak terbatas pada pemahaman-pemahaman yang telah ada. Padahal pemahaman-pemahaman tersebut sifatnya masih terbatas dan sangat kurang dalam membahas dimensi-dimensi tertentu yang sifatnya abstrak. 


Rekomendasi 

Dari tulisan ini terlihat bahwa perkembangan Psikologi dewasa ini sangat terbatas pada dimensi-dimensi yang sifatnya kongkrit. Hal itu justru terkadang mereduksi psikologi itu sendiri yang pada awalnya merupakan ilmu yang mempelajari tentang jiwa dan manusia itu sendiri. 

Ke depan ilmu psikologi harus lebih mengangkat sesuatu secara apa adanya dan tidak bersikap anti terhadap hal-hal yang sifatnya abstrak dan tidak kongkrit. Psikologi harus bisa memahami dinamika manusia termasuk didalamnya adalah aspek rasa. Mengapa seseorang tetap melakukan suatu tindakan yang bahkan itu sifatnya tidak logis. 

Sesuatu yang tidak logis tersebut jangan dipandang sebagai suatu hal yang miring namun seharusnya diterima secara apa adanya dan dianggap sebagai sebuah fakta ilmiah. Psikologi harus bisa lebih menggali aspek perasaan, terutama di bagi masyarakat Asia yang cenderung kurang rasional dan tidak logis. 

Bibliography 
Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2007). Social Psychology. New Jersey: Pearson Education.

Fudyartanto, K. (2003). Psikologi Kepribadian Timur. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hall, C. S., & Lindzey, G. (1993). Theories of Personality (edisi terjemahan). Yogyakarta: Kanisius.

Mawardi, B. (2010, oktober 23). Kita yang kehilangan "rasa". Retrieved desember 30, 2010, from kompas.com: http://cetak.kompas.com/read/2010/10/23/04303119/kita.yang.kehilangan.rasa

Mustaqim, K. (2009, April 3). memahami sebuah kepercayaan. Retrieved Januari 10, 2011, from sudut pandang berbeda: http://berpikirberbeda.blogspot.com/2009/04/memahami-sebuah-kepercayaan.html

Pargament, K. I. (1997). The Psychology of Religion and Coping. New York: Guilford Press.

Passer, M. W., & Smith, R. E. (2007). Psychology: The Science of Mind and Behavior. New York: McGraw-Hill.

Prama, G. (2007). Cinta, Kedamaian, Pencerahan. Jakarta: SKH Kompas.

Subagya, R. (1976). Kepercayaan kebatinan kerohanian kejiwaan dan agama. Yogyakarta: Kanisius.

Kamis, 10 Februari 2011

logika yang membunuh logika

Sungguh bukan karena aku terlalu pengecut untuk memikirkannya. Bukan pula terlalu takut untuk menerima kenyataan yang menyebabkan diriku gila. Aku sudah mencobanya.

Hanya saja aku menemukan sesuatu yang meruntuhkan semuanya. Aku takut logikaku hanya akan membunuh dan mengkerdilkanNya. Logika sama yang pernah menipu manusia tentang dunia ini yang datar dan sebagai pusat tata surya.

Apakah cara pandang Allah (SWT) terhadap kita sama dengan cara kita memandang anak-anak yang sedang bermain itu ya, Mas? Mereka sangat senang akan apa yang mereka lakukan, sedang kita melihatnya hanya sebagai permainan yang tak berguna.          -Ali Imron kepada Amrozi, “Long Road to Heaven”-

Yeah, kita tidak akan pernah tahu bagaimana Dia berpikir. Selama ini kita mencoba mereka-reka dengan mengatakan diriNya Maha Iseng atau Bekerja dengan cara yang misterius. Semua itu hanya untuk menutupi kedangkalan logika kita.

InsyaAllah jika sudah waktuku suatu saat nanti, akan kutanyakan padaNya tentang semua ini. Dia pasti memiliki jawabannya karena Dia lah yang Maha Mengetahui. Untuk saat ini kerjakan saja apa yang menjadi urusanku, aku sangat yakin Dia pasti mampu mengerjakan apa yang menjadi urusanNya jadi buat apa aku ikut campur. Aku hanya memohon agar kegilaan ini segera berakhir. Amin.

Rabu, 09 Februari 2011

masyarakat "daging babi"

ham : kb. 1 daging (paha) babi (yang biasanya diasinkan). 2 Sl.: pemain sandiwara yang jelek. 3 Sl.: pelayan radio amatir. -kkt. (hammed) Sl.: to h. it up bermain berlebih-lebihan.

Pasca reformasi 1998, istilah HAM tiba-tiba saja melejit. Terutama akibat sinyalir adanya banyak pelanggara HAM yang terjadi pada masa orde baru. HAM dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya universal dan kebenaran mutlak. HAM dianggap sebagai sesuatu yang harus dijunjung paling tinggi dalam kehidupan manusia.

Namun pada prakteknya, konsep HAM ini seringkali justru bertabrakan dengan nilai-nilai dalam masyarakat. HAM yang sebegitu baik dan dipuja-puja bahkan dianggap sebagai kebenaran mutlak dalam masyarakat ternyata tidak semudah itu dalam penerapannya. Banyak permasalahan muncul justru karena masuknya konsep ini ke dalam masyarakat.

Mengenal Daging Babi
Masyarakat Eropa pada masa lalu hidup dalam bentuk kerajaan-kerajaan. Dimana dalam film-film dan buku sejarah mereka sering menggambarkan masa itu dengan masa penuh kekejaman, dimana penguasa berhak bertindak sesuka hatinya dan sewenang-wenang kepada masyarakat.

Pengekangan-pengekangan itu menimbulkan penolakan yang berkibat munculnya semangat kebebasan, yaitu bebas dari penguasa atau seseorang yang memiliki kekuatan di atas diri kita. Dalam perjalanannya sumber ini menimbulkan produk-produki semisal slogan liberte, egalite, freternite di Perancis atau paham liberal di AS dan Eropa.

Hal itu sangat terlihat terutama dalam sejarah AS, dimana pada awalnya mereka dipaksa tunduk kepada Inggris namun mereka memperjuangkan kebebasan mereka. Boston Tea Party menjadi salah satu saksi bisu adanya semangat tersebut. Hingga pada akhirnya masyarakat AS mencantumkan konsep-konsep HAM dalam deklarasi kemerdekaan mereka.

Namun para ahli berpendapat bahwa piagam Magna Charta pada tahun 1215 di Inggris lah yang menjadi cikal bakal lahirnya HAM, baru setalah itu deklarasi kemerdekaan AS yang menempati urutan kedua. Piagam ini berisi perjanjian dimana Raja tidak boleh bertindak sewenang-wenang dan dapat dihukum jika melakukan kesalahan.

Kemudian muncul berbagai peristiwa lain misalnya French Declaration tahun 1789. Hingga pada akhirnya pasca Perang Dunia II berasal dari kejadian pembantaian massal oleh Hitler, muncul The Universal Declaration of Human Rights oleh PBB pada tahun 1948.

Jadi secara ringkas, saya menyimpulkan bahwa HAM lahir dari masyarakat yang dulunya merasa diperlakukan semena-mena hingga muncul semacam konsensus untuk melindungi hak-hak dasar manusia. Dalam artian masyarakat ini memandang manusia sebagai sautu individu yang perlu dilindungi dan dipertahankan hak-haknya. Sebenarnya HAM hanyalah salah satu produk saja yang timbul dari pemikiran tersebut. Produk-produk lainnya isalnya adalah hak cipta, kemudian paham kapitalis, liberalis, dsb seperti yang telah diuraikan atas.

Sepatu Hitam Itu
Saya ingat waktu pertama kali masuk SD, saya diharuskan membeli sepatu berwarna hitam seharga kira-kira lima bulan uang saku saya saat itu yang besarnya Rp 200/hari. Sebuah praktek yang saat ini dianggap sebagai kosupsi atau apapun itu namanya. Kejadian yang hampir sama juga terjadi sewaktu saya SMP, mulai dari ikat pinggang hingga minimal warna sepatu berusaha diseragamkan. Prektek yang saat ini ditolak mentah-mentah oleh para aktivis HAM dan semacamnya.

Namun dibalik itu semua saya menyadari suatu hal bahwa hal-hal semacam inilah yang menimbun jurang keadilan sosial. Dalam lingkungan semacam itu kita tidak pernah tahu (dan mungkin tidak perlu tahu) siapa si miskin dan siapa si kaya karena semua sama. Berbeda dengan saat ini dimana sekolah menjadi panggungfashion show dan ajang pamer kekayaan atas nama kebebasan dan Hak Asasi.

Ternyata ini semua bukan hanya tentang bentuk dan warna sepatu, tetapi efeknya lebih dari itu. Seorang anak SMP rela menjual diri hanya untuk membeli Blackberry, seorang pelajar SMA rela mencuri uang orang tuanya sambil memaki-maki hanya untuk hangout bersama teman-temannya, atau bahkan anak SD yang gantung diri karena tidak kuat mendengar celaan teman-temannya karena memakai seragam usang.

Saya pernah mengobrol dengan teman-teman saya, apakah di Indonesia ini HAM merupakan kebenaran yang paling mutlak? Tidak juga. Seperti yang pernah diajarkan guru SD kita, bahwa ada sesuatu yang lebih penting daripada hak yaitu adalah kewajiban. Bahkan dalam beberapa versi disebutkan bahwa hak baru akan diberikan setelah kita melaksanakan kewajiban.

Mengapa demikian? Karena di Indonesia seorang manusia tidak dilihat sebagai satu individu yang beridiri sendiri, namun dilihat sebagai bagian dari sebuah kelompok. Sehingga individu tersebut harus memenuhi kewajibannya sebagai anggota kelompok dan itulah yang utama yaitu menjaga keharmonisan kelompok. Bukan tentang hal seorang individu dari individu lainnya.

Maka ketika dihadapkan dalam sebuah peristiwa antara hak dan kewajiban maka ini menjadi masalah prioritas dan pilihan.

Ketika sebuah kampus membangun gedung tinggi dan menjulang memang itu haknya, tetapi jangan lupa mereka juga memiliki kewajiban untuk menjaga perasaan dengan masyarakat sekitarnya. Sebuah kampus yang membangun gedung mewah dengan alasan kekurangan tempat kuliah mahasiswanya yang terus menerus bertambah sementara di sebelahnya kampus lain hendak ditutup karena kekurangan mahasiswa, maka sekali lagi ini adalah masalah pilihan. Sama seperti halnya sebuah kampus yang berhak mengatur lingkungannya, tetapi alangkah dalam mengatur tersebut kita tetap ingat kepada kewajiban kita kepada lingkungan.

Wajar pula jika sex bebas dianggap sebagai urusan pribadi sehingga pornografi yang dilakukan untuk pribadi dianggap dilindungi oleh HAM, sementara di sisi lain ada norma dan nilai di masyarakat yang harus dipenuhi. Begitu pula dengan gay, lesbian, banci, dsb yang menuntut hak mereka. Tapi terkadang mereka lupa ada kewajiban yang perlu dipenuhi yaitu menjunjung tinggi nilai dan norma kelompok. Maka sekali lagi ini adalah sebuah pilihan.

Memang hak kita untuk menggunakan segala yang kita miliki seperti perhiasan, baju yang bagus, dan sebagainya. Namun sekali lagi adalah haruskan kita selalu mengambil apa yang menjadi hak kita? Mengapa kita enggan mengikhlaskan apa yang menjadi hak kita demi orang lain, atau kewajiban kita menjaga perasaan orang lain?

Kebingungan
Konsep HAM yang yang telah diratifikasi oleh sebagian masyarakat yang dianggap sebagai perwakilan dunia ternyata tidak semudah itu dalam prakteknya. Karena konsep HAM ini lahir dari sebuah masyarakat yang memandang manusia sebagai suatu individu tersendiri. Padahal dalam beberapa masyarakat seperti di Indonesia misalnya, menganggap manusia sebagai bagian dari kelompok.

Konsep-konsep inilah yang pada akhirnya menimbulkan banyak pertentangan. Mulai dari batas mana masyarakat dapat mempengaruhi suatu individu dan sebaliknya. Sekali lagi perlu kita pikirkan apa sebenarnya HAM dan latar belakangnya itu. Karena dalam masyarakat kolektif, terkadang kita harus mengobankan hak kita demi kewajiban yang kita emban.

Maka sekali lagi ini adalah masalah pilihan dan kesadaran. Saya masih teringat guru SD saya yang mengatakan bahwa kewajiban lah yang harus diutamakan. Dan bagaimanapun juga bagi saya, daging babi memang haram untuk dimakan.

Rabu, 19 Januari 2011

Sepercik Cerita tentang Medis


Ehm, sebenarnya sudah lama aku ingin menulis tentang beberapa pikiranku terhadap dunia kesehatan. Namun sayangnya niat itu selalu timbul tenggelam. Hingga akhirnya pengalaman beberapa waktu yang lalu yang membuatku banyak berurusan dengan rumah sakit dan hal-hal metafisika mendorong semangatku untuk menulis sesuatu.

Berikut adalah beberapa pikiran yang terlintas tentang dunia medis di kepalaku. Bukan untuk memberi tahu, tetapi justru mempertanyakan dan ingin mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lingkaran Dokter
Entah kenapa dunia kesehatan sangat erat dikaitkan dengan uang. Saya bingung harus menyebutnya sebagai berkah atau musibah. Tetapi memang kenyataan mengatakan sehat itu mahal harganya, jadi mau apa lagi.

Karena saya seorang mahasiswa, maka saya akan mulai dari pertanyaan simpel yang pernah terlintas di pikiran saya. Adakah dokter miskin? Saya tidak bermaksud menghakimi atau apa, namun pertanyaan itu juga pernah saya baca dari sebuah notes anak kedokteran.

Bukan masalah kesenjangan ekonomi atau apa, tetapi untuk menjadi dokter memang dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Maka wajar jika kedokteran di kampus saya termasuk salah satu prodi elit dan memang kenyataan berkata demikian.

Bukan tentang kesetaraan hak atau apa, tetapi mau bagaimana lagi. Meskipun mungkin ada beasiswa kuliah gratis atau semacamnya, toh tetap dihadapkan pada buku-buku yang mahal, peralatan yang mahal, biaya praktek yang mahal, dan sebagainya. Bukan salah pemerintah atau apa, tetapi memang kenyataan memaksa hal seperti ini terjadi. Hanya orang-orang yang memiliki rezeki yang cukup berlebih yang dapat mengaksesnya, sisanya tulang pun tidak habis dibanting untuk menjalaninya.

Stigma seperti ini juga yang menciptakan benteng psikologis kepada teman-teman yang kurang beruntung. Jangankan menjadi dokter, bermimpi pun mereka sudah bergidik membayangkan bagaimana setiap harinya keluarga mereka hanya makan dengan nasi dan garam.

Keadaan seperti ini terkadang membuat orang berpikiran tentang adanya lingkaran dokter. Anak dokter akan menjadi dokter, begitu pula anaknya, cucunya, dst. Bukan karena apa, tetapi ya memang hanya orang-orang tertentu yang memiliki peluang menjadi dokter dengan segala komponen biayanya.

Dokter tidak diperlukan? Masalah tempat dan waktu
Seorang rekan saya yang juga calon dokter (saat itu, entah sekarang apakah sudah beralih ke dunia politik) mengatakan bahwa dokter saat ini pun juga susah mencari pekerjaan. Suatu realita yang cukup aneh menurutku dimana banyak daerah di Indonesia yang belum terjangkau kesehatan.

Setelah ditelisik lebih lanjut, ternyata bukan sulit mencari pekerjaan. Tetapi yang ada adalah pekerjaan itu banyak, namun yang dibayar dan enak itu yang susah. Hal itu karena banyak lulusan terpusat mencari pekerjaan di kota-kota besar (hal ini juga sebenarnya terjadi pada jurusan ilmu-ilmu lain). Sehingga di daerah lain mungkin kekurangan, di daerah lainnya justru kelebihan.

Bagi kita yang mungkin terbiasa hidup enak ini mungkin kata-kata seperti pengabdian dan cita-cita hanya ada dalam novel-novel menyentuh hati penuh dengan bumbu romantisme. Bukan karena tidak ingin, tetapi mungkin kita memang tidak mampu.

Seekor Harimau yang biasa makan daging pun pasti tidak akan semudah itu berganti menjadi pemmakan rumput. Begitu juga kita yang hidup di kota dengan segala fasilitasnya ini tentu perlu perjuangan yang ekstra untuk beradaptasi ke daerah lain yang lebih kekurangan dokter. Celakanya kenapa kebanyakan calon dokter adalah orang-orang kota.

Namun cerita tentang pengabdian itu bukan hanya cerita roman fiksi. Saya yakin banyak orang yang mampu melewati perjuangan itu ditengah cibiran orang-orang yang iri.

Perguruan Tinggi dan Benalu
Pasien itu terbaring lemas di tempat tidurnya. Dokter mengatakan kepada keluarganya bahwa pasien tersebut harus dipindahkan segera ke rumah sakit lain yang lebih besar. Keluarga pasien pun sibuk berdiskusi mengenai keadaan tersebut.
"Di bawa ke Sardjito saja, disana kan rumah sakit besar dan sarananya lengkap"
"Tetapi di Sardjito banyak ko-ass (maaf kalo salah nulis). Kalau pasien macam kita yang kelas tiga cuma ditangai mereka."
"Yaudah kalo gitu di Panti Rapih atau Bethesda"
Bagaimanapun juga, ko-ass adalah seorang calon dokter. Dokter-dokter hebat saat ini tentunya juga melalui tahapan ini dulunya. Hanya masalah waktu bagaimana dari calon berubah menjadi seorang dokter yang sangat ahli.

Tetapi entah kenapa masyarakat kurang begitu percaya terhadap mereka. Karena jika berkaitan dengan nyawa adalah sesuatu yang tidak main-main. Sesuatu yang harus ditangani oleh ahlinya dengan segera. Dan masyarakat memiliki anggapan ko-ass bukanlah dokter.

Dan sialnya, kenapa banyak ko-ass justru ditempatkan di kelas III. Dimana penghuni kelas III kebanyakan adalah masyarakat yang kurang beruntung. Tidak pahamkah bahwa isu sosial berkaitan dengan tingkat ekonomi merupakan masalah yang sensitif di negeri ini?

Mengapa harus pasien kelas III dan bukan semua kelas? Ini seperti menciptakan suatu stereotype bahwa mereka yang bayarnya kurang, tidak perlulah diurus oleh dokter sungguhan. Cukuplah menjadi bahan percobaan calon dokter. Kalau nanti dokter tersebut sudah ahli, mereka bisa merawat pasien yang bayarnya lebih banyak.

Disadari atau tidak rumor-rumo semacam ini memang beredar di masyarakat. Banyak RS yang bagus secara kualitas di Yogya ini dihindari karena keberadaan ko-ass. Padahal tanpa adanya ko-ass tentu tidak akan ada dokter-dokter. Jangan heran jika Panti Rapih dan Bethesda menjadi RS yang diakui oleh masyarakat (meski kurang memperhatikan kearifan lokal, lebih llanjut dibahas di bagian berikutnya).

Bukan masalah keberadaan ko-ass itu sendiri, namun bagaimana perguruan tinggi dan rumah sakit bisa mengatur dan memanajemen keberadaannya sehingga tidak menimbulkan kesan negatif. Saya ingat ketika adik saya harus menjalani sebuah operasi kecil di Sardjito. Bagaimana seorang anak kecil dioperasi sambil dikerubuti oleh sepuluh orang yang menganggapnya sebagai tontonan.

Di zaman ketika dokter pun bisa tertawa menonton film Patch Adam, saya heran fenomena seperti ini masih saja ada. Okelah saya pahami itu sebagai sebuah praktek pengalaman langsung yang terlalu berharga untuk dilewatkan, tetapi tentu tetap harus memahami perasaan seorang pasien. Pasien adalah seseorang yang ingin dihargai dan bukan justru dijadikan tontonan. Mengapa tidak "diakali" misalnya dengan adanya ruangan pengamatan yang menggunakan kaca satu arah di ruang operasi? Tentu itu akan lebih membuat pasien merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi tontonan menarik.

Juga tentang penjagaan image, bagaimana mungkin seorang pasien yang sedang kebingungan akan penyakitnya juga dihadapkan kepada dokter yang juga kebingungan? Yang terjadi justru kepercayaan pasien kepada dokter atau calon dokter tersebut akan jatuh. Bagaimana agar kebingungan-kebingungan tersebut dapat ditutup dengan topeng-topeng profesionalisme.

Sangat tidak mungkin menghilangkan ko-ass dari rumah sakit. Karena mereka adalah calon-calon dokter yang tanpa mereka juga akan berarti tidak akan ada dokter. Namun yang terpenting disini adalah bagaimana melakukan manajemen agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Istirahat atau Tertawa
Meski dari pelayanan cukup profesional dibanding rumah sakit lainnya, namun saya paling benci terhadap Panti Rapih dan Bethesda. Sebenarnya hanya karena satu hal yang mungkin sepele: jam besuk.

Entah kenapa satu hal yang menurut saya sangat berharga bagi orang yang sakit adalah dibesuk. Dikunjungi orang-orangbyang peduli dengan kita untuk sekedar bertemu atau berjumpa barang sejenak, namun itu memberikan sebuah semangat dan pengharapan yang besar.

Tentu bagi mahasiswa Psikologi tidak perlu dijelaskan bagaimana besarnya pengaruh social support, semangat, efek Placebo, dsb terhadap kesehatan. Dan menurut saya itu sangat penting. Terlebih di dalam masarakat kolektiv seperti kita ini, kebutuhan akan dibesuk tentu sangat besar.

Dan penerapan jam besuk menurut hemat saya kurang tepat dan justru menghalangi konstruk budaya yang ada. Mungkin seharusnya, jam besuk di rumah sakit Indonesia lebih fleksibel dan tidak terlalu ketat. Namun pengalaman saya beberapa waktu lalu, Panti Rapih pun kini perlahan mulai menyadarinya. Peraturan tentang jam besuk sudah tidak seketat dahulu lagi dan kini relatif lebih longgar.

Minggu, 16 Januari 2011

antara pendidikan dan biaya: komersialisasi


Entah kenapa akhir-akhir ini kata komersialisasi sedang marak di dunia pendidikan, terlebih di kampus Gajah dimana saya kuliah. Sumber utama perhatian saaat ini tentu berkaitan dengan kebijakan kampus dalam beberapa hal misalnya pembangunan unit-unit yang menjadi semacam perusahaan di bawah kampus dan tentu saja parkir berbayar.

Namun apa sebenarnya komersialisasi. Tulisan berikut mencoba mendefinisikan komersialisasi, tentu saja menurut saya sendiri.


Ketika Komersialisasi menjadi masalah
Saya teringat sebuah kejadian di siang hari setelah kuliah. Beberapa teman saya memfotokopi materi kuliah secara kolektif. Kemudian salah satu teman saya diminta uang biaya fotokopi oleh teman saya yang lain lalu menolak karena menurutnya itu bentuk komersialisasi.

Kejadian unik tersebut membuat saya berpikir, apa sebenarnya komersiaslisasi itu sendiri. Komersialisai merupakan proses menjadikan sesuatu sebagai komoditas perdagangan. Komersiaslisasi sendiri merupakan suatu hal yang wajar dalam situasi tertentu, misalnya kita memproduksi suatu barang untuk dikomersilkan dan hasilnya kita gunakan untuk menghidupi kita.

Tetapi dalam beberapa hal komersialisasi juga menjadi suatu hal yang tabu. Misalnya dalam bidang pendidikan. Dimana anggapan masyarakat hingga saat ini pendidikan masih dalam konteks pengabdian sehingga tidak untuk dikomersilkan.

Pendidikan sebagai sesuatu yang mulia harusnya didasarkan pada semangat mengabdi, yaitu memberi dengan tulus ikhlas tanpa berharap imbalan. Namun sayangnya dunia tidak seindah kata-kata dalam novel picisan.


Komersialisasi dan biaya
Tetapi pendidikan juga dihadapkan pada dilematis bahwa dalam menjalankan proses pendidikan juga memerlukan biaya. Sebuah sinidiran seorang Guruku yang mengatakan, "Siapa bilang guru itu pahlawan tanpa tanda jasa? Gaji itu merupakan bentuk nyata dari tanda jasa".

Saat ini berapa banyak sih orang yang mau mengajar tanpa meminta bayaran? Berapa banyak dosen yang rela mengajar tanpa dibayar sepeserpun? Berapa banyak dosen dan mahasiswa yang mau melakukan penelitian jika tidak diberi insentif? Biaya pengajar itu hanya satu dari sekian biaya yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan pendidikan. Belum lagi biaya peralatan yang tidak murah tentunya demi mengejar kualitas dan biaya-biaya lain misalnya kegiatan kemahasiswaan dan semacamnya.

Masyarakat kemudian menuntut pemerintah sebagai penyedia biaya tersebut. Namun pada prakteknya uang negara pun terbatas, terlebih ketika berhadapan dengan masyarakat yang koruptif dan enggan membayar pajak maupun retribusi objek wisata. Sehingga meskipun anggaran pendidikan sudah mencapai 20% dari APBN yang tentu saja jumlahnya juga terbatas, pendidikan masih dihadapkan dengan kurangnya dana yang tersedia untuk menyelenggarakannya.

Kita sebagai sebagian masyarakat yang dianggap pintar seharusnya menyadari hal ini. Jika kita memang paham akan hal ini tentunya kita harus bertindak cerdas, bukan hanya menuntut tetapi juga memberikan solusi dan bertindak nyata.

Redefinisi Komersialisasi
Beranjak dari kenyataan bahwa sumber daya yang ada itu terbatas dan memerlukan biaya dalam pemanfaatannya, maka saya mencoba meredefinsi komersialisasi itu sendiri. Komersialisasi saya definisikan sebagai penarikan biaya yang jumlahnya lebih dari biaya produksi dan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Jadi selama biaya yang ditarik masih sama dengan biaya produksinya atau kurang dan tidak bersifat mencari keuntungan maka saya anggap itu bukan komersialisasi.

Maka kini kita harus lebih bisa melihat dengan gambaran utuh bahwa biaya itu memang ada dan tidak dinafikkan. Persoalan utamanya adalah bagaimana biaya tersebut tidak terlalu dibebankan pada masyarakat tempat pengabdian tersebut.

Pemerintah telah melakukan beberapa upaya misalnya subsidi terhadap mahasiswa di perguruan tinggi negeri yang jumlahnya tiga kali lebih banyak dari biaya yang ditarik dari mahasiswa. Jadi dalam konteks ini bisa dikatakan bahwa sebenarnya biaya perkuliahan bukan merupakan bentuk komersialisasi karena biaya yang ditarik jauh lebih sedikit dari yang dikeluarkan.

Namun sekali lagi demi mengejar kualitas maka biaya itu besar adanya. Saya teringat ketika seorang satpam disekolah saya berkata, "Sebenarnya pendidikan itu bisa gratis, jika kegiatannya cuma mengajar di kelas". Maksudnya adalah biaya yang diberikan oleh pemerintah sebenarnya cukup untuk menyelenggarakan pendidikan yang pas-pasan.

Tetapi masyarakat tidak cukup puas dengan pendidikan yang pas-pasan. Mereka berharap pendidikan gratis dari pemerintah yang memiliki kualitas baik. Sebuah cita-cita luhur yang bahkan di negara maju pun hal itu sulit terwujud hingga saat ini (kalau anda cermati perguruan tinggi dan sekolah yang unggul kualitasnya di negara maju seperti AS dan Eropa pun kebanyakan merupakan instansi swasta). Namun semoga cita-cita itu bisa terwujud.

Memberantas Komersialisasi Pendidikan
Kembali kepada komersialisasi pendidikan dan cita-cita luhur, bahwa sesungguhnya pendidikan merupakan bentuk pengabdian dan tidak seharusnya menjadi sarana komersialisasi. Saya tidak akan membahas berbagai kebijakan dalam tataran universitas tetapi dalam tataran mahasiswa itu sendiri. Karena tidak disadari seringkali kita sendirilah pelaku dan oknum yang memaksa penyelenggara pendidikan menarik dana yang berlebih sehingga dianggap sebagai bentuk komersialisasi.

Misalnya dengan melakukan pemborosan dana-dana yang tidak perlu. Sadarilah bahwa setiap dana yang kita hamburkan sama halnya menghambur-hamburkan uang rakyat, suatu tindakan anggota DPR yang kita cemooh namun seringkali kita lakukan.

Mulai dari dana PKM, dana kegiatan kemahasiswaan, dan dana-dana lainnya. Mari kita jaga dan kita sadari. Jangan mencemooh anggota DPR yang studi banding ke luar negeri ketika kita menggunakan dana pendidikan untuk kegiatan yang sama (kecuali dari kantong sendiri silahkan saja). Jangan mencemooh oknum birokrat yang bertindak koruptif ketika kita masih saja menciptakan kuitansi-kuitansi fiktif. Jangan menghina pejabat yang memanfaatkan fasilitas untuk kepentingan pribadi ketika kita menghambur-hamburkan dana PKM hanya untuk konsumsi pelaksana.

Atau dengan berusaha menghemat subsidi pemerintah dengan tidak secara sengaja berlama-lama menempuh masa studi. Karena di kampus saya saja misalanya, dana subsidi per mahasiswa per semesternya bisa mencapai 3-4juta rupiah. Sebuah angka funtastis. Bayangkan berapa banyak kerupuk yang anda mampu beli dengan semua uang tersebut. Ingatlah bahwa dana yang ada tersebut juga merupakan uang rakyat yang selama ini kita bela hingga berteriak-teriak di jalanan dan membuat macet.

Kita juga harus selalu ingat tujuan utama organisasi tempat kita bernaung. Jangan sampai kita sendirilah pelaku komersialisasi tersebut. Misalnya ketika membuat seminar atau menciptakan buku maka pertanyaan pertama yang harus dipahami adalah apa tujuannya. Jika memang tujuannya adalah untuk pengabdian maka tidak perlulah menarik biaya yang tidak perlu atas alasan apapun dalam bentuk apapun misalnya tiket masuk. Begitu juga dengan kegiatan-kegiatan lainnya seharusnya sesedikit mungkin menarik biaya dan memaksimalkan biaya yang ada.

Toh katanya organisasi mahasiswa adalah organisasi nirlaba. Sama halnya dengan perguruan tinggi, maka komersialisasi dalam bentuk apapun tentu tidak sepantasnya terjadi. Salam Kesejahteraan Indonesia!

Kamis, 13 Januari 2011

omong kosong dunia

Piring-piring di meja oval itu tinggal berisi tulang-tulang sisa makanan. Rokok terselip di antara jari-jari. Asap abu-abu mengepul tertiup keluar dengan dorongan laju kipas angin. Badan bersandar dengan perut membesar penuh dengan makanan.

Tawa keras terdengar sembari jari menunjuk orang yang menjadi korban lelucon. Obrolan ngawur penuh dengan makna mewarnai malam itu. Sejak sinetron-sinetron mulai bermunculan di layar kaca hingga film-film lama pengisi waktu siar suara itu tetap terdengar.

Segala pahit manis kehidupan tidak luput. Mulai dari cerita sedih tentang kematian seseorang yang hidupnya penuh perjuangan dan misteri hingga hal-hal metafisika dan filosofis kehidupan. Ah entahlah, mungkin dunia ini begitu berwarna dengan segala haru birunya. Drama picisan yang biasa kita lihat di layar kaca mungkin tidak lebih miris dari kenyataan yang ada.

Segala teori, konspirasi, sudut pandang, fakta, opini, dan omong kosong semacam itu memang telah banyak memberi corak pada dunia ini. Tapi omong kosong tetaplah omong kosong. Buat apa memikirkan sesuatu yang tidak perlu kita pikirkan secara berlebihan? Dunia ini memang hanya pantas untuk ditertawakan. Dan segala drama epik picisan itu akan tenggelam dalam tawa malam itu.