Rabu, 19 Oktober 2011

Kraton dan Harga Diri

sumber: kratonwedding.tumblr.com
Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah hajatan besar di Kraton Ngayogyakarta. Mungkin hajatan ini lebih pantas disebut sebagai pesta rakyat. Bagaimana tidak dalam hajatan tersebut bukan hanya tuan rumah yang punya hajat, tetapi juga mayoritas warga Ngayogyakarta.

Seumur hidup saya baru dua kali saya melihat begitu banyak masyarakat berkumpul menjadi satu seperti itu. Pertama pada saat dukungan Keistimewaan DIY dan yang kedua pada saat Pawiwahan Agung kemarin, dimana malioboro dipenuhi oleh lautan manusia.

Masyarakat sebanyak itu bisa berkumpul menjadi satu merupakan sebuah kesitimewaan tersendiri. Bandingkan dengan berbagai kegiatan pengumpulan massa selama ini baik berbentuk pengajian, konser, demonstrasi, dan sebagainya belum ada yang sefantastis itu.

Terlebih lagi masyarakat hadir tidak hanya sebagai penonton ataupun tamu, tetapi juga ikut menyemarakkan hajat yang sedang dilaksanakan. Mulai dari menyumbang makanan di angkringan, janur, atau bahkan pertunjukkan kesenian. Semua tumpah ruah menjadi satu seolah tidak hanya Sultan yang memiliki hajat melainkan seluruh masyarakat Jogjakarta.

Hal ini merupakan sebuah fenomena yang menarik. Di tengah maraknya sentimen anti kekuasaan dan rasa ketidakpercayaan terhadap penguasa, Sultan sebagai sosok penguasa dengan sentimen monarki di dalamnya justru mendapatkan dukungan tersendiri bagi rakyat Yogyakarta.

Dalam era modern dimana demokrasi dan kebebasan dituhankan dan semua orang ditekan untuk menjadi setara, sebuah fenomena unik ini muncul ke permukaan. Pada akhirnya pemimpin tidak hanya sebatas pada kekuasaan semata tetapi juga bagaimana seorang pemimpin memberikan dan mendapatkan pengaruh dari masyarakat. Dalam tulisan ini saya akan membahas beberapa sudut pandang untuk memahami fenomena ini secara lebih dalam.

Kerinduan Budaya
Dalam zaman globalisasi saat ini informasi mengalir begitu derasnya. Jarak tidak lagi menjadi penghalang. Akibatnya budaya satu dan lainnya berdatangan mempengaruhi satu sama lain. Nilai, ide, gagasan, dan idealisme bercampur aduk menjadi satu. Seseorang tidak lagi bisa diketahui etnisnya hanya dari lokasi tempat tinggal.

Celakanya budaya modern Eropa-AS memiliki kekuatan media. Entah itu kapitalis, sekuler, sosialis, komunis, liberal dan sebagainya masuk ke setiap sendi kehiudpan tanpa kita sadari. Nilai-nilai pun bergeser. Masyarakat modern memiliki tuntutan tersendiri terhadap dunia.

Dalam dunia yang dikuasai nilai-nilai Eropa-AS muncul segelintir masyarakat yang justru merindukan budaya asli Indonesia. Masyarakat ini didominasi dua macam: (1) generasi tua yang memang sejak dahulu dibesarkan dengan nilai-nilai tradisional dan menjadi pelaku budaya itu sendiri serta (2) generasi muda yang memiliki ketertarikan terhadap budaya asli, mereka bukan pelaku dari budaya tersebut akan tetapi memiliki ketertarikan dan dukungan terhadap budaya tersebut.

Gejala ini dapat kita lihat dari berbagai fenomena yang muncul akhir-akhir ini. Mulai dari penggunaan simbol-simbol etnis semisal batik, surjan, dan simbol-simbol etnik lainnya. Begitu pula dengan dengan fenomena yang kita bahas saat ini.

Banyaknya dukungan masyarakat yang muncul dalam Gerakan Pro-Penetapan dan Pawiwahan Agung kemarin merupakan bentuk dari kerinduan masyarakat akan budaya asli tradisional. Sultan dan Kraton sebagai simbol yang mereka junjung untuk mengungkapkan gagasan akan pentingnya local wisdom dari kebudayaan yang selama ini justru mulai ditinggalkan.

Gagasan tradisional ini diwujudkan dalam dukungan dan penghormatan terhadap Sultan dan Kraton secara keseluruhan. Gagasan untuk kembali kepada kebudayaan awal, kebudayaan yang telah dibangun ratusan tahun oleh para pendahulu kita. Kebudayaan rasa.

Kraton sebagai Identitas
Setiap kelompok memiliki ciri khas tersendiri, ciri tersebut yang membedakan satu kelompok dengan kelompok lain serta menyatukan anggota kelompok tersebut. Dalam kasus ini, Kraton dan Sultan sendiri merupakan ciri khusus yang menjadi simbol dari masyarakat Jogjakarta.

Itu sebabnya isu Pro-Penetapan muncul dengan gaung yang keras ketika Kraton dan Sultan diusik. Penyerangan terhadap simbol-simbol dan identitas kelompok sama halnya dengan menyerang anggota kelompok itu sendiri. Dalam kasus ini "penyerangan" terhadap eksistensi Kraton dan Sultan itu sendiri merupakan bentuk penyerangan terhadap masyarakat Jogjakarta.

Oleh karena itu muncul reaksi keras untuk "mempertahankan" identitas dari kelompok tersebut. Bentuk pertahanan ini muncul dalam bentuk fenomena Gerakan Pro-Penetapan. Mulai dari bendera-bendera, gerakan massa, hingga dukungan terhadap eksistensi Kraton dan Sultan itu sendiri.

Ini semua dapat dilihat sebagai upaya sekelompok masyarakat untuk mempertahankan identitas mereka. Tanpa adanya identitas dan ciri khas dari suatu kelompok, maka eksistensi kelompok itu sendiri akan turut menghilang. Maka disinilah diuji, apakah kelompok itu akan tetap berdiri dengan simbol-simbolnya atau tertelan oleh kejamnya zaman.

Lakum Dinukum Waliyadin
Perkembangan zaman telah menggeser nilai-nilai dalam suatu budaya. Pengaruh datang silih berganti dan saling mempengaruhi. Begitu pula dengan struktur masyarakat yang merupakan bagian dari kebudayaan itu sendiri.

Dahulu, individu dianggap sebagai bagian dari kelompok, suati fenomena yang lumrah dalam masyarakat kolektif. Dimana individu yang satu dan lain memiliki keterikatan degan kelompok. Individu diharuskan menjunjung tinggi norma kelompok meski itu berarti mengorbankan individu itu sendiri. Orang bisa menuntut orang lain untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai kelompok.

Saat ini dimana individualisme telah ikut berpengaruh, maka individu mulai berdiri sendiri dan melepaskan diri dari kelompok. Orang tidak bisa lagi memaksa individu untuk bertingkah laku tertentu. Tas nama kebebasan dan Hak Asasi Manusia seolah semua hal boleh dilakukan. Demokrasi menjadi tameng orang untuk berbicara sesuka hati meski itu menyakiti orang lain. Atas nama demokrasi, kebebasan, dan kebenaran.

Maka disini saya hanya bermaksud menyampaikan. Orang boleh bertindak sesuai kemauannya sendiri atas nama HAM, tetapi orang juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya tersebut. Terlebih terhadap tindakan-tindakan yang bersinggungan dengan orang lain.

Sultan sebagai seorang manusia tentu tidak sempurna, saya yakin dalam diri pribadi Sultan banyak kekhilafan dan kesalahan. Namun Sultan sebagai sebuah simbol perrlu dipertahankan dan dijaga sebagai bagian dari masyarakat itu sendiri. Sultan sebagai pemimpin memiliki hak untuk dijunjung tinggi, begitu pula sebagai yang dipimpin pun kita memiliki nilai-nilai dan norma yang harus dijunjung.

Namun dalam dunia penuh dengan logika saat ini, rasa dianggap subjektif. Perlahan ditinggalkan dan diabaikan. Padahal sejatinya manusia sejati hidup dengan rasa. Hormatilah orang lain, maka dengan demikian orang lain akan menghormati anda.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kamu Tanggung, Aku Jawab

Kita yang tak bertanggung jawab, bahkan pada diri kita sendiri. Melemparkan semua masalah atas nama kesalahan sistem dan orang yang lebih berkuasa. Seolah diri tak ubahnya sebuah anjing yang diperintah oleh majikannya.


Bahkan anjing pun memiliki kemauan. Sama halnya ketika kita mau untuk menerobos lampu merah, mau untuk mencontek, mau untuk merusak sistem. Maka siapakah yang lebih tidak berharga, manusia atau sistem?


Ketika kita menyalahkan sistem atas kesalahan yang terjadi, maka kita telah merendahkan diri sendiri. bagaimanapun juga sistem hanyalah alat dan kitalah penggunanya.

pemahaman

Ilmu dicari atas dasar rasa ingin tahu agar kita bisa memahami, bukan mencari kebenaran. Karena kebenaran yang hakiki terletak pada hati.

Jumat, 30 September 2011

Sekat

Ketika rasa ingin tahu tidak lagi menjadi dasar suatu ilmu. Dimana sekat-sekat semu dibangun atas nama ego dan bidang keahlian serta dibumbui sedikit kesombongan. Maka ilmu hanya menjadi teori non-praktis ditulis untuk mempertebal buku dan dompet penerima royalti. Dan tidak ada satu pun masalah terselesaikan.

Minggu, 25 September 2011

Nilai Majemuk: Mengapa Seseorang berlaku yang Tidak Seharusnya

Akhir-akhir ini Indonesia kembali digemparkan oleh para pelajar. Kali ini perilaku tawuran yang bahkan berbuntut dengan perkelahian dengan wartawan menjadi luka yang kembali terkuak di antara luka-luka lain yang ada dalam dunia pendidikan.

Peristiwa ini membuat masyarakat kembali menyoroti dunia pendidikan kita. Tentu kita sebagai insan (ataupun mantan) pendidikan sudah tahu berbagai sisi hitam putih dari dunia tersebut. Mulai dari perilaku mencontek, tawuran, minuman keras, narkoba, perilaku seks di luar nikah, dan sebagainya.

Para ahli pun mulai bertanya-tanya mengapa manusia dapat melakukan sesuatu yang dianggap salah. Apa yang terjadi dalam benak manusia dan mengapa kita bisa bertindak demikian? Tulisan ini akan mencoba membahas permasalahan tersebut.

Pendekatan Perilaku
Pada awalnya, para ilmuwan sosial khususnya dari bidang psikologi mencoba menjelaskan fenomena ini secara sederhana. Menggunakan pendekatan perilaku para behavioris percaya bahwa pada dasarnya manusia bertindak melalui hukum-hukum yang sederhana (baca lebih lengkap). Mereka mencoba meneilit satu per satu faktor yang ada dengen memilah-milah dan menyederhanakan variabel yang ada.

Hingga pada awal kelahirannya para behavioris menemukan satu hukum paling sederhana terhadap perilaku manusia yaitu S-R. S merupakan singakatan dari stimulus dan R dari Respon. Dalam artian bahwa setiap kali manusia mendapatkan stimulus tertentu maka manusia akan melakukan respon sebagai tindakan dari stimulus yang ada.

Pertanyaannya adalah respon seperti apakah yang muncul? Misalnya saja seseorang yang disodori rokok (stimulus) akan mengambilnya kemudian meghisapnya, di satu sisi bisa jadi orang lain tidak akan mau merokok mesti dijejalkan ke dalam mulut orang tersebut. Para ilmuwan menyadari betapa kompleks dan beragamnya respon yang terjadi atas stimulus yang sama maka para ilmuwan kemudian memunculkan konsep baru yang mereka beri nama black box.



Black Box ini sendiri berada di antara stimulus dan respon sehingga diagramnya menjadi S-BB-R. Pemberian nama black box sendiri untuk menggambarkan suatu area (box) yang masih menjadi misteri dan belum diketahui (black) oleh para ilmuwan. Namun yang pasti para ilmuwan meyakini bahwa dalam melakukan tindakannya manusia memiliki sesuatu hal yang lebih kompleks yang perlu dipahami.

Beberapa puluh tahun kemudian Fishbein dan Adzen mencoba menjelaskan fenomena ini dengan lebih detail. Melalui Teori Reasoned Action mereka menjelaskan bahwa niat atau keinginan dari suatu perilaku yang disengaja bergantung pada dua hal yaitu attitude dan subjective norm. Attitude merupakan kumpulan dari anggapan-anggapan individu terhadap perilaku tersebut. Sedangkan subjective norm merupakan  kumpulan  anggapan orang lain terhadap tindakan tersebut. Sehingga disimpulkan bahwa dalam berniat melakukan suatu tindakan manusia dipengaruhi oleh belief dari diri sendiri dan orang lain.

Teori ini kemudian disempurnakan lagi oleh Ajzen menjadi teori Planned Behavior dengan mendetailkan tiap-tiap bagian, mengganti beberapa istilah, dan menambahkan satu faktor lagi yaitu Perceive Behavioral Control. Faktor tambahan ini merupakan persepsi individu itu sendiri apakah individu tersebut mampu melakukan tindakan tersebut atau tidak.


Sehingga misalnya seorang pelajar akan melakukan tawuran akan ada setidaknya tiga pertimbangan. Pertama mengenai persepsi apakah tawuran itu sendiri merupakan suatu tindakan yang pantas dilakukan menurut dirinya. Pertimbangan kedua adalah apakah orang-orang di sekitarnya menghendaki tawuran itu sendiri dan yang ketiga adalah pertimbangan apakah dirinya mampu untuk turut serta dalam tawuran itu sendiri.

Nilai Majemuk
Tetapi siapa sih yang setuju dengan tawuran? Jika orang ditanya pasti akan menjawab bahwa tawuran, mencontek, minum-minuman keras, dan sebagainya merupakan tindakan tidak terpuji baik menurut diri sendiri (attitude) maupun orang lain (subjective norm). Namun mengapa tetap saja perilaku semacam itu terus muncul di tengah-tengah masyarakat kita?

Kata kunci berikutnya adalah nilai. Dalam Kamus Psikologi APA dijelaskan bahwa nilai adalah prinsip moral, sosial, atau estetika yang diterima oleh suatu masyarakat tertentu yang menjadi panduan tentang hal-hal baik, penting, dan diinginkan. Suatu tindakan dikatakan bermoral atau tidak tergantung dari nilai yang dipegang dalam masyarakat itu sendiri.

Misalnya saja di Indonesia pada umumnya jika kita tinggal dengan lawan jenis tanpa ikatan pernikahan (kumpul kebo) tentu akan dianggap tidak bermoral. Lain halnya dengan di AS misalnya dimana hal semacam itu dianggap biasa saja. Perbedaan ini terjadi dikarenakan adanya perbedaan nilai yang dipegang antar satu masyarakat dengan yang lain. Sehingga seringkali perbuatan yang oleh kita nampak tidak bermoral bisa jadi menurut orang lain sah-sah saja karena perbedaan nilai yang dianutnya.

Pertanyaan semisal apakah mencontek itu salah, apakah tawuran itu tidak baik, apakah minum minuman keras itu dosa merupakan pertanyaan dengan social desirability bias yang tinggi. Artinya orang akan menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan nilai dan norma sosial masyarakat yang ada bukan berdasarkan nilai dari dalam dirinya sendiri. Terlebih dalam masyarakat yang cenderung kolektif gejala semacam ini semakin kuat (meskipun dalam masyarakat yang cenderung individualis pun gejala semacam ini tetap ada).

Seringkali kita lupa bahwa sebagai individu kita memiliki berbagai peran dalam masyarakat. Kita seringkali melihat nilai sebagai sesuatu yang berdiri tunggal dalam satu kontium. Misalnya saja orang yang sudah berangkat haji berarti berada dalam tingkat moral tinggi dan telah melewati fase memakai jilbab, bertingkah laku baik, dan sebagainya. Padahal itu semua dapat berdidir sendiri. Seseorang dapat pergi haji tanpa harus berkelakukan baik, yang penting dia memiliki biaya untuk melaksanakannya.

Pada akhirnya kita harus melihat individu dengan lebih bijaksana. Seseorang bisa jadi memiliki berbagi peran dalam waktu yang sama. Misalnya saja ketua RT juga menjalani peran sebagai seorang karyawan swasta, seorang ayah, dan seorang suami. Tiap-tiap peran tersebut memiliki nilai masing-masing yang berbeda.

Sehingga dalam diri individu sebenarnya terdapat banyak nilai sebagai bahan pertimbangan. Saya menyebutnya sebagai nilai majemuk yaitu asumsi bahwa dalam diri individu terdapat berbagai macam nilai yang muncul dari berbagai perannya dalam kehidupan. Nilai-nilai ini bisa jadi saling bertentangan satu sama lain. Dari pertentangan itulah nantinya kita akan bisa melihat mana nilai yang dominan dalam individu tersebut.

Sebagai gambaran kasus kita akan mencoba menganalisa kasus mabuk-mabukan di kalangan pelajar. Sebagai insan beragama dan makhluk ciptaan Tuhan, individu yakin bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan tercela yang berakibat pada dosa. Dari peran sebagai anggota masyarakat yang baik tindakan tersebut digolongkan menjadi penyakit masyarakat yang harus diberantas. Namun sebagai anggota suatu kelompok atau geng, perilaku menolak ajakan untuk melakukan tindakan tersebut merupakan bentuk tidak adanya solidaritas dan dapat berujung pada dikeluarkannya dari kelompok.

Disini kemudian nilai dominan dalam individu tersebut akan diuji. Jika dia tidak meminum lantaran takut dosa, maka berarti nilai keagamaan individu tersebutlah yang paling dominan. Sedangkan jika dia meminum karena takut dikeluarkan dari kelompoknya berarti nilai kelompok lah yang paling dominan.

Orientasi Manusia
Nilai-nilai dalam kehidupan ini sangat beragam. Bahkan dalam satu kebudayaan pun seringkali muncul berbagai macam nilai yang saling bertolak belakang. Namun dengan mencermati berbagai gejala yang ada maka kita dapat mengetahui nilai mana yang paling dominan dalam suatu individu ataupun dalam suatu budaya.

Pada akhirnya saya mencoba mengelompokkan nilai-nilai tersebut menjadi tiga: (1) orientasi materi, (2) orientasi manusia, dan (3) orientasi ketuhanan. Orientasi yang pertama yaitu orientasi materi berfokus pada benda-benda objektif. Orientasi semacam ini seringkali kita jumpai pada dunia keilmuan dewasa ini dan beberapa organisasi. Misalnya saja beberapa perusahaan menekankan upah sesuai dengan banyaknya produk yang kita hasilkan. Sisitem semacam ini merupakan contoh orientasi materi. Materi disini sendiri tidak harus diterjemahkan dengan benda padat namun bisa juga berupa benda abstrak.


Orientasi yang kedua yaitu orientasi manusia, saya prediksikan merupakan orientasi dominan dari budaya masyarakat Jawa. Dimana manusia menjadi faktor paling penting dalam nilai-nilai yang ada. Sehingga muncul nilai kekerabatan yang erat (saudara mendapat kemudahan), solidaritas, kerja sama, jangan menyakiti orang lain, kemajuan bersama, dan sebagainya.

Ketuhanan sendiri jangan diartikan sebagai Tuhan itu sendiri. Orientasi Ketuhanan merupakan bentuk nilai-nilai yang berdasarkan pada suatu hal yang berada di luar alam kebendaan maupun kemanusiaan itu sendiri termasuk di dalamnya adalah Tuhan. Bagi saya pribadi, orientasi ketuhanan merupakan yang paling konsisten, berbeda dengan orientasi yang manusia yang pelaksanaannya bergantung pada keberadaan manusia itu sendiri dan orientasi kebendaan yang seringkali menjadikan seseorang bertindak mengahalalkan segala cara.

Seseorang yang memiliki nilai-nilai dominan yang berorientasi ketuhanan akan merasa perlu melakukan suatu tindakan setiap saat. Misalnya saja ketika seseorang mengahdapi lampu merah di perempatan yang sepi. Seseorang yang berorientasi materi akan menerobos lampu tersebut selama tindakannya tersebut tidak mengakibatkan tilang, begitu juga dengan orang yang berorientasi pada manusia akan menentukan tindakannya berdasarkan pada keberadaan orang lain pada waktu tersebut. Sedangkan orang yang berorientasi pada nilai-nilai ketuhanan akan memegang teguh nilainya tidak bergantung pada materi maupun keberadaan manusia lain.

Penjelasan di atas kiranya mampu menjelaskan mengapa seseorang terkadang bisa bertindak yang tidak seharusnya. Kita seharusnya melihat secara lebih dalam nilai-nilai yang terkandung dalam suatu perilaku. Nilai bersifat abstrak, tidak dapat dilihat maupun diraba. Namun nilai memiliki pengaruh yang besar terhadap perilaku atau tindakan manusia.

Jumat, 16 September 2011

Pahit

Kawan, tahukah kau bahwa hidup lebih rumit dari yang kita bayangkan. Dunia ini bukan hanya tentang bagaimana kita menghindarkan berbagai macam emosi negatif dari kehidupan kita. Ada tujuan, cita-cita, kehidupan sosial, dan segala kerumitan yang campur aduk menjadi satu dalam balada kehidupan.

Orang Eropa mengatakan kita memiliki destiny. Kiita sering menerjemahkannya sebagai takdir, namun sebenarnya lebih dari itu. Bukan sekedar takdir, tetapi tujuan dari kita diciptakan dan hidup di dunia ini. Ada sesuatu yang harus kita raih, dan itu tidak mudah. Banyak yang harus dipertaruhkan dan dikorbankan untuk itu semua. Komitmen, totalitas, kesungguhan, dan pengorbanan.

Kita tentu juga tidak ingin satu pun emosi negatif hinggap dalam kehidupan kita: marah, sedih, benci, kecewa, dsb. Namun tahukah kita bahwa kita tidak sendirian berada di dunia ini. Jutaan manusia lain berseliweran dalam kehidupan kita, semua menginginkan hal yang serupa yaitu kebahagiaan. Hanya saja tidak cukup banyak kebahagiaan di dunia ini untuk semua orang setiap saat. Lalu apakah kita akan terus memenuhi kebahagiaan kita sendiri dan itu berarti merebutnya dari orang lain, ataukah kita mau saling berbagi satu sama lain.

Dua puluh tahun lebih kita disini, orang menyebutnya dewasa. Otak kita telah cukup berkembang untuk dapat menerima berbagai bentuk kerumitan ini, meski terkadang tidak demikian halnya. Pahit memang, tetapi beginilah adanya. Apakah kita akan terus memakai kacamata kuda, ataukah kita mau menerima kenyataan ini.

Jumat, 02 September 2011

Kita Manusia

Kita sering bermimpi bisa terbang dan kita berusaha untuknya dengan menciptakann sayap-sayap besi. Namun sejauh apapun mimpi dan usaha adakalanya kita harus menyadari bahwa kita bukanlah malaikat yang memiliki sayap kita sendiri, kita harus bersama untuk dapat terbang.
Ragaku remuk, pikirku pening, hatiku hancur. Dunia ini mengajarkan kita untuk yakin dan percaya bahkan pada hal-hal yang tampak mustahil sekalipun. Dan pada kenyataannya melalui kepercayaan semacam itulah yang telah mengantarkan kita pada zaman dimana tabung-tabung bersayap memenuhi langit, manusia meginjakkan kakinya di bulan, kotak ajaib penuh dengan warna warni dunia, dan juga benda pipih yang membuat manusia berbicara sendiri. Disini kita menyebutnya sebagai mimpi yang dibalut dengan tekad, dihiasi oleh harapan, serta diwujudkan oleh usaha.

Namun pada akhirnya kita harus sadar bahwa tangan dan jemari kita tidak diciptakan untuk terbang. Seberapa seringpun kita mengepakkannya tidak akan membuat kita melambung ke angkasa bak malaikat dengan sayapnya. Sejauh apapun kita meneteskan peluh pada akhirnya kita akan menyadari batasan diri kita. Ada kalanya kita akan terjatuh dan kembali ke permukaan tanah seberapapun cepatnya kita mengepakkannya.

Di waktu itu, ketika raga telah remuk mencapai batas maksimalnya, pikiran telah pening dengan segala isi dunia di kepala seukuran buah semangka dan hati telah hancur oleh kenyataan yang terlalu pahit untuk dicerna. Maka kematian seolah menawarkan kedamaian yang kita dambakan. Tenang, sunyi, dan damai. Namun haruskah kita meraih kematian ataukah kita akan hidup dengan sisa-sisa organ yang masih berbentuk? Biarlah kematian sendiri yang akan menjemput ketika raga kita telah hancur karena usahanya.