Jumat, 26 Juli 2019

Islam Anti Pancasila?

Salah satu damak dari pergolakan politik beberapa tahun teeakhir adalah munculnya kembali Islamiphobia di masyarakat. Berawal dari gerakan beberapa elemen Islam terhadap salah satu tokoh politik di Indonesia yang mengeluarkan ujaran yang tidak semestinya. Sayangnya kasus ini ditindaklanjuti berlebihan oleh pemerintah dengan membubarkan ormas yang dianggap anti pancasila.

Hingga kini isu itu pun terus bergulir. Segala bentuk simbol dan hal-hal yang dianggap berhubungan dengan organisasi tersebut dianggap gerakan anti pancasila. Celakanya banyak orang salah kaprah mengasosiasikan simbol-simbol Islam yang kebetulan juga digunakan organisasi tersebut sebagai bagian dari aktifitas anti pancasila.

Ibaratnya jika suatu saat kita menangkap salah satu koruptor yang kebetulan juga orang Indonesia yang gemar makan nasi, maka kini nasi dianggap sebagai ciri para koruptor.

Dalam kasus ini tentunya yang terdampak adalah umat Islam. Hanya karena organisasi tersebut memakai bendera berlafazkan tauhid misalnya, kini kalimat tauhid menjadi bulan-bulanan masyarakat. Padahal tauhid adalah hal yang paling membedakan antara muslim dan non-muslim.

Islam bukan tentang siapa nama Tuhan yang disebut dalam doa, bukan tentang rumah ibadah mana yang kamu datangi, bukan tentang apakah kamu makan babi atau tidak. Islam adalah ideologi yang diwujudkan dalam perilaku dan membentuk suatu kebudayaan. Nabi Muhammad SAW membawa Islam bukan untuk membuat kelompok pengajian, tapi beliau datang membentuk suatu masyarakat yang beradab.

Maka kini ketika orang sering membenturkan antara Islam dan Pancasila, menurut saya itu adalah dua hal yang berbeda. Sebagai seorang muslim, maka ideologi kita adalah Islam. Bukan nasionalis, marhaenis, komunis atau liberalis. Ideologi yang mengajarkan tentang ketaatan terhadap Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan di dunia ini, dan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia berjalan sesuai hukum yang ditetapkannya. Allah SWT harus kita tempatkan diatas segalanya, termasuk negara maupun pemerintahan.

Namun bukan berarti mereka yang berideologi Islam berarti anti pancasila. Pancasila adalah suatu dasar negara. Anti berarti berlawanan, akan tetapi yang kita temukan justru Islam dan Pancasila adalah dua hal yang sejalan. Semua konten Pancasila sudah terdapat dalam ajaran Islam.

Mulai dari Ketuhanan yang Maha Esa. Tentu hal ini tidak perlu diperdebatkan. Islam turun di Mekkah bukan untuk mengenalkan Allah SWT sebagai Tuhan, karena pada dasarnya penduduk Mekkah pada masa itu sudah menyembah Allah SWT. Islam turun adalah untuk menekankan bahwa Allah itu Esa. Tidak ada yang lain dan tidak sepantasnya menyukutukan-Nya, terlebih dengan berhala-berhala ciptaan manusia.

Begitu pula dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Ada banyak sekali ayat yang menekankan tentang pentingnya berbuat adil kepada siapapun tanpa memandang status sosial, agama, maupun label apapun yang ada pada manusia. Termasuk dalam hal ini adalah perlu adanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Berbicara tentang masyarakat yang beradab, maka hampir semua literasi di Indonesia merujuk kepada masyarakat madani yang bersumber pada kondisi masyarakat yang dibentuk Rasulullah di Madinah. Sehingga untuk Sila kedua pun jelas menunjukkan betapa Islam dan Pancasila adalah dua hal yang sejalan dan bukan berlawanan.

Hal lain yang diatur dalam Islam adalah kepemimpinan dan ukhuwah. Jika kita merujuk pada hadis-hadis dan hukum islam, maka persatuan umat adalah yang utama. Ada banyak hadis yang berbicara tentang pentingnya untuk patuh pada pemimpin demi menjaga persatuan. Begitu pula dalam hal fiqih seperti qunut misalnya, meskipun ada sebagian ulama berpendapat bahwa qunut tidak diperbolehkan kecuali dalam keadaan tertentu (musibah) saja, namun apabila imam shalat sudah memimpin qunut maka wajib bagi semua muslim untuk mengangkat tangan dan ikut meng-amin-kan. Maka tentunya persatuan Indonesia bukanlah hal yang tabu bagi masyarakat Muslim di Indonesia.

Terakhir adalah tentang kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawartan perwakilan. Tentu hal ini juga sejalan dengan contoh-contoh nyata yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabat dalam memimpin. Berbagai contoh tentang keputusan-keputusan bijaksana menghiasi cerita-cerita sejarah Islam. Begitu juga dengan permusyawaratan, salah satu contoh nyata adalah bagaimana Rasulullah membuat piagam madinah, menengahi kasus hajar aswad dan berbagai cerita lainnya.

Oleh karenanya sangat aneh apabila belakangan ini muncul narasi-narasi yang seolah ada masyarakat Islam yang anti-Pancasila. Terlebih bahwa kita tahu bahwa Pancasila itu adalah sepenggal bagian dari ajaran Islam. Sangat tidak mungkin bagi orang yang benar-benar memahami Islam untuk bertindak berlawanan dari Pancasila.

Sudah saatnya kita hentikan prasangka dan tuduhan semacam itu, terlebih jika yang dituduh adalah saudara kita sendiri.

Minggu, 26 Mei 2019

Narasi

Narasi membentuk cerita yang ditulis oleh pemenang. Karena mereka yang kalah tidak akan lagi mampu bercerita. Mereka hancur, terasing, dan musnah. Maka kebenaran adalah kenyataan para pemenang yang disusun di atas narasi untuk mengkokohkan perjuangan yang mereka lakukan.

Kebenaran selalu berpihak, karena itu bersifat relatif. Tidak ada benar dan salah tanpa adanya konteks. Narasi bertugas menciptakan konteks tentang konsep kebenaran yang akan ditampilkan.

Kematian adalah tragedi, jika dan hanya jika itu merugikan. Namun sekali lagi rugi untung adalah teman benar salah. Semua terbungkus dalam narasi.

Kematian ribuan nyamuk tidak pernah menjadi tragedi bagi manusia. Pun kematian manusia bagi seekor ayam.

Ketika kematian manusia tidak lagi menjadi tragedi, mungkin kita hanyalah sebatas amfibi atau mamalia bersayap.

Rabu, 05 Desember 2018

Ingus


Tidak ada yang lebih besar di dunia ini kecuali Ego. Dibangun oleh defense mechanism dan diperkuat oleh pengetahuan dan pengalaman. Dan memang seperti itulah seharusnya, manusia tidak seharusnya meragukan dirinya sendiri.

Maka jika kita mengikutinya, dunia dan seisinya pun akan tertelan.
Humble /ˈhʌmb(ə)l/ [adj] (1) Having or showing a modest or low estimate of one's importance; (2) Of low social, administrative, or political rank; (3) (of a thing) of modest pretensions or dimensions
Namun jika kita sadar bahwa ego adalah imajinasi pribadi, tidak berbentuk dan tidak nyata. Hidup diantara imajinasi-imajinasi lainnya yang diciptakan oleh ribuan otak. Dan tidak ada kebenaran yang hakiki dari perdebatan manusia.

Sepantasnya kita menyisihkan waktu untuk selalu mendengar. Mengabaikan suara-suara monyet di dalam kepala, memahami ego orang lain di dunia yang relatif.

Kamis, 05 April 2018

Benci tapi (tidak) Rindu

Karena luka lebih terasa, sedangkan kasih sayang baru terasa setelah itu hilang. Maka benci lebih mendalam dari cinta. Kebencian yang dibumbui oleh pembenaran menutupi kebaikan dari orang yang dibenci.
Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah: 8)
Kebencian yang berlebihan mengkonsumsi hidup kita. Diskriminasi. Memenuhi segala niat dan pikiran, menutupi kebenaran. Melahirkan prasangka dan dusta. Fitnah dan tuduhan. Melahirkan niat untuk menghancurkan. Menutupi perintah Tuhan dengan pembenaran.
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (Al-Hujurat: 12)
Ketika dusta telah terlahir, maka tumbuh bukanlah suatu hal yang sulit. Dusta lahir dari pembenci, diteruskan oleh para fakir dan disebarluaskan oleh pemilik kepentingan. Menutupi dunia dengan segala pesimisme dan keburukan. Karena berita buruk selalu lebih disukai daripada berita baik.
Cukuplah seseorang dikatakan berdusta bila menceritakan segala hal yang ia dengar. [HR. Muslim]
Maka di dunia yang penuh hiruk pikuk ini, diam terkadang adalah jawaban yang tepat. Seperti diam-nya Abu Hurairah terhadap separuh hadis.

Senin, 15 Januari 2018

Para Topi

Karena mencintai terlalu mainstream, maka membenci menjadi alternatif untuk mereka yang ingin berbeda. Maka muncullah para pembenci, mereka yang melontarkan kata-kata yang berbeda dengan kebanyakan. Mereka yang skeptis terhadap dunia, mereka yang merasa berjuang di antara manusia yang tersesat.

Padahal benci adalah sebagian dari cinta, eh?

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)
(source: pixabay.com)

Di dunia yang penuh sesak ini, mungkin mereka hanya butuh ruang. Hiruk pikuk tidak memberikan mereka cukup kesempatan untuk didengarkan. Toh saat ini semua orang boleh bersuara, sayangnya tidak semua mau mendengarkan.

Atau mungkin mereka hanya butuh waktu untuk menjadi dewasa?

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain," (Al-Hujaraat: 12).

Kamis, 11 Januari 2018

Fair

Karena tidak pernah ada yang benar-benar adil, selama hayat masih dikandung badan. Setiap hakim memiliki persepektif, dan setiap perspektif memiliki ketidak adilan. Ini bukan hanya tentang sama rasa sama rata. Ikan tentu tidak bisa memanjat pohon, ikan juga tidak bisa memilih siapa yang akan memakannya.

Bagi pengguna jalan, tentu tidak adil jika haknya untuk mencapai tujuan terhalangi. Namun bagi mereka yang bahkan tidak bisa berjalan, lebih tidak adil jika haknya untuk tetap hidup dihalangi. Toh pada akhirnya semua butuh hidup?

Dan setiap hakim akan selalu berpihak, kepada siapa dia bertanggung jawab. Tidak ada yang dapat lepas dari seluruh ikatan.

Fair (source: pixabay.com)


Maka terkadang kita harus melakukan ketidakadilan untuk mencari keadilan. Karena keadilan hanyalah sebuah konsep yang dibatasi dalam berbagai konteks. Jika kamu mencari keadilan, pergilah ke pekan raya.

Jumat, 12 Mei 2017

Sebuah Berita Bohong

Aku tahu, kau lahir dari lingkungan yang sama. Bosan dengan segala bentuk kemunafikan dan kebobrokan yang terkemas indah di permukaan. Hidup dengan idealisme kuat dan ingin mengubah dunia. Tempat dimana tidak ada lagi orang busuk untuk sembunyi.

Kamu orang baik, hanya saja tidak ada orang yang sempurna. Begitu pula dirimu dengan ego dan perilakumu.

Dan setelah drama panjang yang melelahkan ini, aku pun mulai berubah pikiran. Bahwa ini bukan tentang benar dan salah. Bukan tentang malaikat melawan setan. Dunia tidak sehitam putih itu. Dan kamu perlu lebih banyak mendengarkan.

Unsplash (pexels.com)

Ini adalah tentang sebanyak mungkin mengajak orang berbuat kebaikan. Bukan melawan dan membunuh orang jahat. Maka kita tidak bisa memusuhi melawan, apalagi jika itu adalah teman dan saudara kita. Dan kita tidak bisa menang di atas derita orang lain.

Pengalaman adalah guru terbaik, terima kasih atas pengalaman pahitmu yang mengajarkan banyak hal. Dan untukmu yang terkurung dalam ruangan mewah, belajarlah! Sudah cukup para pendukungmu kamu ombang-ambingkan selama ini demi egomu. Mulailah dari lapang dada dan meminta maaf.