Jumat, 29 November 2013

#Respect

Respect is something to gain, not ask

Bolehkah kita meminta orang lain untuk menghormati kita? Tentu boleh. Namun apakah mereka mau memberikannya itu adalah hal lain. Respect adalah urusan hati. Dan hati tidak suka berbohong, tidak seperti mulut.

Respect adalah hak orang lain, bukan kita. Setiap orang berhak menghormati orang yang mereka hormati dan tidak menghormati orang yang tidak mereka hormati. Sebuah kehormatan dan anugerah tersendiri. Kita patut bersuka hati karenanya.

Tapi bagi sebagian orang, respect dari orang lain telah menjadi kebutuhan hidup. Mereka hidup dengan hal itu, dan tidak bisa kehilangannya. Mereka melihatnya sebagai hak mereka, bukan hak orang lain.

Respect (skia.deviantart.com)

Bagaimanapun juga, kita hanya sebatas anggapan orang lain terhadap kita. Bukan anggapan diri kita sendiri. Respect adalah sesuatu yang harus kita peroleh dari orang lain, bukan dengan memintanya. Karena meminta respect dari orang lain tidak ada bedanya dengan pengemis. Kita tidak mau jadi pengemis.

Senin, 28 Oktober 2013

Sumpah Pemuda Revisi 01

Kami putra putri Indonesia, berjuang untuk yang satu. Kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kami putra putri Indonesia, bersatu padu. Tanpa perselisihan antar kelompok.

Kami putra putri Indonesia, berbahasa satu. Bahasa intelektualitas dan kemajuan bersama.

Rabu, 16 Oktober 2013

The Hedonic Treadmill

Mungkin kita akan mengeluh kepada Tuhan, mengapa apa yang kita inginkan seringkali tidak pernah kita dapatkan. Namun sebaliknya, apa yang tidak kita inginkan justru menjadi apa yang kita miliki saat ini.

Benarkah demikian?

I want more (garyckarntzen.deviantart.com)

Coba kita cermati lagi apa yang kita miliki saat ini. Lalu kita buka kembali arsip doa-doa kita di masa lampau. Doa-doa yang pernah kita panjatkan sepenuh hati di masa lalu, namun tidak ada lagi dalam ingatan kita di masa sekarang. Doa yang dulu kita tangisi agar dikabulkan oleh Yang Mampu Mengabulkan. Doa yang kita panjatkan di malam hari dengan sepenuh hati.

Samakah?

Bisa jadi ...
Apa yang kita miliki saat ini adalah jawaban dari doa-doa di masa lampau.

Mungkin manusia memang tidak pernah bersyukur ...

Atau mungkin memang manusia diciptakan demikian halnya. Berdoa, berusaha meraihnya, memperolehnya, kemudian berdoa akan hal lain yang lebih baik lagi. Terus menerus berputar seeikit demi sedikit meraih yang lebih baik. Hingga pada suatu saat seluruh usaha tersebut terakumulasi dan menjadi sebuah kebaikan yang di luar dari apa yang mampu kita kira.

Maka tidak salah ketika kita terus berdoa dan berusaha untuk memperoleh yang lebih baik. Yang salah adalah mengeluh, padahal kita telah mendapatkan apa yang kita minta sebelumnya.

Maka berdoa, berusaha, bersyukur. Berdoa, berusaha, bersyukur. Berdoa, berusaha, bersyukur. Itu saja.

Minggu, 08 September 2013

Manusia ... ckckck

Selalu mengeluh tentang keinginan untuk nyaman ataupun tidak nyaman. Namun lupa ketika memilikinya. Kapan bersyukur?

.Grateful. (crayon-chewer.deviantart.com)

Yang dibutuhkan hanyalah sedikit waktu untuk berpikir, waktu untuk melihat sekilas apa yang telah dilalui dan sedang dilalui, sedikit musik yang tepat, mood yang menyenangkan dan sejumput senyum di wajah.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Enam Puluh Delapan

Tentu mudah membandingkan antara idealisme dengan kenyataan. Namun mencari tahu permasalahan yang sesungguhnya tentang mengapa keduanya tidak sesuai dan membuat perbaikan akan hal itu, adalah perjuangan yang sesungguhnya

Lapangan itu sepi. Tidak ada anak kecil berlarian sembari menggigit sendok berisi kelereng di mulutnya, tidak ada dua puluh dua orang lelaki berebut bola dengan memakai daster atau sarung, tidak ada orang bahu membahu memanjat pinang berlumuran minyak, tidak ada anak-anak yang berusaha memakan kerupuk dengan kesusahan, tidak ada.

Sebagian orang masih berbaris rapi mengelilingi tiang bendera di pagi dan sore hari, menghormat kepada Sang Saka. Sebagian karena rasa cinta, sebagian karena harga diri dan eksistensi kelompoknya, sebagian lagi karena kebiasaan. Aku tidak tahu, mana yang lebih banyak.

Maka orang akan berkata bahwa nasionalisme telah pudar. Indonesia tidak lagi dicintai rakyatnya. Mereka mulai menyalahkan satu sama lain atas hal ini. Mereka adalah orang yang pesimis.

Aku percaya pada hukum energi, bahwa energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan melainkan hanya berubah bentuk. Begitu pula energi untuk mencintai dan membangun negeri ini tidak pudar ataupun lenyap, hanya berubah bentuk seiring perubahan zaman.

IIP - Ikatan Indonesia (indonesia.devinatart.com)

Mungkin berbagai perayaan dan upacara telah memudar, tetapi itu karena semangat dan kecintaan tersebut perlahan mulai meresap ke dalam raga. Bukan lagi tampak di permukaan. Mereka meresap ke dalam raga, dan keluar dengan caranya masing-masing. Melalui lagu, melalui puisi, melalui seni jalanan, melalui jejaring sosial, melalui iklan, melalui ekspresi, dan melalui kerja keras. Ya, kerja keras sehari-hari demi membangun negeri yang kita perjuangkan bersama.

Menumpuk batu adalah pekerjaan yang membosankan. Bayangkan setiap hari menumpuk satu per satu batu, dan engkau mengulanginya setiap hari selama satu tahun saja. Kau akan mati kebosanan sebelum sampai di akhir tahun. Butuh semangat yang tinggi dan rasa cinta yang besar terhadap impian untuk terus menumpuk batu sebongkah demi sebongkah secara konstan dan konsisten terus menerus. Di akhir dari perjalanan nanti kita akan melihat sebuah bangunan megah, yang dibangun dari tumpukan batu yang konsisten yang kita lakukan sedikit demi sedikit. Itulah kerja keras.

Enam puluh delapan adalah waktu untuk berhenti sejenak menumpuk batu untuk melihat apa yang telah kita capai. Mungkin kita pernah melihat bangunan indah di masa lampau, namun bangunan tersebut kemudian hancur akibat kemalasan kita untuk merawatnya. Kemudian kita memutuskan untuk membangun ulang semua itu.

Mungkin kita hanya melihat tumpukan batu saat ini, tapi bukan berarti kita gagal. Kita hanya belum selesai membangun. Enam puluh delapan adalah waktu yang relatif. Sejenak kita berhenti untuk merenungi pencapaian kita dan mengingat kembali mimpi kita. Selanjutnya kita mulai lagi menumpuk satu demi satu, sebongkah demi sebongkah. Semangat dan doa mengalir di dalam darah kita. Teruslah produktif.

Minggu, 28 Juli 2013

Lompat

Tebing itu cukup dalam, orang yang jatuh besar kemungkinan tidak akan selamat. Syukur-syukur jika hanya terluka. Tetapi tetap saja luka itu akan dia bawa sampai akhir hidupnya, meski hanya sekedar ingatan tetapi itu cukup menyakitkan.

Pun jarak antara kedua tebing tersebut cukup jauh. Tidak bisa sembarang orang melompatinya dan bisa meraihnya. Perlu tenaga ekstra dalam lompatan seseorang untuk dapat mencapai ke seberang sana. Tidak sembarang orang mampu melompatinya, sebagian yang pernah mencobanya harus berakhir dengan rasa sakit ataupun kematian akibat kegagalan tersebut.

Lalu untuk apa melompat ke seberang sana? Di daerah ini segala sesuatunya telah tersedia. Kampung indah nan asri penuh dengan orang-orang yang baik. Hewan ternak tumbuh dengan riang gembira dan melimpah disini, tidak perlu takut akan datangnya kelaparan. Begitu pula biji sayur yang jatuh ke tanah pun bisa langsung tumbuh dengan suburnya.

Sebuah masyarakat kecil yang hidup penuh kemakmuran. Seolah terasing dari hiruk pikuk kehidupan di luar sana. Kedamaian yang tercipta akibat ketidaktahuan, tapi untuk apa perlu mengetahui permasalahan jika kita bisa menghindarinya? Hidup di bagian ini sudah sangat baik.

Sedangkan diseberang sana kita tidak tahu ada apa. Informasi tidak pernah sampai dengan utuh. Sebagian orang berkata di seberang sana adalah tempat yang lebih indah dibandingkan di sisi ini. Sedangkan sebagian lainnya bercerita tentang tempat yang lebih tandus serta kehidupan yang lebih keras untuk dijalani.

Apa yang tampak pun cukup menguatkan anggapan kedua. Di seberang sana hanya tampak bebatuan keras dan gunung yang tandus. Namun apa yang ada di balik gunung tersebut tidak tampak oleh kita. Bagamanapun juga hanya sedikit orang yang mau untuk kembali dari balk gunung tersebut. Sebuah misteri yang tidak pernah kita ketahui jawabannya jika kita tidak mencarinya sendiri.

Lalu dimana lelaki itu? Dia berjalan di pinggir, memandangi kedalamannya dan apa yang tampak oleh mata di seberang sana. Tapaknya dia berpikir untuk melompatinya.

Namun akhirnya dia berbalik arah berjalan kembali ke kampungnya. Bagiku tampaknya dia hendak mengurungkan niatnya. Mengukur kemampuannya bahwa dia tidak mampu, aau mungkin apa yang di seberang sana tidak cukup berharga untuk diperjuangkan. Mengubur mimpi dan rasa keingintahuannya ke dalam kedamaian yang dia miliki. Namun aku salah.

Dia berhenti setelah 50 meter dari tebing. Kembali menghadap ke jurang, mengambil posisi berlari. Tampaknya dia tidak putus asa. Dia hanya mengambil persiapan untuk melompat. Dan dia mulai berlari.

30 meter ...

Sebenarnya ada apa di seberang sana? Apa yang nampak hanyalah sebuah kegersangan dan ketandusan. Pun jika sampai di seberang bukanlah kehidupan nyaman yang akan kita jalani. Namun perjuangan bertahan hidup yang lebih keras. Tapi apa hanya untuk bertahan hiduplah kita hidup? Disana ada jawaban atas semua pertanyaan dan keingintahuan tersebut.

"Curiosity killed the cat" (anonim)

10 meter ...

Di belakang sana, kehidupan nyaman menanti.  Masyarakat yang tenang, keluarga yang selalu menyambut dengan tangan terbuka. Status sosial yang membuat dirinya cukup terpandang dan disegani. Bahkantidak mungkin dia akan menjadi pemimpin kami. Orang paling penting dalam masyarakat ini. Kekayaan pun tidak ia bawa kecuali sebuah tas ransel yang ada di punggungnya. Sebuah bekal yang tidak tahu mampu menopang hidupnya sampai kapan di seberang sana. Dia menafikkan kondisi menyenangkan saat ini dan masa depan yang cemerlang. Menukarnya dengan ketidakpastian. Namun aku yakin dia melihat impian di seberang sana.

" Good is the enemy of great" (Jim Collins)

5 meter ...

Entahlah, apakah momentum dan kekuatan yang dia coba bangun cukup untuk melompati celah tersebut?Sudah banyak orang yang gagal melompatinya dan berakhir dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Apakah dia akan berhasil? Ataukah dia akan jatuh terperosok ke dalam jurang kegagalan? Apakah pilihannya sudah tepat ataukah dia harus mengurungkan niatnya kembali? Masih ada waktu untuk berubah pikiran dan menyelamatkan diri.

Namun bukan untuk itulah hidup, adalah tentang mencari makna, menentukan impian, dan meraihnya. Masalah dan kegagalan selalu ada, tetapi bukan berarti kita harus selalu ketakutan dan bersembunyi dari masalah.

"Trouble is a friend" (Lenka)

1 meter ...

Sudah tidak mungkin lagi untuk berhenti. Jurang tampak sudah terlihat di depan mata. Sangat dalam, entah apa yang akan terjadi padanya beberapa detik kemudian. Tebing di seberang pun tanpa begitu jauh, entah apakah dia mampu meraihnya atau tidak. Perasaan ragu itu masih menghinggapi dirinya bahkan sampai detik terakhir.

Namun ini adalah tentang pilihan. Kita berhak menentukan pilihan sesuka hati kita, namun pada akhirnya kita harus menjalani setiap konsekuensi dari pilihan kita tersebut. Dan konsekuensi terindah adalah konsekuensi dari pilihan yang telah kita buat sendiri, bukan pilihan yang dipaksakan atas diri kita.

"Hidup adalah tentang pilihan, dan menjalani pilihan tersebut" (seorang teman)

Dan dia melompat ...

Choices and consequences ... (ash-3xpired.deviantart.com)

Sejak saat itu aku tidak pernah berjumpa lagi dengannya. Aku tidak tahu apakah dia berhasil sampai ke seberang sana atau terjatuh ke dalamnya. Aku pun tidak tertarik untuk mengetahuinya. Yang aku ketahui adalah wajahnya yang tersenyum ketika dia melompat dari tebing dimana kakiku berpijak saat ini. Sebuah eksresi kegembiraan dan kepuasan yang rasanya jauh lebih berharga dari kehidupan itu sendiri.

Sabtu, 13 Juli 2013

Tai Asu

Kata orang, jika tidak ingin kecewa maka jangan berharap. Rasa tidak suka muncul akibat adanya jarak antara harapan dengan kenyataan. Dulu saya percaya itu. Maka agar terus bahagia, hapuskanlah harapan dalam hidupmu.

Tapi apa artinya kehidupan tanpa harapan? Kehidupan yang mengalir apa adanya. Kehidupan yang pasif, menunggu dunia membawa kita entah kemana. Dan kita hanya duduk terdiam melihat segala sesuatu di sekitar kita silih berganti. Tanpa usaha, tanpa perasaan apapun, dan tanpa tujuan.

Dunia hanya sekedar makan untuk mempertahankan hidup dan menjalani hidup untuk mencari makan. Sebuah fase yang terus menerus bergulir tanpa akhir, dan tanpa hasil apapun. Lalu untuk apa hidup jika hanya untuk mempertahankan kehidupan?

Maka sejatinya manusia dilahirkan dengan impian, sesuatu yang menjadikan manusia cukup berarti di dalam hidup ini. Sesuatu yang menjadikan hidup bermakna, bukan sekedar mengikuti dunia entah kemana tanpa tujuan. Kita-lah yang menciptakan tujuan itu, kitalah yang berusaha meraihnya.

Tapi tentu saja, hidup tidaklah semanis pemanis buatan. Tidak semua impian dapat tercapai, dan kegagalan adalah sesuatu yang menyakitkan. Sungguh.

Hopeless (graphic-resistance.deviantart.com)

Fighting has been enjoined upon you while it is hateful to you. But perhaps you hate a thing and it is good for you; and perhaps you love a thing and it is bad for you. And Allah Knows, while you know not. (2:216)
Maka bangunlah, jangan berpikir sebuah impian akan mudah didapat. Sakit, tapi itu menunjukkan bahwa dirimu hidup. Karena hanya orang yang hidup yang dapat merasakan sakit. Mereka yang tidak pernah berharap tidak pernah merasa sakit, tidak pula mereka hidup sesungguhnya.

Maka janganlah berputus asa, terus kejar impian kita. Karena untuk itulah kita hidup, bukan sekedar hidup untuk mempertahankan hidup. Hidup untuk berjuang. Jatuh dan bangkit lagi.


"Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi! Digembleng, hampir hancur lebur, bangkit lagi!" (Soekarno)