Selasa, 13 April 2010

fenomena obat kuat

Keadaan Lapangan


Obat kuat sebenarnya telah lama dikenal dalam budaya Indonesia. Jika kita telisik lebih dalam, sejak zaman dahulu sudah ada makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat karena khasiatnya menambah vitalitas atau kejantanan. Misalnya saja berbagai jenis jamu-jamuan dan makanan-makanan yang tidak biasa (misal darah ular, tongseng biawak, sate kelelawar, dsb). Makanan dan minuman tersebut tetap dikonsumsi oleh masyarakat meskipun terkesan aneh dan tidak normal karena dipercaya khasiatnya akan hal tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya masyarakat Indonesia sejak awal memang cukup menaruh perhatian tersendiri terhadap masalah ini.

Namun akhir-akhir ini fenomena ini makin menguat dengan bentuk yang berbeda. Kini muncul toko-toko yang menjual obat-obatan semacam ini yang berasal dari luar negeri (terutama dari China). Toko-toko semacam ini meskipun bukan hanya menjual produk obat kuat dan obat-obatan semacamnya yang berkaitan dengan masalah seksual, namun obat kuat tetap menjadi jualan utama mereka dan penjualan obat ini relatif stabil dalam pasar.

Laki-laki dan Obat Kuat


Jika kita cermati lebih mendalam, mereka yang mengkonsumsi obat-obatan tersebut rata-rata merupakan laki-laki. Hal ini senada juga diungkapkan para pedagang obat tersebut. Padahal meskipun jarang dijumpai namun obat semacam ini yang diperuntukkan perempuan sebenarnya juga ada (misalnya Somadryl). Akan tetapi penggunaan obat kuat untuk pria (misal Viagra) jauh lebih populer.

Menjadi suatu fenomena tersendiri mengapa laki-laki terkesan lebih memiliki ketertarikan terhadap hal semacam ini. Padahal secara biologis tentu laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki ketertarikan terhadap hubungan seksual.

Secara peran gender sendiri dalam masyarakat Jawa, laki-laki menduduki posisi yang harus serba bisa. Sejak kecil laki-laki dididik untuk tidak mengeluh namun harus bisa melakukan apa saja serta menunjukkan bahwa dirinya superior. Laki-laki yang mudah mengeluh dan tidak superior akan dianggap sebagai banci dan kurang bisa menjalankan perannya dengan baik.

Dibalik itu laki-laki juga dituntut untuk harus bisa memberikan segala sesuatunya untuk perempuan. Mungkin tanggung jawab inilah yang kemudian ditafsirkan oleh laki-laki untuk bisa memuaskan dan membuat istrinya kagum akan kehebatannya.

Tentu bagi mereka yang merasa superior dalam hal seksual atau memang superior tidak masalah. Namun bagi mereka yang mungkin merasa kurang (tidak percaya diri) atau tidak mampu akan membutuhkan sebuah bantuan yaitu berupa obat-obatan, jamu, dsb.

Obat Kuat secara Medis


Secara medis menurut Gerard Paat dalam http://ipb.ac.id, apa yang biasa disebut obat kuat ini sebenarnya adalah obat yang merangsang produksi hormon. Hormon inilah yang membuat laki-laki menjadi semakin meningkat gairah seksnya. Namun ternyata gairah seks untuk perempuan tidak dipengaruhi oleh hormonnya sendiri melainkan oleh hormon laki-laki.

Ini menjelaskan mengapa kebanyakan obat kuat diciptakan untuk laki-laki. Sedangkan apa yang selama ini dianggap sebagai obat kuat untuk perempuan sebenarnya bukan seperti obat kuat pada laki-laki. Somadryl misalnya, sebenarnya obat tersebut merupakan obat pengurang rasa nyeri. Sedangkan obat-obatan yang biasa dijual untuk dikonsumsi perempuan dalam hal ini biasanya sebatas obat perangsang.

Viagra sendiri diciptakan untuk mereka yang mengalami disfungsi ereksi. Gangguan ini sebenarnya bias disebabkan faktor fisik maupun psikologis. Secara fisik, penyakit-penyakit seperti diabetes, prostat, dsb ternyata dapat menjadi penyebab gangguan ini. Sedangkan secara psikologis gangguan ini dapat disebabkan oleh stres, depresi, ketidak harmonisan, dsb.

Konsumsi Meningkat?


Masih ada satu bagian yang belum terjawab. Pertanyaannya adalah ketika toko-toko penjual obat semacam ini semakin marak, tentu hal tersebut berkorelasi dengan kebutuhan masayrakat yang semakin meningkat.

Ada dua kemungkinan jawaban dari pertanyaan ini. Pertama, bahwa sebenarnya konsumen tidak meningkat hanya saja masyarakat yang sebelumnya menggunakan pendekatan tradisional (jamu, makanan ekstrim, dsb) beralih ke pendekatan yang lebih modern yaitu obat-obatan sehingga penjualan obat semakin meningkat. Kedua, karena perhatian atau konsumsi masyarakat semakin meningkat akan hal ini.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, fenomena ini bisa jadi akibat dari menurunnya kemampuan laki-laki dan perempuan untuk bisa bergairah. Penurunan ini bisa disebabkan oleh konsumsi makanan atau pola hidup masyarakat modern yang semakin jauh dari kesehatan.

Pola hidup masyarakat modern yang tidak sehat menyebabkan makin maraknya penderita penyakit-penyakit diabetes, prostat, dsb yang seperti kita ketahui penyakit seperti ini jarang diderita oleh masyarakat Indonesia.

Semakin kompleksnya masyarakat modern juga menimbulkan berbagai macam penyakit psikologis semacam depresi, stress, dsb yang memang dalam masyarakat pedesaan atau masyarakat yang relative sederhana gangguan semacam ini jarang ditemukan. Seperti telah dijelaskan sebelumnya penyakit-penyakit semacam ini baik fisik maupun psikologis turut berpengaruh pada timbulnya gangguan disfungsi ereksi sehingga kebutuhan akan obat kuat meningkat seiring meningkatnya penyakit-penyakit semacam ini.

Maraknya film porno yang seolah-olah nyata tersebut juga makin menambah beban bagi laki-laki. Dimana dalam film semacam itu biasanya digambarkan bagaimana bisa berhubungan seksual dalam jangka waktu yang lama (bahkan hingga hitungan jam) padahal itu semua hanya rekayasa.

Hubungan seksual yang juga merupakan ruang privat tentu tidak akan sembaranga dibicarakan dengan orang lain apalagi hal ini menyangkut tentang harga diri. Sehingga masyarakat mencari rujukan pada sumber-sumber lain (internet dan video porno misalnya).

Gambaran hubungan seksual yang dilebih-lebihkan tersebut tertanam dalam masyarakat sehingga mereka berpikir bahwa mereka juga harus bisa minimal seperti apa yang mereka lihat tersebut padahal itu semua hanya rekayasa dan pada kenyataannya tidak demikian.

Laki-laki yang merasa mempunyai tanggung jawab lebih tersebut maka akan melakukan cara-cara tersendiri untuk tetap bisa menunjukkan superioritasnya. Salah satunya dengan meggunakan obat kuat, obat perangsang, atau semacamnya. Hal ini menjelaskan mengapa di masyarakat modern khususnya di perkotaan terjadi fenomena munculnya toko-toko semacam ini.


*) ditulis sebagai tugas kelompok prasyarat UTS mata kuliah Psikologi Gender bersama Zadok, Insan R. Adiwibowo, dan Firdaus A.K.

Senin, 12 April 2010

the journalist can do no wrong?

Jika dahulu kala kita sering mendengar ada istilah The King can do no wrong mungkin istilah tersebut tidak berlaku lagi saat ini. Di zaman yang konon katanya kita bebas berpendapat ini media massa menjadi salah satu kekuatan terbesar.

Bagaimana tidak kita dapat melihat bagaimana media memberikan kepada kita informasi-informasi dan cekokan  secara tidak langsung mengenai apa yang benar dan apa yang salah.
Namun yang patut menjadi perhatian apakah apa yang selama ini kita terima merupakan kebenaran yang sebenar-benarnya atau tipuan dari mata kita sendiri. Apakah informasi yang kita terima itu berimbang sehingga kita dapat menentukan kebenaran yang ada dengan objektif atau hanya berat sebelah.

Kita dapat lihat bagaimana media massa membela diri ketika tersangkut kasus Luna Maya beberapa waktu yang lalu. Namun bolehlah kita bertanya apakah media massa memberikan porsi yang sama kepada Luna Maya untuk melihat kasus tersebut dari sudut pandangnya?

Ketika media massa lebih suka memuat berita tentang perusakan pagar oleh Mahasiswa dibanding memberitakan aspirasi mahasiswa untuk Indonesia yang lebih baik, maka kita patut bertanya apakah maksud dari pemberitaan tersebut.

Kami hanya mengabarkan fakta yang ada di lapangan. Ya memang itu mungkin sebuah fakta. Tapi fakta tersebut hanyalah sebuah fakta tidak penting yang mungkin masih multitafsir dibanding fakta lain yang lebih penting yang tidak dikabarkan.

kesalahan media bukan pada apa yang mereka sampaikan, tetapi pada apa yang tidak mereka sampaikan

Bukan hal yang aneh juga ketika sebuah televisi menayangkan sebuah doalog tentang pembunuhan yang mencengangkan. Dan ketika narasumber berkata bahwa mungkin penyebabnya adalah karena belajar dari apa yang ada di media massa maka presenter acara tersebut manggut-manggut. Dan setelah itu kembali menayangkan reka ulang alias tips&trik membunuh yang ditonton oleh anak-anak dan masyarakat lain.

Sadar atau tidak, media massa bukan hanya menjadi sekedar sarana penyaluran informasi. Namun juga sarana pendidikan dan pembentukan budaya. Dengan media massa masyarakat bisa menjadi senang, bahagia, atau bahkan muak dan membenci terhadap suatu hal tertentu.

Hal inilah yang terkadang kurang disadari. Bahwa media massa sebagai sarana pendidikan memiliki tanggung jawab kepada masyarakat bukan hanya sekedar menginformasikan fakta, tetapi mendidik masyarakat dengan fakta-fakta tersebut. Jangan menjadi orang bodoh yang menyampaikan cerita seram kepada anak kecil yang penakut dan berkata, “Memang itu kenyataannya” sehingga anak tersebut tidak bisa tidur dan mengompol.

Bagaimanapun juga kita tidak dapat memenjarakan sebuah senapan karena benda itu telah membunuh orang. Yang dapat kita persalahkan adalah orang yang menggunakan senapan tersebut. Senapan hanyalah alat, tergantung dari siapa yang menggunakannya. Begitu pula dengan media massa. Media hanya sebuah alat. Namun saya yakin sebagian dari mereka masih memiliki apa yang mereka sebut idealisme dan itu menjadi sebuah harapan akan dunia yang lebih baik.

*) ditulis untuk Buletin SIKLUS yang diterbitkan oleh Psikomedia edisi bulan April dan sebagai kado untuk mereka yang menyebarkan berita

Sabtu, 10 April 2010

benarkah kita ingin seperti mereka

Ah, orang Indonesia memang pemalas. Coba lihat di jam kerja seperti ini banyak pegawai yang hanya duduk-duduk saja mengobrol dengan teman sebelahnya. Herannya lagi, hal seperti ini berlangsung setiap saat dari pagi hingga pagi lagi.

Kita yang dalam bekerja pun tidak maksimal. Kerja hanya setengah-setengah yang penting selesai. Etos kerja yang sangat rendah. Datang terlambat, istirahat molor, pulang duluan. Di kantor pun tak tahu apa yang dikerjakan. Bekerja dengan sangat cepat bagai kura-kura. Bekerja segan, nganggur pun tak mau. Meremehkan pekerjaan kita, dan meremehkan masalah yang ada. Terlambat menjadi nama julukan yang telah meresap ke sendi-sendi.

Kerja bagi kita hanya berbatas pada uang bukan ambisi atau cita-cita. Tak ada kah semangat dari dalam diri kita untuk bekerja sepenuh hati mengorbankan, jiwa, raga, harta, dan waktu demi pekerjan kita?

Pelajar dan mahasiswa pun sama saja. Kita di kelas yang sibuk bermain hape dan tidak memperhatikan apa yang dijelaskan. Kita yang belajar hanya semalam sebelum ujian dan karena ujian,bukan karena mereka ingin tahu. Kita yang mencari angka-angka dalam selembar kertas dan bukan pengetahuan. Kita yang rela membolos untuk urusan kita di luar sementara tidak rela masuk untuk menuntut ilmu.

Begitu pula kita yang mengerjakan tugas sehari sebelum dikumpulkan. Tidak ada keinginan dan ketertarikan sama sekali dalam diri mereka. Tugas adalah beban. Itu saja. Dan hasil dari pendidikan semacam ini ya pegawai semacam itu.

Hukum pun dianggap sebagai sebuah formalitas dan bukan kesepakatan bersama demi kebaikan bersama. Kita memakai helm karena takut kena tilang. Menerobos lampu merah pun tak apa asal jalanan sepi. Polisi pun menilang berdasar tanggal di kalender.

Tata tertib dianggap sebagai banyolan. Hukum ada untuk dilanggar menjadi slogan dimana-mana bahkan di kalangan aparat hukum. Bahkan kalangan terpelajar pun menjadi golongan anti-sistem.

Andai orang Indonesia itu memiliki toalitas dalam bekerja dan belajar, tentu negara ini tidak akan jauh berbeda dari negara-negara Barat dan Amerika. Ah coba kita seperti mereka.

Benarkah kita ingin seperti mereka?

Coba kita lihat. Mereka bekerja keras, dari pagi hingga malam penuh totalitas. Lalu siapa yang mengurus anak-anak mereka jika pagi hingga malam mereka bekerja? Lalu untuk apa suami istri tinggal serumah jika tidak pernah bertemu? Lalu untuk apa keluarga?

Mereka membangun rumah-rumah indah untuk pembantu mereka. Mereka melahirkan putra-putri mereka untuk diasuh oleh sekolah. Itu biasa saja sebenarnya, tapi apakah kita memang ingin demikian?

Mereka bekerja sangat keras. Belajar dengan penuh pengorbanan. Menaati aturan dengan kaku. Stress mejadi makanan sehari-hari mereka. Masalah menebabkan mereka bunuh diri. Dan hari libur mereka habiskan untuk mabuk-mabukan melepaskan segala masalah yang hinggap dikepala mereka. Mereka yang menjalani hidup seperti dikejar setan. Hidup mereka dihabiskan untuk masalah-masalah yang mereka besar-besarkan sendiri. Sedangkan kita melihat masalah hanya sebagai lalat terbang di antara indahnya pemandangan alam dengan usus yang panjang. Benarkah kita ingin seperti mereka itu?

Meyer Friedman berkata bahwa mereka orang tipe A, kita tipe B. Mereka hidup untuk bekerja. Kita hidup untuk menikmatinya. Lalu kamu hidup untuk apa? Jadi orang pragmatis emang lebih enak daripada jadi orang perfeksionis.

Senin, 29 Maret 2010

omong kosong

Aku tinggal di sebuah negeri omong kosong. Negeri dimana mereka lebih suka meributkan sesuatu yang baru akan mereka rencanakan untuk dilakukan. Ketika negeri ini masih sibuk berdebat tentang mau makan apa mereka, maka anak-anak mereka sudah mati kelaparan. Mereka sibuk memperdebatkan sistem yang terus menerus mereka ubah tanpa pernah sempat mereka lakukan.

Mereka lebih suka membanding-bandingkan Pancasila dengan ideologi-ideologi lain semisal sosialis, kapitalis, dan menyebutnya sebagai ideologi banci. Akan tetapi jangankan melaksanakannya, mereka bahkan tidak paham apa yang mereka bicarakan. Mereka adalah orang-orang yang hanya bisa mencemooh apa milik mereka sendiri. Mereka itulah banci sebenarnya.

Mereka yang sibuk menyalahkan UAN karena kualitas pendidikan bangsa mereka tidak meningkat secara signifikan. Ayolah, mana ada siswa yang belajar kalau tidak ada UAN. Janganlah kalian menjadi sok humanis kalau kenyataannya apa yang kalian hadapi belum bisa dikatakan sebagai human (manusia). Kalian lihat bagaimana mereka mencontek saat ujian yang bahkan nilainya tidak dihitung oleh guru mereka. Pendidikan kita hancur bukan karena sistem yang ada. Tetapi karena kita tidak bisa melaksanakan sistem yang ada. Bahkan sistem yang relatif sederhana pun tidak bisa kita lakukan tetapi kita berharap terhadap sistem yang rumit? Ah, omong kosong.

Mereka yang sibuk mencibir lalu lintas yang semrawut disaat mereka sendiri sering menerobos lampu merah. Mereka yang sibuk mencibir sistem yang ada tanpa pernah mereka mencoba untuk melaksanakannya. Mereka hanya berharap bahwa segala sesuatunya langsung jadi, tanpa harus mereka bersusah payah. Cukuplah pemerintah yang mengubahnya dalam waktu satu dua hari.

Mereka juga yang sering menghina kinerja pegawai negeri sipil di instansi pemerintah karena kurang sigap dalam bekerja. Sementara mereka sendiri, mengerjakan tugas yang diberikan dosen atau guru menjelang hari pengumpulan dengan seadanya. Memang sama saja.

Ah, negeri ini memang negeri kata-kata. Berharap segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan kata-kata. Di saat kita sibuk mennyalahkan sistem, namun sebenarnya diri kitalah yang salah karena gagal menjalankannnya. Bukan sistem yang gagal meraih tujuan, tetapi kita yang gagal menjalankan sistem. Sebaik apapun strategi jika tidak kita lakukan tetap saja tidak berarti apa-apa. Tetapi menyalahkan sistem jauh lebih enak dihati daripada menyalahkan diri sendiri bukan?

Memang omong kosong. Kita ini omong kosong. Sudahlah lakukan saja dulu dan lihat hasilnya. Jika menanak nasi saja kita tidak bisa dan tidak mencoba untuk melakukannya, bagaimana kita bisa berharap makan nasi goreng?

Senin, 08 Maret 2010

monolog bukan mahasiswa

biip..biip..
Masih zaman yah bunyi hape kayak gitu?
Ah gak penting..
Bla bla bla @bunderan bla bla bla..
..bla bla jas almamater bla..
..bla bla sebarkan ke teman teman lain
Heran aku..beberapa hari ini sms isinya ngajakin demo mulu..
Bukannya mau sombong..maklum lah namanya juga aktipis
aktipis itu aktipitasnya demo..

apalagi mahasiswa..
kalo gak demo itu gak keliatan pinter en nasionalis

Ikut ya mas..bawa temen sebanyak-banyaknya..
Emang mau ngapain? wah gak rembugan dulu maksudnya apa..
emang kami kambing congek..

Lalu ku nyalakan tipi..ternyata sedang ngetrend!!!
dimana-mana demo..
demo kok dimana-mana? Di kamar mandi juga donk..
Makasar, Surabaya, Jakarta, Sulawesi, Bandung..
Bantul kok egak yah? Alhamdulillah..

Demo kok gak ada yang nonton..aspirasinya gak nyampe nih
yaudah ayo tutup jalan..bakar ban..
Wey!!! Aku gak bisa lewat nih..kasihan yang mau pergi

Yaudah lempari aja polisi..
tar kalo polisinya marah kita kabur..bilang aja kita diserang
tar kita laporin Komnas HAM
Loh emang polisi bukan manusia?

Yaudah rusak aja sarana umum..
Bah berarti sama dong sama koruptor..
Sama-sama makan duid rakyat..

Bedanya duit rakyat kita pakai buat kuliah yang gak kelar-kelar dan IP jeblok..
Terus buat ganti sarana prasarana umum yang kita rusak pas demo..
kalo koruptor kan dipake sendiri buat makan anak istri..dasar biadab!!!


Dikit-dikit demo..
Dikit-dikit demo..
Demo kok dikit-dikit?
Padahal di Jogja gak ada Bajaj dan Demo..
..adanya becak ma andong

oi Jendral..jangan cuma senyamsenyum di alam sana dong..
kesini oi..disini ribut mulu..

Eh eh yang baca jangan marah donk..
katanya era demokrasi..
kalo kalian meghalalkan segala cara untuk menyampaikan aspirasi..
masa cuma bikin notes aja marah?

Minggu, 28 Februari 2010

Indonesiƫ is er nog steeds

Enam puluh satu tahun yang lalu tepat pada enam pagi sirine berbunyi. Senapa berbunyi dan dimulailah kegegeran. Bukan kembang api melainkan letusan peregang nyawa, itulah yang dimainkan oleh kakek-kakek kita.

Meski negeri ini telah tak berbentuk. Di saat Sjafroedin Prawiranegara memegang tampuk kepemimpinan di pelosok hutan-hutan di Bukit Tinggi untuk melanjutkan negeri yang masih bayi ini. Dan tentara bersama Panglima Besarnya yang sedang kesakitan melakukan gerilya. Terjadilah momen yang hanya enam jam ini.

Janur kuning yang biasa menjadi simbol romantisme sepasang kekasih yang dimabuk cinta penuh dengan kebahagiaan, kini menjadi simbol romantisme perjuangan penuh darah untuk menunjukkan pada dunia bahwa Indonesiƫ is er nog steeds (Indonesia masih ada). Bagi mereka cinta mereka pada tanah air lebih besar sehingga mereka lebih memilih menggunakan janur kuning sebagai simbol perlawanan dan bukan sekedar penghias sebuah resepsi.

Dimana ada janur kuning, di situ masih berdiri Indonesia. Janur kuning menjadi penanda bahwa mereka rakyat Indonesia yang menurut Belanda sudah tidak ada lagi apa itu Indonesia. Dunia yang selama ini sependapat kemudian menyaksikan adanya sebuah Negara yang masih kokoh berdiri bernama Indonesia di ujung Timur sana.

Dan enam puluh satu tahun pun berlalu dan kini Indonesia mulai menghilang lagi. Bukan hanya di kancah Internasional melainkan juga di hati para pemudanya. Ketika negeri ini terlalu menyedihkan untuk dibanggakan akankah kita memilih untuk memasukan negeri lain ke hati kita?

Ketika enam puluh satu tahun yang lalu mereka mengorbankan darah untuk menujukkan Indonesia di mata dunia, maukah kini kita berkorban keringat untuk melakukan hal yang sama? Ah di saat ini tidak ada bedanya antara harapan dan utopia.

Bolehkah saya berharap minimal semangat itu masih ada? Tampaknya sekali lagi pun saya dikhianati oleh harapan kosong.

Kalau begitu minimal menyempatkan waktu untuk merenungi hari ini dan itu hanya berlaku bagi segelintir orang. Atau paling tidak, sekedar meluangkan membaca tulisan berikut:

Apakah Indonesia masih ada?

Senin, 22 Februari 2010

terasing

Kakek dari kakek kakek dari kakek buyut kami telah lama tinggal disini. Kami telah tinggal disini bahkan sebelum sebuah prasasti dibuat. Orang asli atau pribumi, begitulah kalian menyebut kami.

Dan kini tidak sejengkal pun kami beranjak dari tempat tinggal leluhur kami. Tetapi kami telah terasing. Bah, macam mana pula dunia ini. Makin tidak karuan saja.

Kau tahu? Kami hidup dengan kebahagiaan kami sendiri. Kami bahagia hidup sederhana bersahaja. Namun semenjak orang-orang datang menggunakan kapal berbendera selain merah dan putih itu, ntah kenapa kami mulai terasing.

Hidup kami sederhana. Buat apa kami mengumpulkan lembaran kertas bergambar wajah yang hanya disimpan. Buat apa juga kami menjajakan harta kami untuk barang-barang baru yang sebentar lagi akan ketinggalan zaman. Tapi kau tahu? Perilaku kami ini dianggap sebuah kesalahan. Kesederhanaan dianggap sebagai kemiskinan dan ketinggalan zaman.

Kami hidup menggunakan ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Bagi kami orang pintar tidak perlulah banyak bercakap. Tanpa bercakap pun orang sudah tahu bahwa kami pintar. Tapi kini kami yang merunduk dianggap bodoh dan terbelakang. Sedangkan mereka yang pandai membual merekalah yang pandai. Semakin hebat bualan mereka semakin pandailah mereka tampak. Ckckck, memang orang bodoh tidak paham apa pula arti pandai.

Kami dahulu hidup dengan semangat saling memberi dan memahami. Tanpa berkata pun kami akan menawarkan makanan pada tamu kami yang kelaparan. Dan tamu kami pun tahu diri, dia tidak akan meminta. Karena kami akan memberinya sebelum dia berniat untuk meminta. Namun kini ketika kami bertamu bahkan dengan tulang berbalut kulit tak ada bahkan segelas air putih pun terhidang.

Mereka bilang kami tidak asertif. Apa pula itu kami tidak paham. Bagi kami adalah sesuatu hal yang memalukan untuk meminta. Lebih memalukan lagi orang-orang disebelah kami yang tidak tanggap hingga kami terpaksa meminta. Karena kami hidup dengan semangat memberi.

Tapi kini mereka yang tidak meminta tidak akan mendapatkan apa-apa. Bahkan mereka yang telah dimintai pun enggan memberikan. Dunia macam apa ini.

Kami dianggap sebagai orang-orang malas yang tidak pandai bekerja. Siapa bilang kami pemalas? Kau tahu bahwa kami rela menahan lapar dan bepergian jauh sekali hanya untuk bertemu teman kami? Ah kami tidak malas. Hanya saja kita memiliki ketertarikan berbeda. Engkau bersemangat dalam bekerja, dan kami bersemangat dalam menyambung persaudaraan. Bagi kami kalian lah para pemalas, kalian malas sekali menjalin persaudaraan.

Terserah kalian mau menganggap apa kami. Kalian boleh menilai kami sekumpulan pemalas, golongan rakyat miskin, orang-orang polos, tukang becak, masayarakat desa, dan sebagainya. Kalian ini memang budak perut. Memandang kami hanya dari apa yang kami makan.

Tapi sungguh entah berada dimana kami saat ini. Kaki kami tidak beranjak namun sekeliling kami telah berubah. Kami bagai orang asing yang berada di dunia yang salah. Kami yang salah, atau dunia yang salah?

Kalian bilang peradaban kami tertinggal 100 tahun dari kalian. Siapa bilang? Peradaban kami jauh lebih maju 100 tahun dari kalian. Peradaban kami adalah peradaban hati, bukan peradaban perut macam kalian.