Minggu, 29 Juli 2012

Stereotype

Stereotype, sebuah generalisasi umum akan suatu keadaan. Atau dalam versi negatifnya kita bisa mengatakannya sebagai sebuah prasangka. Suatu hal yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Stereotype (oskart.deviantart.com)


Entah sejak kapan, mungkin zaman kolonial, kita selalu diajarkan untuk membenci orang kaya dan beranggapan orang miskin selalu tertindas dan yang paling benar. Seolah semua orang kaya itu busuk, dan semua orang miskin. Stereotype.

Tapi sebuah fase kehidupanku menunjukkan bahwa itu tidak semuanya benar. Bagaimana jika saya katakan bahwa ada orang-orang kaya di dunia ini yang peduli dengan orang lain? Sementara ada juga orang-orang kaya yang malas dan suka mengambil jalan pintas untuk dirinya sendiri? Bagaimana jika para komunis yang miskin yang diberi kesempatan malah berubah menjadi kapitalis kaya yang tamak dan serakah?

Bagaimana jika rakyat, yang selalu dianggap tertindas justru seringkali yang menindas? Bagaimana jika para kapitalis adalah orang-orang yang bervisi besar untuk kemajuan masyarakat bersama?

Percayakah? Entahlah, sosialis telah meresap ke sendi-sendi kita. Kebencian ini juga yang menghantarkan bangsa ini menjadi jati dirinya yang sekarang.

Bagaimanapun juga stereotype muncul dari fakta-fakta yang digeneralisir. Saya tidak bilang bahwa prasangka adalah sesuatu yang salah, tetapi saya juga tidak berkata bahwa prasangka adalah sesuatu yang benar.

Akan tetapi kebencian merupakan suatu hal yang buruk, terlebih kebencian yang timbul karena rasa iri hati.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13)

Sabtu, 28 Juli 2012

The whole is greater than the sum of the parts

Saya selalu percaya pada frase tersebut. Bahwa persatuan dan kesatuan akan selalu menciptakan sebuah kekuatan yang luar biasa. Itulah sebabnya manusia hidup berkelompok, karena sejatinya kita bisa meraih suatu hal yang luar biasa dalam kebersamaan.

Organisasi adalah tempat orang berkumpul dan bervisi, serta memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan mimpi mereka.

Hanya saja sebagian organisasi memilih untuk berpikir sempit dan hanya memikirkan perut mereka, sedangkan sebagian lain mencoba memenuhi kewajiban moral mereka. Dan kita yang dibesarkan oleh rahim sosialis selalu berpikiran buruk tentang mereka.

Communist until you get rich
Feminist until you get married
Atheist until the airplane starts falling

Akan tetapi saya percaya disana ada sekumpulan orang-orang yang bekerja untuk mewujudkan mimpi mereka. Mewujudkan kepentingan bersama sebagai sebuah tujuan utama. Dan mereka kapitalis.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)

Minggu, 15 Juli 2012

Kebutuhan

Apakah kebutuhan terpenting bagi manusia?

Semua orang berkata bahwa kebutuhan utama manusia adalah untuk mempertahankan hidup. Makanan dan minuman menjadi dasar dari semua kebutuhan. Pada akhirnya uang dan amterialisme menjadi pembenaran atas sebuah tindakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tapi bagi aku, kebutuhan terpenting adalah untuk bertemu, berjumpa, dan berinteraksi dengan orang lain terlebih orang-orang spesial. Sebuah kebutuhan yang cukup sulit dipenuhi di tempat seperti ini. Tampaknya mati bersama orang-orang yang kita kasihi jauh lebih menarik dibanding hidup sendiri bergelimang harta.

Everybody Needs Love (bcdirector.deviantart.com)

Atau entahlah, mungkin karena memang manusia tidak pernah bersyukur.

Selasa, 26 Juni 2012

Siapkah Kita?

Pray (obscurus86.deviantart.com)

Kita selalu meminta berbagai hal kepada Tuhan. Meminta ini, meminta itu. Berpikir bahwa itu memang yang kita inginkan dan kita butuhkan. Merasa bahwa kita mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk diri kita, dan orang lain.

Kita mengutuki Tuhan ketika suatu hal yang kita inginkan tidak tercapai. Seolah dunia ini penuh dengan penderitaan dan kepedihan. Permintaan kita menjadi kian memelas dan menyedihkan. Seolah semua itu memang yang kita inginkan dan kita butuhkan.

Tetapi yakinkah kita bahwa semua yang kita minta merupakan yang terbaik untuk diri kita? Siapkah kita jika doa kita dikabulkan? Terkadang ini bukan tentang Tuhan, tetapi tentang diri kita. Kesiapan kita, kebutuhan kita. Dan percayalah Tuhan selalu tahu mana yang lebih baik. Maka jalanilah semua ketetapan dengan nama Tuhanmu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

Rabu, 13 Juni 2012

Siapa Mau Hidup untuk Orang Lain?

hak hak hak hak yaaa...

Suicide (rbfortres.deviantart.com)

Berhakkah kita melarang seseorang untuk mengakhiri hidupnya? Siapa kita mengatur kehidupan orang lain, menentukan baik dan buruk. Berhakkah kita melarang orang lain merokok? Berhakkah kita melarang orang lain judi? Berhakkah kita melarang orang lain bertindak asusila.

Seolah semua menjadi sangat egois. Semua menjadi tentang siapa berhak dan siapa tidak berhak. Padahal semua hanya tentang siapa peduli dan siapa tidak peduli.

Kini kita terlalu egois, hidup untuk diri sendiri.

Kamis, 24 Mei 2012

Sabar

Sebuah kata pahit yang dipercaya sebagai sebuah tindakan mulia bagi seorang manusia. Baik di Jawa maupun Islam, sabar telah menjadi sebuah sikap bagian dari orang-orang yang mulia. Namun terhadap apakah kita harus sabar? Bencana? Musibah? Cobaan hidup? Kemiskinan? Penderitaan?

Jika kita percaya semua yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak-Nya, maka sudah seharusnya kita bersabar dalam menghadapi Tuhan.

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16:96)

Sabtu, 19 Mei 2012

Masyarakat Sensor

in censor we trust (punknroll.deviantart.com)
Beberapa pekan terakhir media elektronik sedang dihebohkan dengan beberapa pencekalan yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat di Indonesia. Menjadi semakin heboh ketika tinndakan pencekalan ini kemudian dikaitkan dengan hakikat kebebasan. Meskipun agak lucu, mengingat paham kebebasan dan demokrasi sendiri belum lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia setelah beberapa dekade berada di bawah pemerintahan yang bertangan besi.

Mulai dari Irshad Mandji hingga Lady Gaga sebenarnya merupakan pucuk dari fenomena yang terjadi sebenarnya di dalam masyarakat. Permaasalahan ini tidak akan selesai hanya dengan membubarkan satu atau dua ormas, tetapi lebih dari itu permasalahan ini sebenarnya berkaitan dengan nilai dan kebudayaan suatu masyarakat. Tulisan kali ini akan mencoba mengulas fenomena tersebut.

Tipikal Masyarakat Kolektif
Para ahli sepakat bahwa Indonesia merupakan contoh sebuah masyarakat yang lebih condong ke arah nilai-nilai kolektif daripada individualis. Meski demikian banyak orang yang kurang begitu paham mengenai apa sebenarnya masyarakat kolektif itu. Masyarakat kolektif memiliki sebuah sistem dan struktur masyarakat yang sangat berbeda dengan model individualis.

Di dalam masyarakat kolektif, individu dipandang sebagai bagian dari kelompok. Hal ini berbeda dengan tipikal masyarakat individualis yang lebih memandang individu sebagai sebuah entitas yang mandiri dan berdiri sendiri. Efeknya adalah bahwa setiap tindakan suatu individu dalam kelompok haruslah dilandasi pada kepentingan kelompok dan bukan kepentingan pribadi. Kewajiban individu kepada kelompok lebih ditekankan daripada hak-hak individu itu sendiri (baca: Masyarakat Daging Babi).

Selain itu masyarakat kolektif memiliki hierarki, lain halnya dengan masyarakat yang cenderung individualis dimana semua orang dipandang setara. Masyarakat kolektif memandang masyarakat sebagai sebuah kesatuan atau kelompok, maka dari itu perlu orang-orang khusus untuk mengatur kelompok tersebut. Orang-orang khusus ini merupakan orang-orang yang dianggap paling ahli dan bijaksana di dalam kelompok tersebut. Dalam prakteknya kita jumpai tokoh masyarakat, presiden, ulama, pendeta, dan sebagainya.

Orang-orang tersebut memiliki tugas menjaga kelompok dari setiap ancaman yang ada. Termasuk diantaranya adalah ancaman ideologis berupa nilai-nilai yang dianggap berseberangan dengan nilai-nilai kelompok tersebut. Dalam menjaga kelompok, orang-orang khusus tersebut memiliki beberapa hak istimewa terhadap masyarakat lain. Termasuk diantaranya adalah sensor dan pencekalan untuk mencegah masuknya ideologi-ideologi yang dianggap bertentangan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan sebuah cara untuk "melindungi" ideologi kelompok dari ideologi asing yang dianggap dapat mengancam. Maka disini dapat kita lihat bahwa pencekalan misalnya dilakukan oleh organisasi Islam, organisasi tersebut "merasa" memiliki hak untuk melakukan pencekalan dalam masyarakat karena karakteristiknya yang "lebih memahami" ideologi tertentu dibanding masyarakat awam. Maka sebenarnya fenomena ini adalah sebuah fenomena yang "sangat biasa" di dalam kebudayaan masyarakat kolektif.

Sudah Biasa
Sebenarnya bukan pertama kali ini pencekalan atau sensor dilakukan di Indonesia. Bahkan sebenarnya sejak awal Indonesia berdiri sensor dan pencekalan sudah sangat sering dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa berkewajiban untuk menjaga ideologi kelompok.

Pada masa Orde Lama misalnya kita temui bagaimana musik Koes Ploes yang diilhami dari band The Beatles sempat dicekal karena dianggap membawa nilai-nilai liberal Barat. Pada waktu itu Indonesia menganut paham sosialis-komunis yang kental sehingga berbagai macam bentuk "penyerangan" dari ideologi Barat dilawan oleh pemerintah.

Jika kita berpikir bahwa pencekalan dan sensor hanya dilakukan oleh masyarakat kolektif dengan ideologi sosialis-komunis maka itu salah besar. Ketika orde baru berkuasa dan kita lebih dekat dengan Barat pun pencekalan dan sensor tetap ada. Buku-buku komunis dan sosialis dibumihanguskan sebagai upaya "menjaga" ideologi bangsa yang saat itu mulai condong ke arah Barat. Bukti lain yang masih ada hingga saat ini adalah adanya aturan yang mewajibkan film asing berbahasa selain Inggris untuk didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Peraturan ini sebenarnya adalah upaya film AS (liberal) pada masa itu melawan serbuan film China (komunis) di Indonesia dan cara tersebut terbukti efektif.

Pergeseran Budaya
Melihat sejarah dan karakter budaya masyarakat Indonesia pada zaman dahulu, maka menimbulkan keherana tersendiri bagi saya. Di saat banyak orang heran tentang bagaimana sebuah kebebasan dibatasi, saya justru heran mengapa hal itu menjadi sebuah masalah besar. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi bagi saya sensor dan pencekalan telah lama menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Menjadi masalah adalah ketika nilai-nilai dalam masyarakat telah mulai bergesar. Di satu sisi kita harus mengakui kepandaian strategi AS dalam perang ideologi. Bagaimana mereka memilih untuk mengekspor film dibanding komoditi lainnya yang lebih berharga. Hal ini dilakukan agar ideologi dapat bergeser dari yang semula sangat kolektiv-sosialis beralih ke individualis-liberal.

Saat ini masyarakat Indonesia pun terpecah, di satu sisi sebagian masyarakat mulai menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan persamaan derajat. Presiden, ulama, dan para ahli mulai dianggap sama dengan masyarakat lainnya dalam berpendapat. Masyarakat merasa lebih tahu apa yang disebut "baik" bagi dirinya sendiri. Namun di sisi lain sebagian masyarakat masih menganut nilai-nilai kolektiv dan hierarki sosial. Dimana masyarakat sendiri masih belum mampu berdiri sendiri tanpa sokongan "para ahli". Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang dipahami pun belum sempurna. Meski masyarakat merasa dapat megatur dirinya tersendiri dan merasa lebih terdidik, namun kenyataan di lapangan bahkan banyak golongan terpelajar yang bertindak tidak terpelajar. Struktur masyarakat lama mulai rubuh tetapi belum ada konsensus mengenai struktur yang baru.

Menyikapi Lady Gaga misalnya, meski yang paling keras terdengar mengenai di jejaring sosial merupakan bentuk penyesalan tindakan FPI namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak masyarakat kita yang turut mendukung sikap tersebut. Pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang dari generasi tua misalnya setelah melihat seperti apa "wujud" dari Lady Gaga di televisi banyak yang kemudian justru merasa prihatin dan setuju terhadap tindakan FPI, MUI, PPP, dan sebagainya untuk menolak. Lain halnya dengan media jejaring sosial yang lebih banyak didominasi generasi muda yang sudah lebih "demokratis" dan hidup dengan nilai-nilai yang berbeda.

Maka disinilah toleransi akan budaya diuji. Sejauh mana masyarakat mampu memahami masyarakat lain yang hidup dengan nilai-nilai yang berbeda. Meski tentu itu bukan hal yang mudah karena bagi satu pihak menghormati adalah menuruti kehendak yang lain yang itu berlawanan dengan nilai-nilai kebebasan. Sementara di pihak lain menghormati diterjemahkan sebagai memberikan kebebasan bagis etiap orang yang itu berarti mengabaikan kebaikan kelompok.