Sabtu, 22 Desember 2012

Everything

Sorenya,

Entah kenapa kursi ini menjadi begitu tidak nyaman. Mungkin karena aku terlalu lama duduk di dalam kursi sandar yang nyaman di mejaku sana. Bukan, bukan itu. Tetapi duduk di ruangn ini terasa begitu menyesak. Menekan dada hingga paru-paru ingin menyembul keluar dari kerongkongan.

Terlalu banyak aura pembunuh disini. Orang-orang dengan berbagai keahlian dan kemampuan mereka yang sanggup membunuhku dalam sekejap. Disini, merekalah yang menggali bongkahan-bongahan impian yang telah berhasil disusun menjadi istana kebanggaan. Mereka adalah pejuang-pejuang tangguh, penakluk keajegan.

Dan disinilah aku,duduk terdiam terbunuh oleh aura mereka. Bermain dengan imajinasi dan pikiranku sendiri dan berpikir bahwa butir demi butir pasir yang aku lemparkan kepada mereka akan menjadi bagian dari istana megah itu. Aku bukan siapa-siapa.

Malamnya,

Ternyata dunia maya pun tak bersahabat denganku. Setelah seharian aku dicekik oleh kehebatan mereka, kini aku dihantam leh kepergian seseorang yang luar biasa. Seseorang yang bahkan hanya dengan kabar kepergiannya bisa menghancurkan puing-puing imajinasiku.

Mendadak diriku hancur lebur, tak beberbentuk. Bahkan aku ragu jika masih bisa menemukan puing-puing sisa dari keberadaanku. Remuk redam, hancur tak berbekas. Disinilah aku begitu menyadari bahwa aku hanyalah sebuah molekul es di hamparan kutub. Mera yang luar biasa, bukan aku.

Aku disini hanya asyik bermain dengan imajinasiku dan berpikir bahwa bongkahan gunung es tidak akan terbentuk tanpa keberadaanku. Aku terlalu angkuh. Ada trilyunan molekul es lain yang siap menggantikan fungsiku jika aku tidak ada. Aku bukanlah siapa-siapa.

video
Everything at Once - Lenka (source: http://vimeo.com/19877175)

But I promise to myself,
Maybe today i'm just nothing
But someday i'll be EVERYTHING

Minggu, 02 Desember 2012

Keep Moving Forward

"Apa kenangan terindahmu?"

Aku terdiam sejenak, mencoba mengigat segala memori indah selama lebih dari dua dekade aku menghabiskan hidupku di dunia ini. "Entahlah, tertalu banyak hal indah di belakang sana. Dan aku tidak terlalu suka untuk mengingatnya terlalu lama"

"Aku menemukan sedikit paradoks di dalam pernyataanmu itu"

"Kau tahu, hidupku sangat dipenuhi kenangan-kenangan indah di masa lalu, dan satu-satunya hal paling pahit adalah ketika aku menyadari bahwa itu semua hanyalah masa lalu. Kita tidak pernah bisa mundur ke belakang."

"Aku paham", dirinya terdiam tanda mengerti. Sehebat apapun manusia, pada akhirnya waktu adalah suatu dimensi kekal yang tidak dapat kita taklukkan. Waktu-lah yang menunjukkan bahwa kita manusia, bukan Tuhan ataupun Dewa (jika itu benar ada).

"Masa lalu memang indah, tetapi itu sdah berlalu. Yang lebih utama adalah bagaimana kita bisa terus menikmati masa sekarang..."
"Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things… and curiosity keeps leading us down new paths.” - Walt Disney
"... ada banyak hal indah di dunia ini. Ada banyak cita-cita dan impian yang menunggu untuk diwujudkan. Jutaan impian besar yang harus kita bangun sebongkah demi sebongkah. Dan itu memerlukan ketetapan hati yang kuat dan kemauan."

Moving Forward (jesskat-art.deviantart.com)

"Aku tahu, kita harus menjadi kereta bukan?"

"Maksudmu?", aku tidak memahami maksudnya.

"Ada kalanya kita harus memutuskan untuk menutup telinga dan mulai berjalan. Di jalan nantinya akan ada banyak keributan dan kebisingan yang mengganggu kita. Namn bagaimana juga kita harus terus fokus dan berjalan menuju ujung rel."

"Kau benar, dunia ini terlalu indah untuk dihancurkan oleh perasaan pesimis dan cibiran. Ada impian-impian yang harus kita bangun sebongkah demi sebongkah. Tidak banyak, tetapi cukup besar ketika itu semua disatukan. Dan itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi lebih baik."
Siapa yang memberi makan pada dunia? Petani yang dengan diam-diam mengerjakan sawahnya. Siapa yang memayu ayuning bawana? Hanya mereka yang bekerja keras, mengeluarkan keringat dengan perbuatan yang nyata.(C.S. Adama van Scheltema)