Jumat, 24 Juni 2011

Terdidik

Di Indonesia kita belajar suatu ilmu layaknya beriman kepada suatu agama. Kita dihadapkan pada sebuah kitab dan diharapkan untuk mempercayai isinya (meski tidak pernah kita lihat dan kita lakukan dalam kehidupan). Kita tidak perlu bertindak, hanya berpikir. Atau bahkan mungkin berpikir pun dilarang, kita hanya perlu menggunakan pikiran orang lain karena pikiran kita sifatnya subjektif, tidak ilmiah, dan tidak bermutu.

Minggu, 19 Juni 2011

Frustasi akan Kehilangan: Kasus Keluarga Dickson

klik pada gambar untuk melihat video
Kehilangan merupakan salah satu penyebab terbesar dari munculnya kesedihan. Terlebih jika yang hilang itu adalah seseorang yang sangat kita sayangi. Kematian significant person bagi suatu individu akan berarti banyak dalam kehidupannya. Efeknya sangat besar, mulai dari frustasi, depresi, bahkan dapat pula berujuang pada bunuh diri. 

Kirsten Dickson baru saja kehilangan suaminya, Clay Dickson, satu tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan mobil. Kini dirinya harus menjadi janda dan mengurusi dua orang anak atas perkawinan mereka yaitu Jacqueline Dickson yang berumur delapan tahun dan Colin Dickson yang berumur tujuh tahun. 

Dahulu ketika Clay masih hidup keluarga ini menjadi salah satu keluarga normal yang bahagia. Namun setelah kepergian Clay semua itu berubah. Jacqueline dan Colin menjadi anak nakal yang susah diatur. Mereka suka sekali berkelahi dan saling menyakiti secara fisik. Bahkan sikap tersebut juga berlaku pada ibu mereka. 

Kirsten sendiri tipe orang yang lembut dan tidak bisa tegas kepada anak-anaknya. Terlebih dirinya tahu bahwa anak-anak tersebut sangat kehilangan ayah mereka sehingga tidak ingin menyakitinya. Yang terjadi adalah seberapapun anak-anak tersebut mencoba menyakiti ibunya dia tetap berusaha terus bersabar. Namun dia tahu hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja karena bisa jadi anak-anaknya nanti akan tumbuh dengan kondisi psikis yang tidak sehat. 

Apa yang terjadi pada kedua anak tersebut bisa jadi merupakan bentuk frustasi kemarahan akibat ditinggal pergi sosok ayahnya. Orang tua sebagai significant person tentu memiliki pengaruh yang sangat besar bagi anak. Terlebih lagi Clay merupakan figur ayah yang sangat dekat dengan anak-anaknya dan menjadi teman terbaik mereka. Kepergiannya membuat pukulan telak bagi kondisi psikis Jacqueline dan Colin. 

Sayangnya figur ayah ini tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh Kirsten. Sehingga yang terjadi anak-anak tersebut menjadi frustasi dan marah. Hal ini paling tampak pada Jacqueline, mungkin yang terjadi pada Colin hanya sebatas imitasi dan reaksi atas perilaku kakaknya. Namun yang terjadi pada Jacquelin bisa jadi adalah rasa frustasi dan kemarahan yang sesungguhnya. 

Jacqueline tampak masih belum bisa menerima kenyataan akan kematian ayahnya. Kehilangan tersebut menimbulkan rasa sedih yang kemudian beralih menjadi frustasi dan kemarahan. Frustasi ini kemudian diproyeksikan kepada ibunya dengan menganggap bahwa ibunya yang paling bertanggung jawab. Selain itu dirinya merasa seorang diri menghadapi masalah tersebut sehingga segala usaha ibunya untuk mendekati tidak dihiraukan. Ibunya dianggap tidak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya. 

Rasa frustasi tersebut beralih juga pada bentuk kekerasan fisik kepada adiknya. Colin seringkali dijadikan pelampiasan atas kemarahan yang dia alami. Merasa disakiti maka adiknya membela diri dengan melakukan hal yang sama pada kakaknya sehingga kedua kaka beradik ini saling bertengkar dan menyakiti satu sama lain. 

Dalam mengatasi masalah ini hal yang pertama harus diatasi adalah rasa frustasi dan kemarahan yang dialami oleh Jacqueline. Terapi yang paling cocok mungkin adalah Psychoanalysis Family Therapy. Harapannya semua perasaan yang ditekan oleh Jacqueline bisa dikeluarkan supaya tidak menjadi perilaku yang salah. 

Jacqueline harus diajari untuk mengatasi perasaannya sendiri. Perasaan marah dan frustasi tersebut harus diselesaikan. Selain itu dirinya juga harus bisa menerima kenyataan bahwa semuanya telah berubah, ayahnya telah meninggal dan tidak mungkin kembali. Keluarganya kini adalah sebuah keluarga single parent dengan dua orang anak. Sebagai anak tertua dirinya harus bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya. 

Di sisi lain Kirsten juga mencoba untuk menjadi sosok pengganti dari Clay bagi anak-anaknya. Beban berat yang menjadi tugas Kirsten harus menjadi seorang ibu dan ayah pada saat bersamaan. Dirinya harus bisa mengisi kekosongan yang telah ditinggalkan oleh suaminya. 

Kehilangan memang bukanlah hal yang menyenangkan, tetapi yakinlah bahwa tidak hanya diri kita seorang lah yang mengalaminya. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, tugas kita adalah saling membantu untuk meringankan beban orang-orang yang telah ditinggalkan.


*) ditulis sebagai tugasUAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

Banyak Anak Banyak Masalah: Kasus Keluarga Finck

klik gambar untuk melihat video
Kata orang, banyak anak artinya banyak rezeki. Jika hal itu memang benar adanya, maka Paul dan Deborah Finck merupakan salah satu keluarga yang memiliki banyak rezeki. Mereka berdua memiliki enam orang anak. Hanya saja anak-anak mereka semuanya masih kecil dan kembar. 

Kedua putri kembar tertua bernama Amanda Finck dan Alex Finck merupakan anak adopsi yang berumur sembilan tahun. Sedangkan kembar kedua merupakan anak kandung dimana yang laki-laki bernama Stephen Finck dan yang perempuan bernama Katarina Finck. Mereka berdua berumur empat tahun. Sedangkan kembar yang terakhir bernama David Finck dan Daniel Finck yang berumur tiga tahun. 

Keenam anak ini tinggal dalam satu rumah dimana (celakanya) semuanya tergolong susah diatur. Mereka suka berteriak, memukul, dan menangis. Meski ayah bekerja di rumah, tetapi ketika waktu bekerja selalu mengurung diri di ruang kerjanya dan tidak mau peduli dengan apa yang terjadi. 

Lalu ini semua menjadi tanggung jawab ibu. Tentu saja mengatur enam orang anak sekaligus bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak yang harus dilakukan dan dikerjakan mulai dari menyiapkan makanan, menjaga anak-anak agar tetap bermain dengan aman, mebersihkan rumah, mebereskan segala hal yang berantakan, dan sebagainya. 

Deborah sendiri seringkali merasa kualahan menghadapi ini semua. Seringkali dia habis kesabarannya untuk menghadapi anak-anak tersebut. Jika itu terjadi, Deborah akan lepas kendali dan marah-marah luar biasa. Dia akn membentak-bentak bahkan dengan kata-akata yang cukup tajam untuk anak-anak usia tersebut. Mungkin ini juga yang membuat anak melakukan hal yang sama. 

Anak biasanya melakukan modeling atas perilaku orang tua mereka. Bisa jadi kebiasaan anak-anak berteriak merupakan tiruan dari perilaku ibu mereka ketika sudah habis kesabarannya. Selain itu Paul juga seringkali berteriak-teriak meminta istrinya menjaga ketenangan rumah ketika sedang bekerja. Mungkin kedua perilaku inilah yang ditiru anak-anak mereka. 

Merawat seorang anak bukanlah sesuatu hal yang mudah, terlebih jika anak tersebut kembar dan berjumlah enam orang. Perlu kerjasama yang baik antara kedua pasangan untuk saling membantu dan melengkapi. 

Dalam keluarga pada umumnya terjadi pembagian tugas antara ayah dan ibu. Biasanya aya akan bertanggung jawab dalam mencari nafkah untuk keluarga sedangkan ibu mengurusi urusan rumah tangga. Namun ini semua jangan dianggap sebagai sesuatu hal yang sifatnya mutlak. 

Pada dasarnya tidak ada aturan yang baku dalam pembagian tugas dalam keluarga. Masing-masing keluarga boleh menciptakan aturan-aturan mereka sendiri. Yang terbaik adalah aturan tersebut merupakan aturan yang disepakati oleh semua pihak. 

Dalam kasus ini mungkin Paul beranggapan bahwa tanggungjawabnya adalah untuk mencari nafkah sedangkan Deborah bertanggungjawab dalam urusan rumah tangga. Namun untuk mengurusi enam orang anak sekaligus terlebih mereka semuanya masih kecil bukanlah hal yang mudah. Tidak bisa semuanya dilimpahkan kepada Deborah begitu saja. 

Sebaiknya Paul ikut membantu Deborah dalam mengurusi anak-anak mereka. Terlebih lagi Paul bekerja di dalam rumah itu artinya dia bisa melakukan pekerjaannya sekaligus membantu Deborah pada saat yang bersamaan bukannya justru bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu. 

Salah satu terapi yang disarankan untuk Deborah dan Paul adalah Structural Family Therapy. Harapannya setelah mereka menjalani terapi tersebut akan terjadi pembagian tugas yang lebih seimbang. Pasti nantinya beban Paul akan bertambah berat, akan tetapi karena memang demikian keadaannya sikap tidak peduli dan tidak mau tahu tidak akan menyelesaikan apapun. 

Tiga anak kembar (enam orang) bukanlah permasalahan yang sederhana. Tentunya untuk menghadapinya perlu kerja yang lebih keras dibanding keluarga pada umumnya. Namun itu sudah menjadi konsekuensi sebagai orang tua. 

Perlu adanya sinergitas antara kedua orang tua dalam mendidik anak-anak tersebut. Selain itu mereka perlu contoh perilaku yang baik dari kedua orang tua mereka dan perlu tahu juga aturan-aturan yang berlaku dalam keluarga. Mendidik enam orang anak sekaligus memang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras namun bukan berarti hal tersebut mustahil dilakukan.


*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

Perbedaan Budaya dalam Keluarga: Kasus Keluarga George


Jeffrey (26 tahun) dan Theresa George (35 tahun) merupakan pasangan suami istri yang telah dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil. Anak perempuan yang paling besar bernama Imari George berumur empat tahun. Sedangkan kedua adiknya laki-laki kembar bernama Kobi George dan Kadin George berumur dua tahun. 

Secara kultural Jeffrey dan Theresa dibesarkan dalam budaya yang sangat jauh berbeda. Jeffrey seorang negro kulit hitam yang dibesarkan pada keluarga yang disiplin ketat dan penuh aturan. Sedangkan Theresa yang berkulit putih dibesarkan dalam keluarga yang cenderung bebas dan tidak terlalu ketat. Ini jugalah yang menyebabkan perbedaan pandangan mereka berdua dalam mendidik anak dan juga pembagian tugas. 

Dalam pembagian tugas di rumah tangga, Jeffrey mendapatkan porsi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Theresa. Sebagai seorang ayah selain mencari nafkah Jeffrey juga harus melakukan berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, merawat anak, dan sebagainya. Sebagai kepala rumah tangga Jeffrey yang paling dominan dalam keluarga tersebut. 

Sedangkan Theresa hanya mendapatkan tugas-tugas rumah tangga yang lebih sederhana. Dia juga cenderung menyerahkan berbagai tugas kepada suaminya. Sikapnya ini mungkin muncul akibat perbedaan pandangan yang terlalu mencolok antara pasangan tersebut tentang kehidupan ideal sebuah keluarga. Sehingga Theresa cenderung pasif dan menurut untuk menghindari konflik dengan suaminya. 

Dalam pola pengasuhan pun mereka memiliki pandangan yang berbeda. Jeffrey yang dibesarkan dalam keluarga disiplin menginginkan anak-anaknya menjadi penurut. Berbeda dengan Theresa yang cenderung memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Berbeda dengan Jeffrey yang cenderung memberikan instruksi langsung kepada anak-anaknya, Theresa biasanya memberikan perintah dengan cara meminta dan bukan menyuruh. 

Perbedaan ini membuat anak-anak menjadi kebingungan dalam memahami aturan keluarga. Mereka mengalami kebingungan tentang mana yang diperbolehkan, mana yang harus dilakukan, dan mana yang tidak boleh dilakukan akibat perbedaan pendapat di antara kedua orang tua mereka. Seringkali ketika ayahnya mengatakan iya untuk suatu hal namun ibu mengatakan tidak, begitu pula sebaliknya. Akibatnya anak-anak cenderung tidak terkendali dan berbuat semaunya. 

Untuk mengatasi hal ini hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyamakan konsep antara pasangan suami istri tersebut. Salah satunya dapat menggunakan multigenerational family therapy untuk lebih mengetahui bagaimana budaya dari masing-masing keluarga asal pasangan tersebut. Dengan terapi ini diharapkan dapat ditemukan masalah-masalah yang mungkin bersifat multigenerasi dari masing-masing pihak dan mencari jalan tengah dari perbedaan tersebut. 

Perbedaan tersebut perlu diselesaikan secepatnya kemudian perlu disepakati norma-norma dan nilai-nilai bersama dalam keluarga. Pasangan tersebut harus menyamakan gambaran ideal mereka tentang sebuah keluarga yang baik bagi mereka berdua. Hal ini tidaklah mudah mengingat mereka berdua dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup berbeda bahkan mungkin berlawanan. 

Setelah itu perlu juga dilakukan Structural Family Therapy. Pasangan tersebut harus menciptakan struktur keluarga mereka yang baru dimana tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sturuktur yang baru ini diharapkan menjadi penyelesaian atas kebingungan struktur yang terjadi selama ini. 

Mengingat anak-anak yang masih kecil dimana sistem kognisi mereka belum berkembang secara sempurna, pelibatan mereka dalam terapi-terapi tersebut kurang begitu diperlukan. Anak-anak cukup menerima secara langsung kesepakatan yang dihasilkan orang tua mereka. Setelah orang tua menyepakati apa yang harus dilakukan, intervensi kepada anak-anak cukup menggunakan model pendekatan behavioris karena umur mereka yang masih kecil sehingga model pendekatan tersebut lah yang dirasa paling efektif.


*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

Sabtu, 18 Juni 2011

Menatap Masa Depan: Analisis Solution Focused Therapy

Masalah menjadi bagian dari kehidupan. Bahkan konon katanya hidup tanpa masalah berarti tidak mengalami kehidupan sepenuhnya. Begitu juga dalam kehidupan rumah tangga. Rumah tangga dibangun oleh dua orang yang saling mencintai, tetapi bukian berarti mereka tidak memiliki perbedaan. 

Perbedaan adalah suatu hal yang mutlak pasti ada meski kita telah berusaha untuk mengidentifikasikan diri kita pada pasangan kita atau sebaliknya. Selalu saja ada hal-hal yang bertentangan dan berpotensi menibulkan konflik. 

Di saat terjadinya konflik tersebut, banyak pasangan atau keluarga yang pada akhirnya tidak dapat menyelesaikan sendiri masalah tersebut sehingga membutuhkan bantuan orag lain. Di sinilah ilmu Psikologi berperan. Psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu baru menawarkan pemahaman tentang manusia secara personal. Pemahaman ini nantinya dapat dikembangkan sebagai sebuah alat untuk membantu mengatasi permasalahan manusia. 

Untuk masalah keluarga telah banyak terapi yang dikembangkan. Mulai dari terapi naratif, terapi struktur keluarga, dan sebagainya. Salah satu terapi yang cukup popular dikenal adalah Solution Focus Therapy atau Terapi Berfokus pada Solusi. Terapi ini termasuk dalam Brief Therapy atau terapi singkat yang dapat dilakukan dalam waktu yang relatif sedikit (dibandingkan bentuk terapi lain) untuk mengatasi masalah yang ada. 

Keunikan terapi ini ada pada bagaimana memandang suatu permasalahan yang ada. Pada umumnya ketika kita menghadapai permasalahan yang ada, kita mencoba menggali lebih dalam mengenai permasalahan tersebut. Mulai dari apa penyebabnya, siapa saja yang terlibat, mengapa itu menjadi suatu masalah tersendiri, dan sebagainya. 

Namun terapi ini cukup berbeda. Seolah melewati begitu saja fase pemahaman akan suatu masalah, terpai ini justru langsung merujuk pada solusi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Terapi ini berfokus pada saat ini dan sekarang. Masalah dipandang sebagai sesuatu yang terjadi pada masa lampau dan tidak dapat diubah kembali. Terlalu lama berlarut dalam masalah yang terjadi pada masa lalu tidak akan menghasilkan kemajuan apapun, sehingga cara terbaik yang dapat dilakukan adalah berfokus pada saat ini dan menatap masa depan dengan memikirkan tindakan yang dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. 

Dalam terapi ini, psikolog atau konselor akan bertindak secara aktif terhadap klien dengan menggunakan miracle questions. Konselor atau psikolog akan bertanya banyak hal kepada klien namun pertanyaan inilah yang akan menuntun klien untuk mencari solusi. Berbeda dengan kebanyakan pendekatan dimana pertanyaan diajukan untuk menimbulkan pemahaman klien akan masalah tersebut. 

Pertanyaan-pertanyaan ini menggunakan bahasa yang psoitif dan berfokus pada hasil. Pertanyaan ini juga sebisa mungkin menghindari untuk mengarahkan klien pada masa lalu. Klien diarahkan untuk mencari tahu sendiri apa yang bisa dirinya lakukan saat ini untuk mengatasi masalahnya daripada harus tenggelam dalam masalah tersebut. 

Namun bentuk terapi ini tidak semudah yang tampak. Orang pada umumnya akan mencoba menggali terlebih dahulu masalah yang mereka hadapi secara lebih mendalam. Terlebih adanya anggapan dengan mengetahui dan mendalami permasalahan yang ada kita akan menjadi mampu untuk menyelesaikannya. Hal ini dianggap akan membuang-buang waktu yang ada. Mengarahkan klien untuk tetap berfokus pada masa depan dan solusi dengan mengkerdilkan gagasan untuk mendalami masalah tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. 

Selain itu kritik terbesar dari bentuk terapi ini adalah terapi ini hanya menghasilkan solusi yang sifatnya instan dan tidak permanen. Penghindaran terhadap sumber dan esensi dari masalah yang dihadapi diperkirakan akan meningkatkan kemungkinan seseorang mengulangi kesalahan yang sama hingga menimbulkan masalah tersebut kembali terulang. 

Dari sekian kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, pada akhirnya terapi ini cukup efektif dalam mengatasi masalah-masalah yang ada dalam waktu singkat. Terlebih jika masalah-masalah yang dihadapi bukan masalah yang berat dan mendalam.


*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

Jumat, 17 Juni 2011

"Dosa" Warisan: Analisis Multigenerational Family Therapy

Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini menggambarkan bahwa sikap seorang anak pada akhirnya tidak berbeda jauh dengan orang tua mereka. Banyak teori Psikologi yang membenarkan anggapan ini. Orang tua sebagai figur yang paling lekat pada anak (dalam kondisi pada umumnya dan kecuali pada kasus-kasus tertentu) merupakan contoh ideal bagi anak dalam berperilaku. 

Konsep Modelling dari Bandura misalnya, dengan orang tua sebagai seorang figur lekat dan paling sering berinteraksi dengan anak maka wajar jika anak seringkali juga meniru perilaku orang tuanya. Perilaku ini tanpa disadari terus dilakukan dan diulangi hingga pada akhirnya menjadi karakter anak tersebut. 

Dalam sudut pandang yang lebih besar pada akhirnya antara anak dan orang tua nantinya akan muncul kemiripan sifat-sifat tertentu. Sehingga bisa dikatakan akan muncul semacam sifat-sifat yang tampak seolah diwariskan dari orang tua ke anaknya. Warisan ini terus menerus berlangsung hingga beberapa generasi secara turun menurun. Hanya saja ternyata tidak hanya sifat yang diwariskan secara turun menurun tetapi juga seringkali simtom-simtom atau penyakit psikologis menjadi bagian dari warisan tersebut sehingga menjadi sebuah masalah yang berulang dari generasi satu ke generasi yang lain. 

Murray Bowen adalah seorang dokter bedah hingga ketika dia sedang bertugas dalam medan perang mendapatkan suatu ketertarikan tertentu. Dengan mengamati berbagai macam masalah psikis yang terjadi pada tentara dia menjadi tertarik dalam ilmu kejiwaan yang pada akhirnya menuntun dirinya beralih ke psikiatri. 

Bowen menciptakan sebuah terapi keluarga yang didasarkan pada teori-teori yang dia susun terhadap permasalahan keluarga yang sering terjadi dan ditelitinya. Terapi tersebut disebut Multigenerational Family Therapy atau Terapi Keluarga Multigenerasi. Terapi ini didasarkan pada delapan konsep utama dalam teorinya. 

Salah satu konsep tersebut adalah apa yang disebut sebagai Family Projection Process yang dapat menjelaskan mengapa suatu masalah psikologis keluarga dapat terus menerus terulang dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Misalnya saja dalam suatu keluarga dimana sang ibu memiliki kekhawatiran berlebih pada anak-anaknya. Maka ada kemungkinan anak-anaknya nanti ketika menjadi orang tua juga akan memiliki sikap yang sama dan akan terus diwariskan hingga cucu, buyut, dan seterusnya. 

Dalam bahasa sederhana, proses pewarisan penyakit atau simtom psikologis ini mirip dengan konsep self-fullfiling prophecy yang disusun oleh Robert K. Merton. Orangtua memproyeksikan ketakutan atau simtom psikologis pada anak mereka hingga tanpa disadari mempengaruhi perilaku mereka yang memposisikan sang anak untuk beringkah laku seperti yang diproyeksikan orang tua mereka. 

Proses proyeksi tersebut terdiri dari tiga langkah sebagai berikut: 
  1. Orangtua menganggap bahwa ada sesuatu yang salah pada anak tersebut dan fokus terhadapnya 
  2. Orangtua melakukan interpretasi perilaku anak sesuai dugaan yang dimilikinya sehingga justru memperkuat dugaan tersebut (tidak secara objektif) 
  3. Orang tua memperlakukan anak seolah-olah memang ada sesuatu yang salah pada anak tersebut 

Misalnya ada seorang ibu yang selalu khawatir anaknya tidak mampu bersikap mandiri. Padahal yang terjadi sebenarnya anak tersebut biasa saja dan itu merupakan proyeksi dari ibu tersebut. Ibu lalu menjadi fokus terhadap perilaku anaknya dan kesalahan kecil saja ditafsirkan oleh ibu tersebut sebagai suatu pembenaran bahwa anaknya tidak dapat mandiri. Ketakutan ini kemudian berakibat pada sikap perilaku ibu tersebut, anak kemudian selalu dilayani karena ibu beranggapan bahwa anak tidak dapat melakukan segala sesuatunya sendiri sehingga selalu memerlukan bantuan orangtuanya. 

Sikap ini menyebabkan anak selalu dilayani dan dipenuhi kebutuhannya. Akbitanya anak tidak pernah bisa belajar mandiri karena terbiasa dilayani. Perilaku ini terus dibawa hingga si anak tersebut menjadi orang tua. Karena ketakutan yang sama bahwa anaknya nanti juga tidak dapat menjadi mandiri, maka pola ini terus diulang dan diulang hingga beberapa generasi yang berakibat pada munculnya masalah psikologis yang sama dalam berbagai generasi keluarga. 

Oleh karena itu menurut Bowen salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan suatu masalah keluarga adalah apakah ada faktor warisan dalam permasalahan tersebut. Bisa jadi masalah yang terjadi merupakan masalah yang terus berulang selama beberapa generasi dan merupakan bentuk warisan. 

Hal ini bisa digali melalui genogram maupun pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai hubungan dalam keluarga besar dan pengalaman masa kecil orang tua. Jika memang itu penyebabnya, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikutnya untuk mengatasi masalah tersebut hingga pada akhirnya keluarga tersebut menemukan pemecahan dari masalah mereka.


*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

Kita Mahasiswa #3

Saya kutipkan untuk teman-teman yang akan berjuang membangun masyarakat dari buku yang sama dengan sebelumnya (Di Jawa-Mulder). Semoga Indonesia makin maju dan kehidupan semakin baik serta kita semakin sadar diri.
Mereka menyebut diri relawan dan agak sombong tentang sebutan itu. Yang menarik perhatianku adalah formalitasnya. Karena tidak banyak pekerjaan di kantor, mereka berempat memperbaiki cara penugasan dan membagi-bagi tugas menulis surat. Bersama-sama, mereka bisa mengisi sehari penuh dengan pekerjaan yang sebetulnya bisa diselesaikan oleh satu orang dalam waktu tiga jam. Tidaklah heran mereka tampak bersungguh-sungguh dan bersemangat menjelaskan bahwa sasaran mereka adalah membantu  penduduk desa untuk memperbaiki tingkat kehidupan mereka. -"Kami akan mengarahkan mereka, tapi sebelum bisa melakukannya, kami akan mensurvey dulu dua desa yang telah kami pilih. Kami harus tau apa yang mereka butuhkan." -"Mengapa tidak ditanyakan saja pada mereka?" -"Tuan, kami ini mahasiswa; kami melakukannya secara ilmiah."

Ilmiah adalah kata yang sering disalahartikan di negara ini. Ketika kutayakan bagaimana mereka akan melaksanakan segala sesuatunya dan apakah mereka memiliki pengalaman tentang kehidupan desa dan di bidang pertanian, mereka memandangku dengan pilu. -"Kami akan melakukan survei dulu, barulah kami tahu apa yang mereka butuhkan. Lalu, kami menunjuk seorang key person yang bertugas meyakinkan mereka bahwa itulah yang mereka butuhkan. Kami menyediakan keahlian, penduduk desa menyediakan tenaga kerja." Aku ingin tahu apakah mereka memikirkan proyek percontohan, rencana peragaan, seperti yang dilakukan oleh relawan Peace Corps yang sering menjelaskan tekniknya dengan cara benar-benar melakukannya. Lagi-lagi, mereka menatapku seakan aku ini orang planet lain, "Kami ini mahasiswa. Yang kami tawarkan adalah pengetahuan."

Mereka mengingatkanku pada foto favorit Klaas. Dalam foto itu dia tampak bersama sekelompok mahasiswa  pertanian dan beberapa petugas di tepi sawah. Semuanya berpakaian rapi dan meskipun foto itu diambil di akhir hari pemeriksaan dan hari survei, hanya Klaas yang sepatu larsnya berlumpur. -"Orang-orang ini sangat tidak praktis dan menjengkelkan penduduk desa. Mereka datang membawa berbagai macam saran yang muluk-muluk dan agak kaku, dan tidak menyadari bahwa penduduk desa diam-diam menertawakan mereka."

Kamis, 16 Juni 2011

Kita Mahasiswa #2

Mahasiswa bergantung pada dosennya. Mereka menerima ajaran dosen, padahal isinya hanya ulangan dari pengetahuan yang itu-itu juga. Mereka tidak dilatih untuk berpikir, hanya menghapal. Kadang mereka menggunakan buku ajar terbitan Amerika -yang tidak mereka pahami- yang diterima sebagai kebenaran mutlak, seperti kebenaran Alquran, yang semua contohnya benar-benar mencengangkan. Tapi, tidak mengapa. Sejumlah orang bahkan berpendapat bahwa buku-buku semacam itu berisi rumus untuk bisa maju. Amerika identik dengan kemajuan.

Jelas cara ini tidak menuntun orang untuk berpikir kritis, untuk bernalar dan menggali pikiran sendiri. Jika semua melakukan itu, berpikir kritis dan sebagainya itu, mahasiswa akan tampak mencolok seperti jempol yang luka. Melakukan semua itu akan menunjukkan sikap tidak sependapat dengan dosen, bahkan mungkin membuatnya tampak bego. Tetapi hal seperti itu tidak terjadi, ajaran dosenlah yang benar dan seminar hanyalah basa-basi belaka. Orang tertua atau yang paling terpandang di antara hadirinlah yang akan menjadi orang pertama yang memberikan komentar., baik komentarnya itu relevan atau benar-benar melenceng. Lalu, secara hierarkis, pemberi komentar berangsur-angsur menurun sampai ke mahasiswa yang, karena kendala waktu, boleh dikatakan tidak akan pernah dipedulikan.

Saya kutip dari buku Di Jawa karangan Niels Mulder, tampaknya cukup penting.

Selasa, 14 Juni 2011

Kita Mahasiswa #1


Dari segi budaya, banyak yang akan menghambat kemajuan yang cepat. Para mahasiswa berpikir seperti birokrat dan banyak bercita-cita menjadi pegawai negeri. Bagi mereka, menjadi pegawai negeri adalah suatu kebanggan. Mereka memburu ijazah, kualifikasi formal, yang sama sekali tidak mencerminkan kompetensi atau kemampuan yang hakiki. Selain kecilnya peluang kerja, orang juga tidak terbiasa bekerja keras. Mereka berusaha menyesuaikan diri dengan salah satu posisi, mematuhi atasan, dengan cara yang sama dengan mengisi tempatnya sendiri dan memenuhi kewajiban dalam kelompok kerabatnya. (Mulder, 2007)



Sebuah paragraf yang menggambarkan keadaan mahasiswa yogyakarta pada tahun 1970an. Masihkah demikian?

Selasa, 07 Juni 2011

Apa itu Bahagia?

Konon, kebahagiaan adalah tujuan utama dari kehidupan. Manusia senantiasa berusaha dan bekerja untuk meraihnya. Kebahagiaan ibarat keadaan hidup yang paling ideal dan menyenangkan. Namun apa sebenarnya kebahagiaan itu? 

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan bahagia sebagai keadaan senang dan tentram (bebas dari sesuatu yang menyusahkan). Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa bahagia adalah suatu keadaan dan bukan benda. Sedangkan kebahagiaan berarti kesenangan atau ketentraman itu sendiri. Jadi secara harafiah bahagia atau kebahagiaan merupakan suatu keadaan. 

Sayangnya tidak semua orang bisa merasakan keadaan tersebut. Maka kemudian para ilmuwan mencoba mencari-cari apa sebenarnya yang membuat manusia mengalami kebahagiaan. Salah satu pendekatan yang mempelajarinya adalah Indigenous Psychology yang sedang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada. 

Dengan metode open questionnaire mencoba menggali hal-hal yang membuat orang berbahagia. Dari pertanyaan tentang peristiwa yang paling membuat seseorang bahagia, maka ditariklah poin-poin untuk mencari tahu apa sebenarnya faktor-faktor penyebab kebahagiaan tersebut. 

Penelitian menunjukkan bahwa untuk masyarakat Indonesia situasi-situasi yang paling membuat bahagia adalah yang erat kaitannya dengan hubungan sosial. Hal ini cukup masuk akal mengingat Hoffstede mengkategorikan Indonesia sebagai negara yang cenderung kolektif dan memiliki ikatan atau hubungan sosial yang kuat. 

Seperti telah didefinisikan secara harafiah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa bahagia juga berarti bebas dari suatu keadaan yang menyusahkan. Maka penelitian tersebut juga memfokuskan untuk mencari tahu peristiwa-peristiwa yang membuat orang merasa sedih dan marah. Hasilnya pun tidak jauh berbeda dimana peristiwa yang berkaitan dengan faktor hubungan sosial menjadi yang paling banyak. 

Pertanyaannya apakah apabila kita memiliki hubungan sosial yang baik maka kita akan merasa bahagia? Dalam pendekatan Indigenous Psychology dikenal istilah understanding people in their context. Artinya bahwa tiap-tiap manusia harus dipahami sesuai keadaannya atau konteksnya masing-masing salah satunya adalah masalah kultural. Meski penelitian di Indonesia menunjukkan situasi yang berkaitan dengan hubungan sosial seringkali berhubungan erat dengan kebahagiaan tetapi bukan berarti itu dapat digeneralisasikan. 

Dalam budaya yang berbeda bisa jadi orang bahagia atas situasi yang jauh berbeda. Masyarakat Indonesia mungkin bisa saja merasa bahagia ketika dalam situasi-situasi yang berkaitan dengan hubungan sosial, tetapi bagi masyarakat lain di Eropa misalnya dimana hubungan sosial dianggap sebagai suatu hal yang sifatnya privasi dibanding urusan pekerjaan mungkin kebahagiaan mereka sedikit banyak lebih terpengaruh pada hal-hal yang sifatnya prestasi misalnya atau capaian. 

Dalam konteks yang sama pun masih diperdebatkan apakah temuan ini bisa digunakan secara terbalik. Misalnya saja dari data diketahui bahwa pada masyarakat Indonesia seringkali situasi yang sangat membahagiakan adalah situasi-situasi yang berhubungan dengan hubungan sosial dan prestasi. Maka apakah masyarakat Indonesia yang memiliki prestasi dan hubungan sosial yang bagus berarti dirinya bahagia? Apakah jika tidak memiliki hal-hal tersebut berarti kita tidak bahagia? 

Dalam paradigma ini kebahagiaan dipandang sebagai sesuatu yang bersyarat. Individu akan merasa bahagia dalam situasi-situasi tertentu dan jika tidak mengalami situasi tersebut maka individu menjadi tidak bahagia. Kebahagiaan dianggap sebagai sebuah benda abstrak yang harus dicari dan didapatkan padahal pada definisi awal dijelaskan bahwa bahagia merupakan suatu keadaan, bukan benda. Jikalau memang kebahagiaan dibatasi oleh waktu-waktu atau keadaan-keadaan tertentu, maka kebahagiaan tersebut hanya dipandang sebagai emosi atau suasana hati (mood). 

Menurut pendapat saya, kebahagiaan adalah sesuatu yang sifatnya personal dan berasal dari dalam diri. Sehingga meskipun kita berusaha menghadirkan faktor-faktor atau situasi-situasi yang seringkali membuat orang sangat bahagia pada suatu individu tertentu maka bukan berarti individu tersebut akan merasakan bahagia atas semua itu. 

Banyak buku-buku dan pakar yang mencoba mengajarkan manusia agar hidup bahagia. Kebanyakan dari mereka menjelaskan tentang konsep kebahagiaan yang tidak bersyarat. Kebahagiaan diperoleh tidak dengan mendapatkan suatu keadaan atau situasi tertentu tetapi dengan mengubah cara pandang kita terhadap keadaan kita saat ini. Dalam konsep kebahagiaan tak bersyarat ini kebahagiaan dipandang sebagai suatu keadaan yang konstan dan tidak hanya muncul pada situasi-situasi tertentu saja. 

Sebuah falsafah Jawa yang disebut Ngelmu Begja yang disusun oleh Ki Ageng Suryomentaram juga menjelaskan tentang dinamika rasa senang dan susah. Rasa senang dan susah diperoleh dari selisih antara kenyataan dan harapan. Jika kenyataan lebih besar daripada harapan maka akan timbul rasa senang dan sebaliknya. Intinya untuk dapat selalu merasakan kebahagiaan kita harus menekan harapan serendah mungkin sehingga apapun kenyataan yang kita dapatkan akan membuat kita merasa senang. Konsep ini dalam falsafah Jawa hampir mirip dengan konsep Nrimo ing Pandum atau dalam ajaran agama kita sering mengenalnya sebagai syukur. 

Hingga saat ini para ilmuwan pun masih memperdebatkan tentang kebahagiaan itu sendiri. Ada berbagai teori yang mencoba menjelaskan tentang kebahagiaan mulai dari Rogers yang melihatnya hanya sebagai efek samping hingga ilmuwan-ilmuwan yang menganggap itu merupakan tujuan dari kehidupan. Penelitian-penelitian pun terus berkembang mencoba mendefiniskan kebahagiaan agar nantinya dengan temuan tersebut semua orang bisa merasakannya. To Have Happy or to be happy?




*) ditulis sebagai tugas mata kuliah Isu-isu Kontemporer Psikologi Sosial

Sabtu, 04 Juni 2011

Bebas

Demokrasi bukanlah tentang kebasan menyatakan suatu pendapat, tetapi tentang menghargai pendapat orang lain terlebih jika itu berbeda

Macet

Salah satu isu yang selalu populer di ibukota kita adalah kemacetan lalu lintas yang semakin parah. Gawatnya, isu itu kini mulai mengancam Yogyakarta. Jalanan Yogyakarta secara perlahan tapi pasti mulai mengalami kepadatan yang menjadi-jadi. Terlebih pada pagi hari dan sore hari di jalan-jalan utama menuju pusat kota.

Mulai dari mobil roda empat, truk, bis, becak, sepeda motor, sepeda, andong, dan sebagainya memadati jalanan kota Yogyakarta setiap harinya. Berbondong-bondong menuju segala arah dari berbagai penjuru kota dan luar kota.

Salah satu penyebab kemacetan ini adalah semakin banyaknya jumlah kepemilikan kendaraan pribadi yang tidak diimbangi oleh pembangunan infrastruktur jalan. Mengenai hal ini ada dua sisi yang harus kita perhatikan. Dari sisi positif kita harus bersyukur karena kemacetan yang terjadi merupakan pertanda banyaknya orang kaya (atau setidaknya anak orang kaya) di Indonesia. Bisa juga merupakan pertanda bahwa teknologi kini semakin terjangkau oleh masyarakat. Dalam batas ini maka kemacetan yang terjadi hendaklah membuat diri kita semakin bersyukur.

Pada sisi lain ini merupakan suatu ancaman yang serius. Transportasi merupakan salah satu komponen penting  terlebih dalam masyarakat yang semakin dinamis seperti saat ini. Kemacetan akan menimbulkan berbagai dampak negatif yang merugikan dan ini harus segera diatasi.

Selamatkan Yogyakarta
Permasalahan kemacetan ini harus ditanggulangi secara komprehensif dan mustahil dapat diatasi hanya dengan satu atau dua langkah kebijakan saja. Harus ada berbagai kebijakan dari pemerintah dan masyarakat yang saling mendukung satu sama lain. Ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi para calon walikota Yogyakarta yang baru (semoga mereka menyadari masalah ini).

Beberapa langkah yang bisa diambil misalnya dengan menggalakkan penggunaan sepeda. Beberapa program telah dicanangkan dan dilaksanakan oleh pemerintah kota maupun Provinsi mulai dari Sego Segawe hingga Segoro Amarta untuk mendorong penggunaan sepeda. Jalur khusus, tempat pemberhentian di persimpangan, dan tempat parkir khusus sepeda juga telah disediakan. Beberapa kantor dan kampus (misalnya UGM) juga melakukan kampanye penggunaan sepeda. Program ini sendiri juga mendapat dorongan terlebih ketika saat ini sedang menjamur demam sepeda fixie. Secara perlahan pengguna sepeda di Yogyakarta menjadi semakin meningkat. Namun masalah kemacetan tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu kebijakan ini saja.

Salah satu jawaban yang sering dilontarkan untuk menghadapi masalah ini adalah dengan kendaraan umum. Jalur kereta api misalnya, dengan adanya jalur kereta Pramex yang mulai digalakkan kembali oleh pemerintah memberikan alternatif kendaraan cepat antar kota. Sehingga kemacetan jalanan sebagian dapat dialihkan pada jalur kereta api. Hanya saja jalur kereta ini hingga saat ini baru menghubungkan wilayah Timur-Barat, padahal tidak dapat dipungkiri banyak masyarakat yang tinggal di Bantul dan Sleman yang mencari nafkah di Yogyakarta. Sehingga mungkin perlulah kiranya dipikirkan tentang pembangunan jalur kereta Utara-Selatan mengingat banyaknya para penglaju dari kedua daerah tersebut.

Selain kereta api model transportasi massal lainnya yang sering diperbincangkan adalah bus. Meski begitu keluhan utama dari model transportasi ini adalah kenyamanan. Pemerintah telah mencoba secara terbatas membuat proyek TransJogja yang berusaha menyediakan transportasi bus yang nyaman. Namun seringkali proyek ini diplesetkan hanya sebatas transportasi wisata dan bukan transportasi umum. Terlebih biayanya yang relatif lebih mahal dan lebih repot dibandingkan bus lainnya.

Hal lain yang turut berpengaruh pada kemacetan adalah adanya budaya parkir. Di Yogyakarta kita bisa dimana saja memarkirkan kendaraan kita di bahu jalan. Parahnya seringkali toko tidak menyediakan lahan parkir yang memadai. Terlebih pada pedagang kaki lima (jualan aja di trotoar apalagi parkir). Meski telah muncul peraturan yang melarang penggunaan jalan nasional sebagai lahan parkir namun pada prakteknya hal tersebut tidak bisa serta merta diterapkan. Perlu ada langkah pasti selain melakukan pelarangan yaitu menyediakan kantong-kantong parkir khusus. Perlu ditanamkan juga pada para pebisnis untuk merambah usaha parkir (karena tidak semua kantong parkir dapat disediakan oleh pemerintah). Lebih bagus lagi jika pemerintah memfasilitasi warga sekitar untuk membuka koperasi usaha kantoing parkir di wilayah-wilayah tertentu menggunakan tanah masyarakat. Baru setelah kantong parkir tersedia pelarangan dapat secara efektif dilakukan.

Berubah
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pemecahan masalah kemacetan di Yogyakarta tidak bisa diselesaikan begitu saja dengan satu atau dua kebijakan. Yang utama adalah adanya sinergi antara masyarakat dan pemerintah untuk secara bersama-sama mengatasi masalah tersebut.

Penyediaan sarana prasana yang memadai dan nyaman semisal kereta komuter, bus nyaman, dsb tidak serta merta akan mengatasi masalah. Ada sebuah konstruk budaya yang perlu dibangun juga selain sarana fisik. Sebuah pengorbanan untuk kepentingan bersama.

Kendaraan umum dan fasilitas umum tentunya tidak akan senyaman kendaraan dan fasilitas pribadi. Contohnya saja mengapa kita harus naik bus dimana kita perlu berjalan dan tidak fleksibel sementara kita memiliki mobil pribadi yang nyaman. Mengapa kita perlu parkir di lokasi kantong-kantong parkir tertentu jika kita bisa parkir di jalanan depan toko.

Disini harus ada kesadaran akan adanya kepentingan bersama. Transportasi yang nyaman dan lancar tentu menjadi idaman semua orang, namun ketika semua orang merasa paling berhak dan tidak ada yang mau mengalah tentu itu semua hanya akan menjadi utopia. Perlu pengorbanan demi kepentingan bersama.

Mulailah dari yang sederhana. Misalnya menggunakan sepeda motor untuk perjalanan dengan jumlah orang sedikit tentu akan mengurangi kemacetan meski itu tidak lebih nyaman daripada menggunakan mobil. Atau lebih bagus lagi jika memang jaraknya tidak terlalu jauh boleh lah kita berjalan kaki atau bersepeda. Menggunakan transportasi umum juga bisa menjadi salah satu solusi sederhana yang dapat kita lakukan. Sediakan juga fasilitas parkir untuk pelanggan kita dan kendaraan kita. Jangan sampai mengganggu kenyamanan pengguna kendaraan lain. Patuhilah tata tertib lalu lintas.

Dari hal kecil seperti kepakan sayap kupu-kupu di China bisa saja itu menjadi sebuah badai Tornado di Amerika. Butterfly Effect.