Jumat, 17 Juni 2011

Kita Mahasiswa #3

Saya kutipkan untuk teman-teman yang akan berjuang membangun masyarakat dari buku yang sama dengan sebelumnya (Di Jawa-Mulder). Semoga Indonesia makin maju dan kehidupan semakin baik serta kita semakin sadar diri.
Mereka menyebut diri relawan dan agak sombong tentang sebutan itu. Yang menarik perhatianku adalah formalitasnya. Karena tidak banyak pekerjaan di kantor, mereka berempat memperbaiki cara penugasan dan membagi-bagi tugas menulis surat. Bersama-sama, mereka bisa mengisi sehari penuh dengan pekerjaan yang sebetulnya bisa diselesaikan oleh satu orang dalam waktu tiga jam. Tidaklah heran mereka tampak bersungguh-sungguh dan bersemangat menjelaskan bahwa sasaran mereka adalah membantu  penduduk desa untuk memperbaiki tingkat kehidupan mereka. -"Kami akan mengarahkan mereka, tapi sebelum bisa melakukannya, kami akan mensurvey dulu dua desa yang telah kami pilih. Kami harus tau apa yang mereka butuhkan." -"Mengapa tidak ditanyakan saja pada mereka?" -"Tuan, kami ini mahasiswa; kami melakukannya secara ilmiah."

Ilmiah adalah kata yang sering disalahartikan di negara ini. Ketika kutayakan bagaimana mereka akan melaksanakan segala sesuatunya dan apakah mereka memiliki pengalaman tentang kehidupan desa dan di bidang pertanian, mereka memandangku dengan pilu. -"Kami akan melakukan survei dulu, barulah kami tahu apa yang mereka butuhkan. Lalu, kami menunjuk seorang key person yang bertugas meyakinkan mereka bahwa itulah yang mereka butuhkan. Kami menyediakan keahlian, penduduk desa menyediakan tenaga kerja." Aku ingin tahu apakah mereka memikirkan proyek percontohan, rencana peragaan, seperti yang dilakukan oleh relawan Peace Corps yang sering menjelaskan tekniknya dengan cara benar-benar melakukannya. Lagi-lagi, mereka menatapku seakan aku ini orang planet lain, "Kami ini mahasiswa. Yang kami tawarkan adalah pengetahuan."

Mereka mengingatkanku pada foto favorit Klaas. Dalam foto itu dia tampak bersama sekelompok mahasiswa  pertanian dan beberapa petugas di tepi sawah. Semuanya berpakaian rapi dan meskipun foto itu diambil di akhir hari pemeriksaan dan hari survei, hanya Klaas yang sepatu larsnya berlumpur. -"Orang-orang ini sangat tidak praktis dan menjengkelkan penduduk desa. Mereka datang membawa berbagai macam saran yang muluk-muluk dan agak kaku, dan tidak menyadari bahwa penduduk desa diam-diam menertawakan mereka."

0 comments: