Kamis, 18 Desember 2014

Dunning-Kruger

I know that i'm intelligent, because i know that i know nothing (Socrates)

Orang bijak pernah berkata bahwa satu-satunya hal yang paling berharga dan tidak akan habis dimakan waktu adalah ilmu. Namun tampaknya orang itu tidak sepenuhnya bijak karena kini kita tahu, bahwa pada akhirnya ilmu juga akan lekang dimakan oleh waktu.

Dahulu kita yakin bahwa bumi adalah pusat alam semesta dan beberapa ratus tahun kemudian baru kita sadari bahwa hal tersebut salah. Namun kini sebuah tekonologi yang baru diciptakan kurang dari sepuluh tahun yang lalu sudah tidak lagi mendapatkan tempat di masyarakat. Dunia begitu cepat berubah, dan ilmu semakin cepat berkembang.

Maka ketika kita yakin bahwa kita cukup pintar, maka di saat itulah kita sadar bahwa kita tidak tahu apa-apa. Hanya orang yang tidak tahu yang merasa dirinya paling tahu.

Be Stupid (jacac.deviantart.com)

Mungkin saat ini kita cukup pintar, namun harus kita terima pada akhirnya nanti kita akan tertelan oleh waktu. Ketika ilmu kita sudah tidak lagi berguna dan generasi setelah kita jauh lebih pintar daripada kita. Maka apakah yang tersisa dari diri kita?

Minggu, 23 November 2014

Melihat

Di dunia yang serba transparan ini, semua informasi yang kita inginkan dapat kita peroleh. Mulai dari fakta bahwa babi berkaki empat pun kita temukan juga bahwa sebagian babi berkaki tiga. Informasi begitu banyak, namun otak kita terbatas. Kita tidak bisa memasukkan dunia ke dalam otak kita yang terbatas.

it's how you see the world (enaa.deviantart.com)

Maka kita hanya akan melihat apa yang ingin kita lihat, kita hanya mendengar apa yang ingin kita dengar, kita hanya ingin membaca apa yang kita ingin baca, kita hanya melihat fakta apa yang ingin kita lihat, kita hanya berpikir apa yang ingin kita pikirkan. Kita masih terkurung dalam kebodohan, dalam paradigma ego kita. Mungkin kita terlalu takut.

Dunia bukanlah dunia apa adanya, namun dunia adalah dunia yang kita pikirkan. Tetap terbuka.

Kamis, 30 Oktober 2014

Banding

Diantara seluruh lelaki/wanita yang pernah memasuki kehidupanmu, siapakah yang paling cantik/tampan? Siapa yang paling pintar? Siapa yang paling kaya? Kamu boleh menjumlahkannya, mengalikannya dengan bobot tertentu ataupun memberikan nilai dengan angka apapun. Lalu jawablah pertanyaan terakhir ini: apakah dia yang akan engkau pilih menjadi pendamping hidupmu? Atau yang lebih mendasar, tegakah kamu membandingkan kekasihmu dengan lelaki/wanita lain?

Lalu apa jadinya jika pacar atau kekasihmu saat ini membandingkan dirimu dengan mantan kekasihnya? Apakah kamu akan merasa bangga ketika mampu merendahkan orang lain? Bagaimana jika kamu yang ternyata lebih rendah, relakah?

Kawan, manusia bukanlah sesuatu yang bisa kau bandingkan begitu saja. Sadarilah bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya, namun bukan hak kita untuk menilai dan membandingkan. Manusia adalah makhluk berjiwa dan berperasaan, bukan sekedar objek dari justifikasi kita yang subjektif. Mereka tidak bisa dibandingkan satu dengan yang lain.

Kawan, yakinlah siapa mereka saat ini adalah yang terbaik yang dapat mereka raih. Kita tidak pernah tahu lingkungan seperti apa yang mereka hadapi sebelumnya. Yakinlah bahwa mereka saat ini adalah hasil dari sebuah proses dari perjalanan mereka menuju kesempurnaan. Dan kesempurnaan masing-masing orang tidaklah sama.

Compare (erinbird.deviantart.com)

Maka satu hal yang menjadi hak kita hanyalah untuk membuktikan kita lebih naik dari mereka. Bukan mencela, merendahkan atau membandingkan.

Setiap kali orang yang engkau rasa kurang baik muncul sebagai pemenang, maka bukanlah kebencian yang harus kau tanamkan. Tetapi rasa malu karena orang baik masih belum mampu menyamai kehebatan mereka.

Selasa, 28 Oktober 2014

Sumpah Istimewa

Apa yang membedakan sumpah pemuda dengan sumpah lainnya? Sudah sering aku mendengar para pemuda itu bersumpah, dan seringpula aku melihat bahwa mereka mengingkarinya. Mulai dari sumpah tentang kisah percintaan mereka, kenakalan yang mereka lakukan, janji yang tidak dapat mereka tepati, hingga idealisme yang luntur ketika mereka sudah tidak lagi menjadi pemuda. Sumpah mereka sama saja, tidak ada bedanya dengan kebanyakan manusia yang munafik dan menganggap Tuhan tidak ada sehingga tidak ada konsekuensi apapun terhadap sumpah yang mereka langgar.

Apa yang membedakan pemuda dengan orang lainnya? Sudah sering aku melihat pemuda bertindak dengan gegabah. Mereka merasa paling tahu di dunia ini, serta tidak mau tunduk terhadap sistem organisasi di dalam masyarakat. Mereka merasa paling tahu karena tidak tahu. Mereka sering bertindak tanpa dilandasi pemikiran yang mendalam. Mereka adalah kereta api yang meluncur dengan cepat tanpa adanya sistem pengereman yang memadai. Semua diterabas tanpa berpikir akan konsekuensinya.

Pemuda hanyalah sebuah fase kehidupan. Maka ketika kita tidak muda lagi, apakah lantas janji yang telah kita ucapkan otomatis gugur seiring perubahan status kita? Ataukah itu sumpah yang mengikat kita sepanjang hayat? Bagaimana pula dengan pemuda saat ini yang mereka tidak mengikuti sumpah di kala itu, akankah mereka juga terikat dengan sumpah yang diucapkan oleh pendahulunya?

Sumpah Pemuda (agoez-depe.deviantart.com)

Maka ketahuilah bahwa manusia itu dilihat dari pribadinya. Mereka yang tidak mampu mengikuti sumpah yang mereka ucapkan, tentu tidak bisa dianggap sebagai manusia. Selamat hari sumpah pemuda.

Rabu, 27 Agustus 2014

Logic

I love logic. Although love aren't logic.

Minggu, 17 Agustus 2014

Merdeka dari Hati

 
(source: kdri.web.id)
Dunia ini sempurna dengan setiap kekurangan dan kelemahannya masing-masing. Itulah mengapa Tuhan menciptakan manusia, untuk menjadi kekurangan dan kelemahan dari dunia, serta untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan tersebut. Sebongah demi sebongkah, sama halnya ketika kita membuat kerusakan di dunia. Dan dengan bantuan dari Sang Waktu maka hal yang sedikit itu perlahan menjadi banyak di luar apa yang mampu dibayangkan oleh manusia.

Maka sesuatu yang besar juga memiliki permasalahan dan kekurangan yang besar pula. Dunia ini adil. Di balik setiap kekuatan yang ada tersedia tantangan yang luar basa. Dan sekali lagi Sang Waktu hanyalah instrument netral. Dia akan mengalikan setiap kebaikan dan kekurangan yang ada sesuai dengan proporsinya masing-masing.

Enam puluh sembilan tahun adalah faktor pengali dari kebaikan dan kelemahan bangsa ini. Bukan berarti enam puluh sembilan tahun menunjukkan bahwa bangsa ini merdeka dari permasalahan, justru enam puluh sembilan tahun menunjukkan bahwa permasalahan bangsa ini lebih kompleks enam puluh sembilan kali dari awal kemerdekaan. Namun kekuatan kita juga enam puluh Sembilan kali lebih banyak dari awal kemerdekaan. Seharusnya.

Maka disinilah kita menambil peran. Dunia selalu memiliki sisi baik dan sisi buruk, pertanyanya adalah ada dimana kita selama ini dan berbuat apa di dalam sisi tersebut. Seseorang oleh berada di sisi yang buruk, namun disana dia mengajak orang-orang di dalamnya untuk berbuat kebaikan. Begitu pula seseorang bisa saja berada di sisi yang baik, namun di dalamnya dia mengajak orang-orang untuk berbuat kerusakan.

“Jadilah kamu manusia yang pada kelahiranmu semua orang tertawa bahagia, tetapi hanya kamu sendiri yang menangis dan pada kematianmu semua orang menangis sedih, tetapi hanya kamu sendiri yang tersenyum.” (Mahatma Gandhi)

Maka dimanapun kita berada, teruslah berusaha untuk berbuat kebaikan dan terus menerus membangun apa yang kita yakini sebagai kebaikan. Kita tidak bisa hanya berdiam diri dan berkata bahwa itu semua berada di luar kemampuan kita. Ingatlah bahwa dalam setiap keterbatasan terdapat sebuah pilihan. Dan mendiamkan keburukan adalah sama halnya dengan berbuat keburukan itu sendiri. Bertindaklah, tunjukkan bahwa kita berada dalam barisan orang-orang yang berusaha untuk berbuat kebaikan dengan berbagai cara.

Perjuangan ini belum berakhir. Kita boleh bangga bahwa Indonesia telah lepas dari jeratan utang IMF, namun kita harus ingat bahwa bukan berarti Indonesia kini tidak lagi berhutang. Kita boleh bangga bahwa pertumbuhan ekonomi kita cukup tinggi, namun kita harus ingat bahwa kita masih melakukan impor dalam jumlah yang banyak untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.

Permasalahan ini masih ada, dan akan terus ada seiring perkebangan manusia. Itulah mengapa Tuhan menciptakan mausia, untuk menyelesaikan permasalahan yang mereka ciptakan sendiri. Dan kita tiak bisa hanya berdiam diri dan mengatakan itu semua di luar kuasa kita. Ingatlah bahwa setiap permasalahan juga diciptakan oleh tindakan-tindakan kecil. Begitu pula bahwa setiap kebaikan juga akan disebarkan melalui setiap tindakan-tindakan kecil. Merdeka, dan tetap berusaha dimanapun, kapanpun dan dengan cara apapun. Merdeka dari dalam hati untuk bertindak.

Kamis, 26 Juni 2014

Cantik

Sebagian orang terlihat cantik sekilas pandang. Namun jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh, maka sebenarnya dia tidak secantik apa yang kita kira sebelumnya.

Sebaliknya, sebagian yang lain tampak biasa saja sekilas pandang. Namun jika kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh, barulah kita menyadari bahwa dia lebih cantik dari apa yang kita kira.

Sedangkan sisanya, mereka benar-benar cantik ataupun biasa saja. Memandang dengan intensitas yang lebih lama tidak akan mengubah pendapat kita.

Beauty (troyblue.deviantart.com)

Perhatikan

Rabu, 25 Juni 2014

Capres dan Islam

Kalau saya boleh berpendapat, maka pemilu kali ini adalah pemilu yang paling menyedihkan. Bukan karena kualitas demokrasi, banyaknya kecurangan, atau alasan lainnya, hanya saja pada pemilu presiden kali ini sangat banyak black campaign maupun negative campaign yang ditujukan menyerang salah satu pasangan atau pasangan lainnya. Salah satunya yang membuat saya miris adalah terkait dengan isu agama.

Terlebih lagi, seringkali pihak yang menyebarkan negative campaign maupun black campaign berasal dari kalangan aktivis Islam garis keras dengan mengangkat isu-isu dan tema-tema yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Bermodalkan informasi yang tidak jelas dan cenderung berat sebelah tersebut, kemudian muncul opini-opini yang menyudutkan pihak-pihak tertentu dengan mengatasnamakan agama. Bahkan seringkali opini-opini tersebut masuk ke tataran akidah dan seolah agama tertentu mewajibkan capres tertentu. Padahal stahu saya hingga saat ini tidak ada satu pun ayat al-quran ataupun hadis yang mengarahkan umat islam untuk memilih Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK.

(Sumber: lensaindonesia.com)

Yang justru ditekankan dalam hadis adalah bagaimana kita yang mengaku sebagai umat Islam dilarang untuk menjelekkan/merendahkan orang lain dengan berit yang memang benar adanya (negative campaign/ghibah) maupun berita palsu (black campaign/fitnah). Misalnya sesuai dengan surat Al-Hujurat berikut:

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (49:12)
Dalam ayat tersebut, Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya untuk menjauhi prasangka dan mencari-cari kejelekan orang lain. Allah SWT menyamakan orang-orang yang melakukan negative campaign maupun black campaign sebagai seorang yang memakan bangkai saudaranya sendiri (sebuah perilaku yang menjijikkan).

Maka sangat tidak antas kepada kita atau siapapun yang mengaku sebagai orang Islam, melakukan negative campaign maupun black campaign dengan alasan apapun. terlebih lagi jika tindakannya tersebut diklaim atas nama perintah agama Islam sementara di sisi lain Islam sendiri melalui Al-Quran telah menyatakan secara jelas bahwa tindakan tersebut sangat tidak disukai oleh Allah SWT.

Islam dan Politik

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia dimana mayoritas penduduknya tercatat beragama Islam, memiliki sejarah politik yang cukup panjang. Dalam hal ini kekuatan Islam yang menjadi mayoritas di negara ini berkali-kali pula diseret ke dalam kepentingan politik. Baik dari sebelum masa kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan. Imam Bonjol misalnya, melakukan perlawanan kepada Belanda dengan mengatasnamakan Islam.

Setelah masa kemerdekaan, berbagai kekuatan Islam pun unjuk gigi dalam perpolitikan Indonesia baik secara halus maupun secara kasar. Munculnya DI/TII dan NII misalnya, merupakan salah satu bentuk kemunculan kekuatan Islam dalam bentuk yang kurang halus. Secara internal pun kekuatan politik Islam cuku terlihat dari munculnya partai-partai Islam seperti Masyumi dan sebagainya.

Pada awal masa orde baru, kekuatan Islam dianggap sebagai salah satu tonggak untuk menyingkirkan faham komunis secara terang-terangan (melalui partai Komunis Indonesia). Komunis seringkali diseberangkan dengan faham Islam sehingga kekuatan Islam mau digerakkan oleh pemerintah saat itu untuk menyingkirkan komunis. Padahal belakangan mulai muncul kesadaran bahwa komunis dan Islam bukanlah faham yang bertentangan, banyak tokoh dalam partai Komunis Indonesia yang pada saat bersamaan merupakan tokoh masyarakat Islam. Itu semua hanya permainan politik saat itu untuk mendapatkan dukungan masyarakat muslim.

Pada masa orde baru pula sistem perpolitikan Indonesia dibuat lebih sederhana. Kubu muslinm disatukan ke dalam partai Persatuan Pembangunan. Meski pada kenyataannya banyak kekuatan Islam yang juga masuk ke dalam Golkar maupun Partai Demokrasi Indonesia. HMI maupun ICMI misalnya, pergerakan mereka untuk mendominasi kepengurusan Golkar terbilang cukup berhasil.

Kekuatan Islam seringkali hanya dimanfaatkan untuk memenuhi kepentingan politik tertentu. Sangat jarang terlihat para politisi maupun partai politik (bahkan yang mengatasnamakan Islam) tampak untuk membela kepentingan umat. Yang ada justru Islam dijadikan kedok untuk meraih kepentingan probadi mereka. Mari kita tengok daftar politisi yang juga merupakan tokoh muslim justru terlibat dalam berbagai tindak korupsi.

Kalau saya boleh berpendapat, justru para koruptor-lah yang lebih pantas dibilang sebagai orang kafir. Koruptor adalah para pencuri, dan mencuri dilarang didalam Islam sesuai ayat berikut:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksa dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.Maka barangsiapa bertaubat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (5:38-39)
Pada saat yang bersamaan, para koruptor menunjukkan ciri sebagai orang munafik seperti dalam hadis berikut:
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda, "Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika diberi amanah ia berkhianat"
Maka dalam hal ini, para koruptor adalah terdakwa dengan pasal berlapis. bagi saya para koruptor tersebut sudah tidak lagi pantas disebut sebagai orang Islam, tidak peduli apakah mereka kader dari partai Islam maupun tokoh Islam darimanapun. Mereka adalah orang yang mengaku sebagai orang Islam, namun mereka menginjak-injak aturan Allah SWT secara terang-terangan. 

Islamkah Kedua Kubu?

Jika kita menilik latar belakang politik kedua calon presiden, maka sesungguhnya keduanya tidak memiliki keterkaitan erat dengan kubu umat Islam. Prabowo besar dari latar belakang militer yang kemudian berkiprah dalam Golkar dan belakangan mendirikan Gerindra. Gerindra sendiri merupakan partai berhaluan sosialis yang seringkali berseberangan dengan kepentingan Islam. Sama halnya dengan PDI Perjuangan yang juga berhauluan sosialis. Terlebih lagi pada saat orde baru dimana sistem kepartaian disederhanakan menjadi tiga partai, PDI merupakan rumah bagi masyarakat non-muslim. Maka dari segi kepartaian keduanya sama-sama tidak memiliki latar belakang dukungan partai Islam.

Lain halnya dengan kedua calon wakil presiden. Hatta Rajasa berasal dari partai Amanat nasional, partai yang seringkali dianggap sebagai representatif dari umat muslim Muhammadiyah. Sedangkan Jusuf Kalla merupakan mantan ketua Himpunan Mahasiswa Islam, sebuah pergerakan islam d kalangan mahasiswa yang belakangan berhasil menguasai dominasi dalam tubuh partai Golkar. Keduanya memiliki latar belakang kepentingan politik Islam, meskipun saya berpendpat kedua organisasi tersebut pun tidak sepenuhnya menunjukkan nilai-nilai ke-Islam-an. Maka dalam hal ini kedua pasangan memiliki nilai yang sama.

Dari segi pendukung pun sama halnya, keduanya memiliki basis dukungan partai dan tokoh Islam. Di kubu Prabowo Hatta mereka memiliki dukungan dari partai-partai Islam semisal PPP, PKS, PAN, dsb. Sedangkan di kubu Jokowi JK mereka didukung oleh PKB. Meskipun belakangan kondisi akhir-akhir ini menunjukkan kedua kubu membawa gerbong kosong, artinya massa dari partai-partai tersebut akhirnya terpecah dan membela kedua kubu sesuai kehendak mereka. Sedangkan untuk tokoh Islam di luar sistem kepartaian dari kubu Prabowo Hatta muncul nama-nama seperti Said Aqil Sirodj dan Arifin Ilham. Sedangkan di kubu Jokowi JK muncul nama-nama seperti Hazim Musyadi dan Syafi'i Ma'arif. Dari segi ini, kubu Prabowo Hatta tampak memiliki dukungan lebih banyak tokoh Islam, meskipun jika kita melihat secara keseluruhan dukungan tokoh masyarakat ke Prabowo Hatta lebih banyak daripada ke Jokowi JK.

Meski demikian, fakta tersebut menunjukkan bahwa kedua pasangan sama-sama tidak memiliki track record keberpihakan kepada politik Islam dan keduanya juga sama-sama didukung oleh tokoh Islam. Maka dari itu, adanya tuduhan berupa black campaign dan negatif campaign untuk menjatuhkan keduanya dalam bentuk isu agama menurut saya sangatlah tidak beralasan. terlebih jika tuduhan tersebut justru disuarakan oleh kalangan aktivis Islam. Ibarat kata ketika Tuhan berfirman untuk tidak makan babi, kita kemudian justru memakan babi untuk berbuka puasa.

Pada akhirnya kedua pasangan memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Keduanya adalah putra terbaik bangsa. Kembali kepada kita untuk menentukan siapa yang akan kita pilih. Kita cukup memilih salah satu tanpa harus merendahkan pihak lain yang berbeda. Karena keduanya sama-sama baik.

Senin, 26 Mei 2014

Terima kasih, Bapak

Biru bukanlah warna nasional kita. Bahkan ketika biru bergabung dengan merah putih mengingatkan akan kepiluan di masa silam. Masa dimana nusantara digerayangi oleh bayang-bayang asing yang cukup lama sebelum akhirnya diusir oleh "saudara tiri" merah putih kita. Merah putih biru adalah Belanda, negeri yang seringkali dianggap telah menjajah bangsa kita selama tiga ratus lima puluh tahun.

Namun biru, telah memberi nuansa tersendiri selama satu dekade terakhir. Dimulai dari sebuah warna dengan intensitas yang cukup kecil di tahun 2004 sebuah siratan kecil yang tidak akan disangka menjadi dominan dalam dua kali lima tahun. Akan tetapi di bawah tangan dingin dari Bapak yang sering disebut sebagai ahlinya pencitraan, biru mampu menjadi dominan dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sebuah demokrasi tidak berjalan dengan tenang, namun disitulah demokrasi. Banyak hiruk pikuk selama sepuluh tahun terakhir, namun itu justru menguatkan arti demokrasi yang sesungguhnya. Demokrasi yang memberikan ruang atas ketidaksetujuan, tanpa mengganggu perjuangan yang sedang dilakukan. Bukan demokrasi yang saling menumbangkan kekuasaan ataupun mengkudeta kemakmuran suatu bangsa.

Sebuah pertumbuhan tidak berjalan dengan mudah, namun itulah arti dari perjuangan. Ekonomi kita tidak melesat menjadi yang terbaik, tetapi tumbuh konsisten menuju yang terbaik. Semua butuh proses. Siapa sangka di tahun 2008 dunia mengalami krisis namun kita hampir tidak merasakannya? Dan kini negara dunia ketiga yang selama ini dipandang sebelah mata mulai bangkit seiring perpindahan poros dunia yang tidak lagi terpusat kepada negara persatuan.

Sebuah keadilan yang hakiki hanya akan terwujud pada hari pembalasan, namun kita bisa berusaha mewujudkannya saat ini. Keadilan bukan berarti tidak ada penjahat, namun keadilan adalah tentang memberikan hukuman kepada yang berlaku jahat dan penghargaan kepada yang berlaku baik. Pada satu dekade ini banyak kasus korupsi bermunculan, namun itu berarti bahwa pengadilan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya intervensi dari penguasa yang ada.

Sebuah pemimpin yang baik bukanlah yang sempurna, namun yang melahirkan pemimpin-pemimpin lain yang lebih sempurna. Pada dekade ini pula mulai muncul tokoh-tokoh nasional yang disegani dalam bidangnya masing-masing. Seolah rakyat Indonesia yang pemalas mendadak menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Semua memiliki kesempatan untuk berusaha menjadi yang terbaik, dan berhasil. Impian itu belum terwujud, tetapi seolah memberikan kepastian bahwa itu pasti akan terwujud.

Maka terima kasih, semua pemimpin pasti memiliki kekurangan. Namun bukan berarti kita berhak untuk tidak menghargainya di kemudian hari. Kita harus berterima kasih kepada Soekarno atas kepemimpinannya di awal kemerdekaan, namun kita boleh tidak setuju dengan sikap otoriter dan kegemarannya menghamburkan kekayaan untuk monumen. Kita boleh marah atas sikap koruptif Soeharto beserta kroni-kroninya, namun kita harus tetap berterima kasih atas perjuangan pada awal masa orde baru dalam membuat rencana pembangunan yang berorientasi jangka panjang. Kita boleh tidak setuju dengan sikap Gus Dur yang sesuka hati, namun kita harus menghargai bahwa pada masanya semua orang merasa diterima dan setara dinegeri ini. Semua pemimpin memiliki tinta emas dan corengan arang dalam masa kehidupannya.

(source: zimbio.com)

Dan kepada Bapak, kami mengucapkan terima kasih atas stabilitas negeri selama satu dekade ini. Sebuah perjuangan yang tidak mudah mengingat banyak saudara kita yang mengalami berbagai pemberontakan dan kudeta dalam satu dekade terakhir. Terima kasih atas stabilitas ekonomi yang dibangun, dimana kita mampu terus merangkak ke atas di saat yang lain jatuh terkena gelombang krisis. Terima kasih atas demokrasi yang berhasil dijaga, dimana semua orang berhak menyampaikan kesetujuannya maupun ketidaksetujuannya tanpa adanya konsekuensi negatif atas tindakannya. Terima kasih atas keadilannya yang berhasil ditegakkan, meskipun korupsi masih banyak terjadi (bahkan di lingkaran terdekatnya) namun penegakan hukum tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Dan terakhir pada saat biru tidak lagi dapat bertahan di merah putih, Bapak memberikan pendidikan politik terbaik. Kemauan untuk memberikan kesempatan kepada semua pihak ketika putra mahkota terperosok ke lubang hitam, sikap kesatria untuk tidak mengemis namun memilih bersikap netral. Terima kasih.



update: netral? cuih... #shameOnYouSBY

Jumat, 02 Mei 2014

Terus Belajar dan Berkembang

Dua Mei, sebuah hari dimana orang biasa mengenalnya sebagai hari pendidikan nasional. Namun entah kenapa saya kurang setuju dengan istilah "pendidikan". Istilah itu seolah menempatkan manusia hanya sebagai objek dari sebuah sistem yang output-nya ditentukan oleh sistem, bukan oleh manusia. Pendidikan menempatkan manusia sebagai objek yang artinya manusia sebagai elemen utama dalam pendidikan justru bersifat pasif. Padahal manusia harusnya bersifat aktif dalam proses tersebut.

Orang berkata bahwa pendidikan adalah bentuk perlawanan dari tindakan penjajahan. Meski demikian, toh banyak orang berhasil melawan penjajahan tanpa mengenyam pendidikan. Tapi bukan berarti dia bodoh, mereka belajar. Tanpa pendidikan mereka dapat berkembang sendiri karena tekad dan kemauannya yang terwujudkan dalam aktivitas belajar mereka.

Maka belajar adalah sebuah proses aktif dan pendidikan adalah sebuah proses pasif. Lalu apakah salah pendidikan ketika seorang manusia memilih untuk tetap bodoh meskipun telah diberikan kesempatan berkali-kali untuk menikmati pendidikan? Lalu dimana harkat dan martabat seorang manusia yang memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang dikehendakinya?

Adalah lebih baik ketika ini semua tidak lagi berbicara tentang pendidikan, tetapi berbicara tentang kemauan untuk belajar. Sebuah usaha untuk lepas dari penjajahan, bukan sebuah treatment yang membuat kita lepas dari penjajahan. Maka kini saatnya kembali pada diri kita sendiri, sejauh mana usaha kita untuk belajar.

Belajar adalah suatu hal yang mudah, terlebih pada era keterbukaan dimana informasi dan pengetahuan mudah didapat. Maka bukan lagi salah Tuhan ketika ada orang yang tetap menjadi bodoh, tetapi salah orang itu sendiri yang memilih untuk tetap bodoh dan tidak mau berusaha untuk lepas dari kebodohan. Belajar adalah sebuah proses aktif yang harus didorong dari dalam pribadi, bukan dipaksakan.

Belajar adalah proses memasukan suatu pengetahuan ke dalam diri. Ada dua hal penting dari proses tersebut. Pertama, kemauan untuk membuka dan menerima sesuatu dari luar ke dalam diri. Tanpa adanya kemauan untuk membuka, sebesar apapun usaha untuk memasukkan pengetahuan akan percuma. Kedua adalah kemauan untuk menarik pengetahuan dari luar. Proses ini yang menunjukkan apakah seseorang bersifat pasif maupun aktif.

Pembelajar aktif akan berusaha sebanyak mungkin menarik pengetahuan dari luar untuk dimasukkan ke dalam diri. Sedangkan pembelajar pasif hanya tergantung dari sejauh mana sistem pendidikan berusaha memasukkan pengetahuan ke dalam diri. Itulah yang membedakan antara manusia (yang seharusnya aktif) dengan objek benda mati yang hanya dapat diberikan perlakuan tanpa menolak.

Bagi kita yang mengaku sebagai manusia, maka bukan lagi saatnya kita berbicara tentang pendidikan. Saatnya kita berbicara tentang belajar dan berkembang. Ada lebih dari seribu cara untuk belajar dan berkembang. Tergantung kepada diri kita untuk memilih dan melaksanakan apa yang kita inginkan.

Seorang manusia tentu berbeda dengan seekor burung yang kehidupannya dari generasi ke generasi tanpa progres. Seorang ahli bukanlah seseorang yang mampu mengerjakan apa yang biasa dikerjakan, tetapi juga apa yang biasa dikerjakan orang lain. Dunia terus berkembang,  dan berdiam diri adalah cara terbaik untuk mati perlahan. Jangan merasa bangga dengan apa yang kita capai selama ini.

Teruslah belajar, teruslah berkembang.

Rabu, 12 Maret 2014

Sebuah grafik tentang waktu dan perjalanan

Kadang aku iri, dengan orang lain dan kehidupannya. Dengan perjalanan mereka yang nampak sangat menyenangkan dan menantang. Dengan apa yang mereka miliki dan dapatkan dari dekade waktu yang sama kita hidup.

Kadang aku iri, aku ingin menjadi mereka. Berjalan di kehidupan mereka. Merasakan apa yang mereka alami. Menghirup udara yang menopang kehidupan mereka selama ini.

Kadang aku iri, ingin pergi dari jalan hidupku yang landai dan tenang. Yang hanya memberikan apa yang telah aku miliki selama ini. Yang selalu membuatku iri ketika aku berkumpul bersama mereka. Ketika mereka membanggakan perjalanan mereka.

Bukan aku tak berusaha. Beberapa kali kucoba menuju jalan mereka namun terhalang dengan tembok yang kokoh. Aku hanya yakin bahwa Tuhan tahu apa yang tidak aku tahu. Dan setiap kegagalan dari usahaku adalah karena Tuhan tahu bahwa itu bukan yang terbaik untukku. Untuk diriku yang masih meraba masa depan di dalam kabut ketidakpastian.

Inilah kali pertama dimana aku menciptakan berbagai skenario kehidupan, namun aku tidak yakin mana yang akan aku jalani.

Grass (bagi1992.deviantart.com)

Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, dan kita selalu membandingkan warna rumput. Dan sesungguhnya mereka pun merasa iri terhadap kehidupan kita.

Senin, 17 Februari 2014

Dunia

Di tahun pertama aku tiba di dunia ini. Aku takjub dengan peradaban yang telah dibangun manusia. Dengan ketinggian yang tidak pernah dibayangkan nenek moyang kita. Dengan akses yang mudah dan cepat. Dengan kenyamanan yang membuat orang enggan untuk beranjak dari tempatnya.

Ini adalah dunia dimana usaha, kerja keras dan perjuangan dipertaruhkan. Kini kita dapat melihat hasilnya secara kasat mata. Buah dari peradaban manusia, perkembangan akal dan kekuatan usaha.

Namun di tahun kedua aku merasakan realita yang berbeda. Dimana manusia hidup hampir tidak seperti manusia. Manusia hidup tidak tumbuh. Hanya sekedar mempertahankan hidup dari hari ke hari. Dari detik ke detik. Sisi lain yang menggambarkan kerasnya kehidupan.

Memang sebuah hasil tidak akan nampak tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan. Jangan katakan bahwa perjuangan dan pengorbanan itu mudah. Lihatlah mereka yang hidup dari hari ke hari. Perjuangan dan pengorbanan yang membuat kita menitikkan air mata. Terlebih ketika kita melihat orang yang kita kasihi mengalaminya.

Growth (marthep.deviantart.com)

Namun itulah kehidupan. Sesaat sebelumnya seseorang berkata kepadaku bahwa dunia tak selamanya menyenangkan, namun itulah yang membuatnya menyenangkan. Itulah dinamika dunia. Itulah kehidupan.

Maka kita yang disini memiliki kekuatan untuk berusaha hendaklah menyisingkan lengan baju. Bukan hanya untuk hidup, tetapi juga tumbuh dan berkembang. Terlebih lagi mengembangkan.

Senin, 20 Januari 2014

(Mungkin) Membosankan

Selamat datang di dunia tanpa setan, dimana seluruh kehidupan berjalan dengan penuh senyuman. Seluruh warga tersenyum tanpa pernah merasakan kesedihan. Mereka semua bahagia, tidak ada yang namanya gesekan sosial atau apapun itu. Tidak ada kesalahpahaman. Semua bagian masyarakat menghormati dan menghargai satu sama lain.

Tidak ada kemiskinan, semua hidup dengan kecukupan yang sama. Semua saling memberi dan menerima, tanpa ada yang kekurangan maupun kelebihan. Semua cukup makmur sehingga mampu membagikan kepada orang lain, namun tidak pula ada satu pun pemberian yang ditolak karena mereka tidak mau menyakiti hati orang lain dengan menolak pemberian. Semua orang memiliki bagian kosong dari perut masing-masing orang. Semua cukup untuk memberi dan menerima.

Maka ketika menonton televisi di pagi, siang maupun malam hari. Tidak akan kita jumpai sebuah kabar yang tidak menyenangkan. Semuanya kabar gembira, mulai dari kelahiran seorang anak di sebuah keluarga kecil bahagia hingga kabar tentang adanya program pemerintah yang membuat masyarakatnya semakin sejahtera, dan berhasil. Semua orang tersenyum seumur hidupnya.

Tidak pernah ada yang namanya masalah maupun musibah. Atau bahkan penduduknya tidak pernah sekalipun mengenal kata-kata tersebut. buat apa menciptakan sebuah kata yang tidak relevan dengan kehidupan mereka? Itu mubadzir. Dan mubadzir tidak dikenal di dunia tersebut.

Hingga disini, semuanya baik-baik saja.

Perfection is Boring (qazinahin.deviantart.com)

Tetapi dunia itu membosankan. Duniaku jauh lebih baik. Dimana orang-orang baik pun saling bertengkar untuk mewujudkan niat baik mereka. Mungkin setan memang berguna untuk mewarnai hidup ini.






Catatan: setelah beberapa saat penulis menerima keluhan dari setan, dia berkata "kami hanya mengajak, kalian yang melakukan. Mengapa kami yang disalahkan?"

Minggu, 19 Januari 2014

Dipikir karo Mlaku

Manusia hidup dengan tujuan, karena kita makhluk yang memiliki mimpi. Namun terkadang apa yang kita inginkan untuk kita raih bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak rintangan dan godaan yang menghalangi. Tau bahkan mungkin sebenarnya Tuhan pun tahu mana yang lebih baik dan berkehendak yang lain untuk diri kita.

Kita bermimpi, kita berdoa dan kita berusaha. Namun pada akhirnya Tuhan yang akan menentukan mana yang terbaik untuk diri kita. Semua sudah ada jalannya, semua sudah ada waktunya. Semua akan memiliki skenario kehidupannya masing-masing yang paling indah.

Kita boleh berharap untuk menulis skenario hidup kita, kita boleh berusaha untuk mewujudkannya. Atau mungkin kita memang harus. Namun dunia lebih kompleks dari yang kita bayangkan. Lalu apakah kita menyerah dan menganggap itu semua kehendak Tuhan?

sumber: DP BBM seorang teman

Tentu tidak, Tuhan tidak suka kepada mereka yang menyerah dan berputus asa. Kita harus tetap berusaha dan berpikir tentang skenario terbaik dalam kehidupan kita. Kita harus bersahabat dengan perubahan dan tetap terbuka.