Sabtu, 22 Desember 2012

Everything

Sorenya,

Entah kenapa kursi ini menjadi begitu tidak nyaman. Mungkin karena aku terlalu lama duduk di dalam kursi sandar yang nyaman di mejaku sana. Bukan, bukan itu. Tetapi duduk di ruangn ini terasa begitu menyesak. Menekan dada hingga paru-paru ingin menyembul keluar dari kerongkongan.

Terlalu banyak aura pembunuh disini. Orang-orang dengan berbagai keahlian dan kemampuan mereka yang sanggup membunuhku dalam sekejap. Disini, merekalah yang menggali bongkahan-bongahan impian yang telah berhasil disusun menjadi istana kebanggaan. Mereka adalah pejuang-pejuang tangguh, penakluk keajegan.

Dan disinilah aku,duduk terdiam terbunuh oleh aura mereka. Bermain dengan imajinasi dan pikiranku sendiri dan berpikir bahwa butir demi butir pasir yang aku lemparkan kepada mereka akan menjadi bagian dari istana megah itu. Aku bukan siapa-siapa.

Malamnya,

Ternyata dunia maya pun tak bersahabat denganku. Setelah seharian aku dicekik oleh kehebatan mereka, kini aku dihantam leh kepergian seseorang yang luar biasa. Seseorang yang bahkan hanya dengan kabar kepergiannya bisa menghancurkan puing-puing imajinasiku.

Mendadak diriku hancur lebur, tak beberbentuk. Bahkan aku ragu jika masih bisa menemukan puing-puing sisa dari keberadaanku. Remuk redam, hancur tak berbekas. Disinilah aku begitu menyadari bahwa aku hanyalah sebuah molekul es di hamparan kutub. Mera yang luar biasa, bukan aku.

Aku disini hanya asyik bermain dengan imajinasiku dan berpikir bahwa bongkahan gunung es tidak akan terbentuk tanpa keberadaanku. Aku terlalu angkuh. Ada trilyunan molekul es lain yang siap menggantikan fungsiku jika aku tidak ada. Aku bukanlah siapa-siapa.

Everything at Once - Lenka (source: http://vimeo.com/19877175)

But I promise to myself,
Maybe today i'm just nothing
But someday i'll be EVERYTHING

Minggu, 02 Desember 2012

Keep Moving Forward

"Apa kenangan terindahmu?"

Aku terdiam sejenak, mencoba mengigat segala memori indah selama lebih dari dua dekade aku menghabiskan hidupku di dunia ini. "Entahlah, tertalu banyak hal indah di belakang sana. Dan aku tidak terlalu suka untuk mengingatnya terlalu lama"

"Aku menemukan sedikit paradoks di dalam pernyataanmu itu"

"Kau tahu, hidupku sangat dipenuhi kenangan-kenangan indah di masa lalu, dan satu-satunya hal paling pahit adalah ketika aku menyadari bahwa itu semua hanyalah masa lalu. Kita tidak pernah bisa mundur ke belakang."

"Aku paham", dirinya terdiam tanda mengerti. Sehebat apapun manusia, pada akhirnya waktu adalah suatu dimensi kekal yang tidak dapat kita taklukkan. Waktu-lah yang menunjukkan bahwa kita manusia, bukan Tuhan ataupun Dewa (jika itu benar ada).

"Masa lalu memang indah, tetapi itu sdah berlalu. Yang lebih utama adalah bagaimana kita bisa terus menikmati masa sekarang..."
"Around here, however, we don’t look backwards for very long. We keep moving forward, opening up new doors and doing new things… and curiosity keeps leading us down new paths.” - Walt Disney
"... ada banyak hal indah di dunia ini. Ada banyak cita-cita dan impian yang menunggu untuk diwujudkan. Jutaan impian besar yang harus kita bangun sebongkah demi sebongkah. Dan itu memerlukan ketetapan hati yang kuat dan kemauan."

Moving Forward (jesskat-art.deviantart.com)

"Aku tahu, kita harus menjadi kereta bukan?"

"Maksudmu?", aku tidak memahami maksudnya.

"Ada kalanya kita harus memutuskan untuk menutup telinga dan mulai berjalan. Di jalan nantinya akan ada banyak keributan dan kebisingan yang mengganggu kita. Namn bagaimana juga kita harus terus fokus dan berjalan menuju ujung rel."

"Kau benar, dunia ini terlalu indah untuk dihancurkan oleh perasaan pesimis dan cibiran. Ada impian-impian yang harus kita bangun sebongkah demi sebongkah. Tidak banyak, tetapi cukup besar ketika itu semua disatukan. Dan itu sudah cukup untuk membuat dunia menjadi lebih baik."
Siapa yang memberi makan pada dunia? Petani yang dengan diam-diam mengerjakan sawahnya. Siapa yang memayu ayuning bawana? Hanya mereka yang bekerja keras, mengeluarkan keringat dengan perbuatan yang nyata.(C.S. Adama van Scheltema)

Selasa, 27 November 2012

How to define "home"

Apa itu rumah? Sekedar bangunan batu berdiri kokoh melindungi orangorang yang ada di dalamnya. Benarkah demikian? Karena rumah tidak hanya sekedar tumpukan material yang melindungi manusia dari kejamnya alam.

Rumah bukanlah tempat kita berdiam dalam jangka waktu yang lama. Seseorang bisa terus merasa terasing meski sudah bertahun-tahun hidup di suatu daerah. Seseorang bisa juga merasa nyaman meski hanya satu atau dua hari berada di tempat tertentu.

Home (poprage.deviantart.com)

Rumah adalah sebuah konstruk psikis, yaitu tempat dimana orang merasa nyaman dan betah ketika berada di suatu wilayah. BUkan tumpukan materi yang menunjukkan keangkuhan. Rumah adalah dimana kita berada di sekeliling orang-orang yang kita sayangi dengan nyaman.

Selasa, 13 November 2012

Pembunuhan Perlahan

Manusia seringkali mencari harta, fasilitas dan kemewahan serta menghindari masalah. Seolah dengan kesemuanya itu hidup menjadi sempurna dan bagaikan di surga dengan segala hal indah di dalamnya.

War for Luxury (nukuzu.deviantart.com)

Namun lupakah kita bahwa sebenarnya kita hidup untuk menghadapi masalah-masalah. Bahwa esensi sejati dari kehidupan adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah dalam hidup kita sehingga memberikan makna dalam hidup kita.

Maka ketika hidup terlalu nyaman, sesungguhnya itu akan membunuh kita perlahan-lahan dengan siksaan paling pedih: kehampaan.

Sabtu, 10 November 2012

Efektivitas dan Efisensi

Efektivitas dan efiensi organisasi telah menjadi salah satu isu utama dalam pengembangan organisasi. Kedua hal ini terbukti sebagai salah satu cara terbaik untuk mengembangkan sebuah organisasi. Berbeda dengan angapan kuno dimana hasil selalu diidentikkan dengan penambahan sumberdaya dan tenaga di dalam perusahaan.

Jepang merupakan negara yang menjadi contoh terdepan dalam penerapan prinsip ini. Sejarah mencatat bahwa Eropa dan Amerika menjadi penemu benda-benda hebat seperti radio, mobil, dan sebagainya. Namun Jepang yang menyusul di belakang kini justru menjadi raja dalam hal-hal tersebut. Eropa dan Amerika boleh bangga dengan mengatakan bahwa mereka yang menciptakan produk tersebut, akan tetapi Jepang lah yang membuat inovasi dan pada akhirnya menunjukkan bahwa produk mereka lah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Melalui kedua prinsip tersebut, Jepang berhasil menunjukkan bahwa masyarakat lebih tertarik dengan produk-produk yang lebih efektif dan efisien dibanding kuantitas dan kualitas yang berlebihan. Mobil misalnya, lain halnya produk-produk Eropa dan Amerika yang seringkali memiliki tenaga besar dan boros energi, produk-produk Jepang justru lebih efisien dan efektif. Ibaratnya untuk apa memiliki mobil 4WD jika hanya digunakan untuk perjalanan di dalam kota yang datar?

Efficiency (1n73rl0p3r.devientart.com)

Trend ini pada akhirnya mengarahkan organisasi untuk seramping mungkin namun menunjukkan kualitas yang luar biasa. Bagi sebagian orang hal ini cukup aneh, bagaimana mungkin ketika faktor-faktor prduksi dikurangi namun hasil produksi justru terus meningkat. Disinilah organisasi ditantang untuk dapat seefektif dan sefisien mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Salah satunya dalam hal human capital yang dimiliki oleh organisasi.

Menurut saya, setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan human capital di dalam organisasi. Yang pertama adalah peningkatkan kualitas human capital, pembangunan sistem, dan pemanfaatan teknologi. Ketiga langkah ini bagi saya merupakan cara terbaik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan human capital dalam suatu organisasi.

Kualitas Human Capital
Peningkatan kualitas human capital menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi dalam menjalankan bisnisnya. Seringkali kita terjebak dalam paradigma semakin tinggi kuantitas maka semakin meningkat pula produktivitas organisasi.  Paradigma semacam ini hanya melihat human capital sebagai angka-angka penjumlahan dan gagal dalam melihat human capital sebagai manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa pada akhirnya ada sebuah titik dimana penambahan sumber daya justru memberikan korelasi yang negatif terhadap produktivitas organisasi. Bayangkan saja sebuah organisasi dimana memiliki banyak anggota akan tetapi tugasnya tidak terlalu banyak, maka pada akhirnya yang terjadi adalah sebagian anggota justru menjadi benalu dan mengganggu produktivitas anggota lainnya.

Pada akhirnya mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa tidak semua orang itu sama. Beberapa orang memang memiliki kemampuan yang lebih dibanding yang lain. Poin utama dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi adalah melalui rekruitmen. Dengan merekrut orang-orang yang memiliki kualitas-kualitas terbaik, maka meski dengan jumlah yang sedikit namun produktivitas organisasi tetap akan tetap berkembang.

Misalnya saja pekerjaan dari dua orang yang biasa saja bisa dikerjakan oleh satu orang dengan kualitas unggul. Apabila kita merekrut tenaga-tenaga unggul dalam organisasi kita tentu biaya yang harus dikeluarkan relatif lebih sedikit daripada merekrut dua orang dengan kualitas sedang atau biasa akan tetapi tetap mendapatkan hasil yang baik.

Selain rekruitmen, organisasi juga memiliki tanggung jawab dalam pengembangan human capital yang dimiliki. Organisasi harus dapat meningkatkan kemampuan human capital  yang dimilikinya agar pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efisien dalam pengerjaannya.

Pembangunan Sistem
Terkadang beban kerja yang kita alami sebagian besar terjadi karena tidak adanya manajemen kerja yang baik. Sistem dan pembagian kerja yang serabutan serta asal pada akhirnya akan justru akan menambah pekerjaan itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya sistem yang baik dalam setiap tugas yang dilaksanakan.

Saya berikan sebuah ilustrasi:
Sebuah kantin mengalami permasalahan yang cukup rumit. Jumlah pengunjung kantin secara perlahan tapi pasti terus meningkat. Efeknya adalah jumlah meja yang tersedia dirasa kurang karena setelah digunakan meja tersebut harus dibersihkan dan disingkirkan terlebih dahulu piring-piring kotor dari pengguna sebelumnya sebelum dapat digunakan kembali oleh pengguna berikutnya.
Dalam kasus tersebut, logika sederhana untuk memecahkan kasus tersebut adalah dengan menambah jumlah pelayan untuk mengambili piring-piring kotor dan membersihkan meja yang telah digunakan. Hal itu berarti menambah human capital yang dimiliki organisasi dan juga menambah biaya.

Namun permasalahan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan sebuah solusi tanpa harus menambah human capital yang berarti juga menambah biaya. Solusinya adalah sediakan sebuah meja tempat piring kotor sehinga para pengunjung kantin yang telah selesai menggunakan piringnya bisa meletakkannya disitu. Dengan sistem ini pengelola kantin tidak perlu menambah human capitalnya tetapi mengajak para pengunjung untuk ikut bertanggung jawab dalam kebersihan kantin. Sistem ini selain meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan kantin, juga efektif dalam meningkatkan rasa tanggung jawab para pengunjung terhadap isu kebersihan.

Tanpa adanya sistem yang baik, bukan tidak mungkin kesalahan yang sama juga akan terus menerus dialami dan organisasi masih saja bingung bagaimana menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya organisasi akan terlalu sibuk mengurusi hal-hal operasional rutin dan gagal melakukan perbaikan atau improvement. Human Capital yang dimiliki tersita oleh permasalahan-permasalahan rutin yang sudah sering terjadi dan sebenarnya telah diketahui pola pemecahannya.

Misalnya saja sebuah perusahaan manufaktur mengalami kerusakan dalam conveyornya sehingga macet dan tidak berfungsi. Kerusakan serupa sebenarnya pernah dialami perusahaan beberapa waktu yang lalu dan diketahui penyebab serta cara memperbaikinya. Namun sayangnya teknisi tersebut telah dipindahkan dan digantikan dengan teknisi baru yang belum pernah menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya perusahaan tersebut akan mulai dari nol lagi dalam menghadapi masalah yang sama.

Sistem yang baik seharusnya bisa mendokumentasikan dan mendistribusikan informasi-informasi penting semacam ini kepada semua orang. Sehingga meskipun anggota datang silih berganti dalam organisasi, namun organisasi tidak kembali ke nol dalam setiap masalah yang dihadapi. Salah satu contohnya dapat dituangkan melalui Standard Operational Procedure (SOP) atau dokumen-dokumen lainnya.

Pemanfaatan Teknologi
Teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Bayangkan pada zaman dahulu kita harus menggosok-gosokkan batu atau kayu untuk menciptakan percikan api yang dapat digunakan untuk menyalakan api. Namun kini hanya dengan menekan tombol korak api, api dapat langsung keluar sehingga dapat kita gunakan.

Begitu pula dalam organisasi, sebuah organisasi yang baik harus dapat memilah-milah mana saja kegiatan rutin yang terjadi terus menerus secara berulang-ulang dan mengembangkan kemungkinan pemanfaatan teknologi dalam pengerjaan tugas tersebut. Dengan penggunaan teknologi ini tentunya human capital yang tersedia akan terbebas dari pekerjaan-pekerjaan rutin yang menyita waktu dan dapat fokus kepada pengembangan-pengembangan yang dapat dilakukan oleh organisasi.

Automatic Teller Machine merupakan salah satu contoh nyata penerapan teknologi sebagai langkah efektivitas dan efisiensi yang dilakukan oleh perbankan. Dahulu sebelum adanya ATM, dapat kita bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang dihabiskan oleh para karyawan perbankan untuk menangani segala macam transaksi yang dilakukan oleh pelanggang mereka. Namun kini dengan adanya ATM, perbankan dapat mengurangi jumlah teller mereka karena banyak transaksi yang dapat dilakukan via ATM.

Arus Modernisasi
Trend dewasa ini memaksa organisasi untuk bertindak seefisien dan seefektif dalam mencapai tujuan mereka. Hal ini dikarenakan manusia mulai menyadari keteratasan sumber daya yang ada. Jika sumber daya tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, dalam jangka panjang tentu akan merugikan bagi seluruh umat manusia atau organisasi.

Bahan bakar minyak misalnya, masyarakat kini  mulai menyadari betapa sangat terbatasnya sumber daya tersebut. Keterbatasan ini pada akhirnya mendorong konsumen untuk membeli kendaraan-kendaraan yang hemat energi demi menjaga persediaan sumber daya yang dimiliki.

Begitu pula organisasi seiring berjalannya waktu seharusnya semakin bijak dalam menggunakan sumber daya yang mereka miliki, termasukjuga human capital yang meskipun jumlahnya sangat banyak akan tetapi kita sadar human capital tidak dapat berdiri sendiri tanpa memerlukan sumber daya yang lain.

Adalah sebuah pemborosan yang sangat tidak efektif dan efisien dengan menempatkan manusia hanya sebagai alat untuk melakukan tugas-tugas rutin yang terus berulang. Terlebih jika manusia-manusia tersebut merupakan manusia-manusia yang telah terdidik dengan baik. Seharusnya human capital semacam ini dapat dimanfaatkan sebagai ujung tombak dari perbaikan yang dilakukan organisasi. Terlebih dengan adanya akal sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Jika kita terus menerus disibukkan dengan permasalahan yang sama, maka sepatutnya kita mempertanyakan dimana akal kita. Dimana mempertanyakan keberadaaan akal juga berarti mempertanyakan keberadaan manusia itu sendiri.

Kamis, 18 Oktober 2012

Who have the bad manners?

Socrates (silentjustice.deviantart.com)
“Our youth now love luxury. They have bad manners, contempt for authority; they show disrespect for their elders and love chatter in place of exercise; they no longer rise when elders enter the room; they contradict their parents, chatter before company; gobble up their food and tyrannize their teachers.” (Socrates)

Okey, Socrates. You have been write that hundred years ago. So who the really have bad manners? Our parents? Me? or the generations next to me?

Rabu, 03 Oktober 2012

Outsourcing (seharusnya) bukan Perbudakan

Hari ini (rabu, 3 Oktober 2012) dunia industri tanah air digemparkan dengan aksi turun ke jalan para buruh. Salah satu tema yang diangkat adalah penghapusan sistem outsourcing (OS) di perusahaan-perusahaan Indonesia. Tema klasik yang sebenarnya telah menjadi bahan perdebatan cukup lama di dalam dunia ketanagakerjaan di Indonesia. Artikel kali ini mencoba membahas keberadaan sistem OS di Indonesia.

Labour (piuccheperfetto.deviantart.com)

Sistem outsourcing sendiri telah ada sejak zaman kolonial Belanda yang diatur dalam undang-undang (yang pada akhirnya sebagian masih digunakan sebagai dasar hukum Indonesia). Pada masa lalu para Demang menyediakan tenaga kerja-tenaga kerja lokal untuk dipekerjakan kepada orang-orang Belanda. Para pekerja ini nantinya upahnya sebagian akan dipotong oleh para Demang sebagai jatah mereka.

Outsourcing di Indonesia mulai populer kembali beberapa tahun terakhir. Tujuan utamanya pada kala itu adalah sebagai stimulus kepada dunia usaha untuk dapat berkembang dengan baik. OS kemudian dipandang sebagai sebuah langkah untuk mendapatkan tenaga kerja murah.

Akan tetapi anggapan seperti itu adalah sebuah praktek yang salah. Sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada semangat spesialisasi terhadap bidang keahlian tertentu. Tenaga outsourcing seharusnya adalah tenaga-tenaga kerja ahli dan spesialis dalam bidangnya, bukan tenaga kerja murah.

Praktek OS yang baik adalah ketika perusahaan user membutuhkan bantuan tenaga ahli atau spesialis dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga membutuhkan jasa OS dalam membantu permasalahan tersebut. Misalnya saja sebuah perusahaan yang berfokus pada bidang manufaktur sebagai user maka mereka akan melakukan outsourcing pada bidang-bidang yang bukan area keahlian mereka misalnya security, cleaning service, catering, IT, dsb. Tujuan utamanya adalah agar perusahaan tersebut bisa fokus mengerjakan bisnis utamanya, sedangkan hal-hal yang bersifat supporting tersebut akan ditangani oleh pihak-pihak yang lebih ahlinya misalnya perusahaan IT, perusahaan jasa catering, dsb.

Karyawan-karyawan OS tersebut pada dasarnya adalah para karyawan tetap yang telah dijamin hak-hak dan kesejahteraannya oleh perusahaan penyalur tersebut. Sehingga transaksi yang terjadi adalah antara user dengan perusahaan penyedia jasa, sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kekaryawanan merupakan bagian dan tanggung jawab sepenuhnya dari pihak penyedia jasa.

Peraturan pemerintah juga senada dengan hal tersebut. Dalam revisinya terakhir MK menegaskan bahwa sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada penyediaan tenaga ahli dan bukan tenaga murah. Dengan adanya revisi ini para pekerja OS berhak mendapatkan pesangon dan hak-hak lainnya seperti halnya karyawan tetap. Selain itu sistem OS sendiri hanya diperbolehkan pada bagian-bagian yang sifatnya supporting dan bukan bisnis utama atau produksi.

Akan tetapi tentu tidak akan ada asap jika tidak ada api. Jika peraturan tersebut sudah benar-benar sepenuhnya dijalankan maka tentunya para buruh tidak akan turun ke jalan. Pada prakteknya banyak perusahaan yang masih menggunakan sistem OS pada bisnis utama mereka. Dalam kasus tertentu misalnya sebuah perusahaan manufaktur menggunakan tenaga OS dalam jumlah besar sebagai buruh kasar di pabrik. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan seringkali masih meihat OS sebagai sebuah cara penyediaan tenaga murah.

Kasus lain yang sering saya temui adalah tidak adanya ikatan dan hubungan yang jelas antara karyawan OS dengan pihak penyalur tenaga kerja. Saya sering jumpai bagaimana karyawan OS yang bahkan tidak mengenal kontrak kerja dengan perusahaan penyalurnya. Praktek yang terjadi seolah-olah pihak perusahaan penyalur hanya sebatas memotong upah dari para karyawan OS tanpa adanya timbal balik semisal jaminan kesejahteraan para pekerja itu sendiri.

Jika demikian prakteknya maka itu sama bobroknya dengan sistem penyaluran jasa TKI yang sering dicemooh atau lebih parah lagi adalah mengulang kesalahan zaman kolonial dengan pengulangan sistem "Demang" yang itu berarti adalah bentuk pemalakan atau jika tidak bisa disebut perbudakan.

Maka dari itu sistem outsourcing di Indonesia masih perlu disempurnakan. Dari sisi pemerintah perlu diperketat lagi mengenai definisi dan aturan penggunaan sistem outsourcing. Bahkan dalam bentuk ekstrim jika perlu untuk sementara hapuskan sistem outsourcing untuk para pekerja kerah biru, sistem OS hanya digunakan secara terbatas pada pekerja kerah putih.

Yang kedua adalah pengawasan implementasi di lapangan. Bagaimana perusahaan penyedia jasa OS harus dapat memenuhi kewajibannya dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan-karyawannya. Jangan sampai perusahaan jasa OS pada prakteknya hanya menjadi "pemalak" tanpa memberikan timbal balik keuntungan kepada para karyawan.

Dan ketiga adalah bagaimana peran serta user dalam sistem ini perlu dibenahi. Stigma OS sebagai penyedia tenaga kerja murah harus sepenuhnya dihapus dan digantikan dengan stigma penyedia tenaga kerja ahli. Para user seharusnya juga bisa lebih ketat lagi dalam memilih para penyedia jasa yang akan mereka gunakan. User memiliki kekuatan untuk menyeleksi dan memilih penyedia-penyedia jasa yang benar-benar memperhatikan karyawannya untuk dijadikan partner.

Bagaimanapun juga sebuah tindakan dzalim untuk mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memberikan haknya. Pada titik inilah kita seharusnya berpikir ulang bagaimana kita memandang OS selama ini, apakah masih sebatas uang ataukah sudah melihatnya sebagai sebuah manusia yang utuh sepenuhnya?

Minggu, 30 September 2012

Merdeka!

Jika aku boleh memilih mimpiku, maka aku ingin bermimpi tentang sebuah dunia dimana semua orang bebas dan merdeka dari segala penjajahan dan kebodohan. Bahkan jika pun penjajahan itu berasal dari perut mereka sendiri.

Namun dunia ini tidaklah seindah mimpi-mimpi. Meski aku banyak bertemu dengan orang-orang merdeka yang hidup di atas dan dengan mimpi mereka untuk mewujudkannya di dalam dunia, namun pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa mereka hanyalah segelintir orang yang jumlahnya tidak banyak. Dan segelintir itu pun banyak yang kemudian mati terbunuh oleh perut mereka yang semakin membesar.

Harus kuterima pula kenyataan bahwa aku terlalu lama hidup di pusat dunia, di sisi yang selalu terpapar cahaya matahari. Padahal dunia ini luas. Di bagian dunia yang lain banyak mereka yang hidup dalam kegelapan dan sibuk dengan perut mereka hingga lupabahwa diri mereka manusia.

Mimpi Kami (ambientdream.deviantart.com)


Maka aku berdoa kepada Dia yang Maha Kuasa dan menguasai hati, agar aku dan orang-orang lain bisa merdeka. Agar kita tidak terbunuh oleh perut kita, agar mimpi kita menjadikan kita manusia yang sesungguhnya.

Rabu, 12 September 2012

Apa yang dapat Kamu Bayangkan tentang Neraka Ketujuh?

"Menurutmu seperti apa neraka ketujuh itu?"

"Maksudmu?", kata-kata tersebut membuatku cukup terhenyak. Tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam hidupku untuk membicarakan topik semacam ini, terlebih dengan dirinya.

"Kau tahu, bahwa hampir seluruh agama menggambarkan neraka dalam berbagai tingkatan atau lapisan. Dan neraka ketujuh, apa yang aku tanyakan tadi, merupakan neraka dengan tingkatan paling tinggi."

"Yah, entah kenapa agama-agama tertarik dengan angka tujuh", jawabku sambil lalu.

"Jadi menurutmu, seperti apakah neraka ketujuh itu?"

"Aku masih belum paham maksudmu"

"Baiklah, menurutmu hukuman dan penderitaan apa yang paling mengerikan, sesuatu yang cukup pantas berada di neraka ketujuh. Dimana siksaan paling pedih ada disana?", tanyanya sambil menatap dengan tajam. Saat itu aku tahu bahwa dia bukan sedang bermain-main dengan pertanyaannya.

This is Hell (zxxiusxz.deviantart.com)

Suasane hening. Kami berdua mencoba mengolah imajinasi kami, sebuah hadiah terbaik dari Tuhan yang diberikan kepada manusia, kini digunakan untuk memikirkan hal terburuk yang ada di alam semesta ini.

"Aku dapat sesuatu"

"Apa itu?"

"Bayangkan kau berada di sebuah ruang yang hampa. Tanpa ada sesuatu apapun dan kau tidak dapat melakukan apapun. Namun kau tetap dapat berpikir, dan pikiranmu selalu dipenuhi dengan hal-hal buruk dan penyesalan dalam hidupmu. Bagiku itu adalah siksaan paling kejam."

Selasa, 11 September 2012

Siapa Kafir?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (4:144)
Bagaimana menakar keimanan seseorang? Atau lebih mudah lagi bagaimana kita dapat menentukan seseorang beriman atau tidak akan suatu hal? Siapa dapat menakar hati manusia.

Kafir (sultonenterjava.deviantart.com)

Keimanan bukanlah sekedar kata-kata dalam kartu identitas. Keimanan merupkan sebuah entitas kesadaran secara penuh dan pengakuan akan suatu ide atau gagasan. Keimanan adalah sebuah kesadaran jiwa dan raga.

Maka semenjak kita belum dapat menemukan alat ukur yang valid untuk mengetahui dalamnya hati, dapatkah kita memiliki acuan akan keimanan seseorang? Cukupkah kata-kata dalam sebuah kartu identitas mendaulat seseorang untuk dinyatakan beriman atau tidak?

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (4: 142 & 145)

Maka dimana posisi kita ketika kita dihadapkan pada mereka yang tidak peduli dengan Tuhan tetapi terus melakukan kebaikan dan mereka yang mengakui Tuhan tetapi mengingkarinya?

Minggu, 26 Agustus 2012

Bekerja di Tambang


Bagi sebagian orang bekerja di perusahaan tambang merupakan impian tersendiri. Dengan iming-iming gaji tinggi, fasilitas lengkap, dan sebagainya sangat menarik hati terutama bagi mereka yang sangat mengejar materi sebagai kebutuhan hidupnya. Namun tidak banyak orang yang tahu seperti apa bekerja di perusahaan tambang sebenarnya.

Remote Area
"Kan enak kerja di tambang, gajinya gedhe"
Kebanyakan perusahaan tambang berada di daerah terpencil bahkan di remote area (minimal satu jam perjalanan dari perkampungan terdekat). Itu berarti disana fasilitas publik masih terbatas. Begitu juga fasilitas hiburan, makanan, perdagangan, dan sebagainya yang serba terbatas.

Hal ini yang sering dikeluhkan oleh para rekruiter perusahaan tambang: banyak orang menginginkan bekerja di tambang,tetapi tidak banyak yang bersedia ditempatkan di site. Kebanyakan pelamar ingin bekerja di perusahaan tambang namun mereka menginginkan ditempatkan di head office di Jakarta, Balikpapan, atau kota-kota besar lainnya.

Selain itu perlu dipertimbangkan juga bahwa gaji yang besar tersebut akan diimbangi dengan pengeluaran yang besar. Di daerah-daerah tambang biasanya harga barang kebutuhan dan makanan akan menjadi sangat mahal. Selain karena terbatasnya transportasi dan barang dagangan yang ada, asumsi bahwa perusahaan tambang sebagai perusahaan dengan banyak uang membuat para pedagang di sekitar berani memasang tarif tinggi untuk dagangan mereka. Jadi pada akhirnya semua akan sama saja.

Sistem Rooster
"Gakpapa kok di daerah terpencil, kan cutinya lama dan dapet biaya tiket perjalanan"
Sebagian lainnya beranggapan bahwa meskipun di daerah terpencil tetapi mereka berasumsi akan mendapat "jatah" cuti dan pulang ke daerah asal dengan penerapan sistem rooster. Kebanyakan beranggapan bahwa sistem rooster berupa 3 bulan kerja dan 2 minggu libur.

Tapi sayangnya tidak semua perusahaan tambang seperti itu. Sistem rooster biasanya digunakan oleh para kontraktor tambang, sedangkan owner tambang kebanyakan menggunakan sistem kerja reguler dimana 5 hari kerja/minggu dan 8jam/hari. Meski menggunakan sistem reguler, namun jatah cuti lebih banyak yaitu 14 hari cuti dan 6 hari home leave.

Sedangkan untuk sistem rooster sendiri jangan diangap sebagai suatu hal yang menyenangkan. Biasanya sistem rooster menggunakan model 13 hari kerja dan 1 hari libur. Itu berarti dalam dua minggu kita hanya akan mendapatkan jatah libur satu hari. Jatah libur lainnya akan diakumulasikan menjadi hari off dimana biasanya karyawan akan dipulangkan ke daerah asalnya.

Selain libur satu hari dalam dua minggu, jam kerja yang ada juga tidaklah menyenangkan. Bekerja di kontraktor seringkali anda berangkat paling siang pukul 6 pagi (beberapa bahkan sebelum subuh sudah berangkat) dan pantang pulang sebelum matahari terbenam. Belum lagi jika mendapat giliran untuk shift malam. Maka bisa anda banyangkan bagaimana kehidupan tambang sebenarnya.

Fasilitas Lengkap
"Bekerja di tambang kan enak, fasilitas lengkap"
Biasanya perusahaan tambang memberikan fasilitas lengkap untuk para karyawannya. Mulai dari tempat tinggal, makanan, laundry, transportasi (terbatas), fasilitas olahraga, dan sebagainya. Hal ini tampaknya menjadi suatu hal yang sangat menggiurkan.

Fasilitas-fasilitas ini sebenarnya sebagai bentuk "penghibur" atas minimnya sarana hiburan di daerah tersebut. Dalam artian fasilitas tersebut memang tersedia, namun hanya itu saja ang ada. Terlebih dengan beban kerja dan jam kerja yang ada bisa jadi kita tidak akan bisa terlalu sering menggunakan fasilitas tersebut.

Keamanan
Kebutuhan akan keamanan merupakan kebutuhan dasar kedua setelah kebutuhan fisiologis menurut piramida Maslow. Namun sayangnya bekerja di perusahaan tambang berarti anda harus siap untuk berhadapan dengan rasa tidak aman.

Perusahaan tambang merupakan perusahaan dengan kapital dan kemampuan teknologi tinggi. Namun sayangnya perusahaan semacam ini justru berada di daerah terpencil dan cenderung tertinggal. Dampaknya adalah munculnya ketimpangan sosial yang sangat tinggi dan rawan konflik sosial.

Meskipun banyak program pengembangan masyarakat dan bantuan telah dikucurkan, namun potensi konflik sosial masih tinggi. Maka dari itu ada kelakar bahwa demonstrasi sudah menjadi hal yang sangat lumrah terjadi di perusahaan tambang. Hal ini dikarenakan perusahaan dipandang masyarakat sebagai bongkahan emas di pedalaman hutan.

No Pain, No Gain
Apa yang hendak saya sampaikan dalam tulisan ini adalah bahwa jangan pernah berpikir untuk bermalas-malasan dan mendapatkan hasil yang banyak. Hasil yang kita dapat nantinya sebenarnya adalah buah dari kerja keras kita sendiri. Dimanapun kita bekerja nantinya pasti ada kelebihan dan kekurangannya.

Sudah menjadi sunatullah kehidupan bahwa hasil berbanding lurus dengan usaha dan pengorbanan yang kita lakukan.Hal ini bahkan telah dijamin oleh Tuhan yang Maha Adil. Jadi jangan berharap akan mendapatkan hasil yang baik tanpa adanya usaha yang baik pula.

Bagaimanapun juga bekerja bukan sebatas mencari materi. Rasanya terlalu sayang jika kita manusia yang mulia ini harus tunduk dan menghamba pada materi. Lebih dari itu menurut saya bekerja berangkat dari hati. Setiap orang memiliki bidang kecocokannya masing-masing. Itulah yang paling utama, menemukan pekerjaan yang paling cocok dengan diri kita.

Selasa, 21 Agustus 2012

Siapa Maha Adil?

Apakah keadilan itu? Ketika kesenjangan mulai nampak maka orang-orang menjadi percaya bahwa keadilan berarti sama rasa sama rata. Sebuah ide seorang lelaki miskin dengan banyak hutang hidup di sebuah negara industri. Dan mendadak ide tersebut menjadi sebuah impian yang indah dan begitu dipuja.

Maka sama rasa sama rata menjadi sebuah keadilan idealis. Sebuah dunia tanpa perbedaan, sebuah dunia tanpa kesenjangan. Dimana semua kehidupan menjadi sama meski itu berarti sama miskinnya.

Sama, secara materi.


Tapi sama rasa sama rata juga berarti satu hal. Bahwa Tuhan bukanlah yang Maha Adil. Karena Tuhan lah yang menciptakan manusia dalam kedaan yang berbeda-beda dan tidak setara. Tuhan juga yang mengatur segala sesuatunya. Maka pantaskah Tuhan sebagai yang Maha Adil ketika fitrah manusia hidup dalam ketidaksamaan dan ketidak rataan? Adilkah?

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (3:18)

Maka keadilan bukanlah sama rasa sama rata. Keadilan bukanlah tentang jumlah harta yang sama dari setiap insan. Keadilan adalah tentang bagaimana orang mendapatkan apa yang diusahakannya dan tidak mendapatkan sesuatu yang tidak diusahakannya. Itulah keadilan hakiki.

Namun dibalik itu semua terdapat juga kasih sayang, dimana yang berlebih membantu yang kekurangan.

Minggu, 12 Agustus 2012

Mau jadi Spesialis atau Generalis?

Hidup adalah adalah tenteng memilih dan menjalani pilihan. Dan pilihan tersebut pada akhirnya akan mengarhkan pada pilihan lain dan pilihan lainnya lagi. Begitulah kehidupan yang berkisah tentang pilihan yang terus berputar hingga akhir hayat.

Dahulu ketika lulus kuliah saya dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan sekolah atau berkarir. Maka dengan hati yang mantap saya memutuskan untuk mengutamakan karir terlebih dahulu dengan segala pertimbangan yang ada. Namun ternyata pilihan tidak berhenti sampai disitu, masih ada banyak pilihan lain yang datang menghampiri silih berganti.

Choosing a Career (costalonga.deviantart.com)

"Mau jadi generalis atau spesialis, Dek?", sebuah pertanyaan yang menghentakkanku. Aku bahkan tidak tahu apa beda dari keduanya tersebut. Artikel ini akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya memasuki dunia kerja, dan saya harap pengalaman ini akan memberikan informasi dan pengetahuan kepada teman-teman yang nantinya juga melangkah ke dunia yang sama.

Menjadi Spesialis
Karir sendiri (setahu saya) dibedakan menjadi dua jenis: specialist dan generalist. Dari keduanya sebenarnya sudah nampak apa perbedaannya secara umum. Specialist mengarahkan seseorang memiliki keahlian khusus dalam satu bidang tertentu secara mendalam, sedangkan generalist mengarahkan seseorang memliki banyak keahlian sekaligus meskipun tidak terlalu mendalam.

Pada umumnya ada beberapa posisi yang menuntut spesialisasi, misalnya recruitment, engineer, surveyor, dan sebagainya. Posisi-posisi spesialis ini biasanya memiliki embel-embel semisal junior atau senior di depan jabatan mereka. Misalnya Junior Recruitment Officer atau Senior Surveyor.

Pemberian nama junior atau surveyor ini biasanya digunakan untuk menunjukkan tingkatan karir dari si pemegang jabatan tersebut. Hal ini dilakukan karena dalam bidang spesialisasi si pemegang jabatan tidak akan pernah berganti pekerjaan. Misalnya seorang spesialis dalam bidang rekruitmen akan terus menerus melakukan pekerjaannya sebagai rekruiter. Yang membedakannya hanyalah levelnya. Untuk level junior mungkin hanya diperbolehkan mengurusi administrasi atau mungkin melakukan rekruitmen untuk tingkatan freshgraduate. Sedangkan untuk posisi-posisi level atas misalnya supervisor atau superintendent mungkin hanya senior recruitment officer yang diperbolehkan melakukan rekruitmen.

Bahkan jika kita memang sudah benar-benar menjadi spesialis dalam bidang tersebut, bisa jadi puncak karir dari spesialis adalah menjadi seorang advisor. Para spesialis ini memang jarang yang kemudian menduduki posisi puncak dalam organisasi, tetapi spesialisasi mereka menjadi harga tersendiri yang sangat dibutuhkan organisasi.

Meski demikian belakangan ini banyak organisasi yang menghapus penggunaan kata junior atau senior pada jabatan-jabatanyang ada dalam perusahaan mereka. Salah satu pertimbangannya adalah karena faktor gengsi. Tentu akan lebih membanggakan jika dua orang karyawan dari dua organisasi berbeda bertemu dan yang satu mengatakan sebagai recruitment officer dibandingkan junior recruitment officer meskipun mungkin sebenarnya keduanya memiliki kedudukan dan fungsi yang sama.

Lalu bagaimana membedakan posisi mereka? Setiap perusahaan biasanya memiliki sistem evaluasi pekerjaan mereka masing-masing. Dimana dari evaluasi tersebut dapat kita ketahui level dari masing-masing posisi dibandingkan posisi lainnya. Posisi ini biasanya ditunjukkan menggunakan angka. Maka dalam beberapa organisasi mereka membandingkan satu posisi dengan posisi lainnya melalui angka level tersebut daripada nama jabatan itu sendiri.

Menjadi Generalis
Apabila dengan menjadi spesialis membuat kita ahli dalam satu bidang tertentu.Maka menjadi generalis mengarahkan kita memiliki beberapa keahlian tertentu sekaligus. Para generalis diarahkan untuk menduduki posisi-posisi puncak perusahaan. Dimana posisi tersebut tentunya membutuhkan beberapa keahlian sekaligus. Untuk menjadi CEO misalnya harus memiliki kemampuan dalam keuangan, administrasi, produksi, dan sebagainya.

Oleh karena itu karir para generalis cenderung berpindah-pindah posisi agar nantinya ketika menjadi seorang pemimpin sudah memiliki pengetahuan dari masing-masing bagian yang dibawahinya. Kemampuan utama yang harus dimiliki seorang generalis cenderung ke arah kemampuan maanjerial dibanding kemampuan yang sifatnya khusus. Meski demikian perpindahan tersebut cenderung dalam satu bidang yang sama atau mirip.

Posisi-posisi generalis ini biasanya tidak memiliki embel-embel junior atau senior pada jabatannya. Meski demikian trend saat ini dimana banyak organisasi seringkali menghapuskan kata junior dan senior dalam jabatan spesialis mereka membuat kita kebingungan dalam mendeteksi suatu jabatan apakah hal tersebut mengarah kepada spesialisasi atau generalisasi.

Dalam kondisi seperti ini lebih baik tanyakanlah kepada bagian HR. Karena setiap jabatan memiliki career path masing-masing. Career path ini juga yang nantinya menuntun kita dalam penyusunan Individual Development Program untuk masing-masing individu dalam perusahaan. Jangan sampai kita salah memilih jalan yang akan kita tempuh karena masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

Menentukan Tingkatan
Pertanyaan lain yang sempat membuat saya bingung dahulu adalah ketika seorang interviewer menanyakan kepada saya, "Dalam sepuluh tahun setelah ini, anda mau menjadi apa?". Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan umum dalam wawancara pekerjaan. Namun di saat itu saya baru benar-benar sadar bahwa saya tidak tahu apapun tentang tingkatan karir/hierarki organisasi.

Masing-masing organisasi memiliki strukturnya masing-masing. Tidak ada aturan khusus yang mengharuskan suatu organisasi menggunakan struktur tertentu dan menamai jabatan dalam organisasinya dengan standar tertentu. Meski demikian secara umum struktur perusahaan tersusun sebagai berikut (mulai dari yang bawah):

  1. clerk (untuk pekerjaan kantor)/ leadmen (untuk pekerjaan lapangan)/ frontliner (biasanya digunakan perbankan). Pada tingakatan ini biasanya diisi oleh lulusan SMA/SMK/D3
  2. analyst/ foreman (untuk pekerjaan di lapangan) /officer (untuk pekerjaan di kantor)/ junior ... (untuk karir spesialis). Posisi ini memungkinkan untuk dijabat freshgraduate level sarjana.
  3. supervisor (untuk generalis)/ nama jabatan tanpa embel-embel (untuk karir spesialis). Untuk menduduki posisi ini setidaknya di butuhkan pengalaman 2-3 tahun di bidang yang sama.
  4. superintendent (untuk generalis) / senior ... (untuk generalis). Seorang superintendent biasanya memimpin section atau bagian tertentu. Dalam bahasa Indonesia kita sering menyebutnya sebagai kepala bagian. Untuk menduduki posisi ini setidaknya memiliki pengalaman 5 tahun di bidang tersebut.
  5. manajer. Posisi ini memimpin beberapa section sekaligus dalam satu departemen. Untuk menduduki posisi ini setidaknya harus memiliki pengalaman selama 8-10 tahun di bidang yang sama.
Untuk level berikutnya penamaan posisi menjadi lebih relatif lagi sesuai struktur masing-masing organisasi. Struktur itu biasanya disesuaikan dengan bisnis organisasi dan kebijakan yang ada. Beberapa organisasi memiliki jenjang yang lebih pendek sementara organisasi lainnya lebih panjang.

Oleh karena itu tidak serta merta satu posisi yang memiliki nama yang sama di perusahaan berbeda memiliki tingkatan yang sama. Seorang manajer hotel tentunya memiliki level yang berbeda dibandingkan manajer perusahaan manufaktur. Hal ini dikarenakan bisnis dari masing-masing organisasi yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Begitu pula tentang batas minimal waktu yang harus ditempuh untuk naik ke tingkat berikutnya. Bisa dikatakan menjadi superintendent dalam lima tahun misalnya, merupakan sebuah karir yang termasuk pesat dan lancar. Bisa jadi kita akan menduduki posisi tertentu lebih lama daripada yang kita bayangkan. Ini semua kembali pada sistem dan diri kita sendiri.

Menghargai Diri Sendiri
Ketika masing-masing organisasi memiliki strukturnya sendiri. Bagitu pula kita harus bisa menentukan tujuan dari karir kita nantinya. Apakah akan menjadi seorang spesialis yang ahli dalam bidang tertentu atau generalis yang nantinya menjadi bagian dari kepemimpinan suatu organisasi.

Satu hal yang perlu dicatat adalah meski para spesialis kecil kemungkinan untuk menduduki posisi-posisi manajerial dalam organisasi bukan berarti mereka tidak dihargai. Para spesialis memiliki posisi yang sama pentingnya dalam suatu organisasi sama halnya para generalis. Begitu pula dalam hak-hak yang akan mereka peroleh.

Jadi ini semua kembali kepada pilihan kita masing-masing, sebagian orang cocok menjadi seorang pemimpin. Sedangkan sebagian lainnya mungkin lebih tertarik dan cocok untuk fokus dalam bidang tertentu dan menjadi spesialis. Maka kenali diri kita dan pilihlah jalan kita.

Minggu, 05 Agustus 2012

Toilet

Semua orang menginginkan sebuah toilet umum yang bersih dan nyaman. Diana bau pesing tidak tercium dan tidak ada ceceran entah dari siapa dan darimana. Sebuah mimpi yang indah akan sebuah kedaaan ideal yang selalu didambakan.

Namun siapa mau membersihkan toilet umum?

toilet (danor.deviantart.com)

Kita selalu berharap akan mimpi yang indah, namun dunia bukanlah mimpi. Usaha dan hasil adalah dua sisi mata uang yang saling melekat dan melengkapi satu sama lain. Keduanya tidak dapat dipisahkan.

Dan di dunia ini banyak sisi-sisi semacam itu, dimana kedua sisi saling berlawanan namun tidak dapat dipisahkan.

Minggu, 29 Juli 2012

Stereotype

Stereotype, sebuah generalisasi umum akan suatu keadaan. Atau dalam versi negatifnya kita bisa mengatakannya sebagai sebuah prasangka. Suatu hal yang telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Stereotype (oskart.deviantart.com)


Entah sejak kapan, mungkin zaman kolonial, kita selalu diajarkan untuk membenci orang kaya dan beranggapan orang miskin selalu tertindas dan yang paling benar. Seolah semua orang kaya itu busuk, dan semua orang miskin. Stereotype.

Tapi sebuah fase kehidupanku menunjukkan bahwa itu tidak semuanya benar. Bagaimana jika saya katakan bahwa ada orang-orang kaya di dunia ini yang peduli dengan orang lain? Sementara ada juga orang-orang kaya yang malas dan suka mengambil jalan pintas untuk dirinya sendiri? Bagaimana jika para komunis yang miskin yang diberi kesempatan malah berubah menjadi kapitalis kaya yang tamak dan serakah?

Bagaimana jika rakyat, yang selalu dianggap tertindas justru seringkali yang menindas? Bagaimana jika para kapitalis adalah orang-orang yang bervisi besar untuk kemajuan masyarakat bersama?

Percayakah? Entahlah, sosialis telah meresap ke sendi-sendi kita. Kebencian ini juga yang menghantarkan bangsa ini menjadi jati dirinya yang sekarang.

Bagaimanapun juga stereotype muncul dari fakta-fakta yang digeneralisir. Saya tidak bilang bahwa prasangka adalah sesuatu yang salah, tetapi saya juga tidak berkata bahwa prasangka adalah sesuatu yang benar.

Akan tetapi kebencian merupakan suatu hal yang buruk, terlebih kebencian yang timbul karena rasa iri hati.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (49:13)

Sabtu, 28 Juli 2012

The whole is greater than the sum of the parts

Saya selalu percaya pada frase tersebut. Bahwa persatuan dan kesatuan akan selalu menciptakan sebuah kekuatan yang luar biasa. Itulah sebabnya manusia hidup berkelompok, karena sejatinya kita bisa meraih suatu hal yang luar biasa dalam kebersamaan.

Organisasi adalah tempat orang berkumpul dan bervisi, serta memiliki kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan mimpi mereka.

Hanya saja sebagian organisasi memilih untuk berpikir sempit dan hanya memikirkan perut mereka, sedangkan sebagian lain mencoba memenuhi kewajiban moral mereka. Dan kita yang dibesarkan oleh rahim sosialis selalu berpikiran buruk tentang mereka.

Communist until you get rich
Feminist until you get married
Atheist until the airplane starts falling

Akan tetapi saya percaya disana ada sekumpulan orang-orang yang bekerja untuk mewujudkan mimpi mereka. Mewujudkan kepentingan bersama sebagai sebuah tujuan utama. Dan mereka kapitalis.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (2:177)

Minggu, 15 Juli 2012

Kebutuhan

Apakah kebutuhan terpenting bagi manusia?

Semua orang berkata bahwa kebutuhan utama manusia adalah untuk mempertahankan hidup. Makanan dan minuman menjadi dasar dari semua kebutuhan. Pada akhirnya uang dan amterialisme menjadi pembenaran atas sebuah tindakan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Tapi bagi aku, kebutuhan terpenting adalah untuk bertemu, berjumpa, dan berinteraksi dengan orang lain terlebih orang-orang spesial. Sebuah kebutuhan yang cukup sulit dipenuhi di tempat seperti ini. Tampaknya mati bersama orang-orang yang kita kasihi jauh lebih menarik dibanding hidup sendiri bergelimang harta.

Everybody Needs Love (bcdirector.deviantart.com)

Atau entahlah, mungkin karena memang manusia tidak pernah bersyukur.

Selasa, 26 Juni 2012

Siapkah Kita?

Pray (obscurus86.deviantart.com)

Kita selalu meminta berbagai hal kepada Tuhan. Meminta ini, meminta itu. Berpikir bahwa itu memang yang kita inginkan dan kita butuhkan. Merasa bahwa kita mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk diri kita, dan orang lain.

Kita mengutuki Tuhan ketika suatu hal yang kita inginkan tidak tercapai. Seolah dunia ini penuh dengan penderitaan dan kepedihan. Permintaan kita menjadi kian memelas dan menyedihkan. Seolah semua itu memang yang kita inginkan dan kita butuhkan.

Tetapi yakinkah kita bahwa semua yang kita minta merupakan yang terbaik untuk diri kita? Siapkah kita jika doa kita dikabulkan? Terkadang ini bukan tentang Tuhan, tetapi tentang diri kita. Kesiapan kita, kebutuhan kita. Dan percayalah Tuhan selalu tahu mana yang lebih baik. Maka jalanilah semua ketetapan dengan nama Tuhanmu yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

Rabu, 13 Juni 2012

Siapa Mau Hidup untuk Orang Lain?

hak hak hak hak yaaa...

Suicide (rbfortres.deviantart.com)

Berhakkah kita melarang seseorang untuk mengakhiri hidupnya? Siapa kita mengatur kehidupan orang lain, menentukan baik dan buruk. Berhakkah kita melarang orang lain merokok? Berhakkah kita melarang orang lain judi? Berhakkah kita melarang orang lain bertindak asusila.

Seolah semua menjadi sangat egois. Semua menjadi tentang siapa berhak dan siapa tidak berhak. Padahal semua hanya tentang siapa peduli dan siapa tidak peduli.

Kini kita terlalu egois, hidup untuk diri sendiri.

Kamis, 24 Mei 2012

Sabar

Sebuah kata pahit yang dipercaya sebagai sebuah tindakan mulia bagi seorang manusia. Baik di Jawa maupun Islam, sabar telah menjadi sebuah sikap bagian dari orang-orang yang mulia. Namun terhadap apakah kita harus sabar? Bencana? Musibah? Cobaan hidup? Kemiskinan? Penderitaan?

Jika kita percaya semua yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak-Nya, maka sudah seharusnya kita bersabar dalam menghadapi Tuhan.

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16:96)

Sabtu, 19 Mei 2012

Masyarakat Sensor

in censor we trust (punknroll.deviantart.com)
Beberapa pekan terakhir media elektronik sedang dihebohkan dengan beberapa pencekalan yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat di Indonesia. Menjadi semakin heboh ketika tinndakan pencekalan ini kemudian dikaitkan dengan hakikat kebebasan. Meskipun agak lucu, mengingat paham kebebasan dan demokrasi sendiri belum lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia setelah beberapa dekade berada di bawah pemerintahan yang bertangan besi.

Mulai dari Irshad Mandji hingga Lady Gaga sebenarnya merupakan pucuk dari fenomena yang terjadi sebenarnya di dalam masyarakat. Permaasalahan ini tidak akan selesai hanya dengan membubarkan satu atau dua ormas, tetapi lebih dari itu permasalahan ini sebenarnya berkaitan dengan nilai dan kebudayaan suatu masyarakat. Tulisan kali ini akan mencoba mengulas fenomena tersebut.

Tipikal Masyarakat Kolektif
Para ahli sepakat bahwa Indonesia merupakan contoh sebuah masyarakat yang lebih condong ke arah nilai-nilai kolektif daripada individualis. Meski demikian banyak orang yang kurang begitu paham mengenai apa sebenarnya masyarakat kolektif itu. Masyarakat kolektif memiliki sebuah sistem dan struktur masyarakat yang sangat berbeda dengan model individualis.

Di dalam masyarakat kolektif, individu dipandang sebagai bagian dari kelompok. Hal ini berbeda dengan tipikal masyarakat individualis yang lebih memandang individu sebagai sebuah entitas yang mandiri dan berdiri sendiri. Efeknya adalah bahwa setiap tindakan suatu individu dalam kelompok haruslah dilandasi pada kepentingan kelompok dan bukan kepentingan pribadi. Kewajiban individu kepada kelompok lebih ditekankan daripada hak-hak individu itu sendiri (baca: Masyarakat Daging Babi).

Selain itu masyarakat kolektif memiliki hierarki, lain halnya dengan masyarakat yang cenderung individualis dimana semua orang dipandang setara. Masyarakat kolektif memandang masyarakat sebagai sebuah kesatuan atau kelompok, maka dari itu perlu orang-orang khusus untuk mengatur kelompok tersebut. Orang-orang khusus ini merupakan orang-orang yang dianggap paling ahli dan bijaksana di dalam kelompok tersebut. Dalam prakteknya kita jumpai tokoh masyarakat, presiden, ulama, pendeta, dan sebagainya.

Orang-orang tersebut memiliki tugas menjaga kelompok dari setiap ancaman yang ada. Termasuk diantaranya adalah ancaman ideologis berupa nilai-nilai yang dianggap berseberangan dengan nilai-nilai kelompok tersebut. Dalam menjaga kelompok, orang-orang khusus tersebut memiliki beberapa hak istimewa terhadap masyarakat lain. Termasuk diantaranya adalah sensor dan pencekalan untuk mencegah masuknya ideologi-ideologi yang dianggap bertentangan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan sebuah cara untuk "melindungi" ideologi kelompok dari ideologi asing yang dianggap dapat mengancam. Maka disini dapat kita lihat bahwa pencekalan misalnya dilakukan oleh organisasi Islam, organisasi tersebut "merasa" memiliki hak untuk melakukan pencekalan dalam masyarakat karena karakteristiknya yang "lebih memahami" ideologi tertentu dibanding masyarakat awam. Maka sebenarnya fenomena ini adalah sebuah fenomena yang "sangat biasa" di dalam kebudayaan masyarakat kolektif.

Sudah Biasa
Sebenarnya bukan pertama kali ini pencekalan atau sensor dilakukan di Indonesia. Bahkan sebenarnya sejak awal Indonesia berdiri sensor dan pencekalan sudah sangat sering dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa berkewajiban untuk menjaga ideologi kelompok.

Pada masa Orde Lama misalnya kita temui bagaimana musik Koes Ploes yang diilhami dari band The Beatles sempat dicekal karena dianggap membawa nilai-nilai liberal Barat. Pada waktu itu Indonesia menganut paham sosialis-komunis yang kental sehingga berbagai macam bentuk "penyerangan" dari ideologi Barat dilawan oleh pemerintah.

Jika kita berpikir bahwa pencekalan dan sensor hanya dilakukan oleh masyarakat kolektif dengan ideologi sosialis-komunis maka itu salah besar. Ketika orde baru berkuasa dan kita lebih dekat dengan Barat pun pencekalan dan sensor tetap ada. Buku-buku komunis dan sosialis dibumihanguskan sebagai upaya "menjaga" ideologi bangsa yang saat itu mulai condong ke arah Barat. Bukti lain yang masih ada hingga saat ini adalah adanya aturan yang mewajibkan film asing berbahasa selain Inggris untuk didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Peraturan ini sebenarnya adalah upaya film AS (liberal) pada masa itu melawan serbuan film China (komunis) di Indonesia dan cara tersebut terbukti efektif.

Pergeseran Budaya
Melihat sejarah dan karakter budaya masyarakat Indonesia pada zaman dahulu, maka menimbulkan keherana tersendiri bagi saya. Di saat banyak orang heran tentang bagaimana sebuah kebebasan dibatasi, saya justru heran mengapa hal itu menjadi sebuah masalah besar. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi bagi saya sensor dan pencekalan telah lama menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Menjadi masalah adalah ketika nilai-nilai dalam masyarakat telah mulai bergesar. Di satu sisi kita harus mengakui kepandaian strategi AS dalam perang ideologi. Bagaimana mereka memilih untuk mengekspor film dibanding komoditi lainnya yang lebih berharga. Hal ini dilakukan agar ideologi dapat bergeser dari yang semula sangat kolektiv-sosialis beralih ke individualis-liberal.

Saat ini masyarakat Indonesia pun terpecah, di satu sisi sebagian masyarakat mulai menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan persamaan derajat. Presiden, ulama, dan para ahli mulai dianggap sama dengan masyarakat lainnya dalam berpendapat. Masyarakat merasa lebih tahu apa yang disebut "baik" bagi dirinya sendiri. Namun di sisi lain sebagian masyarakat masih menganut nilai-nilai kolektiv dan hierarki sosial. Dimana masyarakat sendiri masih belum mampu berdiri sendiri tanpa sokongan "para ahli". Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang dipahami pun belum sempurna. Meski masyarakat merasa dapat megatur dirinya tersendiri dan merasa lebih terdidik, namun kenyataan di lapangan bahkan banyak golongan terpelajar yang bertindak tidak terpelajar. Struktur masyarakat lama mulai rubuh tetapi belum ada konsensus mengenai struktur yang baru.

Menyikapi Lady Gaga misalnya, meski yang paling keras terdengar mengenai di jejaring sosial merupakan bentuk penyesalan tindakan FPI namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak masyarakat kita yang turut mendukung sikap tersebut. Pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang dari generasi tua misalnya setelah melihat seperti apa "wujud" dari Lady Gaga di televisi banyak yang kemudian justru merasa prihatin dan setuju terhadap tindakan FPI, MUI, PPP, dan sebagainya untuk menolak. Lain halnya dengan media jejaring sosial yang lebih banyak didominasi generasi muda yang sudah lebih "demokratis" dan hidup dengan nilai-nilai yang berbeda.

Maka disinilah toleransi akan budaya diuji. Sejauh mana masyarakat mampu memahami masyarakat lain yang hidup dengan nilai-nilai yang berbeda. Meski tentu itu bukan hal yang mudah karena bagi satu pihak menghormati adalah menuruti kehendak yang lain yang itu berlawanan dengan nilai-nilai kebebasan. Sementara di pihak lain menghormati diterjemahkan sebagai memberikan kebebasan bagis etiap orang yang itu berarti mengabaikan kebaikan kelompok.

Jumat, 18 Mei 2012

Rabu, 16 Mei 2012

Manusia Satu Malam

Dan mendadak semua menjadi seorang alim, yang memiliki berbagai pengetahuan tentang agama dan Tuhan mereka. Merasa telah mengkhatamkan ribuan kitab dan menyalahkan para ulama yang bodoh, karena tidak sependapat dengan nilai masa kini.

Mendadak pula para filsuf bermunculan dengan kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman satu dua dekade. Para generasi tua hendaknya mati saja meninggalkan dunia yang dipercaya akan lebih baik. Padahal para tetua kita juga pernah muda, pernah seperti mereka.

Berbicara tentang menghormati perbedaan dengan menafikkan perbedaan itu sendiri. Berbicara tentang pengetahuan tanpa adanya ilmu. Siapa benar? Siapa salah? Siapa tahu? Itulah kita, itulah manusia. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, dan kami tidak.

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat. (1:6-7)
The Way to Heaven (katta80.deviantart.com)

Jumat, 11 Mei 2012

Impian

It's called "life," John. Activities available; just add meaning. (Alicia - A Beautiful Mind)

Sebagian orang berkata bahwa manusia dapat hidup tanpa makanan, tetapi  manusiatidak dapat hidup tanpa harapan. Entahlah, semua hal semacam itu -mimpi, harapan, makna, dan tujuan- bukanlah sesuatu yang mudah dipahami dan dipercayai. Bagaimana mungkin kita bisa tahu sesuatu yang tidak dapat kita sentuh maupun kita lihat sama sekali?

Manusia tidak melakukan sesuatu sebatas apa yang dapat kita lihat. Ada makna dibalik setiap tindakan. Makna yang membuat seseorang tetap menjadi manusia dan bukanlah robot. Makna yang memberi warna pada hidup kita.

Begitu pula mimpi dan tujuan serta harapan. Itu semua memberikan kita arti dalam kehidupan. Pengejaran akan suatu imajinasi yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran kita. Kita mengejarnya, meraihnya jika berhasil dan bersenang-senang atasnya. Sebaliknya kegagalan akan menyebabkan perasaan sakit yang cukup mendalam.

Saya tidak mau bermimpi karena saya tahu itu bisa menyakiti. Tetapi saya sadar, hidup tanpa perasaan bukanlah suatu kehidupan yang nyata. Sejak kapan kita mendefiniskan pahit sebagai suatu rasa yang tidak kita kehendaki? Apapun itu, mimpi memberikan hidup kita makna. Dan semoga mimpi ini tidak berakhir dengan perasaan sakit.

Meaning (sesfitts.deviantart.com)

Jumat, 04 Mei 2012

Pauli

Akhirnya aku menemukan hal lain yang paling menjemukan dan menyebalkan dibandingkan menunggu dalam sendirian: mengerjakan tes Pauli. Celakanya di saat diriku harus menghadapinya seluruh tubuhku justru menolaknya dengan keras. Tanganku entah kenapa mendadak keram seolah tidak rela digunakan menulis jawaban diantara angka-angka yang berbaris rapi tersebut. Kakiku menolak perintahku untuk tenang dan justru berdetak mengikuti suara alunan musik yang bahkan telingaku tidak mampu mendengarnya. Minus pn seolah mendadak bertambah, meski aku tahu itu hanya tingkah bola mataku. Begitu pula otak pun -entah sengaja atau tidak- lebih memilih untuk mengajakku berkelilig dunia imajinasi yang tentunya jauh lebih menarik dibandingkan harus menjumlahkan angka-angka secara terus menerus dan berulang-ulang dalam waktu 3600 kali jarum detik berdetak tanpa alasan yang berarti. Dari dulu saya memang paling benci hal semacam ini.

The Numbers (johnshine.deviantart.com)

Rabu, 25 April 2012

Para Pekerja Nasionalis

"Kemana para nasionalis bekerja?"

Pertanyaan tersebut seketika memecahkan ruang keheningan yang tercipta. "Apa maksudmu?", tanyaku.

"Kau tahu, mereka yang memiliki jiwa nasionalisme dan ingin membangun negara, kemana mereka nantinya akan bekerja?"

"Entahlah, mungkin mencoba menjadi Presiden, menteri, anggota DPR atau semacamnya", jawabku sekenanya.

"Ah kau ini, berapa banyak sih orang yang menjadi presiden, berapa banyak pula orang yang berjiwa nasionalis. Maksudku selain itu kemana mereka akan pergi?"

"Benar juga apa katamu, mungkin menjadi Pegawai Negeri seperti kebanyakan orang ... atau seorang Guru yang mencerdaskan masyarakatnya", kataku mencoba bijaksana.

Lelaki itu tertawa kecil, "PNS? Kau yakin? PNS saat ini terlalu identik dengan kenyamanan dan kemalasan. Orang bahkan lupa bahwa mereka bekerja untuk mengabdi pada bangsanya, atau mungkin memang tidak demikian"

Di dalam hati aku mau tidak mau sedikit setuju dengan apa yang dikatakannya. Tetapi aku masih ragu akan kebenaran perkataan tersebut. "Sebagian yang lain mencoba menjadi wiraswasta, tentu dengan segala resikonya. Kau tahu menjadi wiraswasta dalam budaya yang sangat Jawa-sentrik ini bukanlah sesuatu yang membanggakan. Disini orang hidup untuk mengabdi ..."

"Tapi bukan berarti semua masyarakat Jawa anti terhadap wiraswasta kawan, kau tahu ada beberapa daerah di Jawa ini yang terkenal dengan jiwa wiraswastanya. Meski benar apa katamu, selalu ada mitos yang menghantui mereka", potongnya menyela perkataanku.

"Wiraswasta, mereka membangun negeri ini. Kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya kepada negara. Kapitalis kata mereka, tetapi kapitalis juga yang selama ini ikut membangun negeri. Mereka nasionalis." Aku diam sejenak memikirkan kata-kataku tadi. "Selama ini orang banyak berpikir mengabdi adalah tentang menjadi bawahan, tentang bekerja tanpa imbalan. Padahal dengan kita berusaha sebaik mungkin membangun bisnis, kita juga membangun negeri ini."

"Tangan ghaib Adam Smith, eh? Tak ku sangka kau percaya juga hal macam itu." Katanya sembari tersenyum. Bukan senyum ramah, tetapi sedikit ada bumbu sinis terpampang disana. "Jadi salahkah kita berjiwa nasionalisme dengan menjadi pekerja yang loyal mengabdi?"

Veteran Bandung (ahdhan.deviantart.com)
Aku berpikir sejenak. Entah kenapa sedari tadi kata-kata tersebut keluar dari mulutku dimana bahkan aku sendiri pun tidak percaya akan berkata demikian. Tetapi muncul dorongan yang dalam untuk terus melanjutkan percakapan ini. "Tidak, tentu tidak. Lihatlah para tentara kita misalnya, dengan gaji yang tidak seberapa mereka rela bersusah payah berjuang demi negara ini. Mungkin mereka adalah contoh nasionalis sejati."

"Lalu bagaimana dengan aku? Apakah sebagai nasionalis aku harus menjadi tentara untuk mengabdi?", tanyanya tajam terhadapku.

"Ah kau ini, aku yakin kau tidak sebodoh itu. Mengabdi kepada negara bukan berarti harus berupa jiwa dan raga fisik sepenuhnya. Saat ini ekonomi menjadi medan perang dunia yang sesungguhnya. Sebagian dari para nasionalis itu mereka mencoba mempertahankan negara ini melalui perusahaan-perusahaan BUMN dan perusahaan nasional lainnya. Mungkin kita bisa ikut disana."

"Lalu bagaimana kau tahu perusahaan mana yang membantu kita dalam peperangan ini?"

Aku terdiam sejenak. Menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah. "Kau tahu, secara formal perusahaan nasional dilihat dari tempat dimana saham-saham mereka dijual. Selama saham mereka tercatat di pasar modal Indonesia maka itu menjadi perusahaan nasional." Dirinya tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun aku lantas menyambung perkataanku tadi. "Tetapi tentu tidak semudah itu, menjadi ironi adalah ketika ternyata saham-saham tersebut banyak dimiliki oleh orang asing. Begitu pula sebaliknya tidak sedikit pengusaha Indonesia yang memiliki saham-saham perusahaan asing. Lantas pada siapa sebenarnya kita bekerja?"

Dia tampak terpana. Tatapan matanya yang dalam seolah ingin menelanjangi pikiranku sepenuhnya.

Aku melanjutkan perkataanku, "Menjadi ironi juga adalah ketika banyak perusahaan nasional yang justru merugikan masyarakat negeri ini sendiri sementara di sisi lain banyak perusahaan asing yang justru banyak membantu dalam membangun negeri ini. Lantas bagaimana kita menakar nasionalisme kita dalam situasi tersebut?"

"Ah kau ini, aku yang bertanya duluan. Kenapa kamu malah menanyakan kembali kepadaku?", tampak senyum kepuasan di wajahnya. Kepuasan larena telah berhasil menularkan kebimbanngan hatinya selama ini.

"Nasionalisme tidak bisa dilihat sebatas dimana kita bekerja, kawan. B.J Habibie misalnya, dia bekerja untuk orang asing di negeri asing sana. Tetapi dengan pekerjaannya itu dia mengharumkan nama negeri ini di kancah dunia. Maka dapatkah kita tuduh bahwa orang yang bekerja untuk orang-orang asing sana tidak memiliki jiwa nasionalis?", aku mengambil nafas dalam.

"Jadi, kesimpulannya apa kawan?"

"Entahlah aku masih bingung," jawabku. Aku terdiam, mencoba meresapi dan memahami sepenuhnya kata-kataku sendiri. "Nasionalisme adalah sebuah jiwa, tekad, niatan, dan motivasi. Dia memilliki wujud abstrak. Seorang petani misalnya, dia bisa menjadi sangat mulia ketika dia melakukan pekerjaannya demi memberi makan dunia. Sebaliknya menjadi sangat tidak mulia ketika apa yang dilakukannya hanya demi lembaran uang yang digunakannya untuk memenuhi nafsu dan egonya semata. Nasionalisme bukanlah tentang dimana dan menjadi apa ketika kamu bekerja, tetapi tentang untuk apa kamu bekerja. Tentang niat dan tekad untuk selalu memberikan yang terbaik untuk negeri ini"

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob rodiallohuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rosululloh alaihisolatu wassalam bersabda :
"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.“ (H.R. Bukhori no:01 dan Muslim no:1907)

Selasa, 24 April 2012

Makna Bekerja bagi Masyarakat Jawa di Daerah Kotagede

 Alhamdulillah selesai juga penelitian saya mengenai makna bekerja bagi masyarakat Jawa. Penelitian tersebut mengajarkan banyak hal kepada saya akan apa arti dari kehidupan dan kedudukan hakikat manusia. Sebuah bagian dari perjalanan hidup yang (semoga) tidak akan terlupa.
ABSTRAK  Penelitian sebelumya menunjukkan adanya perbedaan makna kerja pada budaya yang satu dengan yang lainnya. Padahal makna kerja memiliki pengaruh pada kepuasan kerja, komitmen organisasi, stress, motivasi, dan hasil kerja itu sendiri. Penelitian ini mencoba mencari tahu makna kerja dari masyarakat Jawa yang tinggal di daerah Kotagede. Metode: penelitian ini menggunakan metode fenomenologi dengan melibatkan tiga orang subjek dari berbagai latar belakang pekerjaan yang tinggal di Kotagede. Data diambil menggunakan metode wawancara. Hasil: bekerja diartikan sebagai sebuah usaha untuk mendapatkan hasil (rezeki, nafkah, dsb) yang telah ditetapkan oleh Tuhan guna memenuhi kebutuhan keluarga. Lebih dari itu bekerja juga dimaknai sebagai upaya mempertahankan eksistensi diri kepada Tuhan dan masyarakat.

Lebih lanjut silahkan klik disini untuk mengunduh ringkasan penelitian tersebut.

Jumat, 30 Maret 2012

Kesalahan Pendidikan Ilmu Sosial

Mungkin tidak banyak yang menyadari bahwa pendidikan ilmu-ilmu sosial di Indonesia mengalami kesalahan fundamentalis yang cukup parah. Kesalahan ini berakar dari metode belajar mengajar yang kurang tepat ditunjang dengan kurikulum sesat. Akibat terbesarnya adalah adanya ketidaktepatan antara teori-teori yang dipelajari dengan kenyataan di lapangan. Gejala ini seringkali muncul terutama melalui adanya anggapan dunia teoritik yang jauh dari kenyataan.

Belajar (gasse.deviantart.com)


Perbedaan Fundamental
Di AS ilmu pengetahuan dibagikan menjadi dua jenis yaitu Art dan Science sedangkan di Indonesia pembagian ini lebih dikenal sebagai Ilmu-Ilmu Alam dan Ilmu-Ilmu Sosial. Keduanya sebenarnya memiliki karakteristik fundamentalis yang berbeda. Ilmu-ilmu alam mempercayai adanya kebenaran mutlak yang bersifat objektif, dimana kebenaran tersebut dapat diterima oleh semua manusia tanpa terkecuali. Misalnya batu yang dilepaskan akan jatuh ke bawah. Di belahan bumi manapun fenomena tersebut akan terus berulang tapa adanya perbedaan. Itulah yang disebut kebenaran mutlak yang bersifat objektif.

Lain halnya ilmu-ilmu sosial, meski hingga saat ini terdapat kecenderungan para ahli untuk mencari sebuah kebenaran objektif yang bebas nilai dan budaya, akan tetapi pada akhirnya para ahli tetap dipaksa untuk mengakui bahwa sangat sulit atau mustahil untuk menemukan satu kebenaran mutlak yang bersifat objektif. Ilmu sosial memang erat kaitannya dengan objektivitas, sehingga dalam ilmu sosial tidak dikenal adanya satu kebenaran mutlak tetapi adanya kebenaran yang beragam merunut dari berbagai versi.

Sehingga dalam pembelajaran ilmu sosial sangat diperlukan adanya ragam versi dalam penguasaan ilmu tersebut. Ilmu sosial harus dikembangkan dari subjektivitas masing-masing yang berasal dari beragam nilai dan budaya masing-masing. Hal ini diperlukan untuk memberikan gambaran secara lengkap dan terperinci terhadap keadaan yang ada serta demi mengembangkan keilmuan itu sendiri.

Kegagalan Sistem Ajar
Meski demikian kurikulum dan sistem pembelajaran di Indonesia saat ini gagal memahami adanya perbedaan fundamental tersebut. Setelah tumbangnya era Islam, ilmu pengetahuan alam dan tekonologi saat itu banyak yang diboyong ke masyarakat Eropa dan dikembangkan. Sejak masa itu disebutlah era reinassance dimana setelahnya sejarah mencatat AS-Eropa menjadi pusat peradaban dunia ditandai dengan kemajuan teknologi yang dimiliki.

Asia yang saat itu tertiggal kemudian mencoba belajar dari AS-Eropa. Termasuk salah satunya adalah Indonesia. Pada awalnya ilmu-ilmu yang diimpor tersebut merupakan ilmu-ilmu alam seperti teknik dan kedokteran. Hingga pada akhirnya muncul impor ilmu pengetahuan secara besar-besaran hingga saat ini dan tidak sebatas ilmu alam tetapi juga ilmu sosial. Impor ini dilakukan dengan metode copy cat yang masuk dalam kurikulum pembelajaran Indonesia.

Fenomena impor pengetahuan ini tentunya tidak menjadi masalah dalam ranah ilmu sosial dengan anggapan utamanya tentang kebenaran mutlak yang objektif. Akan tetapi tanpa disadari impor ilmu pengetahuan ini adalah tindakan yang salah dalam ranah ilmu sosial. Hal ini dikarenakan ranah ilmu sosial tidak mengenal adanya kebenaran ilmu mutlak sehingga ilmu-ilmu impor tersebut sangat rentan terhadap ketidakcocokan kondisi masyarakat pegimpor ilmu tersebut.

Masalahnya adalah sistem ajar ranah ilmu alam dan ilmu sosial disamakan. Ilmu alam dikembangkan dengan metode evaluasi dan inovasi. Langkah pertama adalah mengejar ketertinggalan dengan sebanyak mungkin menguasai ilmu-ilmu impor tersebut. Sedangkan langkah kedua adalah sekedar mengawinsilangkan dan menambahi atau inovasi dari ilmu-ilmu tersebut untuk menciptakan ilmu baru.

Begitu juga dalam ranah ilmu sosial. Pembelajaran didasarkan pada buku teks impor yang tentunya juga berisi ilmu pengetahuan impor. Ditambah dengan metode pembelajaran yang sifatnya evaluatif hanya sebatas melihat kemampuan siswa dalam menyerap pengetahuan impor tersebut. Pada akhirnya metode semacam ini hanya melahirkan buku-buku yang berjalan.

Diploma Disease
Cara pembelajaran seperti ini sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah dalam level pendidikan diploma, SMA, dan kebawah. Namun menjadi masalah yang sangat berarti dalam tataran tingkat sarjana dan seterusnya. Hal ini dikarenakan sifat pendidikan sarjana yang bertujuan untuk mengembangkan keilmuan (baca: Mengenal Pendidikan). Celakanya kekurang pahaman terhadap perbedaan ini menimbulkan adanya pragmatisme pendidikan pada tingkatan sarjana yang justru memperparah keadaan ini (baca: Pragmatisme Pendidikan)

Maka dari itu salah seorang teman saya mencetuskan sebuah istilah yang disebut sebagai Diploma Disease. Istilah ini merujuk pada kecenderungan para mahasiswa tingkat sarjana yang justru menerapkan sistem pembelajaran model diploma yaitu sebatas copy cat terhadap ilmu yang sudah ada daripada mencari gagasan pemahaman secara keseluruhan. Dalam bahasa kasarnya, adanya kecenderungan mahasiswa untuk menghafal buku ajar demi persyaratan akademik (nilai) dibanding kecenderunngan untuk mencari pemahaman dan mengembangkan ilmu sendiri.

Jauh-jauh hari salah seorang peneliti Belanda yaitu Niels Mulder telah mengkritik metode pembelajaran yang kurang tepat diterapkan dalam ranah ilmu sosial ini. Mulder mengkritik bagaimana para mahasiswa Indonesia lebih diarahkan kepada penguasaan teori-teori asing yang kurang tepat terhadap budaya mereka dibandingkan dengan mengembangkan gagasan mereka sendiri. Akibatnya ilmu pengetahuan ini stagnan dan tidak berkembang serta kebijakan-kebijakan yang dihasilkan dari ilmu-ilmu tersebut seringkali merusak tatanan sosial yang telah ada.

Epidemi Akut
Celakanya penyakit ini telah menjadi epidemi akut di wilayah Asia. Pola-pola semacam ini ditemukan tidak hanya di Indonesia tetapi juga pada pembelajaran di negara-negara Asia lain semisal China dan Jepang. Pola-pola pembelajaran ini telah menjadi trend tersendiri dalam dunia pendidikan di Asia. Namun pola seperti ini kurang memberikan ruang untuk kelahiran ilmu pengetahuan dan teknologi yang baru namun lebih sebatas inobasi dai apa yang telah ada. Jika kita lihat lebih teliti misalnya kita akan melihat bahwa meskipun Jepang dan China sudah cukup maju dalam bidang IT namun teknologi yang mereka hasilkan lebih ke arah inovasi dibandingkan sebuah penemuan baru.

Jika hal ini terus dibiarkan akan menjadi permasalahan tersendiri terutama dalam ranah ilmu sosial. Terlebih karena kebanyak ilmu yang telah ada saat ini berasal dari basis masyarakat yang memiliki nilai dan kebudayaan yang cukup berbeda. Disinilah kita perlu untuk melahirkan sebuah gagasan-gagasan baru yang lahir dari subjektivitas nilai dan kebudayaan kita sendiri. Karena jika bukan ilmu yang berubah maka nilai dan budayalah yang akan mengalami perubahan.

Maka perlu adanya perubahan fundamental dalam sistem pendidikan ilmu sosial saat ini. Ruang-ruang untuk  gagasan dan ide segar perlu dibuka lebih luas. Mahasiswa harus didorong untuk berpikir dan menganalisis, jangan sebatas menghafal ilmu-ilmu yang telah ada. Sistem penilaian pembelajaran harus didasarkan pada originalitas dan logika gagasan daripada literatur dan penguasaan teori (baca: Siapa Bodoh). Pola penilaian seperti ini akan memunculkan pemikir-pemikir ulung di masa mendatang alih-alih buku berjalan.

Selain itu perlu kiranya menilik kembali ilmu-ilmu dari buku-buku tua karya asli para ahli Indonesia daripada memenuhi rak buku perpustakaan denganbuku impor. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan adanya gagasan-gagasan asli yang telah dicentuskan sebelumnya dan menunggu untuk dikembangkan. Ini semua memerlukan sebuah kemauan yang besar dari pemilik kebijakan.

Senin, 26 Maret 2012

Bensin Naik Lagi

Bensin: Making the World Turn (officemr1980.deviantart.com)

Beberapa hari terakahir isu kenaikan BBM menjadi semakin panas. Berbagai aksi demonstrasi marak bermunculan di berbagai tempat. Bahkan beberapa pihak menuding adanya upaya makar. Di satu sisi TNI pun terpaksa keluar barak membackup POLRI dalam mengatasi demonstrasi yang jumlahnya semakin banyak. Ketidakpastian akan kebijakan itu sendiri dan berbagai macam spekulasi turut memperkeruh keadaan. Terlebih dengan adanya bumbu dari media massa dan partai oposisi yang sedang naik daun sehingga situasi politik menjadi  kian memanas. Namun entah mengapa Pak Presiden kita malah plesir ke negeri Komunis yang sedang mencoba menggenggam dunia.

Udah Pernah
Sebenarnya kenaikan BBM bukan pertama kalinya terjadi di Indonesia. Beberapa kali kenaikan pernah terjadi namun tidak sepanas kali ini. Pada era Megawati masyarakat cukup maklum BBM dinaikkan karena situasi ekonomi sedang mengalami kesulitan. Sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri mengingat saat itu Indonesia sedang mengalami keterpurukan pasca krisis moneter 1998. Bukan itu saja, pada era SBY-JK harga BBM juga pernah naik. Hal itu dilatarbelakangi melambungnya harga minyak dunia. Maka saat itu masyarakat menjadi maklum dengan kenaikan tersebut.

Di sisi lain adalah bagusnya manajemen pengumuman kebijakan. Pada kenaikan-kenaikan sebelumnya pengumuman kebijakan tersebut langsung disampaikan secara gamblang dan tegas. Dilanjutkan dengan pelaksanaan yang dilakukan dalam waktu yang tidak berselang lama. Hal ini menyebabkan berbagai spekulasi dan penolakan tidak sempat tumbuh dan berkembang dengan liar. Sebuah ketegasan dari seorang pemimpin yang memberikan jaminan dalam bentuk kepastian masa depan, bukan keragu-raguan.

Memahami Oposisi
Mari kita kembali untuk memahami sebenarnya apa itu subsidi BBM. Subsidi BBM pada awalnya adalah selisih keuntungan hasil penjualan minyak Indonesia dengan pembelian minyak untuk konsumsi. Prinsip model seperti ini sebenarnya semi-sosialis dimana negara memberikan rakyatnya kemudahan dalam berbagai sektor termasuk BBM. Namun sayangnya selisih keuntungan tersebut semakin lama semakin menipis mengingat sumber daya alam minyak Indonesia yang juga semakin habis. Maka pada akhirnya subsidi tersebut justru membebani APBN karena harus diambilkan dari sektor penerimaan lain. (Lebih lanjut baca: Sedikit Mengenal Minyak Indonesia)

Namun dalam kondisi ekonomi Indonesia yang sedang sehat saat ini, pihak oposisi mempertanyakan alasan menaikkan harga BBM. Ketika APBN Indonesia sedang gemuk mengapa bisa muncul anggapan bahwa subsidi BBM membebani APBN? Jika anggaran yang direncanakan untuk subsidi kurang, mengapa tidak ditambah saja porsinya?

Selama ini BBM dianggap sebagai barang konsumsi saja. Padahal menurut pihak oposisi, BBM di satu sisi juga merupakan barang modal. Dengan adanya BBM murah maka perekonomian menjadi semakin maju dan berkembang. BBM murah juga memberikan kesejahteraan pada masyarakat. Jadi mengapa tidak mengalokasikan anggaran yang cukup besar untuk subsidi BBM yang pada akhirnya akan dinikmati masyarakat banyak?

BBM sendiri juga telah menjadi salah satu barang pokok dalam kehidupan. Kenaikan harganya akan memiliki efek domino dan berpengaruh pada komoditi-komoditi lainnya. Inflasi akan meningkat, selain itu dikhawatirkan kenaikan harga ini akan memperburuk kondisi ekonomi dan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia.

Terlebih dengan adanya tuduhan kepentingan asing di balik pengurangan subsidi ini, maka isu kenaikan harga BBM ini menjadi semakin panas. Kenaikan harga BBM akan membuat selisih harga BBM pemerintah (yang dikelola pertamina) menjadi semakin tipis dengan BBM swasta (semisal Shell, Petronas, dsb) yang tentunya akan menguntungkan pihak swasta asing tersebut. Ditambah dengan adanya isu neoliberalisme yang bertujuan menghapus berbagai macam subsidi demi pasar bebas yang kurang memihak negara berkembang dan kurang sesuai dengan grand design negara Indonesia.

Sisi Lain
Di sisi lain anggaran subsidi BBM selama ini dianggap sebagai sebuah pemborosan. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa BBM kebanyakan dinikmati kendaraan-kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum atau pegangkut barang. Terlebih dengan banyaknya pasaran kendaraan murah di Indonesia membuat konsumsi BBM menjadi semakin mengganas. Konsumsi BBM untuk kendaraan pribadi menunjukkan bahwa selama ini BBM lebih banyak digunakan oleh kalangan menengah atas, yang notabene dianggap mampu secara ekonomi untuk membeli BBM tanpa subsidi.

Begitu juga dengan meningkatnya konsumsi BBM dan tidak diimbangi dengan produktivitas BBM Indonesia maka anggaran yang dibutuhkan semakin meningkat. Hal ini diperparah dengan adanya embargo Iran yang melambungkan harga minyak dunia sehingga beban APBN menjadi semakin besar. Anggaran sebesar itu dan lebih banyak dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas, menjadi pertanyaan tersendiri apakah sudah tepat kebijaksanaan tersebut.

Maka dari itu sebagian ahli menyatakan bahwa alangkah lebih bermanfaatnya jika anggaran yang selama ini digunakan untuk membayar subsidi BBM dialihkan untuk hal-hal lain semisal pendidikan dan kesehatan. Hal inilah yang menguatkan dorongan untuk mengurangi anggaran yang dihabiskan pemerintah untuk mensubsidi harga BBM. Terlebih masyarakat kini mulai menyadari bahwa pendidikan dan kesehatan merupakan hal utama yang seharusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah.

Bijaksana
Perubahan memang kata-kata yang indah, namun bukan sesuatu yang mudah untuk dilaksanakan (baca: Perubahan #2). Perubahan selalu menimbulkan gejolak sosial, ibarat sebuah mangkuk berisi air yang dipindahkan (baca: Analogi Mangkuk). Terlepas dari prinsip mana yang anda pegang dalam menyikapi kenaikan BBM, maka ada hal-hal lain yang juga kita perlu cermati.

Satu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah adanya kenyataan bahwa konsumsi BBM di Indonesia terlalu berlebiha. Terlebih karena kebanyakan BBM tersebut digunakan untuk kendaraan pribadi, dimana sebenarnya hal tersebut dapat ditekan. Misalnya saja dahulu ketika BBM mencapai angka enam ribu per liter, orang menjadi lebih bijaksana dalam menggunakan BBM. Aktivitas-aktivitas yang tidak perlu dihindari. Semisal sekedar membeli makanan dalam jarak dekat maka lebih disarankan untuk berjalan kaki atau bersepada.

Namu tidak saat ini. Jarak yang sangat dekat pun terkadang ditempuh dengan kendaraan bermotor karena kita terlalu malas. Pergi sendirian lebih memilih menggunakan mobil padahal sudah tentu mobil jauh lebih boros daripada BBM. Kita terlalu malas, dan kita terlalu manja. Kita menggunakan BBM dengan borosnya tanpa berpikir bahwa uang yang kita hamburkan dapat kita gunakan untuk kepentingan lain.

Maka dimana para aktivis lingkungan dadakan yang menyuarakan keselamatan lingkungan? Entah kenapa saya menjadi berpikir mungkin ada baiknya jika BBM dinaikkan. Sama seperti halnya terkadang kita harus mendapatkan sakit agar dapat bersyukur terhadap kesehatan yang kita dapatkan selama ini. Bijaksanalah. Bukan impian muluk untuk menyingkirkan kendaraan bermotor, tetapi hematlah semampu kita.