Minggu, 12 Agustus 2012

Mau jadi Spesialis atau Generalis?

Hidup adalah adalah tenteng memilih dan menjalani pilihan. Dan pilihan tersebut pada akhirnya akan mengarhkan pada pilihan lain dan pilihan lainnya lagi. Begitulah kehidupan yang berkisah tentang pilihan yang terus berputar hingga akhir hayat.

Dahulu ketika lulus kuliah saya dihadapkan pada dua pilihan: meneruskan sekolah atau berkarir. Maka dengan hati yang mantap saya memutuskan untuk mengutamakan karir terlebih dahulu dengan segala pertimbangan yang ada. Namun ternyata pilihan tidak berhenti sampai disitu, masih ada banyak pilihan lain yang datang menghampiri silih berganti.

Choosing a Career (costalonga.deviantart.com)

"Mau jadi generalis atau spesialis, Dek?", sebuah pertanyaan yang menghentakkanku. Aku bahkan tidak tahu apa beda dari keduanya tersebut. Artikel ini akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya memasuki dunia kerja, dan saya harap pengalaman ini akan memberikan informasi dan pengetahuan kepada teman-teman yang nantinya juga melangkah ke dunia yang sama.

Menjadi Spesialis
Karir sendiri (setahu saya) dibedakan menjadi dua jenis: specialist dan generalist. Dari keduanya sebenarnya sudah nampak apa perbedaannya secara umum. Specialist mengarahkan seseorang memiliki keahlian khusus dalam satu bidang tertentu secara mendalam, sedangkan generalist mengarahkan seseorang memliki banyak keahlian sekaligus meskipun tidak terlalu mendalam.

Pada umumnya ada beberapa posisi yang menuntut spesialisasi, misalnya recruitment, engineer, surveyor, dan sebagainya. Posisi-posisi spesialis ini biasanya memiliki embel-embel semisal junior atau senior di depan jabatan mereka. Misalnya Junior Recruitment Officer atau Senior Surveyor.

Pemberian nama junior atau surveyor ini biasanya digunakan untuk menunjukkan tingkatan karir dari si pemegang jabatan tersebut. Hal ini dilakukan karena dalam bidang spesialisasi si pemegang jabatan tidak akan pernah berganti pekerjaan. Misalnya seorang spesialis dalam bidang rekruitmen akan terus menerus melakukan pekerjaannya sebagai rekruiter. Yang membedakannya hanyalah levelnya. Untuk level junior mungkin hanya diperbolehkan mengurusi administrasi atau mungkin melakukan rekruitmen untuk tingkatan freshgraduate. Sedangkan untuk posisi-posisi level atas misalnya supervisor atau superintendent mungkin hanya senior recruitment officer yang diperbolehkan melakukan rekruitmen.

Bahkan jika kita memang sudah benar-benar menjadi spesialis dalam bidang tersebut, bisa jadi puncak karir dari spesialis adalah menjadi seorang advisor. Para spesialis ini memang jarang yang kemudian menduduki posisi puncak dalam organisasi, tetapi spesialisasi mereka menjadi harga tersendiri yang sangat dibutuhkan organisasi.

Meski demikian belakangan ini banyak organisasi yang menghapus penggunaan kata junior atau senior pada jabatan-jabatanyang ada dalam perusahaan mereka. Salah satu pertimbangannya adalah karena faktor gengsi. Tentu akan lebih membanggakan jika dua orang karyawan dari dua organisasi berbeda bertemu dan yang satu mengatakan sebagai recruitment officer dibandingkan junior recruitment officer meskipun mungkin sebenarnya keduanya memiliki kedudukan dan fungsi yang sama.

Lalu bagaimana membedakan posisi mereka? Setiap perusahaan biasanya memiliki sistem evaluasi pekerjaan mereka masing-masing. Dimana dari evaluasi tersebut dapat kita ketahui level dari masing-masing posisi dibandingkan posisi lainnya. Posisi ini biasanya ditunjukkan menggunakan angka. Maka dalam beberapa organisasi mereka membandingkan satu posisi dengan posisi lainnya melalui angka level tersebut daripada nama jabatan itu sendiri.

Menjadi Generalis
Apabila dengan menjadi spesialis membuat kita ahli dalam satu bidang tertentu.Maka menjadi generalis mengarahkan kita memiliki beberapa keahlian tertentu sekaligus. Para generalis diarahkan untuk menduduki posisi-posisi puncak perusahaan. Dimana posisi tersebut tentunya membutuhkan beberapa keahlian sekaligus. Untuk menjadi CEO misalnya harus memiliki kemampuan dalam keuangan, administrasi, produksi, dan sebagainya.

Oleh karena itu karir para generalis cenderung berpindah-pindah posisi agar nantinya ketika menjadi seorang pemimpin sudah memiliki pengetahuan dari masing-masing bagian yang dibawahinya. Kemampuan utama yang harus dimiliki seorang generalis cenderung ke arah kemampuan maanjerial dibanding kemampuan yang sifatnya khusus. Meski demikian perpindahan tersebut cenderung dalam satu bidang yang sama atau mirip.

Posisi-posisi generalis ini biasanya tidak memiliki embel-embel junior atau senior pada jabatannya. Meski demikian trend saat ini dimana banyak organisasi seringkali menghapuskan kata junior dan senior dalam jabatan spesialis mereka membuat kita kebingungan dalam mendeteksi suatu jabatan apakah hal tersebut mengarah kepada spesialisasi atau generalisasi.

Dalam kondisi seperti ini lebih baik tanyakanlah kepada bagian HR. Karena setiap jabatan memiliki career path masing-masing. Career path ini juga yang nantinya menuntun kita dalam penyusunan Individual Development Program untuk masing-masing individu dalam perusahaan. Jangan sampai kita salah memilih jalan yang akan kita tempuh karena masing-masing memiliki tujuan yang berbeda.

Menentukan Tingkatan
Pertanyaan lain yang sempat membuat saya bingung dahulu adalah ketika seorang interviewer menanyakan kepada saya, "Dalam sepuluh tahun setelah ini, anda mau menjadi apa?". Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan umum dalam wawancara pekerjaan. Namun di saat itu saya baru benar-benar sadar bahwa saya tidak tahu apapun tentang tingkatan karir/hierarki organisasi.

Masing-masing organisasi memiliki strukturnya masing-masing. Tidak ada aturan khusus yang mengharuskan suatu organisasi menggunakan struktur tertentu dan menamai jabatan dalam organisasinya dengan standar tertentu. Meski demikian secara umum struktur perusahaan tersusun sebagai berikut (mulai dari yang bawah):

  1. clerk (untuk pekerjaan kantor)/ leadmen (untuk pekerjaan lapangan)/ frontliner (biasanya digunakan perbankan). Pada tingakatan ini biasanya diisi oleh lulusan SMA/SMK/D3
  2. analyst/ foreman (untuk pekerjaan di lapangan) /officer (untuk pekerjaan di kantor)/ junior ... (untuk karir spesialis). Posisi ini memungkinkan untuk dijabat freshgraduate level sarjana.
  3. supervisor (untuk generalis)/ nama jabatan tanpa embel-embel (untuk karir spesialis). Untuk menduduki posisi ini setidaknya di butuhkan pengalaman 2-3 tahun di bidang yang sama.
  4. superintendent (untuk generalis) / senior ... (untuk generalis). Seorang superintendent biasanya memimpin section atau bagian tertentu. Dalam bahasa Indonesia kita sering menyebutnya sebagai kepala bagian. Untuk menduduki posisi ini setidaknya memiliki pengalaman 5 tahun di bidang tersebut.
  5. manajer. Posisi ini memimpin beberapa section sekaligus dalam satu departemen. Untuk menduduki posisi ini setidaknya harus memiliki pengalaman selama 8-10 tahun di bidang yang sama.
Untuk level berikutnya penamaan posisi menjadi lebih relatif lagi sesuai struktur masing-masing organisasi. Struktur itu biasanya disesuaikan dengan bisnis organisasi dan kebijakan yang ada. Beberapa organisasi memiliki jenjang yang lebih pendek sementara organisasi lainnya lebih panjang.

Oleh karena itu tidak serta merta satu posisi yang memiliki nama yang sama di perusahaan berbeda memiliki tingkatan yang sama. Seorang manajer hotel tentunya memiliki level yang berbeda dibandingkan manajer perusahaan manufaktur. Hal ini dikarenakan bisnis dari masing-masing organisasi yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Begitu pula tentang batas minimal waktu yang harus ditempuh untuk naik ke tingkat berikutnya. Bisa dikatakan menjadi superintendent dalam lima tahun misalnya, merupakan sebuah karir yang termasuk pesat dan lancar. Bisa jadi kita akan menduduki posisi tertentu lebih lama daripada yang kita bayangkan. Ini semua kembali pada sistem dan diri kita sendiri.

Menghargai Diri Sendiri
Ketika masing-masing organisasi memiliki strukturnya sendiri. Bagitu pula kita harus bisa menentukan tujuan dari karir kita nantinya. Apakah akan menjadi seorang spesialis yang ahli dalam bidang tertentu atau generalis yang nantinya menjadi bagian dari kepemimpinan suatu organisasi.

Satu hal yang perlu dicatat adalah meski para spesialis kecil kemungkinan untuk menduduki posisi-posisi manajerial dalam organisasi bukan berarti mereka tidak dihargai. Para spesialis memiliki posisi yang sama pentingnya dalam suatu organisasi sama halnya para generalis. Begitu pula dalam hak-hak yang akan mereka peroleh.

Jadi ini semua kembali kepada pilihan kita masing-masing, sebagian orang cocok menjadi seorang pemimpin. Sedangkan sebagian lainnya mungkin lebih tertarik dan cocok untuk fokus dalam bidang tertentu dan menjadi spesialis. Maka kenali diri kita dan pilihlah jalan kita.

2 comments:

Adore Store mengatakan...

Mantab nih isi blognya, saya baru mengerti mengenai struktur organisasi dan career path yang berbeda dalam pekerjaan berkat ini. thanks ya

Annisaa Rasyida mengatakan...

Sangat berkesan sekali tulisannya. Mantap. Benar sekali kata mas, bikin saya lebih belajar ketika masuk dunia kerja dan jenis karir apa yang kita ambil. Saya jadi pengen tahu, Kalo mas sendiri, spesialis atau generalis? Boleh tau alasannya? Terimakasih.