Senin, 07 Maret 2011

nrimo ing pandum, makaryo ing nyoto

Nrimo artinya menerima, sedangkan pandum artinya pemberian. Jadi Nrimo ing Pandum memiliki arti menerima segala pemberian pada adanya tanpa menuntut. Konsep ini menjadi salah satu falsafah Jawa paling populer dimana masih sering digunakan oleh beberapa masyarakat.

Sebagian ilmuwan sosial menganggap konsep ini sebagai salah satu penyebab rendahnya etos kerja masyarakat Jawa. Sifat masyarakat yang menerima segala sesuatu apa adanya menyebabkan masyarakat tidak memiliki motivasi untuk bekerja.Sehingga masyarakat hanya diam saja menunggu sebuah pemberian tanpa melakukan sebuah usaha.

Asumsi ini muncul mengingat teori-teori Psikologi dewasa ini menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia berasal dari kepentingan diri mereka sendiri. Mulai dari pendekatan psikoanalisis yang beranggapan bahwa manusia bertingkah laku karena dorongan dari dalam diri yang disebut Id hingga teori-teori humanistik yang menggambarkan manusia seharusnya menjadi diri sendiri seperti yang individu tersebut inginkan. Bahkan perilaku prososial pun dianggap sebagai upaya pengharapan akan balasan perilaku ynag sama dari orang lain.

Dari teori-teori yang lahir dari rahim masyarakat individualistik maka wajar jika semua perilaku yang dilakukan oleh manusia berasal dari motif pribadi dan demi kepentingan diri sendiri. Termasuk dalam hal ini adalah bekerja. Sebuah tindakan seorang individu dianggap hanya untuk dirinya sendiri. Prakteknya adalah berbagai macam kebijakan yang bertujuan meningkatkan kinerja individu berdasarkan pada kebutuhan pribadi.

Seringkali kita lupa bahwa hidup ini bukan hanya tentang memperoleh sesuatu dari dunia, tetapi juga memberikan sesuatu pada dunia. Islam mengenal konsep Qadha dan Qadar yaitu adanya ketetapan-ketetapan yang telah diatur oleh Allah SWT. Dalam bahasa mudah dapat kita katakan bahwa di dunia ini ada hal-hal tertentu yang diluar jangkauan kemampuan kita.

Untuk mengatasi masalah tersebut dikenallah konsep tawakal dalam Islam. Tawakal artinya berserah diri terhadap Allah SWT. Sehingga setiap ketetapan yang ada harus kita terima dengan lapang hati karena kita telah menyerahkan segala urusan kepada Allah SWT. Sekilas konsep ini mirip dengan konsep Nrimo ing Pandum.

Konsep Tawakal, seperti halnya Nrimo ing Pandum juga seringkali dianggap berlawanan dengan konsep berusaha atau bekerja keras. Padahal jika kita mau mencermati, kedua konsep ini hanya menjelaskan tentang satu hubungan, yaitu bagaimana menerima stimulus dari luar dan tidak menjelaskan bagaimana seharusnya memberikan stimulus ke luar.

Padahal kita melakukan dua hubungan dengan dunia luar yaitu menerima dan memberi. Kemampuan kita bukan hanya tentang menerima stimulus dari luar, tetapi juga memberikan stimulus ke luar. Konsep memberi ini yang terkadang kurang diperhatikan. Selama ini kita berasumsi bahwa kita memberi sesuatu karena kita ingin menerima. Konsep yang dianggap sebagai sesuatu yang disebut pamrih dalam konsep Jawa.

Tawakal dan Nrimo ing Pandum ini befungsi dalam hubungan menerima stimulus dari luar. Menurut Ki Ageng Suryomentaram (1892-1962) rasa senang timbul akibat terpenuhinya harapan oleh kenyataan dan bila harapan tidak terpenuhi maka menimbulkan rasa susah. Harapan adalah sesuatu yang kita ciptakan atas kehendak kita sendiri. Sedangkan kenyataan adalah hal-hal yang dalam batas tertentu berada di luar kemampuan kita. Dalam Islam dikenal bahwa Qadha dan Qadar sepenuhnya berada di tangan Allah SWT dan berada di luar jangkauan manusia.


Disinilah Tawakal dan Nrimo ing Pandum menjalankan fungsinya. Kedua konsep ini sebagai pengekang agar manusia tidak terlalu tinggi dalam berharap sehingga ketika kenyataan ternyata tidak sesuai, rasa susah tidak akan menyerang individu tersebut. Konsep ini membantu kita menerima kenyataan yang ada. Tawakal membuat kita berserah kepada Allah SWT atas segala yang telah ditetapkanNya. Nrimo ing Pandum membantu kita untuk menerima segala sesuatu apa adanya tanpa berharap atau menuntut yang tidak-tidak terhadap lingkungan.

Lalu bagaimana tentang berusaha? Dalam Islam selain tawakal juga dikenal konsep ikhtiar. Dimana umat Islam diwajibkan untuk berusaha sekeras mungkin. Bahkan dalam batasan tertentu dikenal juga konsep Jihad artinya bersungguh-sungguh dalam berusaha.

Rasulullah sendiri juga menekankan bahwa tawakal bukan berarti tanpa usaha. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa:





“Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.”

Hadis tersebut menjelaskan bahwa meskipun segala sesuatu telah ditetapkan oleh Allah SWT, manusia tetap memiliki kewajiban untuk berusaha. Sehingga adalah salah jika beranggapan bahwa sikap tawakal menyebabkan etos kerja masyarakat menjadi rendah.


Sedangkan bagi masyarakat Jawa kita dituntut untuk selalu memberi tanpa pamrih. Sopan santun terhadap tamu misalnya, menunjukkan bagaimana kita lebih mengutamakan orang lain daripada kepentingan diri kita sendiri. Adanya etos gotong royong dan kerja sama merupakan sebuah bentuk nyata dari konsep usaha di masyarakat Jawa. Dimana kita dituntut bukan hanya berusaha untuk diri kita sendiri, tetapi juga berusaha untuk orang lain tanpa pamrih.

Lalu mengapa kita begitu egois. Hidup ini adalah tentang memberi dan menerima. Menerima apa yang telah diberikan kepada kita dengan lapang hati dan tanpa menuntut dan memberikan apa yang bisa kita berikan semaksimal mungkin tanpa pamrih. Nrimo ing Pandum, Makaryo ing Nyoto.
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku". Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri. (Az Zumar: 38)

24 comments:

Alfian Satrio Nugroho mengatakan...

nice post :) nrimo ing pandum is a great philosophy.. salam kenal dari jogja

Anonim mengatakan...

nrimo ing pangdum, konsep paling bodoh

gugun ahmad hilal mengatakan...

nrima ing pandum: memang sampai hari ini orang orang kita indonesia dan khusus jawa...masih menyalahkan arti makna sesungguhnya...makanya orang orang indonesia jawa banyak yang jadi munafik, dalam lingkungan kerja pun seperti itu...kalo untuk kerja nya lebih terkesan di lambat lambatin untuk memperpanjang jam kerja menjadi lembur...tetapi ketika berbicara masalah hak hak mereka ogah ogahan..mungkin itu tadi kali yaach nrimo ing pandum atau menjadi kaum pemanut tetapi nyeleneh.

Anonim mengatakan...

...terkadang orang yang dianggap bodoh itu Bejo (untung)....sedang yg mengaku pinter hidupnya blingsatan tak tahu yang dituju...kenyataannya bangsa jawa terus menjadi bangsa yang selalu terdepan dan dominan....mereka terima sgala anugrah tanpa kerja keras....hahahaha...

Anonim mengatakan...

whatever ... Sudut pandang selalu berbeda...
Tapi jgn bwa2 jawa itu gni gtu
walhasil dr dl presiden y kbnykn org jawa toh?

Muhammad Amri Fauzi mengatakan...

kalo mau menggunakan pepatah nrima ing pandum ..
juga harus dapat ngadum(membagi/memilah) di mana kira2 tempatnya yg tepat untuk menggunakan pepatah ini .. :D

boat wood mengatakan...

yo intine sabar dan ikhlas, jalani apa yang kita hadapi sekarang..., sambil trus mencari perubahan-perubahan... tidak pasrah pada keadaan. berenovasi menata hidup bisa mengunjungi HERE
buat aspirasi. makasih..

mari menulis mengatakan...

kasihan mereka yang menganggap diri pandai ... karena setiap pengakuan pandai akan menutup pintu ilmu yang lebih bijak.

nrimo ing pandum hanya salah satu dari local-wisdom yang muncul di tanah jawa.

pembelajaran dari tiap local-wisdom memang susah dimengerti oleh orang orang yang merasa pandai.

apakah saya pandai ? tidak ... saya hanyalah seorang bodoh yang mencoba waspada ...

ah mengapa banyak orang yang mengaku pandai di dunia ini ?

Wahyu Zazka mengatakan...

NERIMO ING PANDUM itu sebenarnya maknanya dalam buanget, tp sdh di salah kaprahkan arti yg sesungguhnya. Bagi yang tdk bisa mengerti akan menganggap sepele, tapi sebenya berarti banget. Sekian dan terima kasih... :(

obed nugroho mengatakan...

narimo ing pandum, menerima seutuh-utuhnya... kesannya bodoh, tapi cukup mempan untuk selamat dari depresi...

Anonim mengatakan...

Menurut Monty Satiadarma, psikolog, kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kemampuan menerima keadaan, melihat situasi dari sudut pandang positif, menghayati makna pengalaman hidup, merelakan pengalamannya sebagai perubahan dalam hidup, dan bisa melepaskan diri dari belenggu pengalaman emosional.

Nrimo ing pandum
Arti yang mendalam menunjukan pada sikap Kejujuran, keiklasan, ringan dalam bekerja dan ketidakinginan untuk korupsi. Inti filosofi ini adalah Orang harus iklas menerima hasil dari usaha yang sudah dia kerjakan.

Secara etos kerja, tak ada kata kata-kata hubungan dengan etos kerja, karna titik berat falsafah ini bukan etos kerja. Dan bila ada ilmuwan menulis tentang ini tolong di lampirkan hasil penelitiannya.
Bahkan ada orang Jawa kerja dibawah upah umumnya dia bekerja sunguh-sunguh karna pengadian. Contoh sebagai Abdi dalem. Tujuan bukan materi.
Tak semua orang Jawa Tahu, memahami dan melaksanakan falsafah Jawa ini. Jadi jangan bawa SARA.
Berbijaklah berpendapat, bukan meng injak-injak.
Sudut pandang yang berbeda menghasilkan arti yang berbeda.

-sang abdi dalem-

ECHONOMIC-PC mengatakan...

Narimo ing pandum, bukan berarti diam dan pasrah dengan keadaan, tetapi bersyukur atas apa yg diberikan kepada kita

bayu suta mengatakan...

Justru panjenengan kedah ngatos atos mas, setiap pembicaraan membawa ruh, dan ruh itu bisa ketangkap maksudnya,

bayu suta mengatakan...

Justru panjenengan kedah ngatos atos mas, setiap pembicaraan membawa ruh, dan ruh itu bisa ketangkap maksudnya,

UTEKE ws GEMBLUNG mengatakan...

"NRIMO ing PANDUM" kui :>> kayak seperti sudah tau ingkang sampun dipun GARISE Gusti Pengeran. Contone GOLEK duit sing akeh terus ENTEK tetep bae urung iso SUGIH, Golek BISNISAN ws di JULUKI JURAGAN yo Ndilallah BANGKRUT. Jadi Pada intinya semua orang tidak mungkin menjadi orang miskin dan rendah tetapi dengan perjuangan yang sudah pernah dicicipi selama hidupnya tidaklah berbuah hasil menjadi orang kaya dan pada akhirnya menyadari Dengan keinginannya menjadi orang yang bisa memberi ke sesama, menjadi orang kaya dsb... itu hanyalah keinginan kita sendiri (napsu birahi). Dan menyadari di bumi ini ada MISKIN dan KAYA, Orang miskin Bukan Berarti tidak bisa memberi (Semampunya), Bukan Berarti Tidak mau bekerja / hanya meminta tetapi pekerjaan itu hanya sebagai syarat ibadah dengan hasil kemampuannya. Jadi mengartikan "NRIMO ing PANDUM" bisa menjadi Ora tau Ngeluh di tekdir wong kere utowo wong sugih lan meyakini RIZQI kui ws di atur nang Pengeran (di buru iso mlayu di jorke yo teko dewek)

Supary anto mengatakan...

narimo ing pandum yaiku tidak mengeluh dengan cobaan yang di berikan dan selalu bersyukur dengan apa yang didapatkan.. bisa di bilang narimo ing pandum menerima takdir yang di berikan tidak menyalahkan kehidupan atau menyalahkan tuhan karena takdir yang di berikan

irfan abdee mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Assalam Qu mengatakan...

Yang selain jawa juga boleh kok membuat post serupa dengan sudut pandangnya sendiri.

nyitnyitcantik mengatakan...

Tergantung dari segi mana memaknai nya... Klo nenekku sering bilang biar aku nerimo ing pandum. Menerima pemberian dari tuhan semisal aku kurang cantik. Pdhl kan itu semua pemberian tuhan. Tp kadang aku mengeluh dan berusaha merubah hidungku atau yg lain nya secara tidak wajar. Jd aku di suruh nrimo ing pandum..

Aku Cinta mengatakan...

Mkin anda lg setres

Aku Cinta mengatakan...

Mkin anda lg setres

Maria Qibtyah mengatakan...

Makaryo ing nyoto, nriman ing pandum
Maknanya berdoa bekerja yg sungguh2nya selebihnya tawakal pasrah
Hasil berapapun tetap kita terima dg ikhlas
Pada dasarnya hasil takkn pernah mengkhianati usaha..

Maria Qibtyah mengatakan...

Nice

Unknown mengatakan...

Setiap insan boleh dan sah-sah saja untuk mengartikan atau menafsirkan sebuah pribahasa atau kata-kata,yang penting niat dan tujuannya untuk kebaikan,karena tidak ada manusia yg sempura,kesempurnaan hanyalah milik ALLAH SWT.