Kamis, 24 Mei 2012

Sabar

Sebuah kata pahit yang dipercaya sebagai sebuah tindakan mulia bagi seorang manusia. Baik di Jawa maupun Islam, sabar telah menjadi sebuah sikap bagian dari orang-orang yang mulia. Namun terhadap apakah kita harus sabar? Bencana? Musibah? Cobaan hidup? Kemiskinan? Penderitaan?

Jika kita percaya semua yang terjadi di dunia ini merupakan kehendak-Nya, maka sudah seharusnya kita bersabar dalam menghadapi Tuhan.

Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (16:96)

Sabtu, 19 Mei 2012

Masyarakat Sensor

in censor we trust (punknroll.deviantart.com)
Beberapa pekan terakhir media elektronik sedang dihebohkan dengan beberapa pencekalan yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat di Indonesia. Menjadi semakin heboh ketika tinndakan pencekalan ini kemudian dikaitkan dengan hakikat kebebasan. Meskipun agak lucu, mengingat paham kebebasan dan demokrasi sendiri belum lama menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia setelah beberapa dekade berada di bawah pemerintahan yang bertangan besi.

Mulai dari Irshad Mandji hingga Lady Gaga sebenarnya merupakan pucuk dari fenomena yang terjadi sebenarnya di dalam masyarakat. Permaasalahan ini tidak akan selesai hanya dengan membubarkan satu atau dua ormas, tetapi lebih dari itu permasalahan ini sebenarnya berkaitan dengan nilai dan kebudayaan suatu masyarakat. Tulisan kali ini akan mencoba mengulas fenomena tersebut.

Tipikal Masyarakat Kolektif
Para ahli sepakat bahwa Indonesia merupakan contoh sebuah masyarakat yang lebih condong ke arah nilai-nilai kolektif daripada individualis. Meski demikian banyak orang yang kurang begitu paham mengenai apa sebenarnya masyarakat kolektif itu. Masyarakat kolektif memiliki sebuah sistem dan struktur masyarakat yang sangat berbeda dengan model individualis.

Di dalam masyarakat kolektif, individu dipandang sebagai bagian dari kelompok. Hal ini berbeda dengan tipikal masyarakat individualis yang lebih memandang individu sebagai sebuah entitas yang mandiri dan berdiri sendiri. Efeknya adalah bahwa setiap tindakan suatu individu dalam kelompok haruslah dilandasi pada kepentingan kelompok dan bukan kepentingan pribadi. Kewajiban individu kepada kelompok lebih ditekankan daripada hak-hak individu itu sendiri (baca: Masyarakat Daging Babi).

Selain itu masyarakat kolektif memiliki hierarki, lain halnya dengan masyarakat yang cenderung individualis dimana semua orang dipandang setara. Masyarakat kolektif memandang masyarakat sebagai sebuah kesatuan atau kelompok, maka dari itu perlu orang-orang khusus untuk mengatur kelompok tersebut. Orang-orang khusus ini merupakan orang-orang yang dianggap paling ahli dan bijaksana di dalam kelompok tersebut. Dalam prakteknya kita jumpai tokoh masyarakat, presiden, ulama, pendeta, dan sebagainya.

Orang-orang tersebut memiliki tugas menjaga kelompok dari setiap ancaman yang ada. Termasuk diantaranya adalah ancaman ideologis berupa nilai-nilai yang dianggap berseberangan dengan nilai-nilai kelompok tersebut. Dalam menjaga kelompok, orang-orang khusus tersebut memiliki beberapa hak istimewa terhadap masyarakat lain. Termasuk diantaranya adalah sensor dan pencekalan untuk mencegah masuknya ideologi-ideologi yang dianggap bertentangan tersebut.

Apa yang dilakukan oleh beberapa organisasi masyarakat akhir-akhir ini sebenarnya merupakan sebuah cara untuk "melindungi" ideologi kelompok dari ideologi asing yang dianggap dapat mengancam. Maka disini dapat kita lihat bahwa pencekalan misalnya dilakukan oleh organisasi Islam, organisasi tersebut "merasa" memiliki hak untuk melakukan pencekalan dalam masyarakat karena karakteristiknya yang "lebih memahami" ideologi tertentu dibanding masyarakat awam. Maka sebenarnya fenomena ini adalah sebuah fenomena yang "sangat biasa" di dalam kebudayaan masyarakat kolektif.

Sudah Biasa
Sebenarnya bukan pertama kali ini pencekalan atau sensor dilakukan di Indonesia. Bahkan sebenarnya sejak awal Indonesia berdiri sensor dan pencekalan sudah sangat sering dilakukan oleh pihak-pihak yang merasa berkewajiban untuk menjaga ideologi kelompok.

Pada masa Orde Lama misalnya kita temui bagaimana musik Koes Ploes yang diilhami dari band The Beatles sempat dicekal karena dianggap membawa nilai-nilai liberal Barat. Pada waktu itu Indonesia menganut paham sosialis-komunis yang kental sehingga berbagai macam bentuk "penyerangan" dari ideologi Barat dilawan oleh pemerintah.

Jika kita berpikir bahwa pencekalan dan sensor hanya dilakukan oleh masyarakat kolektif dengan ideologi sosialis-komunis maka itu salah besar. Ketika orde baru berkuasa dan kita lebih dekat dengan Barat pun pencekalan dan sensor tetap ada. Buku-buku komunis dan sosialis dibumihanguskan sebagai upaya "menjaga" ideologi bangsa yang saat itu mulai condong ke arah Barat. Bukti lain yang masih ada hingga saat ini adalah adanya aturan yang mewajibkan film asing berbahasa selain Inggris untuk didubbing ke dalam bahasa Indonesia. Peraturan ini sebenarnya adalah upaya film AS (liberal) pada masa itu melawan serbuan film China (komunis) di Indonesia dan cara tersebut terbukti efektif.

Pergeseran Budaya
Melihat sejarah dan karakter budaya masyarakat Indonesia pada zaman dahulu, maka menimbulkan keherana tersendiri bagi saya. Di saat banyak orang heran tentang bagaimana sebuah kebebasan dibatasi, saya justru heran mengapa hal itu menjadi sebuah masalah besar. Meski saya tidak sepenuhnya setuju, tapi bagi saya sensor dan pencekalan telah lama menjadi budaya masyarakat Indonesia.

Menjadi masalah adalah ketika nilai-nilai dalam masyarakat telah mulai bergesar. Di satu sisi kita harus mengakui kepandaian strategi AS dalam perang ideologi. Bagaimana mereka memilih untuk mengekspor film dibanding komoditi lainnya yang lebih berharga. Hal ini dilakukan agar ideologi dapat bergeser dari yang semula sangat kolektiv-sosialis beralih ke individualis-liberal.

Saat ini masyarakat Indonesia pun terpecah, di satu sisi sebagian masyarakat mulai menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan dan persamaan derajat. Presiden, ulama, dan para ahli mulai dianggap sama dengan masyarakat lainnya dalam berpendapat. Masyarakat merasa lebih tahu apa yang disebut "baik" bagi dirinya sendiri. Namun di sisi lain sebagian masyarakat masih menganut nilai-nilai kolektiv dan hierarki sosial. Dimana masyarakat sendiri masih belum mampu berdiri sendiri tanpa sokongan "para ahli". Nilai-nilai demokrasi dan kebebasan yang dipahami pun belum sempurna. Meski masyarakat merasa dapat megatur dirinya tersendiri dan merasa lebih terdidik, namun kenyataan di lapangan bahkan banyak golongan terpelajar yang bertindak tidak terpelajar. Struktur masyarakat lama mulai rubuh tetapi belum ada konsensus mengenai struktur yang baru.

Menyikapi Lady Gaga misalnya, meski yang paling keras terdengar mengenai di jejaring sosial merupakan bentuk penyesalan tindakan FPI namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa banyak masyarakat kita yang turut mendukung sikap tersebut. Pengalaman saya bertemu dengan beberapa orang dari generasi tua misalnya setelah melihat seperti apa "wujud" dari Lady Gaga di televisi banyak yang kemudian justru merasa prihatin dan setuju terhadap tindakan FPI, MUI, PPP, dan sebagainya untuk menolak. Lain halnya dengan media jejaring sosial yang lebih banyak didominasi generasi muda yang sudah lebih "demokratis" dan hidup dengan nilai-nilai yang berbeda.

Maka disinilah toleransi akan budaya diuji. Sejauh mana masyarakat mampu memahami masyarakat lain yang hidup dengan nilai-nilai yang berbeda. Meski tentu itu bukan hal yang mudah karena bagi satu pihak menghormati adalah menuruti kehendak yang lain yang itu berlawanan dengan nilai-nilai kebebasan. Sementara di pihak lain menghormati diterjemahkan sebagai memberikan kebebasan bagis etiap orang yang itu berarti mengabaikan kebaikan kelompok.

Rabu, 16 Mei 2012

Manusia Satu Malam

Dan mendadak semua menjadi seorang alim, yang memiliki berbagai pengetahuan tentang agama dan Tuhan mereka. Merasa telah mengkhatamkan ribuan kitab dan menyalahkan para ulama yang bodoh, karena tidak sependapat dengan nilai masa kini.

Mendadak pula para filsuf bermunculan dengan kebijaksanaan yang muncul dari pengalaman satu dua dekade. Para generasi tua hendaknya mati saja meninggalkan dunia yang dipercaya akan lebih baik. Padahal para tetua kita juga pernah muda, pernah seperti mereka.

Berbicara tentang menghormati perbedaan dengan menafikkan perbedaan itu sendiri. Berbicara tentang pengetahuan tanpa adanya ilmu. Siapa benar? Siapa salah? Siapa tahu? Itulah kita, itulah manusia. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, dan kami tidak.

Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan mereka yang dimurkai dan bukan mereka yang sesat. (1:6-7)
The Way to Heaven (katta80.deviantart.com)

Jumat, 11 Mei 2012

Impian

It's called "life," John. Activities available; just add meaning. (Alicia - A Beautiful Mind)

Sebagian orang berkata bahwa manusia dapat hidup tanpa makanan, tetapi  manusiatidak dapat hidup tanpa harapan. Entahlah, semua hal semacam itu -mimpi, harapan, makna, dan tujuan- bukanlah sesuatu yang mudah dipahami dan dipercayai. Bagaimana mungkin kita bisa tahu sesuatu yang tidak dapat kita sentuh maupun kita lihat sama sekali?

Manusia tidak melakukan sesuatu sebatas apa yang dapat kita lihat. Ada makna dibalik setiap tindakan. Makna yang membuat seseorang tetap menjadi manusia dan bukanlah robot. Makna yang memberi warna pada hidup kita.

Begitu pula mimpi dan tujuan serta harapan. Itu semua memberikan kita arti dalam kehidupan. Pengejaran akan suatu imajinasi yang kita ciptakan sendiri dalam pikiran kita. Kita mengejarnya, meraihnya jika berhasil dan bersenang-senang atasnya. Sebaliknya kegagalan akan menyebabkan perasaan sakit yang cukup mendalam.

Saya tidak mau bermimpi karena saya tahu itu bisa menyakiti. Tetapi saya sadar, hidup tanpa perasaan bukanlah suatu kehidupan yang nyata. Sejak kapan kita mendefiniskan pahit sebagai suatu rasa yang tidak kita kehendaki? Apapun itu, mimpi memberikan hidup kita makna. Dan semoga mimpi ini tidak berakhir dengan perasaan sakit.

Meaning (sesfitts.deviantart.com)

Jumat, 04 Mei 2012

Pauli

Akhirnya aku menemukan hal lain yang paling menjemukan dan menyebalkan dibandingkan menunggu dalam sendirian: mengerjakan tes Pauli. Celakanya di saat diriku harus menghadapinya seluruh tubuhku justru menolaknya dengan keras. Tanganku entah kenapa mendadak keram seolah tidak rela digunakan menulis jawaban diantara angka-angka yang berbaris rapi tersebut. Kakiku menolak perintahku untuk tenang dan justru berdetak mengikuti suara alunan musik yang bahkan telingaku tidak mampu mendengarnya. Minus pn seolah mendadak bertambah, meski aku tahu itu hanya tingkah bola mataku. Begitu pula otak pun -entah sengaja atau tidak- lebih memilih untuk mengajakku berkelilig dunia imajinasi yang tentunya jauh lebih menarik dibandingkan harus menjumlahkan angka-angka secara terus menerus dan berulang-ulang dalam waktu 3600 kali jarum detik berdetak tanpa alasan yang berarti. Dari dulu saya memang paling benci hal semacam ini.

The Numbers (johnshine.deviantart.com)

Rabu, 25 April 2012

Para Pekerja Nasionalis

"Kemana para nasionalis bekerja?"

Pertanyaan tersebut seketika memecahkan ruang keheningan yang tercipta. "Apa maksudmu?", tanyaku.

"Kau tahu, mereka yang memiliki jiwa nasionalisme dan ingin membangun negara, kemana mereka nantinya akan bekerja?"

"Entahlah, mungkin mencoba menjadi Presiden, menteri, anggota DPR atau semacamnya", jawabku sekenanya.

"Ah kau ini, berapa banyak sih orang yang menjadi presiden, berapa banyak pula orang yang berjiwa nasionalis. Maksudku selain itu kemana mereka akan pergi?"

"Benar juga apa katamu, mungkin menjadi Pegawai Negeri seperti kebanyakan orang ... atau seorang Guru yang mencerdaskan masyarakatnya", kataku mencoba bijaksana.

Lelaki itu tertawa kecil, "PNS? Kau yakin? PNS saat ini terlalu identik dengan kenyamanan dan kemalasan. Orang bahkan lupa bahwa mereka bekerja untuk mengabdi pada bangsanya, atau mungkin memang tidak demikian"

Di dalam hati aku mau tidak mau sedikit setuju dengan apa yang dikatakannya. Tetapi aku masih ragu akan kebenaran perkataan tersebut. "Sebagian yang lain mencoba menjadi wiraswasta, tentu dengan segala resikonya. Kau tahu menjadi wiraswasta dalam budaya yang sangat Jawa-sentrik ini bukanlah sesuatu yang membanggakan. Disini orang hidup untuk mengabdi ..."

"Tapi bukan berarti semua masyarakat Jawa anti terhadap wiraswasta kawan, kau tahu ada beberapa daerah di Jawa ini yang terkenal dengan jiwa wiraswastanya. Meski benar apa katamu, selalu ada mitos yang menghantui mereka", potongnya menyela perkataanku.

"Wiraswasta, mereka membangun negeri ini. Kita tidak bisa mengandalkan sepenuhnya kepada negara. Kapitalis kata mereka, tetapi kapitalis juga yang selama ini ikut membangun negeri. Mereka nasionalis." Aku diam sejenak memikirkan kata-kataku tadi. "Selama ini orang banyak berpikir mengabdi adalah tentang menjadi bawahan, tentang bekerja tanpa imbalan. Padahal dengan kita berusaha sebaik mungkin membangun bisnis, kita juga membangun negeri ini."

"Tangan ghaib Adam Smith, eh? Tak ku sangka kau percaya juga hal macam itu." Katanya sembari tersenyum. Bukan senyum ramah, tetapi sedikit ada bumbu sinis terpampang disana. "Jadi salahkah kita berjiwa nasionalisme dengan menjadi pekerja yang loyal mengabdi?"

Veteran Bandung (ahdhan.deviantart.com)
Aku berpikir sejenak. Entah kenapa sedari tadi kata-kata tersebut keluar dari mulutku dimana bahkan aku sendiri pun tidak percaya akan berkata demikian. Tetapi muncul dorongan yang dalam untuk terus melanjutkan percakapan ini. "Tidak, tentu tidak. Lihatlah para tentara kita misalnya, dengan gaji yang tidak seberapa mereka rela bersusah payah berjuang demi negara ini. Mungkin mereka adalah contoh nasionalis sejati."

"Lalu bagaimana dengan aku? Apakah sebagai nasionalis aku harus menjadi tentara untuk mengabdi?", tanyanya tajam terhadapku.

"Ah kau ini, aku yakin kau tidak sebodoh itu. Mengabdi kepada negara bukan berarti harus berupa jiwa dan raga fisik sepenuhnya. Saat ini ekonomi menjadi medan perang dunia yang sesungguhnya. Sebagian dari para nasionalis itu mereka mencoba mempertahankan negara ini melalui perusahaan-perusahaan BUMN dan perusahaan nasional lainnya. Mungkin kita bisa ikut disana."

"Lalu bagaimana kau tahu perusahaan mana yang membantu kita dalam peperangan ini?"

Aku terdiam sejenak. Menjawab pertanyaan tersebut tidaklah mudah. "Kau tahu, secara formal perusahaan nasional dilihat dari tempat dimana saham-saham mereka dijual. Selama saham mereka tercatat di pasar modal Indonesia maka itu menjadi perusahaan nasional." Dirinya tampak ingin mengucapkan sesuatu, namun aku lantas menyambung perkataanku tadi. "Tetapi tentu tidak semudah itu, menjadi ironi adalah ketika ternyata saham-saham tersebut banyak dimiliki oleh orang asing. Begitu pula sebaliknya tidak sedikit pengusaha Indonesia yang memiliki saham-saham perusahaan asing. Lantas pada siapa sebenarnya kita bekerja?"

Dia tampak terpana. Tatapan matanya yang dalam seolah ingin menelanjangi pikiranku sepenuhnya.

Aku melanjutkan perkataanku, "Menjadi ironi juga adalah ketika banyak perusahaan nasional yang justru merugikan masyarakat negeri ini sendiri sementara di sisi lain banyak perusahaan asing yang justru banyak membantu dalam membangun negeri ini. Lantas bagaimana kita menakar nasionalisme kita dalam situasi tersebut?"

"Ah kau ini, aku yang bertanya duluan. Kenapa kamu malah menanyakan kembali kepadaku?", tampak senyum kepuasan di wajahnya. Kepuasan larena telah berhasil menularkan kebimbanngan hatinya selama ini.

"Nasionalisme tidak bisa dilihat sebatas dimana kita bekerja, kawan. B.J Habibie misalnya, dia bekerja untuk orang asing di negeri asing sana. Tetapi dengan pekerjaannya itu dia mengharumkan nama negeri ini di kancah dunia. Maka dapatkah kita tuduh bahwa orang yang bekerja untuk orang-orang asing sana tidak memiliki jiwa nasionalis?", aku mengambil nafas dalam.

"Jadi, kesimpulannya apa kawan?"

"Entahlah aku masih bingung," jawabku. Aku terdiam, mencoba meresapi dan memahami sepenuhnya kata-kataku sendiri. "Nasionalisme adalah sebuah jiwa, tekad, niatan, dan motivasi. Dia memilliki wujud abstrak. Seorang petani misalnya, dia bisa menjadi sangat mulia ketika dia melakukan pekerjaannya demi memberi makan dunia. Sebaliknya menjadi sangat tidak mulia ketika apa yang dilakukannya hanya demi lembaran uang yang digunakannya untuk memenuhi nafsu dan egonya semata. Nasionalisme bukanlah tentang dimana dan menjadi apa ketika kamu bekerja, tetapi tentang untuk apa kamu bekerja. Tentang niat dan tekad untuk selalu memberikan yang terbaik untuk negeri ini"

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob rodiallohuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rosululloh alaihisolatu wassalam bersabda :
"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.“ (H.R. Bukhori no:01 dan Muslim no:1907)