Jumat, 31 Desember 2010

kutipan

Dia lahir dari negeri yang jauh. Dimana orang-orangnya tumbuh dengan perasaan ingin tahu. Sejak kecil mereka diajari untuk menciptakan pengeahuan mereka sendiri. Berbeda dengan dunia kita yang mengangap itu sebagai sebuah hal yang merepotkan. Kita yang pragmatis lebih suka memberitahukan bahwa air yang tumpah sama banyaknya dengan benda yang masuk daripada harus menciptakan Archimedes-archimedes baru. Padahal inti dari itu semua adalah bagaimana menemukan pengetahuan baru, bukan sekedar mengerti pengetahuan itu sendiri.

Mereka orang-orang yang egois. Melihat segala seuatunya sebagai miliknya. Sedangkan kia hidup dalam dunia penuh syukur. DImana apa yang digenggaman kita adalah sebuah pemberian dan karunia, sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi milik bersama bukan milik segelintir saja.

Maka disanalah dia diciptakan. Dia diciptakan untuk menunjukkan siapa pemiliknya, sehingga tidak ada orang egois lain yang merebutnya. Namun disini dia berubah wujud. Dia diperlakukan sebegitu agung bahkan disembah.

Disini, dia menunjukkan tingkat kepadaian seseorang. Mereka yang banyak menggunakan dirnya dalam iap katakata dan tulisannya, adalah orang-orang yang dianggap sebagai generasi cendekiawan. Mungkin cendekiawan berasal dari kata cendawan (jamur) yang mendapa sisipan –eki-. Begitulah mengapa penyakit itu cepat menyebar.

Disini, dia menunjukkan legalitas dan keilmiahan suatu karya. Mereka yang banyak mencantumkan dirinya dianggap sebagai sebuah kebenaran objektif. Apa-apa yang menggunakan dirinya lebih mudah dianggap sebagai kebenaran dibanding apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka.

Sungguh ironis, bukankah buku tidak lebih dari sebuah potret? Buku hanyalah cerminan dari kenyataan yang kita lihat di tempat tertentu dan waktu tertentu. Buku bukanlah kebenaran, tetapi buku hanyalah sebuah dokumentasi kebenaran. Dokumentasi yang dibatasi oeh dimensi ruang dan waktu.

Namun disini juga, mereka yang diam adalah yang bijaksana. Jika aku cukup bijaksana, mungkin tidak seharusnya aku menulis ini.

Rabu, 29 Desember 2010

dunia kutipan

Kita hidup dalam dunia kutipan. Dimana kutipan dan angka-angka sangat dipuja sebagai sebuah kebenaran. lupakan orisinalitas, ilmiah adalah sebuah istilah pembenaran semu yang bahkan tidak benar-benar dianut oleh para pembuat istilah tersebut.

Sadar bung! Dunia tidak sebulat angka-angka desimalmu. Kebenaran tidak dibatasi kutipan-kutipan dalam lembaran kertas. Buka mata, buka hati, tapi jangan buka baju. Buka pikiranmu dan rasakan angin kebebasan. Bakar buku-bukumu jika itu hanya membuatmu semakin bodoh.

Ketika para tetua mengatakan bahwa apa yang kita pelajari selama ini salah. Namun mereka terus memaksakan masuk ke dalam rongga-rongga otak kita. Ketika kita memuat kebenaran namun ditepis oleh kutipan-kutipan sakral, maka jadilah orang bodoh. Karena kitab-kitab sucimu ditulis oleh Tuhan yang berbeda.

Ah bicara apa aku, kita kan cuma mahasiswa S1

Senin, 20 Desember 2010

sisa untuk masyarakat


Dia memang bukan siapa-siapa, angka-angka funtastis yang teronggok dalam rapotnya hanya menjadi sebuah kenangan indah tentang masa lalunya. DI masa mudanya ini dia menghabiskan waktunya untuk menyambung nafas, bukan mencari ilmu seperti yang diimpikannya.

Tentu dia dulu merupakan anak yang tidak bodoh. Nilai-nilainya yang funtastis ketika duduk di bangku SMA membuat kagum seluruh warga sekolah dan warga di kampungnya. Namun sayangnya di dunia ini bukan hanya sekedar tentang kecerdasan atau usaha, tetapi juga keberuntungan. Malangnya, dia termasuk orang yang tidak beruntung itu.

Perguruan tinggi megah itu telah dicita-citakannya sejak kecil. Dalam mimpinya dia ingin meneruskan pendidikannya hingga bergelar profesor dan kemudian membagi ilmunya kepada generasi penerusnya. Namun ibarat hendak memeluk gunung, tentu tangannya pun tak sampai. Sesungguhnya dia juga orang yang tau diri. Ayahnya yang sudah meninggal dan ibunya yang menjadi pedagang kaki lima tentu tidak sanggup untuk membantunya mencapai cita-citanya.

Tapi dia juga bukan orang yang berpangku tangan. Dia tetap pantang menyerah dan tidak putus asa. Namun sekali lagi dia hanya tidak beruntung. Memang bisa dikatakan peluangnya sangat kecil. Memang ada seribu jalan menuju Roma, seribu jalan juga menuju UGM. Tapi berapa jalan yang tersisa untuknya?

Dia mencoba beberapa PB untuk dia yang tidak mampu atau dia yang berprestasi, namun tentu bukan suatu hal yang mustahil jika ditolak namun sangat luyar biasa jika diterima. Karena dari 200 mahasiswa baru misalnya, hanya dua orang saja yang bisa meraihnya. terlebih di fakultas yang penuh berhamburan uang yang dia cita-citakan. Dia ingin mencoba ujian tertulis namun mitos dimasyarakat membuatnya putus semangat. Benteng psikologis itu ada meskipun tidak nyata.

Satu-satunya jalur lain yang memunculkan harapan adalah seleksi nasional yang tergolong merakyat. Yang tentunya, di kala itu hanya memperebutkan sangat sedikit kursi yang tersisa. Dan dia pun juga gagal.

Namun semangat dan cita-citanya tidak dia kuburkan begitu saja. Dia bertekad untuk terus mencobanya lagi selama masih ada kesempatan. Kini tiap hari setelah membantu ibunya berjualan di daerah kaliurang dia sempatkan mampir melewati kampus idamannya tersebut untuk sekedar mengaguminya sembari berdoa kelak suatu saat dia akan berada disana.

Uangnya pun sedikit demi sedikit dia sisihkan, namun langsung ludes dalam sehari. Namun baginya tidak masalah karena ilmu tidak ada harganya. Dia senang menghabiskan uangnya untuk kegiatan-kegiatan menambah ilmu yang diselenggarakan mahasiswa-mahasiswa kampus itu. Meski ironis juga, ketika mereka berteriak tentang pendidikan gratis dan pengabdian, mereka justru memalak orang-orang dalam tiap kegiatan mereka. Entah apa yang ada dalam benak mereka.

Baginya hari minggu adalah hari yang ditunggu-tunggu. Karena di pagi hari setelah subuh dia akan berlari-lari sekedar meluruskan otot dan mengobati rindunya terhadap kampus tersebut. Setelah itu dia akan membantu ibunya berjualan di jalanan berkonblok disana.Mungkin itulah yang tersisa bagi orang sepertinya.

Dikendarainya sepeda motor bututnya itu kencang-kencang di pagi itu. Bagai hendak bertemu kekasih lamannya, dia sangat bersemangat sekali. Namun dirinya terperanjak, tempat orang tuanya menyambung nafas itu kian lama kian tergesar keluar dari kampus yang ia banggakan itu. Lebih terperanjak lagi melihat pengumuman per satu januari dirinya tidak akan lagi bebas memasuki tempat tersebut untuk mengobati rasa rindunya.

Dan hari itu tepat saat perguruan tinggi itu bertambah usia. Pagi yang cerah itu mendadak mendung. Dia terdiam terpaku di atas sepeda motornya tanpa bisa berkata apapun. Di hari jadi UGM tersebut, entah apa yang tersisa bagi orang-orang sepertinya.

Rabu, 27 Oktober 2010

memahami mbah marijan


“Ojo melu-melu aku, manuto karo wong pinter kae. Aku nang kene muk kon jogo.”
Belum pulih terhadap duka Wasior, Indonesia dihantam tsunami tepatnya di sekitar kepulaua Mentawai. Gelombang tsunami ini menyebabkan ratusan orang meninggal dunia dan ratusan lainnya hilang tanpa kabar. Presiden beserta jajarannya langsung mengirim tenaga bantuan untuk membantu melakukan rekonstruksi.

Namun sekali lagi manusia memang tidak bisa berbuat apa-apa jika alam sudah bertindak. Belum sempat tim rekonstruksi berangkat ke Mentawai sudah ada musibah lain yang datang menghampiri. Letusan Merapi datang membawa korban jiwa. Salah satunya adalah tokoh fenomenal yang akrab disapa Mbah Marijan.

Banyak yang berduka atas kepergiannya. Namun ironisnya ada juga sebagian masyarakat yang justru gembira dan menumpahkan kekesalannya kepada almarhum. Sebagian mereka menganggap almarhum bersalah atas kematian warga lainnya. Sungguh miris, jika mereka mengenal sosok almarhum yang sesunguhnya pasti mereka akan menangisi diri mereka sendiri. Kita sering mendengar berita tentang almarhum, namun apakah kita benar-benar memahami almarhum?

Mbah Marijan yang saya kenal

“Ojo difoto yo, Mbah isin. Mbah udu artis.”
Saya pertama kali mengetahui sosok almarhum melalui media massa. Saat itu tahun 2008 dimana Merapi tampaknya akan meletus dan Mbah Marijan enggan mengungsi. Apa yang saya pikirkan tentang almarhum saat itu mungkin sama dengan angapan sebagian masyarakat saat ini.

Sebagai seorang juru kunci keraton, saya membayangkan sosok almarhum sebagai seseorang yang sangat kejawen dan jauh dari ajaran Islam. Memiliki banyak benda pusaka, sering bersemedi dan bertapa meminta wangsit, dan sebagainya. Terlebih lagi media massa menggambarkan sosok almarhum sebagai seorang juru kunci yang sakti.

Hal kedua yang saya pikirkan saat itu adalah sosok yang angkuh, sombong, keras kepala dan kuat. Terlebih lagi dalam iklan sebuah produk digambarkan almarhum sebagai sosok yang kuat dan keras. Penolakannya terhadap ajakan untuk mengungsi juga seolah menggambarkan almarhum sebagai sosok yang angkuh.

Namun pada akhirnya saya berkesempatan langsung bertemu dengan beliau. Saya yakin mereka yang telah bertemu dengan beliau pasti akan langsung berubah pikirannya tentang sosok almarhum. Sosok almarhum yang sesungguhnya sangat berbeda dengan anggapan saya sebelumnya.

Mbah Marijan adalah seorang kakek tua pemalu lugu yang hidup sederhana. Jauh dari kesan kuat ataupun keras kepala, maka almarhum sesungguhnya termasuk orang yang pemalu dan lugu. Sosok yang seringkali menolak waktu diambil gambarnya dan seringkali menutupi wajahnya ini adalah gambaran masyarakat pedesaan yang masih lugu, jauh dari masyarakat modern yang penuh prasangka dan curiga saat ini.

Sosok Mbah Marijan begitu lembut dan menyenangkan. Belia begitu ramah kepada orang asing dengan dibumbui sedikit rasa malu. Pribadi sederhana yang tidak macam-macam. Pribadi yang sulit saya jumpai di perkotaan.

Sewaktu saya sampai di rumanya dan melihat kesehariannya saya melhat Mbah Marijan jauh dari hal-hal yang berbau syirik. Tidak seperti apa yang saya duga selama ini. Kemampuanya melihat kejadian alam bukan karena kekuatan magis mistik namun semata-mata hanya dari ilmu titen yaitu dengan memperhatikan fenomena alam yang biasa terjadi.

Mbah Marijan adalah sosok sederhana yang sering ke masjid. Bahkan konon katanya penghasilannya sebagai bintang iklan untuk sebuah produk dihabiskannya hanya untuk membangun masjid dan lingkungan desanya, tidak untuk dirinya sendiri. Di masjid pun biasanya almarhum tidak menjadi imam. Benar-benar sosok pemimpin yang rendah hati.

Juru Kunci

Sebagai seorang pemuda desa yang sederhana, diberi amanah oleh seorang Raja dalam hal ini Sultan Hamengku Buwono IX sebagai seorang juru kunci tentu sebuah kehormatan yang sangat besar. Bayangkan saja jika seseorang yang sangat anda sayangi atau anda kagumi menyapa anda, tentu anda sudah akan bahagia setengah mati. Namun ini tidak hanya tentang sapaan, ini sebuah amanah.

Sebagai seorang yang sederhana, saya memahami jika almarhum menjunjung tinggi amanah yang diberikan kepadanya sebagai juru kunci merapi. Dalam artian bahwa almarhum harus sealu berada dekat dengan merapi dan menjadi yang terdepan. Anggaplah sebagai seorang duta besar Keraton untuk Merapi.

Sebagai seorang duta besar yang baik, tentunya harus selalu berada dekat dengan negara yang diamanahkan kepada kita. Kita memiliki tugas untuk erus menjaga hubungan baik antara negara kita dengan negara lain apapun yang terjadi. Keberadaannya sebagai bentuk penghoratan bagi negara lain.

Begitu juga dengan almarhum. Sejak awal almarhum memang mengabdikan hidup dan matinya untuk menjaga Merapi apapun yang terjadi. Sebuah kesetiaan dalam menjunjung tinggi amanah meski harus dihargai dengan nyawa. Kesetiaan yang dalam masyarakat modern hanya dianggap sebagai kekonyolan yang pantas untuk ditertawakan.

Almarhum juga tidak pernah memiliki keinginan masyarakat percaya kepada dirinya. Berkali-kali almarhum berkata untuk jangan percaya kepadanya, percayalah kepada para ahli. Lamarhum juga sudah menganjurkan masyarakat untuk ikut mengungsi.

Namun kasih sayang masyarakat dan orang-orang yang telah mengenal almarhum jauh lebih besar daripada nyawa. Kasih sayang yang meyebabkan sebagian besar masyarakat tetap memilih tinggal bersama almarhum dan berulangkali membujuk almarhumuntuk turun.

Akan tetapi bagi almarhum hanya ada satu pilihan: hidup mati akan tetap menjaga amanah yang telah diberikan seorang Sultan kepadanya.

Antara Fitnah dan Ghibah

“Janganlah kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu ketahui”
Rasulullah pernah mengingatkan kepad salah seorang sahabat untuk tidak membicaakan keburukan orang lain. Lalu sahabat bertanya, “Bagaimana jika keburukan itu memag nyata adanya”. Maka Rasulullah berkata bahwa jika benar adanya maka itu yang disebut ghibah dan jika tidak benar maka itu disebut fitnah.

Ghibah adalah salah satu perbuatan terkutuk dimana Allah SWT menyamakan perbuatan tersebut dengan memakan bangkai saudaranya sendiri. Sedangkan fitnah adalah perbuatan terkutuk lainnya dimana Rasulullah bersabda bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Maka siapa pun yang menjelek-jelekkan orang lain atau mengatakan hal-hal buruk tentang orang lain maka baginya hanya ada dua pilihan: memakan bangkai saudaranya sendiri atau lebih kejam daripada membunuh.
Jika ada yang pantas menutupi mukanya adalah kita, sebagaimana almarhum menutupi mukanya dari kamera maka kita seharusnya lebih malu dihadapan Allah SWT nantinya. Kita yang telah melupakan nilai-nilai luhur yang almarhum pegang teguh hingga akhir hayatnya. Kita yang menertawakan apa yang almarhum perjuangkan

Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Terimalah amal ibadahnya dan mudahkanlah jalannya. Ampuni kami yang telah berbuat dzalim. Sadarkanlah kami akan kesalahan kami dan semoga kami tidak mengulangi kesalahan tersebut. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemaaf dan Maha Penerima Taubat. Amin.

Selasa, 26 Oktober 2010

Orde Baru dan Agresivitas Masyarakat

Pasca jatuhnya rezim orde baru, terjadi perubahan dinamika sosial yang terjadi secara mencolok dalam masyarakat. Salah satu betuk kongkritnya adalah meningkatnya agresivitas dan tidak kekerasan dalam masyarakat.


Kini seringkali kita melihat berita-berita tentang kekerasan baik yang dilakukan oleh individu maupun kelompok. Seolah-olah hukum tidak lagi memiliki arti. Mulai dari aksi anarkisme demonstran, tawuran, perampokan bersenjata, hingga aksi terorisme dan separatisme. Berita-berita yang jarang kita lihat di media massa selama masa orde baru.


Sebenarnya apa yang menyebabkan meningkatnya agresifitas dan kekerasan dalam masyarakat? Menurut teori psikoanalisa menyatakan bahwa individu pada dasarnya memiliki dua insting (Aronson, Wilson, & Akert, 2007). Insting yang pertama adalah insting hidup yang disebut sebagai eros. Insting ini yang memotivasi segala bentuk tindakan prososial yang mengarah kepada kehidupan. Sedangkan insting kedua disebut sebagai thanatos mengarah kepada kematian dan kehancuran. Thanatos inilah yang menjadi sumber dari tindakan agresi dan kekerasan.


Faktor lain yang turut mempengaruhi tingkat agresivitas seseorang adalah suhu udara (Jamridafrizal, 2010). Terlebih lagi di Indonesia yang merupakan negara tropis, maka potensi agresivitas di Indonesia cenderung lebih tinggi.


Jadi pada dasarnya dalam diri individu memiliki potensi untuk melakukan tindakan agresivitas dan kekerasan Namun apa yang menyebabkan meningkatnya kekerasan dan agresivitas pasca jatuhnya rezim orde baru?


Salah satu penyebab munculnya agresivitas adalah frustasi (Passer & Smith, 2007). Berbagai macam tekanan dan stress dalam hidup, terlebih lagi yang muncul dalam era modern ini yang diduga turut memicu bentuk agresi dan kekeran dalam masyarakat. Masyarakat kini semakin banyak dibebani oleh berbagai macam hal dan permasalahan. Terlebih lagi di era demokrasi ini dimana semua hal menjadi layak diperbincangkan secara tidak langsung menambah frustasi dalam diri masyarakat.


Berbeda dengan zaman orde baru dimana media dibatasi dan hanya berita-berita bernada positif yang boleh disebarluaskan, berita-berita yang muncul akhir-akhir ini hampir semuanya bernada negatif. Hal ini menambah frustasi yang ada dalam masyarakat sehingga memicu tindakan agresi (Aronson, Wilson, & Akert, 2007). Terlebih lagi jika tidak ada sarana penyaluran yang tepat.


Dalam psikoanalisis dikenal istilah catharsis (Passer & Smith, 2007) dimana penyaluran suatu bentuk agresi akan mengurangi kecenderungan kita untuk melakukan suatu bentuk agresivitas. Penyaluran energi ini dapat dilakukan dalam berbagai hal positif misalnya saja olahraga. Namun perkembangan kota akhir-akhir ini kurang memperhatikan adanya public space yang memadai. Contoh nyatanya adalah makin sedikitnya lapangan olahraga yang tersedia. Padahal keberadaan lapangan olahraga ini dapat menjadi sarana untuk mengurangi perilaku agresif dalam masyarakat.


Faktor lain yang mempengaruhi munculnya agresivitas pasca rezim orde baru adalah hilangnya kepatuhan sosial. Salah satu kunci agar tercipta sebuah kepatuhan adalah dengan adanya ketakutan (Skaff, 2010) dan juga teror (Piven, 2007). Pada masa orde baru masyarakat memiliki kepatuhan yang tinggi karena adanya ketakutan terhadap pihak yang berkuasa. Pihak pemerintah memiliki kekuatan yang dominan dalam mempengaruhi masyarakat.


Sedangkan pasca jatuhnya rezim orde baru pihak pemerintah justru menjadi bulan-bulanan oleh masyarakat. Sesuai degan teori bandul dimana suatu keadaan ekstrim berpindah ke keadaan ekstrim berikutnya yang berlawanan. Jika pada masa orde baru aparat hukum memiki kewibawaan dan kekuatan yang besar di masyarakat maka kini kewibawaan dan kekuatan itu hilang seiring tumbangnya masa orde baru. Kini masyarakat bisa melakukan tindakan agresif pada polisi tanpa adanya lagi rasa takut.


Ketidakadaan wibawa pada aparat penegak hukum ini tentu sangat berpengaruh pada munculnya ketidakpatuhan dalam masyarakat. Karena kepatuhan juga berhubungan dengan background dari pemberi perintah itu sendiri (Milgram, 1965). Pada masa orde baru pihak berwenang memiliki tingkat kebiwaan tingi sehingga masyarakat memiliki kecenderungan untuk mematuhi perintah yang ada. Berbeda dengan kondisi saat ini yang justru sebaliknya.


Agresivitas juga bisa merupakan efek dari modelling (Jamridafrizal, 2010). Bisa jadi segala bentuk agresi yang terjadi pada masyarakat saat ini merupakan bentuk modelling perilaku yang sebelum-sebelumnya. Keberhasilan mahasiswa melawan otoritas dan menumbangkan suatu rezim misalnya dapat menjadi inspirasi bagi kelompok-kelompok masyarakat lain untuk melawan otoritas.


Jadi ada berbagai faktor dan tinjauan mengenai perilaku agresi yang terjadi akhir-akhir ini dalam masyarakat. Dari pengalaman pribadi saya, kebanyakan mereka yang melakukan tindakan agresi (misal: tawuran) adalah sebagai sarana chatarsis. Berbagai macam permasalahan yang nampak menyeruak pasca masa orde baru boleh jadi menjadi penyebab semua itu. Ditambah lagi media yang terkadang kurang dewasa dalam melakukan pemberitaan serta tidak adanya sarana chatarsis yang memadai turut memperkuat potensi agresi yang sudah tinggi di masyarakat yang tinggal di daerah khatulistiwa ini. Terlebih lagi tidak adanya pihak pemegang kekuasaan yang berwibawa menyebabkan munculnya ketidakpatuhan sosial.





DAFTAR PUSTAKA
Aronson, E., Wilson, T. D., & Akert, R. M. (2007). Social Psychology. New Jersey: Pearson Education.

Jamridafrizal. (2010, september 18). Agresivitas dan kecemasan. Retrieved october 26, 2010, from Scribd: http://www.scribd.com/doc/17376693/Agresivitas-Dan-Kecemasan
Milgram, S. (1965). Some conditions of obedience and disobedience to authority. Human Relations , 57-76.

Passer, M. W., & Smith, R. E. (2007). Psychology: The Science of mind and behavior. New York: McGraw-Hill.

Piven, J. S. (2007, january 8). Terror, Sexual Arousal, and Torture: The Question of Obedience or Ecstasy among Perpetrators. Retrieved october 26, 2010, from UMass Boston: http://omega.cc.umb.edu/~sociology/journal/Vol81PDFS/25482412.pdf

Skaff, R. R. (2010, january 31). The Terror Card: Fear is the Key to Obedience. Retrieved october 2010, 2010, from Global Research: http://www.globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=17299

*) ditulis sebagai tugas mata kuliah Fenomenologi

Senin, 18 Oktober 2010

Dosa Revolusi, Dosa Pemuda?

Revolusi sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat biasanya dianggap sebagai suatu hal yang dibangga-banggakan dan diagung-agungkan. Banyak tokoh atau sosok lahir karena kemampuannya dalam menciptakan sebuah revolusi. Sebut saja misalnya Che Guevara, Mahatma Gandhi, dsb. Nama mereka langsung melejit karena revolusi yang mereka lakukan.

Revolusi ini sendiri ada berbagai macam bentuknya. Mulai dari revolusi ekonomi seperti yang terjadi di Rusia misalnya, revolusi industri, politik, dan tidak jarang diantaranya revolusi fisik dengan jalan peperangan. Namun apapun yang terjadi revolusi adalah revolusi.

Revolusi adalah sebuah proses perubahan yang cepat dari suatu keadaan ke keadaan yang lainnya. Di Indonesia sendiri tercatat setidaknya telahmengalami tiga kali revolusi. Revolusi pertama dalah revolusi kemerdekaan 1945. Revolusi-revolusi berikutnya terjadi bersamaan dengan jatuhnya suatu rezim. Sebut saja kejatuhan Soekarno dan Reformasi 1998 yang melengserkan Soeharto.

Dan dibalik ketiga revolusi tersebut adalah generasi pemuda, dalam konteks kekinian adalah mahasiswa. Ketiga revolusi ini selalu digembor-gemborkan sebagai suatu prestasi yang luar biasa yang telah dilakukan oleh para pemuda.

Namun secara tidak sadar, juga turut menciptakan suatu kekacauan sosial. Sebagaimana mie instan dan segala makanan instan lainnya yang idak baik untuk kesehatan, perubahan yang terjadi secara instan (baca: revolusi) tentunya juga tidak baik bagi kesehatan.

Revolusi bukan hanya sekedar menghancurkan suatu keadaan yang lama, tetapi juga tentang membangun suatu keadaan yang baru.
Dalam proses itu norma-norma serta peraturan-peraturan lama yang dianggap feodal atau kolonial dijebol dengan maksud untuk diganti dengan norma-norma dan peraturan yang baru. Namun biasanya fungsi semula dari anjuran-anjuran supaya meninggalkan norma-norma lama itu menjadi kabur; penjebolan norma-norma itu sendiri menjadi yang utama, dan norma-norma serta peraturan-peraturan baru tak dibina dan disusun. (Koentjaraningrat, 1974)
 Negara ini telah mengalami tiga kali revolusi, namun sudahkah kita belajar dari revolusi-revolusi sebelumnya?

Revolusi yang pertama menjebol norma-norma feodalisme. Namun yang terjadi adalah adanya sentimen anti bangsa Eropa terutama negara dunia pertama. Dimana kemudian Soekarno menciptakan NEFO sebagai suatu cita-cita untuk memunculkan negara dunia ketiga melawan dominasi dunia pertama dan kedua. Meskipun pada prakteknya yang terjadi justru kita menjadi bagian dari negara dunia kedua.

Revolusi ini mengalami hambatan yang berarti karena tidak adanya pemahaman akan pentingnya reformasi itu sendiri. Kita hanya menuntut merdeka tanpa memikirkan secara masak-masak mau seperti apa setelah merdeka. Namun meskipun terseok-seok, revolusi ini berhasil dalam beberapa bidang namun masih gagal menghancurkan beberapa bagian.

Revolusi kedua terjadi karena ketidakpuasan terhadap pemerintaahan yang cenderung pada penunjukkan jati diri dan gagal dalam mengatasi perut. Masyarakat menuntut adanya perubahan akan pentingnya urusan manusiawi dibanding hanya sekedar pembangunan monumen-monumen.

Puncaknya pada Supersemar terjadi peralihan kekuasaan dimana juga terjadinya revolusi ideologi. Indonesia yang sebelumnya cenderung ke arah kiri sosialis dibawa menuju ke arah kanan liberalis kapitalis. Pada revolusi ini norma lama dijebol (tidak sepenuhnya) tanpa mempersiapkan norma apa yang akan diusung selanjutnya sehingga justru terjadi sebuah keadaan membingungkan yang pada akhirnya kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Soeharto.

Tahun 1998 terjadilah sebuah revolusi yang lain yang kita sebut sebagai reformasi. Kita berusaha menggulingkan rezim orde baru, lalu apa? Kita tidak pernah melangkah ke sebuah tahapan menciptakan rezim yang baru. Kita sibuk membongkar sana-sini tanpa tersadar bahwa telah banyak waktu yang kita gunakan untuk membongkar dan kini kita kebingungan mencari sebuah bangunan.

Mungkin dosa terbesar pemuda ada pada revolusi ini. Golongan mahasiswa sibuk menjebol norma-norma lama tanpa mempersiapkan norma-norma yang baru. Pada akibatnya adalah munculnya banyak kekacauan sosial-politik yang terjadi hingga saat ini. Dua belas tahun setelah revolusi dan norma baru belum terbentuk. Kita masih sibuk memperdebatkan norma yang akan kita gunakan padahal masyarakat sudah tidak sabar lagi berada dalam kepastian.

Maka kita sebagai generasi muda mahasiswa yang turut menanggung dosa warisan tersebut seharusnya berfokus dalam bagaimana menciptakan sebuah norma yang baru. Namun pada prakteknya yang terjadi seringkali kita justru disibukkan dengan menciptakan revolusi baru, yang berarti juga sebuah kekacauan baru.

Ini semua bukan tentang siapa yang lebih hebat, siapa yang dapat menciptakan sebuah revolusi. Adalah sebuah omong kosong ketika kita membanggakan revolusi yang kita lakukan tanpa menyadari kehancuran yang telah kita ciptakan. Kita yang menghancurkan, maka kita yang membangun. Itu adalah sebuah tanggung jawab sosial yang harus kita lakukan. Sekali lagi, revolusi bukanlah tentang apa yang telah kita hancurkan, tetapi tentang apa yang akan kita bangun.

Senin, 23 Agustus 2010

Itulah mengapa di setiap lagu romantis bercerita tentang bulan

Karena bulan sangat luar biasa. Tak seperti Matahari yang hanya muncul di pagi hari yang penuh kegembiraan dan semangat baru, bulan justru sebaliknya. Bulan justru muncul di senja hari yang melankolis dan jauh dari hura-hura kegembiraan. Bulan menemanimu di saat kau kebingungan dalam kegelapan dan kedinginan di tengah malam.

Dan disaat kau tengah bergembira ria di tengah sinar matahari, kau melupakannya. Namun jika kau mau melihat dengan lebih dalam mungkin kau akan menemukannya tersiak di antara awan-awan yang bergerombol. Matahari adalah penyemangatmu yang membuatmu gembira. Sedangkan bulan adalah pendamping sejatimu yang selalu ada di saat kamu kesulitan. Dan kekasihmu atau sahabatmu adalah Matahari dan Bulan yang melebur menjadi satu.

Sabtu, 07 Agustus 2010

untuk yang berada di sisi

Mereka yang paling sempurna sesungguhnya tidak pantas berada disisimu, karena dengan kesempurnaannya justru mereka tidak membutuhkanmu. Ini semua tentang simbiosis mutualisme dimana satu hidup bergantung yang lain, bukan tentang kehidupan itu sendiri melainkan tentang ketergantungan itu.

Apalah artinya hidup sendirian di tengah padang pasir tandus tanpa seekor kumbang pun menghampiri. Karena kecantikan sebuah bunga ada untuk dilihat, bukan untuk hidup. Keindahan adalah tentang estetika dan bukan makna.

Maka dia yang berada di sisimu adalah orang yang memiliki kekurangan dan kelebihan. Demikian juga halnya denganmu. Bisa jadi orang di sisimu adalah orang yang paling kamu benci karena dia sangat berbeda denganmu.

Namun ibarat kepingan puzzle kekurangan dan kelebihan itulah yang membuatnya dapat menjadikannya satu. Kesempurnaan bukan pada salah satu dari kalian, tetapi ada pada kalian yang telah satu.

setiap orang dapat melihat dengan caranya sendiri

Bahkan orang buta pun tetap bisa memandang. Dia bisa memandang dunia ini sebagai tempat sampah atau pun puncak gunung dengan bunga bertebaran di sekelilingnya serta mentari di ufuk timur. Memandang tidak hanya memakai mata, namun juga hati dan pikiran.

Dan kita bebas menentukan dunia kita sendiri ini seperti apa. Bukan dunia semu, karena sejatinya semua itu tidak ada yang benar-benar nyata. Adalah pilihan kita sendiri untuk menentukan mana kenyataan dan mana mimpi.

Ketika mimpi dan kenyataan sama indah dan buruknya maka ini semua hanya soal pilihan. Kita yang menciptakan aturan-aturan itu dan kita yang memilih untuk mempercayainya.

Sabtu, 31 Juli 2010

seniman

Mungkin kau merasa tidak bisa menggambar dengan bagus, tidak pula memiliki suara emas, gerakan payah tidak bisa menari, dan sebagainya. Tidak bisa menciptakan satu pun kaya seni dari tanganmu dan merasa satu-satunya seni dalam tubuhmu hanyalah air seni.

Maka ini semua bukan tentang itu. Seni adalah tentang memaknai. Memaknai lukisan, memaknai suatu karya, memaknai hidup. Hanya satu hal yang perlukan untuk menciptakan seni yaitu memberi makna.

Seluruh hidupmu, gerak-gerikmu, tingkah lakumu, pemikiranmu, akan menjadi sebuah seni ketika kamu mau memaknainya. Maka teruslah memaknai hidupmu dan jadilah seorang seniman.

Kamis, 29 Juli 2010

psikologi semar

Semar dikenal sebagai salah satu tokoh wayang asli Indonesia. Semar biasanya dimunculkan bersama gareng, petruk, dan bagong. Sepintas kemunculan para punakawan ini hanya terlihat bagai selingan tawa di tengah jalannya cerita wayang yang cukup serius. Namun di balik itu semua tokoh Semar sendiri memiliki banyak makna.

be SeMAR
Banyak versi yang menceritakan asal-usul tokoh Semar itu sendiri. Namun secara garis besar dapat dikatakan bahwa tokoh ini adalah perwujudan dari salah seorang Dewa yang cukup sakti. Semar sendiri diceritakan masih memiliki hubungan dekat dengan Batara Guru yang tidak lain diceritakan sebagai Raja para dewa atau dewa tertinggi. Beberapa versi menyebutkan hubungan tersebut adalah adik-kakak, sedangkan versi lain menyebutkan hubungan paman dan ponakan.

Meskipun Dewa yang cukup sakti, sosok Semar justru hanya berperan sebagai pengasuh para kesatria. Para punokawan selalu berada sebagai tokoh belakang dan jarang terlibat secara langsung dalam alur cerita. Para punokawan digambarkan sebagai golongan akar rumput.

Akan tetapi di balik itu semua tidak bisa dipungkiri bahwa Semar sebenarnya adalah sosok yang besar. Diceritakan bahwa para kesatria selalu meminta nasehat darinya apabila mendapat masalah. Bahkan Sang Batara Guru yang menjadi Raja para dewa pun terkadang meminta nasehatnya. Dalam beberapa kisah juga diceritakan bahwa Batara Guru pun kalah sakti dengan Semar. Semar berhasil menngalahkan Batara Guru dengan senjata andalannya yaitu kentutnya. Semar pula lah yang berhasil melerai pertangkaran antara kedua kesatria sakti yaitu Gareng dan Petruk yang kemudian menjadi pengikutnya.

Semar dan struktur sosial
Budaya memiliki efek saling mempengaruhi antara budaya yang satu dengan yang lain. Budaya juga seringkali diadopsi oleh bangsa lain. Indonesia termasuk salah satu bangsa yang gemar mengadopsi budaya lain. Terbukti dari catatan sejarah yang menunjukkan bagaimana Hindu dan Islam bisa mudah diterima dalam struktur budaya kita. Namun budaya yang diadopsi terkadang tidak ditelan atau ditiru mentah-mentah. Seringkali budaya tersebut mendapat sedikit penyesuaian di beberapa bagian agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Munculnya para Punakawan dalam cerita pewayangan juga merupakan salah satu bentuk penyesuaian terhadap budaya asing. Meskipun wayang kulit dan wayang golek itu sendiri mungkin merupakan budaya asli Indonesia, namun cerita-cerita yang sering dipentaskan adalah cerita-cerita dari India. Sebut saja Mahabarata dan Ramayana. Maka cukup menarik untuk mendalami mengapa Punakawan muncul dalam dunia wayang. Tentunya ini semua tidak terlepas dari struktur sosial masyarakat yang ada.

Menurut saya, kemunculan Punakawan ini memiliki beberapa alasan. Punakawan selalu muncul dalam adegan goro-goro dimana merupakan adegan komedi dalam sebuah cerita wayang. Ini mungkin erat kaitannya dengan sistem kebudayaan kita yang memiliki fokus yang besar dalam hal kebahagiaan. Salah satu bentuk nyatanya adalah komedi.

Dalam cerita pewayangan asli baik Ramayana dan Mahabarata sentuhan komedi kurang begitu terasa. Cerita ini lebih menonjolkan sisi aksi terutama dalam hal peperangan. Ini mungkin berbenturan dengan struktur budaya kita yang cenderung pragmatis atau lebih santai dan kurang begitu serius dalam menghadapi suatu masalah. Maka agar kisah pewayangan ini dapat diterima oleh masyarakat ditambahkannyalah adegan Goro-goro dalam cerita wayang.

Tokoh Semar sendiri merupakan representasi dari tokoh yang paling bijaksana dan sakti. Yang cukup menarik adalah justru sosok sebesar ini tidak berada dalam tingkatan struktur sosial yang tinggi dengan menjadi raja atau dewa misalnya, namun justru hanya menjadi seorang pengasuh atau pembantu yang merupakan representasi dari golongan akar rumput.

Hal ini bisa diterjemahkan dalam hal. Yang pertama adalah bahwa seseorang yang memiliki kemampuan yang besar tidak harus menonjolkan diri. Nilai ini sama halnya dengan nilai-nilai andap asor dalam budaya Jawa. Nilai ini sangat dijunjung dalam masyarakat Jawa.

Bahkan ada pepatah yang mengatakan seperti ilmu padi, makin berisi makin merunduk. Dimana seseorang diharapkan untuk selalu rendah hati meskipun memiliki kemampuan yang besar. Begitu pula Semar yang meski memiliki sebuah kemampuan yang besar namun memilih untuk berada di belakang layar dan menjadi golongan akar rumput. Ini juga dapat ditafsirkan bahwa seorang pemimpin sebaiknya tetap dekat dengan golongan akar rumput atau memperhatikan keadaan di bawah.

Yang kedua bahwa kita jangan menilai seseorang dari penampilannya. Mereka yang kadang terkesan sederhana dan tampak sebagai golongan marginal sebenarnya memiliki kebijaksanaan yang tinggi. Ini sesuai dengan nilai dan stereotype kita bahwa orang bijaksana seringkali digambarkan sebagai sosok yang biasa saja dan sederhana dalam kehidupannya.

Semar pastilah seorang Psikolog juga
Satu hal lagi yang membuat saya kagum akan sosok ini adalah caranya dalam memberi nasehat. Dalam memberi nasehat Semar selalu memberikan segala pilihan dengan konsekuensi yang ada. Maka mereka yang meminta nasehatlah yang harus menentukan sendiri mana yang akan mereka lakukan.

Cara ini mirip dengan pendekatan humanis yang banyak digunakan oleh para konselor dan psikolog saat ini. Dimana konselor atau psikolog tidak memberikan solusi secara langsung dan mengarahkan klien ke arah tertentu (non-directive) tapi lebih ke arah membantu klien dalam mengatasi masalah mereka sendiri.

Metode yang paling baru di dunia psikologi ini sudah jauh-jauh hari digunakan oleh Semar. Maka pantaslah saya menebak pastilah Semar itu seorang Psikolog juga. Saya rasa jika Semar mau menulis buku pastilah dia lebih terkenal dibanding tokoh-tokoh Psikologi lainnya.

Semar Mendem
Bagaimanapun juga Semar hanyalah sebuah tokoh fiksi. Namun pembentukan karakter dan penokohannya tentu tidak lepas dari pengaruh budaya tempat Semar dilahirkan. Jadi nilai-nilai yang terkandung dalam Semar sebenarnya merupakan representasi dari nilai-nilai budaya masyarakat yang ada.

Nilai-nilai yang sayangnya sudah mulai kita lupakan dan kita ganti begitu saja.

Jumat, 16 Juli 2010

pendidikan budak

Satu pertanyaan yang cukup membuat saya tersadar akan arti sebenarnya dari ilmu adalah ketika seorang adik kelas SMA bertanya kepada saya, "kuliah dimana, Mas?". Lalu saya jawab, "Psikologi". Pertanyaan berikutnya yang cukup mengagetkan saya adalah: "kalau kuliah di Psikologi nanti kerjanya jadi apa?". Jawaban saya berikutnya adalah jawaban yang membuat saya tersadar tentang apa arti dari ilmu, yaitu "saya di Psikologi UGM mau kuliah, bukan mau kerja".

Sebenarnnya pertanyaan serupa juga pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Namun akhirnya saya membulatkan tekad untuk masuk Psikologi karena saya tertarik. Tidak lebih dan tidak kurang. Saya tidak ribut memikirkan nanti setelah lulus saya mau kerja apa. Saya yakin bahwa rezeki itu udah ada yang mengatur terlepas kita mau belajar apa.

Pertanyaan tersebut merupakan manifestasi dari sebuah common sense yang ada dalam masyarakat. Orang tua menyekolahkan kita di SD yang bagus agar kita jadi anak pintar. Kemudian kita masuk ke SMP yang bagus, harapannya agar nilai UAN-nya bagus dan bisa memasuki SMA yang bagus. Kita masuk SMA yang bagus juga dengan harapan agar kita bisa diterima di Universitas ternama. Kita kuliah di Universitas ternama agar bisa bekerja di sebuah perusahaan yang besar (dengan gaji yang besar pula tentunya).

Maka berarti kita belajar selama lebih dari 9tahun hanya untuk bekerja. Lebih dari sembilan tahun kita jalani hanya demi mendapatkan prasyarat mendaftar bekerja di sebuah perusahaan, yaitu: ijazah. Jika memang demikian stereotype yang ada, maka wajar jika yang lahir dari pendidikan kita hanyalah manusia-manusia yang memanifestasikan ilmunya ke dalam abjad-abjad dan angka-angka.

Mereka menuntut ilmu karena terpaksa, karena tanpa melewati fase tersebut mereka tidak akan bisa bekerja. Dunia pendidikan kita lalu dipenuhi oleh orang-orang yang menggunakan ilmu hanya untuk mendapatkan lembaran-lembaran uang. Saya tidak menyalahkan jika ada orang yang menggunakan ilmunya untuk mencari uang, tetapi bagi saya ilmu lebih dari sekedar untuk memenuhi perut. Adalah sebuah kesalahan besar jika orang-orang beranggapan jika kita menuntut ilmu selama ini hanya demi perut kita.

Transfer Pengetahuan
Pada zaman penjajahan Belanda, sekolah-sekolah didirikan untuk merekrut tenaga ahli. Sekolah-sekolah yang ada adalah sekolah pelatihan kerja. Sekolah yang paling efektif dalam hal ini adalah yang menggunakan prinsip pembelajaran transfer ilmu dari guru ke murid-muridnya agar muridnya bisa melakukan apa yang gurunya kehendaki.

Sudah berpuluh-puluh tahun Belanda angkat kaki dari negeri kita namun pendidikan masih saja seperti yang dulu. Kita masih saja menggunakan model pembelajaran dengan sistem transfer pengetahuan, bukan membentuk pengetahuan. Sistem ini hanya melahirkan budak-budak yang ahli dalam mengerjakan tugas-tugas tertentu. Sistem ini tidak membentuk ilmu-ilmu dari dalam diri individu namun hanya memindahkannya.

Apa yang terjadi adalah akademisi kita hanya bisa menggunakan ilmu yang sudah ada tanpa bisa memahami dan mengembangkannnya. Jadi wajar jika akademisi kita suka menelan mentah-mentah teori yang ada tanpa pernah berusaha menciptakan dan mengembangkan teori baru. Kita memakai sebuah pengetahuan, bukan berusaha membangun pengetahuan itu sendiri.

Inilah pendidikan budak. Pendidikan yang dianggap sebagai pelatihan dalam bekerja. Pendidikan yang hanya berlandaskan pada tujuan akhir mencari nafkah. Pendidikan yang tidak mengembangkan ilmu itu sendiri dan hanya memanfaatkannya.

Ketika para siswa sibuk belajar menjelang ujian saja, maka itu berarti ilmu kita hanya akan dimanifestasikan dalam angka-angka dalam secarik kertas. Ketika mahasiswa selalu menuntut haknya untuk mengikuti ujian namun tidak pernah menuntut haknya untuk mengikuti kuliah, maka Universitas hanya akan menjadi sebuah percetakan ijazah.

Ketika kita lebih suka belajar dengan hanya duduk dan mendengarkan bukan memahami, maka itu membuktikan bahwa diri kita hanyalah seorang budak. Pertanyaannya adalah engkau budak atau bukan?



*) komik oleh Saiful Bachri

Senin, 05 Juli 2010

Keterkaitan antara Pemimpin dan Usia

Antara Leader, Manager, Pemimpin, dan Ketua

Akhir-akhir ini muncul wacana pemimpin muda dalam masyarakat. Fenomena ini makin diperkuat dengan munculnya tokoh-tokoh muda yang menduduki posisi penting dalam organisasi-organisasi di masyarakat. Sedangkan dalam masyarakat sendiri seorang pemimpin seringkali dijuluki sebagai ketua yang artinya orang yang dituakan. Bagaimana sebenarnya konsep pemimpin yang ada di masyarakat? Apakah pengaruh seorang pemimpin di masyarakat dipengaruhi juga oleh usianya? Tulisan berikut ini akan mencoba menganalisis hal tersebut.

Pendahuluan
Akhir-akhir ini muncul trend mengenai pemimpin muda di Indonesia. Sudah banyak seminar, penghargaan, pelatihan, dan topik bahasan mengenai pemimpin muda itu sendiri. Trend ini menguat pasca reformasi. Dimana masyarakat mulai kehilangan kepercayaan terhadap generasi orde baru atau biasa disebut sebagai generasi tua. Hal yang serupa juga ditemukan dalam penelitian Indigenous Psychology dari Fakultas Psikologi UGM dimana kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap politisi sangat rendah.

Oleh karena itu masyarakat kini berharap akan sebuah perubahan menuju ke arah yang lebih baik. Harapan ini terutama terletak pada munculnya para pemimpin muda. Menurut Faisal Basri, kebutuhan akan pemimpin muda dikarenakan agar terciptanya sebuah harapan atau perubahan untuk Indonesia itu sendiri dan supaya tidak terikat terus menerus oleh masalah-masalah yang ada pada masa lalu (antaranews.com).

Hal senada juga diungkapkan Yuddi Chrisnandi bahwa pemimpin muda diharapkan mampu membawa sebuah perubahan karena memiliki pemikiran yang hebat (antaranews.com).

Gejala ini semakin menguat akhir-akhir ini di Indonesia. Terbukti dari munculnya beberapa tokoh pemimpin muda. Sebut saja munculnya Barrack Obama sebagai presiden Amerika Serikat yang turut berpengaruh di Indonesia (detiknews.com), Anies Baswedan sebagai rektor Universitas Paramadina, Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Partai Demokrat, dan tokoh-tokoh lainnya. Ini menunjukkan adanya trend pemimpin muda yang semakin menguat di Indonesia.

Berubahnya persyaratan calon Presiden yang sebelumnya berusia minimal 40 tahun pada tahun 2005 dan menjadi berusia minimal 35 tahun pada tahun 2008 menunjukkan adanya gejala bahwa pemimpin muda mulai diterima di masyarakat.

Masyarakat mulai beranggapan bahwa pemimpin muda justru lebih baik daripada mereka yang lebih tua. Atau minimal usia tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja seorang pemimpin. Namun aturan hukum justru berkata sebaliknya. Banyak posisi tertentu dalam pemerintahan atau perusahaan yang menerapkan usia minimal sebagai syarat utama. Sebut saja Undang-undang nomer 30 tahun 2002 tentang KPK yang menyebutkan bahwa Ketua KPK minimal berusia 40 tahun dan maksimal 65 tahun (tempointeraktif.com) dan Undang-Undang nomer 44 tahun 2008 yang mensyaratkan calon presiden minimal berusia 35 tahun (kpu.go.id).

Oleh karena itu artikel ini ingin menjawab bagaimana sebenarnya definisi pemimpin itu sendiri di Indonesia. Apakah kemampuan seorang pemimpin menurut masyarakat ditentukan juga oleh usianya itu yang akan menjadi bahasan utama artikel ini.

Implikasi teoritik
Ada banyak istilah mengenai kepemimpinan. Dalam referensi-referensi yang bersumber dari Barat, kita mengenal adanya istilah leadership. Ada juga istilah manager sebagai seorang pemimpin (biasanya dalam dunia bisnis). Di Indonesia kita menyebut itu semua sebagai kepemimpinan.

Leadership adalah proses mempengaruhi sebuah kelompok untuk dapat mencapai suatu tujuan (Hughes, Ginnet & Curpy, 2006). Leadership sendiri lebih menekankan pada bagaimana seorang leader dapat membuat orang lain terpengaruh dan melakukan sesuatu sesuai yang diharapkannya. Namun leadership ini tentu tidak semudah itu.

Sedangkan manager  adalah seseorang yang mendukung, melaksanakan, dan bertanggung jawab dalam sebuah pekerjaan bersama (Schermerhorn, 2010). Manager lebih menkankan pada bagaimana sebuah pekerjaan bersama dapat terlaksana dengan baik.

Banyak penelitian yang menyebutkan bahwa kebudayaan berpegaruh terhadap perbedaan gaya kepemimpinan yang efektif (House, Hanges, Javidan, Dorfman,& Gupta, 2004). Misalya saja penelitian yang dilakukan Hoffstede yang menunjukkan berbagai karakter perbedaan budaya di beberapa Negara dunia yang berpengaruh juga terhadap gaya kepemimpinan yang ada. Bisa jadi definisi mengenai kepemimpinan itu sendiri berbeda di masing-masing budaya.

Di Indonesia kita mengenal istilah kepemimpinan. Pemimpin sendiri berasal dari kata pimpin yang berarti sebuah upaya untuk membimbing dan menuntun. Pemimpin sendiri berarti orang yang memimpin (KBBI, 1989). Jadi seorang pemimpin harus mampu membimbing pengikutnya menuju suatu tujuan tertentu. Definisi ini sama dengan makna harafiah dari leader itu sendiri (McIntosh, 1952).

Selain pemimpin, di Indonesia kita juga mengenal istilah lain yaitu ketua. Ketua adalah orang yang tertua dan banyak pengalamannya (KBBI, 1989). Dalam organisasi-organisasi di masyarakat seringkali kita temui bahwa kedudukan tertinggi dipegang oleh seorang ketua. Dalam hal ini ketua memiliki fungsi yang mirip sebagai seorang leader, manager, atau pemimpin.

Tua sendiri seringkali diidentikkan dengan sifat kebijaksanaan dan pengalaman yang banyak. Kebijaksanaan sendiri didefinisikan oleh Dittman-Kohli dan Baltes (dalam Kimmel,1990) sebagai bagian dari fluid intelligent. Kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membuat sebuah penilaian yang baik terhadap hal-hal yang penting namun tidak pasti dalam hidup ini.

Definisi kebijaksanaan sendiri berbeda antara masyarakat Timur dan Barat. Di dalam masyarakat Barat kebijaksanaan lebih dikaitkan dengan kecerdasan dan alasan. Sedangkan di dalam budaya masyarakat Timur kebijaksanaan sendiri lebih dikaitkan pengetahuan langsung (pengalaman) dan arti hidup (Kimmel,1990).

Analisis teoritik dan temuan
Dari sekian banyak teori tentang kepemimpinan atau leadership, teori-teori di atas hanyalah sebagian kecil. Dari definisi tentang manager, leadership, dan kepemimpinan, tidak ada satu pun yang berkaitan dengan usia seseorang dengan kapasitasnya dalam memimpin.

Namun perlu dicermati juga bahwa konsep leadership dan manager merupakan konsep asing yang masuk ke Indonesia dan bukan hasil asli dari kebudayaan Indonesia. Begitu juga dengan konsep kepemimpinan tampaknya juga merupakan adaptasi dari konsep leadership.

Satu hal yang perlu diingat bahwa masing-masing bangsa memiliki budaya mereka sendiri. Setiap budaya ini sendiri memiliki unsur-unsur:
1.    Sistem religi dan upacara keagamaan
2.    Sistem dan organisasi kemasyarakatan
3.    Sistem pengetahuan
4.    Bahasa
5.    Kesenian
6.    Sistem mata pencaharian hidup
7.    Sistem teknologi
Jadi dapat dikatakan bahwa tiap-tiap kebudayaan memiliki sistem organisasi kemasyarakatan masing-masing yang bisa berbeda dan bisa juga sama. Sistem organisasi kemasyarakatan inilah yang berpengaruh tentang konsep kepemimpinan itu sendiri seperti apa.

Di Indonesia kita mengenal apa yang kita sebut sebagai ketua. Istilah ini sendiri erat kaitannya dengan konsep pemimpin.  Secara harafiah ketua sendiri memiliki arti orang yang paling tua dari suatu kelompok. Dalam perkembangannya makna ini meluas menjadi orang yang dianggap paling tua atau dituakan. Makna tua sendiri pun meluas dari yang sebelumnya tua mengacu pada usia kronologis beralih ke tua dalam definisi usia sosial atau psikologis.

Dahulu konsep ketua digunakan pada konteks kelompok sosial masyarakat. Namun kini istilah ketua digunakan hampir dalam struktur keorganisasian. Bahkan dalam organisasi formal istilah ini pun masih sering dipakai. Termasuk di dalamnya lembaga tinggi Negara misalnya ketua KPK, ketua Mahkamah Konstitusi, Ketua KPU, dan sebagainya.

Menjadi sebuah pertanyaan tersendiri mengapa masyarakat Indonesia menyebut orang yang paling tinggi pengaruhnya dalam sebuah kelompok dengan sebutan ketua. Bisa dikatakan bahwa masyarakat mengidentikkan konsep pemimpin mereka dengan konsep orang yang sudah tua.

Apa yang spesial dengan orang tua? Orang yang sudah tua biasa digambarkan sebagai orang yang bijaksana, emosinya stabil, dihormati, tenang, dan sebagainya. Namun orang yang sudah tua juga diidentikkan dengan lamban dalam bekerja dan tidak meluap-luap semangatnya.

Terlihat bahwa masyarakat memiliki kecenderungan untuk menyamakan konsep pemimpin mereka sebagai orang yang bijaksana, emosinya stabil (tidak berapi-api), dihormati, tenang, dan sebagainya. Bahkan seorang pemimpin tidak harus cekatan dan sigap dalam bekerja namun yang utama adalah karakteristik kebijaksanaannya dalam menghadapi suatu masalah.

Konsep ini tampaknya lebih cocok dengan fenomena sosial yang ada. Seringkali kita jumpai terutama di struktur pemerintahan atau organisasi-organisasi lain yang cenderung masih konvensional bahwa pemilihan jabatan tidak ditentukan oleh kapasitas seseorang dalam bekerja. Jabatan seseorang dinilai dari kepantasan seseorang dalam lingkungan sosialnya.

Di daerah-daerah seringkali mahasiswa yang melakukan KKN mengalami kesulitan dalam melakukan sosialisasi di masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat tidak melihat mahasiswa dari kompetensinya melainkan dari kepantasannya dalam struktur sosial.

Begitu juga dengan fenomena Pemilu 2009 kemarin dimana calon Presiden seperti SBY lebih populer di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan SBY dalam setiap kampanyenya selalu mencitrakan dirinya sebagai seseorang yang bijaksana dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Berbeda dengan JK yang mencitrakan dirinya sebagai sosok yang cekatan dan berapi-api dalam bekerja justru popularitasnya paling rendah.

Hal ini juga bisa menjelaskan mengapa fenomena pemimpin muda tidak begitu saja mudah diterima oleh masyarakat. Masyarakat lebih mengutamakan kebijaksanaan dibandingkan kompetensi dalam memilih seorang pemimpin. Kebijaksanaan inilah yang tampaknya kurang melekat dalam karakter seorang pemimpin muda.

Seorang ketua harus mampu menghadapi sebuah masalah dengan bijaksana. Berbeda dengan konsep kepemimpinan atau leadership yang menkannkan bagaimana seorang pemimpin bisa membuat orang lain terkena pengaruh darinya. Terlebih lagi dengan seorang manager yang ditekankan pada penyelesaian tugasnya.

Penutup
Dalam kebudayaan Indonesia sosok atau figur pemimpin diidentikkan dengan karakteristik atau sifat orang tua. Pemimpin diharapkan sebagai seseorang yang bijaksana dalam bertindak. Sedangkan kompetensi kerja seorang pemimpin cenderung dikesampingkan.

Inti utama dari leadership atau kepemimpinan adalah dalam hal hubungan saling mempengaruhi antara pemimpin dan pengikutnya. Dalam masyarakat Indonesia besarnya pengaruh seseorang lebih ditentukan dari kualitas hubungan sosialnya dan kemiripan dirinya dengan konsep orang tua.

Pemimpin muda sendiri mengalami hambatan besar dalam hal ini. Bagaimana masyarakat mengidentikkan pemimpin mereka dengan karakteristik orang tua tentu sangat bertentangan dengan konsep pemimpin muda. Sehingga wajar jika konsep kepemimpinan muda ini banyak mengalami ganjalan terutama di lingkungan masyarakat yang masih cenderung tradisional.

Namun perkembangan ilmu pengetahuan yang ada selama ini terus menerus mengadopsi konsep-konsep dari Barat. Dalam hal ini termasuk juga konsep kepemimpinan. Jika perkembangan ilmu masih tetap seperti ini, di masa mendatang besar kemungkinan konsep pemimpin muda perlahan tapi pasti akan diterima oleh masyarakat.

Penerimaan konsep ini sendiri juga bergantung pada pengaruh adaptasi konsep-konsep kepemimpinan Barat di masyarakat. Kemungkinan besar generasi tua saat ini akan sulit menerima konsep ini namun generasi muda yang terus-menerus diajarkan konsep-konsep adaptasi Barat ini akan mudah menerimanya.


DAFTAR PUSTAKA
_________. 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Schermerhorn, J. R. 2010. Introduction to Management. Asia: John Wiley & Sons Pte Ltd.
House, R.J., Hanges, P.J., Javidan, M., Dorfman, P.W., dan Gupta, V. 2004. Culture, Leadership, and Organization: The GLOBE study of 62 societies. United States of America: Sage Publications.
Hughes, R.L., Ginnet, R.C., dan Curphy, G.J. 2006. Leadership: Enhancing the Lessons of Experience 5th edition. Singapore: McGraw-Hill.
Kimmel, Douglas C. 1990. Adulthood and Aging, an interdisciplinary develepomental view. New York: Jhon Wiley & Sons.
McIntosh, E. 1952. The Concise Oxford Dictionary of Current English. London: Oxford University Press.
http://www.antaranews.com/view/?i=1193579725&c=NAS&s=, diakses tanggal 29 Juni 2010, pukul 09.57 WIB.
http://www.antaranews.com/view/?i=1218302817&c=NAS&s=, diakses tanggal 29 Juni 2010, pukul 10.02 WIB.
http://www.detiknews.com/read/2009/01/21/133336/1072103/700/pelantikan-obama-harus-jadi-semangat-calon-pemimpin-muda-indonesia, diakses tanggal 29 Juni 2010, pukul 10.27 WIB.
http://hukumham.info/component/docman/doc_download/3-uu-no42-tahun-2008-tentang-pemilihan-umum.html, diakses tanggal 29 Juni 2010, pukul 10.33 WIB.
http://www.kpu.go.id/index.php?option=com_docman&task=cat_view&gid=23&dir=DESC&order=date&Itemid=78&limit=5&limitstart=5, diakses tanggal 29 Juni 2010, pukul 10.41 WIB.
http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2010/05/28/brk,20100528-251015,id.html, diakses tanggal 29 Juni 2010, pukul 10.24 WIB.

*) ditulis sebagai tugas akhir mata kuliah Sosiologi Fakultas Psikologi UGM

Rabu, 16 Juni 2010

cerita sebuah bangsa dan hierarki Maslow

Ini adalah cerita dari sebuah bangsa yang terhinakan oleh waktu. Bangsa yang besar, bangsa yang telah mencapai puncak dan terpelanting ke bawah kembali ke dasar.

Bangsa ini begitu dimanja dengan alamnya yang kaya raya. Alamnya yang indah mempesona bagai surga, yang menyediakan kebutuhan mereka sehari-hari tanpa perlu bersusah payah dalam berusaha. Bangsa yang kebutuhan fisiologinya selalu tercukupi tanpa perlu khawatir.

Sesuai dengan kata Maslow, mereka yang telah terpenuhi kebutuhannya akan suatu hal akan melanjutkan ke kebutuhannya yang lain. Bagi bangsa ini, kebutuhan fisiologi bukanlah suatu hal yang sulit sehingga mereka bisa beranjak ke level berikutnya tanpa perlu bersusah payah.

Karena kebutuhan-kebutuhan dasar mereka telah terpenuhi, kehidupan mereka telah berfokus pada kebutuhan-kebutuhan lainnya. Mereka belajar tentang kebersamaan dan cinta. Mereka belajar tentang penerimaan diri (self esteem). Mereka belajar ilmu, seni, hingga mencapai kebermaknaan hidup mereka. Semua itu terangkum dalam kebudayaan mereka.

Mereka telah memahami itu ratusan tahun lalu. Jauh sebelum psikologi tumbuh dan memahami pentingnya hal-hal ini. Mereka telah maju ratusan tahun dibanding bangsa lain. Mereka telah memahami nilai-nilai ini ketika bangsa lain masih sibuk memenuhi kebutuhan mereka yang paling dasar. Bangsa ini telah berada jauh di depan, bahkan saat ini pun bangsa lain mungkin belum bisa mengejarnya.

Namun waktu berkata berbeda. Waktu memaksa mereka untuk berubah. Seiring berjalannya waktu, alam pun tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan mereka yang paling dasar. Mereka tidak bisa lagi mengandalkan alam mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Mereka bingung dan panik. Selama ini mereka belum pernah dihadapkan persoalan semacam ini. Selama ini mereka sibuk mempelajari tentang seluk beluk kebutuhan-kebutuhan tingkat atas mereka. Mereka tidak terbiasa mengatasi persoalan-persoalan pemenuhan kebutuhan tingkat bawah mereka.

Kini mereka terhinakan oleh bangsa lain. Ketika bangsa lain telah berhasil mengatasi kebutuhan tingkat bawah mereka, bangsa ini bingung mengatasinya. Bangsa ini telah tertinggal jauh dalam hal kebutuhan tingkat bawah. Bangsa ini terpuruk.

Jadilah mereka dalam kebingungan. Mereka mulai tidak percaya dengan kebudayaan mereka yang dahulu karena tidak bisa memecahkan masalah yang mereka hadapi saat ini. Mereka frustasi, dan mulailah mereka belajar dari bangsa lain.

Mereka merasa semakin rendah diri ketika melihat apa yang dapat dilakukan bangsa lain dalam memenuhi kebutuhan fisiologi mereka. Mereka menjadi takjub akan kekuatan bangsa lain dan merendah terhadap diri sendiri. Mereka merasa tidak memiliki sesuatu yang dapat diunggulkan.

Tetapi tahukah mereka? Jauh dibalik kehinaan mereka, bangsa lain takjub terhadap mereka yang telah berhasil mencapai tingkat tertinggi dalam piramida Maslow. Nilai-nilai tersebut jauh tertanam dalam budaya mereka yng kini mulai mereka tinggalkan. Budaya yang mereka buang, namun bangsa lain justru sedang berusaha menciptakannya.


Mungkin bangsa ini tidak begitu paham tentang bagaimana cara memenuhi kebutuhan yang paling dasar. Tetapi bangsa ini sangat paham bagaimana cara memenuhi kebutuhan tingkat atas. Waktu yang membuat bangsa ini terhinakan, waktu juga yang akan membuat dunia sadar bahwa bangsa ini telah jauh lebih unggul daripada bangsa lain.

Selasa, 15 Juni 2010

menjadi sebuah bangsa yang besar

Bangsa ini adalah sebuah bangsa besar, namun sayangnya namanya belum sebesar yang diharapkan. Masih banyak kekurangan di berbagai tempat. Bahkan jati diri bangsa pun mulai hilang. Padahal bangsa-bangsa besar yang ada saat ini tumbuh dengan jati dirinya.

Orang bilang Amerika dan Eropa adalah bangsa yang besar. Bangsa yang giat bekerja keras membangun bangsanya. Apa yang menyebabkan mereka bisa menjadi bangsa yang besar? Pikirku kebesaran mereka adalah karena kesendirian masyarakatnya.

Masyarakat yang individualis dan kurang dekat dengan orang lain. Sehingga mereka harus bekerja keras agar bisa mandiri dan menciptakan keamanan bagi diri mereka sendiri. Mereka bekerja untuk membuktikan bahwa diri mereka mampu. Mereka bekerja untuk membuktikan kepada orang lain bahwa mereka mampu dan hebat. Seperti itulah mereka.

Begitu pula Jepang, mereka bangsa yang besar. Mereka mampu bangkit dan berkembang dengan pesat. Apa yang menyebabkan mereka menjadi bangsa yang besar? Pikirku kehormatan adalah semangat utama mereka.

Jepang dengan power distance yang tinggi dan pengaruh atasan yang kuat mampu memanfaatkan kondisi tersebut untuk membangun bangsa mereka. Rakyat mereka mengabdi penuh kepada atasan mereka. Kerja keras mereka adalah demi harga diri mereka di masyarakat. Kehormatan dan semangat mengabdi menjadi kunci utama kesuksesan mereka.

Bagaimana dengan China? Mereka juga bangsa yang besar dengan jumlah penduduknya. Kini mereka mulai merangsek menjadi negara super power. Apa yang membuat mereka menjadi bangsa yang besar? Pikirku adalah disiplin dan kerja keras.

Disiplin dan kerja keras yang ditanamkan sejak mereka kecil. Bukan untuk sebuah pengabdian ataupun pembuktian diri, tetapi karena kebiasaan yang telah tertanam sejak kecil. Semangat kerja keras dan berbisnis yang mulai ditanamkan dari lingkungan keluarga. Kepatuhan dan hukum yang keras sebagai bentuk disiplin agar bangsa yang besar tersebut tetap terarah. Disiplin yang ditanamkan dengan kuat, itulah kunci kesuksesan mereka.

Lalu apa yang harus kita tanamkan pada bangsa kita? Kita pernah mencoba menanamkan disiplin dan aturan yang ketat seperti China. Namun seiring berjalannya waktu gerakan anti penguasa makin menguat. Disiplin dalam keluarga dianggap sebagai bentuk kekerasan yang melanggar hak anak.

Kita memiliki power distance yang tinggi seperti Jepang, namun dalam masyarakat kita yang tertinggi bukanlah pemimpin melainkan ketua atau orang yang dituakan. Orang yang dimintai kebijaksanaan untuk masyarakat, bukan orang yang mengatur dan menyuruh rakyatnya. Orang yang menjadi penengah dan bukan pucuk pimpinan.

Kita mencoba menanamkan kemandirian dan kesendirian seperti Amerika dan Eropa. Namun ini bertentangan dengan budaya kolektivisme yang telah lama tertanam jauh sebelum kita mengenal Amerika. Alih-alih kerja keras yang kita tiru malahan budaya konsumerisme mereka yang kita tiru. Gejolak sosial pun kiat menguat seiring perubahan yang terjadi dari kolektivisme menjadi individualisme. Bukan membangun, justru urut memperkeruh keadaan.



Mari kita renungkan kembali jati diri bangsa ini. Kita punya budaya kita sendiri, kita punya cara hidup kita sendiri, kita punya potensi kita sendiri, mengapa harus menggunakan cara orang lain? Kita cari jati diri kita dan kita manfaatkan potensi yang ada agar kita bisa menjadi bangsa yang besar.

Sabtu, 12 Juni 2010

kampusku yang semakin "merakyat"

Ini adalah sebuah kegalauan seorang mahasiswa yang melihat fenomena yang terjadi di kampusnya. Akhir-akhir ini muncul isu hangat tentang mulainya pemberlakuan tarif masuk UGM. Yang dimaksud tarif masuk disini bukanlah biaya kuliah, melainkan biaya yang harus dikeluarkan ketika kita mau masuk lingkungan kampus untuk kuliah.

Saya ingat sekali waktu pertama kalinya portal dipasang di depan fakultas kami. Kemudian waktu itu ada diskusi di lapangan rumput mengenai keberadaan portal tersebut. Saat itu rektorat berdalih pemasangan portal adalah untuk masalah keamanan. Selain itu rektorat berjanji bahwa mahasiswa tidak akan dikenai biaya masuk. Masalah karcis parkir pun akan segera digantikan dengan KIK untuk mengurangi pemborosan kertas.

Isuk dele, sore tempe. Ternyata proses fermentasi tidak hanya berlaku pada kedelai yang telah diberi ragi. Bahkan pikiran para cendekiawan pun turut menjamur meski tidak diberi ragi. Mungkin ini efek samping karena kita terlalu banyak makan tempe.

Pada bulan April 2010 pihak rektorat kembali melakukan sosialisasi. Kali ini tidak lagi mengangkat isu keamanan tetapi isu educopolis. Bahwa UGM haruslah ramah lingkungan alam (tetapi tidak ramah terhadap lingkungan sosial). KIK akan mulai diberlakukan pada tahun 2010 tanpa menyebut kepastian bulan dan tanggal. Ternyata seiring berjalannya waktu tujuan pun bisa berubah agar tidak ketinggalan zaman. Alangkah aneh.

Rektorat meminta masukan terhadap konsep mereka. Masukan pun diberikan, tetapi entah didengarkan atau tidak. Tiba-tiba saja bulan Mei kita dihebohkan dengan blangko KIK. Selain itu muncul informasi bahwa KIK akan diberlakukan pada bulan Juli. Muncul pertanyaan apakah nantinya seluruh mahasiswa sudah memiliki KIK pada tahun ajaran baru pada umumnya dan bulan Juli pada khususnya.

Lebih mengagetkan lagi ketika membaca Kompas (11/6/2010) dimana disebutkan bahwa mahasiswa baru angkatan 2010 ternyata tidak mendapat jatah KIK gratis dan mereka diharuskan membayar untuk masuk ke kampus mereka.

miris
Sebenarnya apa sih maunya para cendekiawan itu? Dahulu bilang masalah keamanan sekarang bilang educopolis. Dahulu bilang gratis sekarang bilang bayar.

Kalau zaman dahulu ada istilah bahwa semakin pintar seseorang maka semakin sulit kata-katanya dipahami, maka kini anda telah membuktikan kepintaran Bapak. Terbukti dari ketidakmampuan kami memahami kata-kata Bapak.

Jika memang tujuannya untuk mengusir orang-orang yang tidak berkepentingan dari lingkungan kampus UGM, saya rasa dengan keberadaan portal tanpa berbayar pun itu sudah cukup. Terbukti portal sendiri telah menjadi semacam tembok psikologis yang membuat banyak orang memutar balik kendaraannya di jalan humaniora karena adanya portal tersebut. Lalu buat apa harus meminta tarif berlebih?

Bahkan mahasiswa baru pun ikut kena getahnya. Mereka harus membayar ketika ingin kuliah di kampus mereka sendiri. Lalu apakah bisa disebut rumah kita jika kita masih harus membayar untuk tidur di kamar kita sendiri. Tampaknya mulai tahun 2010 ini UGM tidak lagi memiliki mahasiswa baru. Karena jikalau mereka memang mahasiswa UGM mengapa mereka harus membayar hanya untuk kuliah di kampus mereka sendiri?

Kalaupun ada tarif, maka saya bertanya tarif apakah itu. Jika itu memang retribusi, berarti tentu sebagian dana tersebut akan mengalir ke keuangan pemda. Namun tampaknya tidak. Berarti ini bukan retribusi.

Jika ini tarif yang dibayarkan atas suatu jasa, maka seharusnnya ada sebuah bentuk keuntungan yang diberikan kepada kita dari pemilik jasa. Misalnya saja segala bentuk kehilangan kendaraan bermotor di area kampus akan menjadi tanggung jawab pengelola. Jika memang demikian tentu luar biasa.

Asalkan saja ini bukan tarif yang sama yang dibayarkan ketika kita memasuki kompleks Pasar Kembang yang biasa disebut uang kebersihan yang tidak jelas rimbanya kemana. Jika memang demikian apa bedanya UGM yang konon katanya tempat para cendekiawan dengan kompleks Pasar Kembang yang konon katanya penuh dengan para pelacur dan freeman?

Kampus kerakyatan tidak hanya ditandai oleh warna jasnya yang konon katanya merakyat, tetapi juga dengan pikirannnya. Ketika salah seorang teman saya berkata bahwa Jogja itu Kota Parkir beberapa saat yang lalu, maka tampaknya UGM pun tidak mau ketinggalan untuk turut berpartisipasi dalam hal ini agar lebih merakyat. Maka pantaslah jika UGM menyandang gelar kampus kerakyatan.

Sabtu, 05 Juni 2010

Analisis film dokumenter BBC: Phobia Burung

Review Film
Jacqueline Kelly (Jackie) sudah sangat lama takut pada burung dan bulu. Sudah bertahun-tahun dirinya mencoba untuk mengobati phobia yang dialaminya. Dirinya pernah suatu kali bertanya pada dokter tentang apa yang dialaminya namun justru dirinya dianggap gila. Dia disuruh untuk membaca-baca buku tentang burung dan membuat rumah burung di halaman rumahnya. Sebenarnya dia pernah mencoba hal tersebut namun tidak berhasil menghilangkan phobia yang dialaminya.

Jackie bersedia menjadikan dirinya sebagai subjek sebuah penelitian dimana dirinya dipasangi alat tertentu untuk mengetahui kondisi dirinya ketika mendapati stimulus tertentu yang menyebabkan phobia. Ketika dirinya ditunjukkan sebuah stimulus berupa gambar bulu burung, detak jantungnya meningkat dari rata-rata yang hanya 80 menjadi 135. dari kamera termografik dapat dilihat juga bahwa perubahan ssuhu tubuhnya. Kulitnya terutama di kepala menjadi semakin panas.

Pengidap phobia sangat terganggu dengan ketakutannya. Jackie menjadi sangat jarang keluar rumah sehingga jarang bermain dengan anaknya di luar meskipun dia ingin melakukannya. Dirinya takut jikalau nanti di luar bertemu dengan burung. Bahkan suatu saat dirinya pernah mengajak putrinya berlibur ke pantai namun karena tiba-tiba muncul seekor burung dirinya langsung lari ketakutan dan meninggalkan anaknya. Ini menjadikan dirinya menjadi sangat menyesal atas ketakutannya tersebut.

Menurut Paul Salkovis seorang Psikolog Klinis dari Universitas Oxford, bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi phobia yang dialami Jackie adalah dengan menghadapinya. Penghindaran tidak akan menghasilkan apapun.

Pada awalnya Jackie mencoba mengobati phobianya dengan sebuah metode Hipnosis yang dilakukan oleh Costa Lambrias. Jackie sendiri mengakui bahwa ketakutannya tersebut sangat tidak rasional. Menurut Costa, Jackie mengalami suatu peristiwa yang sangat traumatis pada masa kecilnya yang berpengaruh pada dirinya saat ini. Insiden ini secara tidak langsung tertanam dalam alah bawah sadar Jackie. Dengan metode hypnosis, Costa mencoba mengkondisikan kembali alam bawah sadar Jackie.

Pada sesi ketiga terapi Jackie mendapat sebuah gambaran sekilas tentang suatu ingatan di masa kecilnya tentang seekor burung yang terjebak di rumah neneknya. Kemudian dirinya mencoba menemui neneknya untuk memastikan hal ini dan ternyata memang benar. Peristiwa inilah yang diperkirakan menjadi awal mula penyebab phobia burung pada Jackie.

Pada akhir sesi, Jackie bisa melihat burung dalam jarak tertentu tanpa merasa ketakutan. Namun secara tiba-tiba setelah beberapa saat rasa takut tersebut muncul kembali ketiki dirinya melihat burung lain dalam jarak yang lebih dekat. Dirinya sempat merasa menyerah terhadap apa yang dihadapinya.

Pada akhirnya Jackie memutuskan untuk melakukan terapi perilaku untuk mengatasi phobianya. dirinya menemui seorang psikolog klinis yaitu Profesor Paul Salkovis yang merupakan spesialis terapi perilaku. Terapi yang diberikan berupa menghadapkan klien terhadap stimulus yang menyebakan phobia secara bertahap. Mulai dari menunjukkan bulu burung dengan ukuran kecil dari jarak tertentu yang cukup jauh hingga secara perlahan mendekati klien kemudian beralih ke bulu dengan ukuran yang lebih besar. Pada akhir sesi Jackie berhasil mengatasi ketakutannya pada bulu.

Analisis Phobia
Phobia adalah penolakan dan ketakutan yang tidak rasional terhadap situasi, objek, atau aktifitas tertentu dimana memiliki konsekuensi penolakan yang kuat atau menyebabkan tekanan (VandenBos, 2007).
Dalam DSM-IV, phobia sendiri diklasifikasikan dalam beberapa jenis. Salah satunya adalah phobia spesifik dimana pasien memiliki phobia terhadap suatu objek tertentu yang spesifik. Phobia ini sendiri dibagi menjadi beberapa subtype (APA, 1994) yaitu:
  1. Animal Type
  2. Natural Environtment Type
  3. Blood-Injection-Injury Type
  4. Situational Type
  5. Other Type

Dalam kasus ini apa yang dialami oleh Jackie termasuk dalam Specific Phobia animal type yaitu ketakutan terhadap burung dan segala sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut (dalam kasus ini pada bulu). Para pasien penderita specific phobia memiliki kriteria diagnostik (APA, 1994) sebagai berikut:
  1. Ketakutan yang tidak beralasan yang kuat ditandai oleh munculnya atau antisipasi terhadap suatu objek atau situasi tertentu
  2. Kemunculan stimulus phobia hampir selalu menimbulkan respon kecemasan yang tiba-tiba yang pada akhirnya dapat menimbulkan serangan panik
  3. Klien/pasien menyadari bahwa ketakutannya tersebut tidak beralasan
  4. Situasi phobia akan selalu dihindari jika tidak akan memunculkan kecemasan yang intensif atau distress
  5. Penghindaran, antisipasi kecemasan, atau distress terhadap situasi yang menakutkan tersebut mengganggu rutinitas harian secara signifikan
  6. Bagi individu yang berumur kurang dari 18 tahun, gejala yang dialami ini minimal selama enam bulan
  7. Kecemasan, serangan panik, phobia yang berhubungan dengan objek atau situasi tertentu tidak perlu dihubungkan dengan kelainan mental lainnya.

Apa yang terjadi pada Jackie memenuhi seluruh kriteria tersebut. Setiap kali Jackie melihat stimulus berupa bulu burung ataupun burung itu sendiri maka akan menimbulkan suatu respon kecemasan yang intensif yang memunculkan penghindaran. Jackie sendiri menyadari ketakutannya tersebut tidak rasional dan mengganggu rutinitas hariannya.


Analisis Terapi
Terapi Hipnosis dan Psikoanalisis
Hypnosis adalah suatu kondisi psikologis dimana individu biasanya menjadi sangat mudah untuk menerima sugesti tertentu (Santrock, 2003). Metode hypnosis erat kaitannya dengan pendekatan psikoanalisis.
Poin utama dari terapi psikoanalisis adalah menghilangkan represi agar ego dapat tumbuh menjadi individu dewasa yang sehat. Psikopatologi sendiri merupakan akibat dari konflik tidak sadar yang terjadi dalam individu (Davison&Neale, 2001).

Dalam hal ini kejadian di masa lalu yang menimbulkan suatu konflik tidak sadar yang berakibat pada individu di masa kini. Terapinya adalah dengan cara melakukan katarsis atau melepaskan emosi yang terjadi pada masa lalu agar dapat menjadi individu yang sehat. Kelemahan dari terapi ini adalah sangat bergantung pada munculnya insight dalam individu tersebut.

Costa mencoba melakukan metode hypnosis pada Jackie untuk mengkondisikan kembali alam bawah sadar Jackie. Metode yang dilakukannya dengan cara menyuruh Jackie berada dalam posisi rileks sehingga mudah terhipnosis. Langkah-langkah tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Santrock (2003) yaitu:
  1. meminimalkan gangguan sehingga klien yang dihipnosis merasa nyaman
  2. orang yang melakukan hipnotis memerintahkan klien agar konsentrasi pada suatu hal yang spesifik misalnya membayangkan suatu pemandangan tertentu
  3. orang yang melakukan hipnotis memerintahkan klien agar semakin dalam memasuki alam bawah sadarnya
  4. orang yang melakukan hipnotis memberikan sugesti keppada kliennya untuk melakukan hal-hal tertentu

Phobia yang dialami Jackie diperkirakan Cossta juga berkaitan dengan sesuatu yang terjadi di masa lalu. Untuk itu Jackie mencoba mencari tahu apa yang terjadi di masa lalunya. Jackie mendapatkan informasi tentang kejadian di masa lalunya melalui cerita neneknya tentang sebuah pengalaman yang terjadi pada masa kecilnya namun telah dilupakannya.

Akan tetapi ternyata Jackie tidak berhasil mendapatkan insight dari pengalamannya tersebut sehingga terapi ini gagal menyembuhkan phobia yang dialaminya. Namun terapi hypnosis terbukti cukup berpengaruh pada Jackie terbukti bahwa Jackie sempat berhasil melawan phobianya pada burung sebelum akhirnya hal tersebut muncul kembali.

Kegagalan terapi hypnosis dan psikoanalisis ini bisa disebabkan beberapa faktor. Misalnya saja tidak tercapainya insight pada klien ketika menemukan peristiwa penyebab phobianya tersebut. Selain itu klien sendiri mungkin termasuk orang yang tidak terlalu terpengaruh oleh hypnosis. Hypnosis sendiri bergantung pada seberapa besar klien percaya pada orang yang melakukan hipnotis. Selain itu penelitian menunjukkan bahwa beberapa orang lebih susah untuk dihipnotis dibanding orang-orang lainnya (Santrock, 2003).

Terapi Behavioral
Terapi perilaku menggunakan prinsip belajar untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku maladaptive. Salah satu metode yang paling sering digunakan adalah systematic desensitization. Yaitu sebuah metode dalam terapi perilaku yang berdasarkan pada teori classical conditioning dengan cara melawan kecemasan dengan melatih individu agar lebih santai dalam menghadapi suatu stimulus secara bertahap (Santrock, 2003).

Cara inilah yang digunakan Prof. Salkovis untuk mengatasi phobia yang dialami Jackie. Secara bertahap, Jackie dihadapkan pada situasi yang ditakutinya dan diajarkan untuk berusaha santai dalam menghadapinya. Pertama Jackie dihadapkan pada sebuah bulu kecil dari jarak yang lumayan jauh dan diajarkan untuk berusaha tidak takut menghadapinya. Setelah Jackie berhasil mengatasinya maka intensitas stimulus tersebut diperbesar dengan mendekatkan bulu tersebut kepada dirinya dan disuruh untuk berusaha santai dalam menghadapinya. Begitu seterusnya hingga akhir sesi. Pada akhirnya cara ini terbukti berhasil pada Jackie untuk mengurangi phobia yang dialaminya.

Daftar Pustaka:
__________. 1994. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder: DSM-IV 4th edition. Washington DC: APA.

Davison, G.C. & Neale, J.M. 2001. Abnormal Psychology 8th edition. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Santrock, J.W. 2003. Psychology 7th edition. New York: McGraw-Hill.

VandenBos, G.R. 2007. APA Dictionary of Psychology. Washington DC: APA.

*) ditulis sebagai tugas mata kuliah Psikologi Klinis Fakultas Psikologi UGM

Selasa, 01 Juni 2010

memimpikan pendidikan

Ayah, aku pergi dulu yah untuk menuntut ilmu.
Loh, nak,emang ilmu punya salah apa sama kamu kok pakai dituntut segala?

Ada sebuah cerita menarik. Seseorang yang tinggal di suatu wilayah di Indonesia merasa dirinya mengalami masalah dengan pendengaran dan penglihatannya. Kemudian dia memeriksakan dirinya ke seorang dokter umum. Setelah diperiksa secara seksama dokter tersebut tidak bisa menemukan penyakit pasien tersebut hingga dirujuklah ke dokter THT. Pasien tersebut beralih ke menemui dokter THT, namun tetap saja dokter tersebut tidak dapat menemukan penyakit yang diderita pasien tersebut hingga kemudian dirujuklah ke dokter spesialis mata. Sialnya meskipun telah diperiksa dengan berbagai peralatan canggih, dokter mata pun tidak bisa menemukan penyakit yang diderita pasien tersebut. Hingga suatu saat pasien tersebut putus asa. Kemudian dirinya oseng menceritakan penyakitnya ini kepada temannya. Akan tetapi temannya tersebut justru malah tertawa. “Aku tahu masalahmu, Kawan. Di negeri ini memang apa yang kau lihat tidak pernah sama dengan apa yang kau dengar.”

Ketika SD, saya sering kali diberitahu bahwa kita harus berhenti ketika lampu merah. Namun mata saya melihat bahwa tiap harinya pengendara motor tetap saja berjalan meski lampu berwarna merah. Bagi anak yang normal mungkin saya akan berpikir bahwa pengendara motor tersebut buta warna atau tidak pernah sekolah di SD.

Apa yang kita dengar memang jarang sekali kita lihat. Guru kita mengajarkan akan sebuah makhluk bernama Myrmeleon sp. Namun mungkin kita tidak akan pernah menjumpainya dalam hidup kita. Karena dalam kehidupan kita menyebutnya undur-undur.

Kalau saya boleh bermimpi, saya ingin pendidikan kita nantinya adalah mengajarkan apa yang ada di sekeliling kita dan berhubungan langsung dengan kita sehingga tidak ada lagi orang yang sakit mata dan telinga seperti cerita di atas.

Ajarkanlah anak-anak petani itu bagaimana bertani yang baik dan benar dalam sekolah formal mereka sehingga mereka nantinya bisa ikut membangun kesuksesan keluarga mereka. Ajarkanlah anak-anak nelayan itu tentang laut, alam, cuaca, ikan dan sebagainya bukan tentang kecepatan cahaya dimana perahu-perahu mereka tidak akan lebih cepat dari 20 knots.

Ajarkanlah pada anak-anak bagaimana cara mereka mencari ilmu dan mengamalkannya, bukan sekedar menuntut ilmu dan mendiskusikannya tanpa pernah dilakukan. Negeri ini sudah cukup pintar dalam berdiskusi namun belum cukup pintar dalam mengamalkan. Jika apa yang telah mereka diskusikan mereka lakukan niscaya negeri ini sudah menjadi negeri super power.

Ajarkan juga tentang budaya kita dan harga diri. Sehingga para akademisi nantinya bukan hanya berisi orang-orang yang mencacimaki negerinya sendiri dan menyanjung-nyanjung negeri orang lain. Bukan kumpulan orang yang gemar membanding-bandingkan untuk mencari kejelekan negeri sendiri.


*) ditulis untuk Departemen Akademi dan Profesi LM Psi 2010 untuk diterbitkan di buletin PERSONA edisi bulan Mei 2010

Sabtu, 17 April 2010

jurnalisme anti penguasa

Hehe..entah kenapa saya sedang senang mengkritik para jurnalis akhir-akhir ini. Setelah sebelumnya menulis the journalist can do no wrong? yang berisi tentang kekhawatiran jurnalisme yang semakin menjadi dewa tak bermoral, kini saya ingin melanjutkan kekhawatiran yang saya rasakan terhadap dunia jurnalisme di Indonesia.

Akhir-akhir ini layar televisi, komputer (yang nyambung internet), radio (gak ada layarnya tapi ada suaranya), surat kabar, dan media massa lain sibuk memberitakan bentrok berdarah yang terjadi di Koja. Saya akan membahas bentrokan ini dari sudut pandang psikologi lain waktu, namun saat ini ada sebuah cuplikan gambar yang menarik bagi saya. Yaitu cuplikan adegan satpol PP menghajar warga yang diputar di televisi berulang-ulang dengan sangat jelas.

Bukan masalah siapa yang salah, yang menarik juga adalah adanya cuplikan adegan massa yang kalap menghajar satpol PP yang tidak berdaya hingga sekarat. Namun anehnya, cuplikan adegan tersebut sengaja diburamkan.

Ada semacam kejanggalan disini. Jika memang adegan menghakimi satpol PP diburamkan karena adegan kekerasan yang takutnya nanti ditiru oleh anak-anak, tetapi mengapa adegan satpol PP memukuli warga ditampilkan dengan gamblang?

Jika kita melihat data di lapangan, ternyata sebagian korban terluka dan meninggal justru dari pihak satpol PP itu sendiri. Itu berarti ada lebih banyak adegan massa menghajar satpol PP dibanding adegan satpol PP menghajar warga. Namun mengapa yang selalu ditampilkan dan digembor-gemborkan adalah adegan satpol PP menghajar warga? Apakah karena mereka bagian dari pemerintah dan karena mereka aparat?

Media massa memang merupakan media propaganda dan kita tahu itu. Namun sebenarnya apa yang mereka propagandakan itu yang menjadi sebuah pertanyaan tersendiri.

Jika kita cermati lagi, entah mengapa media massa sangat sekali tertarik dengan isu pemerintahan, terutama isu negatifnya. Seringkali kita melihat headline berita dipenuhi dengan isu-isu negatif tentang pemerintah. Bahkan dalam berita bencana alam pun tak luput menyertakan kekurangan pemerintah.

Entah sekecil apapun itu, saya melihat kecenderungan ini memang ada. Saya sendiri mencoba berpikir mencari jawaban atas hal ini. Dalam tulisan ini saya akan bercerita tentang dua sekenario gila tentang apa yang terjadi di dunia jurnalisme saat ini yaitu jurnalisme balas dendam dan jurnalisme bayaran.

Jurnalisme Balas Dendam
Kita semua tahu bahwa pada zaman orde baru, dunia jurnalisme cukup terkekang. Salah tulis sedikit bisa-bisa kita pergi tak kembali. Media massa dikuasai pemerintah secara berlebihan. Pendapat dikekang dengan sangat kuat bahkan untuk sekedar meludah pun harus tengok kiri-kanan.

Kondisi sebaliknya terjadi ketika 1998 pasca lengsernya orde baru. Euforia Demokrasi terasa sampai kesendi-sendinya. Saatnya kini jurnalis bebas berbicara tentang apa yang selama ini mereka takut untuk dibicarakan.

Sesuai teori bandul, maka ketika suatu keadaan beralih dari ekstrim kiri maka akan berlaih menuju ekstrim kanan ibarat bandul yang diayunkan. Bagitu pula dengan jurnalisme.

Ketika sebelumnya berbicara tentang pemerintah saja dianggap sebagai sebuah hal yang tabu, maka ketika bandul dilepaskan yang terjadi adalah masa dimana jurnalis bebas mencaci maki pemerintahan.

Dan kita bisa melihat hal itu memang benar adanya pada era reformasi 1998. Hal ini tidak terjadi hanya pada dunia jurnalisme, tetapi terjadi hampir semua sektor beralih menjadi golongan anti kekuasaan.

Jika sebelumnya menyanjung pun takut salah kini mencaci maki menjadi hal yang biasa. Yang sebelumnya patuh pada aturan kini beralih menjadi tidak mau terikat peraturan. Dan sebagainya.

Yang menakutkan adalah jka semangat ini mengakar dan tertanam dengan erat di dunia jurnalisme Indonesia. Yang terjadi adalah pemberitaan dan propaganda yang tidak sehat. Propaganda tidak sehat ini tentunnya juga akan berpengaruh pada masyarakat dan menular ke berbagi sektor lain.

Jadi ada kemungkinan pola propaganda jurnalisme saat ini merupakan benntuk balas dendam atas kesewenang-wenangan penguasa pada era sebelumnya yang mengakar dan menjadi budaya hingga saat ini. Propaganda yang ada ditujukan memunculkan sentimen anti-penguasa sebagai sebuah bentuk balas dendam dari era sebelumnya.

Jurnalisme Bayaran
Prinsip utama dari ekonomi adalah keuntungan. Di Indonesia istilah kerja identik dengan uang. Inilah yang menjadi poin utama dari semua ini.

Jurnalisme dan media massa merupakan salah satu sektor pekerjaan yang ada di Indonesia. Itu juga mengapa jurnalisme dan media massa tidak bisa terlepas dari uang. Meskipun saya lebih suka ide tentang jurnalisme balas dendam yang seolah-olah penuh propaganda terselubung, tetapi tampaknya skenario ini yang lebih masuk akal.

Apa yang terjadi di dunia jurnalisme saat ini tidak lepas dari pengaruh uang. Apa yang menjadi berita bukan karena masalah propaganda ke arah mana, tetapi hanya semata-mata untuk meraih keuntungan.

Seorang teman saya yang berkecimpung di dunia jurnalistik mahasiswa pernah berkata bahwa dunia jurnalisme saat ini kehilangan idealisme dan hanya semata-mata dipandang dan digunakan sebagai sarana memperoleh keuntungan.

Jadi jikalau selama ini media massa dan dunia jurnalisme seolah-olah selalu memojokkan pemerintah sebenarnya itu hanyalah upaya untuk menjual isu yang hangat dengan menyirami minyak tanah ke api unggun. Dan boleh dibilang masyarakat saat ini memang sedang hobi mengkritik dan menjelek-jelekkan pemerintah jadi itu yang dijual.

Jika masyarakat memukuli satpol PP tentu itu akan dilihat sebelah mata, namun jika satpol PP memukuli masyarakat apalagi masih anak-anak tentu itu akan lebih menarik dan menjual. Itulah analogi yang terjadi.

Penutup
Apa yang saya tulis disini hanyalah dua buah buah skenario ngawur yang mengkritisi dunia jurnalisme di Indonesia saat ini. Saya tidak akan berkata bahwa inilah yang sesungguhnya terjadi, tetapi inilah pendapat saya. Anda boleh percaya atau tidak.

Media massa merupakan salah satu alat yang memiliki kekuatan untuk menggerakkan masyarakat dan merubah peradaban saat ini. Mengutip kata-kata dalam film Spiderman, "great power, great responsibility." Kekuasaan yang besar menuntut tanggung jawab yang besar. Saya sungguh berharap bahwa media massa dapat mendidik masyarakat kita menjadi lebih baik.