Selasa, 13 November 2012

Pembunuhan Perlahan

Manusia seringkali mencari harta, fasilitas dan kemewahan serta menghindari masalah. Seolah dengan kesemuanya itu hidup menjadi sempurna dan bagaikan di surga dengan segala hal indah di dalamnya.

War for Luxury (nukuzu.deviantart.com)

Namun lupakah kita bahwa sebenarnya kita hidup untuk menghadapi masalah-masalah. Bahwa esensi sejati dari kehidupan adalah bagaimana kita menyelesaikan masalah dalam hidup kita sehingga memberikan makna dalam hidup kita.

Maka ketika hidup terlalu nyaman, sesungguhnya itu akan membunuh kita perlahan-lahan dengan siksaan paling pedih: kehampaan.

Sabtu, 10 November 2012

Efektivitas dan Efisensi

Efektivitas dan efiensi organisasi telah menjadi salah satu isu utama dalam pengembangan organisasi. Kedua hal ini terbukti sebagai salah satu cara terbaik untuk mengembangkan sebuah organisasi. Berbeda dengan angapan kuno dimana hasil selalu diidentikkan dengan penambahan sumberdaya dan tenaga di dalam perusahaan.

Jepang merupakan negara yang menjadi contoh terdepan dalam penerapan prinsip ini. Sejarah mencatat bahwa Eropa dan Amerika menjadi penemu benda-benda hebat seperti radio, mobil, dan sebagainya. Namun Jepang yang menyusul di belakang kini justru menjadi raja dalam hal-hal tersebut. Eropa dan Amerika boleh bangga dengan mengatakan bahwa mereka yang menciptakan produk tersebut, akan tetapi Jepang lah yang membuat inovasi dan pada akhirnya menunjukkan bahwa produk mereka lah yang lebih dibutuhkan oleh masyarakat.

Melalui kedua prinsip tersebut, Jepang berhasil menunjukkan bahwa masyarakat lebih tertarik dengan produk-produk yang lebih efektif dan efisien dibanding kuantitas dan kualitas yang berlebihan. Mobil misalnya, lain halnya produk-produk Eropa dan Amerika yang seringkali memiliki tenaga besar dan boros energi, produk-produk Jepang justru lebih efisien dan efektif. Ibaratnya untuk apa memiliki mobil 4WD jika hanya digunakan untuk perjalanan di dalam kota yang datar?

Efficiency (1n73rl0p3r.devientart.com)

Trend ini pada akhirnya mengarahkan organisasi untuk seramping mungkin namun menunjukkan kualitas yang luar biasa. Bagi sebagian orang hal ini cukup aneh, bagaimana mungkin ketika faktor-faktor prduksi dikurangi namun hasil produksi justru terus meningkat. Disinilah organisasi ditantang untuk dapat seefektif dan sefisien mungkin dalam menjalankan bisnisnya. Salah satunya dalam hal human capital yang dimiliki oleh organisasi.

Menurut saya, setidaknya ada tiga langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pengelolaan human capital di dalam organisasi. Yang pertama adalah peningkatkan kualitas human capital, pembangunan sistem, dan pemanfaatan teknologi. Ketiga langkah ini bagi saya merupakan cara terbaik untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan human capital dalam suatu organisasi.

Kualitas Human Capital
Peningkatan kualitas human capital menjadi salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi dalam menjalankan bisnisnya. Seringkali kita terjebak dalam paradigma semakin tinggi kuantitas maka semakin meningkat pula produktivitas organisasi.  Paradigma semacam ini hanya melihat human capital sebagai angka-angka penjumlahan dan gagal dalam melihat human capital sebagai manusia.

Penelitian menunjukkan bahwa pada akhirnya ada sebuah titik dimana penambahan sumber daya justru memberikan korelasi yang negatif terhadap produktivitas organisasi. Bayangkan saja sebuah organisasi dimana memiliki banyak anggota akan tetapi tugasnya tidak terlalu banyak, maka pada akhirnya yang terjadi adalah sebagian anggota justru menjadi benalu dan mengganggu produktivitas anggota lainnya.

Pada akhirnya mau tidak mau kita juga harus mengakui bahwa tidak semua orang itu sama. Beberapa orang memang memiliki kemampuan yang lebih dibanding yang lain. Poin utama dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi suatu organisasi adalah melalui rekruitmen. Dengan merekrut orang-orang yang memiliki kualitas-kualitas terbaik, maka meski dengan jumlah yang sedikit namun produktivitas organisasi tetap akan tetap berkembang.

Misalnya saja pekerjaan dari dua orang yang biasa saja bisa dikerjakan oleh satu orang dengan kualitas unggul. Apabila kita merekrut tenaga-tenaga unggul dalam organisasi kita tentu biaya yang harus dikeluarkan relatif lebih sedikit daripada merekrut dua orang dengan kualitas sedang atau biasa akan tetapi tetap mendapatkan hasil yang baik.

Selain rekruitmen, organisasi juga memiliki tanggung jawab dalam pengembangan human capital yang dimiliki. Organisasi harus dapat meningkatkan kemampuan human capital  yang dimilikinya agar pekerjaan-pekerjaan yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efisien dalam pengerjaannya.

Pembangunan Sistem
Terkadang beban kerja yang kita alami sebagian besar terjadi karena tidak adanya manajemen kerja yang baik. Sistem dan pembagian kerja yang serabutan serta asal pada akhirnya akan justru akan menambah pekerjaan itu sendiri. Oleh karena itu perlu adanya sistem yang baik dalam setiap tugas yang dilaksanakan.

Saya berikan sebuah ilustrasi:
Sebuah kantin mengalami permasalahan yang cukup rumit. Jumlah pengunjung kantin secara perlahan tapi pasti terus meningkat. Efeknya adalah jumlah meja yang tersedia dirasa kurang karena setelah digunakan meja tersebut harus dibersihkan dan disingkirkan terlebih dahulu piring-piring kotor dari pengguna sebelumnya sebelum dapat digunakan kembali oleh pengguna berikutnya.
Dalam kasus tersebut, logika sederhana untuk memecahkan kasus tersebut adalah dengan menambah jumlah pelayan untuk mengambili piring-piring kotor dan membersihkan meja yang telah digunakan. Hal itu berarti menambah human capital yang dimiliki organisasi dan juga menambah biaya.

Namun permasalahan tersebut sebenarnya dapat diatasi dengan sebuah solusi tanpa harus menambah human capital yang berarti juga menambah biaya. Solusinya adalah sediakan sebuah meja tempat piring kotor sehinga para pengunjung kantin yang telah selesai menggunakan piringnya bisa meletakkannya disitu. Dengan sistem ini pengelola kantin tidak perlu menambah human capitalnya tetapi mengajak para pengunjung untuk ikut bertanggung jawab dalam kebersihan kantin. Sistem ini selain meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan kantin, juga efektif dalam meningkatkan rasa tanggung jawab para pengunjung terhadap isu kebersihan.

Tanpa adanya sistem yang baik, bukan tidak mungkin kesalahan yang sama juga akan terus menerus dialami dan organisasi masih saja bingung bagaimana menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya organisasi akan terlalu sibuk mengurusi hal-hal operasional rutin dan gagal melakukan perbaikan atau improvement. Human Capital yang dimiliki tersita oleh permasalahan-permasalahan rutin yang sudah sering terjadi dan sebenarnya telah diketahui pola pemecahannya.

Misalnya saja sebuah perusahaan manufaktur mengalami kerusakan dalam conveyornya sehingga macet dan tidak berfungsi. Kerusakan serupa sebenarnya pernah dialami perusahaan beberapa waktu yang lalu dan diketahui penyebab serta cara memperbaikinya. Namun sayangnya teknisi tersebut telah dipindahkan dan digantikan dengan teknisi baru yang belum pernah menghadapi permasalahan tersebut. Pada akhirnya perusahaan tersebut akan mulai dari nol lagi dalam menghadapi masalah yang sama.

Sistem yang baik seharusnya bisa mendokumentasikan dan mendistribusikan informasi-informasi penting semacam ini kepada semua orang. Sehingga meskipun anggota datang silih berganti dalam organisasi, namun organisasi tidak kembali ke nol dalam setiap masalah yang dihadapi. Salah satu contohnya dapat dituangkan melalui Standard Operational Procedure (SOP) atau dokumen-dokumen lainnya.

Pemanfaatan Teknologi
Teknologi diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Bayangkan pada zaman dahulu kita harus menggosok-gosokkan batu atau kayu untuk menciptakan percikan api yang dapat digunakan untuk menyalakan api. Namun kini hanya dengan menekan tombol korak api, api dapat langsung keluar sehingga dapat kita gunakan.

Begitu pula dalam organisasi, sebuah organisasi yang baik harus dapat memilah-milah mana saja kegiatan rutin yang terjadi terus menerus secara berulang-ulang dan mengembangkan kemungkinan pemanfaatan teknologi dalam pengerjaan tugas tersebut. Dengan penggunaan teknologi ini tentunya human capital yang tersedia akan terbebas dari pekerjaan-pekerjaan rutin yang menyita waktu dan dapat fokus kepada pengembangan-pengembangan yang dapat dilakukan oleh organisasi.

Automatic Teller Machine merupakan salah satu contoh nyata penerapan teknologi sebagai langkah efektivitas dan efisiensi yang dilakukan oleh perbankan. Dahulu sebelum adanya ATM, dapat kita bayangkan berapa banyak waktu dan tenaga yang dihabiskan oleh para karyawan perbankan untuk menangani segala macam transaksi yang dilakukan oleh pelanggang mereka. Namun kini dengan adanya ATM, perbankan dapat mengurangi jumlah teller mereka karena banyak transaksi yang dapat dilakukan via ATM.

Arus Modernisasi
Trend dewasa ini memaksa organisasi untuk bertindak seefisien dan seefektif dalam mencapai tujuan mereka. Hal ini dikarenakan manusia mulai menyadari keteratasan sumber daya yang ada. Jika sumber daya tersebut dihambur-hamburkan begitu saja, dalam jangka panjang tentu akan merugikan bagi seluruh umat manusia atau organisasi.

Bahan bakar minyak misalnya, masyarakat kini  mulai menyadari betapa sangat terbatasnya sumber daya tersebut. Keterbatasan ini pada akhirnya mendorong konsumen untuk membeli kendaraan-kendaraan yang hemat energi demi menjaga persediaan sumber daya yang dimiliki.

Begitu pula organisasi seiring berjalannya waktu seharusnya semakin bijak dalam menggunakan sumber daya yang mereka miliki, termasukjuga human capital yang meskipun jumlahnya sangat banyak akan tetapi kita sadar human capital tidak dapat berdiri sendiri tanpa memerlukan sumber daya yang lain.

Adalah sebuah pemborosan yang sangat tidak efektif dan efisien dengan menempatkan manusia hanya sebagai alat untuk melakukan tugas-tugas rutin yang terus berulang. Terlebih jika manusia-manusia tersebut merupakan manusia-manusia yang telah terdidik dengan baik. Seharusnya human capital semacam ini dapat dimanfaatkan sebagai ujung tombak dari perbaikan yang dilakukan organisasi. Terlebih dengan adanya akal sebagai anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Jika kita terus menerus disibukkan dengan permasalahan yang sama, maka sepatutnya kita mempertanyakan dimana akal kita. Dimana mempertanyakan keberadaaan akal juga berarti mempertanyakan keberadaan manusia itu sendiri.

Kamis, 18 Oktober 2012

Who have the bad manners?

Socrates (silentjustice.deviantart.com)
“Our youth now love luxury. They have bad manners, contempt for authority; they show disrespect for their elders and love chatter in place of exercise; they no longer rise when elders enter the room; they contradict their parents, chatter before company; gobble up their food and tyrannize their teachers.” (Socrates)

Okey, Socrates. You have been write that hundred years ago. So who the really have bad manners? Our parents? Me? or the generations next to me?

Rabu, 03 Oktober 2012

Outsourcing (seharusnya) bukan Perbudakan

Hari ini (rabu, 3 Oktober 2012) dunia industri tanah air digemparkan dengan aksi turun ke jalan para buruh. Salah satu tema yang diangkat adalah penghapusan sistem outsourcing (OS) di perusahaan-perusahaan Indonesia. Tema klasik yang sebenarnya telah menjadi bahan perdebatan cukup lama di dalam dunia ketanagakerjaan di Indonesia. Artikel kali ini mencoba membahas keberadaan sistem OS di Indonesia.

Labour (piuccheperfetto.deviantart.com)

Sistem outsourcing sendiri telah ada sejak zaman kolonial Belanda yang diatur dalam undang-undang (yang pada akhirnya sebagian masih digunakan sebagai dasar hukum Indonesia). Pada masa lalu para Demang menyediakan tenaga kerja-tenaga kerja lokal untuk dipekerjakan kepada orang-orang Belanda. Para pekerja ini nantinya upahnya sebagian akan dipotong oleh para Demang sebagai jatah mereka.

Outsourcing di Indonesia mulai populer kembali beberapa tahun terakhir. Tujuan utamanya pada kala itu adalah sebagai stimulus kepada dunia usaha untuk dapat berkembang dengan baik. OS kemudian dipandang sebagai sebuah langkah untuk mendapatkan tenaga kerja murah.

Akan tetapi anggapan seperti itu adalah sebuah praktek yang salah. Sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada semangat spesialisasi terhadap bidang keahlian tertentu. Tenaga outsourcing seharusnya adalah tenaga-tenaga kerja ahli dan spesialis dalam bidangnya, bukan tenaga kerja murah.

Praktek OS yang baik adalah ketika perusahaan user membutuhkan bantuan tenaga ahli atau spesialis dalam mengatasi permasalahan yang dihadapinya sehingga membutuhkan jasa OS dalam membantu permasalahan tersebut. Misalnya saja sebuah perusahaan yang berfokus pada bidang manufaktur sebagai user maka mereka akan melakukan outsourcing pada bidang-bidang yang bukan area keahlian mereka misalnya security, cleaning service, catering, IT, dsb. Tujuan utamanya adalah agar perusahaan tersebut bisa fokus mengerjakan bisnis utamanya, sedangkan hal-hal yang bersifat supporting tersebut akan ditangani oleh pihak-pihak yang lebih ahlinya misalnya perusahaan IT, perusahaan jasa catering, dsb.

Karyawan-karyawan OS tersebut pada dasarnya adalah para karyawan tetap yang telah dijamin hak-hak dan kesejahteraannya oleh perusahaan penyalur tersebut. Sehingga transaksi yang terjadi adalah antara user dengan perusahaan penyedia jasa, sedangkan untuk hal-hal yang berkaitan dengan kekaryawanan merupakan bagian dan tanggung jawab sepenuhnya dari pihak penyedia jasa.

Peraturan pemerintah juga senada dengan hal tersebut. Dalam revisinya terakhir MK menegaskan bahwa sistem outsourcing seharusnya dilandaskan pada penyediaan tenaga ahli dan bukan tenaga murah. Dengan adanya revisi ini para pekerja OS berhak mendapatkan pesangon dan hak-hak lainnya seperti halnya karyawan tetap. Selain itu sistem OS sendiri hanya diperbolehkan pada bagian-bagian yang sifatnya supporting dan bukan bisnis utama atau produksi.

Akan tetapi tentu tidak akan ada asap jika tidak ada api. Jika peraturan tersebut sudah benar-benar sepenuhnya dijalankan maka tentunya para buruh tidak akan turun ke jalan. Pada prakteknya banyak perusahaan yang masih menggunakan sistem OS pada bisnis utama mereka. Dalam kasus tertentu misalnya sebuah perusahaan manufaktur menggunakan tenaga OS dalam jumlah besar sebagai buruh kasar di pabrik. Hal ini menunjukkan bagaimana perusahaan seringkali masih meihat OS sebagai sebuah cara penyediaan tenaga murah.

Kasus lain yang sering saya temui adalah tidak adanya ikatan dan hubungan yang jelas antara karyawan OS dengan pihak penyalur tenaga kerja. Saya sering jumpai bagaimana karyawan OS yang bahkan tidak mengenal kontrak kerja dengan perusahaan penyalurnya. Praktek yang terjadi seolah-olah pihak perusahaan penyalur hanya sebatas memotong upah dari para karyawan OS tanpa adanya timbal balik semisal jaminan kesejahteraan para pekerja itu sendiri.

Jika demikian prakteknya maka itu sama bobroknya dengan sistem penyaluran jasa TKI yang sering dicemooh atau lebih parah lagi adalah mengulang kesalahan zaman kolonial dengan pengulangan sistem "Demang" yang itu berarti adalah bentuk pemalakan atau jika tidak bisa disebut perbudakan.

Maka dari itu sistem outsourcing di Indonesia masih perlu disempurnakan. Dari sisi pemerintah perlu diperketat lagi mengenai definisi dan aturan penggunaan sistem outsourcing. Bahkan dalam bentuk ekstrim jika perlu untuk sementara hapuskan sistem outsourcing untuk para pekerja kerah biru, sistem OS hanya digunakan secara terbatas pada pekerja kerah putih.

Yang kedua adalah pengawasan implementasi di lapangan. Bagaimana perusahaan penyedia jasa OS harus dapat memenuhi kewajibannya dan bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan-karyawannya. Jangan sampai perusahaan jasa OS pada prakteknya hanya menjadi "pemalak" tanpa memberikan timbal balik keuntungan kepada para karyawan.

Dan ketiga adalah bagaimana peran serta user dalam sistem ini perlu dibenahi. Stigma OS sebagai penyedia tenaga kerja murah harus sepenuhnya dihapus dan digantikan dengan stigma penyedia tenaga kerja ahli. Para user seharusnya juga bisa lebih ketat lagi dalam memilih para penyedia jasa yang akan mereka gunakan. User memiliki kekuatan untuk menyeleksi dan memilih penyedia-penyedia jasa yang benar-benar memperhatikan karyawannya untuk dijadikan partner.

Bagaimanapun juga sebuah tindakan dzalim untuk mengambil keuntungan dari orang lain tanpa memberikan haknya. Pada titik inilah kita seharusnya berpikir ulang bagaimana kita memandang OS selama ini, apakah masih sebatas uang ataukah sudah melihatnya sebagai sebuah manusia yang utuh sepenuhnya?

Minggu, 30 September 2012

Merdeka!

Jika aku boleh memilih mimpiku, maka aku ingin bermimpi tentang sebuah dunia dimana semua orang bebas dan merdeka dari segala penjajahan dan kebodohan. Bahkan jika pun penjajahan itu berasal dari perut mereka sendiri.

Namun dunia ini tidaklah seindah mimpi-mimpi. Meski aku banyak bertemu dengan orang-orang merdeka yang hidup di atas dan dengan mimpi mereka untuk mewujudkannya di dalam dunia, namun pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa mereka hanyalah segelintir orang yang jumlahnya tidak banyak. Dan segelintir itu pun banyak yang kemudian mati terbunuh oleh perut mereka yang semakin membesar.

Harus kuterima pula kenyataan bahwa aku terlalu lama hidup di pusat dunia, di sisi yang selalu terpapar cahaya matahari. Padahal dunia ini luas. Di bagian dunia yang lain banyak mereka yang hidup dalam kegelapan dan sibuk dengan perut mereka hingga lupabahwa diri mereka manusia.

Mimpi Kami (ambientdream.deviantart.com)


Maka aku berdoa kepada Dia yang Maha Kuasa dan menguasai hati, agar aku dan orang-orang lain bisa merdeka. Agar kita tidak terbunuh oleh perut kita, agar mimpi kita menjadikan kita manusia yang sesungguhnya.

Rabu, 12 September 2012

Apa yang dapat Kamu Bayangkan tentang Neraka Ketujuh?

"Menurutmu seperti apa neraka ketujuh itu?"

"Maksudmu?", kata-kata tersebut membuatku cukup terhenyak. Tidak pernah terpikirkan sama sekali dalam hidupku untuk membicarakan topik semacam ini, terlebih dengan dirinya.

"Kau tahu, bahwa hampir seluruh agama menggambarkan neraka dalam berbagai tingkatan atau lapisan. Dan neraka ketujuh, apa yang aku tanyakan tadi, merupakan neraka dengan tingkatan paling tinggi."

"Yah, entah kenapa agama-agama tertarik dengan angka tujuh", jawabku sambil lalu.

"Jadi menurutmu, seperti apakah neraka ketujuh itu?"

"Aku masih belum paham maksudmu"

"Baiklah, menurutmu hukuman dan penderitaan apa yang paling mengerikan, sesuatu yang cukup pantas berada di neraka ketujuh. Dimana siksaan paling pedih ada disana?", tanyanya sambil menatap dengan tajam. Saat itu aku tahu bahwa dia bukan sedang bermain-main dengan pertanyaannya.

This is Hell (zxxiusxz.deviantart.com)

Suasane hening. Kami berdua mencoba mengolah imajinasi kami, sebuah hadiah terbaik dari Tuhan yang diberikan kepada manusia, kini digunakan untuk memikirkan hal terburuk yang ada di alam semesta ini.

"Aku dapat sesuatu"

"Apa itu?"

"Bayangkan kau berada di sebuah ruang yang hampa. Tanpa ada sesuatu apapun dan kau tidak dapat melakukan apapun. Namun kau tetap dapat berpikir, dan pikiranmu selalu dipenuhi dengan hal-hal buruk dan penyesalan dalam hidupmu. Bagiku itu adalah siksaan paling kejam."

Selasa, 11 September 2012

Siapa Kafir?

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mu'min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ? (4:144)
Bagaimana menakar keimanan seseorang? Atau lebih mudah lagi bagaimana kita dapat menentukan seseorang beriman atau tidak akan suatu hal? Siapa dapat menakar hati manusia.

Kafir (sultonenterjava.deviantart.com)

Keimanan bukanlah sekedar kata-kata dalam kartu identitas. Keimanan merupkan sebuah entitas kesadaran secara penuh dan pengakuan akan suatu ide atau gagasan. Keimanan adalah sebuah kesadaran jiwa dan raga.

Maka semenjak kita belum dapat menemukan alat ukur yang valid untuk mengetahui dalamnya hati, dapatkah kita memiliki acuan akan keimanan seseorang? Cukupkah kata-kata dalam sebuah kartu identitas mendaulat seseorang untuk dinyatakan beriman atau tidak?

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (4: 142 & 145)

Maka dimana posisi kita ketika kita dihadapkan pada mereka yang tidak peduli dengan Tuhan tetapi terus melakukan kebaikan dan mereka yang mengakui Tuhan tetapi mengingkarinya?