Sabtu, 27 April 2013

Tidak Adil

Banyak sekali kata-kata motivasi atau kutipan-kutipan dari orang hebat yang dipropagandakan di media mencoba untuk membandingkan antara keberhasilan akademik dengan kesuksesan kerja. Tentang orang tidak tamat sekolah yang menjadi sukses, tentang orang yang mendapatkan nilai-nilai buruk di sekolah tetapi berhasil meraih impiannya, tentang orang-orang yang malas belajar namun berhasil. Seolah tidak ada satu pun korelasi antara prestasi akademik dengan prestasi di dunia kerja.

Kata-kata motivasi yang akhirnya menjadi demotivasi. Sebuah paradoks akan suatu tujuan yang berhasil tercapai dengan menafikkan tujuan yang lain. Seperti halnya membunuh orang lain agar dirinya mampu bertahan hidup.

Ayolah, bagaimana jika kita balik. Akankah ada jaminan juga bahwa mereka yang gagal dalam akademisnya justru akan meraih kesuksesan juga di bidang lainnya? Don't be ridicculous.


Justru mereka yang menunjukkan keberhasilan dalam bidang akademis setidaknya telah menunjukkan bahwa mereka setidaknya telah berhasil dalam satu hal. Keberhasilan diraih atas usaha dan kemauan dari individu tersebut. Begitu pula keberhasilan akademik diraih karena mereka mau untuk berusaha dan meraihnya. Lalu apakah ada jaminan bahwa mereka yang tidak mau berusaha untuk bidang akademis mereka akan mau berusaha untuk bidang lainnya? Entahlah.
Don't blame the miror because our ugly face
Yang terpenting adalah apakah kita mau untuk berusaha meraih kesuksesan diri kita, dan mencoba untuk tidak menertawakan kesuksesan orang lain. Biarlah semua orang bahagia dengan kesuksesan masing-masing.

Minggu, 21 April 2013

Belajar Membangun Sistem Pendidikan dari Kapitalis

Beberapa saat yang lalu Indonesia digemparkan dengan salah satu isu nasional di bidang pendidikan. Ujian nasional yang merupakan salah satu agenda tahunan yang menyangkut hajad hidup banyak orang, mengalami kesemrawutan dalam pelaksanaannya. Kesemrawutan ini terutama pada saat distribusi soal ujian yang mengalami keterlambatan hingga menyebabkan pengunduran jadwal ujian di sebelas provinsi di Indonesia Tengah.

Kesemrawutan pelaksanaan tersebut dijadikan alasan bagi sebagian pihak untuk dijadikan pembenaran sebagai penghapusan agenda serupa di tahun berikutnya. Meski demikian alasan tersebut tidaklah sepenuhnya benar, karena secara logika apabila terjadi permasalahan dalam pelaksanaan maka solusinya adalah dengan memperbaiki sistem pelaksanaan ke depannya, bukan justru menghapuskan keseluruhannya.

Ujian Nasional (ready2errupt.deviantart.com)

Bagi saya pribadi UN sebenarnya adalah manifestasi nyata dari rasa ketidakpercayaan institusi pendidikan di pusat terhadap pelaksanaan pendidikan di unit-unitnya baik di tingkat daerah maupun sekolah. Rasa ketidakpercayaan tersebut kemudian melahirkan sebuah sistem untuk menguji keberhasilan pendidikan yang dilakukan unit-unitnya melalui ujian terstandar yang langsung dari pusat.

Hal itu menunjukkan adanya kerusakan dalam sistem pendidikan kita karena tidak mampunya tiap-tiap unit untuk menerjemahkan visi dari institusi pendidikan di pusat. Oleh karena itu untuk kondisi saat ini saya percaya bahwa UN sangat membantu dalam melaksanakan kontrol terhadap pendidikan kita. Meski untuk jangka panjang sistem ini mungkin perlu ditiadakan lagi. Hanya saja ketika seluruh unit-unit pendidikan corrupt dimana dapat kita lihat siswa saling mencontek, guru tidak peduli atau bahkan membocorkan soal ujian, dan permasalahan sosial yang dilakukan pelajar begitu beragam, mungkin UN merupakan solusi jangka pendek yang sangat tepat.

Pembangunan Pendidikan
Semua orang tentu setuju bahwa pendidikan adalah kunci bagi sebuah bangsa untuk dapat maju berkembang. Terlepas perasaaan setuju tersebut karena memang dipahami sepenuhnya atau hanya pembenaran untuk menuntut pendidikan gratis dari pemerintah. Meski demikian hal tersebut telah menjadi common sense bagi masyarakat pada umumnya.

Pemerintah Indonesia pun telah menunjukkan komitmennya selama beberapa tahun terakhir dengan menghabiskan 20% dari APBN untuk bidang pendidikan. Menjadi pertanyaan tersendiri adalah apakah 20% dari APBN tersebut telah digunakan secara tepat guna dalam menunjang pencapaian visi pemerintah?

"Kualitas, kualitas, dan kualitas. Jangan hanya ditandai mana yang sudah dikerjakan tetapi bagaimana kualitas dari pekerjaan itu sendiri" (C.A. Rahmat)

Pendidikan dan Fasilitas
Apa yang menjadi faktor utama penunjang keberhasilan? Sebagian orang mengatakan bahwa fasilitas adalah kuncinya. Para penganut pemahaman ini percaya dengan menciptakan sekolah dengan fasilitasnya semewah mungkin akan meningkatkan motivasi belajar ara siswa. Oleh karena itu mereka berpendapat bahwa cara paling tepat menyalrkan 20% dari APBN adalah melalui pemberian fasilitas-fasilitas bagi sekolah di Indonesia.

Pendapat itu mungkin benar, namun tidak sepenuhnya tepat bagi saya. Di kota besar misalnya dimana sekolah telah memiliki fasilitas yang memadai justru malah sering kita jumpai permasalahan sosial menyangkut pelajar. Meski telah ditunjang fasilitas memadai, toh pada kenyataannya banyak siswa yang masih mencontek, membolos, tawuran, dan sebagainya.

Lain lagi jika kita berkaca ke India. Sebagai salah satu raksasa dunia, kita tentu paham bahwa pembangunan di India ditunjang oleh sumber daya manusianya. Menjadi paradoks adalah ketika kita mengetahui bahwa fasilitas pendidikan di India jauh lebih tidak nyaman dibandingkan fasilitas pendidikan di Indonesia. Namun kenyataan 

Kedua contoh diatas menunjukkan bahwa pada ahirnya fasilitas dan peningkatan kualitas pendidikan tidak selalu berbanding lurus. Saya pribadi setuju bahwa fasilitas itu penting, namun hal itu hanya menunjang sampai pada tahap tertentu. Pun fasilitas yang saya anggap menunjang disini adalah buku, perpustakaan, akses terhadap informasi, dan sebagainya alih-alih pendingin ruangan, ruangan yang indah, dan sebagainya.

Fasilitas sendiri hanya akan menunjang pembangunan pendidikan apabila terdapat keinginan yang kuat dari internal pendidik dan yang dididik untuk belajar. Tanpa adanya keinginan tersebut, fasilitas hanya akan menjadi tumpukan sampah yang teronggok begitu saja.

Sumber Daya Pengajar
Hal lain yang dianggap tidak kalah penting terkait pembangunan pendidikan adalah sumber daya dari tenaga pendidik itu sendiri. Untuk pendapat ini saya setuju seratus persen. Bagi saya tenaga pendidik adalah kunci utama yang paling berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan di Indonesia.

Salah satu program yang saya anggap luar biasa adalah Indonesia Mengajar. Program ini berhasil menyediakan guru-guru muda yang berkualitas meski hanya untuk jangka pendek. Dengan memanfaatkan semagat iddealisme para pemuda dan paket kompensasi yang cukup menarik, program ini dapat berjalan dengan sangat baik. Meski kita tentu pahami bahwa program ini lebih sekedar sebagai "bantuan" dan sangat sulit untuk diaplikasikan dalam keseluruhan sistem pendidikan di Indonesia.

Bagi saya, ada tiga kunci penting dalam meningkatkan sumber daya pengajar di Indonesia yaitu: paket kompensasi, seleksi, sistem monitoring/ controlling dan pengembangan SDM. Kunci tersebut sebenarnya tidak hanya sebatas dalam dunia pendidikan, tetapi juga di dalam organisasi secara umumnya. Hal ini juga sudah jamak diterapkan di dalam perusahaan-perusahaan maju dalam mengelola SDM mereka.

Paket Kompensasi
Paket kompensasi menjadi hal pertama yang menunjang keberhasilan dalam pembangunan sumber daya manusia. Fungsi utama dari paket kompensasi bukanlah untuk meningkatkan semangat dan motivasi, tetapi hanya sebagai "umpan" untuk menarik sumber daya-sumber daya yang kualitas untuk bergabung ke dalam sistem.

Oleh karena itu pemerintah perlu menempatkan paket remunerasi para pendidik ke dalam persentil (menurut saya) setidaknya berada di kisaran 50-65% dari keseluruhan populasi. Sehingga posisi pendidik di pasar tenaga kerja menjadi cukup menarik yang dampaknya -seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya- mampu menarik sumber daya yang berkualitas untuk bergabung ke dalam sistem. Intinya adalah bagaimana mungkin kita berharap memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas jika tidak ada yang mendaftar? Disana lah fungsi dari paket remunerasi.

Pemerintah saat ini telah mencoba membangun bagian ini dengan memberikan berbagai tunjangan kepada para tenaga pendidik yang jumlahnya tidak sedikit. Meski demikian seringkali pemberian tunjangan tersebut disalahartikan untuk mendongkrak kualitas itu sendiri. Padahal paket remunerasi sebenarnya hanyalah sebagai pancingan pertama, masih banyak hal ain yang perlu dibangun.

Sistem Seleksi
Setelah adanya paket remunerasi sebagai pancingan, maka bagian kedua yang perlu diperbaiki adalah sistem seleksi. Tujuannya adalah untuk mendapatkan sumber daya yang terbaik diantara yang ada. Jika paket kompetensi sebagai umpan, maka proses seleksi bertugas untuk memastikan bahwa kandidat yang terjaring adalah yang terbaik dan paling sesuai dengan kebutuhan.

Terbaik dalam kapasitas ini bukan diartikan sebagai yang terpandai, melainkan yang paling cocok untuk menjadi pendidik. Orang-orang yang memang memiliki passion dalam dunia pendidikan. Orang-orang yang memahami dan mengerti tentang dunia pendidikan dan memiliki visi terhadapnya. Orang-orang yang memiliki kapabilitas untuk dapat memfasilitasi orang lain dalam belajar. Orang-orang yang dapat dijadikan panutan sekaligus teman bagi anak-anak didiknya. Orang-orang yang mau bekerja 130% dari yang seharusnya.

"Bekerja itu harus 130%. Yang 100% adalah kewajiban dari gaji yang kita terima, yang 30% merupakan bentuk rasaterima kasih, rasa syukur, dan pemberian (pengabdian) kita terhadap organisasi" (L. Haryanto)

Harapannya adalah bagaimana tenaga pendidik kita nantinya diisi oleh orang-orang berkualitas dan sesuai dengan bidangnya. Bukan orang-orang yang hanya ingin bersantai dan memperoleh uang semata. Dengan sistem seleksi yang tepat, kita dapat memperoeh calon-calon pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya. Bukan orang-orang yang menjadikan istlah tersebut sebagai justifikasi atas penderitaan hidupnya.

Monitoring & Controlling
Setelah memastikan kita memperoleh sumber daya yang tepat, maka langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa sumber daya yang ada berjalan ke arah yang seharusnya. Disinilah perlunya sebuah sistem monitoring dan controlling terhadap kinerja para pendidik kita.

Jika setiap anak didik mendapatkan hasil evaluasi atas hasil pencapaian pendidikan mereka secara berkala, mengapa para pendidik justru tidak mendapatkan evaluasi serupa atas kinerja mereka? Pemerintah perlu menciptakan sebuah sistem evaluasi kinerja untuk mengetahui sejauh mana para pendidik mereka berhasil membangun apa yang seharusnya mereka bangun.

Sebenarnya hal tersebut bukanlah tidak mungkin. Misalnya saja saat ini kita sering menyelenggarakan evaluasi pendidikan secara kolektif dalam tingkat provinsi atau kota. Dengan analogi bahwa keberhasilan peserta didik adalah berkat kinerja dari para pendidik, maka hasil dari evaluasi belajar tersebut seharusnya juga dapat digunakan untuk menentukan pendidik mana yang berhasil mengembangkan peserta didiknya dengan baik dan mana yang tidak berhasil.

Para pendidik perlu dibuatkan key performance indicator atas setiap tugas-tugas mereka. Hal ini untuk membantu pemerintah dalam melaksanakan monitoring dan controlling terhadap kinerja para pendidik mereka. Untuk memastikan bahwa sistem pendidikan kita berjalan searah untuk mencapai visi yang sama.

Pengembangan Sumber Daya Pendidik
Hal lain yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengembangkan tenaga pendidik kita sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh sistem pendidikan kita saat ini. Apalagi dalam saat seperti sekarang ini, maka cara terbaik memperbaiki sistem pendidikan kita adalah melalui pengembangan sumber daya tenaga didik itu sendiri.

Pengembangan tersebut tidak harus selalu melalui pelatihan-pelatihan, terlebih pelatihan formal yang cenderung hanya basa-basi tanpa memberikan keahlian atau solusi praktis tertentu. Pelatihan-pelatihan perlu didesain dengan sistem praktek dan studi kasus yang menarik sehingga aplicable dalam pekerjaan sehari-hari para pendidik kita. Misalnya saja pelatihan dalam berbicara di depan publik, pelatihan dalam menyusun materi pelajaran, pelatihan penggunaan sarana/ fasilitas dalam menunjang pengajaran, dan sebagainya.

Connected Capitalism
Neville Isdel, mantan CEO Coca-Cola Company pernah mengungkapkan sebuah istilah yang disebut connected capitalism. Isdel menyoroti bagaimana lembaga-lembaga sosial seringkali gagal membangun masyarakat karena alih-alih mengembangkan masyarakat, untuk mempertahankan organisasinya agar dapat terus beroperasi pun mereka gagal.

Di sisi lain Isdel mencontohkan bagaimana banyak perusahaan justru berhasil membangun masyarakat. Selain dengan menyediakan lapangan pekerjaan dan mengembangkan ekonomi masyarakat, banyak perusahaan berhasil berkontribusi kepada masyarakat daripada lembaga-lembaga sosial nirlaba lainnya. Dengan sumber daya perusahaan dan sistem yang luar biasa, perusahaan mempu mengembangkan masyarakat dengan cara mereka.

Oleh karena itu Isdel percaya bahwa dengan adanya kapitalis-kapitalis yang terhubung dengan baik dan tersistem, pengembangan masyarakat justru akan mengalami perkembangan pesat dibandingkan sistem tradisional lembaga-lembaga nirlaba saat ini.

Saya antara setuju dan tidak setuju dengan teori tentang connected capitalism tersebut, di satu sisi bukti-bukti yang diberikan Isdel adalah benar. Namun saya percaya bahwa kebenaran tersebut bukan karena kapitalisme melainkan sistem dan sumber daya yang dimiliki para kapitalis itu sendiri. Pertanyaan terbesar bagi saya adalah mengapa lembaga-lembaga sosial dan pemerintahan tidak dapat memiliki sebuah sistem dan sumber daya sebaik perusahaan-perusahaan kapitalis tersebut?

Orang seringkali anti dengan sistem kapitalis dan menutup mata akan keunggulannya. Hal ini juga yang sering menjadi justifikasi bagi lembaga-lembaga sosial dan pemerintahan untuk tidak mau belajar terhadap sistem-sistem kapitalis semacam ini.

Padahal bagi saya kebaikan itu bersifat universal. Sosialisme atau Kapitalisme hanyalah sebuah versi, mana yang lebih baik itu adalah suatu hal yang dapat diperdebatkan. Namun yang terpenting adalah mana dari sistem tersebut yang dapat kita adopsi untuk membangun kebaikan, itu yang terpenting

Uraian saya sebelumnya tentang bagaimana sistem pendidikan yang seharusnya di atas sebenarnya adalah sebuah bentuk adopsi sistem kapitalisme yang biasa dijalankan oleh perusahaan-perusahaan besar di dunia. Pertanyaan bagi saya mengapa tidak mencoba untuk menerapkan sistem yang sama ke dalam organisasi-organisasi lain di luar perusahaan.

Tidak dapat dipungkiri juga bahwa trend pemimpin politik saat ini pun mulai ke arah pemimpin-pemimpin profesional dengan latar belakang enterprenur. Beberapa lembaga pemerintahan daerah maupunpusat juga mencoba mengadopsi sistem-sistem serupa ke dalam bisnis mereka untuk meningkatkan proesionalitas mereka dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Apapun itu, asal baik tentu saja perlu kita pelajari dan kita adopsi untuk menjadikan diri kita menjadi lebih baik lagi. Jangan terlalu defense terhadap perubahan, karena perubahan itu sendiri mutlak keberadaannya. Karena kita sebagai manusia memiliki kewajiban untuk menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati (melakukan perbaikan) supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (103:1-3)

Senin, 15 April 2013

Kesepian

Entah sejak kapan duduk di tepian jalan menjadi sesuatu yang menarik. Memandangi hilir mudik manusia menjalani kehidupan mereka. Meraih mimpi, dikejar beban, bersenang-senang. Semua terangkum di dalam harmoni kehidupan. Semua mengalir begitu saja di jalanan. Sebuah aliran kehidupan.

Semua itu membuatku lebih berpikir tentang kehidupan, tentang aliran harmoni dunia, dan tentang dimana aku berada. Aku ingin hidup di mana kehidupan berdetak keras.

Dimana orang-rang benar-benar menjalani hidup mereka, bukan sebuah hidup keterpaksaan. Dimana wajah setiap orang berseri karena mereka benar-benar hidup, bukan pucat karena nyawa mereka terenggut oleh rutinitas yang membunuh mereka.

Live (jturon.deviantart.com)

Dimana setiap orang menjalani mimpi mereka sepenuh hati, bukan tentang dunia dan lainnya.

Sabtu, 13 April 2013

Menjadi Manusia

Apa yang membuat manusia menjadi tidak lagi manusia?

Manusia memiliki kelebihan berupa akal dibandingkan makhluk lainnya. Akal-lah yang menjadikan manusia menjadi makhluk paling dominan di dunia ini. Bahkan dalam kisah Sulaiman, seorang ahli kitab (orang yang gemar belajar) adalah orang yang berhasil memindahkan singgasana Bilqis dibandingkan Jin tercerdik sekalipun.

Open Your Mind (oo-rein-oo.deviantart.com)


Namun apa jadinya ketika manusia berhenti belajar dan menggunakan akalnya? Ketika manusia tenggelam dalam rutinitas dan kesibukannya sehingga menjadikan mereka lupa akan esensi dari manusia itu sendiri. Manusia adalah makhluk yang terus berkembang dan mengembangkan dirinya. Bukan sebuah mayat yang hidup stagnan dan mengerjakan sesuatu secara berulang tanpa mengembangkannya.

Maka camkan ini dalam hidup kita, ketika kehidupan mulai terus berulang tanpa arah dan tanpa perkembangan, ketika bangun tidur di pagi hari menjadi sebuah beban karena kehidupan yang tidak menarik, ketika kehidupan berada di puncak piramida dan tiada lagi yang dapat didaki,  ketika hidup sudah tidak lagi memiliki arah tujuan dan semangat, maka itu saatnya untuk duduk sejenak dan berbalik arah.

Hiduplah dimana kita benar-benar hidup di dalam kehidupan kita. Dimana kita benar-benar menjadi manusia, yang berkembang dan mengembangkan dirinya. Hiduplah di dunia yang keras namun kita nikmati alih-alih di kehidupan nyaman yang membosankan. Dan berkembanglah.

Ketika manusia tidak lagi bisa menjadi lebih baik dari hari sebelumnya, maka sejatinya dia bukanlah manusia yang sesungguhnya. Dia adalah -apa yang disebut Sudjiwotedjo sebagai- SOBIMAN. Sosok binatang mirip manusia, namun dia bukanlah manusia. Karena dia tidak berkembang.

Senin, 28 Januari 2013

Joyeux Anniversaire

Bagaimana kau memilih pasanganmu? Cukup kau pilih siapa yang menurutmu pas untuk dirimu, kemudian kau jalani. Tidak perlu menggunakan berbagai perhitungan dan analisis rumit untuk menentukan sebuah pilihan. Karena sejatinya ini adalah urusan hati, bukan tentang logika untung rugi atas sebuah pilihan.

Tetapi bukan itu yang terpenting, ini semua adalah tentang menjalani pilihan. Seperti hal lain dalam kehidupan, ini semua adalah tentang memilih dan menjalani pilihan. Kau bisa menjadi seorang pecundang yang mudah menyerah karena dunia tidak seperti yang kau harapkan, atau kau bisa terus berjuang untuk merubah dunia menjadi seperti yang kau harapkan.

Lebih dari itu, ini semua bukanlah tentang merubah dunia, ini tentang bagaimana merubah diri kita menjadi dunia yang kita impikan bersama. Karena disini kita tidak dapat berbicara tentang ego pribadi di atas dunia. Ini adalah dunia kita bersama. Semua ego ke-aku-an melebur menjadi ke-kita-an. Ini tentang kita berdua dan dunia. Bukan lagi aku dan kamu.


Dan untukmu yang telah lebih dari empat tahun menemani hidupku, kuucapkan selamat ulang tahun padamu. Dua puluh dua tahun merupakan waktu yang panjang bagi manusia. Jika angka harapan hidup hanya berkisar pada angka 70 tahun, maka itu berarti hampir sepertiga dari masa telah kita lewatkan. Semoga dua puluh dua kali perayaan ulang tahun ini telah membawa kedewasaan bagi kita semua. Dan semoga di sisa umur kita nantinya akn terus kita habiskan dalam kebersamaan menuliskan kisah indah di dunia. Joyeux Anniversaire!

Sabtu, 12 Januari 2013

Not yet a Man

Actualy i'm still boy who to against the world, not yet a man. But if i can choose, i want to be a boy in my entire life.

"Jika kau boleh memilih waktu, akankah kau memilih masa lalu?"

"Maksudmu?"

(sumber: gubraker.com)

Suara seruputan kopi memecah keheningan percakapan. Kopi sore itu pahit, kurang cocok sebenarnya sebagai teman bercengkrama ditemani cahaya senja. "Suara memang tidak dapat dibungkam, ada saja cara mereka untuk keluar ke dunia. Dan seni adalah media terindah untuk itu."

"Kau yakin masa lalu lebih indah?", tanyanya sembari menatap truk berjalan menjauh. Masih terlalu dini di tempat tersebut untuk dapat tenggelam di dalam keriuhan.

"Lalu bagaimana dengan mantanmu?"

"Maksudmu?"

"Itu masa lalu bukan?"

"Yah seperti masa sekolah kita dahulu"

"Jadi menurutmu, mana yang lebih indah? Masa lalu atau saat ini?"

Pertanyaan tersebut mengakhiri segala perdebatan. "Kalaupun masa lalu lebih indah, itu karena kita masih kanak-kanak. Kita bisa bebas bersenang-senang. Tapi sayangnya dunia ini dikuasai dan dibangun oleh orang-orang dewasa. Orang-orang yang dengan serius mengabdikan hidunya dan berkorban demi kebaikan dunia."

"Kenapa kita tidak bersenang-senang sembari membangun dunia? Bayangkan saja seperi kita bermain balok susun. Bukankah kita merindukan masa kanak-kanak tersebut?"

Senin, 07 Januari 2013

.. and we just talking something

Lelaki itu berdiri di tempat kencing sebelahnya, "Mas, Kau mau tahu cerita lucu tentang pesawat terbang?"

"Apa itu?", tanyanya sebagai basa-basi. Dia yakin itu hanyalah cerita yang sama diulang-ulang, cerita yang entah dia pernah dengar dari siapa dan diulang kembali oleh wajah-wajah baru penuh semangat seolah itu adalah cerita epik ciptaannya sendiri untuk menghibur orang lain, namun toh dia tetap mendengarkannya. Setidaknya lelaki itu mencoba menghibur, dan kita cukup diam dan mendengarkan untuk menghargainya.

"Suatu hari terbanglah pesawat Amerika Serikat melintasi Iran tanpa izin, lantas sang Jenderal pun segera memerintahkan anak buahnya 'Tembak! Tembak! jangan biarkan mereka lolos!' dengan penuh kekhawatiran. Para prajurit pun segera menembakkan senjata mereka berusaha menjatuhkan pesawat tersebut namun gagal", lelaki itu berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

"Lalu setelah itu datang lagi pesawat dari Indonesia terbang tanpa izin lewat, namun kali ini para prajurit bingung karena sang Jenderal tampak diam saja. Kemudian mereka bertanya, 'Jenderal. apa perlu kita tembak jatuh mereka?'. Sang jenderal kemudian tertawa, 'itu pesawat Indonesia, tidak perlu ditembak nanti jatuh sendiri' hahaha", cerita itu ditutup dengan gelak tawa kedua lelaki di dalam toilet umum. Entah tawa ikhlas atau sekedar basa-basi.

Mendadak seorang lelaki keluar dari toilet di belakang mereka. Lelaki tersebut tampak lusuh, sudah berhari-hari dia tidak tidur untuk mewujudkan satu mimpinya: menciptakan pesawat terbang buatan Indonesia. Mendengar seluruh guyonan tersebut, dia hanya bisa tersenyum kecut.

Habibie - Pesawat Terbang

***

"Kau tahu? pemerintah tidak pernah memberikan perhatian khusus kepada anak-anak bangsa yang cerdas. Jadi jangan salahkan mereka ketika mereka memilih bekerja di luar negeri demi negeri lain daripada di Indonesia. Maklum saja, disana mereka dibayar lebih tinggi", lelaki itu bercerita dengan teman sebelahnya di balik koran. Berita pagi itu dihiasi denganjudul fenomenal dengan hambar sebuah mobil hitam buatan anak- SMK.

"Bagaimana menurutmu tentang mobil SMK itu?", tanya lelaki di depannya yang mencoba mencari-cari sebuah topik pembicaraan sekenanya.

"Ah, itu. Katanya sih mobil nasional, tapi onderdilnya impor semua. Dulu Timor juga bikin mobil nasional akhirnya pun gak laku. Kalau aku pribadi punya uang sebanyak itu, mending beli mobil lain merk Toyota, Daihatsu, atau apa lah. Yang lebih terpercaya pokoknya"

"Tentu saja, belum lagi nanti purna jualnya, dan sebagainya. Jangan-jangan nanti dua tahun sudah harus jadi besi tua, maklum yang bikin juga anak-anak", percakapan tersebut diakhir dengan senyum yang enath apa maknanya. Mungkin sekedar basa-basi. "Ini Jokowi juga walikota ngapain ngurusin mobil, kayak kerjaannya sudah beres semua"

"Ah itu paling cuma pencitraan untuk 2014 nanti haha ..."

Jokowi - Mobil SMK

***

"Masa mobilnya iru Ferari, pakai plat nomer palsu pula. Ada-ada saja pencitraan si Dahlan Iskan ini. Mau nyalon jadi 2014 ini pasti!"

"Betul itu! Lagian masa Ferari mau disamain sama mobil buatan Indonesia. Beda jauh lah! Mobil Indonesia gampang rusak gitu pasti, murahan pula. Apalagi ini mobil listrik"

"Sepeda listrik aja cuma bisa jalan pelan tersendat-sendat gitu, ini pake acara bikin mobil listrik. Ini Dahlan Iskan kurang kerjaan banget, sih. Mending ngurusin BUMN aja sana daripada ngurusin mobil"

"Bener sekali, tuh kan mobilnya aja akhirnya nabrak gara-gara rem blong, kemarin juga mogok pas uji coba. Emang gak ada harapan," muka remeh muncul di wajah kedua orang tersebut. Tampaknya mereka seolah marah, tapi tidak tahu marah sama siapa dan atas apa. Jadilah muka mereka tertekuk tanpa jelas kemana arahnya.

"Wah lagi rame nih, pada ngomongin mobil listrik buatan anak bangsa, plat nomer palsu, apa Dahlan Iskan nih?", lelaki itu menghampiri dengan wajah tersenyum.

Dahlan Iskan - Mobil Listrik

***

Applause (yslen.deviantart.com)

At least they do something to reach their dream
And we just talking something too
But it's hurts them..
... Sorry