Minggu, 27 Februari 2011

Perang

Kita sedang berperang kawan. Dan sayangnya, kita sedang diambang kekalahan. Satu per satu pertahanan kita dihancurkan oleh musuh. Sementara kita masih sibuk mereka-reka apa penyebab dari semua ini. Padahal semua kehidupan berjalan sebagaimana mestinya tanpa halangan yang pasti.

Tapi entahlah, bagi kita yang benar-benar paham. Kita bisa melihat bahwa kita sedang diserang. Apa yang telah kita bangun bersama selama ini dihancurkan musuh. Dan parahnya itu semua terjadi di belakang garis pertahanan kita.

Aku pun merasakan kekalahan. Aku berdiam di salah satu pertahanan kita yang masih tersisa. Pos penjagaan siaga selama 24 jam bak supermarket yang sedang menjamur. Begitu pula pintu masuk dipenuhi pemeriksaan barang seperti mau masuk sebuah kampus saja yang harus dilalui dengan membayar karcis parkir.

Tidak ada celah, setidaknya itu yang aku ketahui, untuk musuh dapat masuk. Para penjaga pun sudah paham benar siapa musuh kita: pragmatis. Namun anehnya beberapa hari ini satu persatu tradisi kita hancur dengan sendirinya. Tradisi yang telah kita bangun selama puluhan tahun roboh satu per satu tanpa ada yang tahu penyebabnya. Padahal para penjaga sangat yakin tidak ada satu pun musuh yang memasuki garis pertahanan kita.

Namun malam itu aku menyadarinya. Terdengar raungan dari truk tua bertuliskan "Cintaku lebih berat dari muatanku" memasuki pos pemeriksaan. Asap kenalpot kehitaman menutupi jejak roda yang sudah mulai gundul. Seperti biasa para penjaga memeriksa truk tua pengangkut bahan makanan penyambung hidup kita sembari bercanda dengan supir truk itu.

Aku kenal pemuda itu, usianya tak lebih dari dua puluh tahun dengan dandanan rapi seperti sales saja. Namanya adalah efektif. Pemuda itu setiap harinya hilir mudik ke bentang pertahanan ini memberikan makanan penyambung nyawa. Dan pada saat yang sama satu tradisi kita hancur dengan sendirinya.

Kini akhirnya aku menyadari apa yang terjadi sebenarnya. Efektif adalah pragmatis itu sendiri yang telah menyamar. Aku mencoba berteriak-teriak memberitahukan pada teman-temanku bahwa dialah pragmatis yang selama ini kita cari-cari.

Namun semua orang hanya tertawa. Mereka menertawakan kebodohanku karena telah mengatakan hal semacam itu. Tidak ada satu orang pun percaya apa yang aku katakan dan kini justru aku yang dicurigai sebagai pengkhianat. Efektif telah menjadi bagian dari hidup kita, dan tanpa kita sadari dia jugalah yang merobohkan satu per satu tradisi yang berusaha kita pertahankan.

Dan satu lagi tradisi yang hancur ketika telingaku dipenuhi suara tawa dari semua orang.

###

Aku membuka mataku dan yang kulihat pertama kali adalah sebuah poster band metal yang baru-baru ini mengunjungi Indonesia. Selintas aku teringat temanku yang begitu mengidolakannya namun sayangnya dia gagal menonton konser tersebut karena suatu hal, ah kasihan. Aku baru menyadari bahwa semua itu ternyata hanya mimpi belaka.

Aku memulai rutinitas pagiku sebelum berangkat ke kampus meraih asa. Dan ketika aku keluar dari kamar kosku, kulihat bapak pemilik kos yang sudah tua itu menggerutu tentang mahasiswa sekarang yang katanya tidak tahu sopan santun. Namun bagiku, mereka adalah sosok ideal yang efektif dalam bekerja dan tidak bertele-tele.

1 comments:

Yusuf Hidayat mengatakan...

Keren kiasannya gan... Lanjutkan..!!, Saya suka sama bahasanya...