Minggu, 19 Juni 2011

Perbedaan Budaya dalam Keluarga: Kasus Keluarga George


Jeffrey (26 tahun) dan Theresa George (35 tahun) merupakan pasangan suami istri yang telah dikaruniai tiga orang anak yang masih kecil. Anak perempuan yang paling besar bernama Imari George berumur empat tahun. Sedangkan kedua adiknya laki-laki kembar bernama Kobi George dan Kadin George berumur dua tahun. 

Secara kultural Jeffrey dan Theresa dibesarkan dalam budaya yang sangat jauh berbeda. Jeffrey seorang negro kulit hitam yang dibesarkan pada keluarga yang disiplin ketat dan penuh aturan. Sedangkan Theresa yang berkulit putih dibesarkan dalam keluarga yang cenderung bebas dan tidak terlalu ketat. Ini jugalah yang menyebabkan perbedaan pandangan mereka berdua dalam mendidik anak dan juga pembagian tugas. 

Dalam pembagian tugas di rumah tangga, Jeffrey mendapatkan porsi yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan Theresa. Sebagai seorang ayah selain mencari nafkah Jeffrey juga harus melakukan berbagai urusan rumah tangga seperti mencuci piring, mencuci baju, merawat anak, dan sebagainya. Sebagai kepala rumah tangga Jeffrey yang paling dominan dalam keluarga tersebut. 

Sedangkan Theresa hanya mendapatkan tugas-tugas rumah tangga yang lebih sederhana. Dia juga cenderung menyerahkan berbagai tugas kepada suaminya. Sikapnya ini mungkin muncul akibat perbedaan pandangan yang terlalu mencolok antara pasangan tersebut tentang kehidupan ideal sebuah keluarga. Sehingga Theresa cenderung pasif dan menurut untuk menghindari konflik dengan suaminya. 

Dalam pola pengasuhan pun mereka memiliki pandangan yang berbeda. Jeffrey yang dibesarkan dalam keluarga disiplin menginginkan anak-anaknya menjadi penurut. Berbeda dengan Theresa yang cenderung memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Berbeda dengan Jeffrey yang cenderung memberikan instruksi langsung kepada anak-anaknya, Theresa biasanya memberikan perintah dengan cara meminta dan bukan menyuruh. 

Perbedaan ini membuat anak-anak menjadi kebingungan dalam memahami aturan keluarga. Mereka mengalami kebingungan tentang mana yang diperbolehkan, mana yang harus dilakukan, dan mana yang tidak boleh dilakukan akibat perbedaan pendapat di antara kedua orang tua mereka. Seringkali ketika ayahnya mengatakan iya untuk suatu hal namun ibu mengatakan tidak, begitu pula sebaliknya. Akibatnya anak-anak cenderung tidak terkendali dan berbuat semaunya. 

Untuk mengatasi hal ini hal pertama yang perlu dilakukan adalah menyamakan konsep antara pasangan suami istri tersebut. Salah satunya dapat menggunakan multigenerational family therapy untuk lebih mengetahui bagaimana budaya dari masing-masing keluarga asal pasangan tersebut. Dengan terapi ini diharapkan dapat ditemukan masalah-masalah yang mungkin bersifat multigenerasi dari masing-masing pihak dan mencari jalan tengah dari perbedaan tersebut. 

Perbedaan tersebut perlu diselesaikan secepatnya kemudian perlu disepakati norma-norma dan nilai-nilai bersama dalam keluarga. Pasangan tersebut harus menyamakan gambaran ideal mereka tentang sebuah keluarga yang baik bagi mereka berdua. Hal ini tidaklah mudah mengingat mereka berdua dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga yang cukup berbeda bahkan mungkin berlawanan. 

Setelah itu perlu juga dilakukan Structural Family Therapy. Pasangan tersebut harus menciptakan struktur keluarga mereka yang baru dimana tidak ada pihak yang merasa dirugikan. Sturuktur yang baru ini diharapkan menjadi penyelesaian atas kebingungan struktur yang terjadi selama ini. 

Mengingat anak-anak yang masih kecil dimana sistem kognisi mereka belum berkembang secara sempurna, pelibatan mereka dalam terapi-terapi tersebut kurang begitu diperlukan. Anak-anak cukup menerima secara langsung kesepakatan yang dihasilkan orang tua mereka. Setelah orang tua menyepakati apa yang harus dilakukan, intervensi kepada anak-anak cukup menggunakan model pendekatan behavioris karena umur mereka yang masih kecil sehingga model pendekatan tersebut lah yang dirasa paling efektif.


*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

0 comments: