Jumat, 17 Juni 2011

"Dosa" Warisan: Analisis Multigenerational Family Therapy

Kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ungkapan ini menggambarkan bahwa sikap seorang anak pada akhirnya tidak berbeda jauh dengan orang tua mereka. Banyak teori Psikologi yang membenarkan anggapan ini. Orang tua sebagai figur yang paling lekat pada anak (dalam kondisi pada umumnya dan kecuali pada kasus-kasus tertentu) merupakan contoh ideal bagi anak dalam berperilaku. 

Konsep Modelling dari Bandura misalnya, dengan orang tua sebagai seorang figur lekat dan paling sering berinteraksi dengan anak maka wajar jika anak seringkali juga meniru perilaku orang tuanya. Perilaku ini tanpa disadari terus dilakukan dan diulangi hingga pada akhirnya menjadi karakter anak tersebut. 

Dalam sudut pandang yang lebih besar pada akhirnya antara anak dan orang tua nantinya akan muncul kemiripan sifat-sifat tertentu. Sehingga bisa dikatakan akan muncul semacam sifat-sifat yang tampak seolah diwariskan dari orang tua ke anaknya. Warisan ini terus menerus berlangsung hingga beberapa generasi secara turun menurun. Hanya saja ternyata tidak hanya sifat yang diwariskan secara turun menurun tetapi juga seringkali simtom-simtom atau penyakit psikologis menjadi bagian dari warisan tersebut sehingga menjadi sebuah masalah yang berulang dari generasi satu ke generasi yang lain. 

Murray Bowen adalah seorang dokter bedah hingga ketika dia sedang bertugas dalam medan perang mendapatkan suatu ketertarikan tertentu. Dengan mengamati berbagai macam masalah psikis yang terjadi pada tentara dia menjadi tertarik dalam ilmu kejiwaan yang pada akhirnya menuntun dirinya beralih ke psikiatri. 

Bowen menciptakan sebuah terapi keluarga yang didasarkan pada teori-teori yang dia susun terhadap permasalahan keluarga yang sering terjadi dan ditelitinya. Terapi tersebut disebut Multigenerational Family Therapy atau Terapi Keluarga Multigenerasi. Terapi ini didasarkan pada delapan konsep utama dalam teorinya. 

Salah satu konsep tersebut adalah apa yang disebut sebagai Family Projection Process yang dapat menjelaskan mengapa suatu masalah psikologis keluarga dapat terus menerus terulang dari generasi yang satu ke generasi berikutnya. Misalnya saja dalam suatu keluarga dimana sang ibu memiliki kekhawatiran berlebih pada anak-anaknya. Maka ada kemungkinan anak-anaknya nanti ketika menjadi orang tua juga akan memiliki sikap yang sama dan akan terus diwariskan hingga cucu, buyut, dan seterusnya. 

Dalam bahasa sederhana, proses pewarisan penyakit atau simtom psikologis ini mirip dengan konsep self-fullfiling prophecy yang disusun oleh Robert K. Merton. Orangtua memproyeksikan ketakutan atau simtom psikologis pada anak mereka hingga tanpa disadari mempengaruhi perilaku mereka yang memposisikan sang anak untuk beringkah laku seperti yang diproyeksikan orang tua mereka. 

Proses proyeksi tersebut terdiri dari tiga langkah sebagai berikut: 
  1. Orangtua menganggap bahwa ada sesuatu yang salah pada anak tersebut dan fokus terhadapnya 
  2. Orangtua melakukan interpretasi perilaku anak sesuai dugaan yang dimilikinya sehingga justru memperkuat dugaan tersebut (tidak secara objektif) 
  3. Orang tua memperlakukan anak seolah-olah memang ada sesuatu yang salah pada anak tersebut 

Misalnya ada seorang ibu yang selalu khawatir anaknya tidak mampu bersikap mandiri. Padahal yang terjadi sebenarnya anak tersebut biasa saja dan itu merupakan proyeksi dari ibu tersebut. Ibu lalu menjadi fokus terhadap perilaku anaknya dan kesalahan kecil saja ditafsirkan oleh ibu tersebut sebagai suatu pembenaran bahwa anaknya tidak dapat mandiri. Ketakutan ini kemudian berakibat pada sikap perilaku ibu tersebut, anak kemudian selalu dilayani karena ibu beranggapan bahwa anak tidak dapat melakukan segala sesuatunya sendiri sehingga selalu memerlukan bantuan orangtuanya. 

Sikap ini menyebabkan anak selalu dilayani dan dipenuhi kebutuhannya. Akbitanya anak tidak pernah bisa belajar mandiri karena terbiasa dilayani. Perilaku ini terus dibawa hingga si anak tersebut menjadi orang tua. Karena ketakutan yang sama bahwa anaknya nanti juga tidak dapat menjadi mandiri, maka pola ini terus diulang dan diulang hingga beberapa generasi yang berakibat pada munculnya masalah psikologis yang sama dalam berbagai generasi keluarga. 

Oleh karena itu menurut Bowen salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menyelesaikan suatu masalah keluarga adalah apakah ada faktor warisan dalam permasalahan tersebut. Bisa jadi masalah yang terjadi merupakan masalah yang terus berulang selama beberapa generasi dan merupakan bentuk warisan. 

Hal ini bisa digali melalui genogram maupun pertanyaan-pertanyaan mendalam mengenai hubungan dalam keluarga besar dan pengalaman masa kecil orang tua. Jika memang itu penyebabnya, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikutnya untuk mengatasi masalah tersebut hingga pada akhirnya keluarga tersebut menemukan pemecahan dari masalah mereka.


*) ditulis sebagai tugas UAS mata kuliah Pengantar Konseling Keluarga dan Perkawinan

0 comments: