Kamis, 24 Maret 2011

Jane Elliott's Experiment: Stereotype & Prejudice


Jane Elliot (1983) adalah seorang guru dan juga seorang aktivis anti-rasis di Amerika Serikat. Dian menciptakan sebuah eksperimen yang kemudian dikenal dengan nama Blue Eyes Brown Eyes Exercise yang bertujuan mendidik masyarakat untuk tidak melakukan rasisme (Elliott, 2003). Permainan ini pertama kali dilakukan pada anak didiknya di SD dengan menerapkan aturan permainan dimana pada hari pertama mereka yang bermata biru mendapatkan perlakukan khusus dan superioritas dan mereka yang bermata coklat mendapat diskriminasi. Kemudian hari berikutnya aturan menjadi sebaliknya. 

Permainan ini sendiri telah banyak diadaptasi dalam berbagai bentuk permainan lainnya misalnya saja Alpha Victoria yang biasa digunakan dalam pembelajaran antar kelompok. Inti dari permainan ini adalah bagaimana peserta bisa memahami tidak hanya secara kognitif tetapi juga secara emosi tentang adanya diskriminasi dan memahami apa yang terjadi pada kelompok lain agar tercipta saling pengertian akan perbedaaan. Dalam bahasa singkat adalah untuk menghapus prasangka (judgement) negatif terhadap orang di luar kelompok kita (outgroup). 

Namun sebenarnya bagaimana prasangka bisa terbentuk? Sistem kognitif kita seringkali menciptakan sejenis shortcut untuk memudahkan sistem kerjanya dan overload terhadap informasi berlebihan. Salah satu bentuknya adalah apa yang biasa kita sebut sebagai stereotype, yaitu generalisasi terhadao sekelompokorang yang terlihat memiliki ciri yang sama dan mengabaikan perbedaan antar individu yang ada dalam kelompok tersebut (Aronson, 2007). 

Stereotype ini sendiri berfungsi untuk membantu kita mendapatkan gambaran tentang seseorang yang belum kita kenal. Misalnya kita telah memiliki stereotype tertentu tentang orang dari suku Sunda, maka ketika kita bertemu orang sunda kita akan langsung menempatkan stereotype tersebut pada dirinya untuk membantu mengenali orang tersebut. Stereotype ini sendiri tidak sepenuhnya salah, bahkan kemungkinan benarnya sangat besar (Kanazawa, 2011). 

Stereotype ini sendiri sebenarnya bersifat netral. Namun selain memiliki mekanisme ini, sistem kognisi kita juga memiliki defense mechanism yang membuat diri kita selalu merasa benar. Salah satu caranya adalah adanya kecenderungan untuk menilai secara negatif orang-orang yang berada di luar kelompok kita (outgroup). 

Dalam permainan Alpha Victoria misalnya ada kecenderungan untuk selalu menilai perbedaan dari kelompok lain secara negatif. Sehingga stereotype kita terhadap kelompok lain biasanya juga bernilai secara negatif. Padahal tiap sifat sebenarnya memiliki dua sisi positif dan negatif. Perilaku menyimpan uang misalnya, dalam bahasa positif kita menyebutnya sebagai hemat sedangkan dalam bahasa negatif kita menyebutnya pelit. 

Inilah yang menyebabkan munculnya prasangka negatif yang kemudian berujung pada rasisme. Misalnya suku Jawa yang lelet dan malas dalam bekerja, suku Sunda yang suka materi, suku Batak yang kasar, dan sebagainya. Padahal kita bisa menilainya secara positif dengan mengatakan suku Jawa yang sabar dan tenang, suku Sunda yang pandai berdandan dan berpenampilan menarik, suku Batak yang tegas dan beraani, dsb. 

Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa begitu saja menghapus stereotype yang kita miliki karena sistem kognisi kita memang membutuhkannya. Yang sebaiknya kita lakukan adalah bagaimana memahami perbedaan yang ada tersebut. Kita seharusnya bisa memandang setiap permasalahan dalam dua sisi yang berbeda. 

Bentuk pelatihan seperti permainan Alpha Victoria atau Blue Eyes Brown Eyes Exercise termasuk cukup efektif dalam membantu kita memahami perbedaan. Karena program semacam ini tidak hanya menggunakan sistem kognisi dalam menciptakan suatu pemahaman tetapi juga emosi. Dengan mengalami sendiri apa yang terjadi akan membantu kita dalam memahami perbedaan. 

[49:13] Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. 


Bibliography 
Aronson, E. W. (2007). Social Psychology. New Jersey: Pearson Education. 

Elliott, J. (2003). Retrieved March 24, 2011, from Jane Elliott's Blue Eyes Brown Eyes Exercise: http://www.janeelliott.com/ 

Kanazawa, S. (2011, March 13). Criminals Look Different From Noncriminals. Retrieved March 2011, 2011, from psychologytoday.com: http://www.psychologytoday.com/blog/the-scientific-fundamentalist/201103/criminals-look-different-noncriminals

*) ditulis sebagai tugas mata kuliah kesehatan mental

0 comments: